IMG-LOGO
Trending Now:
Jumat

Inilah Sembilan Kesunnahan dalam Khutbah

Selasa 25 September 2018 17:30 WIB
Share:
Inilah Sembilan Kesunnahan dalam Khutbah
Khutbah Jumat merupakan salah satu bagian terpenting dalam pelaksanaan Jumat. Khutbah Jumat tidak sama dengan ceramah-ceramah biasa. Ada beberapa anjuran yang perlu diperhatikan. Berikut ini Sembilan hal yang disunnahkan dalam pelaksanaan khutbah Jumat.

Pertama, khutbah di atas mimbar.

Anjuran ini karena mengikuti sunnah Nabi sebagaimana hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim. Demikian pula disunnahkan posisi mimbar berada di sebelah kanan mihrab (pengimaman). Bila tidak ditemukan mimbar, maka cukup digantikan dengan tempat yang tinggi, tujuannya karena lebih sempurna dalam memperdengarkan khutbah kepada Jamaah.

Kedua, menghadap para jamaah.

Khutbah dianjurkan dilakukan dalam posisi menghadap para jamaah, bukan membelakangi mereka. Bagi para jamaah disunnahkan pula menghadapkan wajahnya kepada khatib. Dalam titik ini, terdapat beberapa hadits Nabi yang menjelaskan hal tersebut. Di antaranya haditsnya ‘Adi bin Tsabit dari ayahnya bahwa beliau mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلَهُ أَصْحَابُهُ بِوُجُوهِهِمْ

“Nabi Saw saat berdiri di atas mimbar, para sahabatnya menghadapkan wajahnya kepada beliau.” (HR. Ibnu Majah)

Ketiga, azan sebelum khutbah.

Pada masa Rasulullah Saw, Abu Bakr dan Umar bin Khattab, azan sebelum khutbah hanya dilakukan sekali, yaitu saat khatib datang dan mengambil posisi duduk di atas mimbar. Baru di masa pemerintahan Utsman bin Affan ditambahkan satu azan lagi. Sahabat Utsman menganggap sangat perlu menambahkan satu azan untuk lebih mengumpulkan kaum muslim agar segera bersiap mendengarkan bacaan khutbah, melihat jumlah kuantitas umat islam yang bertambah banyak.

Dalam kitab al-Umm karya imam al-Syafi’i ditegaskan:

أخبرنا الرَّبِيعُ قال أخبرنا الشَّافِعِيُّ قال أخبرني الثِّقَةُ عن الزُّهْرِيِّ عن السَّائِبِ بن يَزِيدَ أَنَّ الْأَذَانَ كان أَوَّلُهُ لِلْجُمُعَةِ حين يَجْلِسُ الْإِمَامُ على الْمِنْبَرِ على عَهْدِ رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبى بَكْرٍ وَعُمَرَ فلما كانت خلافه عُثْمَانَ وَكَثُرَ الناس أَمَرَ عُثْمَانَ بِأَذَانٍ ثَانٍ فَأُذِّنَ بِهِ فَثَبَتَ الْأَمْرُ على ذلك

“Dari al-Rabi’, dari al-Syafi’i, dari seseorang yang terpercaya, dari al-Zuhri, dari al-Saib bin Yazid, bahwa mula-mula azan Jumat dikumandangkan saat imam duduk di atas mimbar di zaman Rasulullah, Abu Bakr dan Umar. Kemudian saat pemerintahan Utsman bin Affan dan semakin banyaknya umat islam, khalifah Utsman memerintahkan azan yang ke dua, kemudian dikumandangkan azan sesuai perintahnya. Kemudian azan jumat berlaku tetap seperti petunjuk shabat Utsman.” (al-Imam al-Syafi’i, al-Umm, juz 1, hal.195). 

Keempat, membaca khutbah dengan lantang.

