IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Sampaikan Dakwah di Klub Malam

Jumat 14 September 2018 8:0 WIB
Share:
Hukum Sampaikan Dakwah di Klub Malam
(Foto: shutterstock)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, saya ingin bertanya. Belakangan ini ramai beredar di media sosial yang menampilkan seseorang sedang berdiri di sebuah panggung di dalam sebuah gedung yang tampaknya mendekati tempat hiburan malam. Orang di atas panggung itu kemudian mengajak seratus lebih pengunjung tempat hiburan itu untuk bershalawat. Lalu mereka serempak membaca shalawat. Pertanyaan saya, bolehkah seseorang menyampaikan seruan kebaikan di tempat hiburan? Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nurdin/Sumedang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Pertama sekali yang perlu ditempatkan kedudukan secara jelas adalah bahwa tindakan orang yang berdiri di panggung tersebut lalu mengajak seratus lebih pengunjung tempat hiburan malam untuk membaca shalawat adalah bagian dari perintah amar makruf.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah boleh melakukan amar makruf dan nahi munkar tempat hiburan malam?

Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan mutlak-mutlakan seperti jawaban “boleh” atau “tidak boleh”. Sebagian ulama menjawab pertanyaan ini dengan mengembalikannya pada syarat amar makruf dan nahi munkar itu sendiri.

Syarat pertama amar makruf dan nahi munkar yang diajukan oleh sekelompok ulama ini adalah penguasaan atas pengetahuan syariat perihal hukum yang diamarmakrufkan dan dinahimunkarkan.

واعلم) أن لوجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر شروطا أحدهما أن يكون المتولي لذلك عالما بما يأمر به وينهى عنه فالجاهل بالحكم لا يحل له الأمر ولا النهي فليس للعوام أمر ولا نهي فيما يجهلونه وأما الذي استوى في معرفته العام والخاص ففيه للعالم وغيره الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر

Artinya, “(Ketahuilah) kewajiban amar makruf dan nahi munkar terdapat beberapa syarat. Salah satunya adalah bahwa orang yang menangani masalah ini memahami hukum yang diamarmakrufkan dan dinahimunkarkan. Orang awam tidak boleh melakukan amar makruf dan nahi munkar pada soal yang mereka tidak mengerti hukumnya. Sedangkan persoalan yang diketahui hukumnya oleh orang awam dan orang alim, maka orang alim dan orang awam boleh melakukan amar makruf dan nahi munkar,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 120).

Syarat kedua amar makruf dan nahi munkar yang diajukan oleh sekelompok ulama ini adalah perihal jaminan pasti atas ketiadaan kemunkaran yang lebih besar.

Syarat ketiga amar makruf dan nahi munkar adalah pertimbangan efektivitas, yaitu apakah tindakan amar makruf dan nahi munkar yang akan dilakukannya itu akan berbuah sesuai tujuan.

Sekelompok ulama ini, seperti Al-Qarafi, berpendapat bahwa semua itu merupakan syarat yang harus terpenuhi untuk tindakan amar makruf dan nahi munkar. Bila satu syarat saja tidak terpenuhi, maka tidak ada kewajiban untuk amar makruf dan nahi munkar.

Dari pendapat sekelompok ulama ini kemudian dapat dipahami bahwa menyampaikan dakwah atau seruan kebaikan dalam konteks ini membaca shalawat nabi di tempat hiburan sangat dimungkinkan dengan mempertimbangkan beberapa hal yang dapat dikembangkan dari tiga syarat tersebut sesuai dengan kebutuhan, situasi, norma, dan protokoler yang berlaku di tempat hiburan tersebut.

Sementara ulama Syafi’iyah tidak mensyaratkan apa pun untuk melakukan amar makruf dan nahi munkar. Artinya, seseorang tidak perlu pertimbangan apa pun untuk mengajak pengunjung tempat hiburan malam untuk membaca bersama shalawat nabi SAW.

Ulama Syafi’iyah tidak mensyaratkan penguasaan hukum shalawat nabi, jaminan keamanan dari kaos atau kemunkaran yang lebih besar karenanya, dan efektivitas.

