IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Dukungan Ibnu Taimiyah terhadap Aqidah Asy'ariyah

Rabu 26 September 2018 19:30 WIB
Share:
Dukungan Ibnu Taimiyah terhadap Aqidah Asy'ariyah
Ilustrasi (wikiwand.com)
Syekh Ibnu Taimiyah adalah sosok ulama yang kontroversial. Sebagian orang ada yang menganggapnya sebagai imam terbesar—yang meski secara teori bisa salah sebagaimana manusia biasa tapi secara praktik dianggap hampir tak pernah salah sehingga pendapatnya selalu menjadi patokan kebenaran untuk menilai pendapat ulama lainnya. Sebagian lagi menganggapnya fasiq dan bodoh dan bahkan sebagian lagi ada yang tak segan mengafirkannya karena berbagai alasan. Tampaknya benar orang yang berkata bahwa tak ada satu tokoh Islam yang polarisasi pendapat tentangnya setajam Ibnu Taimiyah.
 
Meskipun mayoritas masyarakat Indonesia bermazhab Syafi'iyah, namun berbagai pendapat Ibnu Taimiyah tersebar luas di Indonesia berkat kegigihan orang-orang yang menyebut dirinya sebagai Salafi. Dalam tulisan-tulisan pendaku Salafi, biasanya ditulis banyak sekali kritik Ibnu Taimiyah terhadap Asy'ariyah. Dalam artikel ini, penulis ingin menyajikan beberapa pernyataan Ibnu Taimiyah tentang Asy’ariyah yang barangkali asing dan aneh bagi banyak orang sebab malah berisi dukungan terhadap mereka. Pernyataan-pernyataan berikut ini menampakkan sisi lain dari tokoh ini.
 
1. Mengatakan bahwa Imam Asy'ari dan Ibnu Kullab adalah Ahlul Itsbat (orang-orang yang meyakini adanya sifat Allah) yang menentang Jahmiyah dan Muktazilah. 

Kebanyakan pendaku Salafi mengatakan bahwa Asy'ariyah adalah ahlut ta'thil (orang-orang yang meniadakan sifat Allah) sehingga mereka selalu menyamakan  Asy'ariyah dengan Jahmiyah. Banyak juga dari mereka yang mempropagandakan bahwa Asy'ariyah mengikuti mazhab Imam Ibnu Kullab yang mereka sebut sebagai fase kedua dari Imam al-Asy'ari yang masih sesat. Mereka juga tak segan mencela para tokoh ahli kalam senior lainnya.  Namun, pernyataan Ibnu Taimiyah berikut ini akan mematahkan semua itu:

لَا رَيْبَ أَنَّ قَوْلَ ابْنِ كُلَّابٍ وَالْأَشْعَرِيِّ وَنَحْوِهِمَا مِنْ الْمُثْبِتَةِ لِلصِّفَاتِ لَيْسَ هُوَ قَوْلَ الْجَهْمِيَّة بَلْ وَلَا الْمُعْتَزِلَةِ بَلْ هَؤُلَاءِ لَهُمْ مُصَنَّفَاتٌ فِي الرَّدِّ عَلَى الْجَهْمِيَّة وَالْمُعْتَزِلَةِ وَبَيَانِ تَضْلِيلِ مَنْ نَفَاهَا بَلْ هُمْ تَارَةً يُكَفِّرُونَ الْجَهْمِيَّة وَالْمُعْتَزِلَةَ وَتَارَةً يُضَلِّلُونَهُمْ. لَا سِيَّمَا وَالْجَهْمُ هُوَ أَعْظَمُ النَّاسِ نَفْيًا لِلصِّفَاتِ بَلْ وَلِلْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى

"Tak diragukan bahwa pendapat Ibnu kullab dan Al-Asy'ari dan orang yang seperti keduanya dari golongan mutsbit (orang yang menetapkan sifat bagi Allah) bukanlah pendapat Jahmiyah dan bukan juga Muktazilah, bahkan mereka ini mengarang berbagai kitab untuk menolak Jahmiyah dan Muktazilah dan menerangkan kesesatan orang yang menafikan adanya sifat Allah (mu'atthilah). Bahkan mereka kadang mengafirkan Jahmiyah dan Muktazilah dan kadang hanya menyesatkan mereka saja, apalagi Jahm adalah orang  yang paling besar pengingkarannya terhadap sifat bahkan terhadap Asmaul Husna.” (Ibnu Taimiyah, Majmû' al-Fatawa, juz XII, halaman 202)
 
Di tempat lain, ia menyebut para tokoh Asy'ariyah senior sebagai penetap sifat dan menyatakan mereka cocok dengan ahlul hadits.

