IMG-LOGO
Tafsir

Ciri-ciri Ulama dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an

Senin 17 September 2018 19:45 WIB
Share:
Ciri-ciri Ulama dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an
Kata “ulama” tersebut di dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Fathir ayat 28. Ayat ini menyebut ulama sebagai hamba Allah yang takut kepada-Nya. Siapakah ulama yang dimaksud dalam ayat ini?

Sebelum melihat salah satu tafsir yang kami kutip, ada baiknya kita kutip Surat Fathir ayat 28.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya, “Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama,” (Fathir ayat 28).

Ayat ini tidak memberikan keterangan apapun perihal kriteria ulama. Tetapi ulama tafsir seperti Al-Qasimi mencoba menjelaskan siapa ulama yang dimaksud dalam Surat Fathir ayat 28 ini.

إنما يخشاه تعالى بالغيب، العالمون به عز وجل، وبما يليق به من صفاته الجليلية, وأفعاله الجميلة؛ لما أن مدار الخشية معرفة المخشي والعلم بشؤونه، فمن كان أعلم به تعالى، كان أخشى منه عز وجل. كما قال عليه الصلاة والسلام أنا أخشاكم لله وأتقاكم له

Artinya, “Ulama adalah mereka yang takut kepada Allah meskipun tidak melihat-Nya. Mereka juga memahami sifat keagungan dan perbuatan baik yang layak bagi-Nya karena titik tumpu dari rasa takut ini adalah pengenalan atas Zat yang ditakuti dan mengerti ‘kondisi’-Nya. Orang yang lebih mengenal-Nya, maka ia yang paling takut kepada-Nya sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Bukari, ‘Aku orang yang paling takut di antara kamu kepada Allah, dan aku yang paling bertakwa di antara kalian’,” (Lihat Syekh M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil, [tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz XIV, halaman 4983).

Syekh M Jamaluddin Al-Qasimi juga mengutip Al-Qasyani. Menurutnya, ulama memiliki banyak tingkatan. Ulama yang dimaksud pada ayat ini adalah ulama yang sampai pada derajat makifatullah.

Al-Qasyani juga menambahkan bahwa takut yang dimaksud pada ayat ini bukan takut dalam arti kengerian dari siksa. Rasa takut yang dimaksud di sini adalah sebentuk perasaan tunduk dan menyerah ketika membayangkan keagungan Allah dan melalui pengalaman batin secara sadar.

Mereka yang tidak memiliki kesadaran akan keagungan-Nya, tidak mungkin memiliki rasa takut. Oleh karenanya, ketika Allah tampak pada seseorang melalui keagungan-Nya, maka orang yang bersangkutan akan mengalami rasa takut yang sesungguhnya.

“Rasa takut” ini memiliki banyak tingkatan sesuai dengan kadar ilmu dan makrifat yang “dimiliki” oleh seseorang. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Jumat 10 Agustus 2018 21:30 WIB
Menafsirkan Surat Ad-Dhuha Ayat 7 dengan Metode yang Benar
Menafsirkan Surat Ad-Dhuha Ayat 7 dengan Metode yang Benar
Ilustrasi (ok.ru)
Memahami Al-Qur’an tidak bisa hanya menggunakan hasil terjemahan atau hanya berdasar pada teks dhahirnya saja. Apabila Al-Qur’an dipahami menggunakan terjemahan harfiah atau teks dhahir ayat saja maka hasil pemahaman yang diperoleh bisa jadi akan rancu. Al-Qur’an sebagai teks suci, harus dipahami menggunakan piranti keilmuan yang lengkap, salah satunya adalah menggunakan ilmu tafsir.

Baru-baru ini viral ceramah seorang ustadz yang “dengan berani” menyatakan bahwa Muhammad (tidak menggunakan kata “Nabi”) sesat. Ia beralasan bahwa pernyataannya mengacu pada ayat 7 surat Al-Dhuha yang berbunyi (ووجدك ضالا فهدى).

