IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Sikap Rasulullah Terhadap Mereka yang Menolak Islam

Rabu 19 September 2018 6:0 WIB
Share:
Sikap Rasulullah Terhadap Mereka yang Menolak Islam
Ilustrasi: bihac.nahla.ba
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Sabda Rasulullah dalam sebuah hadits.

Muhammad diangkat menjadi nabi dan utusan Allah (Rasulullah) yang terakhir. Sama seperti dengan nabi dan rasul sebelum-sebelumnya, tugas Muhammad adalah mengajak umat manusia agar menyembah Allah semata melalui ajaran agama Islam. Agama penyempurna atas agama-agama nabi dan rasul sebelumnya. 

Rasulullah adalah orang yang gigih dan ulet dalam mendakwahkan ajaran agama Islam. Mula-mula, Rasulullah menyebarkan Islam dengan cara sembunyi-sembunyi. Tapi setelah umat Islam semakin banyak dan kuat, ia menyampaikan kebenaran Islam kepada masyarakat Arab dengan cara terang-terangan. 

Rasulullah terus mendakwahkan kebenaran Islam kepada siapapun. Tidak pandang bulu apakah dia seorang yang kaya, miskin, muda, tua, suku ini, suku itu, rakyat biasa, elit atau tokoh masyarakat, semuanya diseru untuk memeluk Islam. Agama keselamatan.   

Rasulullah sadar bahwa tugasnya adalah hanya menyampaikan kebenaran Islam, bukan menjadikan seseorang masuk Islam. Apakah orang tersebut memeluk Islam atau tidak itu bukan urusan Rasulullah lagi. Mengapa? Karena hidayah adalah urusan Allah semata. 

Ada yang langsung menerima ajaran Islam. Ada pula yang menolak mentah-mentah ajaran Islam yang didakwahkan Rasulullah. Lalu bagaimana sikap Rasulullah terhadap mereka yang menolak ajaran Islam?

Salah satu yang menolak Islam terang-terangan adalah masyarakat Thaif. Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah karya Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Rasulullah berada di Thaif selama 10 hari. Selama itu pula Rasulullah menemui elit atau tokoh masyarakat Thaif, mengajaknya diskusi, dan menyerunya masuk Islam. Tapi apa hasil, mereka menyerukan masyarakat Thaif untuk mengusir Rasulullah. Tidak sampai di situ, mereka juga mencaci maki dan melempari batu Rasulullah hingga terumpahnya basah oleh darah.

Sikap Rasulullah terhadap masyarakat Thaif yang memusuhi dan menolaknya begitu bijak. Ia tidak sakit hati atau dendam. Bahkan Rasulullah mendoakan masyarakat Thaif agar diberi petunjuk dan tidak mendapatkan azab dari Allah, sebagaimana umat-umat terdahulu yang langsung diazab manakala mereka menolak nabi atau utusan Allah.

“Ya Allah berikanlah petunjuk kepada umatku (masyarakat Thaif) dan janganlah Engkau mengazab mereka, sebab mereka berbuat seperti itu karena tidak mengetahui,” doa Rasulullah.

Hal yang sama juga ditunjukkan Rasulullah manakala mendapat aduan dari sahabatnya, Thufail bin Amr al-Dausi, tentang penolakan dakwah Islam. Dikutip dari buku Love, Peace, and Respect: 30 Teladan Nabi dalam Pergaulan, Thufail bin Amr al-Dausi menemui Rasulullah di Makkah untuk mengadukan dakwahnya yang ditolak dan dihina di Daus. 

Lagi-lagi Rasulullah mendoakan mereka yang menolak dakwahnya. Rasulullah berdoa kepada Allah agar penduduk Daus mendapatkan petunjuk dari Allah dan datang ke Makkah dengan memeluk Islam. Rasulullah juga memberikan nasihat kepada Thufail bin Amr al-Dausi agar berdakwah dengan cara yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, bukan dengan cara-cara kekerasan. 

Itulah sikap Rasulullah terhadap mereka yang menolak Islam. Mendoakan mereka yang menolak setelah memberikan pemahaman tentang kebenaran ajaran Islam, bukannya memaksa apalagi dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Ditambah, Rasulullah juga berpesan agar dakwah itu harus dengan cara yang baik, lemah lembut, dan penuh kasih sayang. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Selasa 18 September 2018 17:0 WIB
Belajar Mengakui Kesalahan Diri dari Rasulullah
Belajar Mengakui Kesalahan Diri dari Rasulullah
Mengakui kesalahan diri adalah salah satu sikap yang paling berat untuk dilakukan. Terlebih jika yang melakukan kesalahan tersebut adalah orang yang memiliki kedudukan atau jabatan tinggi, atau merupakan tokoh besar. Tentu mereka akan akan enggan mengakui kekhilafan diri. Bahkan, tidak sedikit yang mencari kambing hitam atas kesalahan yang diperbuatnya. 

