IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Dalil tentang Masih Hidupnya Nabi Isa dan Turunnya di Akhir Zaman

Senin 10 September 2018 19:15 WIB
Share:
Dalil tentang Masih Hidupnya Nabi Isa dan Turunnya di Akhir Zaman
Allah ﷻ berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Artinya: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

Surat Ali 'Imran ayat 144 ini adalah penegasan bahwa Nabi Muhammad itu tidak wafat sebagaimana anggapan kaum kafir dan kaum musyrik ketika konteks perang Uhud.

Sehingga ketika bicara tentang kewafatan para nabi maka tidak tepat menggunakan ayat ini. Justru ayat ini memakai bentuk pertanyaan, yakni “apakah jika beliau itu wafat atau terbunuh kalian akan berpaling?”

Menjadi nyata dan ternyata Rasulullah ketika itu masih hidup dan tidak wafat. Ini adalah penjelasan Allah yang melegakan umat Islam ketika itu. 

Kemudian bagaimana dengan makna ayat ini?

Syekh Fakhruddin ar-Razy dalam Tafsir al-Kabir, juz 9, halaman 21-22 menyatakan:

فيسخلوا كما خلوا

"Maka beliau Nabi Muhammad itu akan berlalu sebagaimana para rasul sebelumnya juga telah berlalu."

Syekh Fakhruddin juga menegaskan:

أنه تعالى بين فى آيات كثيرة أنه عليه السلام لا يقتل

"Sesungguhnya Allah menjelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad itu tidak terbunuh."

Al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat

 وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

menyampaikan riwayat bahwa ketika Rasulullah telah wafat, maka ayat ini dibacakan oleh Abu Bakar kepada Umar karena telah nyata bahwa Rasulullah sudah wafat.

Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa dalam konteks perang Uhud dan Rasulullah belum wafat, maka turunlah ayat itu.

Ibn Katsir menafsiri ayat tersebut dengan menyatakan:

له أسوة بهم في الرسالة، وفي جواز القتل عليه

"Rasulullah itu sebagai teladan bagi para Rasul dalam hal kerasulan, dan bolehnya terjadi pembunuhan atas beliau."

Dalil tentang Masih Hidupnya Nabi Isa

1. QS Ali Imran (3): 55

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".

2. QS An-Nisa' (4): 157-158

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا. بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Artinya: “Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

3. QS An-Nisa' (4): 159

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

Artinya: “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.”

4. QS Al-Maidah (5): 117

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Artinya: “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”

5. QS Az-Zukhruf (43): 61

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

Artinya: “Artinya: "Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (kiamat) itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”

Berikut ini sebagian tafsir tentang Ali Imran (3): 55, riwayat Ibn Abbas dan Hasan al-Bashri:

 وأخرج إسحاق بن بشر، وابن عساكر، من طريق جويبر، عن الضحاك، عن ابن عباس في قوله (إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ)، يعنى: رافعك ثم متوفيك في آخر الزمان

Ayat innî mutawaffîka wa râfi‘uka bermakna "mengangkatmu, dan mewafatkanmu di akhir zaman." (Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma'tsur, juz 3, halaman 598)

 وقد ثبت الدليل أنه حي، وورد الخبر عن النبي"أنه سينزل ويقتل الدجال" ثم إنه يتوفاه بعد ذلك

"Sungguh telah tetap dalil bahwa sesungguhnya beliau (Nabi Isa Ibn Maryam) itu hidup. Ada suatu khabar yang telah sampai dari Nabi Muhammad, ‘Sesungguhnya ia Nabi Isa itu akan turun (ke bumi), dan membunuh dajjal’. Kemudian, sesungguhnya Allah akan mewafatkan Nabi Isa setelah itu.” (Syekh Fakhruddin ar-Razy, Tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghayb, juz 8, halaman, 74-78)

وأخرج ابن جرير، وابن أبى حاتم، من وجه آخر، عن الحسن فى قوله: (إني متوفيك): يعنى وفاة المنام، رفعه الله فى منامه. قال الحسن: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لليهود: إن عيسى لم يمت، وإنه راجع إليكم قبل يوم القيامة

"Maksudnya adalah kewafatan tidur, Allah membangkitkan Isa dalam tidur beliau. Imam Al-Hasan (al-Bashri, seorang ulama generasi tabi'in) berkata: Rasulullah bersabda kepada orang Yahudi: "Sesungguhnya Isa itu belum meninggal dunia, sesungguhnya beliau akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat."

(Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir Ad-Durrul Mantsur, juz 3, halaman 596)

Berikut ini tafsir Al-Maidah (5): 117 dari sejumlah ulama

وكنت عليهم شهيدا مادمت فيهم فلما توفيتني كنت انت الرقيب عليهم

Dr. Muhammad Hasan al-Hamshi dalam Al-Qur'an Karim Tafsir wa Bayan menafsiri "tawaffaytani" itu dengan:

اخذتني إليك وافيا برفعي إلى السماء حيا

"Engkau mengambilku kepada-Mu, secara sempurna, dengan mengangkatku ke langit dalam keadaan hidup."

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Munir menafsirkannya dengan:

رفعتني من بينهم إلى السماء

"Engkau mengangkatku dari antara mereka, ke langit."

Syekh Al-Wahidy dalam Tafsir Al-Wajiz menafsirkannya dengan:

قبضتني ورفعتني إليك أي إلى السماء

"Engkau mengambilku, dan mengangkatku kepada-Mu, maksudnya ke langit."

Kedua ulama tafsir ini menyatakan bahwa konteks ayat tersebut adalah firman Allah di hari kiamat.

Berikut ini penafsiran Ibn Abbas dan para ulama tentang Az-Zukhruf ayat 61:

Ketika menafsiri kalimat “la ‘ilmun lis sâ‘ah", Dr. Muhammad Hasan menyatakan:

علامة واضحة يعلم بها قرب الساعة

"Sesungguhnya Isa 'alaihis salam itu sebagai pertanda yang jelas, yang dengan pertanda itu akan diketahui dekatnya hari kiamat."

Syekh Nawawi juga menjelaskan tentang ayat itu

وإن عيسى لشرط من اشراط الساعة. والمعنى وإن نزول عيسى من السماء علامة على قرب الساعة

"Sesungguhnya Isa itu sungguh sebagai pertanda dari sebagian tanda-tanda kiamat. Dengan demikian maknanya adalah bahwa sesungguhnya turunnya Isa dari langit itu sebagai pertanda atas dekatnya hari kiamat."

Apakah contoh dari dua tafsir ini sesuai dengan tafsiran para ulama salaf, terutama generasi sahabat? Ternyata cocok.

1. Ibnu Abbas

قال: خروج عيسى عليه السلام قبل يوم القيامة

"Keluarnya Isa alaih salam, sebelum hari kiamat.”

Tafsir dari Ibn Abbas ini antara lain disebutkan oleh Imam Ibn Jarir at-Thabari, Imam at-Thabarany, dan Al-Haitsami.

2. Hasan Bashri

  قال: نزول عيسى

"Turunnya Isa."

3. Qatadah

قال: نزول عيسى عليه السلام علم للساعة

"Turunnya Isa adalah pertanda kiamat."

Tegasnya, Ibn Katsir dalam "Tafsir Al-Quran al-Adzim", jilid 7 halaman 236 menyatakan sebagai berikut:

وهكذا روي عن ابي هريرة وابن عباس، وأبى العالية، وأبى مالك، وعكرمة، والحسن، وقتادة، والضحاك، وغيرهم

“Demikianlah (bahwa 'âyatun lis-sâ‘ah' itu adalah dengan keluarnya Isa Ibn Maryam sebelum hari kiamat) diriwayatkan dari Abi Hurairah, Abdullah ibn Abbas, Abi al-'Aliyah, Abi Malik, 'Ikrimah, Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, ad-Dhahak, dan selainnya.