Apakah dapat dibenarkan pendapat di atas, bahwa Nabi Muhammad sesat?

Dalam kajian ilmu tafsir, penafsiran Al-Qur’an dilakukan dengan empat metode. Pertama, menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain. Kedua, menafsirkan Al-Qur’an dengan hadits Nabi. Ketiga, menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan qaul (perkataan) sahabat. Keempat, menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan qaul tabi’in. 

Dalam hal ini, maka tidak boleh seorang menafsirkan Al-Qur’an, mengutarakan makna Al-Qur’an tanpa memahami keempat metode di atas, apalagi hanya berdasarkan terjemahan. Apabila ia berani menafsirkan Al-Qur’an tanpa menggunakan keempat metode di atas dan tidak memiliki seperangkat keilmuan pendukung, maka ia masuk pada ancaman Nabi yang berbunyi: “من فسّر القرأن برأيه فليتبوأ مقعده من النار”. Artinya, “Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pendapatnya semata, maka tempatnya kelak di neraka”. Dalam ulasan ulama, ada yang mengartikan bahwa kata “برأيه” adalah “بغير علم” yang artinya “tanpa disertai seperangkat ilmu”.

Oleh karena itu, ada tiga hal yang perlu dijelaskan untuk menanggapi perihal pernyataan sang ustadz, yaitu: (1) menganalisis kata “ضالا” dari sisi bahasa (etimologi), (2) mengalisis kata “ضالا” lewat penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain, dan (3) etika terhadap Nabi.

Pertama, secara bahasa, apabila ada pohon di tengah-tengah padang sahara atau di tengah-tengah hutan belantara tanpa ada pohon lain yang menyandinginya, maka pohon tersebut dikatakan “dhallah”. Artinya, Nabi sebelum diangkat menjadi seorang rasul, beliau banyak menyaksikan kaumnya menyembah berhala dan perilaku syirik lainnya, sementara beliau sendiri sedang dalam keadaan sendirian (tidak mengikuti perilaku mereka) dan kebingungan tanpa ada orang lain yang menyertainya.

Maka, dalam ayat tersebut digunakan diksi kata “dhal” sesuai dengan keadaan Nabi yang menjauh dan tidak mengikuti perilaku mereka, bukan berarti sesat kebalikan kata hidayah. Dengan demikian, maka menurut Imam Sayyid Al-Tanthawiy, makna dari (ووجدك ضالا فهدى) adalah “tidak ada seorang pun yang mengikuti agamamu, engkau seorang diri tidak ada yang menyertaimu, maka sebab engkau mereka mendapat hidayah menuju kepada-Ku.” 

Kata “ضالا” juga berarti bingung, bukan sesat kebalikan kata hidayah. Ibnu Abbas berkata:

 ضل النبي ﷺ وهو صغير في شعاب مكة، فرآه أبو جهل منصرفا عن أغنامه، فردّه إلى جده عبد المطلب فمن الله عليه بذلك حين رده إلى جده على يدي عدوه

“Nabi bingung di lembah Makkah saat masih kecil, kemudian Abu Jahal melihatnya dalam keadaan menggembala kambing-kambingnya. Maka Abu Jahal mengembalikan Nabi kepada kekeknya, Abdul Mutthalib. Sebab itu Allah menganugerahkan kepadanya saat dikembalikan kepada kakeknya dari terkaman musuh-musuhnya”. 

Kedua, dari sisi ilmu tafsir, kata “ضالا” dapat dipahami maknanya lewat ayat yang lain, yaitu Surat Asy-Syura ayat 52 (ما كنت تدري ما الكتاب ولا الإيمان ولكن جعلناه نورا). Dalam hal ini Imam Ibnu Katsir dan Imam Jalaluddin Al-Suyuthiy, penulis Tafsir bil Ma’tsur, menafsirkan kata di atas dengan ayat di atas, yang berarti tidak tahu dan bingung. Artinya, Nabi tidak mengetahui antara iman dan Al-Qur’an, bukan sesat yang menyekutukan-Nya.

