IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Ekstremisme Sebagian Tokoh Hadits Klasik soal Aqidah

Sabtu 15 September 2018 21:20 WIB
Share:
Ekstremisme Sebagian Tokoh Hadits Klasik soal Aqidah
Ilustrasi (via sm3ny.com)
Bertindak ekstrem (ghuluw) adalah gejala umum yang bisa dialami siapa pun ketika seseorang tak mampu menahan diri dari tindakan atau statemen yang berlebihan. Nabi Muhammad sudah mewanti-wanti umatnya agar tidak terjebak pada ekstremisme ini, beliau bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Kalian harus waspada pada ekstremisme dalam agama. Sesungguhnya yang mencelakakan umat sebelum kalian adalah bersikap ekstrem dalam agama.” (HR. Ibnu Hibban)

Sayangnya gejala ini dapat menjangkit siapa pun tak terkecuali ahli hadits di masa klasik, utamanya ketika berbicara menyangkut aqidah. Salah satu bukti sifat ekstrem ini bisa dilihat ketika sebagian ahli hadits meriwayatkan sebuah statemen dari Abdullah bin Salam, seorang sahabat yang sebelumnya adalah pendeta Yahudi dan dari Mujahid, seorang ulama Tabi’in, yang isinya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ، قَالَ: إِنَّ مُحَمَّدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ يَدَيِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، عَلَى كُرْسِيِّ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Dari Abdullah Bin Salam, Dia berkata: Sesungguhnya Muhammad pada hari kiamat ada di depan Tuhan Azza Wa Jalla, di atas kursi Tuhan yang Maha Suci dan Maha Tinggi.” (al-Khallal, as-Sunnah, juz 1, halaman 209)

عَنْ مُجَاهِدٍ: {عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا} قَالَ: يُجْلِسُهُ مَعَهُ عَلَى الْعَرْشِ

“Dari Mujahid: Firman Allah {Pasti Tuhanmu akan mengangkatmu di tempat yang terpuji}. Mujahid berkata: Allah akan mendudukkannya bersamanya di atas Arasy.” (al-Khallal, as-Sunnah, juz 1, halaman 213)

Secara rasional saja, konten (matan) statemen di atas sudah terlihat bermasalah sebab tak mungkin Allah disifati “duduk” karena tindakan duduk ini hanya bisa dilakukan oleh jism (makhluk bervolume) saja. Namun, justru karena adanya pihak-pihak yang menolak kisah yang bermuara dari Abdullah bin Salam dan Mujahid ini, maka beberapa ahli hadits tak segan melontarkan pernyataan ekstrem. Misalnya:

1. Abu Bakr bin Abi Thalib mengatakan:

مَنْ رَدَّهُ فَقَدْ رَدَّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمَنْ كَذَّبَ بِفَضِيلَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ كَفَرَ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

“Siapa yang menolaknya maka telah menolak Allah Azza wa Jalla dan siapa yang menganggap bohong keutamaan Nabi Muhammad ﷺ maka telah kafir kepada Allah yang Maha Agung.”

2. Ahmad bin Ashram al-Muzani mengatakan:

مَنْ رَدَّ هَذَا فَهُوَ مُتَّهَمٌ عَلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَهُوَ عِنْدَنَا كَافِرٌ

“Siapa yang menolak ini maka dia dicurigai terhadap Allah dan rasulnya dan dia bagi kami adalah kafir.”

3. Abu Bakr bin Hammad al-Muqri’ berkata:

مَنْ ذُكِرَتْ عِنْدَهُ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ فَسَكَتَ فَهُوَ مُتَّهَمٌ عَلَى الْإِسْلَامِ، فَكَيْفَ مَنْ طَعَنَ فِيهَا؟

“Siapa yang disebutkan di sisi-nya hadits ini kemudian diam saja maka dia dicurigai atas Islam maka bagaimana orang yang mencela hadits ini.”

4. Abu Ja’far ad-Daqiqi berkata:

مَنْ رَدَّهَا فَهُوَ عِنْدَنَا جَهْمِيُّ، وَحُكْمُ مَنْ رَدَّ هَذَا أَنْ يُتَّقَى

“Siapa yang menolaknya, maka dia disisi Kami adalah seorang jahmiyah.”