Khutbah hendaknya dibaca dengan lantang dan keras. Hal ini agar dapat lebih menggugah antusiasme jamaah. Anjuran ini juga berdasarkan sunnah fi’liyyah (perilaku) Nabi saat beliau menyampaikan khutbah. Ditegaskan dalam hadits riwayat sahabat Jabir bin Abdillah:

كَانَ رَسُولُ الله - صلى الله عليه وسلم - إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

“Rasulullah Saw saat beliau berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang dan tampak sangat marah seakan-akan beliau memperingatkan tentara perang.” (HR. Muslim).

Kelima, mengucapkan salam sebelum berkhutbah.

Saat khatib maju ke depan dan telah sampai di depan mimbar, hendaknya ia menghadap para jamaah dan mengucapkan salam kepada mereka, setelah itu dianjurkan duduk sejenak sampai muazzin selesai mengumandangkan azan di hadapannya. Demikian itu sebagaimana dilakukan oleh para Nabi dan para sahabatnya.

Keenam, durasi khutbah tidak terlampau pendek dan panjang.

Khutbah hendaknya disampaikan dalam durasi yang standar, tidak terlampau pendek, tidak pula terlalu panjang. Dalam sebuah hadits ditegaskan:

كَانَتْ صَلَاةُ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

“Bahwa durasi shalat dan khutbahnya Nabi sesuai dengan standar umum.” (HR. Muslim)

Tidak ada batasan pasti berapa lama durasi waktu khutbah yang ideal menurut syari’at. Hanya saja, al-Imam al-Mawardi menggaris bawahi bahwa prinsipnya adalah tidak terlampau lama sehingga dapat membosankan dan tidak terlampau pendek sehingga pesan khutbah tidak dapat dicerna dengan baik oleh jamaah. Dalam titik ini, disesuaikan dengan kondisi kebiasaan masing-masing di setiap tempatnya.

Al-Imam al-Mawardi sebagaimana dikutip oleh Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli mengatakan:

وَحَسُنَ قَوْلُ الْمَاوَرْدِيِّ وَيَقْصِدُ إيرَادَ الْمَعْنَى الصَّحِيحِ وَاخْتِيَارَ اللَّفْظِ الْفَصِيحِ وَلَا يُطِيلُ إطَالَةً تُمِلُّ وَلَا يُقَصِّرُ تَقْصِيرًا يُخِلُّ

“Dan bagus statemen al-Mawardi, hendaknya khatib menyengaja makna yang benar dan memilih redaksi yang fasih, hendaknya ia tidak memanjangkan khutbah yang dapat membosankan dan tidak memendekan khutbah yang dapat merusak pesan khutbah.” (Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli, Hasyiyah ‘ala Asna al-Mathalib, juz 3, hal.484).

Yang sering disalahpahami, khutbah dengan durasi yang sangat panjang merupakan sebuah prestasi dan dianggap positif. Padahal, hal tersebut tidak sesuai dengan petunjuk Nabi. 

Sebagaimana ditegaskan dalam beberapa hadits, bahwa Nabi memendekan khutbah dan memanjangkan shalat Jumat. Bacaan khutbah yang terlampau panjang, di samping bertentangan dengan ajaran Nabi, juga dapat mengakibatkan jamaah resah, karena beberapa di antara mereka terdapat orang tua, anak kecil dan orang-orang yang segera melanjutkan aktivitas kerjanya. 

Ketujuh, memegang tongkat dengan tangan kirinya.

Saat ia berkhutbah, tangan kiri khatib dianjurkan memegang tongkat, pedang, busur panah atau benda-benda sejenis. Hal ini berdasarkan hadits Nabi:

أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ مُتَوَكِّئًا عَلَى قَوْسٍ أَوْ عَصًا

“Bahwa Nabi berdiri dalam khutbah Jumat seraya berpegangan atas busur tanah atau tongkat.” (HR. Abu Daud).

Kedelapan, mudah dipaham jamaah.