Apakah amar makruf dan nahi munkar membuahkan hasil? Hal ini tidak menjadi syarat tindakan amar makruf dan nahi munkar menurut Ulama Syafi’iyah seperti Imam An-Nawawi yang dikutip oleh Al-Baijuri berikut ini.

وقال أكثر العلماء كالشافعية لا يشترط هذا الشرط لأن الذي عليه الأمر والنهي لا القبول كما قال تعالى وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ وقال تعالى وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ولذالك قال النواوي قال العلماء ولا يسقط عن المكلف الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر لكونه لا يفيد في ظنه بل يجب عليه فعله اهـ ملخصا من شرح المصنف ومن حاشية الشنواني

Artinya, “Kebanyakan ulama seperti Syafi’iyah tidak menetapkan sejumlah syarat itu karena seseorang hanya bertanggung jawab atas amar dan nahi, tidak atas penerimaan orang lain sebagaimana firman Allah Surat An-Nur ayat 54, ‘Tiada kewajiban atasmu selain penyampaian’ dan Surat Ad-Dzariyat ayat 55, ‘’Sampaikan peringatan karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.’ Dari sini Imam An-Nawawi mengatakan, para ulama berpendapat bahwa perintah amar makruf dan nahi munkar tidak gugur dari seorang mukallaf karena dalam dugaannya itu tidak berfaedah. Tetapi ia wajib melakukannya. Selesai. Diringkas dari syarah penulis dan dari hasyiyah As-Syanwani,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 120).

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa penyampaian dakwah, seruan kebaikan, atau dalam konteks pertanyaan ini mengajak seratus lebih pengunjung tempat hiburan malam untuk membaca shalawat nabi sangat dimungkinkan bila hal itu dilakukan dengan memenuhi norma-norma protokoler tempat hiburan malam agar tidak menimbulkan mafsadat (kaos) sebagai tindakan preventif.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Selasa 11 September 2018 18:15 WIB
Hukum Anak Menyanggah Pandangan Kedua Orang Tua
Hukum Anak Menyanggah Pandangan Kedua Orang Tua
(Foto: pinterest)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, saya ingin bertanya. Saya sering kali berseberangan pandangan dengan ibu saya terutama dalam beberapa soal penting dalam hidup pribadi saya. Saya memiliki pandangan berbeda karena lebih memahami liku-liku persoalan yang tidak dimengerti oleh ibu saya. Pertanyaan saya, bolehkah saya mendebat ibu saya untuk sekadar menjelaskan inti persoalan? Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (hamba Allah/Semarang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Diskusi anak dan orang tua merupakan sebuah keniscayaan dan bentuk keharmonisan hubungan keduanya. Diskusi untuk mengatasi satu hal terkadang memiliki titik temu dan kadang berseberangan.

Kadang dengan ukuran-ukuran tertentu, anak melihat pandangan orang tuanya berada di jalan yang keliru. Di sini anak memiliki pandangan yang berseberangan dengan orang tuanya. Kedua pihak sering kali mempertahankan dengan gigih pendapatnya, bahkan tidak jarang orang tua memaksakan pendapatnya.

Ketika ingin meluruskan duduk persoalan dan kekeliruan pandangan orang tua, anak sering kali berhadapan dan berbenturan dengan norma sosial di masyarakat Indonesia bahwa ucapan orang tua tidak boleh dibantah, anak harus mengikuti omongan orang tua, dan membantah orang tua sama dengan melawan orang tua yang artinya durhaka, sebuah sikap tercela menurut agama dan norma sosial.

Syekh M Ibrahim Al-Baijuri mengatakan bahwa upaya menjelaskan atau meluruskan masalah meskipun dari anak terhadap orang tua merupakan tindakan terpuji menurut syariat. Kalau pun meminjam istilah durhaka terhadap orang tua, maka tindakan anak terhadap kedua orang tuanya ini merupakan “durhaka terpuji.”

