IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Konteks Penolakan Imam Syafi’i terhadap Ilmu Kalam

Senin 17 September 2018 17:30 WIB
Share:
Konteks Penolakan Imam Syafi’i terhadap Ilmu Kalam
Imam Syafi’i adalah seorang Imam dengan reputasi yang tak diragukan lagi. Beliau menjadi pendiri Mazhab Syafi’iyah dan sekaligus peletak pertama dasar-dasar ilmu ushul fiqh sehingga seluruh ulama ahli fiqih di dunia dapat dianggap berutang budi padanya. Dalam hal aqidah, Imam Syafi’i adalah salah satu tokoh yang dijadikan rujukan oleh manhaj aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah). Namun ada banyak pernyataan beliau yang jelas-jelas menolak ilmu kalam dan bahkan memerintahkan agar orang yang menyelami ilmu kalam dipukul dengan pelepah kurna lalu diarak.

Di sisi lain, sejarah menegaskan bahwa tokoh-tokoh besar dari mazhab Syafi’iyah, seperti al-Baihaqi, Imam al-Haramain, al-Ghazali dan lain-lain, justru adalah para pakar ilmu kalam. Benarkah anggapan sebagian orang bahwa Imam Syafi’i menolak Ilmu Kalam secara mutlak sedangkan para pengikutnya tidak patuh pada beliau? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus tahu bagaimana sebenarnya konteks larangan Imam Syafi’i tersebut sehingga bisa menilai secara komprehensif. 

Ibnu Khaldun (808 H), ulama besar, sosiolog sekaligus sejarawan muslim terkemuka yang disegani di dunia Timur dan Barat, menjelaskan perkembangan Ilmu Kalam dalam kitab Tarîkh-nya yang fenomenal tersebut. Beliau bercerita bahwa para ulama di era salaf, dari kalangan Sahabat dan Tabi’in, menetapkan sifat ketuhanan dan kesempurnaan pada Allah dan men-tafwîdh seluruh hal yang seolah menunjukkan kekurangan, semisal kesan-kesan jismiyah.

Kemudian datanglah Muktazilah yang menetapkan sifat-sifat Allah semata sebagai kesan dalam hati saja, bukan sebagai sifat dari Dzat Allah sendiri. Mereka menjadikan manusia sebagai pencipta perbuatan mereka sendiri tanpa ada kaitannya dengan takdir. Tokoh-tokoh Muktazilah bermunculan mulai Ma’bad al-Juhani yang semasa dengan Abdullah bin Umar, Washil bin Atha’ murid Hasan al-Bashri yang hidup di era Abdul Malik bin Marwan, juga ada Abu Hudzail al-‘Allaf yang menjadi guru besar Muktazilah dan kemudian muncul Ibrahim an-Naddham  yang sangat terpengaruh filsafat hingga sepenuhnya menafikan adanya sifat Tuhan dan membangun pondasi mazhab Muktazilah.

Setelah itu muncullah al-Jahidh, al-Ka’bi dan al-Jubba’i. Metode mereka itulah yang dikenal dengan ilmu kalam sebab menimbulkan perdebatan atau sebab pokok aqidahnya adalah menolak sifat Kalamullah. Karena itulah, Imam Syafi’i kemudian berkata: “Mereka seharusnya dipukul dengan pelepah kurma lalu diarak”. Para ulama meneliti asal muasal metode para ahli kalam itu kemudian menolaknya, hingga muncullah Abu Hasan al-Asy’ari yang mendebat mereka dan menguatkan pendapat ulama salaf Ahlussunnah dengan argumen kalamiyah dan menetapkan sifat-sifat Allah. (Ibnu Khaldun, Târîkh Ibnu Khaldûn, juz 1, halaman 602-604).

Dari paparan Ibnu Khaldun di atas, kita tahu bahwa ilmu kalam yang berkembang di era Imam Syafi’i adalah ilmu kalam yang dikembangkan oleh Muktazilah yang terpengaruh oleh ajaran filsafat Yunani. Inilah yang ditolak keras oleh Imam Syafi’i dan para ulama salaf sebab menghasilkan kesimpulan yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits. Pemaparan Ibnu Khaldun ini sejalan dengan keterangan ulama di era sebelumnya. Imam al-Baihaqi (458 H) misalnya, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Asakir (571 H), menjelaskan secara lebih mendetail hingga ke tokoh Ahli Kalam yang berhubungan langsung dengan Imam Syafi’i:

دخل حَفْص الْفَرد على الشَّافِعِي فَقَالَ لنَا لِأَن يلقِي اللَّه العَبْد بذنوب مثل جبال تهَامَة خير لَهُ من أَن يلقاه باعتقاد حرف مِمَّا عَلَيْهِ هَذَا الرجل وَأَصْحَابه وَكَانَ يَقُول بِخلق الْقُرْآن

“Hafsh al-Fard datang menemui Imam Syafi’i, kemudian Imam berkata pada kami: ‘Seorang hamba yang menemui Allah dengan membawa dosa sebesar Gunung Tuhamah masih lebih baik daripada meyakini adanya huruf (bagi kalamullah) yang diyakini lelaki ini dan kawan-kawannya’. Hafsh al-Fard berpendapat bahwa al-Qur’an itu makhluk”.  (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, halaman 341)

Dari riwayat Imam Baihaqi di atas makin jelas bahwa konteks Kalam yang ditentang keras oleh Imam Syafi’i adalah kalangan Muktazilah yang berpendapat bahwa Kalamullah adalah suara dan merupakan makhluk, bukan sifat Allah. Imam Ibnu Asakir kemudian bertanya-tanya bagaimana mungkin Imam Syafi’i mengharamkan ilmu kalam secara mutlak sedangkan beliau sendiri justru memakai ilmu kalam untuk mendebat para ahli kalam yang menyimpang seperti Muktazilah dan lain-lain itu, misalnya seperti mendebat Hafsh dalam hal bertambah tidaknya Iman, mendebat pengingkar ru’yah (melihat Allah di akhirat) dan mendebat penganut Murji’ah. Bahkan, kemahiran  Imam Syafi’i dalam ilmu kalam diakui sendiri oleh beliau, sebagaimana ditulis oleh Imam Ibnu Asakir berikut ini:

وقرأت فِي كتاب أَبِي نُعَيْمِ الأَصْبَهَانِيِّ حِكَايَةً عَنِ الصَّاحِبِ بْنِ عَبَّادٍ أَنَّهُ ذَكَر فِي كِتَابِهِ بِإِسْنَادِهِ عَن اسحق أَنَّه قَالَ قَالَ أَبِي كَلَّمَ الشَّافِعِيُّ يَوْمًا بَعْضَ الْفُقَهَاءِ فَدَقَّقَ عَلَيْهِ وَحَقَّقَ وَطَالَبَ وَضَيَّقَ فَقُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ هَذَا لأَهْلِ الْكَلامِ لَا لأَهْلِ الْحَلالِ وَالْحَرَامِ فَقَالَ أَحْكَمْنَا ذَلِكَ قَبْلَ هَذَا

“Aku membaca kitabnya Abu Nu’aim yang berkisah dari Shahib bin ‘Abbad bahwasanya dia menulis di kitabnya beserta sanadnya dari Ishaq, bahwa Ishaq berkata “Ayahku berkata: Suatu hari Imam Syafi’i berbicara pada sebagian Ahli Fiqih. Beliau mengurai hingga rinci, memverifikasi hingga detail, menuntut, dan mempersempit argumen lawan. Lalu aku berkata: ‘Wahai Abu Abdillah (as-Syafi’i), ini adalah gaya ahli kalam bukan gaya ahli halal dan haram (ulama fiqih). Ia menjawab: Saya sudah menguasai itu dulu (kalam) sebelum yang ini (fiqih)”. (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, halaman 341-342)

Karena fakta itulah, maka seperti ditegaskan oleh Imam Ibu Hajar al-Haitami as-Syafi’i (974 H), anggapan bahwa ilmu kalam adalah bid’ah dengan alasan bahwa hal itu tak dipikirkan oleh kalangan Salaf dan menyebabkan perdebatan dan kerancuan adalah anggapan yang tertolak. Bahkan Ibnu Hajar memastikan bahwa ulama salaf mengetahui hal itu, di antaranya adalah Umar, Ibnu Umar, Ibnu Abbas dari kalangan Sahabat. Dari kalangan Tabi’in dan setelahnya ada Umar bin Abdul Aziz, Rabi’ah, Ibnu Hurmuz, Imam Malik dan Imam Syafi’i. Bahkan menurutnya, Imam Malik sudah mengarang risalah Ilmu Kalam sebelum Imam Syafi’i dilahirkan. Ilmu Kalam kemudian dinisbatkan pada Imam al-Asy’ari tak lain hanyalah karena beliau menjelaskan metode-metode orang-orang sebelumnya dan mengurai dalil-dalilnya. Tak ada yang baru kecuali hanya istilahnya saja, dan ini terjadi dalam semua cabang ilmu pengetahuan. Yang dicela oleh ulama Salaf seperti Imam Syafi’i yang lain-lain adalah kalam yang berkembang di kalangan Muktazilah, Qadariyah dan ahli bid’ah lainnya. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyah, halaman 147-148)