Sebaiknya materi khutbah berupa konten yang ringan, mudah dicerna oleh para jamaah. Tidak menyampaikan materi yang berat, sebab hal tersebut tidak dapat diambil manfaatnya. Contoh materi yang sederhana misalkan yang berkaitan dengan keutamaan berjamaah, keutamaan membaca al-quran, kemuliaan bulan-bulan tertentu, bahaya riba, efek negatif zina dan lain sebagainya. Sahabat Ali mengatakan:

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Bicaralah kepada manusia dengan perkara yang mereka ketahui. Apakah kalian suka Allah dan rasulNya didustakan?.” (HR. al-Bukhari).

Kesembilan, duduk di antara dua khutbah dalam durasi bacaan surat al-Ikhlash.

Lama durasi duduk di antara dua khutbah hendaknya sekira cukup membaca surat al-Ikhlash. Dalam posisi tersebut, khatib disunnahkan membaca satu dua ayat dari al-Qur’an sebagiamana hadits riwayat Ibnu Hibban. Sebagian ulama menganjurkan yang dibaca adalah surat al-Ikhlash.

Demikianlah Sembilan hal yang disunnahkan dalam khutbah. Semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Jumat 14 September 2018 11:30 WIB
Hukum Mendengarkan Khutbah di Luar Masjid
Hukum Mendengarkan Khutbah di Luar Masjid
Dalam pelaksanaan shalat Jumat, khutbah disyaratkan didengar oleh minimal 40 jamaah. Jamaah yang mendengarkan khutbah disyaratkan orang yang mengesahkan Jumat, yaitu muslim yang berakal, baligh dan penduduk yang bertempat tinggal tetap di daerah pelaksanaan Jumat.

Terkadang, jamaah yang rumahnya berdekatan dengan masjid, mendengarkan khutbahnya di rumah sendiri, bahkan dalam kondisi belum siap berangkat Jumatan. Dalam kasus yang lain, daya tampung masjid yang tidak memadai, memaksa sebagian jamaah mendengarkan khutbah di luar masjid.

Dalam pandangan fiqh, bagaimana hukum mendengarkan khutbah di luar masjid? Apakah terhitung jamaah yang mengesahkan pelaksanaan Jumat?

Dalam fiqh mazhab Syafi’i, Jumat tidak harus dilaksanakan di masjid. Boleh dilakukan di lapangan, surau atau tempat lainnya. Demikian pula pelaksanaan khutbahnya, tidak wajib dilakukan di masjid. 

Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:

وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُ فِيْهَا

“Jum’at tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka jum’at tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut.” (al-Ghazali, al-Wasith, juz 2, hal. 263, Kairo, Dar al-Salam, cetakan ketiga tahun 2012)

Oleh sebab itu, mendengarkan khutbah Jumat boleh dilakukan di luar masjid. Di halaman masjid, di jalan, di rumah sendiri atau di tempat manapun, asalkan dapat mendengar khutbah, maka sah. Jamaah yang mendengarkan khutbah di luar masjid terhitung dari 40 orang yang dapat mempengaruhi keabsahan Jumat asalkan dari kelompok yang dapat mengesahkan Jumat. 

Syekh Ibnu hajar al-Haitami ditanya, apakah orang yang mendengarkan khutbah saat ia sedang berada di kamar mandi atau tempat lainnya, apakah tergolong 40 orang yang dapat mengesahkan Jumat. Dalam fatwanya, beliau menjawab:

فأجاب بأن الذي يصرح به كلامهم أن يعتد بسماع من بالخلاء ونحوه فقد قالوا لا بد من سماع أربعين من أهل الكمال والمراد بهم من تلزمهم الجمعة فتنعقد بهم ولا شك أن من بالخلاء ونحوه تلزمه الجمعة وتنعقد به
 
“Bahwa sesungguhnya pendapat yang dijelaskan oleh para ulama, mendengar khutbahnya jamaah yang berada di kamar mandi dan tempat lainnya adalah sesuatu yang sah. Ulama mengatakan khutbah wajib didengar 40 jamaah yang sempurna, mereka adalah jamaah yang wajib dan mengesahkan Jumat. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tengah berada di kamar mandi atau tempat lainnya tergolong orang yang wajib dan mengesahkan Jumat.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra, juz 1, hal. 234).