Imam Sayyid Al-Tanthawiy, mantan Syaikhul Azhar, menguraikan bahwa maksud ayat ini bukan menyesatkan Nabi atau menjatuhkan kemuliaan Nabi, namun maksudnya adalah memuliakan dan membanggakan Nabi dengan memberikan pengetahuan yang beliau tidak ketahui, memperlihatkan hal gaib yang beliau tidak bisa melihatnya.

Selain itu, kata “ضالا” juga bermakna lupa sebagaimana dijelaskan dalam Surat Yusuf ayat 3 ( وإن كنت من قبله لمن الغافلين) dan Surat Thaha ayat 52 (لايضل ربّي ولا ينسى).  Imam Al-Qurthuby menjelaskan bahwa Nabi lupa akan urusan kenabian, berikut teksnya: 

ووجدك ضالا فهدى) غافلا عما يراد بك من أمر النبوة فهداك، أي أرشدك

Imam Al-Thabariy meriwayatkan dari As-Suddiy (ووجدك ضالا فهدى) bahwa Nabi bersama kaumnya selama empat puluh tahun, namun pendapat ini kemudian dijelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah Nabi hidup bersama kaumnya yang tersesat kemudian Allah memberi petunjuk kepada mereka lewat Nabi. Artinya, dalam hal ini objek yang sesat bukanlah Nabi Muhammad ﷺ, tapi kaumnya yang mana beliau berada di tengah-tengah mereka.

Ketiga, jika mengatakan Nabi sebagai orang yang sesat, maka secara tidak langsung ia mengatakan Nabi tidak maksum dan menafikan kemuliaan Nabi. Tidak sepantasnya kita sebagai umat Nabi merendahkan sifat keluhuran Nabi. Meskipun Nabi adalah manusia biasa namun beliau adalah sebaik-baiknya seluruh makhluk.

Imam Al-Bushairiy berkata:

فمبلغ العلم فيه أنه بشر ** وأنه خير خلق الله كلهم

Artinya: “Puncak dari pengetahuan bahwa Nabi adalah seorang manusia, dan beliau sebaik-baiknya seluruh makhluk”.

Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip oleh Imam Sayyid Al-Tanthawiy dalam tafsir Al-Wasith-nya, ketika menafsirkan Ad-Dhuha ayat 7 berkata: “Nabi Muhammad lahir dan hidup menganut paham monotois, mengesakan Tuhan, ia tidak menyembah pada berhala, makhluk. Ia tidak melakukan kejahatan sehingga dikenal oleh kaumnya sebagai orang jujur dan terpencaya. Kesesatan dalam hal syirik dan kesesatan dalam hal mengikuti hawa nafsu dalam perbuatan adalah hal yang sangat jauh dari pribadi Nabi yang mulia. Tapi bisa jadi ada kesesatan yang berupa kebingungan, demikian adalah yang dimaksud dari ayat di atas”. 

Dalam hal ini, Muhammad Abduh, sebagai seorang reformis dan pembaharu yang—biasanya—dikenal mengedepankan akal dan logikanya, menekankan kepada kita untuk beretika dalam memahami pribadi Nabi terlebih terkait kemaksuman Nabi.

Para ulama ketika menafsirkan ayat ini (Ad-Dhuha 7) mereka sangat berhati-hati, bahkan tidak sedikit mereka mengangkat beberapa penafsiran dan pemaknaan yang sesuai dengan keluhuran pribadi Nabi karena khawatir salah menginterpretasi tentang pribadi dan kemaksumannya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa di hadapan Nabi seseorang tidak diperkenankan mengeraskan suaranya melebihi intonasi suara Nabi. Allah berfirman:

ياأيها الذين أمنوا لاترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي ولا تجهروا له بالقول كجهر بعضكم لبعض

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain.” (QS Al-Hujarat 2)

Dalam ayat di atas, Imam Al-Tanthawiy mengutarakan bahwa tidak sebaiknya seseorang memanggil Nabi dengan panggilan “Muhammad” saja tanpa didahului oleh kata Nabi atau Rasul, dll. 