Dengan ini menjadi jelas bahwa sebenarnya Imam Syafi’i atau ulama salaf tak pernah mencela ilmu kalam secara mutlak. Yang mereka cela adalah ilmu kalam yang menyimpang dari Ahlussunah, bukan yang malah menguatkan keyakinan Ahlussunnah seperti yang dilakukan Asy’ariyah-Maturidiyah. Bahkan, kitab ilmu kalam karya Imam Abu Hanifah (150 H) yang berjudul al-Fiqh al-Akbar sampai kepada kita di masa ini dan beredar luas. Ini bukti bahwa ilmu kalam ala Ahlussunnah telah dikenal luas di era Salaf. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember

Tags:
Share:
Ahad 16 September 2018 15:30 WIB
Bagaimana Perasaan Menyembah Tuhan yang Tak Bertempat?
Bagaimana Perasaan Menyembah Tuhan yang Tak Bertempat?
Ilustrasi (islamveateizm)
Penganut teologi Hasyawiyah (golongan yang meyakini bahwa Tuhan juga mempunyai karakter fisikal) biasanya tak mampu menjangkau bagaimana rasanya menyembah Tuhan yang tak bertempat. Bagi nalar mereka, sosok yang tak bertempat di ruang mana pun berarti sosok yang tak wujud alias sama sekali tak ada. Nalar mereka membayangkan bahwa Tuhan sekalipun harus ada dalam batasan arah atau ruang sehingga kita bisa menghadap padanya dan bisa menunjuk jari terhadap lokasinya. Jadi tak heran apabila mereka sibuk menyanggah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah) yang malah menafikan adanya ruang dan waktu bagi Tuhan sebab Tuhan memang telah ada sebelum waktu dan tempat ada.

Kali ini saya akan berusaha menjelaskan bagaimana rasanya menyembah Tuhan yang wujudnya tak berada di dalam ruang tertentu di semesta alam ini sehingga dengan sendirinya juga berada di luar putaran waktu. Tentu usaha ini hanya dalam batasan makna yang dapat dijangkau sebuah kata. Pada hakikatnya, keberadaan Allah tak bisa diungkapkan dengan kata apa pun. Keberadaan-Nya lebih jelas dari apa pun, lebih nyata dari apa pun, dan lebih kuat getarannya dalam hati dari rasa apa pun, tetapi dalam waktu yang sama Dia juga lebih misterius dari apa pun. Maha Suci Allah dari segala batasan sifat yang dapat digambarkan atau dilukiskan oleh keterbatasan manusia.

1. Dengan meyakini bahwa Tuhan tak bertempat, rasanya kita sedang berhadapan dengan kekuatan yang tak terbatas apa pun, yang keberadaannya sepenuhnya tak tergantung pada apa pun, seperti firman-Nya: فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ, Allah Maha-tak butuh apa pun selain diri-Nya (QS. Ali Imran: 97), termasuk ruang dan waktu sekalipun. Dia ada tanpa sekat jarak, sekat arah, sekat ruang, sekat batasan fisikal. Kita hanya akan tenggelam dalam pesona kebesaran-Nya, kehebatan-Nya, kekuasaan-Nya, kedekatan-Nya, pengawasan-Nya tanpa batasan apa pun yang mengganggu pikiran.

2. Ketika kita shalat menghadapnya, kita bisa merasa bahwa Dia ada bersama kita, seperti Firman-Nya:  وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ, Dia bersama kalian di mana pun kalian berada (QS. Al-Hadid: 4) dan mengetahui semua gerakan badan dan hati kita, seperti firman-Nya: يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ , Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kalian tampakkan dan kalian sembunyikan. Allah Maha mengetahui isi hati (QS. At-Taghabun: 4), tanpa pernah terbesit di pikiran bahwa Dia ada di atas dan sedang melihat dari arah kepala kita saja. 

