IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Apakah Menghitung Hari Baik-Buruk Termasuk Syirik?

Jumat 21 September 2018 21:45 WIB
Share:
Apakah Menghitung Hari Baik-Buruk Termasuk Syirik?
Ilustrasi (iworos.com)
Salah satu fenomena yang marak di Indonesia, utamanya Jawa, adalah pemakaian Primbon yang berisi banyak perhitungan tentang hari baik dan hari buruk. Banyak masyarakat yang hingga kini menyelenggarakan pernikahan, memulai menanam komoditas pangan, membangun rumah dan hajatan lain-lain bergantung pada perhitungan Primbon. Bila hasil hitungannya baik, maka hajatannya dilanjutkan. Namun bila hitungannya menghasilkan hasil buruk, maka dicarikan hari lain. Perhitungan semacam ini juga banyak didapati di budaya non-Islam, semisal budaya Tiongkok dengan Feng-Shui-nya.

Bagaimanakah perhitungan baik-buruk semacam ini bila dilihat dari kacamata tauhid? Apakah hal semacam ini berkonsekuensi pada kesyirikan (penyekutuan Allah) ataukah tidak?

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Namun pendapat yang kuat adalah penjelasan Imam Syafi’i sebagaimana dinukil Syekh Burhanuddin bin Firkah berikut:

إِن كَانَ المنجم يَقُول ويعتقد أَن لَا يُؤثر إِلَّا الله لَكِن أجْرى الله تَعَالَى الْعَادة بِأَنَّهُ يَقع كَذَا عِنْد كَذَا والمؤثر هُوَ الله فَهَذَا عندى لَا بَأْس بِهِ وَحَيْثُ جَاءَ الذَّم ينبغى أَن يحمل على من يعْتَقد تَأْثِير النُّجُوم وَغَيرهَا من الْمَخْلُوقَات انْتهى

“Apabila ahli nujum itu berkata dan meyakini bahwasanya tidak ada yang dapat memberi pengaruh [baik-buruk] selain Allah, hanya saja Allah menjadikan kebiasaan bahwa terjadi hal tertentu di waktu tertentu sedangkan yang dapat memberi pengaruh hanyalah Allah semata, maka ini menurutku tak mengapa. Celaan yang ada terhadap hal ini seyogyanya dibawakan dalam konteks apabila diyakini bahwa bintang-bintang itu atau makhluk lainnya bisa memberikan pengaruh [baik-buruk].” (Tajuddin as-Subki, Thabaqât as-Syâfi’iyah al-Kubrâ, juz II, halaman 102)

Sebagian ulama lain, di antaranya adalah Syekh Kamaluddin bin Zamlakani, mengharamkan hal ini secara mutlak sebab memang sepintas menuju pada kesyirikan. Perhitungan waktu baik-buruk ini biasanya diyakini sebagai ramalan yang pasti terjadi di masyarakat sehingga seolah meyakini bahwa bintang-bintang, atau tanda-tanda apapun dapat memberikan pengaruh baik atau buruk dengan sendirinya. Hal seperti ini jelas kesyirikan. Namun, menurut analisis Imam as-Subki, pandangan menggeneralisir semacam ini tidak tepat. Beliau menyangka bahwa Syekh Kamaluddin bin Zamlakani tidak membaca uraian Imam Syafi’i yang memperincinya sebagaimana di atas. (Tajuddin as-Subki, Thabaqât as-Syâfi’iyah al-Kubrâ, juz II, halaman 102)

Hanya saja, harus diakui bahwa praktek semacam ini beresiko pada ketergelinciran dalam hal aqidah. Para ahli nujum, yang biasanya merumuskan perhitungan seperti ini, banyak yang tidak paham soal aqidah sehingga para ulama senantiasa memperingatkan agar tidak mendatangi atau mempercayai mereka. Syekh Taqiyuddin al-Hishni menjelaskan:

المنجم في عرف الناس كهؤلاء الذين يضربون بالرمل فإنهم فسقة ومنهم من يكون سيىء الاعتقاد وهو زنديق كافر وقد صح عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه قال من أتى عرافا لم تقبل له صلاة أربعين يوما

