IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Ulama Salaf Pantang Mengafirkan Muslim Lain

Kamis 27 September 2018 15:0 WIB
Share:
Ulama Salaf Pantang Mengafirkan Muslim Lain
Di antara musibah besar yang menimpa umat Islam adalah adanya orang-orang yang mudah mengafirkan Muslim lainnya. Hal ini membuat perpecahan serius di tubuh umat ini, apalagi bila ada yang mengarah pada penghalalan darah sesama Muslim. Alasan pengafiran ini beragam, namun  lumrahnya karena ketidaksepakatan dalam menyikapi suatu hal yang berhubungan dengan aqidah. Namun ada juga pihak yang begitu mudahnya menjatuhkan vonis kafir sebab perbedaan pandangan di tataran fiqih semata, ini adalah ekstremisme yang sangat berbahaya.

Tengok saja misalnya pola dakwah Muhammad bin Abdil Wahhab, penggagas paham Wahabiyah yang mengilhami beberapa kelompok “puritan” di era selanjutnya. Ia tak segan-segan mengafirkan orang yang berbeda pendapat dengannya sebab ia merasa sudah mempunyai dalil Al-Qur’an dan hadits sehingga dirinya merasa bahwa menyelisihinya berarti sama saja dengan menyelisihi Al-Qur’an dan hadits. Ketika membahas tentang orang-orang yang bertawassul dengan para Nabi dan orang salih yang telah meninggal di kubur mereka, ia mengatakan:

كلهم كفار مرتدون عن الإسلام؛ ومن جادل عنهم، أو أنكر على من كفرهم، أو زعم أن فعلهم هذا، لو كان باطلا فلا يخرجهم إلى الكفر، فأقل أحوال هذا المجادل، أنه فاسق لا يقبل خطه ولا شهادته، ولا يصلى خلفه. بل لا يصح دين الإسلام، إلا بالبراءة من هؤلاء وتكفيرهم

“Mereka semua kafir, murtad dari Islam. Siapa yang berdebat membela mereka atau mengingkari kekafiran mereka atau menyangka bahwa tindakan mereka ini meskipun batil tetapi tidak berakibat kekafiran, maka derajat minimal bagi pembela ini adalah ia fasiq, tidak diterima pernyataan dan persaksiannya, tidak boleh salat menjadi makmumnya. Bahkan tidak sah agama Islam kecuali dengan berlepas diri dari orang-orang itu dan mengafirkan mereka.” (Abdurrahman al-‘Ashimi, ed, al-Durar al-Saniyyah fi al-Ajwibah al-Najdiyah, juz X, halaman 53)

Dengan pola pikir sedemikian, ia telah menjadi seorang penganut monisme sejati yang memonopoli kebenaran dan merasa bahwa hanya penafsirannya terhadap Al-Qur’an dan hadits yang benar. Padahal sebenarnya tawassul hanyalah soal ragam redaksi dalam berdoa semata, intinya tetap saja para pelaku tawassul hanya berdoa kepada Allah saja tanpa bermaksud menyekutukan-Nya dengan apa pun.

Bandingkan dengan pernyataan Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Syekh Ibnu Taymiyah yang juga didukung sepenuhnya oleh Adz-Dhahabi, periwayatnya, berikut ini:

رَأَيْتُ لِلأَشعرِيّ كلمَة أَعجبتَنِي وَهِيَ ثَابِتَة رَوَاهَا البَيْهَقِيّ، سَمِعْتُ أَبَا حَازِم العَبْدَوِيَّ، سَمِعْتُ زَاهِر بن أَحْمَدَ السَّرَخْسِيّ يَقُوْلُ: لَمَّا قَرُبَ حُضُوْرُ أَجل أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِيِّ فِي دَارِي بِبَغْدَادَ، دعَانِي فَأَتَيْتُه، فَقَالَ: اشهدْ عليَّ أَنِّي لاَ أَكفِّر أَحَداً مِنْ أَهْلِ القِبْلَة، لأَنَّ الكلَّ يُشيَرَوْنَ إِلَى معبودٍ وَاحِد، وَإِنَّمَا هَذَا كُلُّه اخْتِلاَف العِبَارَات. قُلْتُ: وَبنحو هَذَا أَدين، وَكَذَا كَانَ شَيْخُنَا ابْنُ تيمِيَّة فِي أَوَاخِرِ أَيَّامه يَقُوْلُ: أَنَا لاَ أَكفر أَحَداً مِنَ الأُمَّة، وَيَقُوْلُ: قَالَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لاَ يُحَافِظُ عَلى الْوضُوء إِلاَّ مُؤْمِنٌ فَمَنْ لاَزَمَ الصَّلَوَاتِ بوضوءٍ فَهُوَ مُسْلِم.

“Saya melihat satu kalimat dari al-Asy’ari yang membuat saya kagum, yaitu kalimat yang valid diriwayatkan oleh al-Baihaqi: Aku mendengar dari Abu Hazim al-Abdawi, Aku mendengar Zahir bin Ahmad as-Sarakhsi berkata: Ketika sudah dekat datangnya ajal Abu Hasan al-Asy’ari di rumahku di Baghdad, dia memanggilku lalu berkata: “Saksikanlah aku bahwa aku tak mengafirkan seorang pun dari Ahli Kiblat sebab sesungguhnya semua merujuk pada satu sesembahan yang sama. Yang berbeda hanyalah ungkapan semata.” Aku (adz-Dzahabi) berpendapat bahwa dengan yang semacam inilah aku beragama. Demikian juga guru kami, Ibnu Taymiyah di akhir-akhir hayatnya berkata: “Aku tak mengafirkan seorang pun dari umat ini”. Dia berkata: “Nabi Muhammad ﷺ bersabda: Tidaklah menjaga wudhu kecuali seorang mukmin, maka barangsiapa yang selalu shalat disertai wudhu, maka dia adalah orang Islam.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, juz XV, halaman 88).

Demikianlah pernyataan terakhir dari Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Syekh Ibnu Taymiyah. Meskipun keduanya sering dikesankan berseberangan, namun di akhir hayatnya keduanya sepakat untuk berpantang dari menjatuhkan vonis kafir secara gegabah terhadap muslim lain. Perbedaan di antara kaum muslimin umumnya hanya semata perbedaan redaksi untuk menyembah Allah Yang Maha Esa. Itulah teologi damai yang diyakini mayoritas umat ini (Aswaja). Teologi damai inilah yang harus selalu dipromosikan serta dilestarikan dari waktu ke waktu. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Tags:
Share:
Rabu 26 September 2018 19:30 WIB
Dukungan Ibnu Taimiyah terhadap Aqidah Asy'ariyah
Dukungan Ibnu Taimiyah terhadap Aqidah Asy'ariyah
Ilustrasi (wikiwand.com)
Syekh Ibnu Taimiyah adalah sosok ulama yang kontroversial. Sebagian orang ada yang menganggapnya sebagai imam terbesar—yang meski secara teori bisa salah sebagaimana manusia biasa tapi secara praktik dianggap hampir tak pernah salah sehingga pendapatnya selalu menjadi patokan kebenaran untuk menilai pendapat ulama lainnya. Sebagian lagi menganggapnya fasiq dan bodoh dan bahkan sebagian lagi ada yang tak segan mengafirkannya karena berbagai alasan. Tampaknya benar orang yang berkata bahwa tak ada satu tokoh Islam yang polarisasi pendapat tentangnya setajam Ibnu Taimiyah.
 
Meskipun mayoritas masyarakat Indonesia bermazhab Syafi'iyah, namun berbagai pendapat Ibnu Taimiyah tersebar luas di Indonesia berkat kegigihan orang-orang yang menyebut dirinya sebagai Salafi. Dalam tulisan-tulisan pendaku Salafi, biasanya ditulis banyak sekali kritik Ibnu Taimiyah terhadap Asy'ariyah. Dalam artikel ini, penulis ingin menyajikan beberapa pernyataan Ibnu Taimiyah tentang Asy’ariyah yang barangkali asing dan aneh bagi banyak orang sebab malah berisi dukungan terhadap mereka. Pernyataan-pernyataan berikut ini menampakkan sisi lain dari tokoh ini.
 
1. Mengatakan bahwa Imam Asy'ari dan Ibnu Kullab adalah Ahlul Itsbat (orang-orang yang meyakini adanya sifat Allah) yang menentang Jahmiyah dan Muktazilah. 

Kebanyakan pendaku Salafi mengatakan bahwa Asy'ariyah adalah ahlut ta'thil (orang-orang yang meniadakan sifat Allah) sehingga mereka selalu menyamakan  Asy'ariyah dengan Jahmiyah. Banyak juga dari mereka yang mempropagandakan bahwa Asy'ariyah mengikuti mazhab Imam Ibnu Kullab yang mereka sebut sebagai fase kedua dari Imam al-Asy'ari yang masih sesat. Mereka juga tak segan mencela para tokoh ahli kalam senior lainnya.  Namun, pernyataan Ibnu Taimiyah berikut ini akan mematahkan semua itu:

لَا رَيْبَ أَنَّ قَوْلَ ابْنِ كُلَّابٍ وَالْأَشْعَرِيِّ وَنَحْوِهِمَا مِنْ الْمُثْبِتَةِ لِلصِّفَاتِ لَيْسَ هُوَ قَوْلَ الْجَهْمِيَّة بَلْ وَلَا الْمُعْتَزِلَةِ بَلْ هَؤُلَاءِ لَهُمْ مُصَنَّفَاتٌ فِي الرَّدِّ عَلَى الْجَهْمِيَّة وَالْمُعْتَزِلَةِ وَبَيَانِ تَضْلِيلِ مَنْ نَفَاهَا بَلْ هُمْ تَارَةً يُكَفِّرُونَ الْجَهْمِيَّة وَالْمُعْتَزِلَةَ وَتَارَةً يُضَلِّلُونَهُمْ. لَا سِيَّمَا وَالْجَهْمُ هُوَ أَعْظَمُ النَّاسِ نَفْيًا لِلصِّفَاتِ بَلْ وَلِلْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى

"Tak diragukan bahwa pendapat Ibnu kullab dan Al-Asy'ari dan orang yang seperti keduanya dari golongan mutsbit (orang yang menetapkan sifat bagi Allah) bukanlah pendapat Jahmiyah dan bukan juga Muktazilah, bahkan mereka ini mengarang berbagai kitab untuk menolak Jahmiyah dan Muktazilah dan menerangkan kesesatan orang yang menafikan adanya sifat Allah (mu'atthilah). Bahkan mereka kadang mengafirkan Jahmiyah dan Muktazilah dan kadang hanya menyesatkan mereka saja, apalagi Jahm adalah orang  yang paling besar pengingkarannya terhadap sifat bahkan terhadap Asmaul Husna.” (Ibnu Taimiyah, Majmû' al-Fatawa, juz XII, halaman 202)
 
Di tempat lain, ia menyebut para tokoh Asy'ariyah senior sebagai penetap sifat dan menyatakan mereka cocok dengan ahlul hadits.

ثُمَّ الْمُثْبِتُونَ لِلصِّفَاتِ مِنْهُمْ مَنْ يُثْبِتُ الصِّفَاتِ الْمَعْلُومَةَ بِالسَّمْعِ، كَمَا يُثْبِتُ الصِّفَاتِ الْمَعْلُومَةَ بِالْعَقْلِ، وَهَذَا قَوْلُ أَهْلِ السُّنَّةِ الْخَاصَّةِ - أَهْلِ الْحَدِيثِ وَمَنْ وَافَقَهُمْ - وَهُوَ قَوْلُ أَئِمَّةِ الْفُقَهَاءِ وَقَوْلُ أَئِمَّةِ الْكَلَامِ مِنْ أَهْلِ الْإِثْبَاتِ، كَأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ كُلَّابٍ وَأَبِي الْعَبَّاسِ الْقَلَانِسِيِّ وَأَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ وَأَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُجَاهِدٍ  وَأَبِي الْحَسَنِ الطَّبَرِيِّ وَالْقَاضِي أَبِي بَكْرِ بْنِ الْبَاقِلَّانِيِّ، وَلَمْ يَخْتَلِفْ فِي ذَلِكَ قَوْلُ الْأَشْعَرِيِّ وَقُدَمَاءِ أَئِمَّةِ أَصْحَابِهِ.