وأما إذا كان لإحقاق حق وإبطال باطل أي لإظهار حقيقة الحق وإظهار بطلان الباطل فممدوح شرعا ولو من ولد لوالده فيكون عقوقا محمودا

Artinya, “Adapun bila itu bersifat mengungkapkan yang hak dan menyatakan kebatilan, yaitu menjelaskan hakikat yang hak dan menjelaskan kebatilan sesuatu yang batil, maka itu terpuji menurut syariat, sekali pun itu dilakukan oleh anak terhadap kedua orang tuanya, maka itu terbilang ‘durhaka’ yang terpuji,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Syarah Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 124).

Tindakan berdebat, menyanggah, membantah, mengkritik, meluruskan, menjelaskan duduk perkara, atau menyatakan yang hak, dan memisahkannya dari yang batil menjadi tercela menurut agama kalau berisi konten yang merendahkan orang lain dan mengangkat diri kita. Ini membuat tindakan tersebut menjadi tercela sebagaimana keterangan berikut ini:

كالمراء) هو لغة الاستخراج يقال ما روى فلان فلانا إذا استخرج ما عنده وعرفا منازعة الغير فيما يدعي صوابه ومحل كونه مذموما إذا كان لتحقير غيرك وإظهار مزيتك عليه

Artinya, “[Jauhi tindakan tercela] (seperti berdebat), secara bahasa artinya mengeluarkan sebagaimana kalimat, ‘Fulan mengeluarkan fulan,’ yaitu ketika si fulan meminta mengeluarkan sesuatu yang ada pada fulan. Secara adat, debat itu berselisih [debat atau sanggah] orang lain perihal sesuatu yang didakwakan kebenarannya. Tindakan ini menjadi tercela karena terletak pada sikap meremehkan orang lain dan menyatakan keistimewaan kita atas orang lain itu” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Syarah Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 124).

Kita harus hati-hati melihat persoalan ini karena selama ini perbedaan sikap durhaka (melawan orang tua) dan upaya mendudukkan persoalan secara proporsional oleh anak sangat tipis di masyarakat.

Kalau kembali ke masalah awal, maka yang perlu diberikan catatan adalah bahwa tindakan anak meluruskan pandangan orang tua tidak menyalahi norma sosial dan norma agama seperti durhaka, melawan orang tua, tidak sopan, su’ul adab, dan seterusnya.

Dengan kata lain, tindakan anak meluruskan pandangan orang tua boleh menurut agama.

Upaya menjelaskan persoalan dan menegaskan sikap anak terhadap orang tua harus dibedakan dari tindakan durhaka. Upaya penjelasan atau meluruskan itu juga harus melalui ukuran-ukuran tertentu yang mendekati kebenaran dan kemaslahatan.

Kami menyarankan upaya penjelasan yang dilakukan oleh anak terhadap orang tua mengenai sebuah hal harus dilakukan dengan cara yang santun, disampaikan secera teratur dan rapi, serta mencari “waktu” atau situasi yang tepat agar pengertian yang baik antara kedua pihak tercipta.

Kami juga menyarankan masing-masing pihak untuk menghargai pandangan pihak lain tanpa ada yang merasa direndahkan salah satunya. Kami juga menyarankan masing-masing pihak untuk menahan diri dari memaksakan kehendak terhadap pihak lain.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 7 September 2018 9:0 WIB
Hukum Berdoa dengan Permintaan “Setengah” Mustahil
Hukum Berdoa dengan Permintaan “Setengah” Mustahil
(Foto: ibtimes)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, saya ingin bertanya perihal doa. Agama Islam menganjurkan kita untuk berdoa kepada Allah selain janji pengabulan atas permintaan kita dalam doa. Pertanyaan saya, bolehkah saya berdoa meminta kesuksesan dalam karier dan kekayaan melimpah dalam tempo singkat? Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Suroso/Cilegon)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Islam menganjurkan kita untuk berdoa kepada Allah. Islam juga memandang doa sebagai bagian dari ikhtiar manusia dan bernilai ibadah. Perintah untuk berdoa tertera dalam Al-Baqarah ayat 186 sebagai berikut:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya, “Jika hamba-Ku bertanya perihal-Ku, maka (katakanlah) bahwa Aku dekat. Aku memenuhi seruan orang yang berdoa jika ia memanggil-Ku. Karenanya, hendaklah mereka memenuhi panggilan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk,” (Al-Baqarah ayat 186).

Pada Surat Ghafir ayat 60, Allah memerintahkan manusia untuk berdoa. Allah juga menjanjikan pengabulan doa mereka.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya, “Tuhanmu berkata, ‘Serulah Aku, niscaya Kupenuhi panggilanmu,’” (Surat Ghafir ayat 60).

Dari dua ayat ini, kita dapat menarik simpulan bahwa kita bebas meminta apa saja kepada Allah SWT termasuk yang mustahil menurut akal sekali pun atau yang setengah mustahil seperti mustahil menurut adat dan niscaya Allah akan mengabulkan permintaan kita.

Meski kita bebas meminta apa saja, kita juga perlu memerhatikan adab berdoa. Salah satu adab berdoa adalah tidak meminta sesuatu yang tidak lazim secara adat atau yang dikenal sebagai mustahil adi (meski termasuk jaiz aqli).

Kita dapat menderetkan contohnya mustahil adi, yaitu mengharapkan kekayaan melimpah tanpa usaha, memohon kesuksesan karier tanpa melalui proses panjang, mengangan-angankan nilai bagus tanpa belajar, berharap menguasai sebuah keterampilan tanpa giat berlatih, dan berharap hidup sehat tanpa upaya olahraga, membatasi porsi makan, atau menolak polusi yang masuk ke dalam tubuh.

وأن لا يدعو بمحال ولو عادة لأن الدعاء يشبه التحكم على القدرة القاضية بدوامها وذلك إساءة أدب مع الله تعالى

Artinya, “Seyogianya tidak meminta sesuatu yang mustahil dalam doa, meski pun mustahil secara adat karena doa seperti itu serupa dengan memutuskan sesuka hati atas kuasa-Nya yang memutuskan keabadiannya. Doa seperti merupakan su’ul adab (tidak sopan) terhadap Allah,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Dari sini, kita mendapat keterangan bahwa doa memang tidak memiliki batasan. Tetapi kita perlu memperhatikan adab berdoa agar permohonan kita dalam berdoa tidak melewati batas, yakni meminta sesuatu yang mustahil seperti minta hujan uang atau yang setengah mustahil menjadi sukses dalam hal apa pun tanpa proses, kerja keras, dan upaya konkret dalam mewujudkannya.

Tetapi yang perlu dipahami dari sini, bahwa adab berdoa ini bukan berarti mengecilkan kuasa Allah SWT. Allah SWT pernah mengabulkan doa para nabi untuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati, menurunkan makanan dari langit sebagaimana berlaku pada mukjizatul anbiya dan karamatul auliya. Hanya saja adab berdoa ini mendidik kita untuk menghargai proses dan kerja keras.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Selasa 28 Agustus 2018 19:1 WIB
Hukum Memeluk dan Cium Pipi Jamaah Haji saat Pulang ke Tanah Air
Hukum Memeluk dan Cium Pipi Jamaah Haji saat Pulang ke Tanah Air
Ilustrasi (via gencbirikim.net)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, kepulangan jamaah haji menjadi kebahagiaan bagi anggota keluarga, kerabat, sahabat, dan tetangga. Mereka biasanya berpelukan dan cium pipi dengan jamaah haji sambil berucap syukur. Yang saya tanyakan, bolehkah kita memeluk dan cium pipi dengan sesama? Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hamba Allah/Tangerang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kita memang lazim menyaksikan masyarakat yang menyambut kepulangan jamaah haji berpelukan dan mempertemukan pipi dengan jamaah yang baru saja tiba di tanah air.

Ulama berbeda pendapat perihal ini. Sebagian ulama memakruhkan pelukan dan jabatan tangan. Sementara beberapa ulama lainnya menganjurkan keluarga dan kerabat untuk memeluk dan menjabat tangan anggota keluarga atau sahabat yang datang dari perjalanan jauh.

Perbedaan pendapat ulama ini kemudian ditarik dalam kaitannya dengan jamaah haji yang kembali ke tanah airnya. Perbedaan pendapat ini diangkat oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Hasyiyah alal Idhah berikut ini:

ويسن معانقة القادم أي غير الأمرد ومصاحفته خلافا لمن كره المعانقة كمالك ومن ثم حجه ابن عيينة بأنه صلى الله عليه وسلم عانق جعفرا وقبله حين قدم ممن الحبشة ورد قوله أن ذلك خاص بجعفر فسكت قال القاضي عياض وسكوته دليل على ظهور قول سفيان وتصويبه وهو الحق ا هـ

Artinya, “Dianjurkan untuk memeluk orang yang datang (dari perjalanan jauh), selain jejaka muda belia, dan (dianjurkan) berjabat tangan dengannya. Hukum ini berbeda dengan pandangan ulama yang memakruhkan pelukan seperti Imam Malik RA. Sufyan bin Uyaynah membantah pandangan Imam Malik melalui riwayat bahwa Rasulullah SAW memeluk dan mengecup Ja’far bin Abi Thalib ketika tiba dari Habasyah. Sufyan bin Uyaynah menolak pandangan Imam Malik yang menyatakan bahwa itu berlaku khusus bagi Ja’far. Imam Malik kemudian diam. Qadhi Iyadh mengatakan bahwa diam Imam Malik menandai keunggulan pandangan Sufyan dan pembenaran oleh Imam Malik. Ini yang benar,” (Lihat Ibnu Hajar Al-Haitami, Hasyiyah Ibnu Hajar alal Idhah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 248).

Syekh Ibnu Hajar memandang kuatnya pendapat ulama yang menganjurkan masyarakat dan keluarga untuk memeluk dan menjabat tangan jamaah haji yang kembali ke tanah air. Tetapi, ia memberikan catatan bahwa pelukan, jabat tangan, dan cium pipi berlaku untuk jamaah haji pria dewasa, bukan jejaka belia karena dikahwatirkan menimbulkan fitnah.

ويؤيده ما صح أنه صلى الله عليه وسلم قبل زيد بن حارثة واعتنقه لما قدم المدينة قال ابن جماعة وهذا التقبيل محمول عند أهل العلم على ما بين العينين وكذا تقبيله صلى الله عليه وسلم عثمان بن مظعون بعد موته ونص جماعة من الشافعية على كراهة تقبيل الوجه ومعانقة نحو القادم  والطفل لما صح من نهيه صلى الله عليه وسلم عن ذلك أما معانقة الأمرد الجميل ومصاحفته من غير حائل فحرام ويكره مصاحفة ذي العاهة

Artinya, “Pandangan Sufyan bin Uyaynah itu diperkuat oleh riwayat shahih bahwa Rasulullah SAW mengecup dan memeluk Zaid bin Haritsah RA ketika tiba di Madinah. Ibnu Jamaah mengatakan, kecupan Rasulullah SAW itu dipahami oleh ulama terletak di antara kedua mata (dahi). Demikian juga dengan kecupan Rasulullah SAW terhadap Utsman bin Mazh’un saat wafatnya. Sejumlah ulama mazhab Syafi’i memakruhkan kecupan di wajah dan pelukan terhadap selain orang yang datang (dari perjalanan jauh) dan anak kecil berdasarkan hadits shahih yang melarang demikian. Sementara pelukan dan jabatan tangan tanpa kain penghalang dengan jejaka muda belia adalah haram. Jabatan tangan dengan orang yang berpenyakit (menular dan berbahaya) adalah makruh,” (Lihat Ibnu Hajar Al-Haitami, Hasyiyah Ibnu Hajar alal Idhah, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 248).

Dari sini, kita mendapat keterangan bahwa pelukan, jabat tangan, dan cium pipi dianjurkan terhadap mereka yang baru datang dari perjalanan jauh, termasuk perjalanan haji. Semua itu merupakan bentuk ungkapan kerinduan dan kebahagiaan kedua pihak.

Adapun perihal kecupan, ulama menunjuk tempatnya pada dahi yang terletak di antara kedua mata.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)