IMG-LOGO
Ilmu Hadits

Allah Menyukai Nomor Ganjil? Mari Pahami Haditsnya

Kamis 27 September 2018 8:30 WIB
Share:
Allah Menyukai Nomor Ganjil? Mari Pahami Haditsnya
Perkembangan perkara nomor urut konon bisa begitu pelik dalam obrolan politik saat ini. Dalam konteks tertentu, angka-angka bisa begitu bermakna, dan obrolannya bisa menyerempet perkara klenik sampai agama.

Masyarakat kebanyakan diketahui memiliki pandangan tertentu soal angka. Semisal, orang Jawa menandai dalam beragam ritual, angka adalah simbol dengan makna-makna yang penuh abstraksi.

Lain halnya, bagaimana kalau persoalan angka dibincangkan ke dunia kontestasi politik? Terlepas dari berbagai dimensinya, politik sebagai bagian kehidupan masyarakat tentu kerap diwarnai dengan corak klenik dan sentimen agama yang hidup. Tak terkecuali soal nomor urut calon pemimpin, nomor urut partai, atau nomor lainnya.

Sayangnya soal nomor politik tidak seperti nomor undian jalan sehat, yang jadi penanda keberuntungan mendapat doorprize.  Politik, konon memiliki hitungannya sendiri tentang bagaimana mengarahkan persepsi bahkan suara masyarakat menuju para aktor politik.

Salah satu sentimen yang digunakan dulu, barangkali hingga saat ini, adalah kutipan hadits: 

إنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Allah itu witir (ganjil/tunggal), dan menyukai bilangan yang ganjil.”

Oleh sebagian kalangan, tak terkecuali kalangan ulama, menyebutkan angka ini menunjukkan bahwa angka ganjil, seakan-akan “lebih dicintai oleh Tuhan”.

Karena prasangka dan nalar semacam ini bisa bertebaran kapan saja, hal yang barangkali perlu dibincangkan kembali adalah pemahaman hadits “Allah itu ganjil, menyukai bilangan yang ganjil” tersebut.

Kutipan hadits di atas, merupakan bagian dari riwayat yang dinilai ulama sebagai hadits yang shahih. Hadits ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan jika ditelusuri lagi, banyak dimuat dalam kitab hadits lainnya – dengan berbagai variasi redaksi dan sanad.

Setidaknya berdasarkan judul bab, hadits ini banyak merujuk pada dua pembahasan: penjelasan seputar al-Asmaul Husna yang jumlahnya 99, dan anjuran untuk melakukan shalat witir. Semisal dalam hadits berikut yang dicatat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang al-Asmaul Husna:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ»

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: “Allah memiliki 99 nama, siapa yang menjaganya akan masuk surga. Allah itu ganjil (esa), dan menyukai bilangan yang ganjil.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ganjil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna dua hal: bisa (1) sesuatu yang aneh, atau (2) lawan dari genap. Maka yang dimaksud ganjil dalam hadits-hadits ini adalah makna yang kedua, yaitu ganjil adalah bilangan selain genap. Satu, tiga, lima itu bilangan ganjil; dua, empat, enam, dan seterusnya itu bilangan genap. Satu adalah bilangan ganjil bukan? Karena itulah, maksud Allah itu ganjil adalah Allah itu Dzat yang Satu, Maha-Esa.

Menurut sementara ulama, 99 nama Allah itu bukan batasan jumlah, sebagaimana dianut oleh Imam Ibnu Katsir dan Imam al Qurthubi. Diskusi soal angka asma Allah ini cukup panjang sejalan dengan beragam riwayat hadits yang ada. Hanya saja dengan rendah hati ulama menilai jumlah 99 dalam hadits populer tersebut, dinilai mengandung ‘ilmul ghâib dan keutamaan tersendiri – wallahu a’lam.

Kembali ke soal bilangan ganjil. Mengapa ia mesti lebih disukai Allah? Kiranya tidak ada hadits lain yang menjelaskan mengapa Allah mesti menyukai hal-hal dengan bilangan ganjil, selain dengan isyarat bahwa Allah banyak menciptakan sesuatu dengan bilangan berjumlah ganjil. 