5. Abbas ad-Duri berkata:

لَا يَرُدُّ هَذَا إِلَّا مُتَّهَمٌ

“Tidaklah menolak hadits ini kecuali orang yang dicurigai.”

6. Ishaq bin Rahawaih berkata:

الْإِيمَانُ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَالتَّسْلِيمُ لَهُ

“Iman adalah dengan hadits ini dan menerimanya.”

7. Abu Bakr bin Shadaqah berkata:

وَصَدَقَ، مَا حُكْمُهُ عِنْدِي إِلَّا الْقَتْلُ

“Dia benar, hukum orang yang menolak riwayat itu bagiku tak lain kecuali dibunuh.”

Ada banyak tokoh lainnya yang berkomentar serupa di atas. Semuanya dinukil oleh Syekh al-Khallal (311 H), seorang ahli hadits klasik bermazhab Hanbali, dalam satu bab khusus di kitabnya yang berjudul as-Sunnah untuk menguatkan tafsirannya bahwa yang dimaksud tempat yang terpuji (maqâman mahmûdâ) yang akan didapat Rasulullah adalah bisa duduk bersama Allah di atas Arasy. Dapat dilihat bahwa tokoh-tokoh di atas tanpa ragu menjatuhkan vonis Jahmiyah, kafir, bahkan bunuh pada siapa pun yang menolak statemen Abdullah bin Salam dan Muhahid di atas. Padahal dari sanadnya saja sudah jelas bahwa statemen itu bukanlah hadits Rasulullah ﷺ namun hanya tafsiran beliau berdua saja. 

Untunglah sikap ghuluw atau ekstrem di atas dibantah oleh ulama hadits yang objektif yang tidak fanatik pada siapa pun kecuali pada Allah dan Rasul-Nya. Al-A’masy misalnya, beliau berkata bahwa Tafsir Mujahid diambil dari informasi Ahli Kitab (Yahudi atau Nasrani). (lihat: adz-Dzahabi, Mizân al-I’tidâl, juz III, 439). Adz-Dzahabi kemudian menegaskan:

ومِن أنكر ما جاء عن مجاهد في التفسير في قوله (عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا ) قال : يجلس معه على العرش.

“Yang paling diingkari dari Mujahid dalam tafsir adalah penafsirannya terhadap “pasti Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” Dia berkata: “Allah mendudukkan Nabi Muhammad bersamanya di atas Aras.” (adz-Dzahabi, Mizân al-I’tidâl, juz III, 439)

Syekh Ibnu Abdil Barr, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Qurthubi mengatakan:

قَالَ أَبُو عُمَرَ وَمُجَاهِدٌ: وَإِنْ كَانَ أَحَدُ الْأَئِمَّةِ يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ فَإِنَّ لَهُ قَوْلَيْنِ مَهْجُورَيْنِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ: أَحَدُهُمَا هَذَا 

“Mujahid, meskipun salah satu Imam, dia mentakwilkan al-Qur’an. Dia mempunyai dua pendapat yang ditolak oleh ahli ilmu,nsalah satunya adalah ini (bahwa Nabi duduk bersama Allah).” (al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubî, juz 10, halaman 311).

Secara sanad, adz-Dhahabi mengomentari statemen Mujahid tersebut demikian:

فَأَما قَضِيَّة قعُود نَبينَا على الْعَرْش فَلم يثبت فِي ذَلِك نَص بل فِي الْبَاب حَدِيث واه وَمَا فسر بِهِ مُجَاهِد الْآيَة كَمَا ذَكرْنَاهُ

“Adapun tema duduknya Nabi kita di atas Arasy, maka tak ada satu pun nash (teks hadits) yang valid, bahkan di bab itu ada hadits yang bermasalah.” (Adz-Dzahabi, al-‘Uluw, halaman 170)

Syekh Nashiruddin al-Albani adalah salah satu peneliti hadits dari kalangan pendaku Salafi yang objektif dalam hal ini sehingga memasukkan tafsiran Mujahid itu ke dalam bukunya yang berjudul Silsilat al-Ahâdîts al-Dla’îfah wa al-Maudlû’ah yang khusus menghimpun hadits-hadits yang dianggapnya lemah dan palsu. Di buku tersebut tak segan al-Albani mengatakan غلا بعض المحدثين (telah ekstrem sebagian ahli hadits). (al-Albani, Silsilat al-Ahâdîts al-Dla’îfah wa al-Maudlû’ah, juz II, halaman 256).