“Para ahli nujum dalam kebiasaan yang ada di masyarakat, seperti orang-orang yang mengundi nasib dengan kerikil, adalah orang-orang fasik. Sebagian mereka ada yang aqidahnya buruk, dia yang demkian adalah zindiq dan kafir. Padahal telah sahih dari Nabi Muhammad ﷺ bahwa beliau bersabda: Siapa yang mendatangi tukang ramal, maka tak diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (Taqiyuddin al-Hishni , Kifâyat al-Akhyâr, halaman 138)

Dari nukilan di atas dapat dilihat bahwa Syekh Taqiyuddin al-Hishni tidak memutlakkan semua ahli nujum sebagai orang yang pasti salah, namun beliau melihat realita yang ada di masyarakat bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang fasik (ahli maksiat) dan sebagian lagi bahkan ada yang aqidahnya bermasalah, seperti yang disinggung Imam Syafi’i di atas. Dengan demikian, maka perlu ketelitian dan kecermatan untuk menjatuhkan vonis syirik atau lain sebagainya kepada masyarakat yang meyakini perhitungan seperti ini. Namun secara garis besar, tindakan semacam ini sebaiknya dijauhi. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember


Share:
Rabu 19 September 2018 13:0 WIB
Ini Pengertian Qadha dan Qadar
Ini Pengertian Qadha dan Qadar
(Foto: pixabay)
Kita sejak lama menggunakan kata “qadha” dan “qadar”. kepercayaan terhadap konsep kata ini juga merupakan salah satu rukun iman dalam agama Islam. Kita sering menggunakan kedua kata itu secara bergantian untuk sebuah pengertian yang sama. Tetapi ulama menyimpan penjelasan kedua kata tersebut yang mengandung pengertian berbeda.

Di samping memiliki pengertian berbeda, kata “qadha” dan “qadar” juga dipahami secara berbeda oleh para ulama tauhid atau mutakallimin.

Dengan kata lain, kelompok Asyariyyah, kelompok Maturidiyyah, dan sejumlah kelompok ulama lainnya berbeda pendapat perihal pengertian kata “qadha” dan “qadar”.

اختلفوا في معنى القضاء والقدر فالقضاء عند الأشاعرة إرادة الله الأشياء في الأزل على ما هي عليه في غير الأزل والقدر عندهم إيجاد الله الأشياء على قدر مخصوص على وفق الإرادة

Artinya, “Ulama tauhid atau mutakallimin berbeda pendapat perihal makna qadha dan qadar. Qadha menurut ulama Asy’ariyyah adalah kehendak Allah atas sesuatu pada azali untuk sebuah ‘realitas’ pada saat sesuatu di luar azali kelak. Sementara qadar menurut mereka adalah penciptaan (realisasi) Allah atas sesuatu pada kadar tertentu sesuai dengan kehendak-Nya pada azali,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 12).

Syekh M Nawawi Banten memberikan contoh konkret qadha dan qadar menurut kelompok Asyariyyah. Qadha adalah putusan Allah pada azali bahwa kelak kita akan menjadi apa. Sementara qadar adalah realisasi Allah atas qadha terhadap diri kita sesuai kehendak-Nya.

فإرادة الله المتعلقة أزلا بأنك تصير عالما قضاء وإيجاد العلم فيك بعد وجودك على وفق الإرادة قدر

Artinya, “Kehendak Allah yang berkaitan pada azali, misalnya kau kelak menjadi orang alim atau berpengetahuan adalah qadha. Sementara penciptaan ilmu di dalam dirimu setelah ujudmu hadir di dunia sesuai dengan kehendak-Nya pada azali adalah qadar,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 12).

Sedangkan bagi kelompok Maturidiyyah, qadha dipahami sebagai penciptaan Allah atas sesuatu disertai penyempurnaan sesuai ilmu-Nya. Dengan kata lain, qadha adalah batasan yang Allah buat pada azali atas setiap makhluk dengan batasan yang ada pada semua makhluk itu seperti baik, buruk, memberi manfaat, menyebabkan mudarat, dan seterusnya. Singkat kata, qadha adalah ilmu azali Allah atas sifat-sifat makhluk-Nya.

