IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Ini Kesadaran dan Kehidupan Ahli Kubur saat Ditanya Munkar dan Nakir

Jumat 14 September 2018 6:0 WIB
Share:
Ini Kesadaran dan Kehidupan Ahli Kubur saat Ditanya Munkar dan Nakir
Umat Islam wajib percaya dengan alam kubur atau alam barzakh. Umat Islam dituntut percaya pada pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, siksa/azab dan nikmat alam kubur. Tetapi bagaimana kita memahami semua ini padahal mereka yang sudah mati tidak lagi memiliki kesadaran dan perasaan?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Allah dengan kuasanya mengembalikan roh seseorang ke dalam jasad jenazah ahli kubur. Dengan demikian, ahli kubur dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan malaikan Munkar dan Nakir.

Sementara Syekh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Allah hanya menghidupkan kembali setengah badan bagian atas ahli kubur. Dengan demikian, ahli kubur dapat memiliki kesadaran yang bermanfaat dalam memahami pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan menjawab pertanyaan keduanya.

ومحله بعد تمام الدفن وانصراف الناس فيعيد الله تعالى الروح إلى جميع البدن كما ذهب إليه الجمهور وقال ابن حجر إلى نصفه الأعلى فقط

Artinya, “Tempatnya (waktu bertanya malaikat) adalah setelah sempurna pemakaman jenazah dan berpaling pengantar jenazah dari makam. Allah mengembalikan roh ke seluruh anggota badan jenazah sebagaimana dipahami jumhur ulama. Ibnu Hajar mengatakan bahwa roh dikembalikan hanya setengah badan bagian atas,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Ulama ahlussunnah wal jamaah memahami bahwa ahli kubur ditanya oleh malaikat dalam kondisi hidup dengan jasad dan rohnya. Hanya saja, ahli kubur tidak mengalami kehidupan secara utuh sebagaimana saat mereka hidup di alam dunia yang dapat bergerak aktif. Ahli kubur hidup seperti kehidupan orang yang tidur.

وغلط من قال يسأل البدن بلا روح ومن قال تسأل الروح بلا بدن لكن وإن عادت له الروح لانتفى إطلاق اسم الميت عليه لأن حياته ليست حياة كاملة بل أمره متوسط بين الموت والحياة كتوسط النوم بينهما

Artinya, “Keliru pendapat orang yang mengatakan bahwa raga akan ditanya (oleh malaikat) tanpa roh dan keliru pendapat orang yang mengatakan bahwa roh akan ditanya (oleh malaikat) tanpa raga. Tetapi jika roh dikembalikan ke raga, niscaya hilang kemutlakan sebutan ‘mayit’ padanya. Kehidupan ahli kubur bukan kehidupan sempurna, tetapi pertengahan antara kematian dan kehidupan sebagaimana pertengahan kondisi tidur antara mati dan hidup,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Allah mengembalikan fungsi pancaindra, akal, dan kesadaran ahli kubur di alam barzakh. Dengan semua itu, ahli kubur dapat menangkap pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh keduanya sebagaimana pernyataan Al-Baijuri yang dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten dalam Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam.

ويرد إليه من الحواس والعقل والعلم ما يتوقف عليه فهم الخطاب ويتحصل معه رد الجواب حين يسأل ذكر ذلك الباجوري