ثُمَّ الْمُثْبِتُونَ لِلصِّفَاتِ مِنْهُمْ مَنْ يُثْبِتُ الصِّفَاتِ الْمَعْلُومَةَ بِالسَّمْعِ، كَمَا يُثْبِتُ الصِّفَاتِ الْمَعْلُومَةَ بِالْعَقْلِ، وَهَذَا قَوْلُ أَهْلِ السُّنَّةِ الْخَاصَّةِ - أَهْلِ الْحَدِيثِ وَمَنْ وَافَقَهُمْ - وَهُوَ قَوْلُ أَئِمَّةِ الْفُقَهَاءِ وَقَوْلُ أَئِمَّةِ الْكَلَامِ مِنْ أَهْلِ الْإِثْبَاتِ، كَأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ كُلَّابٍ وَأَبِي الْعَبَّاسِ الْقَلَانِسِيِّ وَأَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ وَأَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُجَاهِدٍ  وَأَبِي الْحَسَنِ الطَّبَرِيِّ وَالْقَاضِي أَبِي بَكْرِ بْنِ الْبَاقِلَّانِيِّ، وَلَمْ يَخْتَلِفْ فِي ذَلِكَ قَوْلُ الْأَشْعَرِيِّ وَقُدَمَاءِ أَئِمَّةِ أَصْحَابِهِ.

"Kemudian para mutsbitun (orang yang menetapkan sifat bagi Allah), di antara mereka ada yang menetapkan sifat yang diketahui dengan nukilan dari Nabi seperti halnya menetapkan sifat yang diketahui dari rasio. Inilah pendapat Ahlussunnah yang khusus; Ahlul Hadis dan mereka yang sepakat dengannya. Itu juga pendapat para Imam ahli fikih dan para imam ahli kalam dari kalangan penetap sifat Allah, seperti Ibnu Kullab, Abul Abbas al-Qalanisi, Abu Hasan al-Asy'ari, Abu Abdillah ibnu Mujahid, Abul Hasan at-Thabary dan Abu Bakar al-Baqillani. Pendapat al-Asy'ari dan para Imam Asy'ariyah yang awal-awal tak berbeda soal itu.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz II, halaman 222)

2. Tak mampu menjawab tantangan ulama Asy'ariyah untuk berdiskusi, malah memuji-muji beliau. 

Bila Ibnu Taimiyah dikenalkan sebagai jago berdebat dengan siapa pun sebab kecerdasannya, maka silakan baca kisahnya ketika berhadapan dengan Imam Alauddin al-Baji, salah satu tokoh besar Asy'ariyah-Syafi'iyah, berikut ini:

وَكَانَ إِلَيْهِ مرجع المشكلات ومجالس المناظرات وَلما رَآهُ ابْن تَيْمِية عظمه وَلم يجر بَين يَدَيْهِ بِلَفْظَة فَأخذ الشَّيْخ عَلَاء الدّين يَقُول تكلم نبحث مَعَك وَابْن تَيْمِية يَقُول مثلي لا يتكلم بَين يَديك أَنا وظيفتي الاستفادة مِنْك

"Alauddin al-Baji adalah rujukan berbagai permasalahan dan ahli berdebat. Ketika Ibnu Taimiyah melihatnya, maka ia mengagungkannya dan tak berkata sepatah kata pun di hadapannya. Lalu Syekh Alauddin berkata: ‘Bicaralah! biarkan kami membahas bersamamu.” Ibnu Taimiyah menjawab: ‘Orang sepertiku tak layak berbicara di hadapanmu. Urusanku adalah mengambil faidah darimu’.” (Tajuddin as-Subki, Thabaqât al-Syâfi'iyah al-Kubrâ, juz X, halaman 342)
 
Di sumber lain, disebutkan bahwa Imam Alauddin bercerita tentang kejadian itu sebagai berikut:

أَن ابْن تَيْمِية لما دخل الْقَاهِرَة حضرت فِي الْمجْلس الَّذِي عقدوه لَهُ فَلَمَّا رَآنِي قَالَ هَذَا شيخ الْبِلَاد فَقلت لَا تطرئنى مَا هُنَا إِلَّا الْحق وحاققته على أَرْبَعَة عشر موضعا فَغير مَا كَانَ كتب بِهِ خطه

"Ketika Ibnu Taimiyah memasuki kota Kairo, aku hadir di majelis yang dipersiapkan untuknya. Ketika ia melihatku, ia berkata: "Inilah Syekh negeri ini.” Aku berkata: "Jangan berlebihan memujiku, di sini tak ada apapun kecuali kebenaran.” Kemudian aku mengoreksinya dalam 14 tempat lalu ia mengubah apa yang sudah ia tulis sendiri.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Durar al-Kâminah, juz IV, halaman 121).
  
3. Ibnu Taimiyah mengaku dirinya adalah Asy'ariyah. 

Mungkin ini mengagetkan, tapi silakan dibaca pengakuan Ibnu Taimiyah dalam pernyataan tobatnya yang dibacakan di depan para ulama saat itu dan dikutip dalam beberapa kitab sejarah yang di antaranya adalah berikut:

وَوَقع الْبَحْث مَعَ بعض الْفُقَهَاء فَكتب عَلَيْهِ محْضر بِأَنَّهُ قَالَ أَنا أشعري ثمَّ وجد خطه بِمَا نَصه الَّذِي اعْتقد أَن الْقُرْآن معنى قَائِم بِذَات الله وَهُوَ صفة من صِفَات ذَاته الْقَدِيمَة وَهُوَ غير مَخْلُوق وَلَيْسَ بِحرف وَلَا صَوت وَأَن قَوْله {الرَّحْمَن على الْعَرْش اسْتَوَى} لَيْسَ على ظَاهره وَلَا أعلم كنه المُرَاد بِهِ بل لَا يُعلمهُ إِلَّا الله وَالْقَوْل فِي النُّزُول كالقول فِي الاسْتوَاء وَكتبه أَحْمد بن تَيْمِية ثمَّ أشهدوا عَلَيْهِ أَنه تَابَ مِمَّا يُنَافِي ذَلِك مُخْتَارًا