3. Ketika kita sujud, kita bisa menghayati betul sabda Rasul bahwa kita sedang dalam posisi terdekat kita dengan Allah, seperti sabda Nabi: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ, posisi terdekat seorang hamba dari Tuhannya adalah ketika sujud (HR. Muslim) tanpa terganggu dengan pikiran bahwa jangan-jangan Tuhan berada di bawah lantai.

4. Ketika kita menghadap ke arah mana pun, kita akan merasa bahwa kita sedang menghadap "wajah"-Nya seperti firman-Nya: فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ, ke mana pun kalian menghadap maka di sanalah "wajah" Allah (QS. Al-Baqarah: 115) tanpa terganggu pikiran bahwa Dia hanya ada di arah tertentu saja sehingga kita dapat berpaling menyembunyikan wajah kita dari-Nya.

5. Ketika kita bermunajat sendirian di tengah belantara antah berantah, kita dengan mantap meyakini bahwa kita tak perlu berteriak memanggil-Nya sebab kita tahu bahwa Dia selalu mendengar dengan amat jelas di mana pun, seperti firman-Nya: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ, ketika hamba-Ku menanyakan tentang-Ku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku menjawab panggilan orang yang memanggilku (QS. Al-Baqarah: 186) tanpa pernah terbesit pikiran bahwa kita sendirian.

6. Ketika kita menaiki kuda atau kendaraan apa pun, kita bisa dengan mudah menyadari bahwa Tuhan lebih dekat kepada kita daripada ujung depan kendaraan kita sendiri, seperti sabda Rasul: وَالَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ, Tuhan yang kalian sembah lebih dekat pada kalian daripada leher hewan tunggangan kalian (HR. Muslim).

7. Ketika kita melihat ke atas sana, melihat jauh ke batas terluar galaksi kita hingga ke milyaran galaksi lain yang kini bisa dijangkau teleskop manusia, kita akan melihat kekuasaan Tuhan mencakup seluruh jagad raya bahkan Arasy sekalipun tak mampu kita lihat, seperti firman-Nya: وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ, Dia Maha berkuasa penuh atas hamba-hambanya (QS. Al-An’am: 18); الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى, Yang Maha Pengasih istawa atas Arasy (QS. Thaha: 5) tanpa sedikit pun merasa kontradiktif dengan kesadaran bahwa kita dapat merasakan-Nya di dekat kita bersama kita setiap waktu, baik kita di sedang di ruang terdalam planet ini atau sedang menjelajah di luar angkasa sana bersama para astronot.

8. Ketika kita berada di dasar lembah atau di lantas dasar gedung pencakar langit, kita tak perlu merasa lebih jauh dari Tuhan dibanding mereka yang berdiri di puncak gunung atau berada di lantas atas kita, seperti yang  dibayangkan oleh Syaikh Utsman ad-Darimy dalam kitabnya yang menjadi rujukan para pendaku salafi saat ini.

9. Ketika ada orang bertanya bagaimana bisa Tuhan ada di atas sekaligus bersama kita? Kita tak perlu repot mencontohkan keberadaan Tuhan seperti matahari atau bulan yang ada di atas tapi sekaligus ikut kemana pun langkah kita, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taymiyah, sebab orang itu akan menggugat keheranan "bukankah matahari atau bulan itu jauh? Apakah bisa dibilang Tuhan itu jauh juga?". 

10. Kita pun tak perlu repot berapologetik tentang fitrah seolah memahami tempat Tuhan di atas sana memang  fitrah manusia sebab itu tak sesuai realitas. Realitasnya, keyakinan seperti itu adalah "fitrahnya" para Mujassimah dari berbagai agama saja. Adapun "fitrahnya" para Jahmiyah adalah menganggap Tuhan di mana-mana. Lain lagi dengan "fitrahnya" ateis yang menganggap Tuhan sama sekali tak ada. Ketika bangun tidur, ketika senang, ketika susah, ketika apa pun juga semua pihak ini akan merujuk pada "fitrahnya" masing-masing. Inilah realitanya. Saya sengaja menulis kata fitrah dalam tanda kutip sebab yang demikian itu bukanlah fitrah yang sesungguhnya. Fitrah manusia yang sejati adalah meyakini adanya Tuhan tetapi bersih polos dari keyakinan tambahan apa pun tentangnya. Lingkungannyalah yang membentuk berbagai keyakinan tambahan tersebut di kemudian hari.

