IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Ini Enam Tingkat Keimanan Manusia di Hadapan Allah

Rabu 19 September 2018 10:0 WIB
Share:
Ini Enam Tingkat Keimanan Manusia di Hadapan Allah
Iman kepada Allah merupakan rukun iman pertama. Kepercayaan atas keberadaan Allah, sebagai zat yang melebihi segala makhluk-Nya, mengangkat derajat seseorang yang membuat hatinya lapang karena batin orang yang beriman adalah samudera tak bertepi dan cakrawala tak berbatas. Namun, demikian tingkat keimanan seseorang berbeda-beda.

Syekh M Nawawi Banten menyebut lima tingkat keimanan anak Adam. Ia menjelaskan secara rinci sebagai berikut ini:

مراتب الإيمان خمسة

Artinya, “Derajat keimanan ada lima,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).

Pertama, iman taklid. Keimanan ini didasarkan pada ucapan orang lain (ulama biasanya) tanpa memahami dalilnya. Keimanan orang ini sah-sah saja meski ia terbilang bermaksiat karena meninggalkan upaya pencarian dalil sendiri bila ia termasuk orang yang dalam kategori mampu melakukan pencarian dalil.

Kedua, iman ilmu atau ilmul yaqin. Keimanan ini didasarkan pada pemahaman aqidah berikut dalil-dalilnya.

“Orang dengan kategori keimanan pertama dan kedua terhijab dari zat Allah,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).

Ketiga, iman ‘iyan atau ainul yaqin. Dengan keimanan ini seseorang mengetahui Allah (makrifatullah) dengan jalan pengawasan batin. Dengan keimanan ini, Allah tidak ghaib sekejap pun dari mata batinnya. Bahkan “gerak-gerik” Allah selalu hadir di dalam batinnya seakan ia memandang-Nya. Ini maqam muraqabah.

Keempat, iman haq atau haqqul yaqin. Dengan keimanan ini, seseorang memandang Allah melalui batinnya. Ini yang dibilang oleh para ulama bahwa “arif (orang dengan derajat makrifat) memandang Tuhannya pada segala sesuatu.” Ini maqam musyahadah.

“Orang dengan kategori keimanan ini terhijab dari makhluk Allah,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9). Dengan demikian, yang tampak padanya hanya Allah belaka.

Kelima, iman hakikat. Dengan keimanan ini, orang menjadi lenyap karena Allah dan dimabuk oleh cinta kepada-Nya. Ia tidak menyaksikan apapun selain Allah. Bahkan ia sendiri tidak menyaksikan dirinya. Seperti tenggelam di laut, ia tidak melihat adanya pantai. Orang ini berada di maqam fana.

Semua keimanan ini mulia di level mana pun itu. Tetapi memang derajat dari semua keimanan itu berbeda di sisi Allah. Hanya saja, kita sebagai manusia biasa tidak perlu menilai tingkat keimanan orang lain karena semua mendapatkan petunjuk dari sumber yang sama, yaitu Allah.

Keimanan dua kategori pertama dapat diupayakan (wilayah ikhtiar manusia). Oleh karena itu, seseorang wajib mendalami keimanan melalui pencarian dalil dan wajib mempelajari sedapat mungkin sifat-sifat Allah.

Sementara keimanan pada tingkatan berikutnya merupakan laduni, wahbi, atau anugerah ilahi yang tidak bisa diikhtiarkan karena didasarkan pada kehendak Allah.

والواجب على الشخص أحد القسمين الأولين أما الثلاثة الآخر فعلوم ربانية يخص بها من يشاء من عباده

Artinya, “Seseorang wajib berada di dua level pertama. Sedangkan tiga level setelah itu adalah ilmu rabbani [anugerah ilahi] yang Allah berikan secara khusus kepada sejumlah hamba-Nya yang dikehendaki,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).

Dari lima tingkatan ini, kita menjadi teringat pada keimanan pada maqam baqa sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam-nya. Jadi keimanan seseorang kepada Allah terdapat enam tingkatan.

Keenam, iman pada tingkat maqam baqa. Dengan keimanan ini, seseorang memandang Allah dan makhluk-Nya sekaligus tanpa terkecoh. Dengan keimanan ini, seseorang memandang dua entitas berbeda, yaitu Allah sebagai ujud hakiki dan makhluk-Nya sebagai ujud majazi.