"Terjadi pembahasan beserta sebagian ahli fikih, maka seorang petugas menulis padanya [yang isinya] bahwa Ibnu Taimiyah berkata: ‘Aku adalah seorang Asy'ariy’, kemudian ditemukan tulisan tangannya yang berisi: ‘Saya meyakini bahwa al-Qur'an adalah makna yang menetap dalam dzat Allah. Kalamullah itu adalah salah satu dari sifat-sifat dzat yang tak berawal. Kalamullah bukanlah makhluk dan tidak berupa huruf atau suara. Dan, firman Allah ar-Rahman Istawa atas Arasy bukanlah atas makna lahiriyahnya dan saya tak mengetahui hakikat yang dikehendaki darinya bahkan tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Pendapat tentang nuzul (turunnya Allah) sama seperti pendapat soal istiwa'. Ahmad Ibnu Taimiyah menulis pengakuan ini secara sukarela, lalu saksikanlah bahwa dia bertaubat dari apa yang menafikan pengakuan ini’.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Durar al-Kâminah, juz I, halaman 172)
 
4. Menyatakan bahwa Mazhab Asy'ariyah dan Mazhab Imam Ahmad adalah sama. 

Kalau biasanya mereka yang anti Asy'ariyah membenturkan pernyataan Imam Ahmad dengan para tokoh Asy'ariyah, maka silakan dibaca pernyataan Ibnu Taimiyah berikut:

فَإِنَّ الْأَشْعَرِيَّ مَا كَانَ يَنْتَسِبُ إلَّا إلَى مَذْهَبِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَإِمَامُهُمْ عَنْهُ أَحْمَد بْنُ حَنْبَلٍ... وَ الْأَشْعَرِيَّةُ فِيمَا يُثْبِتُونَهُ مِنْ السُّنَّةِ فَرْعٌ عَلَى الْحَنْبَلِيَّةِ كَمَا أَنَّ مُتَكَلِّمَةَ الْحَنْبَلِيَّةِ - فِيمَا يَحْتَجُّونَ بِهِ مِنْ الْقِيَاسِ الْعَقْلِيِّ - فَرْعٌ عَلَيْهِمْ

"Maka sesungguhnya Al Asy'ari tidaklah berafiliasi kecuali pada mazhab Ahlul Hadis dan Imam mereka adalah Ahmad bin Hanbal.... Asy'ariyah dalam hal sunnah yang mereka tetapkan adalah cabang dari Hanbaliyah seperti halnya para ahli kalam Hanbaliyah dalam hal argumen rasional adalah cabang dari Asy'ariyah." (Majmu' al-Fatawa)
 
Itulah sisi lain dari Ibnu Taimiyah yang jarang diekspos sehingga khalayak hanya mengetahui pendapat-pendapatnya yang tajam mengkritik Asy’ariyah. Semua kutipan di atas terdapat dalam kitab induk yang dikarang oleh ulama bereputasi tinggi dan juga telah tercetak luas sehingga bisa dicek validitasnya. Segala usaha untuk mematahkan semua poin dalam tulisan ini hanyalah akan menampakkan bahwa Ibnu Taimiyah tidak konsisten dalam berbagai statemennya. Di sisi lain, Asy’ariyah adalah manhaj mayoritas ulama dari masa ke masa yang tak akan bertambah atau berkurang kemuliaannya dengan atau tanpa dukungan Ibnu Taimiyah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember

Tags:
Share:
Rabu 26 September 2018 8:30 WIB
Aqidah Syekh Ibnu Kullab yang Sebenarnya
Aqidah Syekh Ibnu Kullab yang Sebenarnya
Beberapa orang berkata bahwa Asy'ariyah modern sejatinya mengikuti mazhab Ibnu Kullab, bukan mazhab Imam Asy’ari sendiri. Mereka menyebut fase Kullabiyah ini sebagai fase kedua dari perjalanan hidup Imam Abu Hasan al-Asy'ari sebelum akhirnya berpindah lagi ke aqidah salaf di fase ketiga. Saat ini penulis takkan membahas tentang tiga fase yang sebenarnya hoaks ini, tapi penulis akan membahas tentang aqidah Syekh Ibnu Kullab secara personal.
 