Lebih lanjut beliau menjelaskan, orang yang mendengarkan khutbah dalam kondisi yang tidak siap melaksanakan shalat, tidak mempengaruhi kebolehan dan keabsahan pelaksanaan khutbah. Beliau menegaskan:

وكونه حالة السماع على هيئة تنافي الصلاة لا أثر له لأن القصد من اشتراط سماعهم اتعاظهم بما يسمعون في الجملة وهذا المقصود حاصل بسماع من بالخلاء ونحوه

“Dan keberadaan orang di kamar mandi tersebut dalam kondisi yang bertentangan dengan shalat tidak mempengaruhi dampak apapun. Sebab tujuan dari syarat mendengarkan khutbah oleh jamaah jumat adalah mereka menerima pesan khutbah yang mereka dengar secara umum. Dan tujuan ini dapat dihasilkan dengan mendengar khutbah di kamar mandi dan tempat lainnya.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra, juz 1, hal. 234).

Bila melihat pertimbangan keutamaan, mendengarkan khutbah di masjid tentu lebih memiliki pahala yang besar, sebab  ada nilai lebih seperti pahala I’tikaf. Demikian penjelasan mengenai hukum mendengarkan khutbah di luar masjid. Saran kami, meski hal tersebut diperbolehkan, namun usahakan agar datang di masjid lebih awal dan mendengarkan khutbah di dalamnya, karena memiliki nilai keutamaan yang tidak didapatkan saat mendengarkan khutbah di luar masjid. (M. Mubasysyarum Bih)

Kamis 13 September 2018 15:30 WIB
Hukum Mengedarkan Kotak Amal saat Khutbah Berlangsung
Hukum Mengedarkan Kotak Amal saat Khutbah Berlangsung
Tradisi di masyarakat, saat khutbah berlangsung, kotak amal masjid diedarkan dari satu jamaah ke yang lain, untuk mempersilakan masing-masing menyumbang di kotak tersebut. Bagaimana hukumnya menurut pandangan fiqih?

Anjuran saat khutbah berlangsung adalah diam mendengarkan khutbah dengan seksama. Anjuran ini berdasarkan firman Allah ﷻ:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan khutbah, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf, 204).

Kata “al-Qur’an” dalam ayat tersebut ditafsiri dengan khutbah. Penamaan khutbah dengan sebutan Al-Quran, karena di dalam khutbah mengandung ayat suci Al-Qur’an.

Syekh Zakariyya al-Anshari mengatakan:

و سن لمن سمعهما انصات فيهما أي سكوت مع إصغاء لهما لقوله تعالى وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا  ذكر في التفسير أنها نزلت في الخطبة وسميت قرآنا لاشتمالها عليه

“Orang yang mendengar kedua khutbah disunnahkan inshât, yaitu diam disertai mendengarkan secara seksama bacaan khutbah, karena firman Allah ﷻ, ‘Dan apabila dibacakan khutbah, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah.’ Disebutkan dalam tafsir bahwa ayat tersebut turun dalam permasalahan khutbah. Khutbah disebut dengan Al-Qur’an karena khutbah mengandung ayat suci Al-Qur’an.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Fath al-Wahhab, juz.1, hal.134).

Oleh karenanya, Nabi melarang berbicara saat khutbah berlangsung. Dalam sabdanya, beliau menegaskan:

إذَا قُلْت لِصَاحِبِك أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

“Jika kamu katakan kepada temanmu, diamlah, di hari Jumat saat khatib berkhutbah, maka kamu telah melakukan perbuatan menganggur (tiada guna).” (HR. Muslim).