Artinya, “Panca indera, akal, kesadaran dikembalikan kepada ahli kubur sebatas dapat memahami ucapan yang ditujukan kepadanya dan sebatas dapat menjawab pertanyaan ketika diajukan pertanyaan kepadanya. Hal ini disebutkan oleh Al-Baijuri,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Semua pandangan ini merupakan upaya penjelasan yang dilakukan oleh kelompok ahlussunnah wal jamaah dalam memahami keimanan perihal alam barzakh yang ghaib. Semua kejadian di alam barzakh ini didasarkan pada kuasa atau qudrah Allah terhadap hal-hal yang jaiz menurut hokum aqli. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Jumat 14 September 2018 21:15 WIB
Wajibkah Orang Awam Belajar Argumentasi Ilmu Aqidah?
Wajibkah Orang Awam Belajar Argumentasi Ilmu Aqidah?
Ilustrasi (meydan.tv)
Argumentasi kalâmiyah atau argumentasi-argumentasi teologis dalam ilmu kalam tergolong rumit bagi kebanyakan orang awam. Tak semua orang mampu mengenal Tuhan dengan cara dialektis, seperti misalnya menyusun argumen: “Alam ini berubah, setiap yang berubah pastilah baru, setiap yang baru pastilah ada perancangnya, perancang dari segalanya adalah Tuhan”. Argumentasi semacam ini penuh sesak dalam kitab-kitab tauhid sejak era klasik hingga kontemporer. Berjilid-jilid para tokoh ulama menulis argumentasi kalamiyah untuk membuktikan kebenaran teks Al-Qur’an dan hadits di hadapan para pengingkarnya dari kalangan non-muslim, atau yang salah memahaminya dari kalangan internal kaum muslimin sendiri.

Bila orang-orang yang terdidik mampu memahami argumentasi yang rumit itu sehingga kualitas keimanannya tak bisa digoyahkan sedikit pun, lalu bagaimanakah para Muslim awam yang kebanyakan tak memikirkan hal-hal sedemikian? Apakah keimanan mereka bermasalah? Imam as-Sanusi, salah satu pakar akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) menjelaskan dalam kitabnya sebagai berikut:

ولا نزاع بين المتكلمين في عدم وجوب المعرفة بالدليل التفصيلي على الأعيان وإنما هو كفاية وظاهر قول ابن رشد في نوازله إنما هو بالدليل التفصيلي مندوب إليه لا فرض كفاية

“Tak ada pertentangan di antara ahli kalam tentang tidak wajibnya mengetahui dalil mendetail terhadap masing-masing orang. Itu tak lain hanyalah fardhu kifâyah (kewajibn secara kelompok). Yang Nampak dari pendapat Ibnu Rusyd dalam Nawâzil-nya, bahwa setiap orang sunnah mengetahui dalil mendetail, tidak fardhu kifâyah”. (as-Sanusi, ‘Umdat Ahl at-Taufîq, halaman 13).

Senada dengan beliau, Imam ar-Ramli menjelaskan:

مَا سوى فرض الْعين من علوم أَحْكَام الله كالتوغل فِي علم الْكَلَام بِحَيْثُ يتَمَكَّن من إِقَامَة الْأَدِلَّة وأزالة الشّبَه فرض كفايه على جَمِيع الْمُكَلّفين ... وَلَا أَثم على من لم يتَمَكَّن لعدم وُجُوبه عَلَيْهِ

“Selain pengetahuan hukum Allah yang fardlu ‘ain, seperti misalnya mendalami Ilmu Kalam sekiranya memungkinkan menegakkan dalil dan melenyapkan kerancuan, adalah fardlu kifayah atas setiap muslim yang dewasa dan berakal … dan tiada dosa bagi orang yang tak mampu melakukannya sebab dia memang tidak terkena kewajiban”. (Syihabuddin ar-Ramli,  Ghâyatul Bayân Fî Syarh Zubad Ibn Ruslân, halaman 20).

Jadi, orang awam memang tidak diwajibkan mengetahui argumentasi-argumentasi kalamiyah yang mendetail itu. Mereka hanya perlu untuk meyakini dengan mantap bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Allah, bahwa Allah senantiasa mengurus seisi alam ini, bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah, bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan seterusnya yang merupakan keyakinan global. Mereka tak boleh sedikit pun meragukan keyakinan global semacam ini atau hanya ikut-ikutan saja tanpa ada kemantapan hati. Inilah yang dilarang dan dipermasalahkan oleh para ulama.