Ada lagi ulama yang berpendapat bahwa qadha adalah ilmu azali Allah dalam kaitannya dengan materi yang diketahui oleh-Nya. Sementara qadar adalah penciptaan Allah atas sesuatu sesuai dengan ilmu-Nya.

Jadi, ilmu Allah pada azali bahwa si A kelak akan menjadi ulama atau ilmuwan adalah qadha. Sedangkan penciptaan ilmu pada diri si A setelah ia diciptakan adalah qadar, (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 12).

وقول الأشاعرة هو المشهور وعلى كل فالقضاء قديم والقدر حادث بخلاف قول الماتريدية وقيل كل منهما بمعنى إرادته تعالى

Artinya, “Pandangan ulama Asy’ariyyah cukup masyhur. Atas setiap pandangan itu, yang jelas qadha itu qadim (dulu tanpa awal). Sementara qadar itu hadits (baru). Pandangan ini berbeda dengan pandangan ulama Maturidiyyah. Ada ulama berkata bahwa qadha dan qadar adalah pengertian dari kehendak-Nya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 12).

Semoga pelbagai keterangan ini membantu kita dalam memahami kata “qadha” dan “qadar” yang kerap kita ucapkan.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah bahwa qadha merupakan sesuatu yang ghaib. Oleh karena itu, dalam tradisi ahlussunnah wal jamaah keyakinan kita atas qadha dan qadar itu tidak boleh menjadi alasan kita untuk bersikap pasif.

Tradisi ahlussunnah wal jamaah justru mendorong kita untuk melakukan ikhtiar dan upaya-upaya manusiawi serta mendayagunakan secara maksimal potensi yang Allah anugerahkan kepada manusia sambil tetap bersandar memohon inayah-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 18 September 2018 20:30 WIB
Kapan Kita Dianggap Menyerupakan Allah dengan Makhluk?
Kapan Kita Dianggap Menyerupakan Allah dengan Makhluk?
Ilustrasi (sufism247.blog)
Hampir seluruh kajian aqidah salaf disertai dengan ungkapan “tanpa menyerupakan atau menyamakan Allah” (tanpa tasybîh atau tamtsîl). Namun, tak banyak orang yang paham apa sebenarnya yang dimaksud tanpa menyerupakan Allah itu. Ada yang berkata bahwa Allah mempunyai tangan, mata dan bentuk dalam arti sebenarnya tetapi tidak serupa dengan makhluk, apakah perkataan ini masuk dalam kategori tidak menyerupakan ataukah justru telah menyerupakan Allah?

Ada dua kaidah batasan penyerupaan (tasybîh) di kalangan ulama yang digunakan untuk memutuskan mana yang masuk kategori tasybih dan mana yang tidak. Berikut ini akan penulis sajikan keduanya lalu mengaplikasikannya pada golongan yang disepakati sebagai Mujassimah-Musyabbihah (kelompok yang percaya Allah berfisik atau menyerupai makhluk) untuk melihat kaidah mana yang valid.

Kaidah pertama adalah kaidah dari Imam Ahmad bin Hanbal. Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hamdan al-Hanbali, beliau berkata:

وقال أحمد: أحاديث الصفات تمر كما جاءت من غير بحث على معانيها، وتخالف ماخطر في الخاطر عند سماعها، وننفي التشبيه عن الله تعالی عند ذكرها مع تصديق النبي ، والإيمان بها، وكلما يعقل ويتصور فهو تكييف وتشبيه، وهو محال

“Imam Ahmad berkata: Hadits-hadits sifat harus dibaca ulang seperti sedia kala tanpa dibahas makna-maknanya. Ia berbeda dengan apa yang terbesit dalam hati seseorang ketika mendengarnya. Dan, kami menafikan penyerupaan dengan Allah ketika Allah menyebutkannya serta membenarnya [ucapan] Nabi dan mengimaninya. Setiap kali ia dipahami dan tergambar di benak, maka itulah membagaimanakan (takyîf) dan menyerupakan (tasybîh). Itu adalah mustahil.” (Ibnu Hamdan al-Hanbali, Nihâyat al-Mubtadi’în, halaman 33).

