IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Pertanyaan Munkar dan Nakir untuk Orang Mati yang Tak Terkubur

Kamis 13 September 2018 8:15 WIB
Share:
Pertanyaan Munkar dan Nakir untuk Orang Mati yang Tak Terkubur
Kita sering membayangkan alam kubur atau alam barzakh sebagai ruang tunggu atau ruang dokter memeriksa pasien dalam arti fisik. Hal ini cukup wajar karena kita terbiasa memakamkan jenazah anggota masyarakat kita. Dari sini kemudian kita sulit membayangkan mereka wafat secara tidak lazim dan karenanya tidak dikuburkan secara adat.

Kita lalu bertanya bagaimana alam barzakh penumpang pesawat yang jatuh tanpa ditemukan jasadnya, penumpang kapal laut yang karam tanpa penemuan fisik korban penumpang, korban hanyut di sungai, atau mereka yang mengalami kecelakaan dimangsa hewan buas seperti ular, buaya, dan lain sebagainya?

Apakah mereka semua tidak mengalami alam kubur atau alam barzakh? Apakah mereka tidak mendapat pertanyaan kubur oleh malaikat Munkar dan Nakir?

Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, menjelaskan alam kubur atau alam barzakh bagi mereka yang jasadnya tidak dikebumikan.

ويجمع من تفرقت أجزاؤه وأكلته السباع فيقعد فيسألان بعنف وينهرانه بجفاء وقيل يرفقان بالمؤمن وينهران الكافر والمنافق ويسألان كل إنسان بلغته

Artinya, “Organ tubuh orang mati yang sudah terpisah dan dimakan binatang buas akan dikumpulkan. Orang itu kemudian dibangunkan dalam posisi duduk. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya dengan kasar dan membentaknya dengan bengis. Ada ulama yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu bersikat ramah kepada orang beriman dan membentak orang kafir dan orang munafik. Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Dari sini kita mendapatkan keterangan jelas bahwa mereka yang jasadnya musnah, tidak dikebumikan, juga mengalami alam kubur atau alam barzakh. Mereka juga menghadapi malaikat Munkar dan Nakir. Mereka akan mendapat pertanyaan alam kubur yang sama seperti ahli kubur yang dimakamkan.

ويقولان له من ربك وما دينك ومن نبيك وما قبلتك ومن إخوتك وما إمامك وما منهاجك وما عملك

Artinya, “Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan. Keduanya bertanya, ‘Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Apa kiblatmu? Siapa saudaramu? Apa imammu? Apa jalan hidupmu? Apa amalmu?’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa kedua malaikat itu akan meminta pandangan ahli kubur dan mereka yang jasadnya musnah entah ke mana perihal status Nabi Muhammad SAW.

Orang yang beriman akan menjawab dengan percaya diri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan Allah. Sementara orang kafir dan munafik akan panik diliputi ketakutan ketika ditanya perihal Nabi Muhammad SAW. Keduanya menjawab “Aku tidak tahu.”

وفي رواية البخاري ومسلم إنهما يقولان له ما كنت تقول في هذا النبي محمد صلى الله عليه وسلم فيقول المؤمن اشهد أنه عبد الله ورسوله انتهى وأما الكافر والمنافق فيحصل لهما رعب فيقولان لهما هاه هاه لا أدري 

Artinya, “Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, kedua malaikat itu bertanya kepada ahli kubur, ‘Apa pendapatmu perihal nabi ini, Nabi Muhammad SAW?’ Ahli kubur yang beriman itu menjawab keduanya, ‘Saksikanlah bahwa dia (Nabi Muhammad SAW) itu hamba dan utusan Allah. Selesai. Adapun orang kafir dan munafik diliputi rasa takut. Keduanya (orang kafir dan munafik) menjawab, ‘Oh, oh, aku tidak tahu,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Kepercayaan terhadap yang ghaib, alam kubur, dan malaikat merupakan bagian dari tiang-tiang keimanan dalam agama Islam. Kita wajib percaya dengan semua yang ghaib sebagaimana ciri-ciri orang beriman yang tersebut dalam awal Surat Al-Baqarah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Kamis 13 September 2018 19:30 WIB
Apa yang Sedang Dilakukan Allah saat Ini?
Apa yang Sedang Dilakukan Allah saat Ini?
Ilustrasi (Twitter.com)
Apa yang sedang dilakukan Allah saat ini? Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, maka kita harus tahu tentang tindakan Allah. Dalam pembahasan aqidah, tindakan yang dilakukan oleh Allah dikenal sebagai sifat fi’l. Segala yang terjadi di dunia ini adalah hasil dari tindakan Allah. Dengan demikian, maka tindakan Allah tak terbatas jumlahnya. Selama sebuah tindakan tak mustahil secara rasional, maka bisa saja (jâ’iz) bagi Allah untuk melakukannya atau tak melakukannya. 