Adapun menguasai dalil-dalil terperinci dalam ilmu tauhid yang digunakan untuk menjelaskan seluruh konsep akidah yang rumit, yang dapat dipakai untuk mempertahankan ajaran agama dari para penentang, maka ini hanya diwajibkan bagi orang yang mampu saja di masing-masing daerah. Sekiranya di suatu daerah sudah ada yang melakukannya dan tugas tersebut dapat tertangani, maka yang lain tak wajib mempelajarinya tetapi hanya sunnah saja. Bahkan, menurut Ibnu Rusyd, dalil semacam ini adalah sunnah secara mutlak bagi semua orang. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.

Kamis 13 September 2018 19:30 WIB
Apa yang Sedang Dilakukan Allah saat Ini?
Apa yang Sedang Dilakukan Allah saat Ini?
Ilustrasi (Twitter.com)
Apa yang sedang dilakukan Allah saat ini? Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, maka kita harus tahu tentang tindakan Allah. Dalam pembahasan aqidah, tindakan yang dilakukan oleh Allah dikenal sebagai sifat fi’l. Segala yang terjadi di dunia ini adalah hasil dari tindakan Allah. Dengan demikian, maka tindakan Allah tak terbatas jumlahnya. Selama sebuah tindakan tak mustahil secara rasional, maka bisa saja (jâ’iz) bagi Allah untuk melakukannya atau tak melakukannya. 

Secara global, tindakan-tindakan Allah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, di antaranya adalah: khalaqa (mencipta), amâta (mematikan), razaqa (memberi rezeki), ja’ala (membuat), ghadaba (marah), radliya (rela/merestui), hakama (memutuskan), hadâ (memberi hidayah), dan banyak sekali lainnya. Intinya, semua kejadian di semesta alam ini adalah bagian dari irâdah (kehendak-Nya) dan qudrah (kekuasaan) Allah.

Demikian juga sifat-sifat khabariyah (yang tersebut dalam nash, red) yang sering diperselisihkan maknanya oleh kaum muslimin seperti misalnya istawayanzilujâ’aatâ, dan lain-lain yang tergolong Mutasyabihât (samar dan multi tafsir). Semua itu menurut Imam al-Asy’ari adalah sifat fi’l Allah. Seluruhnya yang disebutkan secara literal oleh Allah dan Rasulullah, maka harus ditetapkan dan tak boleh diganti redaksinya dengan redaksi lain. Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Furak, Imam al-Asy’ari mengatakan:

فأما ما يوصف من ذلك من جهة الفعل كالإستواء والمجيء والنزول والإتيان فإن ألفاظها لا تطلق إلا سمعا ومعانيها لا تثبت إلا عقلا

“Adapun apa yang disifati dari segi tindakan, semisal istiwâ’, datang, turun, menghampiri, maka redaksi lafaznya tak digunakan sebagai istilah mutlak kecuali secara periwayatan. Adapun maknanya, tak ditetapkan kecuali secara rasional”. (Ibnu Furak, Maqâlât al-Imâm al-Asy’ary, halaman 41)

Seluruh sifat yang berupa tindakan ini dilakukan secara sekaligus oleh Allah tanpa kesulitan apa pun. Allah mencipta, merawat, mengatur,  mematikan, memberi rezeki, menakar rezeki, mengabulkan doa, menolak doa, menghukum, memberi pahala, mengampuni dan seterusnya tidaklah dilakukan bergantian satu persatu tetapi semuanya terjadi dalam waktu yang sama dengan cara yang hanya Allah yang tahu. 

