IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Perbedaan Ulama Soal Menshalati Jenazah di Masjid

Senin 10 September 2018 10:0 WIB
Share:
Perbedaan Ulama Soal Menshalati Jenazah di Masjid
Umumnya masyarakat di Indonesia menshalati jenazah di masjid sebab masjid menjadi tempat yang strategis untuk berkumpulnya masyarakat. Di sisi lain masjid mampu menampung banyak orang sehingga tidak dikhawatirkan kekurangan tempat.

Soal shalat jenazah, sebagaimana kita maklum ia terbagi dua. Shalat hadir, atau jenazah ada di hadapan kita, dan shalat ghaib, yang mana jenazah tidak ada di hadapan kita. Untuk persoalan shalat ghaib di masjid tentunya tidak ada perbedaan sama sekali di kalangan ulama terkait hukumnya. Tetapi untuk persoalan shalat jenazah di masjid, yang mana jenazah ketika itu ada di masjid, maka para ulama berbeda pendapat soal ini.

Imam Ibnu Rusydi mengatakan di dalam kitabnya, Bidâyatul Mujtahid:

وَاخْتَلَفُوا فِي الصَلَاةِ عَلَى الْجَنَازَةِ فِي الْمَسْجِدِ فَأَجَازَهَا الْعُلَمَاءُ وَكَرَهَهَا بَعْضُهُمْ، مِنْهُمْ أَبُوْ حَنِيْفَةَ وَبَعْضُ أَصْحَابِ مَالَكٍ

Artinya, “Para ulama berbeda pendapat dalam masalah menshalati jenazah di dalam masjid, maka para ulama berpendapat boleh, dan sebagian dari mereka berpendapat makruh, di antaranya Abu Hanifah dan sebagian sahabat Imam Malik,” (Lihat Ibnu Rusydi, Bidayatul Mujtahid, [Maktabah As-Syuruq Ad-Dawliyyah, [Mesir, tanpa catatan tahun], cetakan keempat, halaman 195).

Selain keterangan dari Ibnu Rusydi, kita dapat melihat penjelasan yang rinci dari Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu:

وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى الْجَنَازَةِ فِي الْمَسْجِدِ فَفِيْهَا رَأْيَانِ: اَلْكَرَاهَةُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالْجَوَازُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ

Artinya, “Adapun shalat jenazah di masjid, ada dua pendapat dalam masalah ini. Makruh menurut Hanafiyyah dan Malikiyyah, boleh menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah.”

أَمَّا الْاِتِّجَاهُ الْأَوَّلُ وَهُوَ كَرَاهَةُ الصَّلَاةِ، سَوَاءٌ أَكَانَتِ الْجَنَازَةُ فِي الْمَسْجِدِ أَمْ خَارِجِهِ، فَلِحَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ: «مَنْ صَلَّى عَلَى مَيِّتٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَلَا شَيْءَ لَهُ»، وَلِأَنَّ الْمَسْجِدَ بُنِيَ لِأَدَاءِ الْمَكْتُوْبَاتِ وَتَوَابِعِهَا كَنَافِلَةٍ وَأَذْكَارٍ وَتَدْرِيْسِ عِلْمٍ، وَلِأَنَّهُ يَحْتَمِلُ تَلْوِيْثَ الْمَسْجِدِ، وَالْكَرَاهَةُ تَحْرِيْمِيَّةٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، تَنْزِيْهِيَّةٌ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ. وَكَمَا تُكْرَهُ الصَّلَاةُ عَلَى الْجَنَازَةِ فِي الْمَسْجِدِ، يُكْرَهُ إِدْخَالُهَا فِيْهِ

Artinya, “Adapun pendapat pertama yaitu makruh. Sama saja entah jenazah di dalam masjid atau di luarnya. Pendapat tadi didasari dengan hadits, ‘Barang siapa yang menshalati jenazah di dalam masjid, maka tidak ada pahala baginya,’ dan karena masjid dibangun untuk melaksanakan shalat wajib dan yang mengikutinya seperti shalat sunnah, membaca zikir, mengajarkan ilmu. Karena hal itu memungkinkan mengotori masjid. Kemakruhannya adalah tahrim menurut Hanafiyyah, dan tanzih menurut Malikiyyah. Sebagaimana makruh menshalatinya, makruh pula memasukkannya ke masjid.”