Selain itu, tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an menggunakan seruan kepada Nabi Muhammad dengan namanya. Seruan yang digunakan dalam Al-Qur’an menggunakan “ياأيها الرسول" atau "ياأيها النبي". Ini menunjukkan betapa mulia dan luhurnya seorang Nabi Muhammad di sisi Allah. Kita sebagai ummatnya, yang senantiasa mengharapkan syafa’atnya kelak di hari kiamat, tidak selayaknya merendahkan sifat keluhuran Nabi apalagi sampai menyesatkannya.

Al-Qur’an sebagai kalam ilahi, tidak seharusnya dipahami hanya lewat terjemah harfiah sebab hal tersebut menjerumuskan seorang pada kesalahan. Demikian pula, tidak sepantasnya seseorang menafsirkan Al-Qur’an tanpa membaca terlebih dahulu ungkapan para ulama-ulama terdahulu.

Imam Al-Syafi’i berpesan kepada kita semua:
 
تفقه قبل أن ترأس، فإن رأست فلا سبيل إلى التفقه

Artinya: “Belajarlah sebelum kamu menjadi tenar, sebab apabila kamu sudah tenar, maka tidak kesempatan bagimu untuk belajar.” (Imam Nawawi, al-Majmû' Syarh al-Muhadzdzab, Jedah, Maktabah al-Irsyad, t.t, juz 1, hal. 69)


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

Kamis 9 Agustus 2018 6:0 WIB
Benarkah Nabi Muhammad Sesat sebelum Menjadi Nabi?
Benarkah Nabi Muhammad Sesat sebelum Menjadi Nabi?
Beredar luas ceramah seorang ustadz, yang tengah naik daun di kalangan anak muda, yang mengatakan bahwa maulid Nabi Muhammad itu seolah memeringati sesatnya Nabi Muhammad. Karena menurutnya, Nabi Muhammad dilahirkan dalam keadaan sesat.

Ustadz yang pernah mengaku tidak lulus pesantren, dan pernah di penjara, lantas kemudian hijrah itu, berpendapat bahwa hal itu mengacu pada QS ad-Dhuha ayat 7, yang berbunyi:

‎وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Kata dhallan dalam ayat tersebut diartikan sebagai sesat oleh sang ustadz. Dengan bertanya pada seorang ustadz lain yang ada disampingnya, ayat tersebut diterjemahkan menjadi “ketika Allah mendapatimu dalam keadaan SESAT lalu Allah memberimu petunjuk”.

Terjemah semacam ini berbeda dengan terjemahan Kemenag: “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”. Menerjemahkan kata dhall dalam konteks surat ini sebagai sesat amat sangat berbahaya.

Bagaimana kalau kita lihat kitab Tafsir?

Tafsir at-Thabari mengutip penjelasan as-Suddi yang mengatakan:

وقال السدي في ذلك ما حدثنا ابن حميد ، قال : ثنا مهران ، عن السدي ( { ووجدك ضالا } ) قال : كان على أمر قومه أربعين عاما . وقيل : عني بذلك : ووجدك في قوم ضلال فهداك .

Jadi kebingungan atau “kesesatan” itu berkenaan dengan kaum jahiliah dimana Nabi tinggal bersama mereka selama 40 tahun sebelum mendapatkan wahyu.

Dengan demikian yang sesat itu mereka, bukan Nabi. Nabi dalam kondisi galau atau kebingungan menghadapi kaumnya itu. Sampai kemudian diberi petunjuk berupa wahyu oleh Allah. Kalau Nabi juga sesat saat itu, lha apa bedanya sama kaum jahiliyah? Bahaya banget kan penjelasan ustadz yang terkenal dengan sebutan gapleh ini (gaul tapi shaleh). Janganlah menyamakan kondisi pribadi sang ustadz sebelum dia hijrah dengan kondisi Muhammad bin Abdullah sebelum menerima wahyu.