Pendapat tentang ini seperti dicatat oleh Syekh Mahmud Al-Aini, dalam ‘Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari tentang indikasi Allah lebih mengutamakan bilangan ganjil:

يفضله فِي الْأَعْمَال وَكثير من الطَّاعَات وَلِهَذَا جعل الله الصَّلَوَات خمْسا وَالطّواف سبعا وَندب التَّثْلِيث فِي أَكثر الْأَعْمَال وَخلق السَّمَوَات سبعا وَالْأَرضين سبعا وَغير ذَلِك.

"...Allah mengunggulkan bilangan ganjil dalam pelbagai hal, serta banyak cara ibadah. Allah menjadikan shalat lima waktu, tawaf dengan tujuh putaran, dan anjuran untuk melakukan beragam kesunnahan dengan tiga kali (semisal wudhu). Juga Allah menciptakan langit bumi yang tujuh tingkat, dan lain sebagainya...” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 23 Hal. 29. Beirut - Dar Ihya Turats)

Demikianlah persoalan pemahaman al-witru sebagai bilangan ganjil, karena beragam ibadah disyariatkan dan dianjurkan dengan jumlah yang ganjil. Tapi rupanya hal itu tidak menunjukkan bahwa Allah menyukai bilangan ganjil di luar anjuran seputar ibadah yang telah disebutkan.

Dalam konteks lain, al-witru yang dimaksud dalam hadits adalah shalat witir yang dilakukan sebagai bagian dari shalat malam. Sebagaimana dalam riwayat Imam at-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi berikut:

قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: إِنَّ الْوِتْرَ لَيْسَ بِحَتْمٍ وَلَا كَصَلَاتِكُمُ الْمَكْتُوبَةِ، وَلَكِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْتَرَ ثُمَّ قَالَ: يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا؛ فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

Artinya: “Ali bin Abi Thalib berkata: Sesungguhnya sembahyang witir itu bukanlah kewajiban, sebagaimana shalat fardlu yang lain. Tetapi Rasul memang melakukan shalat witir, dan pernah bersabda, ‘Wahai Ahli Quran, shalat witirlah, karena Allah itu witir (ganjil), menyukai shalat witir (yang dilakukan dengan jumlah ganjil)’.”

Selain anjuran shalat witir, Anda bisa temui juga dalam Musannaf Abdur Razzaq, salah satu kitab hadits tertua, bahwa hadits tersebut menyertai perintah agar bertawaf dengan jumlah bilangan yang ganjil (tujuh kali). 

Berikut beberapa catatan dari penjelasan ulama tentang hadits “Allah menyukai bilangan ganjil” di atas. Pertama, hal yang dimaksud tentang Allah menyukai bilangan yang ganjil di atas, adalah sehubungan dengan ibadah yang telah disyariatkan. Kedua, hadits tersebut diriwayatkan sebagai bagian dari anjuran untuk melakukan ibadah shalat witir – yang jumlah bilangannya ganjil.

Sehingga perlu kita sadari bahwa, tiada isyarat bahwa nomor atau bilangan ganjil lebih mulia dari nomor genap, di luar urusan ibadah dan anjuran yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan dilakukan para ulama. Jadi, menyitir hadits bahwa Allah menyukai bilangan yang ganjil, semata kecocokan nomor urut, lah kepriye? (Muhammad Iqbal Syauqi)

Tags:
Share:
Rabu 12 September 2018 19:15 WIB
Fenomena Hijrah Kaum Muda
Fenomena Hijrah Kaum Muda
(Foto: wix.com)
Akhir-akhir ini marak istilah hijrah di kalangan umat Islam Nusantara. Istilah yang digunakan sebagai ungkapan dari fenomena orang yang baru mengenal atau memperhatikan Islam setelah sebelumnya kurang memperhatikannya. Di antara yang ramai di media sosial adalah fenomena hijrah di kalangan artis. Di sisi lain, gairah hijrah melanda kaum muda, pelajar, mahasiswa dan kalangan profesional.

Fenomena hijrah juga ditampakkan dalam atribut kesalehan lahiriah, semisal dari tidak berjilbab sama sekali menjadi berjilbab lebar-lebar, tidak berjenggot hingga memanjangkannya lebat-lebat, dan semisalnya. Lalu apa makna hijrah sebenarnya? Berikut ini penjelasannya.