Dalam kajian-kajian yang tidak kredibel, aqidah Ibnu Kullab dikesankan sebagai aqidah Jahmiyah, menolak sifat-sifat Allah, Muatthilah, akal-akalan, terpengaruh filsafat dan seterusnya. Faktanya, aqidah beliau jauh dari itu semua. Imam Abu Hasan al-Asy'ari meriwayatkan tentang aqidah Ibnu Kullab itu dalam kitabnya yang berjudul Maqâlat al-Islamiyyin sebagai berikut:
 
قال عبد الله بن كلاب: لم يزل الله عالماً قادراً حياً سميعاً بصيراً عزيزاً عظيماً جليلاً متكبراً جباراً كريماً جواداً واحداً صمداً فرداً باقياً أولاً رباً إلهاً مريداً كارهاً راضياً عمن يعلم أنه يموت مؤمناً وإن كان أكثر عمره كافراً، ساخطاً على من يعلم أنه يموت كافراً وإن كان أكثر عمره مؤمناً، محباً مبغضاً موالياً معادياً قائلاً متكلماً رحماناً بعلم وقدرة وحياة وسمع وبصر وعزة وعظمة وجلال وكبرياء وجود وكرم وبقاء وإرادة وكراهة ورضىً وسخط وحب وبغض ومولاة ومعاداة وقول وكلام ورحمة وأنه قديم لم يزل بأسمائه وصفاته، وكان يقول أن أسماء الله وصفاته لذاته لا هي الله ولا هي غيره وأنها قائمة بالله ولا يجوز أن تقوم بالصفات صفات، وكان يقول أن وجه الله لا هو الله ولا هو غيره وهو صفة له وكذلك يداه وعينه وبصره صفات له لا هي هو ولا غيره وأن ذاته هي هو ونفسه هي هو وأنه موجود لا بوجود وشيء لا بمعنى له كان شيئاً، وكان يزعم أن صفات البارئ لا تتغاير وأن العلم لا هو القدرة ولا غيرها وكذلك كل صفة من صفات الذات لا هي الصفة الأخرى ولا غيرها

"Abdullah bin Kullab berkata: Allah senantiasa Maha-Mengetahui, Maha-Berkuasa, Maha-Hidup, Maha-Mendengar, Maha-Melihat, Maha-Mulia, Maha-Agung, Maha-Mulia, Maha-Sombong, Maha-Berkuasa Mutlak, Maha-Mulia, Maha-Pemurah, Maha-Esa, Maha-Sendiri, Maha-Kekal, tak berawal, Sebagai Pencipta/Perawat, Sebagai Tuhan yang disembah, Maha-Berkehendak, Tidak suka, Ridha/merelakan orang yang diketahuinya akan mati sebagai mukmin meskipun kebanyakan umurnya sebagai orang kafir. Marah terhadap orang yang diketahuinya akan mati kafir meskipun kebanyakan umurnya sebagai orang mukmin, Mencintai, Memarahi, Mengasihi, Memusuhi, Berfirman, Mempunyai Kalam. Maha-Rahman dengan sifat: Ilmu, Kekuasaan, Hidup, Mendengar, Melihat, Mulia, Agung, Mulia, Sombong, Pengasih, Terhormat, Kekal, Kehendak, Ketidaksukaan, Kerelaan, Kemarahan, Cinta, Kemarahan, Kasih, Permusuhan, Firman, Kalam dan Rahmat. 
 
Allah juga Maha-Qadim (ada tanpa awal mula) dengan semua nama dan sifat-Nya. Nama-nama dan sifat-sifat Allah itu milik Dzat-Nya, bukan Dzat itu sendiri dan juga tak terlepas dari Dzat itu. Sifat-sifat itu melekat pada Allah dan sifat-sifat itu tak boleh punya sifat-sifat lain. Wajah Allah bukanlah Allah itu sendiri tapi bukan pula selain Allah, melainkan sifat Allah. Demikian juga kedua Yad-nya (tangan), 'Ain-nya (mata) dan Bashar-nya (penglihatan) adalah sifat-sifat bagi Allah. Itu semua bukan Dzat tapi juga tak terpisah dari Dzat. Dan bahwasanya Dzat-Nya adalah Dia sendiri dan Dirinya adalah Dia sendiri.
 
Allah itu maujud (ada) tanpa berasal dari keberadaan yang lain. Dia adalah Syai'un (sesuatu) tanpa makna yang harus dimiliki sesuatu agar menjadi sesuatu. Sifat-sifat Allah itu tak ada yang berubah. Sifat Ilmu Allah bukanlah sifat Qudrah atau sifat lainnya. Begitu pula masing-masing sifat bagi Dzat-Nya bukanlah sifat-sifat lainnya (kesemuanya adalah sifat yang berbeda) dan bukan pula selain sifat.” (Abu Hasan al-Asy’ari, Maqâlat al-Islamiyyin, 169-170)
  
Begitulah aqidah Syekh Ibnu Kullab yang sebenarnya. Beliau menetapkan semua sifat Allah sebagaimana yang ada dalam al-Qur'an dan Sunnah. Sama sekali tak ada sifat yang dinafikan keberadaannya seperti yang dituduhkan selama ini. Ibnu Kullab adalah seorang Ahli Itsbât (orang yang menetapkan adanya sifat-sifat Allah), tak terkecuali sifat marah, ridha, yad (tangan), 'ain (mata) dan seterusnya. Dia sama sekali bukan Mu'atthilah yang mengingkari keberadaan semua sifat itu. 
 