Tingkatan keimanan keenam ini yang disebut juga maqam akmal atau maqam lebih sempurna karena ia tetap menjaga hubungan dengan alam, manusia, hewan, selain menjaga hubungan dengan Allah.

وقد قال أبو بكر الصديق رضي الله عنه لعائشة رضي الله عنها لما نزلت براءتها من الإفك على لسان رسول الله صلى الله عليه و سلم : يا عائشة اشكري رسول الله صلى الله عليه و سلم فقالت : والله لا أشكر إلا الله دلها أبو بكر رضي الله عنه على المقام الأكمل مقام البقاء المقتضي لإثبات الآثار وقد قال الله تعالى أن اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ. وقال صلى الله عليه و سلم لا يشكر الله من لا يشكر الناس. وكانت هي في ذلك الوقت مصطلمة عن شاهدها غائبة عن الآثار فلم تشهد إلا الواحد القهار

Artinya, “Sahabat Abu Bakar al-Ṣiddîq RA memerintahkan Aisyah RA ketika turun ayat pembebasannya dari fitnah melalui lisan Rasulullah, ‘Wahai A‘isyah, sampaikan ucapan terima kasih kepada Rasulullah!” “Demi Allah, aku tidak akan berterima kasih kecuali kepada Allah,’ jawab Aisyah RA. Sahabat Abu Bakar al-Ṣiddîq RA lalu menunjukinya dengan maqam yang lebih sempurna, yaitu maqam baqa yang menuntut ketetapan eksistensi ciptaan-Nya. Allah berfirman, “Bersyukurlah kepada-Ku dan bersyukurlah kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku tempat kembali,” (Surat Luqman ayat 14), Rasulullah SAW bersabda, “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah kalau tidak berterima kasih kepada orang lain.” Tentu saja ketika itu Siti Aisyah sedang tercabut dari penglihatannya dan lenyap dari ciptaan-Nya sehingga ia hanya menyaksikan Allah yang maha esa dan maha perkasa.”

Kutipan dari Al-Hikam ini menunjukkan tingkatan keimanan keenam, yaitu maqam baqa. Pada maqam ini, seseorang yang semakin tenggelam dalam fana justru bertambah baqa. Semakin mabuk cinta kepada Allah, orang ini semakin sadar. Semakin mengakui keesaan Allah, orang ini bertambah adab kepada makhluk-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Sabtu 8 September 2018 5:0 WIB
MUHARRAM
Rahasia di Balik Yatimnya Nabi Muhammad SAW Kecil
Rahasia di Balik Yatimnya Nabi Muhammad SAW Kecil
Nabi Muhammad SAW terlahir dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthallib, wafat di Madinah sepulang dari perjalanan dagang di Ghazzah pada usia 18 tahun. Tetapi ahli sejarah berbeda pendapat menyebut usia Abdullah ketika itu 20, 25, 28, atau 30 tahun. Sementara ibunya wafat beberapa tahun kemudian.

Keadaan yatim yang dihadapi Nabi Muhammad SAW saat kecil ini diratapi oleh malaikat. Mereka mengadu kepada Allah SWT perihal situasi yatim yang dialami oleh Rasulullah SAW.

Ratapan malaikat ini berangkat dari keprihatinan atas nasib anak-anak yatim pada umumnya yang tanpa perlindungan, tanpa bimbingan, tanpa pengayoman, dan tanpa sentuhan kasih sayang ayah. Tetapi Allah SWT menjamin pemeliharaan Nabi Muhammad SAW kecil di tengah situasi yatimnya.

وعن ابن عباس أنه لما توفي عبد الله قالت الملائكة إلهنا وسيدنا بقي نبيك يتيما فقال الله تعالى أنا حافظ له ونصير

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, ia bercerita ketika ayah Rasulullah, Abdullah, wafat, malaikat mengadu, ‘Wahai Tuhan dan Tuan kami, nabimu tinggal dalam keadaan yatim.’ Allah menjawab, ‘Aku yang akan menjaga dan membelanya,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 26).

Para ulama mencoba mencari jawaban atas kondisi yatim yang diciptakan oleh Allah untuk Rasulullah SAW, makhluk yang paling dicintai-Nya. Syekh M Nawawi Banten menginventarisasi sejumlah pandangan ulama perihal hikmah di balik situasi yatim yang dialami Rasulullah SAW.