Hijrah secara bahasa bermakna "at-tarku", meninggalkan sesuatu. Sementara dalam syariat Islam, hijrah dimaknai sebagai memisahkan diri atau berpindah dari negeri kufur ke negeri Islam karena mengkhawatirkan keselamatan agama, (Lihat Muhammad bin ‘Allan As-Shiddiqi, Dalilul Falihin li Thuruqi Riyadhis Shalihin, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Arabi: tanpa keterangan tahun], juz I, halaman 42).

Namun demikian sebenarnya dalam konteks yang disebut terakhir, hijrah tidak melulu berpindah dari negeri kufur ke negeri Islam. Sebab pada masa awal Islam kita justru mengenal praktik yang berbeda.

Para sahabat seperti Utsman bin Affan, Zubair bin ‘Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhum berhijrah dari Makkah ke negeri Habasyah atau Abesinia, sekarang Ethiopia dan Eritrea Afrika, tepatnya ke wilayah kerajaan Aksum di bawah kepemimpinan Raja Negus yang beragama Kristen.

Di negeri Kristen ini mereka justru sangat terlindungi dari berbagai intimidasi dan persekusi. Lain halnya dengan kondisi di Makkah yang penuh bayang-bayang penyiksaan dan penindasan.

Hal demikian terjadi karena Raja Negus sangat terkenal keadilannya sebagimana penjelasan Nabi Muhammad SAW:

لَوْ خَرَجْتُمْ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ، فَإِنَّ بِهَا مَلِكًا لَايُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ. وَهِيَ أَرْضُ صِدْقٍ حَتَّى يَجْعَلُ اللهُ لَكُمْ فَرَجًا مِمَّا أَنْتُمْ فِيهِ

Artinya, “Hendaknya kalian hijrah ke negeri Habasyah, sebab di sana terdapat raja yang tidak ada seorang pun yang dizalimi di sisinya. Habasyah adalah negeri kejujuran sehingga Allah akan menjadikannya sebagai solusi bagi kalian dari penderitaan yang kalian alami,” (Lihat Isma’il bin Umar bin Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Bidayah wan Nihayah, [tanpa keterangan tempat: Daru Hijr, 1417 H/1997 M], tahqiq: Abdullah bin Abdil Muhsin At-Turki, cetakan pertama, juz IV, halaman 166).

Karena itu, secara substansial makna hijrah tampaknya tidak terpaku pada migrasi ke negeri Islam saja, namun lebih mendasar yaitu hijrah dari suatu tempat ke tempat lain karena menjaga keselamatan agama.

Dalam konteks yang lebih luas, merujuk penjelasan Al-Hafizh Abdurrauf Al-Munawi (952-1031 H/1545-1622 M), pakar hadits asal Mesir, hijrah pada hakikatnya adalah tarkul manhiyyat, meninggalkan berbagai larangan agama. Karenanya, hijrah sejatinya tidak terbatas pada perpindahan yang bersifat lahiriah, namun juga mencakup perpindahan atau perubahan yang bersifat batiniah, (Lihat Zainuddin Abdurrauf Al-Munawi, Taisir bi Syarhil Jami’is Shaghir, [Riyadh, Maktabah Al-Imam As-Syafi’i: 1408 H/1988 M], cetakan ketiga, juz I, halaman 378).

Sebab itu, hijrah bukan sekadar berjilbab lebar-lebar dan berjenggot lebat-lebat. Lebih dari itu, hakikat hijrah adalah meninggalkan berbagai larangan agama. Baik larangan yang bersifat lahiriah maupun yang bersifat batiniah.

Demikian pula, dengan berhijrah orang tidak berarti dapat merasa lebih baik daripada orang lain, menyalah-nyalahkan orang lain dan meremehkannya. Seiring tuntunan Nabi Muhammad SAW:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ. متفق عليه

Artinya, “Hakikat hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah,” Muttafaq ‘Alaih, (Lihat Badruddin Mahmud bin Ahmad Al-‘Aini, ‘Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1421 H/2001 M], juz I, halaman 217).