Bahkan, Ibnu Kullab adalah tokoh yang diikuti oleh Imam Bukhari dalam bab aqidah seperti yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berikut:
 
أَنَّ الْبُخَارِيَّ فِي جَمِيعِ مَا يُورِدُهُ مِنْ تَفْسِيرِ الْغَرِيبِ إِنَّمَا يَنْقُلُهُ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْفَنِّ كَأَبِي عُبَيْدَةَ وَالنَّضْرِ بْنِ شُمَيْلٍ وَالْفَرَّاءِ وَغَيْرِهِمْ وَأَمَّا المباحث الفقهيه فغالبها مستمدة من الشَّافِعِي وَأبي عبيد وَأَمْثَالِهِمَا وَأَمَّا الْمَسَائِلُ الْكَلَامِيَّةُ فَأَكْثَرُهَا مِنَ الْكَرَابِيسِيِّ وبن كِلَابٍ وَنَحْوِهِمَا 

"Sesungguhnya Imam Bukhari dalam semua yang ia sampaikan berupa tafsir kata-kata yang asing, tak lain hanyalah ia nukil dari orang yang ahli dalam bidangnya seperti Abi Ubaidah dan Nadlr bin Syumail, al-Farra' dan lainnya. Adapun tentang pembahasan-pembahasan fiqhiyah maka sebagian besar bersandar dari Imam Syafi'i, Abu Ubaid dan semisal keduanya. Adapun dalam masalah ilmu kalam, maka kebanyakan berasal dari al-Karabisi, Ibnu Kullab dan yang seperti keduanya." (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, juz I, halaman 243).
 
Dalam kitab-kitab profil, kita dapati profil Ibnu Kullab sendiri memang terkenal sebagai pakar ilmu kalam dari kalangan Ahlussunnah wal Jama'ah. Kitab sejarah menerangkan profilnya sebagai berikut:
 
عبد الله بن سعيد أبو محمد المعروف بابن كلاب - بضم الكاف وتشديد اللام. كان من كبار المتكلمين ومن أهل السنة وبطريقته وطريقة الحارث المحاسبي اقتدى أبو الحسن الأشعري وقد صنف كتباً كثيرةً في التوحيد والصفات 

"Abdullah bin Said Abu Muhammad yang dikenal sebagai Ibnu kullab adalah tokoh besar para ahli kalam dan termasuk Ahlussunnah. Jalannya adalah jalan yang ditempuh oleh al-Haris al-Muhasibi. Abu Al Hasan Al Asy'ari juga mengikutinya.  Dia telah menulis banyak kitab dalam tauhid dan sifat.” (Ibnu Qadli Syuhbah, Thabaqât as-Syâfi’iyah, juz I, halaman 78).

Senada dengan itu, Imam ad-Dzahabi juga menulis profilnya sebagai berikut:

ابن كلاب رأس المتكلمين بالبصرة في زمانه ... وقال بعض من لا يعلم: إنه ابتدع ما ابتدعه ليدس دين النصارى في ملتنا، وإنه أرضى أخته بذلك، وهذا باطل، والرجل أقرب المتكلمين إلى السنة، بل هو في مناظريهم 

"Ibnu kullab adalah ketua dari para ahli kalam di Kota Basrah di masanya... Sebagian orang yang tidak tahu berkata bahwa dia sudah membuat buat bid'ah Nasrani untuk disusupkan dalam agama kita dan bahwasanya dia merelakan saudarinya untuk hal itu. Ini adalah kebohongan. Laki-laki itu adalah Ahli Kalam yang paling dekat kepada sunnah, bahkan dia termasuk ahli debat Ahlussunnah.” (ad-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, juz XI, halaman 174).
 
Dengan demikian, maka bila dikatakan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy'ari mengikuti jejak Ibnu Kullab, maka berarti beliau mengikuti orang yang benar. Demikian pula bila ada yang menisbatkan para ulama Asy'ariyah para Kullabiyah, berarti itu bentuk pujian sebab Kullabiyah berarti pengikut Imam Besar Ahlusunnah, yakni Ibnu Kullab. 
 
Kalau pun ada perbedaan antara Syekh Ibnu Kullab dengan tokoh lain seperti Imam Ahmad misalnya, maka itu dalam masalah furu’iyah-ijtihadiyah saja, bukan masalah pokok yang berkonsekuensi pada penyematan label sesat. Sama seperti perbedaan antara Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad soal bertambah tidaknya iman; antara Imam at-Thabary dengan Imam Ahmad soal kalamullah dan perbedaan antar imam lain dalam masalah yang beraneka ragam. Kita menghormati mereka semua sebagai mujtahid yang menemukan banyak kebenaran, tetapi bisa juga salah dalam beberapa poin sebab memang tak ada yang maksum selain Rasulullah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember
 

Selasa 25 September 2018 11:45 WIB
Mazhabnya Syafi'i tapi Aqidahnya Asy'ari?
Mazhabnya Syafi'i tapi Aqidahnya Asy'ari?
Banyak orang iseng bertanya kenapa mayoritas Muslimin yang mengaku bermazhab Syafi'iyah, seperti di Indonesia, namun aqidahnya justru Asy'ariyah? Kenapa tidak mengikuti aqidahnya Imam Syafi'i secara total?