Adapun tafsiran yang sahih dan diikuti oleh para mayoritas ulama adalah “tempat terpuji” yang dijanjikan atas Rasulullah adalah pemberian wewenang agar beliau bisa memberi syafa’at kubrâ nanti di hari kiamat pada umat manusia yang beriman.  Tafsiran ini adalah petunjuk Rasulullah Muhammad ﷺ sendiri yang diriwayatkan oleh belasan orang sahabat. Salah satunya adalah riwayat Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad mengeluarkan orang-orang beriman dari neraka dan dimasukkan seluruhnya ke surga hingga tak tersisa seorang mukmin pun di neraka. Selanjutnya, dikatakan:

وَهَذَا المَقَامُ المَحْمُودُ الَّذِي وُعِدَهُ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

“Inilah tempat yang terpuji yang dijanjikan pada Nabi Kalian.” (HR. Bukhari).

Sayangnya, penafsiran yang berasal dari riwayat-riwayat shahih itu malah tak disebutkan satu pun oleh al-Khallal. Yang ada justru dia menukil berbagai vonis kafir, jahmiyah dan boleh dibunuh bagi siapa pun yang menolak riwayat Mujahid. Dari sini kita tahu bahwa para ahli hadits klasik bukanlah orang yang imun dari sikap berlebih-lebihan dalam agama sehingga vonis mereka dalam hal aqidah tidak lantas  bisa diterima begitu saja. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.

Tags:
Share:
Sabtu 15 September 2018 13:30 WIB
Kedudukan Dalil Rasional dalam Ilmu Tauhid
Kedudukan Dalil Rasional dalam Ilmu Tauhid
Ilustrasi (via LinkedIn)
Ketika membahas tentang aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah), ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Asy'ariyah tak punya dalil, bicara tanpa dalil, hanya akal-akalan, hanya berfilsafat dan sebagainya. Mereka mengira bahwa yang dimaksud dengan dalil hanyalah teks berupa ayat, hadits, dan nukilan pendapat ulama saja. Anggapan semacam ini muncul sebab tak paham bagaimana sesungguhnya dalil itu dan apa saja klasifikasinya. 

Imam al-Amidy dalam karya monumentalnya, al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, mendefinisikan dalil sebagai berikut:

وَأَمَّا حَدُّهُ عَلَى الْعُرْفِ الْأُصُولِيِّ، فَهُوَ مَا  يُمْكِنُ التَّوَصُّلُ بِهِ إِلَى الْعِلْمِ بِمَطْلُوبٍ خَبَرِيٍّ، وَهُوَ مُنْقَسِمٌ: إِلَى عَقْلِيٌّ مَحْضٌ، وَسَمْعِيٌّ  مَحْضٌ، وَمُرَكَّبٌ مِنَ الْأَمْرَيْنِ.

"Adapun definisi dalil menurut para ahli ushul fiqh adalah sesuatu yang dengannya memungkinkan untuk sampai kepada pengetahuan yang bersifat berita (bukan pengetahuan inderawi). Dalil tersebut terbagi menjadi dua, yaitu murni aqli (rasional), murni sam'i (tekstual) dan gabungan keduanya". 

Definisi serupa di atas mudah ditemukan dalam kitab-kitab lain, utamanya kitab ilmu ushul fiqh. Bedanya hanya soal istilah saja di mana sebagian ulama memakai istilah dalil sam'i dan sebagian lagi memakai dalil naqli, keduanya merujuk pada dalil yang bersifat tekstual dari Al-Qur’an dan Hadits. Dalil tekstual ini adalah hujjah yang diakui, namun kandungannya masih bisa dipilah menjadi dua; ada yang qath'î ad-dilâlah (petunjuknya sudah jelas tanpa ada kemungkinan multi tafsir) dan ada yang dhannî ad-dilâlah (petunjuknya masih belum jelas sebab mengandung beberapa kemungkinan penafsiran).  