Syekh Wahbah Az-Zuhaili kemudian menjelaskan dasar hukum shalat jenazah di dalam masjid. Ia menyebutkan riwayat hadits yang menceritakan shalat jenazah oleh Rasulullah SAW di masjid.

وَأَمَّا الْاِتَّجَاهُ الثَّانِي: وَهُوَ إِبَاحَةُ الصَّلَاةِ عَلَى الْجَنَازَةِ فِي الْمَسْجِدِ، بَلْ إِنَّهُ  يُسْتَحَبُّ ذلِكَ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ إِنْ لَمْ يَخْشَ تَلْوِيْثَهُ، فَلِأَنَّ الْمَسْجِدَ أَشْرَفُ، وَعَمَلاً بِمَا ثَبَتَ فِي السُّنَّةِ عَنْ عَائِشَةَ: «وَاللهِ لَقَدْ صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ابْنَيْ بَيْضَاءَ فِي الْمَسْجِدِ: سُهَيْلٍ وَأَخِيْهِ» وَفِي رِوَايَةٍ: «مَا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى سُهَيْلِ بْنِ الْبَيْضَاءَ إِلَّا فِي جَوْفِ الْمَسْجِدِ» ، وَصَلَّي عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فِي الْمَسْجِدِ»

Artinya, “Adapun pendapat yang kedua yaitu membolehkan menshalati jenazah di masjid, bahkan ia disunnahkan menurut Syafi’iyyah jika tidak takut mengotori masjid, dan karena masjid lebih mulia, serta mengamalkan apa yang ditetapkan dalam hadits dari Aisyah RA, ‘Demi Allah, Rasulullah SAW pernah menshalati dua anak bani Baidho` di masjid, yaitu Suhail dan saudaranya.’ Dalam riwayat lain, ‘Rasulullah SAW tidaklah shalat menshalati Suhail bin Al-Baidho` kecuali di dalam masjid,’” (Lihat Syekh Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, [Damaskus, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], Juz II, halaman 1534).

Dari beberapa hadits yang menjadi dasar dalam kedua pendapat tadi diteliti oleh Syekh Wahbah, dan hasilnya hadits Abu Hurairah tidak tetap, atau tidak muttafaq pada ketetapannya.

Imam An-Nawawi berkomentar, “Hadits itu dha’if, tidak dapat dijadikan hujjah.” Imam Ahmad bin Hanbal pun mengomentari hadits itu, “Hadis dha’if, hanya Shalih hamba dari At-Tau`amah yang meriwayatkannya, dan ia rawi yang dha’if.”

Dari penjelasan di atas, kita dapat terdapat dua pendapat, boleh dan makruh. Masyarakat Indonesia yang mayoritas Syafi’iyyah tentunya mengambil pendapat mazhab imam Syafi’i yang membolehkan shalat jenazah di masjid. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)
Tags:
Share:
Selasa 4 September 2018 14:0 WIB
Batalkah Shalat Makmum yang Tidak Ikut Sujud Tilawah Imam?
Batalkah Shalat Makmum yang Tidak Ikut Sujud Tilawah Imam?
alah satu yang disunnahkan adalah sujud saat dibaca atau membaca ayat sajdah, yaitu ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an yang dianjurkan sujud ketika membacanya. Sujud ini dinamakan dengan sujud tilawah. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Muin mengatakan:

تسن سجدة التلاوة لقارئ وسامع جميع آية سجدة، ويسجد مصل لقرآءته إلا مأموما فيسجد هو لسجدة إمامه

Artinya, “Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca atau mendengar ayat sajdah. Begitu pula orang yang sedang mengerjakan shalat dianjurkan sujud ketika membaca ayat sajdah, kecuali bagi makmum, karena dia mesti sujud mengikuti sujud imamnya.”