Sebenarnya pertanyaan seperti itu timbul akibat salah paham terhadap manhaj aqidah Asy’ariyah. Pertanyaan itu dibangun dari asumsi bahwa aqidah Asy'ariyah berbeda dengan ajaran Imam Syafi'i, padahal faktanya tidak demikian sehingga pertanyaan itu sendiri yang seharusnya dipertanyakan. Namun berhubung banyak yang menanyakan pertanyaan salah tersebut, maka berikut ini jawabannya:

• Tak ada perbedaan prinsip antara aqidah Imam Syafi'i dan Imam Asy'ari. Kitab-kitab Asy'ariyah sendiri dan kitab Imam Syafi'i mengajarkan aqidah yang sama persis, kecuali dalam beberapa hal yang termasuk cabang (furû’).  Ulama Syafi'iyah menukil dari Imam Syafi'i bahwa Allah bukanlah jism, Allah tak boleh disifati duduk, sifat Allah harus diarahkan ke makna yang layak bagi-Nya. Ini adalah aqidah yang sama persis dengan ajaran Imam Asy'ari dan seluruh Asy’ariyah. Perbedaannya hanya terletak pada bab takwil di mana Imam Syafi'i dan kebanyakan ulama di masanya tergolong ahli tafwîdh (menyerahkan makna spesifiknya kepada Allah) sehingga biasanya menolak untuk mentakwil kebanyakan sifat. Dalam ajaran aqidah Asy’ariyah, baik tafwîdh maupun takwil dianggap sebagai pilihan yang benar. Keduanya adalah dua sikap yang valid dan punya dasar dari pernyataan para sahabat Nabi dan para ulama setelahnya.

• Fokus karangan Imam Syafi'i adalah bidang fiqih dan tak punya kitab khusus membahas aqidah secara komprehensif. Ini menyebabkan tak ada yang namanya mazhab aqidah Imam Syafi'i. Bila ada yang menggugat kenapa tidak mengikuti aqidah Imam Syafi'i, maka kitab beliau yang mana yang harus dijadikan pedoman utama? Ada kitab aqidah berjudul al-Fiqhul Akbar yang dinisbatkan pada Imam Syafi'i, isinya justru 100 persen Asy'ariyah. Tetapi sebab penganut Asy'ariyah dan Syafi'iyah cermat dan jujur secara ilmiah, maka kitab ini dinyatakan bukan karangan imam Syafi'i dan tak dipakai sebagai rujukan kecuali oleh sebagian kecil orang.

• Fokus karangan Imam Asy'ari adalah bidang aqidah dan tak mempunyai kitab fiqih yang komprehensif yang sampai pada kita. Ini menyebabkan tak ada mazhab fiqih Asy'ariyah. Berbeda kasusnya tentang tema aqidah; Imam Asy'ari menulis dan mengomentari semua sekte aqidah kaum muslimin yang ada pada saat itu, mulai dari Mujassimah yang menetapkan sifat fisik bagi Allah hingga Jahmiyah yang meniadakan seluruh sifat Allah agar tak bernuansa fisik; mulai Qadariyah yang mengatakan bahwa manusia bebas secara mutlak dalam bertindak, hingga Jabariyah yang mengatakan bahwa seluruh tindakan manusia itu atas “paksaan” kehendak Tuhan, semuanya tak luput dari koreksi imam besar ini. Dari sinilah kemudian para muridnya memunculkan istilah mazhab aqidah Asy'ariyah. Pada hakikatnya, ini bukanlah mazhab baru sebab kenyataannya justru mazhab ini muncul sebagai pembelaan terhadap aqidah para ulama salaf yang dikritik oleh sekte-sekte yang muncul belakangan di atas.

Baca juga: Sebenarnya Tak Ada Mazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah
• Pertanyaan ini sama kasusnya dengan ketika seseorang merujuk pada Imam Bukhari dan lainnya dalam bab hadits, bukan ke kitab Musnad as-Syafi'i sebab musnad beliau tersebut terbatas sekali. Dalam bab biodata periwayat hadits (Rijâl al-Hadîts) kita merujuk pada penilaian Imam Yahya bin Ma'in, ad-Dzahabi dan lain-lain, bukan pada Imam Syafi'i sebab sedikit sekali penilaian beliau atas Rijâl al-Hadîts yang sampai pada kita. Dalam bab Tafsir kita merujuk pada Imam at-Thabary, al-Qurthuby dan lain-lain sebab tak satu pun kita dapati Imam Syafi'i menulis tafsir. Semuanya ini tidak bisa diartikan sebuah penyelewengan dari mazhab Syafi’i atau diasumsikan bahwa Imam Syafi’i berbeda pendapat dari tokoh-tokoh tersebut.

Jadi, dengan memilih ulama rujukan yang berbeda dalam tiap spesifikasi ilmu yang berbeda pula bukan berarti seseorang tidak konsisten, tetapi itu justru menunjukkan adanya keahlian memilih para ahli di bidangnya masing-masing. Hal ini juga menjadi bukti bahwa bermazhab itu tidaklah kaku dalam arti hanya membatasi diri dengan satu tokoh saja dalam segala hal. Tak ada satu pun ulama mazhab yang mengajarkan sikap kaku dan membatasi diri seperti ini sehingga para pengikut mazhab fiqih tetap leluasa merujuk tokoh manapun yang ia anggap argumennya paling kuat di spesialisasi ilmunya masing-masing. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember


Senin 24 September 2018 10:30 WIB
Mengurai Takdir dari Tiga Perspektif: Allah, Malaikat, dan Manusia
Mengurai Takdir dari Tiga Perspektif: Allah, Malaikat, dan Manusia
Ilustrasi (via Pinterest)
Pembahasan tentang takdir adalah salah satu tema yang tergolong rumit sebab dalil-dalil yang sampai pada kita sepintas saling bertentangan satu sama lain. Sebagian dalil Al-Qur’an dan hadits mengatakan bahwa semua kejadian di dunia ini sudah tercatat di Lauh Mahfudz dan pena yang mencatatnya telah kering sehingga tak mungkin berubah. Sebagian dalil lain menegaskan bahwa doa manusia dapat mengubah takdir, demikian juga silaturahim dapat memperpanjang umur dari waktu yang telah ditentukan. Sebagian dalil lainnya memerintahkan kita untuk melakukan aneka perbuatan baik sehingga bisa meraih kehidupan bahagia di dunia maupun akhirat, ini semua mengisyaratkan bahwa ikhtiar manusia punya andil besar dalam menentukan jalan takdir yang akan ia tempuh. Sebenarnya bagaimanakah takdir itu?

Untuk menjawab kerumitan di atas, sebagian ulama kemudian membagi takdir (qadla’) menjadi dua macam, yakni: Pertama, takdir mubram, yaitu takdir yang sudah paten tidak dapat diubah dengan cara apa pun. Misalnya takdir harus lahir dari orang tua yang mana, di tanggal berapa dan lain sebagainya yang sama sekali tidak ada opsi bagi manusia untuk memilih. Kedua, takdir mu’allaq, yaitu takdir yang masih bersifat kondisional sehingga bisa diubah dengan ikhtiar manusia. Misalnya takdir miskin dapat diubah dengan doa dan kerja keras, takdir sakit dapat diubah dengan doa dan berobat, dan sebagainya yang melibatkan ruang usaha bagi manusia. 

Sepintas pembagian takdir menjadi dua kategori, mubram dan mu’allaq, ini sudah cukup memecahkan masalah. Tetapi faktanya tidak sesederhana itu. Masalahnya, sama sekali tak ada informasi dari hadits yang menyatakan hal-hal apa saja yang masuk kategori mubram dan mu’allaq. Adapun keyakinan sebagian orang awam bahwa takdir mubram hanyalah tiga macam, yakni rezeki, jodoh, dan kematian, adalah anggapan yang sama sekali tak berdasar.

Klasifikasi mubram dan mu’allaq ini tetap saja tidak aplikatif. Misalnya kemiskinan, apakah termasuk mubram atau mu’allaq? Kita melihat ada orang miskin yang seumur hidupnya berdoa dan berusaha keras keluar dari kemiskinannya, tetapi hingga akhir hayatnya dia tetap miskin. Kejadian ini menunjukkan bahwa kemiskinan orang itu sudah mubram. Namun kita juga melihat orang miskin yang dengan usahanya dapat mengubah nasibnya secara drastis menjadi orang kaya, bahkan sangat kaya. Kejadian ini menunjukkan bahwa kemiskinan orang tersebut masih mu’allaq. Hal yang sama berlaku pada semua kasus di dunia ini, mulai sakit, keberuntungan, kecelakaan bahkan kematian sekalipun. Bagian manakah di antara semua itu yang mubram dan bagian mana yang mu’allaq? Kita takkan pernah tahu sebelum terjadinya.

Sebenarnya, semua kerumitan di atas dapat terurai dan mudah dipahami apabila kita melihat takdir (qadla’) dari tiga perspektif yang berbeda. Kerumitan dan kerancuan itu hanya terjadi akibat ketiga perspektif ini dicampur menjadi satu, padahal seharusnya dibedakan dengan tegas. Tiga perspektif yang dimaksud adalah perspektif Allah, perspektif malaikat, dan perspektif manusia.

Takdir dalam perspektif Allah

Al-Qur’an, hadits dan dalil-dalil rasional telah memastikan bahwa Allah Maha Mengetahui. Sifat al-‘ilmu yang dimiliki Allah dapat menjangkau apa pun tanpa batas, baik hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Tak ada satu pun kejadian, bahkan yang paling kecil sekalipun semisal kejadian di inti atom, yang tak Allah ketahui. Allah berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ 

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. al-An’am: 59)

Dalam perspektif Allah ini, seluruh takdir (qadla’) adalah mubram tanpa kecuali. Seluruhnya telah diketahui sebelumnya dan akan berubah menjadi kenyataan (qadar) pada waktunya. Sisi inilah yang tak mungkin mengalami perubahan sama sekali sebab adanya perubahan di level ini sama saja dengan adanya hal-hal yang tidak diketahui Allah. Ketidaktahuan Allah ini mustahil adanya.

Takdir dalam perspektif Malaikat

Para Malaikat mempunyai tugas yang beragam, sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakan mereka. Di antara tugas malaikat yang kita ketahui adalah: membagi-bagi rezeki, ini adalah tugas Mikail; ada yang bertugas mencabut nyawa, ini adalah tugas Malaikat Maut (Izra’il); ada yang bertugas mencatat amal baik dan amal buruk, ini adalah tugas Raqib dan Atid. Dan, banyak sekali jumlah malaikat yang info tentang tugasnya tak sampai pada kita.