Dalam literatur fiqh mazhab Syafi’i, hukumnya makruh berbicara atau mengobrol saat khutbah berlangsung. Demikian pula makruh dilakukan saat khutbah berlangsung, segala kegiatan yang dapat melalaikan dari khutbah, seperti membagikan kertas, membagikan sedekah, bermain-main, mengedarkan kendi dan botol untuk berbagi minuman dan lain sebagainya. Dalam titik ini, mengedarkan kotak amal tergolong hal yang dimakruhkan ini, sebab memiliki titik temu yang berupa melalaikan diri dari khutbah.

Syekh Sulaiman al-Jamal mengatakan:

ويكره المشي بين الصفوف للسؤال ودوران الإبريق والقرب لسقي الماء وتفرقة الأوراق والتصدق عليهم ؛ لأنه يلهي الناس عن الذكر واستماع الخطبة ا هـ . برماوي .

“Makruh berjalan di antara shaf untuk meminta-minta, mengedarkan kendi atau geriba untuk memberi minuman, membagikan kertas dan bersedekah kepada jamaah, sebab hal tersebut dapat melalaikan manusia dari zikir dan mendengarkan khutbah.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 2, hal. 36).

Namun demikian, bila mengedarkan kotak amal tersebut bertujuan untuk menghindari gunjingan dan stigma negatif di masyarakat, maka hal tersebut diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Sebagaimana tradisi selametan 3 hari kematian mayit yang semula hukumnya makruh, namun bila ada tujuan menghindari gunjingan masyarakat, maka diperbolehkan, bahkan sangat diharapkan mendapat pahala karena tujuan mulia tersebut.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan:

جميع ما يفعل مما ذكر في السؤال من البدع المذمومة لكن لا حرمة فيه إلا إن فعل شيء منه لنحو نائحة أو رثاء ومن قصد بفعل شيء منه دفع ألسنة الجهال وخوضهم في عرضه بسبب الترك يرجى أن يكتب له ثواب ذلك أخذا من أمره صلى الله عليه وسلم من أحدث في الصلاة بوضع يده على أنفه وعللوه بصون عرضه عن خوض الناس فيه لو انصرف على غير هذه الكيفية

“Segala tradisi yang disebutkan dalam pertanyaan di atas (termasuk selametan 3 hari kematian mayit) termasuk bid’ah yang tercela, namun tidak haram, kecuali melakukannya dengan tujuan meratapi kepergian mayit. Orang yang melakukan tradisi tersebut dengan tujuan menolak gunjingan masyarakat dan serangan mereka terhadap harga dirinya disebabkan meninggalkan tradisi tersebut, maka diharapkan mendapatkan pahala. Hal tersebut berlandaskan pada perintah Nabi untuk memegang hidung bagi orang yang berhadats di tengah shalat. Ulama memberikan alasan yang rasional, bahwa hal tersebut dilakukan untuk menjaga harga dirinya dari cercaan manusia apabila ia beranjak dari shalat tidak menggunakan cara memegang hidung tersebut.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 2, hal. 7).

Syekh Said bin Muhammad Ba’isyun menegaskan:

ويسن لمن أحدث في صلاته أو قبلها قرب إقامتها أن يأخذ بأنفه ولينصرف سترا على نفسه ولئلا يحوض الناس فيه ويؤخذ منه أنه يسن ستر كل ما يوقع الناس فيه كما لو نام عن صلاة الصبح فتوضأ بعد طلوع الشمس فيوهم أنه يصلي الضحى

“Sunnah bagi orang yang berhadats saat atau sesaat sebelum shalat didirikan, memegang hidungnya, dan hendaknya ia beranjak dari tempat shalat, untuk menutupi dirinya dan agar manusia tidak membincangkan aibnya. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa disunnahkan menutupi setiap hal yang dapat mendorong gunjingan manusia, seperti saat tertidur meninggalkan shalat subuh, maka hendaknya ia berwudlu setelah terbitnya matahari, agar ia diduga menjalankan shalat dluha.” (Syekh Said bin Muhammad Ba’isyun, Busyra al-Karim, juz 1, hal. 194).