Secara global, tindakan-tindakan Allah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, di antaranya adalah: khalaqa (mencipta), amâta (mematikan), razaqa (memberi rezeki), ja’ala (membuat), ghadaba (marah), radliya (rela/merestui), hakama (memutuskan), hadâ (memberi hidayah), dan banyak sekali lainnya. Intinya, semua kejadian di semesta alam ini adalah bagian dari irâdah (kehendak-Nya) dan qudrah (kekuasaan) Allah.

Demikian juga sifat-sifat khabariyah (yang tersebut dalam nash, red) yang sering diperselisihkan maknanya oleh kaum muslimin seperti misalnya istawayanzilujâ’aatâ, dan lain-lain yang tergolong Mutasyabihât (samar dan multi tafsir). Semua itu menurut Imam al-Asy’ari adalah sifat fi’l Allah. Seluruhnya yang disebutkan secara literal oleh Allah dan Rasulullah, maka harus ditetapkan dan tak boleh diganti redaksinya dengan redaksi lain. Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Furak, Imam al-Asy’ari mengatakan:

فأما ما يوصف من ذلك من جهة الفعل كالإستواء والمجيء والنزول والإتيان فإن ألفاظها لا تطلق إلا سمعا ومعانيها لا تثبت إلا عقلا

“Adapun apa yang disifati dari segi tindakan, semisal istiwâ’, datang, turun, menghampiri, maka redaksi lafaznya tak digunakan sebagai istilah mutlak kecuali secara periwayatan. Adapun maknanya, tak ditetapkan kecuali secara rasional”. (Ibnu Furak, Maqâlât al-Imâm al-Asy’ary, halaman 41)

Seluruh sifat yang berupa tindakan ini dilakukan secara sekaligus oleh Allah tanpa kesulitan apa pun. Allah mencipta, merawat, mengatur,  mematikan, memberi rezeki, menakar rezeki, mengabulkan doa, menolak doa, menghukum, memberi pahala, mengampuni dan seterusnya tidaklah dilakukan bergantian satu persatu tetapi semuanya terjadi dalam waktu yang sama dengan cara yang hanya Allah yang tahu. 

Demikian juga seharusnya kita memahami teks semisal istawanazala, dan lain-lain di atas. Karena seluruhnya adalah suatu tindakan, maka seluruh hal itu dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan cara yang hanya Allah yang tahu sebab hakikat makna seluruh tindakan ini memang tak mungkin diketahui oleh manusia. Ketika Allah berfirman bahwa Diri-Nya istawa atas Arasy, maka yang mampu diketahui oleh manusia tentang istawa itu hanyalah seperti yang dikatakan oleh Imam al-Asy’ari berikut:

أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَلَّ ثَنَاؤُهُ فَعَلَ فِي الْعَرْشِ فِعْلًا سَمَّاهُ اسْتِوَاءً، كَمَا فَعَلَ فِي غَيْرِهِ فِعْلًا سَمَّاهُ رِزْقًا أَوْ نِعْمَةً أَوْ غَيْرَهُمَا مِنْ أَفْعَالِهِ… وَأَفْعَالُ اللَّهِ تَعَالَى تُوجَدُ بِلَا مُبَاشَرَةٍ مِنْهُ إِيَّاهَا وَلَا حَرَكَةٍ.

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung melakukan suatu perbuatan di Arasy yang Dia sebut sebagai istiwa’, seperti halnya Dia melakukan di tempat lain suatu perbuatan yang disebut rezeki, nikmat atau tindakan lainnya. … Adapun tindakan-tindakan Allah terjadi tanpa adanya sentuhan dari Dzat Allah pada objeknya dan tak juga berupa pergerakan”. (Al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât, juz II, halaman 308).