Syekh M Nawawi Banten mengutip pandangan Sayyid Ja‘far As-Shadiq RA perihal ini sebagai awalan.

وسئل جعفر الصادق عن حكمة ذلك فقال لئلا يكون عليه صلى الله عليه وسلم حق واجب لمخلوق

Artinya, “Ja‘far As-Shadiq ketika ditanya perihal hikmah di balik keyatiman Rasulullah SAW menjawab, ‘Agar Rasulullah SAW tidak memiliki kewajiban terhadap makhluk-Nya (kedua orang tua),’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 26).

Syekh M Nawawi Banten juga menukil pendapat Ibnul Imad yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi orang besar di kemudian hari. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW ditempatkan dalam situasi yatim agar kelak di kemudian hari ia menyadari bahwa kemuliaannya dirinya berasal Allah SWT, bukan karena orang tua atau hartanya.

وقال ابن العماد لينظر النبي صلى الله عليه وسلم إذا وصل إلى مدارج عزه إلى أوائل أمره ويعلم أن العزيز من أعزه الله تعالى وأن قوته ليست من الآباء والأمهات ولا من المال بل قوته من الله تعالى

Artinya, “Ibnul Imad mengatakan bahwa hikmah di balik keyatiman Nabi Muhammad SAW adalah agar ia memandang awal perjalanannya ketika sampai di tangga-tangga kemuliaannya, agar Rasulullah SAW menyadari bahwa manusia dapat menjadi mulia hanya karena diangkat menjadi mulia oleh Allah, dan agar Rasulullah SAW menyadari bahwa kekuatannya bukan berasal dari ayah, ibu, dan hartanya, tetapi kekuatannya berasal dari Allah SWT,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 26-27).

Pengalaman Nabi Muhammad SAW kecil menjadi yatim sebagai kelompok mustadhafin dalam masyarakat merupakan pengalaman berharga agar Nabi Muhammad SAW kelak dapat berempati terhadap kelompok masyarakat yang terpinggirkan.

وأيضا ليرحم الفقراء والأيتام وقال صلى الله عليه وسلم ارحموا اليتامى وأكرموا الغرباء فإني في حال الصغر كنت يتيما وفي الكبر غريبا إن الله لينظر للغريب كل يوم ألف نظرة

Artinya, “Situasi yatim saat Nabi Muhammad SAW kecil dimaksudkan agar Rasulullah SAW kelak berbelas kasih terhadap orang-orang fakir dan anak-anak yatim. Rasulullah SAW bersabda, ‘Kasihanilah anak-anak yatim dan muliakanlah orang-orang asing karena aku saat kecil dahulu juga mengalami situasi yatim dan saat dewasa menjadi orang asing. Allah memandang kasihan orang asing setiap hari seribu kali pandangan,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 27).

Pengalaman Nabi Muhammad SAW kecil menjadi yatim menyimpan banyak hikmah yang belum terungkap. Tetapi hasil bacaan yang dikemukakan oleh sejumlah ulama melalui Syekh M Nawawi Banten ini menjadi informasi penting.

Sejumlah hikmah yang diungkapkan ini menjadi pelajaran penting bagi kita untuk meneladani Rasulullah SAW perihal sikapnya terhadap kelompok mustadhafin atau kelompok pinggiran di masyarakat termasuk anak yatim, orang lansia, kelompok fakir dan miskin, pekerja serabutan, buruh kontrak, dan mereka dilemahkan dalam struktur sosial. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Rabu 5 September 2018 16:0 WIB
Tata Cara Doa agar Terkabul
Tata Cara Doa agar Terkabul
(Foto: pinterest)
Semua dari kita berharap doa yang kita minta kepada Allah SWT diterima oleh-Nya, dalam arti dikabulkan. Kita untuk itu dianjurkan untuk menjaga adab-adab atau sejenis tata cara yang seharusnya dilakukan oleh orang yang meminta sesuatu dari Allah SWT.

Syekh M Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan sejumlah syarat dan adab bagi orang yang berdoa. Menurutnya, orang yang berdoa disyaratkan untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi olehnya.