11. Kita pun akan terbebas dari pertanyaan kontradiksi yang ditujukan pada kaum Jahmiyah "Firman Allah yang mana atau hadits Nabi yang mana yang membuat anda mentakwil semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di atas tetapi memahami semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di bawah sesuai makna literal?". Di saat yang sama kita juga akan terbebas dari pertanyaan kontradiksi yang ditujukan pada kaum Mujassimah "Firman Allah yang mana atau hadits Nabi yang mana yang membuat anda mentakwil semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di bumi tetapi memahami semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di langit sesuai makna literal?". 

12. Kita tak perlu juga bertindak bodoh seperti Fir'aun ketika mengingkari keberadaan Tuhannya Nabi Musa. Ketika raja yang mengaku sebagai Tuhan ini menyadari bahwa Tuhannya Nabi Musa tak terlihat ada di sekitarnya dan bahkan di tempat mana pun di bumi, maka dia berkesimpulan bahwa Tuhannya itu pasti berada di langit sehingga dia membangun bangunan sangat tinggi sebagai pembuktian. Dengan itu, Fir'aun berusaha membuktikan pada masyarakatnya bahwa Nabi Musa berbohong mengenai keberadaan Tuhan sebab di atas sana juga tak terlihat apa pun.

13. Semua pertanyaan yang mungkin terbesit dalam hati dan bahkan diperdebatkan sepanjang sejarah manusia semisal: Bagaimana bisa Tuhan mengetahui segala kejadian yang terjadi di ujung dunia mana pun?. Bagaimana bisa Tuhan mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan?. Bagaimana bisa Tuhan mengetahui apa yang berada dalam hati? Bagaimana bisa secara bersamaan Dia digambarkan di atas Arasy, sekaligus bersama kita, sekaligus lebih dekat dari urat leher, sekaligus berada di mana pun kita menghadap, sekaligus di langit dunia tiap akhir malam (yang berarti setiap saat sebab tiap detik selalu ada wilayah yang mengalami akhir malam), sekaligus menjadi pihak keempat dari tiga orang yang sedang menjalin kerja sama?  Semua pertanyaan itu akan mudah terjawab bila tahu bahwa sejatinya Allah ada di luar ruang dan waktu (tak bertempat). 

Demikianlah, segala pikiran yang aneh tentang Allah akan mudah sirna bila kita meyakini Allah ada tanpa tempat. Kita hanya akan fokus untuk beribadah kepadanya dan merasakan kemahakuasaan Allah setiap waktu. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.

Ahad 16 September 2018 7:0 WIB
Ketika Ali bin Abi Thalib RA Simak Dialog Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir di Makam
Ketika Ali bin Abi Thalib RA Simak Dialog Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir di Makam
Ketika Sayyidina Umar bin Khattab RA wafat dan masyarakat mengantarkan jenazahnya ke liang kubur, sahabat Ali bin Abi Thalib RA juga hadir. Ketika masyarakat beranjak pergi, sahabat Ali bin Abi Thalib RA memilih bertahan di makam. Ia penasaran dengan percakapan yang akan berlangsung di antara mereka. Ia kemudian memasang telinga baik-baik dan mendengar dengan seksama suara percakapan tersebut.

Hal ini diceritakan oleh Syekh M Nawawi Banten dalam Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam sebagai berikut:

وروي أن سبب رفقهما بالمؤمن لما مات سيدنا عمر بن الخطاب ودفن وانصرف الجماعة فبقي سيدنا علي كرم الله وجهه ورضي عنه يترقب في القبر ليستمع كلام سيدنا عمر مع هذين الملكين

Artinya, “Diriwayatkan bahwa sebab kelembutan malaikat Munkar dan Nakir terhadap orang beriman di alam kubur adalah ketika Sayyidina Umar bin Khattab wafat, lalu dimakamkan dan masyarakat yang mengantarkan jenazahnya meninggalkan makam, Sayyidina Ali RA memilih bertahan. Ia mengawasi kubur untuk mendengarkan percakapan Sayyidina Umar RA dan dua malaikat kubur,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra, tanpa catatan tahun] halaman 18).

Setelah mengawasi baik-baik, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kemudian mendengar keberatan Sayyidina Umar RA atas penampilan menyeramkan malaikat Munkar dan Nakir. Sayyidina Umar RA mengaku takut dan terkejut atas ujud keduanya.

“Wahai dua malaikat kubur, aku peringatkan kalian dan berwasiat kepada kalian agar setelah ini kalian jangan mendatangi orang beriman dengan bentuk yang menyeramkan ini. Kurangilah sisi menyeramkannya itu karena ketika melihat kalian dengan bentuk seperti ini aku takut dan sangat terkejut. Padahal aku adalah sahabat Rasulullah SAW. Bagaimana dengan yang lain ketika melihat kalian berdua seperti ini?” kata Sayyidina Umar RA kepada keduanya.