Demikian makna hijrah sebenarnya sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW dan para ulama. Semoga dapat menjadi bekal hijrah para kaum muda, hijrah untuk terus-menerus memperbaiki diri lahir batin secara sempurna. (Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur)
Selasa 11 September 2018 10:15 WIB
Kajian Hadits Perihal Zina Mata dan Zina Tangan
Kajian Hadits Perihal Zina Mata dan Zina Tangan
Kita kerap mendengar zina mata, zina tangan, zina kaki, zina mulut (zina majazi) selain zina tentu saja dengan alat kelamin (zina hakiki). Semua praktik zina itu disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud. Pada hadits ini, Rasulullah SAW menyatakan bahwa setiap anak adam ditakdirkan berzina melalui organ-organ tubuh tersebut sebagaimana riwayat berikut ini:

الحديث الأول عن عبد الله بن عباس قال ما رأيت شيئاً أشبه باللمم مما قال أبو هريرة إن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال إن الله كتب على ابن آدم حظه من الزنا أدرك ذلك لا محالة فزنا العينين النظر وزنا اللسان النطق والنفس تمنى وتشتهي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه

Artinya, “Hadits pertama dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata bahwa aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan ‘kesalahan kecil’ daripada hadits riwayat Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina yang akan dialaminya, bukan mustahil. Zina kedua mata adalah melihat. Zina mulut adalah berkata. Zina hati adalah berharap dan berkeinginan. Sedangkan alat kelamin itu membuktikannya atau mendustakannya,’” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

Hadits riwayat Abu Hurairah ini diungkapkan oleh Sahabat Ibnu Abbas RA dalam menafsirkan kata “al-lamam” atau kesalahan kecil dalam Surat An-Najm ayat 31-32 perihal kriteria orang baik. Kata “al-lamam” atau kesalahan kecil pada Surat An-Najm ayat 31-32 ini kemudian dipahami oleh zina majazi.

Adapun Surat An-Najm ayat 31-32 secara lengkap kami kutip sebagai berikut:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى (31) الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى (32

Artinya, “Hanya milik Allah apa yang ada di langit dan di bumi agar Ia membalas orang yang berbuat jahat atas apa yang mereka kerjakan dan membalas orang yang berbuat baik (31). Mereka (yang berbuat baik) itu adalah orang yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu maha luas ampunannya, Dia yang lebih tahu perihal dirimu ketika Dia menciptakanmu dari tanah dan ketika kamu sebagai janin di dalam perut ibumu. Janganlah kamu menyucikan diri karena Dia lebih tahu siapa yang lebih bertakwa di antara kamu (32),” (Surat An-Najm ayat 31-32).

Abut Thayyib Abadi dalam Syarah Sunan Abi Dawud, yaitu Aunul Ma’bud, mengutip pandangan Al-Khattabi yang mengatakan bahwa zina majazi merupakan dosa kecil yang mana setiap anak Adam sulit menghindar kecuali orang yang berada dalam perlindungan Allah SWT.

Meski zina majazi (zina mata, zina tangan, zina mulut, zina kaki) disebutkan sebagai dosa kecil, kita tidak boleh meremehkan dosa tersebut karena zina majazi ini dapat mengantarkan orang terperosok ke dalam zina hakiki sebagaimana keterangan Abut Thayyib Abadi berikut ini.

ما رأيت شيئا أشبه باللمم مما قال أبو هريرة) قال الخطابي يريد بذلك ما عفا الله من صغار الذنوب وهو معنى قوله تعالى الذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش إلا اللمم وهو ما يلم به الإنسان من صغار الذنوب التي لا يكاد يسلم منها إلا من عصمه الله… قال الطيبي سمى هذه الأشياء باسم الزنى لأنها مقدمات له مؤذنة بوقوعه ونسب التصديق والتكذيب إلى الفرج لأنه منشؤه ومكانه أي يصدقه بالإتيان بما هو المراد منه ويكذبه بالكف عنه

Artinya, “(Hadits pertama dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata bahwa aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan ‘kesalahan kecil’ daripada hadits riwayat Abu Hurairah RA) Al-Khatthabi berkata bahwa yang dimaksud dengan ‘kesalahan kecil’ itu adalah dosa kecil yang dimaafkan Allah. Inilah pengertian dari ‘yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan kecil,’ yaitu sebuah dosa kecil yang terpaksa dilakukan manusia di mana setiap manusia tidak mungkin terbebas darinya kecuali orang yang mendapat pemeliharaan Allah… At-Thayyibi berkata bahwa semua itu (melihat, mendengar, berjalan, memegang) dinamai dengan zina karena semua itu merupakan pintu masuk dan alarm yang menandai terjadinya zina yang sesungguhnya. Sementara pembuktian dan pendustaan dinisbahkan kepada alat kelamin karena alat kelamin itulah permulaan dan tempat zina. Pembuktian zina itu terletak pada eksekusi. Sementara pendustaan dari yang dilakukan mata, mulutu, telinga, tangan, dan kaki, adalah menahan diri dari zina alat kelamin,” (Lihat Abut Thayyib Abadi, Aunul Ma’bud, [Tanpa keterangan kota, Baitul Afkar Ad-Dauliyyah, Halaman 956).