Orang yang berdoa juga harus yakin akan ijabah atau pengabulan doanya. Orang yang berdoa juga harus menjaga kesadaran. Jangan sampai berdoa dalam keadaan hati lalai dari Allah,  (Lihat Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Syekh M Ibrahim Al-Baijuri mengatakan bahwa permintaan dalam doa tidak mengandung dosa atau pemutusan hubungan silaturahmi. Doa seyogianya tidak berisi harapan atas terwujudnya penyia-nyiaan terhadap hak umat Islam.

Selebihnya, Al-Baijuri menganjurkan orang yang berdoa untuk memanfaatkan waktu-waktu ijabah di mana pintu langit dibuka. Orang yang berdoa dianjurkan untuk berdoa dalam keadaan suci dan menghadap kiblat.

ومن آدابه أن يتحرى الأوقات الفاضلة كان يدعو في السجود وعند الأذان والإقامة ومنها تقديم الوضوء والصلاة واستقبال القبلة ورفع الأيادي إلى جهة السماء وتقديم التوبة والاعتراف بالذنب والإخلاص وافتتاحه بالحمد والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم وختمه بها وجعلها في وسطه أيضا

Artinya, “Salah satu adabnya adalah menggunakan waktu-waktu yang utama, yaitu berdoa saat sujud, berdoa saat jeda antara azan dan iqamah. Salah satu adabnya lagi adalah bersuci terlebih dahulu, shalat, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan ke arah langit, bertobat terlebih dahulu, pengakuan dosa terlebih dahulu, ikhlas dalam berdoa, membuka doa dengan tahmid dan shalawat nabi, mengakhiri doa dengan shalawat nabi, dan juga membaca shalawat nabi di tengah doa,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Secara ringkas, adab dan tata cara berdoa dapat dikatakan sebagai berikut ini:

1. Memakan yang halal.

2. Meyakini ijabah doanya.

3. Menjaga hati agar tidak lalai saat berdoa.

4. Tidak meminta sesuatu yang mengandung dosa.

5. Tidak meminta sesuatu yang dapat memutuskan silaturahmi.

6. Tidak meminta sesuatu yang dapat menyia-nyiakan hak umat Islam.

7. Tidak meminta sesuatu yang mustahil secara umum.

8. Memanfaatkan waktu-waktu yang afdhal dalam berdoa, yaitu waktu sujud dan waktu jeda antara azan dan iqamah.

9. Wudhu dan shalat terlebih dahulu sebelum berdoa.

10.Menghadap kiblat dan mengangkat tangan saat berdoa.

11.Tobat dan mengakui dosa terlebih dahulu sebelum berdoa.

12.Ikhlas dalam berdoa.

13.Membuka doa dengan tahmid dan shalawat nabi.

14.Mengakhirinya dengan shalawat nabi.

15.Membaca shalawat nabi di tengah doa.

Semua adab dan syarat ini dianjurkan untuk diamalkan oleh mereka yang ingin berdoa. Semua adab dan syarat ini diharapakan dapat mendekatkan doa dan ijabah atau pengabulan doa itu sendiri. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 31 Agustus 2018 21:45 WIB
Perhatikan Lima Etika Ini saat Ziarah ke Makam Rasulullah
Perhatikan Lima Etika Ini saat Ziarah ke Makam Rasulullah
Ilustrasi (muslims.com)
Jamaah haji regular asal Indonesia, selain menunaikan rangkaian ibadah haji di Makkah, umumnya juga berkunjung ke Madinah untuk meziarahi makam Rasulullah ﷺ dan melakukan shalat empat puluh waktu secara berjamaah di Masjid Nabawi atau yang dikenal dengan sebutan shalat arba’în.

Madinah adalah tempat hijrah Baginda Nabi. Di situ pula jasad manusia paling mulia dikebumikan. Setiap berada di Madinah, Imam Malik tidak pernah memakai terompah atau sandalnya. Beliau berharap, ada debu yang dulu pernah menempel ke tubuh Rasulullah, sebagian di antaranya menempel juga di kaki Imam Malik.
 
Selain itu, Imam Malik tidak berkenan menunggangi hewan kendaraannya. Beliau beralasan, “Bagaimana aku berani menaiki tungganganku, sedang di dalam tanah Madinah ini terdapat jasad Rasul yang sangat mulia?” Begitu kira-kira alasan Imam Malik.