Demikian juga seharusnya kita memahami teks semisal istawanazala, dan lain-lain di atas. Karena seluruhnya adalah suatu tindakan, maka seluruh hal itu dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan cara yang hanya Allah yang tahu sebab hakikat makna seluruh tindakan ini memang tak mungkin diketahui oleh manusia. Ketika Allah berfirman bahwa Diri-Nya istawa atas Arasy, maka yang mampu diketahui oleh manusia tentang istawa itu hanyalah seperti yang dikatakan oleh Imam al-Asy’ari berikut:

أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَلَّ ثَنَاؤُهُ فَعَلَ فِي الْعَرْشِ فِعْلًا سَمَّاهُ اسْتِوَاءً، كَمَا فَعَلَ فِي غَيْرِهِ فِعْلًا سَمَّاهُ رِزْقًا أَوْ نِعْمَةً أَوْ غَيْرَهُمَا مِنْ أَفْعَالِهِ… وَأَفْعَالُ اللَّهِ تَعَالَى تُوجَدُ بِلَا مُبَاشَرَةٍ مِنْهُ إِيَّاهَا وَلَا حَرَكَةٍ.

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung melakukan suatu perbuatan di Arasy yang Dia sebut sebagai istiwa’, seperti halnya Dia melakukan di tempat lain suatu perbuatan yang disebut rezeki, nikmat atau tindakan lainnya. … Adapun tindakan-tindakan Allah terjadi tanpa adanya sentuhan dari Dzat Allah pada objeknya dan tak juga berupa pergerakan”. (Al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât, juz II, halaman 308).

Dengan demikian, memahami seluruh sifat fi’l Allah akan jauh lebih mudah sebab tak perlu dipertentangkan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain. Sifat fi’l ini sebenarnya hanyalah kesamaan nama saja dengan tindakan manusia sedangkan hakikatnya jauh berbeda. Kita meyakini bahwa Allah istawa atas Arasy, sekaligus nuzûl di daerah sepertiga malam terakhir, sekaligus menciptakan, merawat, memberi, menahan dan seterusnya. Seluruhnya dilakukan oleh Allah dalam satu waktu yang sama dengan cara yang tak bisa dibayangkan oleh manusia sebab sama sekali berbeda dengan makna dan tata cara yang terjadi pada manusia. 

Jangan sekali-kali membayangkan Allah sebagai jism (sosok fisikal yang mempunyai volume) yang melakukan seluruh tindakan itu dengan makna sebagaimana terdapat dalam kamus-kamus manusia. Turunnya Allah bukanlah bergerak dari atas ke bawah, istawa-Nya Allah bukanlah menetap atau duduk di atas Arasy, dan demikian seterusnya hingga seluruh makna leksikal (makna kamus) yang notabene hanya berlaku untuk makhluk itu tak diberlakukan juga kepada Allah Yang Maha Suci. Pemakaian makna leksikal ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk (tasybîh) dan penentuan cara (takyîf) yang sepakat dilarang oleh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Kasus seperti ini terjadi pada keyakinan kaum Musyabbihah atau Mujassimah yang selalu menyematkan makna leksikal manusiawi pada sifat Allah.

Selain penyerupaan, mengkhayalkan Allah seperti ini hanya akan membuat seolah sifat-sifat Allah saling menafikan satu sama lain sehingga pelakunya akan terjerumus pada penafian sebagian sifat yang ditetapkan oleh Allah (ta’thîl) agar tak jatuh pada kontradiksi yang dibuatnya sendiri. Ini terjadi pada keyakinan kaum Jahmiyah-Muktazilah yang mengingkari istiwa’ dan nuzûl sebab menurutnya kontradiktif dengan keyakinan mereka bahwa Allah ada di mana-mana. 

Sikap tasybîh ataupun ta’thîl adalah sikap keliru yang muncul dari pemahaman yang keliru pula. Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana direpresentasikan oleh Asy’ariyah-Maturidiyah mengambil jalan tengah antara keduanya, mereka menetapkan seluruh sifat Allah yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadits shahih tetapi dalam waktu yang sama, mereka sama sekali tak memberlakukan makna leksikal-jismiyah pada Allah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember

Kamis 13 September 2018 8:15 WIB
Pertanyaan Munkar dan Nakir untuk Orang Mati yang Tak Terkubur
Pertanyaan Munkar dan Nakir untuk Orang Mati yang Tak Terkubur
Kita sering membayangkan alam kubur atau alam barzakh sebagai ruang tunggu atau ruang dokter memeriksa pasien dalam arti fisik. Hal ini cukup wajar karena kita terbiasa memakamkan jenazah anggota masyarakat kita. Dari sini kemudian kita sulit membayangkan mereka wafat secara tidak lazim dan karenanya tidak dikuburkan secara adat.