Sujud tilawah dianjurkan saat mengerjakan shalat atau di luar shalat, baik bagi orang yang shalat sendirian atau shalat berjamaah. Hanya saja bagi orang yang shalat berjamaah, maka dia tidak boleh sujud sendirian kalau imamnya tidak sujud tilawah. Artinya, makmum boleh sujud kalau imam mengerjakan sujud tilawah.

Di antara keutamaan sujud tilawah dalam hadits riwayat Muslim adalah untuk mengusir setan dan menjauhkan manusia dari godaannya. Rasulullah berkata:

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ, اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي , يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

Artinya, “Ketika anak adam membaca ayat al-Sajdah kemudian ia bersujud maka setan menyendiri dan menangis. Ia berkata, ‘Celaka, anak Adam diperintah untuk bersujud dan ia pun bersujud maka baginya surga. Aku telah diperintah untuk bersujud namun aku menolak maka bagiku neraka.”

Pada saat shalat berjamaah, makmum diwajibkan untuk mengikuti gerakan imam, baik gerakan yang sifatnya wajib atau sunnah. Meskipun sujud tilawah sunnah, bukan bagian dari kewajiban atau rukun shalat, maka ketika imam melakukannya, makmum harus mengikutinya. Kalau makmum tidak megikuti imam pada saat sujud tilawah, shalat yang dilakukannya bisa batal, apalagi kalau dia mengetahuinya.

Syekh Zainuddin Al-Malibari menjelaskan:

فإن سجد إمامه وتخلف هو عنه أو سجد هو دونه بطلت صلاته ولو لم يعلم المأموم سجوده  بعد رفع رأسه من السجود لم تبطل صلاته ولايسجد بل ينتظر قائما

Artinya, “Apabila imam sujud tilawah, sementara makmum tidak sujud, atau makmum sujud sendiri tanpa imam, shalatnya batal. Kalau makmum tidak mengetahui sujud imam setelah imam mengangkat kepalanya, tidak batal shalatnya dan makmum tidak perlu sujud, tapi tunggu saja dalam keadaan berdiri.”

Kalau makmum tidak ikut sujud bersama imam, padahal dia mengetahui imam sedang sujud tilawah, maka shalatnya batal. Tapi kalau makmum tidak mengetahui dan menyadari, baru sadar setelah imam bangkit dari sujud, maka shalatnya tidak batal dan makmum tidak perlu sujud tilawah, tapi tunggu saja imam dalam kondisi berdiri. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)
Senin 27 Agustus 2018 19:15 WIB
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tobat
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tobat
Ilustrasi (info-islam.ru)
Tidak dipungkiri bahwa setiap hamba Allah pastilah pernah melakukan perbuatan salah dan dosa. Dan ketika ini terjadi pada seseorang Islam memerintahkan untuk segera bertobat dengan meminta ampunan kepada Allah, menyesali perbuatan salahnya, dan bertekad kuat untuk tidak akan lagi mengulangi dosa kesalahan yang sama.

Karena taubat merupakan suatu kewajiban bagi orang yang bersalah maka menunda bertobat dari satu kesalahan merupakan sebuah dosa yang juga mesti ditobati. Demikian Syekh Nawawi Banten menyampaikan dalam kitabnya Nihâyatuz Zain (Bandung: Syirkah Al-Ma’arif, tt, hal. 106). Masih menurut beliau bahwa bila tobat yang dilakukan seseorang itu benar maka secara pasti ia akan melebur dosa yang telah dilakukan meskipun itu dosa besar seperti kufur dan lainnya.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Artinya: “Setiap anak keturunan Adam adalah orang yang berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertobat.” (HR. Ibnu Majah; lihat Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulûghul Marâm, [Semarang: Usaha Keluarga], tt., hal. 302)

Para ulama mengajarkan agar ketika seseorang hendak bertobat atas sebuah dosa dan kesalahan yang ia perbuat terlebih dahulu melakukan shalat sunnah dua rakaat yang disebut dengan shalat tobat.