Istilah zina hakiki dan zina majazi muncul dari keterangan Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam Ad-Dibaj, Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj. Orang yang menjauhi zina hakiki terbilang orang baik. Tetapi orang yang melakukan zina majazi sangat dekat dengan zina hakiki. Di sini letak bahayanya.

إن الله سبحانه تعالى كتب على بن آدم حظه من الزنى الحديث معناه أن بن آدم قدر عليه نصيب من الزنى فمنهم من يكون زناه حقيقيا بإدخال الفرج في الفرج الحرام ومنهم من يكون زناه مجازا) بالنظر الحرام ونحوه من المذكورات فكلها أنواع من الزنى المجازي والفرج يصدق ذلك أو يكذبه أي إما أن يحقق الزنى بالفرج أو لا يحققه بأن لا يولج وإن قارب ذلك وجعل بن عباس هذه الأمور وهي الصغائر تفسيرا للمم فإن في قوله تعالى الذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش إلا اللمم النجم عمر فتغفر باجتناب الكبائر

Artinya, “Maksud hadits ‘Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina’ adalah bahwa setiap anak Adam ditakdirkan melakukan sebagian dari zina. Sebagian dari mereka ada yang berzina hakiki dengan memasukkan alat kelamin ke dalam kelamin yang diharamkan. Sebagian lainnya berzina secara majazi, yaitu memandang yang diharamkan atau semisalnya yang tersebut dalam hadits. Semua yang tersebut itu merupakan zina majazi. Sedangkan alat kelamin membuktikan (membenarkannya) atau mendustakannya, bisa jadi dengan merealisasikan zina dengan alat kelamin atau tidak merealisasikannya dengan tidak memasukkan alat kelaminnya meski hanya mendekati. Ibnu Abbas memahami tindakan itu semua sebagai dosa kecil sebagai tafsiran atas kata ‘al-lamam’ atau kesalahan kecil. Allah berfirman, ‘Orang yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan kecil,’ pada surat An-Najm. Kesalahan kecil itu dapat diampuni dengan menjauhi dosa besar,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj, [Saudi, Daru Ibni Affan: 1996 M/1416 H], juz VI, halaman 20).

Orang tidak boleh meremehkan zina majazi. Orang yang melakukan zina majazi tetap harus bertobat kepada Allah SWT dan tidak meneruskan praktik zina majazinya. Sedangkan Allah maha luas ampunan-Nya sebagaimana keterangan Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim-nya.

واما قول بن عباس ما رايت شيئا اشبه باللمم مما قال ابو هريرة فمعناه تفسير قوله تعالى الذين يجتنبون كبائر الاثم والفواحش إلا اللمم إن ربك واسع المغفرة ومعنى الآية والله اعلم الذين يجتنبون المعاصي غير اللمم يغفر لهم اللمم كما في قوله تعالى إن تجتنبوا كبائر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم فمعنى الآيتين أن اجتناب الكبائر يسقط الصغائر وهي اللمم وفسره بن عباس بما في هذا الحديث من النظر واللمس ونحوهما وهو كما قال هذا هو الصحيح في تفسير اللمم وقيل ان يلم بالشئ ولا يفعله وقيل الميل إلى الذنب ولا يصر عليه وقيل غير ذلك مما ليس بظاهر واصل اللمم والالمام الميل إلى الشئ وطلبه من غير مداومة والله اعلم