Kita lalu bertanya bagaimana alam barzakh penumpang pesawat yang jatuh tanpa ditemukan jasadnya, penumpang kapal laut yang karam tanpa penemuan fisik korban penumpang, korban hanyut di sungai, atau mereka yang mengalami kecelakaan dimangsa hewan buas seperti ular, buaya, dan lain sebagainya?

Apakah mereka semua tidak mengalami alam kubur atau alam barzakh? Apakah mereka tidak mendapat pertanyaan kubur oleh malaikat Munkar dan Nakir?

Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, menjelaskan alam kubur atau alam barzakh bagi mereka yang jasadnya tidak dikebumikan.

ويجمع من تفرقت أجزاؤه وأكلته السباع فيقعد فيسألان بعنف وينهرانه بجفاء وقيل يرفقان بالمؤمن وينهران الكافر والمنافق ويسألان كل إنسان بلغته

Artinya, “Organ tubuh orang mati yang sudah terpisah dan dimakan binatang buas akan dikumpulkan. Orang itu kemudian dibangunkan dalam posisi duduk. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya dengan kasar dan membentaknya dengan bengis. Ada ulama yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu bersikat ramah kepada orang beriman dan membentak orang kafir dan orang munafik. Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Dari sini kita mendapatkan keterangan jelas bahwa mereka yang jasadnya musnah, tidak dikebumikan, juga mengalami alam kubur atau alam barzakh. Mereka juga menghadapi malaikat Munkar dan Nakir. Mereka akan mendapat pertanyaan alam kubur yang sama seperti ahli kubur yang dimakamkan.

ويقولان له من ربك وما دينك ومن نبيك وما قبلتك ومن إخوتك وما إمامك وما منهاجك وما عملك

Artinya, “Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan. Keduanya bertanya, ‘Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Apa kiblatmu? Siapa saudaramu? Apa imammu? Apa jalan hidupmu? Apa amalmu?’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa kedua malaikat itu akan meminta pandangan ahli kubur dan mereka yang jasadnya musnah entah ke mana perihal status Nabi Muhammad SAW.

Orang yang beriman akan menjawab dengan percaya diri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan Allah. Sementara orang kafir dan munafik akan panik diliputi ketakutan ketika ditanya perihal Nabi Muhammad SAW. Keduanya menjawab “Aku tidak tahu.”

وفي رواية البخاري ومسلم إنهما يقولان له ما كنت تقول في هذا النبي محمد صلى الله عليه وسلم فيقول المؤمن اشهد أنه عبد الله ورسوله انتهى وأما الكافر والمنافق فيحصل لهما رعب فيقولان لهما هاه هاه لا أدري 

Artinya, “Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, kedua malaikat itu bertanya kepada ahli kubur, ‘Apa pendapatmu perihal nabi ini, Nabi Muhammad SAW?’ Ahli kubur yang beriman itu menjawab keduanya, ‘Saksikanlah bahwa dia (Nabi Muhammad SAW) itu hamba dan utusan Allah. Selesai. Adapun orang kafir dan munafik diliputi rasa takut. Keduanya (orang kafir dan munafik) menjawab, ‘Oh, oh, aku tidak tahu,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Kepercayaan terhadap yang ghaib, alam kubur, dan malaikat merupakan bagian dari tiang-tiang keimanan dalam agama Islam. Kita wajib percaya dengan semua yang ghaib sebagaimana ciri-ciri orang beriman yang tersebut dalam awal Surat Al-Baqarah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)