“Baik, kami mendengar dan patuh. Kami takkan melanggar perintahmu, wahai sahabat RAsululah SAW,” jawab kedua malaikat itu.

Sejak saat itu, Malaikat Munkar dan Nakir berpenampilan lebih ramah kepada jenazah baru dari kalangan orang yang beriman demi menjalankan amanah dan wasiat dari Sayyidina Umar RA. Mendengar itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA memuji jasa Sayyidina Umar RA.

فقال سيدنا علي رضي الله عنه والله ما يزال عمر ينفع الناس في حياته ومماته

Artinya, “Sayyidina Ali RA berkata, ‘Demi Allah, Sahabat Umar bermanfaat untuk manusia semasa hidup dan setelah wafatnya,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra, tanpa catatan tahun] halaman 18).

Sayyidina Umar bin Khattab RA adalah sahabat terkemuka kedua setelah Abu Bakar RA yang memiliki sejumlah keutamaan. Rasulullah SAW dalam banyak kesempatan memuji sahabat Umar RA. Karena ketegasannya, Sayyidina Umar RA ditakuti oleh setan sehingga setan tidak berani melalui jalan yang dilewati sahabat Umar RA sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini: 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Allah, Zat yang diriku berada di genggaman-Nya, tiada satu setan yang menjumpaimu di salah satu jalan yang luas, melainkan ia akan mencari jalan lain yang tidak kamu lewati,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Umar bin Khattab RA juga seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata sahabat pada umumnya. Ia juga kerap mendapat ilham dari Allah sehingga dapat mengetahui sesuatu yang ghaib atau belum terjadi.

Allah juga memberikan karunia ini kepada umat terdahulu sebagaimana hadits Bukhari dan Muslim berikut ini:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد كان قبلكم في بني إسرائيل محدثون من غير أن يكونوا أنبياء فإن يكن في أمتي أحدٌ فعمر

Artinya, “Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Pada umat sebelum kalian, yaitu pada Bani Israel terdapat sekelompok orang yang mendapat ilham dari Allah, tetapi mereka bukan kalangan nabi. Kalau terjadi di tengah umatku, maka orang itu adalah Umar,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketika diangkat menjadi khalifah, Umar bin Khattab RA melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Ia memerhatikan dampak kebijakan yang diambilnya sebagai pemerintah. Hal itu tampak dalam ucapannya yang terkenal sebagai berikut:

لَوْ مَاتَ جَمَلٌ فِي عَمَلِي ضَيَاعًا خَشِيتُ أَنْ يَسْأَلَنِيَ اللهُ عَنْهُ 

Artinya, “Seandainya seekor unta mati sia-sia akibat kebijakanku maka saya takut kelak Allah akan meminta pertanggungjawabanku tentang kematiannya,” (Lihat Ibnu Asakir, Tarikhu Madinati Dimasyq, [Beirut, Darul Fikr: 1995], juz XLV, halaman 356).

Semoga Allah meridhai para sahabat Rasulullah SAW. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan para sahabat Rasulullah SAW yang mulia. Amin. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 15 September 2018 21:20 WIB
Ekstremisme Sebagian Tokoh Hadits Klasik soal Aqidah
Ekstremisme Sebagian Tokoh Hadits Klasik soal Aqidah
Ilustrasi (via sm3ny.com)
Bertindak ekstrem (ghuluw) adalah gejala umum yang bisa dialami siapa pun ketika seseorang tak mampu menahan diri dari tindakan atau statemen yang berlebihan. Nabi Muhammad sudah mewanti-wanti umatnya agar tidak terjebak pada ekstremisme ini, beliau bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Kalian harus waspada pada ekstremisme dalam agama. Sesungguhnya yang mencelakakan umat sebelum kalian adalah bersikap ekstrem dalam agama.” (HR. Ibnu Hibban)