Walhasil, mengedarkan kotak amal saat khutbah berlangsung sebaiknya dihindari, tapi apabila tradisi tersebut tidak dilakukan justru akan menimbulkan stigma negatif atau gunjingan dari orang lain, maka hukumnya boleh bahkan dianjurkan dengan tujuan menghindari anggapan negatif tersebut. Bagaimanapun pengurus masjid seyogianya mencari momen lebih pas di luar saat-saat khutbah, misalnya sesaat sebelum adzan, sebelum khutbah, atau sesudah salam shalat Jumat bila memungkinkan. Demikianlah, semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)

Kamis 6 September 2018 20:15 WIB
Ini Waktu Utama Mandi Sunnah Jumat
Ini Waktu Utama Mandi Sunnah Jumat
(Foto: via pepperr.net)
Jumat merupakan hari yang paling mulia dalam Islam. Dikatakan mulia karena di dalamnya terdapat banyak amalan utama dan kesunnahan. Laki-laki misalnya diwajibkan shalat Jumat pada hari tersebut dan mengerjakan berbagai amalan sunnah sebelum shalat Jumat.

Di antara amalan yang disunnahkan sebelum Jumat adalah mandi. Anjuran mandi tersebut terdapat dalam hadis riwayat Ibnu Abbas:

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ

Artinya, “Hari ini (Jumat) adalah hari raya yang dijadikan Allah SWT untuk umat Islam. Siapa yang ingin melaksanakan shalat Jumat, hendaklah mandi, memakai wangi-wangian kalau ada, dan menggosok gigi (siwak),” (HR Ibnu Majah).

Sebab itu, Syekh M Nawawi Banten dalam Nihayatuz Zain mengatakan:

و(سن لمريدها) أي لمن أراد حضور الجمعة (الغسل) وإن لم تجب عليه

Artinya, “Orang yang akan shalat Jumat disunnahkan mandi meskipun itu tidak wajib untuknya.”

Kemudian ia menambahkan:

ووقته (بعد فجر) أي من طلوع الفجر الصادق إلى صعوب الخطيب على المنبر أو إلى فراغ الصلاة وتقريبه من ذهابه إلى الجمعة أفضل لأنه أفضى إلى المقصود من انتفاء الروائح الكريهة

Artinya, “Waktunya setelah shalat shubuh, maksudnya dari terbit fajar shadiq sampai khatib naik mimbar, atau setelah selesai shalat dan mandi saat mau pergi shalat Jumat lebih utama karena lebih dekat kepada tujuan, yaitu untuk menghilangkan bau yang tidak enak.”

Berdasarkan pendapat Syekh M Nawawi, waktu kesunnahan mandi Jumat adalah dari terbit fajar shadiq atau masuknya waktu shubuh sampai khatib naik mimbar. Tetapi, waktu yang paling baik untuk mandi adalah ketika kita mau ke masjid.

Misalkan, jam 11.30 kita mau ke masjid, maka seketika itu kita disunnahkan mandi sebelum berangkat karena salah satu tujuan dari mandi Jumat adalah untuk menghilangkan bau tidak enak. Kalau mandi terlalu pagi dan tidak mandi lagi saat pergi ke masjid, khawatirnya badan kita bau lagi dan menganggu konsentrasi orang yang sedang beribadah.

Maka dari itu, lebih utama mandi sebelum berangkat shalat Jumat, serta memakai wangi-wangian agar ibadah semakin nyaman dan orang yang shalat di sekitar kita juga tidak terganggu. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)