Hanya orang besar dan yang berlapang dada lah yang berani mengakui kesalahan diri atau kekhilafannya. Mengapa demikian? Karena setiap orang memiliki hasrat untuk dianggap penting dan hebat oleh orang orang lain. Oleh sebab itu, mereka beranggapan bahwa dengan mengakui kesalahan diri maka harkat dan martabat mereka akan menurunkan. Tentu ini akan merugikan citra mereka. 

Padahal sebetulnya, berani mengakui kesalahan diri adalah sikap yang gentle. Ia berani mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya. Bukan malah menyembunyikan, atau mengelaknya. 

Terkait sikap berani mengakui kesalahan diri kita bisa belajar dari Rasulullah. Seorang yang memiliki kedudukan paling agung di dunia. Nabi dan rasul terakhir. Seseorang yang paling dicintai Allah, Tuhan sekalian alam. Dan seseorang yang paling banyak diikuti dan dicintai oleh umat manusia. Meski memiliki kedudukan yang begitu tinggi, Rasulullah selalu mengakui kekhilafan yang diperbuat.

Salah satu cerita datang dari sebuah hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i dan Abu Dawud dari Abu Said bin Jubair. Dalam hadist tersebut diceritakan bahwa  suatu ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan sesuatu kepada para sahabatnya. Naasnya, pada kesempatan itu ada salah seorang sahabat yang jatuh dan mengenai pelepah kurma yang dibawa Rasulullah hingga menjerit kesakitan. 

Melihat kejadian itu, Rasulullah langsung memanggil sahabat tersebut. Bukan menyuruhnya untuk tutup mulut, Rasulullah malah meminta sahabat tersebut untuk membalasnya. Yakni, menusuk perut Rasulullah dengan pelepah kurma juga sebagai bentuk sikap berani mengakui kekhilafan. Tentu saja, sahabat tersebut langsung menolak permintaan tersebut. Ia mengaku sudah memaafkan apa yang dilakukan Rasulullah itu.

Kisah lain tentang Rasulullah yang berani mengakui kesalahan diri datang dari Ibnu Umar. Dikutip buku Love, Peace, dan Respect: 30 Teladan Nabi dalam Pergaulan, diceritakan bahwa suatu saat Rasulullah sedang mengimami shalat. Pada saat membaca suatu surat –setelah membaca Fatihah- Rasulullah tiba-tiba lupa dan ragu untuk membaca terusan sebuah ayat dalam surat tersebut.

Setelah shalat, Rasulullah menghampiri Umar bin Khattab yang menjadi salah satu makmumnya. Kepada Umar bin Khattab, Rasulullah bertanya perihal apakah ayat yang dibacanya di dalam shalat ada yang keliru. Umar bin Khattab mengiyakan. Rasulullah salah dalam membaca ayat tersebut. 

“Aku lupa, mengapa kamu tidak mengingatkan,” kata Rasulullah kepada Umar bin Khattab dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud.

Selain itu, ada kisah tentang bagaimana Rasulullah mengakui kesalahan diri yang begitu menyentuh. Dikutip dari buku Kisah Teladan Rasulullah Menghadirkan Jiwa Muraqabah Lewat Puasa, pada saat Rasulullah jatuh sakit –beberapa hari sebelum wafat- ia meminta para sahabat untuk membawanya ke masjid. Usai didudukkan di mimbar, Rasulullah meminta Bilal untuk memanggil semua sahabatnya agar datang ke masjid.

Pada saat itu, Rasulullah menyampaikan banyak hal. Mulai dari nasihat, petuah, hingga pertanyaan kepada para sahabatnya. Rasulullah bertanya apakah dirinya memiliki hutang kepada para sahabatnya. Awalnya, para sahabat menjawab bahwa Rasulullah tidak memiliki hutang sama sekali kepada para sahabat, bahkan sebaliknya. 

Akan tetapi, tiba-tiba ada seorang sahabat yang mengacungkan tangan. Akasyah namanya. Ia mengaku kalau Rasulullah memiliki ‘masalah’ dengannya. Apakah itu disebut hutang atau tidak, ia tidak tahu. Namun yang pasti, Akasyah meminta Rasulullah untuk menyelesaikan ‘masalahnya’ itu. 