Dalam perspektif malaikat inilah, takdir setiap manusia yang tercatat di Lauh Mahfudz ada yang sudah mubram (paten tak bisa berubah) dan ada yang masih mu’allaq (kondisional). Mereka bisa melihat apakah rezeki Si Fulan sudah merupakan hal paten yang tak bisa diganggu gugat ataukah masih tergantung pada beberapa kondisi yang di pilih Fulan tersebut, misalnya apabila Fulan bekerja keras, maka takdirnya adalah kaya sedangkan apabila memilih bermalasan maka takdirnya menjadi orang miskin. Demikian juga dengan hidayah, penyakit, umur atau apa pun yang terjadi pada Fulan tersebut.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan:

فَالْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ بِالنِّسْبَةِ لِمَا فِي عِلْمِ الْمَلَكِ وَمَا فِي أُمِّ الْكِتَابِ هُوَ الَّذِي فِي عِلْمِ اللَّهِ تَعَالَى فَلَا مَحْوَ فِيهِ أَلْبَتَّةَ وَيُقَالُ لَهُ الْقَضَاءُ الْمُبْرَمُ وَيُقَالُ لِلْأَوَّلِ الْقَضَاءُ الْمُعَلَّقُ

“Penghapusan dan penetapan takdir itu adalah dalam perspektif apa yang diketahui para malaikat dan apa yang tercatat di Lauh Mahfudz (Ummul Kitab). Adapun dalam pengetahuan Allah, maka tak ada penghapusan sama sekali. Pengetahuan Allah ini disebut takdir mubram, dan pengetahuan malaikat itu disebut takdir mu’allaq.”  (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, juz X, halaman 416)

Takdir dalam perspektif manusia.

Bila malaikat bisa melihat sisi takdir yang mubram dan mu’allaq, manusia hanya sepenuhnya hanya bisa mengetahui sisi mu’allaq saja apabila belum tiba waktu kejadiannya. Dalam konteks ini, Imam Ibnu Hajar menjelaskan: 

وَأَنَّ الَّذِي سَبَقَ فِي عِلْمِ اللَّهِ لَا يَتَغَيَّرُ وَلَا يَتَبَدَّلُ وَأَنَّ الَّذِي يَجُوزُ عَلَيْهِ التَّغْيِيرُ وَالتَّبْدِيلُ مَا يَبْدُو لِلنَّاسِ مِنْ عَمَلِ الْعَامِلِ وَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَتَعَلَّقَ ذَلِكَ بِمَا فِي عِلْمِ الْحَفَظَةِ وَالْمُوَكَّلِينَ بِالْآدَمِيِّ فَيَقَعُ فِيهِ الْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ كَالزِّيَادَةِ فِي الْعُمُرِ وَالنَّقْصِ وَأَمَّا مَا فِي عِلْمِ اللَّهِ فَلَا مَحْوَ فِيهِ وَلَا إِثْبَاتَ

“Sesungguhnya yang telah diketahui Allah itu sama sekali tak berubah dan berganti. Yang bisa berubah dan berganti adalah perbuatan seseorang yang tampak bagi manusia dan yang tampak bagi para malaikat penjaga (Hafadhah) dan yang ditugasi berinteraksi dengan manusia (al-Muwakkilîn). Maka dalam hal inilah terjadi penetapan dan penghapusan takdir, semisal tentang bertambahnya umur atau berkurangnya. Adapun dalam ilmu Allah, maka tak ada penghapusan atau penetapan.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, juz XI, halaman 488).

Manusia hanya bisa mengetahui adanya takdir mubram yang menimpanya hanya ketika suatu hal sudah terjadi. Misalnya, hal-hal yang berhubungan dengan kelahirannya, apa-apa yang sudah atau belum dicapai pada usianya sekarang ini dan segala hal yang telah terjadi di masa lalu dan tak mungkin diubah. Manusia bisa tahu umur seseorang telah mubram hanya ketika orang itu sudah positif meninggal. Apabila orang itu masih hidup, maka usianya masih sepenuhnya terlihat mu’allaq sehingga ia dituntut untuk menjaga diri dan berobat bila sakit. Ia dilarang menenggak racun atau melakukan hal yang mencelakakan jiwanya yang membuat usianya menjadi pendek (dalam perspektif manusia tentunya). Demikian juga, ia dituntut untuk hidup sehat dan menjaga diri sehingga usianya bisa semakin panjang (dalam perspektif manusia). Kaidah yang sama berlaku pada segala hal lainnya.

Dengan memahami ketiga perspektif ini, maka segala kebingungan tentang takdir akan mudah terjawab. Seorang muslim dituntut untuk beriman bahwa segala hal sudah diketahui Allah sejak dulu dan pasti terjadi sesuai pengetahuan-Nya, tetapi dia tak boleh menjadikan itu sebagai alasan untuk berdiam diri atau menjadikan takdir sebagai alasan sebab ia tak tahu apa takdirnya. Yang wajib dilakukan oleh manusia adalah berusaha saja menyambut masa depannya. Dalam konteks inilah Nabi bersabda:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Berusahalah, semua akan dimudahkan.” (HR. Bukhari – Muslim).

Wallahua'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.