Artinya, “Adapun pengertian dari ucapan Ibnu Abbas RA, ‘aku tidak melihat sesuatu yang lebih mirip dengan ‘kesalahan kecil’ daripada hadits riwayat Abu Hurairah RA’ adalah tafsir dari Orang yang menjauhi dosa besar dan perbuatan keji selain kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu maha luas ampunan. pengertian ayat ‘Orang yang menjauhi maksiat selain kesalahan kecil’, orang yang melakukan kesalahan kecil akan diampuni sebagaimana dalam ayat ‘Jika kalian menjauhi dosa besar yang dilarang, maka Kami akan mengampuni kesalahan kecilmu.’ Pengertian dua ayat ini adalah bahwa penjauhan diri dari dosa besar menggugurkan dosa kecil, yaitu kesalahan kecil. Kata ‘kesalahan kecil’ ini ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dengan pandangan, sentuhan, atau sejenisnya sebagaimana dikatakannya adalah shahih terkait tafsir kata ‘al-lamam’ atau kesalahan kecil. Ada yang menafsirkan, seseorang melakukan dosa kecil, tetapi tidak melakukan dosa besar. Ada lagi yang menafsirkan bahwa kesalahan kecil itu adalah keinginan hati yang kuat, tetapi tidak terus-menerus. Ada lagi yang menafsirkan selain dari itu semua, yang tidak secara zhahir. Sementara asal kata al-lamam atau ilmam adalah kecenderungan dan keinginan terhadap sesuatu yang tidak terus-menerus. Wallahu a‘lam,” (Lihat An-Nawawi, Syarah Muslim, [Mesir, M Muhammad Abdul Lathif: 1930 M/1349 H], cetakan pertama, juz XVI, halaman 205).

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa zina terbagi atas zina majazi dan zina hakiki. Kita diminta untuk menjauhkan kedua jenis zina tersebut, tanpa menganggap zina majazi sebagai dosa kecil yang diremehkan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 9 September 2018 19:15 WIB
Kajian Hadits soal Puasa Akhir dan Awal Tahun
Kajian Hadits soal Puasa Akhir dan Awal Tahun
Menjelang pergantian tahun baru hijriyah sebagian umat Islam ada yang menyambutnya dengan puasa akhir dan awal tahun. Namun demikian muncul berbagai pendapat, tulisan dan broadcast yang  menuduhnya sebagai amalan bidah. Alasannya adalah haditsnya lemah, yakni hadits riwayat Ibnu Abbas RA:

عَنِ  ابْنِ عَبَّاس مَرْفُوعًا:مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَأَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةِ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةِ بِصَوْمٍ جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةً خَمْسِينَ سَنَةً . أخرجه السيوطي في اللآلي المصنوعة

Artinya, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dengan status marfu’, ‘Orang yang puasa di hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram maka sungguh ia telah mengakhiri tahun yang telah lewat dan mengawali tahun yang datang dengan puasa, di mana puasa itu Allah jadikan untuknya sebagai pelebur (dosa) 50 tahun,’” Ditakhrij oleh As-Suyuthi dalam Al-La’ali Al-Mashnu’ah.

Dalam perawinya terdapat Ahmad bin Abdillah Al-Harawi dan Wahb bin Wahb yang termasuk perawi lemah, kadzzab alias pembohong. (Abdurrahman As-Suyuthi, Al-La’ali Al-Mashnu’ah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 92).

Dengan demikian apakah benar bahwa puasa akhir dan awal tahun itu bidah dan tidak boleh dilakukan? Berikut ini penjelasannya. 

Kesunnahan Puasa Akhir Tahun
Kesunahan puasa akhir tahun mendapatkan legalitasnya berdasarkan hadits shahih:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رضى الله عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: أَنَّهُ سَأَلَهُ أَوْسَأَلَ رَجُلًا وَعِمْرَانَ يَسْمَعُ فَقَالَ: يَاأَبَا فُلَان، أَمَا صُمْتَ سَرَرَ هَذَا الشَّهْرِ؟—قَالَ: أَظُنُّهُ. قَالَ: يَعْنِي رَمَضَانَ.—قَالَ الرَّجُلُ: لَا يَارَسُولَ اللهِ. قَالَ: فَإِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ. لَمْ يَقُلِ الصَّلْتُ أَظُنُّهَ يَعْنِي رَمَضَانَ. رواه البخاري.

Artinya, “Diriwayatkan dari Imran bin Al-Husain RA, dari Nabi SAW bahwa ada orang bertanya kepada beliau, atau beliau bertanya kepada seseorang, sementara Imran mendengarnya. Lalu Rasulullah berkata, ‘Wahai Abu fulan, apakah kamu puasa akhir bulan (Sya’ban) ini?’—Abu An-Nu’man berkata, ‘Saya duga maksudnya adalah bulan itu.’ As-Shalt bin Muhammad berkata, ‘Maksud dugaan An-Nu’man adalah bulan Ramadhan.’—Orang yang ditanya oleh Nabi SAW menjawab, ‘Tidak wahai Rasulullah.’ Nabi SAW menyambungnya, ‘Apabila kamu tidak puasa, maka puasa lah dua hari (sebagai gantinya).’ As-Shalt tidak mengatakan redaksi, ‘Saya menduganya itu adalah bulan Ramadhan,’” (HR Bukhari).