Akasyah lalu bercerita, dulu pada saat perang Uhud Rasulullah mengayunkan cemeteri ke belakang kudanya. Akan tetapi, Akasyah menyebutkan kalau ayunan cemeti Rasulullah tersebut mengenai dadanya, bukan belakang kuda Rasulullah. Setelah mendengar cerita Akasyah, Rasulullah mengakui kalau itu adalah kekhilafannya. Rasulullah pun meminta Akasyah untuk melakukan hal yang sama; memukul dada Rasulullah dengan cemeti. Singkat cerita, Akasyah tidak jadi memukul Rasulullah. Ia malah memeluk tubuh Rasulullah dengan erat. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 12 September 2018 21:30 WIB
3 Hal Dasar yang Dilakukan Rasulullah di Madinah
3 Hal Dasar yang Dilakukan Rasulullah di Madinah
Senin, 22 September 622 M menjadi hari yang bersejarah bagi umat Islam. Hari dimana Rasulullah tiba di Madinah dalam rangka hijrah, setelah menempuh perjalanan berpuluh hari dari Makkah. Bak kedatangan ‘sang juru selamat’, Masyarakat Madinah menyambut Rasulullah dengan penuh suka cita. Maklum, Madinah dihuni masyarakat yang beragam. Mulai dari beda suku, etnis, hingga agama. Sehingga mereka kerap kali berperang. Kedatangan Rasulullah di Madinah diharapkan bisa menjadi penengah atau pemersatu diantara mereka.

Betul saja, dalam beberapa sumber sejarah disebutkan bahwa Rasulullah berhasil membangun kota Yatsrib yang biasa-biasa saja menjadi kota Madinah yang berperadaban dan diperhitungkan di jazirah Arab. Selama beberapa waktu –sebelum suatu kelompok di Madinah menghianatinya, Rasulullah juga berhasil membangun masyarakat yang majemuk hidup dalam harmoni dan damai. 

Sebagaimana diuraikan dalam buku Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad saw., setidaknya ada tiga hal dasar yang dilakukan Rasulullah pada fase Madinah. Tiga hal dasar itu sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Madinah sehingga mereka hidup aman, tenteram, saling menghargai, dan dalam kesejahteraan. Pertama, menjadikan masjid sebagai pusat semua kegiatan (center of activities). Usai tiba di Madinah, Rasulullah membangun sebuah masjid, Masjid Nabi (Nabawi). Masjid ini memiliki bangunan yang sangat sederhana; atapnya dari daun pohon kurma, pilarnya dari batang pohon kurma, lantainya kerikil dan berpasir, dan bangunannya dari batu bata.

Akan tetapi, bangunan itu bukan sekedar bangunan biasa. Sebuah bangunan yang menjadi penanda kebangkitan peradaban Islam. Karena Rasulullah memfungsikan masjid ini untuk semua kegiatan. Mulai dari mengajarkan ajaran Islam, hikmah, proses belajar mengajar baca-tulis hingga menyusun strategi perang atau politik. Semua diadakan di Masjid Nabi, bukan hanya untuk shalat saja. Singkatnya, Rasulullah menggunakan masjid sebagai tempat pertemuan dan pembinaan umat.

Kedua, membangun persaudaraan antar sesama Muslim (ukhuwah islamiyah). Pada fase Madinah, ada dua kelompok umat Islam yakni kaum Muhajirin (umat Islam Makkah yang hijrah ke Madinah) dan kaum Anshar (umat Islam yang asli penduduk Madinah). Rasulullah mempersaudarakan mereka satu persatu, satu Muhajirin dengan satu Anshar. Rasulullah juga selalu menegaskan bahwa sesama Muslim itu bersaudara. 

Tidak lain, ini dilakukan Rasulullah untuk memperkuat solidaritas dan kohesivitas sosial antar sesama umat Islam. Sehingga mereka tidak mudah bertikai dan berperang, sebagaimana watak Arab Jahiliyah. Bagi seorang Muslim, persaudaraan bukan saja didasarkan pada darah, tapi juga keimanan yang sama. 

Ketiga, membangun persaudaraan dengan umat agama lain (ukhuwan insaniyah). Rasulullah sadar betul bahwa Madinah memiliki masyarakat yang majemuk. Ada umat Islam, ada umat Nasrani, ada umat Yahudi, dan yang lainnya. Untuk membangun sebuah kota yang kuat dan damai, tidak ada jalan bagi Rasulullah kecuali ‘mempersatukan’ masyarakat yang berbeda itu. 

Akhirnya Rasulullah mencetuskan sebuah kesepakatan bersama, Piagam Madinah (Constitution of Medina). Piagam ini menjadi titik temu (kalimatun sawa’) bagi masyarakat Madinah yang beragam. Dengan Piagam Madinah, Rasulullah berhasil mempersatukan masyarakat Madinah yang selama itu tidak mungkin dipersatukan. Piagam Madinah menjadi konstitusi pertama dalam membangun masyarakat yang bhineka berdasarkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan bersama. 