Lebih lanjut Ibn Katsir menyatakan,

وقد تواترت الأحاديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، أنه أخبر بنزول عيسى ابن مريم عليه السلام، قبل يوم القيامة اماما عادلا، وحكما مقسطا

"Sungguh telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah Muhammad bahwa beliau sungguh mengabarkan tentang turunnya Isa Ibn Maryam sebelum hari kiamat sebagai imam yang adil dan hakim yang adil."


Yusuf Suharto, anggota Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Tags:
Share:
Jumat 7 September 2018 17:45 WIB
Ini Tugas Malaikat Jibril setelah Wahyu Tidak Turun
Ini Tugas Malaikat Jibril setelah Wahyu Tidak Turun
Kita mendapat informasi bahwa Allah menugaskan malaikat Jibril AS untuk membawa turun wahyu kepada para nabi dan rasul di atas muka bumi. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW wafat sebagai nabi dan rasul terakhir, malaikat Jibril AS tidak lagi turun di atas muka bumi.

Pandangan ini ditolak oleh Syekh Jalaluddin As-Suyuthi. Menurutnya, cerita yang beredar seperti itu tidak berdasarkan sama sekali. Ia menambahkan bahwa malaikat Jibril AS tetap turun ke bumi karena malaikat Jibril AS mengemban tugas lain di samping membawa wahyu.

وما اشتهر من أنه لا ينزل الأرض بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم لا أصل له إلا أن يقال لا ينزل بوحي ذكره القليوبي

Artinya, “Cerita yang terkenal beredar bahwa Jibril AS tidak pernah turun lagi ke bumi setelah Rasulullah SAW wafat merupakan cerita yang tidak berdasar. Hanya saja dapat dikatakan bahwa Jibril AS tidak turun lagi ke bumi membawa wahyu seperti disebutkan oleh Al-Qaliyubi,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 16).

Allah memberikan tugas lain kepada Malaikat Jibril AS di samping membawa wahyu untuk para nabi dan rasul. Malaikat Jibril AS ditugaskan untuk mendampingi mereka yang sedang mengalami sakaratul maut dalam keadaan suci. Ia ditugaskan untuk membawa rahmat dan kemudahan bagi orang sekarat dalam keadaan suci untuk menghormatinya.

فجبريل موكل بالوحي أي الخبر الذي يأتي به من عند الله للأنبياء عليهم الصلاة والسلام قال الجلال السيوطي وإنه يحضر موت من يموت على وضوء

Artinya, “Jibril AS diwakilkan untuk mengurus wahyu, yaitu kabar yang datang bersamanya dari sisi Allah untuk pada nabi AS. Jalaluddin As-Suyuthi mengatakan bahwa Jibril hadir pada saat sakaratul maut orang menghadapi kematian dalam keadaan memiliki wudhu,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 16).

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa malaikat Jibril AS ditugaskan untuk memenuhi dan menahan hajat orang-orang yang berdoa atas izin Allah SWT sebagai riwayat Imam Al-Baihaqi berikut ini:

وَأَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ ثَابِتٍ قَالَ بَلَغَنَا أَنَّ اللهَ تَعَالَى وَكَّلَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِحَوائِجِ النَّاسِ، فَإِذَا سَأَلَ الْمُؤْمِنُ ، قَالَ يَا جِبْرِيلُ: احْبِسَ حَاجَتَهُ فَإِنِّي اُحِبُّ لِدُعَائِهِ، وَإِذَا دَعَا الْكَافِر، قَالَ يَا جِبْرِيلُ أَقْضِ حَاجَتَهُ فَإِنِّي أُبْغِضُ دُعَائَهُ

Artinya, “Al-Baihaqi meriwayatkan dari Tsabit, dia berkata, ‘Telah sampai kepadaku riwayat yang menyatakan bahwa Allah SWT mendelegasikan Malaikat Jibril AS dalam urusan memenuhi hajat hidup manusia. Apabila seorang Mukmin berdoa, maka Allah pun berkata kepada Jibril AS, ‘Wahai Jibril! Tahan dulu untuk memenuhi hajatnya karena Aku sungguh sangat senang mendengar lantunan doanya.’ Apabila orang kafir berdoa, Allah pun berkata kepadanya, ‘Wahai Jibril! Penuhi apa yang menjadi hajatnya karena sesungguhnya Aku tidak suka mendengar lantunan doanya,’’” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1985 M/1405 H], cetakan pertama, halaman 24).