Dengan demikian, memahami seluruh sifat fi’l Allah akan jauh lebih mudah sebab tak perlu dipertentangkan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain. Sifat fi’l ini sebenarnya hanyalah kesamaan nama saja dengan tindakan manusia sedangkan hakikatnya jauh berbeda. Kita meyakini bahwa Allah istawa atas Arasy, sekaligus nuzûl di daerah sepertiga malam terakhir, sekaligus menciptakan, merawat, memberi, menahan dan seterusnya. Seluruhnya dilakukan oleh Allah dalam satu waktu yang sama dengan cara yang tak bisa dibayangkan oleh manusia sebab sama sekali berbeda dengan makna dan tata cara yang terjadi pada manusia. 

Jangan sekali-kali membayangkan Allah sebagai jism (sosok fisikal yang mempunyai volume) yang melakukan seluruh tindakan itu dengan makna sebagaimana terdapat dalam kamus-kamus manusia. Turunnya Allah bukanlah bergerak dari atas ke bawah, istawa-Nya Allah bukanlah menetap atau duduk di atas Arasy, dan demikian seterusnya hingga seluruh makna leksikal (makna kamus) yang notabene hanya berlaku untuk makhluk itu tak diberlakukan juga kepada Allah Yang Maha Suci. Pemakaian makna leksikal ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk (tasybîh) dan penentuan cara (takyîf) yang sepakat dilarang oleh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Kasus seperti ini terjadi pada keyakinan kaum Musyabbihah atau Mujassimah yang selalu menyematkan makna leksikal manusiawi pada sifat Allah.

Selain penyerupaan, mengkhayalkan Allah seperti ini hanya akan membuat seolah sifat-sifat Allah saling menafikan satu sama lain sehingga pelakunya akan terjerumus pada penafian sebagian sifat yang ditetapkan oleh Allah (ta’thîl) agar tak jatuh pada kontradiksi yang dibuatnya sendiri. Ini terjadi pada keyakinan kaum Jahmiyah-Muktazilah yang mengingkari istiwa’ dan nuzûl sebab menurutnya kontradiktif dengan keyakinan mereka bahwa Allah ada di mana-mana. 

Sikap tasybîh ataupun ta’thîl adalah sikap keliru yang muncul dari pemahaman yang keliru pula. Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana direpresentasikan oleh Asy’ariyah-Maturidiyah mengambil jalan tengah antara keduanya, mereka menetapkan seluruh sifat Allah yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadits shahih tetapi dalam waktu yang sama, mereka sama sekali tak memberlakukan makna leksikal-jismiyah pada Allah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember

Rabu 12 September 2018 21:0 WIB
Bagaimana Menyikapi Makna Denotatif dari Sifat Allah?
Bagaimana Menyikapi Makna Denotatif dari Sifat Allah?
Ilustrasi (g-1.com)
Dalam diskusi tentang aqidah, ada pernyataan yang saling bertolak belakang dari para Imam Ahlussunnah apakah makna dhâhir bagi sifat-sifat khabariyah (yang dinyatakan dalam ayat dan hadits, red) Allah ditiadakan secara mutlak ataukah ditetapkan keberadaannya tetapi ditegaskan bahwa yang dimaksud adalah makna yang layak? Kerancuan dalam hal ini akan menyebabkan kebingungan dan diskusi yang tak akan berujung. Untuk itu, penulis perlu kiranya dijelaskan apa dan bagaimana makna dhâhir itu sebenarnya dan bagaimana para ulama menyikapinya.

Secara bahasa, makna dhâhir adalah kata lain dari makna denotatif atau makna yang bukan kiasan atau majas. Jadi semisal ada kata yadu-Llah, maka makna dhâhir-nya adalah “tangan Allah” tanpa perlu diartikan sebagai “kekuasaan Allah” atau “nikmat Allah.” Para Ulama terbagi menjadi dua kelompok besar dalam menyikapi makna dhâhir ini. 