Dalil naqli yang qath'î ad-dilâlah misalnya firman Allah هو الله أحد  (Dialah Allah Yang Maha Esa). Petunjuk dalil ini sudah jelas tentang keesaan Allah yang menyeluruh dalam semua aspek dan tak bisa ditafsirkan lain. Adapun dalil naqli yang dhannî ad-dilâlah misalnya firman Allah ثلاثة قروء (tiga quru'). Kata quru' bisa bermaksud masa suci dan bisa juga bermaksud masa haid. Dalil naqli jenis dhanni (multitafsir) ini banyak sekali, bahkan mendominasi, sehingga kita dapati para ulama berbeda pendapat dalam hampir semua hal. Meskipun Al-Qur’an-nya hanya ada satu dan kitab haditsnya “hanya” itu-itu saja dan semua mengimaninya sebagai hujjah akan tetapi masing-masing mujtahid mempunyai penafsiran berbeda atas teks itu sebab teksnya sendiri memang memungkinkan dipahami berbeda. Perbedaan penafsiran ini berlaku dalam teks tentang aqidah, fiqih, akhlaq, dan lainnya. 

Adapun dalil aqli berarti dalil rasional, yakni dalil yang didapatkan dari pemikiran logis. Bila anda melihat seorang anak, tentu anda tahu bahwa anak itu pastilah mempunyai ibu meskipun anda tak pernah melihat ibunya. Keberadaan ibu anak itu diperoleh dari sebuah kesimpulan rasional bahwa seorang anak pasti dilahirkan dari Rahim seorang ibu. Demikian juga ketika kita melihat semesta ini yang begitu teratur, kita tahu bahwa ada sosok Pencipta yang menciptakan dan mengaturnya sedemikian rupa dengan sangat teliti, meskipun kita tak bisa melihatnya di dunia ini. Dalil aqli ini bukan hanya diakui sebagai hujjah dalam agama, namun justru kebenaran dalil naqli seringkali bergantung padanya. 

Nyaris semua ilmu dalam khazanah Islam lahir dari rahim dalil aqli ini sebab faktanya untuk memahami dalil naqli sering kali butuh argumen rasional. Berikut ini sedikit contohnya:

Ilmu tafsir membutuhkan dalil aqli untuk menentukan apa kesesuaian (munâsabah) suatu ayat/surat dengan ayat/surat lainnya, untuk menyelesaikan kesan pertentangan antar-ayat (tanâqudl), untuk menentukan mana tafsiran yang paling relevan, untuk menentukan metodologi tafsir yang hendak dipakai dan seterusnya. Jangan dikira Allah dan Rasulullah sudah memberikan petunjuk literal tentang metodologi tafsir dan apa tafsiran tiap ayat yang sebenarnya dikehendaki Allah, semua itu adalah hasil ijtihad para ulama dengan dalil rasional.

Ilmu hadits membutuhkan dalil aqli untuk menentukan teori sahih tidaknya suatu sanad, kriteria keterpercayaan para perawi, kriteria persambungan riwayat antar perawi, kriteria kritik matan, tatacara menyelesaikan tanâqudl (pertentangan makna antar-hadits), tatacara penentuan tarjîh riwayat/matan dan seterusnya dalam ilmu hadits. Jangan dikira semua itu sudah dijelaskan secara tekstual oleh Rasulullah. Bahkan menjelaskan bahwa hadits terbagi menjadi shahîh, hasan, dan dla'îf saja, Rasulullah tak pernah melakukannya. 