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa malakat Jibril AS hingga kini masih mengemban tugas dari Allah SWT di samping tugas menurunkan wahyu. Malakat Jibril AS mengatur angin, memenuhi atau menahan hajat manusia, dan membawa rahmat bagi mereka yang menjaga kesucian saat sakaratul maut. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 6 September 2018 8:15 WIB
Status Keimanan Abu Thalib dan Syafaat Nabi Muhammad
Status Keimanan Abu Thalib dan Syafaat Nabi Muhammad
Abu Thalib adalah paman yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Abu Thalib mengawal pertumbuhan fisik sejak kecil dan pada waktunya melindungi dakwah Islam yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW. Meski demikian, Abu Thalib enggan mengucapkan dua kalimat syahadat di akhir hayatnya.

Keengganan Abu Thalib mengucapkan dua kalimat syahadat itu bukan karena keingkarannya. Ayah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini mengakui kenabian Rasulullah SAW melalui syairnya berikut ini:

ولقد علمت بأنَّ دين محمد ... من خير أديان البرية ديناً

Artinya, “Aku yakin bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik umat manusia yang pernah ada.”

Dari sini ulama kemudian menetapkan kekufuran Abu Thalib. Para ulama mendasarkan pandangannya pada hadits riwayat Muslim perihal siksa atau azab neraka paling ringan yang diterima Abu Thalib kelak berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

Artinya, "Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, ia memakai dua sandal neraka yang cukup mendidihkan otaknya,’" (HR Muslim).

Tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa Abu Thalib termasuk orang yang beriman karena Allah SWT memuliakan Abu Thalib karena jasa pemeliharaan dan cintanya kepada Rasulullah SAW dengan menghidupkan kembali setelah wafatnya untuk menyatakan dua kalimat syahadat sebagaimana keterangan Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani dari As-Subki berikut ini:

والثالث أبو طالب) وأمه فاطمة بنت عمرو بن عابد وهي أم عبد الله أبي رسول الله والصحيح أنه مات كافرا واسمه عبد مناف وأما أبو طالب فهو كنيته وقيل اسمه كنيته قال اليراوي والذي نقله سيدي عبد الوهاب الشعراني عن السبكي أن عمه صلى الله عليه وسلم أبا طالب بعد أن توفي على الكفر أحياه الله تعالى وآمن به صلى الله عليه وسلم قال شيخنا العلامة السجيني وهذا هو اللائق بحبه صلى الله عليه وسلم وهو الذي اعتقده وألقى الله به وأما إحياء الله تعالى لأبويه صلى الله عليه وسلم فللدخول في أمته فقط وإن كانا من الناجين لأنهما من أهل الإسلام

Artinya, “(Ketiga Abu Thalib). Ibunya Abu Thalib bernama Fathimah binti Amr bin Abid. Abu Thalib dan Abdullah, ayah Rasulullah SAW, memiliki ibu yang sama. Pendapat yang shahih mengatakan bahwa Abu Thalib wafat dalam keadaan kufur. Nama Abu Thalib adalah Abdu Manaf. Sedangkan Abu Thalib adalah nama julukannya. Ada ulama yang mengatakan bahwa nama Abu Thalib tidak lain julukannya itu sendiri. Al-Yarawi mengatakan, pendapat yang dinukil oleh Syekh Abdul Wahhab As-Syarani dari As-Subki menyebutkan bahwa paman Rasulullah SAW, Abu Thalib, setelah wafat dalam keadaan kufur dihidupkan kembali oleh Allah SWT lalu beriman kepada Rasulullah SAW. Guru kami As-Sujaini mengatakan, ini cukup layak berkat cintanya kepada Rasulullah SAW. Pendapat ini diyakini olehnya dan menyerahkannya kepada Allah. Adapun kedua orang tua Rasulullah SAW dihidupkan kembali oleh Allah SWT hanya karena untuk memasukkan keduanya ke dalam barisan umat Rasulullah SAW. Kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk orang yang selamat dari neraka karena keduanya termasuk umat Islam,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 36-37).