Golongan pertama meniadakan makna dhâhir dari akarnya sebab makna ini adalah sesuatu yang memang mustahil bagi Allah. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Imam al-Mufassir al-Qurthubi berikut:

وَقَدْ عُرِفَ، أَنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ تَرْكُ التَّعَرُّضِ لِتَأْوِيلِهَا مَعَ قَطْعِهِمْ بِاسْتِحَالَةِ ظَوَاهِرِهَا، فَيَقُولُونَ أَمِرُوهَا كَمَا جَاءَتْ

“Telah diketahui bahwa mazhab Salaf adalah meninggalkan takwil terhadap ayat-ayat sifat sambil memastikan kemustahilan seluruh makna dhâhirnya, maka mereka berkata: Baca ulang lagi redaksi itu seperti halnya datangnya.” (Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubîy, juz IV, halaman 14)

Imam al-Qurthubi di bagian lain dari tafsirnya menegaskan bahwa yang meyakini makna dhâhir adalah para musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Beliau berkata:

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَقْرَؤُهَا وَنُفَسِّرُهَا عَلَى مَا يَحْتَمِلُهُ ظَاهِرُ اللُّغَةِ. وَهَذَا قَوْلُ الْمُشَبِّهَةِ
 
“Sebagian orang berkata: ‘Kami membacanya dan menafsirkannya sesuai apa yang dikandung oleh dhâhir bahasa’. Ini adalah perkataan Musyabbihah.” (Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubîy, juz I, halaman 254)

Golongan kedua, mereka menetapkan makna dhâhir sebagaimana redaksi dari Al-Qur’an dan Hadits. Hal ini misalnya dikatakan oleh Imam as-Subki sebagai berikut:

وما صح الكتاب والسنة من الصفات يعتقد ظاهر المعنى وينزه عند سماع المشكل

"Keterangan yang shahih dari Al-Quran dan As-Sunnah tentang sifat-sifat Allah,  kita meyakini dhahir maknanya,  dan kita menyucikan Allah (dari sifat-sifat yang tak layak dimiliki-Nya) ketika mendengar keterangan yang musykil (aneh).” (As-Subki, Jam’u al-Jawâmi’).

Pernyataan Imam as-Subki di atas diberi syarah/komentar oleh Imam az-Zarkasyi sebagai berikut:

أن كل ما ورد في الكتاب والسنة الصحيحة من الصفات اللائقة بجلاله، نعتقد ظاهر المعنى وما ورد فيهما من المشكل مما ظاهره الاتصاف بالحدوث والتغير كقوله تعالى: {وجاء ربك والملك} وقوله صلى الله عليه وسلم: ((ينزل ربنا كل ليلة)) فإنا ننزه عند سماعه عما لا يليق به.

"Keterangan yang shahih dari Al-Quran dan As-Sunnah tentang sifat-sifat Allah yang layak bagi-Nya, kita meyakini zhahir maknanya. Dan redaksi yang datang pada kita yang dhâhirnya mengandung sifat kebaruan dan perubahan, seperti firman Allah ‘Tuhanmu telah datang bersama Malaikat’ dan sabda Nabi ‘Tuhan Kita turun setiap malam’, maka kita menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tak layak dimiliki-Nya ketika mendengar hal itu.” (Az- Zarkasyi, Tasynîf al-Masâmi’ bi Jam’i al-Jawâmi’, juz IV, halaman 676).

Senada dengan itu, Imam al-Asy’ari dalam al-Ibanah juga menetapkan makna dhâhir sebagai berikut:

لأن القرآن على ظاهره، ولا يزول عن ظاهره إلا بحجة، فوجدنا حجة أزلنا بها ذكر الأيدي عن الظاهر إلى ظاهر آخر، ووجب أن يكون الظاهر الآخر على حقيقته لا يزول عنها إلا بحجة.

“Sebab Al-Qur’an seluruhnya atas makna dhâhir. Makna dhâhir itu tak hilang kecuali dengan hujjah.” (Abu Hasan al-Asy’ari, al-Ibânah, halaman 138) 

Lalu bagaimanakah sebenarnya makna dhâhir ini? Sebenarnya perselisihan dalam penetapan atau penafian makna dhâhir ini hanyalah redaksional semata. Semua tergantung apa yang dimakud makna dhâhir itu sendiri; bila makna dhâhir diartikan sebagai makna asal yang dibawakan oleh Allah dan Rasulullah tetapi bukan makna jismiyah (makna organ tubuh, susunan, pergerakan, volume dan sebagainya), maka ini disetujui oleh para ulama. Namun bila makna dhâhir diartikan sebagai makna jismiyah sebagaimana makna yang melekat pada makhluk, maka inilah yang ditolak seluruh ulama. 