Ilmu ushul fiqh yang menjadi pondasi lahirnya fiqih juga disusun sepenuhnya oleh dalil aqli. Jangan kira Allah dan Rasulullah pernah menjelaskan bagaimana tatacara memperlakukan nash umum dan khusus, nash yang mutlaq dan muqayyad, nash yang muhkam dan mutasyâbih perbedaan antara manthûq dan mafhûm, bagaimana memahami amar dan nahi, bagaimana menyelesaikan ta'ârudl al’-adillah, dan banyak hal lain yang dibahas dalam ilmu ushul fiqh. Semua itu adalah olah akal para mujtahid dalam memahami teks. Sama sekali tak ada petunjuk teknis yang jelas dari Allah dan Rasulullah tentang hal itu. Bahkan petunjuk operasional melakukan qiyâs atau analogi hukum saja, yang notabene bentuk intihad paling dasar, tak dijelaskan secara literal meskipun keberadaan qiyâs sendiri bisa dilacak sejak masa Rasulullah. 

Ilmu fiqih memerlukan dalil aqli untuk mencari definisi yang tepat, menentukan illat (faktor penentu) hukum suatu perkara, menentukan maqâshid as-syarî'ah, tahrîr mahal an-nizâ' (mengurai inti perbedaan pendapat), tarjîh al-aqwâl, dan lain sebagainya. Jangan dikira ada petunjuk tekstual dari Allah dan Rasulullah untuk itu semua. 

Demikian juga semua ilmu lainnya tak bisa lepas dari dalil aqli, tak terkecuali ilmu tauhid atau ilmu kalam. Menyangkal dalil aqli dengan anggapan "hanya akal-akalan" hanya menunjukkan dua hal: Pertama, menyangkal dasar keberadaan semua ilmu keislaman dari akar-akarnya. Kedua, menunjukkan tak adanya kapasitas dalam membahas ilmu-ilmu keislaman.

Ilmu tauhid atau kalam sebenarnya masuk dalam kategori ketiga dalam klasifikasi dalil di atas, yakni dalil gabungan antara naqli (tekstual ) dan aqli (rasional). Memahami tauhid harus sesuai dengan keduanya sekaligus sebab kita dilarang mengatakan sesuatu yang tidak ada landasan tekstualnya dan sekaligus diperintahkan untuk memakai akal sehat untuk memahaminya. 

Betapa banyaknya sanggahan Allah dalam al-Qur'an kepada para kaum kafir/musyrik gagal paham yang tak memakai akalnya secara benar. Jangan sampai kaum Muslimin meniru kebodohan penyembah berhala, penyembah api, penyembah matahari/bintang atau penyembah manusia yang dipertuhankan, semisal penyembah Fir’aun. Jangan sampai kaum Muslimin menisbatkan sifat yang tak layak bagi kemuliaan Allah sebab Allah sendiri menafikan sifat-sifat tak layak itu dalam firman-Nya سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ, “maka suci tuhanmu dari apa yang disifatkan oleh mereka itu” (QS. as-Shaffât: 180). Jangan sampai juga dalam hal aqidah berkata seperti perkataan penyembah berhala "Kami menemukan leluhur kami sudah berkeyakinan begitu" atau hanya taklid buta saja tanpa paham secara rasional tentang aqidahnya. 

Bahkan kaum Muslimin diperintah untuk belajar dari kisah pencarian Nabi Ibrahim akan Tuhan ketika melihat bulan dan matahari (QS. Al-An’âm: 76-79), belajar bagaimana argumennya ketika menghadapi Azar, pengasuhnya (QS. Al-An’âm: 74),  atau ketika menghadapi seluruh kaumnya setelah dia menghancurkan biara (QS. Al-Anbiyâ’: 52-67). Ternyata semua dalil Nabi Ibrahim saat itu memakai dalil aqli. Dan, memang faktanya ketika menghadapi non-Muslim, satu-satunya dalil yang bisa dipakai hanyalah dalil aqli sebab mereka sama sekali tak mempercayai seluruh dalil tekstual agama Islam. Demikian juga untuk memutuskan mana aqidah kaum Muslimin yang paling tepat ketika masing-masing kelompok sudah berdalil dengan ayat atau hadits shahih, hal ini hanya bisa dilakukan dengan dalil aqli, bukan naqli sebab justru dalil naqli itulah yang diperdebatkan maknanya. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.