Tiga pondasi dasar itulah yang dilakukan Rasulullah selama fase Madinah. Sehingga Madinah menjadi sebuah kota yang berperadaban dan diperhitungkan di jazirah Arab pada saat itu. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 11 September 2018 19:0 WIB
Tentang Qashwa, Unta yang Ditunggangi Rasulullah saat Hijrah ke Madinah
Tentang Qashwa, Unta yang Ditunggangi Rasulullah saat Hijrah ke Madinah
Ilustrasi: iexplore.com
Qashwa. Nama unta yang ditunggangi Rasulullah ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Seekor unta yang dimiliki Abu Bakar as-Siddiq. Awalnya, unta tersebut diberikan cuma-cuma kepada Rasulullah, tapi ditolak. Hingga akhirnya Rasulullah membeli unta itu dari tangan Abu Bakar. Seekor unta yang nantinya menjadi kesayangan Rasulullah. Sebagaimana keterangan dalam buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik.

Qashwa dilahirkan di kampung Bani Qusyair. Ketika Rasulullah membelinya dari Abu Bakar dengan harga 400 dirham, Qashwa baru berumur empat tahun. Ia mati dalam usia 15 tahun. Sehingga Qashwa ‘menemani’ Rasulullah selama kurang lebih 11 tahun. 

Rasulullah pertama kali ‘ditemani’ Qashwa ketika beliau hendak hijrah ke Madinah. Bahkan, sejak beliau keluar dari rumah Abu Bakar untuk meninggalkan Makkah. Rasullullah menunggangi Qashwa menuju arah sebuah gua di Gunung Tsur, sebuah rute ke selatan atau jalan ke arah Yaman. Ini untuk mengelabuhi musuh. Karena apabila Rasulullah langsung menuju rute Madinah, ke arah utara, maka sudah pasti kafir Quraish menemukannya.

Ketika tiba di Gua Tsur, Rasulullah dan Abu Bakar –tentunya Qashwa juga- tinggal selama kurang lebih tiga hari. Hal ini untuk memantau situasi terkini di Makkah usai kabar kepergian Rasulullah. Setelah situasinya dianggap mereda, Rasulullah kembali menaiki Qashwa menyusuri rute yang tidak biasa dilalui para pedagang ketika hendak menuju Madinah. Setelah keluar Makkah, Rasulullah dan Abu Bakar menuju ke barat dan agak ke selatan hingga mereka sampai di Pantai Laut Merah. Mereka menempuh rute barat laut dan menghabiskan beberapa hari untuk sampai ke Madinah. 

Mereka terus ke arah utara hingga melewati sepanjang seberang Gurun Nubian. Berjalan menyusuri pedalaman dan pantai, lalu ke timur laut hingga sampai di Lembah Aqiq. Untuk mencapai Madinah, perjuangan mereka masih panjang. Mereka harus menaiki satu lembah ke lembah lainnya, satu bukit ke bukit lainnya. Hingga akhirnya mereka tiba di Quba dan tiga hari berselang sampai di Madinah. Sebuah tempat yang dinanti-nantikan.

Senin, 22 September 622 M menjadi hari yang bersejarah bagi umat Islam. Iya, pada hari itu Rasulullah tiba di Madinah. Masyarakat Madinah menyambutnya dengan penuh suka cita. Semua orang menghendaki agar Rasulullah bersedia tinggal di rumahnya. Namun, Rasulullah menyatakan akan tinggal di rumah yang dipilih Qashwa, unta kesayangannya. 

Sambil menaiki Qashwa, Rasulullah menyusuri jalan kota Madinah. Ketika sampai di ruangan sempit yang dijadikan As’ad –orang yang berbaiat kepada Rasulullah pada tahun sebelum Aqabah Pertama- sebagai tempat shalat, Qashwa tiba-tiba berhenti dan berlutut. Namun demikian, Rasulullah tidak turun. 

Qashwa kembali berjalan kembali, tapi tidak lama kemudian ia kembali ke tempat pertama ia berlutut. Kali ini, Qashwa tidak hanya berhenti berlutut. Ia juga merapatkan dadanya ke sebidang tanah itu. Rasulullah yakin bahwa itu lah tempat yang dipilih Qashwa dan akan dijadikan sebagai tempat tinggalnya di Madinah. 

Setelah ditanyakan, ternyata tempat itu milik Sahl dan Suhail, dua orang anak yatim piatu yang diasuh As’ad. Mulanya, Sahl dan Suhail hendak memberikan tanah tersebut kepada Rasulullah sebagai hadiah. Tapi, Rasulullah menolaknya. Hingga kemudian, tanah itu dibeli Rasulullah dengan harga yang telah disepakati.

Selain menaiki untuk hijrah ke Madinah, Rasulullah juga menunggangi Qashwa dalam beberapa peristiwa penting lainnya seperti Perang Badar, Fathu Makkah, Perdamaian Hudaibiyah, dan Haji Wada’. (A Muchlishon Rochmat)