Karena itulah, Adz-Dhahabi mengatakan bahwa kata dhâhir mempunyai dua makna yang berbeda:

قُلْتُ: قَدْ صَارَ الظَّاهِرُ اليَوْم ظَاهِرَيْنِ: أَحَدُهُمَا حق، والثاني باطل، فالحق أن يَقُوْلَ: إِنَّهُ سمِيْع بَصِيْر، مُرِيْدٌ متكلّم، حَيٌّ عَلِيْم، كُلّ شَيْء هَالك إلَّا وَجهَهُ، خلق آدَمَ بِيَدِهِ، وَكلَّم مُوْسَى تَكليماً، وَاتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً، وَأَمثَال ذَلِكَ، فَنُمِرُّه عَلَى مَا جَاءَ، وَنَفهَمُ مِنْهُ دلاَلَةَ الخِطَابِ كَمَا يَليق بِهِ تَعَالَى، وَلاَ نَقُوْلُ: لَهُ تَأْويلٌ يُخَالِفُ ذَلِكَ. وَالظَّاهِرُ الآخر وَهُوَ البَاطِل، وَالضَّلاَل: أَنْ تَعتَقِدَ قيَاس الغَائِب عَلَى الشَّاهد، وَتُمَثِّلَ البَارِئ بِخلقه، تَعَالَى الله عَنْ ذَلِكَ، بَلْ صفَاتُهُ كَذَاته، فَلاَ عِدْلَ لَهُ، وَلاَ ضِدَّ لَهُ، وَلاَ نظير له، ولا مثيل لَهُ، وَلاَ شبيهَ لَهُ، وَلَيْسَ كَمثله شَيْء، لاَ فِي ذَاته، وَلاَ فِي صفَاته، وَهَذَا أمرٌ يَسْتَوِي فِيْهِ الفَقِيْهُ وَالعَامِيُّ، وَاللهُ أَعْلَمُ.

“Saya berpendapat bahwa kata dhâhir hari ini ada dua macam, yang pertama adalah benar dan yang kedua adalah bathil. Yang benar adalah  berkata bahwa Allah Maha Mendengar, Melihat, Berkehendak, Berfirman, Hidup, Mengetahui, segala sesuatu akan hancur kecuali Wajh-Nya, Allah menciptakan Adam dengan yad-Nya, berfirman pada Musa dengan firman sebenarnya, menjadikan Ibrahim sebagai kekasih, dan yang semisal itu. Maka kita membaca ulang sebagaimana redaksi aslinya dan kita memahaminya sesuai dengan apa yang layak bagi Allah Ta’ala. Dan, kita tak berkata bahwa itu punya takwil yang menyelisihi itu. Adapun dhâhir lainnya adalah yang batil dan sesat yaitu meyakini analogi hal yang ghaib (sifat Allah) terhadap yang terlihat dan menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Allah Maha Suci dari hal itu. Tetapi sifat-sifatnya seperti halnya Dzat-Nya, sehingga tak punya saingan, tak punya lawan, tak punya perbandingan, tak punya hal yang kemiripan, tak punya keserupaan. Dan tak ada satu pun yang sama dengan-Nya, tidak di dalam Dzat-Nya atau sifat-sifatnya. Ini adalah perkara yang sama antara orang yang terpelajar dan orang bodoh. Wallahu a’lam.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, juz XIV, halaman 332)

Dengan demikian menjadi jelas bahwa makna dhâhir yang mengarah ke tafwîdh (memasrahkan makna hakikat yang layak pada Allah) adalah makna dhâhir yang diterima dan ditetapkan. Sedangkan makna dhâhir yang mengarah pada adanya perbandingan dengan makhluk, misalnya ketika melihat makhluk turun bergerak dari atas ke bawah, lalu meyakini nuzûl Allah juga turun bergerak dari arah atas ke bawah, maka ini adalah makna dhâhir yang ditolak sebab merupakan aqidah kaum musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center Jember.  

Rabu 12 September 2018 13:30 WIB
Kisah Aneh Bingungnya Imam al-Haramain soal Aqidah
Kisah Aneh Bingungnya Imam al-Haramain soal Aqidah
Imam al-Haramain (478 H) bernama lengkap Abul Ma'ali Abdul Malik bin Abdillah Al-Juwaini An-Naisaburi, atau dikenal secara luas sebagai Imam al-Juwaini atau Imam dua tanah suci (al-Haramain). Beliau adalah gurunya Imam al-Ghazali (505 H) sang Hujjatul Islam. Imam al-Haramain mempunyai kedudukan yang sangat tingi dalam keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah. 