Sabtu 15 September 2018 6:0 WIB
Bagaimana Munkar dan Nakir Bertanya kepada Ahli Kubur yang Banyak Tersebar dalam Sehari?
Bagaimana Munkar dan Nakir Bertanya kepada Ahli Kubur yang Banyak Tersebar dalam Sehari?
Kita sejak kecil diinfromasikan bahwa malaikat Munkar dan Nakir ditugaskan oleh Allah untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada ahli kubur. Hanya saja pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana dua malaikat ini menjalankan tugasnya sementara “pasien” atau ahli kubur yang mesti diperiksa begitu banyak?

Dalam sehari saja berapa banyak orang yang meninggal karena suatu sebab di sebuah negara. Belum lagi dengan orang yang meninggal dalam sehari di pelbagai negara di dunia. Bagaimana kalau dalam satu waktu banyak orang yang meninggal baik di tempat yang sama maupun menyebar di pelbagai belahan dunia?

Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, menjelaskan bahwa banyaknya jumlah orang yang meninggal dalam satu waktu atau satu hari dan sebaran lokasi orang yang meninggal di pelbagai belahan bumi tidak menghalangi malaikat Munkar dan Nakir dalam menjalankan tugasnya. Dengan kata lain, mereka semua akan mendapat pertanyaan yang sama seperti ahli kubur sebelumnya di alam barzakh.

وإذا مات جماعة في وقت واحد بأقاليم مختلفة سئلوا جميعا في ذلك الوقت ولا مانع من ذلك

Artinya, “Bila sekelompok orang meninggal dalam satu waktu di lokasi yang berbeda, mereka semua tetap akan ditanya [oleh Munkar dan Nakir] pada saat itu juga. Tidak ada halangan karena itu semua,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Imam Al-Qurthubi, sebagaimana dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten, mengatakan bahwa kendala jarak dan jumlah “pasien” yang begitu banyak tidak menyulitkan malaikat Munkar dan Nakir dalam menjalankan tugas mereka.

Imam Al-Qurthubi membayangkan fisik kedua malaikat ini yang demikian besar. Dengan fisik yang besar itu, kedua malaikat ini cukup sekaligus bertanya kepada ahli kubur yang banyak dan yang menyebar di pelbagai belahan dunia.

قال القرطبي جاز أن تعظم جثتهما ويخاطبان الخلق الكثير مخاطبة واحدة

Artinya, “Al-Qurthubi mengatakan, bisa jadi fisik kedua malaikat itu besar. keduanya cukup sekaligus bertanya kepada semua ahli kubur itu,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Sementara Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa Munkar dan Nakir adalah malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk menginterogasi ahli kubur. Tetapi dalam menjalankan tugas ini, keduanya tidak sendirian. Keduanya dibantu oleh malaikat khusus yang disiapkan untuk menjalankan tugas ini.

Malaikat Munkar dan Nakir bersama para malaikat yang bertugas khusus itu menanyakan ahli kubur di alam barzakh. Mereka semua akan menghadapi makhluk mukallaf baik kalangan jin dan manusia dengan sejumlah pertanyaan terkait keimanan.

وقال السيوطي يحتمل تعدد الملائكة المعدة لذلك كالحفظة ونحوهم والسؤال مخصوص بمن كان مكلفا ولو جنا لا ملكا 

Artinya, “Imam As-Suyuthi mengatakan, mungkin saja malaikat yang disiapkan untuk itu [bertanya] itu banyak seperti malaikat hafazhah dan seumpamanya. Pertanyaan secara khusus ditujukan untuk ahli kubur yang mukallaf meskipun bangsa jin, tidak untuk bangsa malaikat,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17-18).