Pandangan As-Subki ini didasarkan pada hukum aqli (jaiz aqli) yang memberikan tempat bagi kuasa Allah atau qudrah pada kemungkinan (mumkinat) yang bukan mustahil. Pandangan As-Subki ini bisa menjadi dasar agar umat Islam tetap menjaga adab terhadap mereka yang mencurahkan hidupnya untuk Rasulullah dan tidak mengecilkan kuasa Allah SWT.

Terlepas dari perbedaan pandangan ulama perihal keimanan Abu Thalib, yang jelas disepakati ulama adalah bahwa Abu Thalib termasuk orang yang menerima syafaat Rasulullah SAW sebagaimana dipahami secara harfiah dari hadits riwayat Muslim di atas.

Syekh Al-Baijuri mengatakan, syafaat Rasulullah SAW ini dimaksudkan antara lain untuk pamannya, Abu Thalib:

ومنها شفاعته في تخفيف العذاب عن بعض الكافرين كعمه أبي طالب على القول بأن الله لم يحيه فآمن به صلى الله عليه وسلم وهو المشهور والذي يحب أهل البيت يقول بأن الله أحياه وآمن به صلى الله عليه وسلم والله قادر على كل شيء

Artinya, “Di antaranya adalah syafaat Rasulullah SAW dalam meringankan siksa dari sejumlah orang kafir seperti pamannya, Abu Thalib, yang menurut satu pendapat ulama, Allah tidak menghidupkannya kembali agar ia beriman. Ini pendapat masyhur. Sementara para pecinta ahlul bait berpendapat Allah menghidupkan kembali Abu Thalib, lalu ia beriman kepada Rasulullah. Allah kuasa atas segala sesuatu,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 23).

Lalu bagaimana dengan Surat Ali Imran ayat 88 yang menyatakan bahwa siksa orang kafir tidak akan diringankan? Syekh Ibrahim Al-Baijuri menjelaskan bahwa ayat ini tidak menafikan syafaat Rasulullah SAW sebagai berikut ini:

ولا ينافي شفاعته صلى الله عليه وسلم في تخفيف العذاب عن بعض الكافرين قوله تعالى ولا يُخَفَّفُ لأن المنفي انما هو تخفيف عذاب الكفر فلا ينافي أنه يخفف عنهم عذاب غير الكفر على أحد الأجوبة في ذلك

Artinya, “Firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 88, ‘Tidak diringankan siksa mereka’ tidak menafikan syafaat Rasulullah SAW dalam meringankan siksa sejumlah orang kafir karena yang dinafikan ayat itu adalah siksa kekufuran sehingga ayat ini tidak menafikan peringanan siksa atas dosa selain kekufuran, dalam salah satu jawaban perihal ini,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 23).

Semoga Allah memelihara kita, keluarga, dan masyarakat lingkungan kita dari segala kekufuran dan kemusyrikan baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Kita juga berharap agar Allah memasukkan nama kita dan nama keluarga kita sebagai penerima syafaat Rasulullah SAW.

Kita juga berharap Allah memasukkan kita termasuk orang yang mencintai Rasulullah SAW, keturunan, sahabat, umat, dan mereka yang mencintainya. Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 4 September 2018 18:45 WIB
Pengertian Doa Pasti Terkabul dalam Kajian Aqidah
Pengertian Doa Pasti Terkabul dalam Kajian Aqidah
(Foto: mawdooo3com)
Hampir setiap kita bertanya-tanya terkait doa yang kita baca setiap hari dan janji ijabah (pengabulan) doa oleh Allah SWT. Sebagian dari kita bahkan berburuk sangka karena menanti janji Allah perihal pengabulan doa kita. Padahal, kita perlu memahami keterbatasan diri kita terkait bentuk pengabulan doa itu sendiri.