Sayid Quthb dalam kitab tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan lebih jauh:

“Dulu kamu dibesarkan di lingkungan jahiliah dengan pandangan hidup mereka dan kepercayaan mereka yang kacau balau, beserta perilaku dan tata kehidupan yang menyimpang dari jalur kebenaran. Kemudian Allah memberikan petunjuk kepadamu dengan wahyu yang diturunkanNya kepadamu dan dengan manhaj yang kamu bisa berhubungan denganNya. Petunjuk dari kebingungan akan akidah dan kesesatan kelompok tersebut merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah.”

Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan:

‎وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ [إِنَّ] الْمُرَادَ بِهَذَا أَنَّهُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، ضَلَّ فِي شِعَابِ مَكَّةَ وَهُوَ صَغِيرٌ، ثُمَّ رَجَعَ. وَقِيلَ: إِنَّهُ ضَلَّ وَهُوَ مَعَ عَمِّهِ فِي طَرِيقِ الشَّامِ، وَكَانَ رَاكِبًا نَاقَةً فِي اللَّيْلِ، فَجَاءَ إِبْلِيسُ يَعْدِلُ بِهَا عَنِ الطَّرِيقِ، فَجَاءَ جِبْرِيلُ، فَنَفَخَ إِبْلِيسَ نَفْخَةً ذَهَبَ مِنْهَا إِلَى الْحَبَشَةِ، ثُمَّ عَدَلَ بالراحلة إلى الطريق. حكاهما البغوي

“Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sesungguhnya Nabi Saw. pernah tersesat di lereng-lereng pegunungan Mekah saat ia masih kecil, kemudian ia dapat pulang kembali ke rumahnya. Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya ia pernah tersesat bersama pamannya di tengah jalan menuju ke negeri Syam. Saat itu Nabi Saw. mengendarai unta di malam yang gelap, lalu datanglah iblis yang menyesatkannya dari jalur jalannya. Maka datanglah Malaikat Jibril yang langsung meniup iblis hingga terpental jauh sampai ke negeri Habsyah. Kemudian Jibril meluruskan kembali kendaraan Nabi Saw. ke jalur yang dituju. Kedua kisah ini diriwayatkan dari al-Bahgawi.”

Ibn Katsir menerangkan kata dhall itu dalam konteks nyasar atau tersesat dalam perjalanan. Bukan tersesat dalam arti tauhid ataupun kesalahan lainnya.

Biar komplit saya kutip di bawah ini dari Imam Mawardi dalam kitab tafsirnya an-Nukat wal ‘Uyun:

‎{ وَوَجَدَكَ ضالاًّ فَهَدَى } فيه تسعة تأويلات:

‎أحدها: وجدك لا تعرف الحق فهداك إليه، قاله ابن عيسى.

‎الثاني: ووجدك ضالاً عن النبوة فهداك إليها، قاله الطبري.

‎الثالث: ووجد قومك في ضلال فهداك إلى إرشادهم، وهذا معنى قول السدي.

‎الرابع: ووجدك ضالاً عن الهجرة فهداك إليها.

‎الخامس: ووجدك ناسياً فأذكرك، كما قال تعالى: { أن تَضِل إحداهما }.

‎السادس: ووجدك طالباً القبلة فهداك إليها، ويكون الضلال بمعنى الطلب، لأن الضال طالب.

‎السابع: ووجدك متحيراً في بيان من نزل عليك فهداك إليه، فيكون الضلال بمعنى التحير، لأن الضال متحير.

‎الثامن: ووجدك ضائعاً في قومك فهداك إليه، ويكون الضلال بمعنى الضياع، لأن الضال ضائع.

‎التاسع: ووجدك محباً للهداية فهداك إليها، ويكون الضلال بمعنى المحبة، ومنه قوله تعالى: { قالوا تاللَّه إنك لفي ضلالك القديم } أي في محبتك

Beliau menjelaskan ada sembilan makna ayat ini, yaitu dalam konteks ketidakmengertian akan al-haq (kebenaran), masalah kenabian, kaum jahiliyah, hijrah, lupa, mencari qiblat, ayat yang diturunkan, kesempitan/kehilangan urusan umat, bahkan ada pula yang memaknainya dengan menyenangi petunjuk, maka diberilah petunjuk.