Ajaran para ulama ini didasarkan pada sebuah hadits Nabi—di antaranya diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi—dari sahabat Ali bin Abi Thalib, dari sahabat Abu Bakar As-Shidiq bahwa Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ، ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ لَهُ 

Artinya: “Tidaklah seseorang berbuat dosa lalu ia beranjak bersuci, melakukan shalat kemudian beristighfar meminta ampun kepada Allah kecuali Allah mengampuninya.”

Syekh Nawawi Banten dalam kitab Nihâyatuz Zain menuturkan perihal shalat tobat sebagai berikut:

وَمِنْه صَلَاة التَّوْبَة وَهِي رَكْعَتَانِ قبل التَّوْبَة يَنْوِي بهما سنة التَّوْبَة

Artinya: “Termasuk shalat sunah adalah shalat tobat, yakni shalat dua rakaat sebelum bertobat dengan niat shalat sunnah tobat.”

Dari penjelasan Syekh Nawawi di atas dapat disimpulkan bahwa shalat tobat merupakan shalat sunnah yang terdiri dari dua rakaat dan dilakukan sebelum seseorang bertobat kepada Allah atas dosa yang telah dilakukan. 

Pelaksanaan shalat tobat tidak berbeda dengan pelaksanaan shalat pada umumnya. Adapun niat shalat tobat adalah:

أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ

Ushallî sunnatat taubati (saya berniat shalat sunnah tobat).”

Setelah selesai shalat dua rakaat kemudian dilanjutkan bertobat dengan membaca istighfar yang disertai dengan penyesalan, tekad kuat untuk menjauhkan diri dari perilaku dosa dan tidak akan mengulanginya lagi.

Namun demikian Syekh Nawawi juga menganggap sah shalat tobat yang dilakukan setelah orang yang bersangkutan bertobat, bukan sebelumnya. Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Ahad 26 Agustus 2018 15:30 WIB
Besarnya Keutamaan Shalat Tasbih
Besarnya Keutamaan Shalat Tasbih
Ilustrasi (pinterest)
Shalat tasbih adalah salah satu shalat yang dipandang oleh para ulama memiliki keutamaan yang sangat besar bagi siapa saja yang mengamalkannya. Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki di dalam kitabnya Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah menuturkan, bahwa sebagian dari kemuliaan umat Nabi Muhammad adalah Allah mengkhususkan shalat tasbih bagi mereka.

Baca juga: Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tasbih
Besarnya kemuliaan yang ada pada shalat tasbih tersurat dalam sebuah hadits yang banyak dijadikan rujukan para ulama dalam menetapkan status hukum shalat tasbih. Hadits tersebut—salah satunya—diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - أَنَّ «النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: " يَا عَبَّاسُ! يَا عَمَّاهُ! أَلَا أُعْطِيكَ؟ أَلَا أَمْنَحُكَ؟ أَلَا أحبوكَ؟ أَلَا أَفْعَلُ بِكَ؟ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ، غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ، صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ: أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ، قُلْتَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، ثُمَّ تَرْكَعُ، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ، فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ، تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ، إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ، فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمْرِكَ مَرَّة