Dalam kaidah pertama ini, yang disebut penyerupaan adalah segala gambaran yang muncul di kepala dan dapat dipahami. Ketika misalnya membaca kata yadullah kemudian tergambar di benak kita adanya organ tubuh Allah yang dipakai untuk mengerjakan macam-macam hal, maka itulah tasybîh. Ketika membaca kata nuzûl lalu tergambar di benak bahwa Allah bergerak turun dari atas ke bawah, maka itulah tasybîh. Ketika membaca kata “istiwâ’” lalu tergambar dalam benak bahwa Allah bertempat di atas Arasy, maka itulah tasybîh. Dan demikian seterusnya untuk kata-kata lain, apabila kata yang dinisbatkan pada Allah tersebut dipahami seperti makna yang di kamus-kamus, maka itulah tasybîh. Mau diiringi dengan penjelasan “seperti makhluk” atau “tak seperti makhluk”, sama sekali tak berarti dalam kaidah ini sebab yang menjadi intinya adalah penetapan makna seperti yang dipahami manusia.

Kaidah kedua adalah kaidah dari Imam Ishaq bin Rahawaih, salah satu pakar hadits klasik yang semasa dengan Imam Ahmad. Beliau berkata:

وقَالَ إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ: " إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ: يَدٌ كَيَدٍ، أَوْ مِثْلُ يَدٍ، أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ، أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ

Ishaq bin Ibrahim (Rahawaih) berkata: Sesungguhnya hanya terjadi tasybîh apabila berkata tangan [Allah] seperti tangan atau mirip tangan [makhluk], pendengaran [Allah] seperti atau mirip pendengaran [makhluk]. (At-Turmudzi, Sunan at-Turmudzi, juz III, halaman 42)

Senada dengan beliau, Syekh Adz-Dzahabi juga berkata:

فإن التشبيه إنما يقال: يدٌ كيدنا ... وأما إذا قيل: يد لا تشبه الأيدي، كما أنّ ذاته لا تشبه الذوات، وسمعه لا يشبه الأسماع، وبصره لا يشبه الأبصار ولا فرق بين الجمع، فإن ذلك تنزيه

"Tasybîh hanya terjadi apabila dikatakan ‘Tangan seperti tangan kita’ …. Apabila dikatakan: ‘tangan yang tak sama dengan tangan-tangan lain’, seperti halnya Dzat-Nya tak sama dengan Dzat lain, pendengaran-Nya tak sama dengan pendengaran yang lain, penglihatan-Nya tak sama dengan penglihatan yang lain, dan tak ada bedanya di antara semua, maka itu adalah menyucikan (tanzîh)". (Adz-Dhahabi, al-Arba’în min Shifât Rabb al-‘Âlamîn, halaman 104).

Menurut kaidah kedua ini, penyerupaan Tuhan (tasybîh) dengan makhluk hanya terjadi apabila mengatakan kata “seperti” atau “mirip” dengan makhluk atau yang dimiliki makhluk. Apabila tak mengatakan demikian, maka itu bukan tasybîh tetapi masih menyucikan Allah dari keserupaan.

Sekarang mari kita aplikasikan kedua kaidah di atas pada perkataan seorang Mujassimah (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jism) yang dikenal juga di antara umat islam sebagai kalangan Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Di antara mereka, ada Muqatil bin Sulaiman yang berkata:

أن الله جسم وأن له جمة وأنه على صورة الإنسان لحم ودم وشعر وعظم له جوارح وأعضاء من يد ورجل ورأس وعينين مصمت وهو مع هذا لا يشبه غيره ولا يشبهه.