Dari penjelasan di atas tidak ada ulama yang mengatakan Nabi Muhammad itu lahir dalam keadaan sesat. Tidak ada pula ulama yang mengatakan beliau sesat sebelum diangkat menjadi Nabi. Justru sekian banyak riwayat mengatakan sejak kecil beliau dijaga Allah untuk tidak pernah menyembah berhala.

Pertanyaannya: kalau kaum jahiliyah di sekitar beliau saat itu menyembah berhala, lantas apa yang dilakukan oleh beliau sebelum diangkat sebagai Rasul?

Imam Alusi dalam kitab Tafsir Ruh al-Ma’ani menjelaskan bahwa sebelum diangkat menjadi Nabi, Muhammad bin Abdullah mengikuti agama yang hanif, yang berasal dari ajaran Nabi Ibrahim.

Begitu pula Ibn Hajar dalam kitab Fathul Bari saat menjelaskan riwayat “Aku diutus dengan agama yang hanif dan samhah” beliau menulis:

‎قال رسول الله صلي الله عليه و سلم : بعثت بالحنيفية السمحة, الحنيفية :أي ملة ابراهيمية, والحنيف المائل عن الباطل وسمي ابراهيم عليه السلام حنيفا لأنه مال عن عبادة الأوثان. السمحة: السهلة والملة السمحة هي الملة التي لا حرج فيها ولا تضييق علي الناس وهي الملة الاسلام ,جمع بين حنيفية و كونها سمحة فهي حنيفية في التوحيد سهلة في العمل. انتهي الوجيز في قواعد الفقه الكلية د. طلعت عبد الغفار حجاج جامعة الأزهر كلية الدراسات الاسلامية والعربية للبنات

“Al-Hanifiyah yaitu Millah Ibrahim, dan Hanif (lurus) yang menyimpang dari kebatilan dan dinamakan Ibrahim As sebagai seorang yang Hanif kerana beliau tidak menyembah berhala. As-samhah, yaitu mudah dan jalan (agama) yang mudah. Maknanya jalan (agama) yang tiada kepayahan padanya dan tiada kesempitan pula kepada manusia untuk mengamalkannya dan itu adalah millah (agama) Islam, dihimpunkan di antara hanifiyah dan samhah karena lurus pada Tauhid dan mudah dalam hal pengamalan.”

Jadi jelaslah bahwa Muhammad bin Abdullah itu bukan orang sesat dan tidak mengikuti kepercayaan kaum jahiliyah saat beliau belum menjadi Nabi.

Lantas apakah Nabi Muhammad itu pernah melakukan dosa saat sebelum diangkat menjadi Nabi? Mari kita simak penjelasan kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:

‎وَالأَْنْبِيَاءُ مَحْفُوظُونَ بَعْدَ النُّبُوَّةِ مِنَ الذُّنُوبِ الظَّاهِرَةِ كَالْكَذِبِ وَنَحْوِهِ، وَالذُّنُوبِ الْبَاطِنَةِ، كَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

Setelah diangkat menjadi Nabi, Para Nabi itu terjaga dari dosa yang lahiriah seperti berbohong dan sejenisnya, maupun dosa batiniah seperti dengki, sombong, riya’, dan lainnya.

أَمَّا عِصْمَتُهُمْ قَبْل النُّبُوَّةِ فَقَدِ اخْتُلِفَ فِيهَا، فَمَنَعَهَا قَوْمٌ، وَجَوَّزَهَا آخَرُونَ، وَالصَّحِيحُ تَنْزِيهُهُمْ مِنْ كُل عَيْبٍ؛

“Adapun kema’shuman sebelum kenabian maka terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama; ada sebagian yang menolaknya dan ada pula yang membolehkannya. Yang benar itu adalah mereka (maksudnya para Nabi sebelum menjadi Nabi) itu dibersihkan dari semua aib/cela.”