Artinya: “Dari Abdullah bin Abbas radliyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abbas bin Abdul Muthalib, “Wahai Abbas, pamanku, tidakkah aku memberimu? Tidakkah aku memberi tahumu? Tidakkah aku  lakukan kepadamu? Sepuluh perkara bila engkau melakukannya maka Allah ampuni dosamu; yang awal dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang tak dilakukan karena kesalahan dan yang disengaja, yang kecil dan yang besar, yang sembunyi-sembunyi dan yang terang-terangan. Lakukanlah shalat empat rakaat, pada setiap rakaat engkau membaca Al-Fatihah dan surat lainnya. Ketika engkau telah selesai membaca di rakaat pertama dan engkau masih dalam keadaan berdiri engkau ucapkan subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar lima belas kali. Kemudian engkau ruku’, ucapkan kalimat itu sepuluh kali saat kau ruku’. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’ (i’tidal), engkau baca kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau turun bersujud, kau baca kalimat itu sepuluh kali dalam bersujud. Kemudian engkau angkat kepalamu dari bersujud, egkau baca kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau bersujud (yang kedua), engkau baca kalimat tu sepuluh kali. Kemudian engkau angkat kepala, engkau baca kalimat itu sepuluh kali. Itu semua ada tujuh puluh lima dalam setiap rakaat. Engkau lakukan itu dalam empat rakaat. Bila engkau mampu melakukannya setiap sehari sekali maka lakukanlah. Bila tidak maka lakukan setiap satu jum’at sekali. Bila tidak maka setiap satu bula sekali. Bila tidak maka setiap satu tahun sekali. Bila tidak maka dalam seumur hidupmu lakukan sekali.”

Secara tekstual dari hadits di atas Rasulullah telah menjelaskan keutamaan yang begitu besar dalam shalat tasbih. Dengan empat rakaat shalat tasbih semua dosa yang dilakukan oleh orang yang mengamalkannya diampuni oleh Allah. Ini bisa disimpulkan dari ungkapan Rasulullah yang memerinci secara detail sifat-sifat dosa yang diampuni; awal dan akhir, sengaja dan tidak sengaja, kecil dan besar, sembunyi dan terang-terangan. Bahkan Sayid Muhammad Al-Maliki menyebutkan bahwa dosa besar pun dapat terampuni hanya dengan melakukan shalat tasbih ini. Hanya saja beliau juga menggarisbawahi bahwa pengampunan itu apabila pelaksanaan shalat tasbih tersebut dibarengi dengan pemenuhan syarat-syarat bertobat yang terdiri dari istighfar (meminta ampun), penyesalan, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi.

Dalam kitab Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah Sayid Muhammad Al-Maliki menyatakan:

يدل بظاهره على ان الكبائر تغفر بمجرد فعل هذه الصلاة. وهو محمول على ما اذا اقترنت ببقية شروط التوبة من الاستغفار والندم والعزم على عدم العود

Artinya: “Secara dhahir hadits itu menunjukkan bahwa dosa-dosa besar terampuni hanya dengan melakukan shalat tasbih ini. Itu bisa dipahami apabila shalat tasbih itu dibarengi dengan syarat-syarat bertaubat yang terdiri dari memohon ampunan, menyesali, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi.” (Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki, Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah, 1985, tanpa penerbit, hal. 101)

Hanya saja—masih menurut beliau—dosa-dosa yang diampuni ini tidak mencakup dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak sesama hamba, hanya dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-haknya Allah saja.

Besarnya keutamaan shalat tasbih juga bisa dilihat dari kalimat Rasulullah dalam menganjurkan melakukan shalat sunah ini. Secara runtut beliau menganjurkan agar shalat tasbih ini dilakukan sehari sekali, bila tidak mampu maka seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, hingga setidaknya sekali seumur hidup.

Imam As-Subki—sebagaimana dikutip Al-Haitami—menyatakan bahwa tidaklah orang yang mendengar tentang keutamaan shalat tasbih namun ia meninggalkannya (tidak melakukannya) kecuali orang itu adalah orang yang merendahkan agama (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhâjul Qawîm, Beirut, Darul Fikr, tt., hal. 203).

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)