Dalam bidang fiqih, beliau adalah orang yang pertama kali merangkum seluruh ragam pendapat ulama Syafi’iyah di masanya dalam satu kitab fenomenal yang bernama Nihayat al-Mathlab. Dari ringkasan dan komentar terhadap kitab inilah kemudian hampir seluruh kitab induk mazhab Syafi’i sejak abad ke-5 Hijriah lahir. Dalam bidang aqidah, beliau adalah salah satu tokoh yang mengembangkan pondasi berpikir manhaj aqidah Asy’ariyah.

Dengan reputasi yang sulit ditandingi siapa pun itu, level keilmuan Imam al-Haramain tak bisa diragukan sedikit pun. Namun demikian, ada sebuah kisah tak masuk akal tentang imam besar ini yang dikatakan bingung menjawab pertanyaan amat sederhana dari seseorang bernama al-Hamadani. Berikut ini terjemah kisahnya yang diceritakan oleh Adz-Dhahabi:

“Aku mendengar Abu al-Ma’ali al-Juwaini ditanya tentang firman Allah, الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (Yang Maha Pengasih istawa atas ‘Arsy). Ia berkata: ‘Allah telah ada tanpa adanya ‘Arsy” dan mulai berbicara dengan pembicaraan yang kacau.’ Aku berkata, ‘Wahai Guru, kami telah paham apa yang engkau maksudkan. Tapi apakah engkau memiliki jawaban untuk kemestian-kemestian yang terjadi itu?’

Al-Juwaini berkata, ‘Apa yang engkau inginkan dengan ucapanmu dan apa yang engkau maksudkan?’ Aku berkata: ‘Tidaklah seseorang berdoa dengan mengucapkan Ya Rabb sebelum ia menggerakkan lisannya, keluarlah dari batinnya satu kehendak yang tidak akan menoleh ke kanan dan ke kiri, namun dia mengarah ke atas. Apakah engkau memiliki jawaban untuk sebuah kehendak dan tujuan yang mesti terjadi seperti ini? Beritakanlah kepada kami agar kami terlepas dari persoalan (Allah berada) di atas atau di bawah.’ Aku pun menangis, dan orang-orang pun menangis.

Sang Guru pun memukulkan lengannya ke kursinya dan berteriak: ‘Oohh... Alangkah membingungkan hal ini.’ Ia pun menyobek apa yang ada di atas kursi dan [seolah] terjadi kiamat di masjid kemudian Ia pun turun dan tidak menjawab pertanyaanku kecuali mengatakan: ‘Oh, Kekasihku (Allah), membingungkan… membingungkan…’ Setelahnya aku mendengar sahabat-sahabatnya mengatakan, ‘Kami mendengar ia berkata, al-Hamadani telah membuat aku bingung’.” (Adz-Dzahabi, al-‘Uluw lil ‘Aliyy al-Ghaffâr, halaman 259).

Kisah tersebut dikutip berulang kali oleh para pengkritik manhaj Asy’ariyah sebagai bukti bahwa imam mereka kebingungan dan tak bisa menjawab pertanyaan sederhana tentang tempat Tuhan. Benarkah benar demikian? Mari kita kaji rantai riwayat (sanad) dan konten redaksi (matan) cerita itu.

Baca juga:
• Bolehkah Mengatakan Allah Bersemayam di Atas Arasy?
• Dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits Bahwa Allah Tak Bertempat

Kajian Sanad

Riwayat itu diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dengan cara ijazah dari satu tokoh ke tokoh lainnya; dari Abu Mansur bin al-Walid al-Harimi dalam sebuah risalah yang dikirimkannya kepada Abu Sa’id az-Zanjani. Sudah maklum bahwa Adz-Dhahabi yang lahir pada tahun 673 H tidak bertemu langsung dengan periwayat pertama kisah itu, yakni Abu Mansur bin al-Walid al-Harimi yang wafat pada tahun 643 H. Demikian juga ada keanehan bila al-Harimi konon mengirimkan risalah kisah ini ke Abu Sa’id az-Zanjani yang hidup pada tahun 380-471 H. Keanehan ini dinyatakan dalam penelitian Syekh Ghaits al-Ghalibi dalam bukunya yang berjudul Durar al-Alfâdz al-‘Awâli.