Hadits ini secara sekilas memang hanya menunjukkan kesunnahan untuk membiasakan puasa akhir bulan. Tetapi menurut Az-Zain bin Al-Munir, melihat Imam al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Bab Puasa di Akhir Bulan ini menunjukkan bahwa menurutnya kesunnahan membiasakan puasa akhir bulan itu tidak hanya berlaku di bulan Sya’ban, tetapi juga di bulan-bulan lainnya.

Anjuran puasa akhir bulan ini juga tidak bertentangan dengan larangan mendahului puasa Ramadhan dengan satu atau dua hari puasa sebelumya pada akhir bulan Sya’ban. Sebab larangan tersebut mengecualikan orang yang sudah terbiasa memuasainya, (Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari, [Beirut: Darul Ma’rifah: 1379 H], juz IV, halaman 230).

Kesunnahan Puasa Awal Tahun
Sementara kesunahan puasa awal tahun sangat jelas haditsnya, yaitu hadits tentang anjuran berpuasa dalam hari-hari bulan Muharram, sebagaimana diriwayatkan:

مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا. رواه الطبراني في المعجم الصغير. وفي الكبير: ثَلَاثُونَ حَسَنَةً.

Artinya, “Orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram, maka dengan puasa  per harinya ia mendapatkan (pahala puasa) 30 hari,’ (HR At-Thabarani dalam Al-Mu’jamus Saghir). Dalam Al-Mu’jamul Kabir terdapat redaksi, ‘30 kebaikan,’ (Lihat Sulaiman bin Ahmad At-Thabarani, Al-Mu’jamus Shaghir, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1403 H/1983 M], juz II, halaman 71 dan Sulaiman bin Ahmad At-Thabarani, Al-Mu’jamul Kabir, [Mosul, Maktabah Al-‘Ulum wal Hikam: 1404 H/1983 M], juz XI, halaman 72).

Status sanad hadits ini memang diperselisihkan antara dhaif dan tidak karena dalam jalur sanadnya terdapat Al-Haitsam bin Habib yang menurut Az-Zhahabi adalah perawi yang dhaif. Sedangkan menurut Ibn Hibban, ia adalah perawi yang tsiqah. Penilaian Ibn Hibban ini juga diamini oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib dan Nurrudin Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid. Bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak menemukan kritikus hadits yang menganggap lemah Al-Haitsam bin Habib selain Adz-Dzahabi, (Lihat Nurrudin Ali bin Abi Bakr, Majma’uz Zawaid wa Manba’ul Fawaid, [Beirut, Darul Fikr: 1412 H], juz III, halaman 436; dan Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1417 H], tahqiq: Ibrahim Syamsuddin, juz II, halaman 70).

Sementara dari sisi dirayahnya, hadits riwayat At-Thabarani menunjukkan kesunnahan berpuasa di awal tahun, dan orang yang memuliakan awal tahun dengan memuasainya maka akan mendapatkan pahala yang agung yaitu puasa satu hari mendapatkan pahala sebagaimana puasa 30 hari, sebagaimana penjelasan Al-Hafizh Al-Munawi, (Lihat Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1415 H/1994 M], cetakan pertama, juz VI, halaman 210).

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa:
1. Puasa akhir tahun dengan maksud melakukan puasa akhir bulan hukumnya adalah sunnah berdasarkan ijtihad dan hadits riwayat Imam Al-Bukhari.

2. Puasa awal tahun dengan maksud melakukan puasa pada hari-hari di bulan Muharram adalah sunnah dan pahalanya sangat banyak berdasarkan hadits riwayat Imam At-Thabarani.

3. Dengan demikian, asumsi yang menyatakan bahwa puasa awal dan akhir tahun sebagai amalan bid’ah adalah asumsi tidak tepat karena jelas-jelas terdapat dalil rujukannya dalam Islam.

Demikian penjelasan tentang kesunahan puasa awal dan akhir tahun. Semoga bermanfaat. Amin. (Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur)