IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Ketika Ali bin Abi Thalib RA Simak Dialog Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir di Makam

Ahad 16 September 2018 7:0 WIB
Share:
Ketika Ali bin Abi Thalib RA Simak Dialog Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir di Makam
Ketika Sayyidina Umar bin Khattab RA wafat dan masyarakat mengantarkan jenazahnya ke liang kubur, sahabat Ali bin Abi Thalib RA juga hadir. Ketika masyarakat beranjak pergi, sahabat Ali bin Abi Thalib RA memilih bertahan di makam. Ia penasaran dengan percakapan yang akan berlangsung di antara mereka. Ia kemudian memasang telinga baik-baik dan mendengar dengan seksama suara percakapan tersebut.

Hal ini diceritakan oleh Syekh M Nawawi Banten dalam Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam sebagai berikut:

وروي أن سبب رفقهما بالمؤمن لما مات سيدنا عمر بن الخطاب ودفن وانصرف الجماعة فبقي سيدنا علي كرم الله وجهه ورضي عنه يترقب في القبر ليستمع كلام سيدنا عمر مع هذين الملكين

Artinya, “Diriwayatkan bahwa sebab kelembutan malaikat Munkar dan Nakir terhadap orang beriman di alam kubur adalah ketika Sayyidina Umar bin Khattab wafat, lalu dimakamkan dan masyarakat yang mengantarkan jenazahnya meninggalkan makam, Sayyidina Ali RA memilih bertahan. Ia mengawasi kubur untuk mendengarkan percakapan Sayyidina Umar RA dan dua malaikat kubur,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra, tanpa catatan tahun] halaman 18).

Setelah mengawasi baik-baik, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kemudian mendengar keberatan Sayyidina Umar RA atas penampilan menyeramkan malaikat Munkar dan Nakir. Sayyidina Umar RA mengaku takut dan terkejut atas ujud keduanya.

“Wahai dua malaikat kubur, aku peringatkan kalian dan berwasiat kepada kalian agar setelah ini kalian jangan mendatangi orang beriman dengan bentuk yang menyeramkan ini. Kurangilah sisi menyeramkannya itu karena ketika melihat kalian dengan bentuk seperti ini aku takut dan sangat terkejut. Padahal aku adalah sahabat Rasulullah SAW. Bagaimana dengan yang lain ketika melihat kalian berdua seperti ini?” kata Sayyidina Umar RA kepada keduanya.

“Baik, kami mendengar dan patuh. Kami takkan melanggar perintahmu, wahai sahabat RAsululah SAW,” jawab kedua malaikat itu.

Sejak saat itu, Malaikat Munkar dan Nakir berpenampilan lebih ramah kepada jenazah baru dari kalangan orang yang beriman demi menjalankan amanah dan wasiat dari Sayyidina Umar RA. Mendengar itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA memuji jasa Sayyidina Umar RA.

فقال سيدنا علي رضي الله عنه والله ما يزال عمر ينفع الناس في حياته ومماته

Artinya, “Sayyidina Ali RA berkata, ‘Demi Allah, Sahabat Umar bermanfaat untuk manusia semasa hidup dan setelah wafatnya,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra, tanpa catatan tahun] halaman 18).

Sayyidina Umar bin Khattab RA adalah sahabat terkemuka kedua setelah Abu Bakar RA yang memiliki sejumlah keutamaan. Rasulullah SAW dalam banyak kesempatan memuji sahabat Umar RA. Karena ketegasannya, Sayyidina Umar RA ditakuti oleh setan sehingga setan tidak berani melalui jalan yang dilewati sahabat Umar RA sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini: 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Allah, Zat yang diriku berada di genggaman-Nya, tiada satu setan yang menjumpaimu di salah satu jalan yang luas, melainkan ia akan mencari jalan lain yang tidak kamu lewati,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Umar bin Khattab RA juga seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata sahabat pada umumnya. Ia juga kerap mendapat ilham dari Allah sehingga dapat mengetahui sesuatu yang ghaib atau belum terjadi.

Allah juga memberikan karunia ini kepada umat terdahulu sebagaimana hadits Bukhari dan Muslim berikut ini:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد كان قبلكم في بني إسرائيل محدثون من غير أن يكونوا أنبياء فإن يكن في أمتي أحدٌ فعمر

Artinya, “Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Pada umat sebelum kalian, yaitu pada Bani Israel terdapat sekelompok orang yang mendapat ilham dari Allah, tetapi mereka bukan kalangan nabi. Kalau terjadi di tengah umatku, maka orang itu adalah Umar,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketika diangkat menjadi khalifah, Umar bin Khattab RA melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Ia memerhatikan dampak kebijakan yang diambilnya sebagai pemerintah. Hal itu tampak dalam ucapannya yang terkenal sebagai berikut:

لَوْ مَاتَ جَمَلٌ فِي عَمَلِي ضَيَاعًا خَشِيتُ أَنْ يَسْأَلَنِيَ اللهُ عَنْهُ 

Artinya, “Seandainya seekor unta mati sia-sia akibat kebijakanku maka saya takut kelak Allah akan meminta pertanggungjawabanku tentang kematiannya,” (Lihat Ibnu Asakir, Tarikhu Madinati Dimasyq, [Beirut, Darul Fikr: 1995], juz XLV, halaman 356).

Semoga Allah meridhai para sahabat Rasulullah SAW. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan para sahabat Rasulullah SAW yang mulia. Amin. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Ahad 16 September 2018 15:30 WIB
Bagaimana Perasaan Menyembah Tuhan yang Tak Bertempat?
Bagaimana Perasaan Menyembah Tuhan yang Tak Bertempat?
Ilustrasi (islamveateizm)
Penganut teologi Hasyawiyah (golongan yang meyakini bahwa Tuhan juga mempunyai karakter fisikal) biasanya tak mampu menjangkau bagaimana rasanya menyembah Tuhan yang tak bertempat. Bagi nalar mereka, sosok yang tak bertempat di ruang mana pun berarti sosok yang tak wujud alias sama sekali tak ada. Nalar mereka membayangkan bahwa Tuhan sekalipun harus ada dalam batasan arah atau ruang sehingga kita bisa menghadap padanya dan bisa menunjuk jari terhadap lokasinya. Jadi tak heran apabila mereka sibuk menyanggah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah) yang malah menafikan adanya ruang dan waktu bagi Tuhan sebab Tuhan memang telah ada sebelum waktu dan tempat ada.

Kali ini saya akan berusaha menjelaskan bagaimana rasanya menyembah Tuhan yang wujudnya tak berada di dalam ruang tertentu di semesta alam ini sehingga dengan sendirinya juga berada di luar putaran waktu. Tentu usaha ini hanya dalam batasan makna yang dapat dijangkau sebuah kata. Pada hakikatnya, keberadaan Allah tak bisa diungkapkan dengan kata apa pun. Keberadaan-Nya lebih jelas dari apa pun, lebih nyata dari apa pun, dan lebih kuat getarannya dalam hati dari rasa apa pun, tetapi dalam waktu yang sama Dia juga lebih misterius dari apa pun. Maha Suci Allah dari segala batasan sifat yang dapat digambarkan atau dilukiskan oleh keterbatasan manusia.

1. Dengan meyakini bahwa Tuhan tak bertempat, rasanya kita sedang berhadapan dengan kekuatan yang tak terbatas apa pun, yang keberadaannya sepenuhnya tak tergantung pada apa pun, seperti firman-Nya: فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ, Allah Maha-tak butuh apa pun selain diri-Nya (QS. Ali Imran: 97), termasuk ruang dan waktu sekalipun. Dia ada tanpa sekat jarak, sekat arah, sekat ruang, sekat batasan fisikal. Kita hanya akan tenggelam dalam pesona kebesaran-Nya, kehebatan-Nya, kekuasaan-Nya, kedekatan-Nya, pengawasan-Nya tanpa batasan apa pun yang mengganggu pikiran.

2. Ketika kita shalat menghadapnya, kita bisa merasa bahwa Dia ada bersama kita, seperti Firman-Nya:  وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ, Dia bersama kalian di mana pun kalian berada (QS. Al-Hadid: 4) dan mengetahui semua gerakan badan dan hati kita, seperti firman-Nya: يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ , Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kalian tampakkan dan kalian sembunyikan. Allah Maha mengetahui isi hati (QS. At-Taghabun: 4), tanpa pernah terbesit di pikiran bahwa Dia ada di atas dan sedang melihat dari arah kepala kita saja. 

3. Ketika kita sujud, kita bisa menghayati betul sabda Rasul bahwa kita sedang dalam posisi terdekat kita dengan Allah, seperti sabda Nabi: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ, posisi terdekat seorang hamba dari Tuhannya adalah ketika sujud (HR. Muslim) tanpa terganggu dengan pikiran bahwa jangan-jangan Tuhan berada di bawah lantai.

4. Ketika kita menghadap ke arah mana pun, kita akan merasa bahwa kita sedang menghadap "wajah"-Nya seperti firman-Nya: فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ, ke mana pun kalian menghadap maka di sanalah "wajah" Allah (QS. Al-Baqarah: 115) tanpa terganggu pikiran bahwa Dia hanya ada di arah tertentu saja sehingga kita dapat berpaling menyembunyikan wajah kita dari-Nya.

5. Ketika kita bermunajat sendirian di tengah belantara antah berantah, kita dengan mantap meyakini bahwa kita tak perlu berteriak memanggil-Nya sebab kita tahu bahwa Dia selalu mendengar dengan amat jelas di mana pun, seperti firman-Nya: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ, ketika hamba-Ku menanyakan tentang-Ku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku menjawab panggilan orang yang memanggilku (QS. Al-Baqarah: 186) tanpa pernah terbesit pikiran bahwa kita sendirian.

6. Ketika kita menaiki kuda atau kendaraan apa pun, kita bisa dengan mudah menyadari bahwa Tuhan lebih dekat kepada kita daripada ujung depan kendaraan kita sendiri, seperti sabda Rasul: وَالَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ, Tuhan yang kalian sembah lebih dekat pada kalian daripada leher hewan tunggangan kalian (HR. Muslim).

7. Ketika kita melihat ke atas sana, melihat jauh ke batas terluar galaksi kita hingga ke milyaran galaksi lain yang kini bisa dijangkau teleskop manusia, kita akan melihat kekuasaan Tuhan mencakup seluruh jagad raya bahkan Arasy sekalipun tak mampu kita lihat, seperti firman-Nya: وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ, Dia Maha berkuasa penuh atas hamba-hambanya (QS. Al-An’am: 18); الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى, Yang Maha Pengasih istawa atas Arasy (QS. Thaha: 5) tanpa sedikit pun merasa kontradiktif dengan kesadaran bahwa kita dapat merasakan-Nya di dekat kita bersama kita setiap waktu, baik kita di sedang di ruang terdalam planet ini atau sedang menjelajah di luar angkasa sana bersama para astronot.

8. Ketika kita berada di dasar lembah atau di lantas dasar gedung pencakar langit, kita tak perlu merasa lebih jauh dari Tuhan dibanding mereka yang berdiri di puncak gunung atau berada di lantas atas kita, seperti yang  dibayangkan oleh Syaikh Utsman ad-Darimy dalam kitabnya yang menjadi rujukan para pendaku salafi saat ini.

9. Ketika ada orang bertanya bagaimana bisa Tuhan ada di atas sekaligus bersama kita? Kita tak perlu repot mencontohkan keberadaan Tuhan seperti matahari atau bulan yang ada di atas tapi sekaligus ikut kemana pun langkah kita, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taymiyah, sebab orang itu akan menggugat keheranan "bukankah matahari atau bulan itu jauh? Apakah bisa dibilang Tuhan itu jauh juga?". 

10. Kita pun tak perlu repot berapologetik tentang fitrah seolah memahami tempat Tuhan di atas sana memang  fitrah manusia sebab itu tak sesuai realitas. Realitasnya, keyakinan seperti itu adalah "fitrahnya" para Mujassimah dari berbagai agama saja. Adapun "fitrahnya" para Jahmiyah adalah menganggap Tuhan di mana-mana. Lain lagi dengan "fitrahnya" ateis yang menganggap Tuhan sama sekali tak ada. Ketika bangun tidur, ketika senang, ketika susah, ketika apa pun juga semua pihak ini akan merujuk pada "fitrahnya" masing-masing. Inilah realitanya. Saya sengaja menulis kata fitrah dalam tanda kutip sebab yang demikian itu bukanlah fitrah yang sesungguhnya. Fitrah manusia yang sejati adalah meyakini adanya Tuhan tetapi bersih polos dari keyakinan tambahan apa pun tentangnya. Lingkungannyalah yang membentuk berbagai keyakinan tambahan tersebut di kemudian hari.

11. Kita pun akan terbebas dari pertanyaan kontradiksi yang ditujukan pada kaum Jahmiyah "Firman Allah yang mana atau hadits Nabi yang mana yang membuat anda mentakwil semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di atas tetapi memahami semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di bawah sesuai makna literal?". Di saat yang sama kita juga akan terbebas dari pertanyaan kontradiksi yang ditujukan pada kaum Mujassimah "Firman Allah yang mana atau hadits Nabi yang mana yang membuat anda mentakwil semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di bumi tetapi memahami semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di langit sesuai makna literal?". 

12. Kita tak perlu juga bertindak bodoh seperti Fir'aun ketika mengingkari keberadaan Tuhannya Nabi Musa. Ketika raja yang mengaku sebagai Tuhan ini menyadari bahwa Tuhannya Nabi Musa tak terlihat ada di sekitarnya dan bahkan di tempat mana pun di bumi, maka dia berkesimpulan bahwa Tuhannya itu pasti berada di langit sehingga dia membangun bangunan sangat tinggi sebagai pembuktian. Dengan itu, Fir'aun berusaha membuktikan pada masyarakatnya bahwa Nabi Musa berbohong mengenai keberadaan Tuhan sebab di atas sana juga tak terlihat apa pun.

13. Semua pertanyaan yang mungkin terbesit dalam hati dan bahkan diperdebatkan sepanjang sejarah manusia semisal: Bagaimana bisa Tuhan mengetahui segala kejadian yang terjadi di ujung dunia mana pun?. Bagaimana bisa Tuhan mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan?. Bagaimana bisa Tuhan mengetahui apa yang berada dalam hati? Bagaimana bisa secara bersamaan Dia digambarkan di atas Arasy, sekaligus bersama kita, sekaligus lebih dekat dari urat leher, sekaligus berada di mana pun kita menghadap, sekaligus di langit dunia tiap akhir malam (yang berarti setiap saat sebab tiap detik selalu ada wilayah yang mengalami akhir malam), sekaligus menjadi pihak keempat dari tiga orang yang sedang menjalin kerja sama?  Semua pertanyaan itu akan mudah terjawab bila tahu bahwa sejatinya Allah ada di luar ruang dan waktu (tak bertempat). 

Demikianlah, segala pikiran yang aneh tentang Allah akan mudah sirna bila kita meyakini Allah ada tanpa tempat. Kita hanya akan fokus untuk beribadah kepadanya dan merasakan kemahakuasaan Allah setiap waktu. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.

Sabtu 15 September 2018 21:20 WIB
Ekstremisme Sebagian Tokoh Hadits Klasik soal Aqidah
Ekstremisme Sebagian Tokoh Hadits Klasik soal Aqidah
Ilustrasi (via sm3ny.com)
Bertindak ekstrem (ghuluw) adalah gejala umum yang bisa dialami siapa pun ketika seseorang tak mampu menahan diri dari tindakan atau statemen yang berlebihan. Nabi Muhammad sudah mewanti-wanti umatnya agar tidak terjebak pada ekstremisme ini, beliau bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Kalian harus waspada pada ekstremisme dalam agama. Sesungguhnya yang mencelakakan umat sebelum kalian adalah bersikap ekstrem dalam agama.” (HR. Ibnu Hibban)

Sayangnya gejala ini dapat menjangkit siapa pun tak terkecuali ahli hadits di masa klasik, utamanya ketika berbicara menyangkut aqidah. Salah satu bukti sifat ekstrem ini bisa dilihat ketika sebagian ahli hadits meriwayatkan sebuah statemen dari Abdullah bin Salam, seorang sahabat yang sebelumnya adalah pendeta Yahudi dan dari Mujahid, seorang ulama Tabi’in, yang isinya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ، قَالَ: إِنَّ مُحَمَّدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ يَدَيِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، عَلَى كُرْسِيِّ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Dari Abdullah Bin Salam, Dia berkata: Sesungguhnya Muhammad pada hari kiamat ada di depan Tuhan Azza Wa Jalla, di atas kursi Tuhan yang Maha Suci dan Maha Tinggi.” (al-Khallal, as-Sunnah, juz 1, halaman 209)

عَنْ مُجَاهِدٍ: {عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا} قَالَ: يُجْلِسُهُ مَعَهُ عَلَى الْعَرْشِ

“Dari Mujahid: Firman Allah {Pasti Tuhanmu akan mengangkatmu di tempat yang terpuji}. Mujahid berkata: Allah akan mendudukkannya bersamanya di atas Arasy.” (al-Khallal, as-Sunnah, juz 1, halaman 213)

Secara rasional saja, konten (matan) statemen di atas sudah terlihat bermasalah sebab tak mungkin Allah disifati “duduk” karena tindakan duduk ini hanya bisa dilakukan oleh jism (makhluk bervolume) saja. Namun, justru karena adanya pihak-pihak yang menolak kisah yang bermuara dari Abdullah bin Salam dan Mujahid ini, maka beberapa ahli hadits tak segan melontarkan pernyataan ekstrem. Misalnya:

1. Abu Bakr bin Abi Thalib mengatakan:

مَنْ رَدَّهُ فَقَدْ رَدَّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمَنْ كَذَّبَ بِفَضِيلَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ كَفَرَ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

“Siapa yang menolaknya maka telah menolak Allah Azza wa Jalla dan siapa yang menganggap bohong keutamaan Nabi Muhammad ﷺ maka telah kafir kepada Allah yang Maha Agung.”

2. Ahmad bin Ashram al-Muzani mengatakan:

مَنْ رَدَّ هَذَا فَهُوَ مُتَّهَمٌ عَلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَهُوَ عِنْدَنَا كَافِرٌ

“Siapa yang menolak ini maka dia dicurigai terhadap Allah dan rasulnya dan dia bagi kami adalah kafir.”

3. Abu Bakr bin Hammad al-Muqri’ berkata:

مَنْ ذُكِرَتْ عِنْدَهُ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ فَسَكَتَ فَهُوَ مُتَّهَمٌ عَلَى الْإِسْلَامِ، فَكَيْفَ مَنْ طَعَنَ فِيهَا؟

“Siapa yang disebutkan di sisi-nya hadits ini kemudian diam saja maka dia dicurigai atas Islam maka bagaimana orang yang mencela hadits ini.”

4. Abu Ja’far ad-Daqiqi berkata:

مَنْ رَدَّهَا فَهُوَ عِنْدَنَا جَهْمِيُّ، وَحُكْمُ مَنْ رَدَّ هَذَا أَنْ يُتَّقَى

“Siapa yang menolaknya, maka dia disisi Kami adalah seorang jahmiyah.”

5. Abbas ad-Duri berkata:

لَا يَرُدُّ هَذَا إِلَّا مُتَّهَمٌ

“Tidaklah menolak hadits ini kecuali orang yang dicurigai.”

6. Ishaq bin Rahawaih berkata:

الْإِيمَانُ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَالتَّسْلِيمُ لَهُ

“Iman adalah dengan hadits ini dan menerimanya.”

7. Abu Bakr bin Shadaqah berkata:

وَصَدَقَ، مَا حُكْمُهُ عِنْدِي إِلَّا الْقَتْلُ

“Dia benar, hukum orang yang menolak riwayat itu bagiku tak lain kecuali dibunuh.”

Ada banyak tokoh lainnya yang berkomentar serupa di atas. Semuanya dinukil oleh Syekh al-Khallal (311 H), seorang ahli hadits klasik bermazhab Hanbali, dalam satu bab khusus di kitabnya yang berjudul as-Sunnah untuk menguatkan tafsirannya bahwa yang dimaksud tempat yang terpuji (maqâman mahmûdâ) yang akan didapat Rasulullah adalah bisa duduk bersama Allah di atas Arasy. Dapat dilihat bahwa tokoh-tokoh di atas tanpa ragu menjatuhkan vonis Jahmiyah, kafir, bahkan bunuh pada siapa pun yang menolak statemen Abdullah bin Salam dan Muhahid di atas. Padahal dari sanadnya saja sudah jelas bahwa statemen itu bukanlah hadits Rasulullah ﷺ namun hanya tafsiran beliau berdua saja. 

Untunglah sikap ghuluw atau ekstrem di atas dibantah oleh ulama hadits yang objektif yang tidak fanatik pada siapa pun kecuali pada Allah dan Rasul-Nya. Al-A’masy misalnya, beliau berkata bahwa Tafsir Mujahid diambil dari informasi Ahli Kitab (Yahudi atau Nasrani). (lihat: adz-Dzahabi, Mizân al-I’tidâl, juz III, 439). Adz-Dzahabi kemudian menegaskan:

ومِن أنكر ما جاء عن مجاهد في التفسير في قوله (عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا ) قال : يجلس معه على العرش.

“Yang paling diingkari dari Mujahid dalam tafsir adalah penafsirannya terhadap “pasti Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” Dia berkata: “Allah mendudukkan Nabi Muhammad bersamanya di atas Aras.” (adz-Dzahabi, Mizân al-I’tidâl, juz III, 439)

Syekh Ibnu Abdil Barr, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Qurthubi mengatakan:

قَالَ أَبُو عُمَرَ وَمُجَاهِدٌ: وَإِنْ كَانَ أَحَدُ الْأَئِمَّةِ يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ فَإِنَّ لَهُ قَوْلَيْنِ مَهْجُورَيْنِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ: أَحَدُهُمَا هَذَا 

“Mujahid, meskipun salah satu Imam, dia mentakwilkan al-Qur’an. Dia mempunyai dua pendapat yang ditolak oleh ahli ilmu,nsalah satunya adalah ini (bahwa Nabi duduk bersama Allah).” (al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubî, juz 10, halaman 311).

Secara sanad, adz-Dhahabi mengomentari statemen Mujahid tersebut demikian:

فَأَما قَضِيَّة قعُود نَبينَا على الْعَرْش فَلم يثبت فِي ذَلِك نَص بل فِي الْبَاب حَدِيث واه وَمَا فسر بِهِ مُجَاهِد الْآيَة كَمَا ذَكرْنَاهُ

“Adapun tema duduknya Nabi kita di atas Arasy, maka tak ada satu pun nash (teks hadits) yang valid, bahkan di bab itu ada hadits yang bermasalah.” (Adz-Dzahabi, al-‘Uluw, halaman 170)

Syekh Nashiruddin al-Albani adalah salah satu peneliti hadits dari kalangan pendaku Salafi yang objektif dalam hal ini sehingga memasukkan tafsiran Mujahid itu ke dalam bukunya yang berjudul Silsilat al-Ahâdîts al-Dla’îfah wa al-Maudlû’ah yang khusus menghimpun hadits-hadits yang dianggapnya lemah dan palsu. Di buku tersebut tak segan al-Albani mengatakan غلا بعض المحدثين (telah ekstrem sebagian ahli hadits). (al-Albani, Silsilat al-Ahâdîts al-Dla’îfah wa al-Maudlû’ah, juz II, halaman 256).

Adapun tafsiran yang sahih dan diikuti oleh para mayoritas ulama adalah “tempat terpuji” yang dijanjikan atas Rasulullah adalah pemberian wewenang agar beliau bisa memberi syafa’at kubrâ nanti di hari kiamat pada umat manusia yang beriman.  Tafsiran ini adalah petunjuk Rasulullah Muhammad ﷺ sendiri yang diriwayatkan oleh belasan orang sahabat. Salah satunya adalah riwayat Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad mengeluarkan orang-orang beriman dari neraka dan dimasukkan seluruhnya ke surga hingga tak tersisa seorang mukmin pun di neraka. Selanjutnya, dikatakan:

وَهَذَا المَقَامُ المَحْمُودُ الَّذِي وُعِدَهُ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

“Inilah tempat yang terpuji yang dijanjikan pada Nabi Kalian.” (HR. Bukhari).

Sayangnya, penafsiran yang berasal dari riwayat-riwayat shahih itu malah tak disebutkan satu pun oleh al-Khallal. Yang ada justru dia menukil berbagai vonis kafir, jahmiyah dan boleh dibunuh bagi siapa pun yang menolak riwayat Mujahid. Dari sini kita tahu bahwa para ahli hadits klasik bukanlah orang yang imun dari sikap berlebih-lebihan dalam agama sehingga vonis mereka dalam hal aqidah tidak lantas  bisa diterima begitu saja. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.

Sabtu 15 September 2018 13:30 WIB
Kedudukan Dalil Rasional dalam Ilmu Tauhid
Kedudukan Dalil Rasional dalam Ilmu Tauhid
Ilustrasi (via LinkedIn)
Ketika membahas tentang aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah), ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Asy'ariyah tak punya dalil, bicara tanpa dalil, hanya akal-akalan, hanya berfilsafat dan sebagainya. Mereka mengira bahwa yang dimaksud dengan dalil hanyalah teks berupa ayat, hadits, dan nukilan pendapat ulama saja. Anggapan semacam ini muncul sebab tak paham bagaimana sesungguhnya dalil itu dan apa saja klasifikasinya. 

Imam al-Amidy dalam karya monumentalnya, al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, mendefinisikan dalil sebagai berikut:

وَأَمَّا حَدُّهُ عَلَى الْعُرْفِ الْأُصُولِيِّ، فَهُوَ مَا  يُمْكِنُ التَّوَصُّلُ بِهِ إِلَى الْعِلْمِ بِمَطْلُوبٍ خَبَرِيٍّ، وَهُوَ مُنْقَسِمٌ: إِلَى عَقْلِيٌّ مَحْضٌ، وَسَمْعِيٌّ  مَحْضٌ، وَمُرَكَّبٌ مِنَ الْأَمْرَيْنِ.

"Adapun definisi dalil menurut para ahli ushul fiqh adalah sesuatu yang dengannya memungkinkan untuk sampai kepada pengetahuan yang bersifat berita (bukan pengetahuan inderawi). Dalil tersebut terbagi menjadi dua, yaitu murni aqli (rasional), murni sam'i (tekstual) dan gabungan keduanya". 

Definisi serupa di atas mudah ditemukan dalam kitab-kitab lain, utamanya kitab ilmu ushul fiqh. Bedanya hanya soal istilah saja di mana sebagian ulama memakai istilah dalil sam'i dan sebagian lagi memakai dalil naqli, keduanya merujuk pada dalil yang bersifat tekstual dari Al-Qur’an dan Hadits. Dalil tekstual ini adalah hujjah yang diakui, namun kandungannya masih bisa dipilah menjadi dua; ada yang qath'î ad-dilâlah (petunjuknya sudah jelas tanpa ada kemungkinan multi tafsir) dan ada yang dhannî ad-dilâlah (petunjuknya masih belum jelas sebab mengandung beberapa kemungkinan penafsiran).  

Dalil naqli yang qath'î ad-dilâlah misalnya firman Allah هو الله أحد  (Dialah Allah Yang Maha Esa). Petunjuk dalil ini sudah jelas tentang keesaan Allah yang menyeluruh dalam semua aspek dan tak bisa ditafsirkan lain. Adapun dalil naqli yang dhannî ad-dilâlah misalnya firman Allah ثلاثة قروء (tiga quru'). Kata quru' bisa bermaksud masa suci dan bisa juga bermaksud masa haid. Dalil naqli jenis dhanni (multitafsir) ini banyak sekali, bahkan mendominasi, sehingga kita dapati para ulama berbeda pendapat dalam hampir semua hal. Meskipun Al-Qur’an-nya hanya ada satu dan kitab haditsnya “hanya” itu-itu saja dan semua mengimaninya sebagai hujjah akan tetapi masing-masing mujtahid mempunyai penafsiran berbeda atas teks itu sebab teksnya sendiri memang memungkinkan dipahami berbeda. Perbedaan penafsiran ini berlaku dalam teks tentang aqidah, fiqih, akhlaq, dan lainnya. 

Adapun dalil aqli berarti dalil rasional, yakni dalil yang didapatkan dari pemikiran logis. Bila anda melihat seorang anak, tentu anda tahu bahwa anak itu pastilah mempunyai ibu meskipun anda tak pernah melihat ibunya. Keberadaan ibu anak itu diperoleh dari sebuah kesimpulan rasional bahwa seorang anak pasti dilahirkan dari Rahim seorang ibu. Demikian juga ketika kita melihat semesta ini yang begitu teratur, kita tahu bahwa ada sosok Pencipta yang menciptakan dan mengaturnya sedemikian rupa dengan sangat teliti, meskipun kita tak bisa melihatnya di dunia ini. Dalil aqli ini bukan hanya diakui sebagai hujjah dalam agama, namun justru kebenaran dalil naqli seringkali bergantung padanya. 

Nyaris semua ilmu dalam khazanah Islam lahir dari rahim dalil aqli ini sebab faktanya untuk memahami dalil naqli sering kali butuh argumen rasional. Berikut ini sedikit contohnya:

Ilmu tafsir membutuhkan dalil aqli untuk menentukan apa kesesuaian (munâsabah) suatu ayat/surat dengan ayat/surat lainnya, untuk menyelesaikan kesan pertentangan antar-ayat (tanâqudl), untuk menentukan mana tafsiran yang paling relevan, untuk menentukan metodologi tafsir yang hendak dipakai dan seterusnya. Jangan dikira Allah dan Rasulullah sudah memberikan petunjuk literal tentang metodologi tafsir dan apa tafsiran tiap ayat yang sebenarnya dikehendaki Allah, semua itu adalah hasil ijtihad para ulama dengan dalil rasional.

Ilmu hadits membutuhkan dalil aqli untuk menentukan teori sahih tidaknya suatu sanad, kriteria keterpercayaan para perawi, kriteria persambungan riwayat antar perawi, kriteria kritik matan, tatacara menyelesaikan tanâqudl (pertentangan makna antar-hadits), tatacara penentuan tarjîh riwayat/matan dan seterusnya dalam ilmu hadits. Jangan dikira semua itu sudah dijelaskan secara tekstual oleh Rasulullah. Bahkan menjelaskan bahwa hadits terbagi menjadi shahîh, hasan, dan dla'îf saja, Rasulullah tak pernah melakukannya. 