Di sisi lain jauh sebelum al-Ghalibi melakukan penelitian, Imam as-Subki mengomentari sanad kisah ini sebagai berikut:

قد تكلّف لهَذِهِ الْحِكَايَة وأسندها بِإِجَازَة على إجَازَة مَعَ مَا فِي إسنادها مِمَّن لَا يخفى محاطة على الْأَشْعَرِيّ وَعدم مَعْرفَته بِعلم الْكَلَام

“Adz-Dzahabi memaksakan cerita ini dan menyandarkannya pada ijazah atas ijazah lain serta di sanadnya sudah jelas ada orang yang tidak mengerti [aqidah] Asy’ary dan tidak tahu ilmu kalam.” (as-Subki, Thabaqât as-Syâfi’iyah, juz V, halaman 190).

Kesimpulan akhir dari penelitian Syekh al-Ghalibi, sanad di atas ia katakan sebagai versi periwayatan ijazah yang paling lemah. (Ghaits al-Ghalibi, Durar al-Alfâdz al-‘Awâli, halaman 89).

Versi lain sanad kisah ini adalah dari jalur Muhammad bin Thahir dari Abu Jakfar. Jalur ini disebut oleh Imam as-Subki di kitab yang sama sebagai: لَا يقبل نَقله (tidak diterima penukilannya). Pernyataan as-Subki ini juga senada dengan pengakuan Adz-Dzahabi sendiri dalam kitab Mîzân al-I’tidâl yang mengatakan bahwa Muhammad bin Thahir al-Maqdisi adalah:

 ليس بالقوى، فإنه له أوهام كثيرة في تواليفه

“Lemah, tidak kuat. Sesungguhnya dia punya banyak salah paham (wahm) dalam karya-karyanya”.  (Adz-Dzahabi, Mîzân al-I’tidâl, juz III, halaman 587(.

Kajian Matan

Secara matan atau konten redaksi kisah tersebut, tidak masuk akal apabila profil sehebat Imam al-Haramain memukulkan lengannya ke kursi dan berteriak di masjid: “Ooh.. Alangkah membingungkan hal ini” lalu menyobek barang-barang hingga seolah terjadi kiamat di masjid. Orang-orang pun menangis dan beliau turun tanpa memberi jawaban dan malah mengatakan: “Oh kekasihku (Allah), membingungkan… membingungkan…”.  Siapakah yang bisa percaya cerita ini? Bahkan orang bodoh pun takkan melakukan hal semacam itu di masjid, apalagi selevel Imam al-Haramain.

Sama seperti seluruh orang yang berpikiran rasional lainnya, Imam as-Subki menolak keras matan kisah ini dan bahkan mengkritik balik adz-Dzahabi, periwayatnya. Beliau berkata: “Bagaimanakah keadaan adz-Dzahabi dan orang sepertinya apabila yang seperti imam al-Haramain saja bisa bingung?”. (as-Subki, Thabaqât as-Syâfi’iyah, juz 5 halaman 191). 

Padahal jawaban dari pertanyaan al-Hamadani tersebut sangat mudah dan sudah ada sejak jauh sebelumnya; di era Imam Abu Hanifah (150 H), Imam Ahmad (241 H), at-Thahawi (321 H), dan tentu saja Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (324 H), pendiri manhaj Asy’ariyah. Jawaban itu kemudian diteruskan di masa al-Baqillani (403 H), Ibnu Furak (406 H), al-Baihaqi (458 H) dan tertulis di kitab-kitab mereka. 

Jawaban pertanyaan al-Hamadani itu adalah ketinggian yang dimiliki Allah yang ada dalam hati setiap muslim adalah ketinggian mutlak (sifat al-‘Uluw), bukan ketinggian dalam arti arah atau susunan fisikal antara sesutu yang secara fisik berada di bawah dengan sesuatu yang secara fisik ada di atasnya sebab ini adalah sifat jismiyah yang mustahil bagi Allah. Di sisi lain, langit memang kiblat bagi doa sehingga wajar saja bila ketika seseorang berdoa lalu hatinya mengingat langit tempat ia menengadahkan tangannya seperti halnya wajar pula ketika orang hendak salat, maka hatinya akan mengingat ka’bah tempat ia harus menghadapkan tubuhnya. Baik langit atau ka’bah, keduanya bukan tempat bagi Dzat Allah melainkan tempat hamba-Nya mengarah dan menghadap. Dalil bagi hal ini sangat banyak dan diyakini oleh para ulama yang tak terhitung jumlahnya selama seribu tahun terakhir ini. Wallahu A’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center Jember