“Sesungguhnya Allah adalah jism (bentuk yang bervolume) dan Ia mempunyai rambut menjuntai, berbentuk manusia, punya daging, darah, bulu, tulang, punya organ tubuh seperti tangan, kaki, kepala, dua mata, tak berongga, meski demikian Dia tak menyerupai selainnya dan selainnya tak menyerupainya.” (Abu Hasan al-Asy’ari, Maqâlât al-Islâmiyyîn, halaman 153)

Semua golongan umat Islam sudah sepakat bahwa Muqatil bin Sulaiman dengan perkataannya itu adalah Mujassimah-Musyabbihah. Dia telah menganggap Allah seperti halnya manusia dan mempunyai organ-organ dan susunan tubuh seperti halnya manusia. Bila kita memakai kaidah pertama dari Imam Ahmad di atas, maka Muqatil ini jelas sudah melakukan tasybîh dan cocok dengan realitas yang diyakini kaum muslimin pada umumnya. Namun apabila kita memakai kaidah kedua di atas, maka Muqatil ini masih belum melakukan tasybîh sebab di akhir ucapannya itu dia memberi keterangan bahwa meski punya tubuh dan berbentuk manusia, Allah tak mirip dan tak menyerupai makhluk apapun. 

Dengan demikian kita bisa tahu bahwa kaidah kedua tadi tak akurat untuk membatasi pelaku tasybîh bahkan yang paling parah seperti Muqatil di atas. Pada dasarnya, seluruh kaum muslim di dunia, tak terkecuali kaum Mujassimah-Musyabbihah seluruhnya meyakini bahwa Allah tak seperti makhluk sehingga semua meyakini bahwa Dzat-Nya tak seperti makhluk. Apabila batasan tasybîh hanya bergantung pada pernyataan “seperti makhluk”, maka takkan ada satu pun orang di dunia ini yang bisa disebut Mujassimah – Musyabbihah. Ini tak realistis sebab mereka itu benar-benar ada dan dikenal luas sejak masa lalu.

Karena itulah, untuk memudahkah penilaian dan langsung fokus pada titik persoalan, maka Syaikh al-Bajuri al-Asy’ari menegaskan batas pembeda antara tasybîh dan bukan sebagai berikut:

وَالْمُمَاثَلَةُ لِلْحَوَادِثِ وَهُوَ ضِدُّ الْمُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ. وَالْمُمَاثَلَةُ مُصَوَّرَةٌ بِأَنْ يَكُوْنَ جِرْمًا سَوَاءٌ كَانَ مُرَكَّبًا وَيُسَمَّى حِيْنَئِذٍ جِسْمًا أَوْ غَيْرَ مُرَكَّبٍ وَيُسَمَّى حِيْنَئِذٍ جَوْهَرًا فَرْدًا

“Serupa dengan hal baru adalah lawan dari berbeda dengan hal baru. Keserupaan ini tergambarkan dengan terjadinya Allah dari materi fisikal, baik materi itu tersusun yang kemudian disebut jism atau tidak tersusun yang kemudian disebut partikel tunggal.” (Ibrahim al-Baijuri, Hâsyiyat al-Imâm al-Baijûri ‘Alâ Jawharat al-Tawhîd, halaman 163)

Dengan penjelasan Imam al-Baijuri ini, maka pedomannya akan jauh lebih sederhana. Apabila meyakini Allah sebagai jism (punya jasad, badan, volume), maka itulah tasybîh yang terlarang itu. Seluruh makna yang ada di kamus hanya berlaku bagi jism ini. Demikian pula seluruh bayangan di benak manusia hanya berlaku bagi jism semata. Sebab itulah, maka keyakinan ini harus dibuang sejauh-jauhnya untuk menyucikan Tuhan (tanzîh). Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember

Selasa 18 September 2018 9:0 WIB
Siapakah yang Berkata Allah Ada di Mana-mana?
Siapakah yang Berkata Allah Ada di Mana-mana?
Ilustrasi (Freepik)
Ada banyak misinformasi yang sengaja diedarkan oleh para kritikus manhaj Aqidah Asy’ariyah-Maturidiyah yang nota bene menjadi manhaj aqidah representatif Ahlusunnah wal Jama’ah selama satu milenium terakhir. Di antara informasi yang disebar oleh para kritikus itu, biasanya dari kalangan pendaku Salafi modern, adalah bahwa Asy’ariyah menyatakan Allah ada di mana-mana sehingga dalam setiap kesempatan dialog aqidah dengan Asy’ariyah, selalu saja mereka melontarkan kritik terhadap orang yang berkata bahwa Allah di mana-mana. Tak lupa, mereka menukil sekian banyak pernyataan ulama yang menolak pernyataan bahwa Allah ada di mana-mana. Benarkah Asy’ariyah berkeyakinan demikian?