Dari pelbagai keterangan ini, kita mendapatkan informasi bahwa malaikat Munkar dan Nakir meski hanya berdua (atau bersama para malaikat lain) tetap menjalankan tugas yang diperintahkan Allah SWT. Kedua tetap bekerja tanpa terkendala jarak dan jumlah ahli kubur, serta waktu. Wallahu a ‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 14 September 2018 21:15 WIB
Wajibkah Orang Awam Belajar Argumentasi Ilmu Aqidah?
Wajibkah Orang Awam Belajar Argumentasi Ilmu Aqidah?
Ilustrasi (meydan.tv)
Argumentasi kalâmiyah atau argumentasi-argumentasi teologis dalam ilmu kalam tergolong rumit bagi kebanyakan orang awam. Tak semua orang mampu mengenal Tuhan dengan cara dialektis, seperti misalnya menyusun argumen: “Alam ini berubah, setiap yang berubah pastilah baru, setiap yang baru pastilah ada perancangnya, perancang dari segalanya adalah Tuhan”. Argumentasi semacam ini penuh sesak dalam kitab-kitab tauhid sejak era klasik hingga kontemporer. Berjilid-jilid para tokoh ulama menulis argumentasi kalamiyah untuk membuktikan kebenaran teks Al-Qur’an dan hadits di hadapan para pengingkarnya dari kalangan non-muslim, atau yang salah memahaminya dari kalangan internal kaum muslimin sendiri.

Bila orang-orang yang terdidik mampu memahami argumentasi yang rumit itu sehingga kualitas keimanannya tak bisa digoyahkan sedikit pun, lalu bagaimanakah para Muslim awam yang kebanyakan tak memikirkan hal-hal sedemikian? Apakah keimanan mereka bermasalah? Imam as-Sanusi, salah satu pakar akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) menjelaskan dalam kitabnya sebagai berikut:

ولا نزاع بين المتكلمين في عدم وجوب المعرفة بالدليل التفصيلي على الأعيان وإنما هو كفاية وظاهر قول ابن رشد في نوازله إنما هو بالدليل التفصيلي مندوب إليه لا فرض كفاية

“Tak ada pertentangan di antara ahli kalam tentang tidak wajibnya mengetahui dalil mendetail terhadap masing-masing orang. Itu tak lain hanyalah fardhu kifâyah (kewajibn secara kelompok). Yang Nampak dari pendapat Ibnu Rusyd dalam Nawâzil-nya, bahwa setiap orang sunnah mengetahui dalil mendetail, tidak fardhu kifâyah”. (as-Sanusi, ‘Umdat Ahl at-Taufîq, halaman 13).

Senada dengan beliau, Imam ar-Ramli menjelaskan:

مَا سوى فرض الْعين من علوم أَحْكَام الله كالتوغل فِي علم الْكَلَام بِحَيْثُ يتَمَكَّن من إِقَامَة الْأَدِلَّة وأزالة الشّبَه فرض كفايه على جَمِيع الْمُكَلّفين ... وَلَا أَثم على من لم يتَمَكَّن لعدم وُجُوبه عَلَيْهِ

“Selain pengetahuan hukum Allah yang fardlu ‘ain, seperti misalnya mendalami Ilmu Kalam sekiranya memungkinkan menegakkan dalil dan melenyapkan kerancuan, adalah fardlu kifayah atas setiap muslim yang dewasa dan berakal … dan tiada dosa bagi orang yang tak mampu melakukannya sebab dia memang tidak terkena kewajiban”. (Syihabuddin ar-Ramli,  Ghâyatul Bayân Fî Syarh Zubad Ibn Ruslân, halaman 20).

Jadi, orang awam memang tidak diwajibkan mengetahui argumentasi-argumentasi kalamiyah yang mendetail itu. Mereka hanya perlu untuk meyakini dengan mantap bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Allah, bahwa Allah senantiasa mengurus seisi alam ini, bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah, bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan seterusnya yang merupakan keyakinan global. Mereka tak boleh sedikit pun meragukan keyakinan global semacam ini atau hanya ikut-ikutan saja tanpa ada kemantapan hati. Inilah yang dilarang dan dipermasalahkan oleh para ulama.

Adapun menguasai dalil-dalil terperinci dalam ilmu tauhid yang digunakan untuk menjelaskan seluruh konsep akidah yang rumit, yang dapat dipakai untuk mempertahankan ajaran agama dari para penentang, maka ini hanya diwajibkan bagi orang yang mampu saja di masing-masing daerah. Sekiranya di suatu daerah sudah ada yang melakukannya dan tugas tersebut dapat tertangani, maka yang lain tak wajib mempelajarinya tetapi hanya sunnah saja. Bahkan, menurut Ibnu Rusyd, dalil semacam ini adalah sunnah secara mutlak bagi semua orang. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.