Itulah sebabnya Nabi Muhammad sejak mudanya sudah dikenal dengan sebutan al-Amin (orang yang terpercaya) karena track record-nya sebagai pribadi yang jujur dan mulia dikenal luas saat itu.

Karena memahami QS ad-Duha hanya lewat arti harfiah terjemahan saja, tanpa menyempatkan diri membuka kitab tafsir dan literatur lainnya, sang ustadz semakin parah membangun narasinya dengan menyerang perayaan maulid, dengan gaya sinisnya. Seolah dia memakai logika: kalau saat lahir Muhammad itu dalam keadaan sesat, mengapa kelahirannya itu hendak diperingati? Apanya yang mau diperingati?

Narasi yang coba dibangunnya menjadi berantakan karena asumsinya sudah keliru. Ayat yang dia kutip ternyata menurut para ulama tafsir tidak mengatakan Muhammad itu sesat. Kalau Muhammad itu sebelumnya sesat, nanti ada yang bertanya orang sesat kok jadi Nabi? Piye to jal? Mikirrrr.

Dulu ada yang mengatakan bahwa Nabi gagal mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin semasa hidupnya, hanya karena ingin membangun narasi mendukung khilafah. Sekarang sejak lahir Nabi dibilang sesat, hanya karena hendak menyerang peringatan maulid.

Duh, Gusti.....
Kenapa justru para ustadz mencela Nabi-Mu....
Mohon Engkau mengampuni kami semua.
Nastaghfirullah wa natubu ilayk.

Tabik,


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Senin 6 Agustus 2018 13:45 WIB
Makhluk Unik Berbungkus Islam Menurut Habib Ahmad bin Novel Jindan
Makhluk Unik Berbungkus Islam Menurut Habib Ahmad bin Novel Jindan
Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali 'Imran ayat 173:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Artinya, “(Orang-orang beriman, yaitu) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah bagi kami Allah dan Allah adalah sebaik-baik Tuhan yang mengurus urusan.'"


Surat Ali 'Imran Ayat 174 berbunyi:

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

Artinya “Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, sedang keburukan tidak menyentuh mereka, dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Pada Surat Ali 'Imran ayat 175, Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakutnakuti para pengikutnya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman ”.

Ayat ini diturunkan oleh Allah tatkala Nabi Muhammad dan para sahabatnya kembali dari perang Uhud. Saat itu Abu Sufyan, panglima perang kaum kafir Quraisy bertekad untuk melakukan serangan balik untuk menghabisi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang terluka parah usai Perang Uhud. Tetapi, prajurit kaum kafir Quraisy telah dirasuki rasa takut sehingga usaha Abu Sufyan gagal. Tidak berhenti sampai di situ, Abu Sufyan berusaha untuk menebar provokasi dan berita hoaks.

Al-Imam Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Abu Sufyan membayar orang-orang Arab badui untuk menebar kabar di tengah barisan Nabi Muhammad dan para sahabatnya, yaitu kabar bahwa Abu Sufyan telah mengumpulkan pasukan yang sangat besar dari suku bangsa Arab untuk menghabisi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat sampai ke akarnya.

Saat berita diembuskan Nabi Muhammad telah keluar pada hari berikutnya dari Madinah bersama para sahabatnya untuk melanjutkan pertempuran. Saat itu Rasulullah mengatakan, “Semua yang kemarin ikut kami dalam Perang Uhud, maka hendaknya hari ini ikut barsama kami untuk melanjutkan pertempuran. Mereka yang kemarin tidak ikut bersama kami di medan Perang Uhud, maka tidak boleh ikut bersama kami di hari ini.”

Para sahabat keluar dari Madinah dalam keadaan terluka parah demi memenuhi perintah Rasulullah untuk melanjutkan pertempuran. Tatkala mereka tiba di suatu tempat di luar Kota Madinah yang dikenal dengan nama Hamra Al-Asad, sampailah kepada mereka kabar yang sengaja disebar oleh Abu Sufyan melalui orang-orang Arab badui.