Sebenarnya adanya anggapan tersebut disebabkan karena minimnya pengetahuan tentang manhaj aqidah  Asy’ariyah sehingga mereka salah paham. Tak ada satu pun ulama Asy’ariyah yang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana sebab ini bertolak belakang dengan aqidah mereka. Dalam keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah yang diperjuangkan oleh Asy’ariyah, Allah bukanlah jism sehingga Ia terlepas dari seluruh sifat-sifat jismiyah. Bertempat di mana pun, di atas, di bawah, di depan, di belakang, di samping dan apalagi di mana-mana adalah sifat khas jism sehingga ditiadakan sepenuhnya oleh para Ulama Asya’irah. Ini adalah pernyataan mereka di kitab-kitab aqidah yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Banyak kutipan mereka dinukil di NU Online ini pada sub-kajian ilmu tauhid dan tak perlu dikutip ulang kali ini.

Lalu siapakah yang berkata bahwa Allah ada di mana-mana yang ditolak keras oleh para ulama itu? Nukilah berikut ini akan menjawabnya:

كان الجعد بن درهم من أهل الشام وهو مؤدب مروان الحمار، ولهذا يقال له: مروان الجعدي، فنسب إليه، وهو شيخ الجهم بن صفوان الذي تنسب إليه الطائفة الجهمية الذين يقولون: إن الله في كل مكان بذاته تعالى الله عما يقولون علوا كبيرا،

“Ja'd bin dirham adalah warga Syam, dia adalah gurunya Jahm bin Sofwan yang kepadanya dinisbatkan golongan Jahmiyah yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ada di tiap tempat dengan Dzat-Nya’.”  (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah, juz X, halaman 19)

أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ مِنْ فوق سبع سموات كَمَا قَالَتِ الْجَمَاعَةُ وَهُوَ مِنْ حُجَّتِهِمْ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ فِي قَوْلِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَلَيْسَ عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla di langit di atas Arasy  di atas tujuh lapis langit seperti yang dikatakan oleh Jamaah ulama. Pernyataan ini adalah argumen mereka untuk melawan Muktazilah dan Jahmiyah yang berkata bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ada di mana-mana  dan tidak [istiwâ’] di atas Arasy.” (Ibnu Abdil Barr, at-Tamhîd, juz VII, halaman 129).

Jadi, perkataan bahwa Allah ada di mana-mana adalah pendapat resmi dari kelompok Jahmiyah yang kemudian diikuti oleh Muktazilah. (Jahmiyah merupakan pengikut Jahm bin Shafwan yang mengatakan bahwa Allah tak mempunyai sifat apa pun, red). Mereka mengatakan itu sebab menolak sifat istiwâ’ sebagaimana difirmankan Allah. Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) sepakat bahwa Allah bersifat istiwâ’ atas Arasy dan senantiasa demikian. Tak ada satu pun dari mereka yang menolak sifat ini. Sebab itulah, sejarah mencatat bahwa Asy’ariyah-Maturidiyah  adalah rival terkuat bagi Muktazilah yang akhirnya memusnahkan ajaran Muktazilah secara total di masa lalu setelah sebelumnya menjadi ajaran resmi dinasti Abbasiyah di bawah pemerintahan Al-Makmun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq.

Sungguh aneh apabila dewasa ini justru sebagian masyarakat menganggap Asy’ariyah-Maturidiyah  sebagai Jahmiyah atau Muktazilah yang berkata bahwa Allah ada di mana-mana, padahal faktanya justru mereka yang terdepan memusnahkan keyakinan ini dan keyakinan Jahmiyah-Muktazilah lainnya. Kitab-kitab Asy’ariyah hingga kini seluruhnya menempatkan Jahmiyah atau pun Muktazilah di kategori aliran menyimpang dan ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Sayangnya, beberapa orang dewasa ini tak mempelajari aqidah Asy’ariyah dari kitab resmi mereka sendiri melainkan hanya mendengar dari kitab-kitab golongan anti-Asy’ariyah yang penuh misinformasi sehingga menganggap itu adalah fakta sehungguhnya, padahal tidak. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.