Sayangnya gejala ini dapat menjangkit siapa pun tak terkecuali ahli hadits di masa klasik, utamanya ketika berbicara menyangkut aqidah. Salah satu bukti sifat ekstrem ini bisa dilihat ketika sebagian ahli hadits meriwayatkan sebuah statemen dari Abdullah bin Salam, seorang sahabat yang sebelumnya adalah pendeta Yahudi dan dari Mujahid, seorang ulama Tabi’in, yang isinya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ، قَالَ: إِنَّ مُحَمَّدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ يَدَيِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، عَلَى كُرْسِيِّ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Dari Abdullah Bin Salam, Dia berkata: Sesungguhnya Muhammad pada hari kiamat ada di depan Tuhan Azza Wa Jalla, di atas kursi Tuhan yang Maha Suci dan Maha Tinggi.” (al-Khallal, as-Sunnah, juz 1, halaman 209)

عَنْ مُجَاهِدٍ: {عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا} قَالَ: يُجْلِسُهُ مَعَهُ عَلَى الْعَرْشِ

“Dari Mujahid: Firman Allah {Pasti Tuhanmu akan mengangkatmu di tempat yang terpuji}. Mujahid berkata: Allah akan mendudukkannya bersamanya di atas Arasy.” (al-Khallal, as-Sunnah, juz 1, halaman 213)

Secara rasional saja, konten (matan) statemen di atas sudah terlihat bermasalah sebab tak mungkin Allah disifati “duduk” karena tindakan duduk ini hanya bisa dilakukan oleh jism (makhluk bervolume) saja. Namun, justru karena adanya pihak-pihak yang menolak kisah yang bermuara dari Abdullah bin Salam dan Mujahid ini, maka beberapa ahli hadits tak segan melontarkan pernyataan ekstrem. Misalnya:

1. Abu Bakr bin Abi Thalib mengatakan:

مَنْ رَدَّهُ فَقَدْ رَدَّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمَنْ كَذَّبَ بِفَضِيلَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ كَفَرَ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

“Siapa yang menolaknya maka telah menolak Allah Azza wa Jalla dan siapa yang menganggap bohong keutamaan Nabi Muhammad ﷺ maka telah kafir kepada Allah yang Maha Agung.”

2. Ahmad bin Ashram al-Muzani mengatakan:

مَنْ رَدَّ هَذَا فَهُوَ مُتَّهَمٌ عَلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَهُوَ عِنْدَنَا كَافِرٌ

“Siapa yang menolak ini maka dia dicurigai terhadap Allah dan rasulnya dan dia bagi kami adalah kafir.”

3. Abu Bakr bin Hammad al-Muqri’ berkata:

مَنْ ذُكِرَتْ عِنْدَهُ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ فَسَكَتَ فَهُوَ مُتَّهَمٌ عَلَى الْإِسْلَامِ، فَكَيْفَ مَنْ طَعَنَ فِيهَا؟

“Siapa yang disebutkan di sisi-nya hadits ini kemudian diam saja maka dia dicurigai atas Islam maka bagaimana orang yang mencela hadits ini.”

4. Abu Ja’far ad-Daqiqi berkata:

مَنْ رَدَّهَا فَهُوَ عِنْدَنَا جَهْمِيُّ، وَحُكْمُ مَنْ رَدَّ هَذَا أَنْ يُتَّقَى

“Siapa yang menolaknya, maka dia disisi Kami adalah seorang jahmiyah.”

5. Abbas ad-Duri berkata:

لَا يَرُدُّ هَذَا إِلَّا مُتَّهَمٌ

“Tidaklah menolak hadits ini kecuali orang yang dicurigai.”

6. Ishaq bin Rahawaih berkata:

الْإِيمَانُ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَالتَّسْلِيمُ لَهُ

“Iman adalah dengan hadits ini dan menerimanya.”

7. Abu Bakr bin Shadaqah berkata:

وَصَدَقَ، مَا حُكْمُهُ عِنْدِي إِلَّا الْقَتْلُ

“Dia benar, hukum orang yang menolak riwayat itu bagiku tak lain kecuali dibunuh.”

Ada banyak tokoh lainnya yang berkomentar serupa di atas. Semuanya dinukil oleh Syekh al-Khallal (311 H), seorang ahli hadits klasik bermazhab Hanbali, dalam satu bab khusus di kitabnya yang berjudul as-Sunnah untuk menguatkan tafsirannya bahwa yang dimaksud tempat yang terpuji (maqâman mahmûdâ) yang akan didapat Rasulullah adalah bisa duduk bersama Allah di atas Arasy. Dapat dilihat bahwa tokoh-tokoh di atas tanpa ragu menjatuhkan vonis Jahmiyah, kafir, bahkan bunuh pada siapa pun yang menolak statemen Abdullah bin Salam dan Muhahid di atas. Padahal dari sanadnya saja sudah jelas bahwa statemen itu bukanlah hadits Rasulullah ﷺ namun hanya tafsiran beliau berdua saja. 