Baca juga: Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah
Nabi Muhammad ﷺ saat ini hidup. Kita wajib meyakini itu. Namun hidupnya adalah hayâtan barzakhiyyatan (kehidupan alam kubur), tidak hidup sebagaimana kehidupan kita di alam dunia seperti ini. Nabi Muhammad derajatnya di atas orang-orang yang mati syahid. Karena itu penting sekali bagi siapa saja yang berada di depan makam beliau menjaga etika berziarah.

Berikut ini adalah adab atau etika ziarah ke makam Rasulullah ﷺ yang disarikan dan dikembangkan dari kitab Al-Hajj-Fadlâil wa Ahkâm karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky halaman 284-287:

Pertama, makam Rasulullah berada di kompleks Masjid Nabawi. Saat mulai memasuki masjid, hendaknya seseorang bersikap tenang, penuh adab yang mulia. Umar bin Khattab pernah menegur dua orang pria yang bersuara keras waktu di sana. Bersuara keras di dalam Masjid Nabawi merupakan kemungkaran yang paling buruk.
 
Kedua, memang tidak ada kalimat khusus yang diajarkan Rasulullah yang harus dibaca. Namun jika ada yang bershalawat dan salam, maka itu cukup. Misalnya dengan kalimat berikut: 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقْ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَا حَفْصٍ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابْ

Artinya: “Salam sejahtera bagi engkau, wahai Rasulallah. Salam sejahtera bagi engkau, wahai Abu Bakar ash-Shiddiq. Salam sejahtera bagi engkau, wahai ayah Hafsh, Umar bin Khattab.”

Berziarah kepada Nabi tidak sebagaimana orang ziarah di Tanah Air yang bisa duduk, membersihkan kuburan, atau aktivitas lainnya. Di sana, ziarah dilakukan sambil berjalan dan berlalu. Putra dari Umar bin Khattab yang bernama Abdullah bin Umar, dalam satu riwayat diceritakan, saat beliau ziarah membaca:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقْ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَتْ 

Artinya: “Salam sejahtera bagi engkau, wahai Rasulallah. Salam sejahtera bagi engkau, wahai Abu Bakar ash-Shiddiq. Salam sejahtera bagi engkau, wahai ayahku.”

Setelah salam sebagaimana di atas, Ibnu Umar lalu pergi meninggalkan lokasi makam. 

Mengutip dari Ibnu Taimiyyah, Sayyid Muhammad menyampaikan, hendaknya orang yang berziarah, tidak menyentuh pusara makam Rasul, tidak mengecupnya serta tidak thawaf atau memutar mengelilinya. Hal ini berdasar doa Rasul ﷺ:

اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد

Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau tidak menjadikan pekuburanku sebagai berhala yang disembah.”

Ziarah tetap dianjurkan. Namun Sayyid Muhammad memperingatkan peziarah agar tetap mengikuti aturan ziarah, sehingga tauhid masyarakat tetap terjaga dengan baik.

Ketiga, para peziarah hendaknya menjaga adab. Berkeyakinan bahwa ia sedang merasa bersama Baginda Nabi serta Nabi mengetahui atas kedatangan para peziarah, mengetahui posisi tempat masing-masing peziarah. Sesungguhnya menghormati Nabi Muhammad ﷺ ketika sudah wafat sama halnya dengan menghormati beliau saat jasad beliau masih hidup di dunia. Bahkan Ibnul Qayyim, dalam syairnya mengaku, setiap kali ia akan berziarah ke makam Rasulullah, sebelumnya ia shalat tahiyyatal masjid terlebih dahulu di Masjid Nabawi.

Keempat, bagi siapa saja yang sudah mulai menginjakkan kakinya di tanah kota Madinah al-Munawwarah, sebaiknya untuk menata niat secara sungguh-sungguh, akan menjaga shalat dengan melaksanakannya di Masjid Nabawi karena keutamaan shalat di Masjid Nabawi sebagaimana yang disampaikan Rasulullah, shalat di Masjid Nabawi lebih baik daripada shalat seribu rakaat di selain masjid tersebut dan Masjidil Haram. 

Adapun lokasi yang termasuk kategori Masjid Nabawi adalah semua bangunan yang dibangun sebagai masjid Nabawi, termasuk pemekarannya. Hal ini mengingat, Rasul bersabda bahwa jika masjid tersebut dibangun hingga San’a, Yaman, itu masih sebagaimana masjidnya baginda Nabi.

Kelima, sebaiknya tidak meninggalkan shalat di Raudlah, jika memungkinkan. (Ahmad Mundzir)