Namun yang sangat luar biasa, para sahabat sama sekali bergeming ketika mendengar kabar tersebut. Keimanan mereka kepada Allah semakin bertambah. Saat itu setiap individu dari mereka menyatakan apa yang memang sudah berakar dalam jiwa dan sanubari mereka yaitu, “Hasbunallah wa ni’mal wakil,” artinya "Cukuplah bagi kami Allah. Allah adalah sebaik-baik Tuhan yang mengurus urusan."

Allah melihat keimanan para sahabat dan penghambaan sejati mereka kepada-Nya, ketulusan dan pengorbanan mereka. Allah menyaksikan hati para sahabat yang penuh dengan Allah dan Rasul-Nya, hati yang tidak memuat selain Allah.

Surat Ali 'Imran Ayat 174 berbunyi:

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

Artinya, “Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, sedang keburukan tidak menyentuh mereka. Mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.”

Apa yang dilakukan oleh Abu Sufyan dengan menebar kabar melalui orang-orang Arab badui dengan tujuan menebar keresahan, rasa takut, provokasi, membuat mereka mundur, dan khawatir adalah apa yang digambarkan Surat Ali 'Imran Ayat 175:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti para pengikutnya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

Setiap pihak yang menyebarkan kabar atau berita dengan tujuan agar umat Islam takut dan gentar kepada selain Allah, maka dia adalah setan. Kabar yang dia sebarkan adalah kabar yang dibuat setan. Orang yang termakan oleh kabar tersebut hingga dia menjadi takut dan gentar kepada selain Allah adalah pengikut setan.

Apa yang saya kemukakan di atas adalah keadaan orang-orang beriman sejati dari generasi sahabat Rasul. Namun muncul di zaman ini makhluk unik berbungkus Islam.

Terjadi di zaman ini kasus yang sama, tetapi berbeda dalam hal menyikapinya. Namun yang unik adalah bungkusnya bungkus Islam, tetapi di dalam bungkus hanyalah makhluk lain nan-unik.

Berita disebar melalu media sosial. Broadcast tiada henti bekerja. Dalam sekejap kabar langsung sampai ke berbagai penjuru. Semua kabar tersebut berisi berita tentang pihak-pihak yang berusaha menggempur Islam, pihak asing yang ingin menguasai negeri tercinta ini, antek-antek yang mengusai sendi-sendi pemerintahan dan berbagai kabar yang sangat banyak sekali.

Semua itu, tujuannya agar umat Islam resah, khawatir serta takut kepada selain Allah, membuat hati memuat kepada selain Allah.

Bagaimana umat Islam saat ini menyikapinya?

Kita semua menyaksikan dengan mata kepala kita, di mimbar-mimbar, di masjid-masjid, di berbagai tempat, kebanyakan umat Islam menyikapinya dengan cara yang beragam, dan sedikit yang menyikapinya dengan cara yang sama dengan para sahabat Rasulullah. Kita tidak melihat iman yang bertambah, dan kita tidak melihat setiap individu umat islam saat ini menyatakan, “Hasbunallah wa ni’mal wakil”, "Cukuplah bagi kami Allah dan Allah adalah sebaik-baik Tuhan yang mengurus urusan". Tidak, orang-orang yang seperti ini justru terasing dan menjadi segelintir yang asing kita lihat.

Bahkan yang kita lihat saat ini bahwa para penebar kabar dan berita tersebut adalah para penyeru Islam itu sendiri. Surat Ali 'Imran Ayat 175 berbunyi:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakutnakuti para pengikutnya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

Itulah kisah para sahabat Rasulullah yang terdahulu, dan inilah kisah makhluk unik berbungkus Islam masa ini. Wallahu a'lam.

Jumat 14 Dzulqaidah 1439 H/27 Juli 2018.

(Asy-Syariif Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan, pengasuh Majelis Al-Fachriyah)