Untunglah sikap ghuluw atau ekstrem di atas dibantah oleh ulama hadits yang objektif yang tidak fanatik pada siapa pun kecuali pada Allah dan Rasul-Nya. Al-A’masy misalnya, beliau berkata bahwa Tafsir Mujahid diambil dari informasi Ahli Kitab (Yahudi atau Nasrani). (lihat: adz-Dzahabi, Mizân al-I’tidâl, juz III, 439). Adz-Dzahabi kemudian menegaskan:

ومِن أنكر ما جاء عن مجاهد في التفسير في قوله (عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا ) قال : يجلس معه على العرش.

“Yang paling diingkari dari Mujahid dalam tafsir adalah penafsirannya terhadap “pasti Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” Dia berkata: “Allah mendudukkan Nabi Muhammad bersamanya di atas Aras.” (adz-Dzahabi, Mizân al-I’tidâl, juz III, 439)

Syekh Ibnu Abdil Barr, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Qurthubi mengatakan:

قَالَ أَبُو عُمَرَ وَمُجَاهِدٌ: وَإِنْ كَانَ أَحَدُ الْأَئِمَّةِ يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ فَإِنَّ لَهُ قَوْلَيْنِ مَهْجُورَيْنِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ: أَحَدُهُمَا هَذَا 

“Mujahid, meskipun salah satu Imam, dia mentakwilkan al-Qur’an. Dia mempunyai dua pendapat yang ditolak oleh ahli ilmu,nsalah satunya adalah ini (bahwa Nabi duduk bersama Allah).” (al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubî, juz 10, halaman 311).

Secara sanad, adz-Dhahabi mengomentari statemen Mujahid tersebut demikian:

فَأَما قَضِيَّة قعُود نَبينَا على الْعَرْش فَلم يثبت فِي ذَلِك نَص بل فِي الْبَاب حَدِيث واه وَمَا فسر بِهِ مُجَاهِد الْآيَة كَمَا ذَكرْنَاهُ

“Adapun tema duduknya Nabi kita di atas Arasy, maka tak ada satu pun nash (teks hadits) yang valid, bahkan di bab itu ada hadits yang bermasalah.” (Adz-Dzahabi, al-‘Uluw, halaman 170)

Syekh Nashiruddin al-Albani adalah salah satu peneliti hadits dari kalangan pendaku Salafi yang objektif dalam hal ini sehingga memasukkan tafsiran Mujahid itu ke dalam bukunya yang berjudul Silsilat al-Ahâdîts al-Dla’îfah wa al-Maudlû’ah yang khusus menghimpun hadits-hadits yang dianggapnya lemah dan palsu. Di buku tersebut tak segan al-Albani mengatakan غلا بعض المحدثين (telah ekstrem sebagian ahli hadits). (al-Albani, Silsilat al-Ahâdîts al-Dla’îfah wa al-Maudlû’ah, juz II, halaman 256).

Adapun tafsiran yang sahih dan diikuti oleh para mayoritas ulama adalah “tempat terpuji” yang dijanjikan atas Rasulullah adalah pemberian wewenang agar beliau bisa memberi syafa’at kubrâ nanti di hari kiamat pada umat manusia yang beriman.  Tafsiran ini adalah petunjuk Rasulullah Muhammad ﷺ sendiri yang diriwayatkan oleh belasan orang sahabat. Salah satunya adalah riwayat Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad mengeluarkan orang-orang beriman dari neraka dan dimasukkan seluruhnya ke surga hingga tak tersisa seorang mukmin pun di neraka. Selanjutnya, dikatakan:

وَهَذَا المَقَامُ المَحْمُودُ الَّذِي وُعِدَهُ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

“Inilah tempat yang terpuji yang dijanjikan pada Nabi Kalian.” (HR. Bukhari).

Sayangnya, penafsiran yang berasal dari riwayat-riwayat shahih itu malah tak disebutkan satu pun oleh al-Khallal. Yang ada justru dia menukil berbagai vonis kafir, jahmiyah dan boleh dibunuh bagi siapa pun yang menolak riwayat Mujahid. Dari sini kita tahu bahwa para ahli hadits klasik bukanlah orang yang imun dari sikap berlebih-lebihan dalam agama sehingga vonis mereka dalam hal aqidah tidak lantas  bisa diterima begitu saja. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.