Ilmu ushul fiqh yang menjadi pondasi lahirnya fiqih juga disusun sepenuhnya oleh dalil aqli. Jangan kira Allah dan Rasulullah pernah menjelaskan bagaimana tatacara memperlakukan nash umum dan khusus, nash yang mutlaq dan muqayyad, nash yang muhkam dan mutasyâbih perbedaan antara manthûq dan mafhûm, bagaimana memahami amar dan nahi, bagaimana menyelesaikan ta'ârudl al’-adillah, dan banyak hal lain yang dibahas dalam ilmu ushul fiqh. Semua itu adalah olah akal para mujtahid dalam memahami teks. Sama sekali tak ada petunjuk teknis yang jelas dari Allah dan Rasulullah tentang hal itu. Bahkan petunjuk operasional melakukan qiyâs atau analogi hukum saja, yang notabene bentuk intihad paling dasar, tak dijelaskan secara literal meskipun keberadaan qiyâs sendiri bisa dilacak sejak masa Rasulullah. 

Ilmu fiqih memerlukan dalil aqli untuk mencari definisi yang tepat, menentukan illat (faktor penentu) hukum suatu perkara, menentukan maqâshid as-syarî'ah, tahrîr mahal an-nizâ' (mengurai inti perbedaan pendapat), tarjîh al-aqwâl, dan lain sebagainya. Jangan dikira ada petunjuk tekstual dari Allah dan Rasulullah untuk itu semua. 

Demikian juga semua ilmu lainnya tak bisa lepas dari dalil aqli, tak terkecuali ilmu tauhid atau ilmu kalam. Menyangkal dalil aqli dengan anggapan "hanya akal-akalan" hanya menunjukkan dua hal: Pertama, menyangkal dasar keberadaan semua ilmu keislaman dari akar-akarnya. Kedua, menunjukkan tak adanya kapasitas dalam membahas ilmu-ilmu keislaman.

Ilmu tauhid atau kalam sebenarnya masuk dalam kategori ketiga dalam klasifikasi dalil di atas, yakni dalil gabungan antara naqli (tekstual ) dan aqli (rasional). Memahami tauhid harus sesuai dengan keduanya sekaligus sebab kita dilarang mengatakan sesuatu yang tidak ada landasan tekstualnya dan sekaligus diperintahkan untuk memakai akal sehat untuk memahaminya. 

Betapa banyaknya sanggahan Allah dalam al-Qur'an kepada para kaum kafir/musyrik gagal paham yang tak memakai akalnya secara benar. Jangan sampai kaum Muslimin meniru kebodohan penyembah berhala, penyembah api, penyembah matahari/bintang atau penyembah manusia yang dipertuhankan, semisal penyembah Fir’aun. Jangan sampai kaum Muslimin menisbatkan sifat yang tak layak bagi kemuliaan Allah sebab Allah sendiri menafikan sifat-sifat tak layak itu dalam firman-Nya سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ, “maka suci tuhanmu dari apa yang disifatkan oleh mereka itu” (QS. as-Shaffât: 180). Jangan sampai juga dalam hal aqidah berkata seperti perkataan penyembah berhala "Kami menemukan leluhur kami sudah berkeyakinan begitu" atau hanya taklid buta saja tanpa paham secara rasional tentang aqidahnya. 

Bahkan kaum Muslimin diperintah untuk belajar dari kisah pencarian Nabi Ibrahim akan Tuhan ketika melihat bulan dan matahari (QS. Al-An’âm: 76-79), belajar bagaimana argumennya ketika menghadapi Azar, pengasuhnya (QS. Al-An’âm: 74),  atau ketika menghadapi seluruh kaumnya setelah dia menghancurkan biara (QS. Al-Anbiyâ’: 52-67). Ternyata semua dalil Nabi Ibrahim saat itu memakai dalil aqli. Dan, memang faktanya ketika menghadapi non-Muslim, satu-satunya dalil yang bisa dipakai hanyalah dalil aqli sebab mereka sama sekali tak mempercayai seluruh dalil tekstual agama Islam. Demikian juga untuk memutuskan mana aqidah kaum Muslimin yang paling tepat ketika masing-masing kelompok sudah berdalil dengan ayat atau hadits shahih, hal ini hanya bisa dilakukan dengan dalil aqli, bukan naqli sebab justru dalil naqli itulah yang diperdebatkan maknanya. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.