Dalam aqidah ahlussunnah wal jamaah, kita diajarkan bahwa ijabah (pengabulan) doa oleh Allah SWT bisa mengambil bentuk yang mungkin saja sesuai dengan permohonan kita dan bisa jadi tidak sesuai dengan yang kita minta.

Ijabah (pengabulan) doa oleh Allah SWT bisa terjadi dalam waktu dekat, tetapi juga bisa terjadi dalam waktu yang tidak dekat sebagaimana keterangan Syekh M Ibrahim Al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid berikut ini:

واعلم) أن الإجابة تتنوع فتارة يقع المطلوب بعينه على الفور وتارة يقع ولكن يتأخر لحكمة فيه

Artinya, “(Ketahuilah) bentuk ijabah (pengabulan) doa itu bermacam-macam. Terkadang, doa terkabul segera dengan bentuk sesuai permintaan. Tetapi lain kesempatan, doa terkabul agak lambat dengan bentuk sesuai permintaan karena hikmah tertentu,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Selain soal waktu, ijabah (pengabulan) doa manusia berkaitan dengan bentuk pengabulan doa itu sendiri. Allah SWT bisa mengabulkan permintaan kita persis dengan harapan yang kita mohonkan. Tetapi, Allah juga berkuasa mengabulkan doa kita dalam bentuk lain yang tidak kita minta dalam lafal doa.

وتارة تقع الإجابة بغير المطلوب حيث لا يكون في المطلوب مصلحة ناجزة وفي ذلك الغير مصلحة ناجزة أو يكون في المطلوب مصلحة وفي ذلك الغير أصلح منها

Artinya, “Terkadang, doa terkabul dengan bentuk tidak sesuai permintaan karena permintaan tersebut tidak mengandung maslahat yang kontan, tetapi sesuatu yang tidak diminta mengandung maslahat yang kontan. Atau bisa jadi karena pada permintaan tersebut mengandung maslahat, tetapi sesuatu yang tidak diminta mengandung jauh lebih maslahat daripada ,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Sebagian dari kita mungkin menunggu-nunggu kapan Allah mengabulkan doa kita. Padahal doa kita sudah dikabulkan dalam bentuk yang lain. Tetapi sebenarnya yang perlu diingat bahwa ijabah atau pengabulan doa itu berkaitan erat kehendak Allah SWT sebagai penguasa alam raya.

على أن الإجابة مقيدة بالمشيئة كما يدل عليه قوله تعالى فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ فهو مقيد لإطلاق الآيتين السابقين فالمعنى ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إن شئت وأجيب دعوة الداعي إن شئت

Artinya, “Atas dasar bahwa ijabah atau pengabulan doa terkait dengan kehendak-Nya sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah SWT, ‘Maka Dia mengangkat bahaya yang mana kalian berdoa kepada-Nya jika Dia menghendaki,’ (Surat Al-An’am ayat 41). Pengabulan doa ini bersifat muqayyad karena kemutlakan dua ayat terdahulu. Maknanya dapat dikatakan, ‘Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian,’ jika Aku menghendakinya, (Surat Ghafir ayat 60) dan Aku mengabulkan permintaan mereka yang berdoa jika Aku menghendakinya,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Semua pengertian ini dijelaskan oleh ulama ahlussunnah wal jamaah bukan dalam rangka mengecilkan arti doa. Semua ini dimaksudkan agar umat Islam sekali lagi giat berdoa sebagai bentuk ibadah, menyadari diri sebagai makhluk yang lemah, mengakui kehendak dan kuasa Allah, dan selalu bersikap baik sangka kepada-Nya bahwa Allah mengabulkan doa kita. Menjaga adab terhadap Allah merupakan hal paling utama. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)