"Kemudian para mutsbitun (orang yang menetapkan sifat bagi Allah), di antara mereka ada yang menetapkan sifat yang diketahui dengan nukilan dari Nabi seperti halnya menetapkan sifat yang diketahui dari rasio. Inilah pendapat Ahlussunnah yang khusus; Ahlul Hadis dan mereka yang sepakat dengannya. Itu juga pendapat para Imam ahli fikih dan para imam ahli kalam dari kalangan penetap sifat Allah, seperti Ibnu Kullab, Abul Abbas al-Qalanisi, Abu Hasan al-Asy'ari, Abu Abdillah ibnu Mujahid, Abul Hasan at-Thabary dan Abu Bakar al-Baqillani. Pendapat al-Asy'ari dan para Imam Asy'ariyah yang awal-awal tak berbeda soal itu.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz II, halaman 222)

2. Tak mampu menjawab tantangan ulama Asy'ariyah untuk berdiskusi, malah memuji-muji beliau. 

Bila Ibnu Taimiyah dikenalkan sebagai jago berdebat dengan siapa pun sebab kecerdasannya, maka silakan baca kisahnya ketika berhadapan dengan Imam Alauddin al-Baji, salah satu tokoh besar Asy'ariyah-Syafi'iyah, berikut ini:

وَكَانَ إِلَيْهِ مرجع المشكلات ومجالس المناظرات وَلما رَآهُ ابْن تَيْمِية عظمه وَلم يجر بَين يَدَيْهِ بِلَفْظَة فَأخذ الشَّيْخ عَلَاء الدّين يَقُول تكلم نبحث مَعَك وَابْن تَيْمِية يَقُول مثلي لا يتكلم بَين يَديك أَنا وظيفتي الاستفادة مِنْك

"Alauddin al-Baji adalah rujukan berbagai permasalahan dan ahli berdebat. Ketika Ibnu Taimiyah melihatnya, maka ia mengagungkannya dan tak berkata sepatah kata pun di hadapannya. Lalu Syekh Alauddin berkata: ‘Bicaralah! biarkan kami membahas bersamamu.” Ibnu Taimiyah menjawab: ‘Orang sepertiku tak layak berbicara di hadapanmu. Urusanku adalah mengambil faidah darimu’.” (Tajuddin as-Subki, Thabaqât al-Syâfi'iyah al-Kubrâ, juz X, halaman 342)
 
Di sumber lain, disebutkan bahwa Imam Alauddin bercerita tentang kejadian itu sebagai berikut:

أَن ابْن تَيْمِية لما دخل الْقَاهِرَة حضرت فِي الْمجْلس الَّذِي عقدوه لَهُ فَلَمَّا رَآنِي قَالَ هَذَا شيخ الْبِلَاد فَقلت لَا تطرئنى مَا هُنَا إِلَّا الْحق وحاققته على أَرْبَعَة عشر موضعا فَغير مَا كَانَ كتب بِهِ خطه

"Ketika Ibnu Taimiyah memasuki kota Kairo, aku hadir di majelis yang dipersiapkan untuknya. Ketika ia melihatku, ia berkata: "Inilah Syekh negeri ini.” Aku berkata: "Jangan berlebihan memujiku, di sini tak ada apapun kecuali kebenaran.” Kemudian aku mengoreksinya dalam 14 tempat lalu ia mengubah apa yang sudah ia tulis sendiri.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Durar al-Kâminah, juz IV, halaman 121).
  
3. Ibnu Taimiyah mengaku dirinya adalah Asy'ariyah. 

Mungkin ini mengagetkan, tapi silakan dibaca pengakuan Ibnu Taimiyah dalam pernyataan tobatnya yang dibacakan di depan para ulama saat itu dan dikutip dalam beberapa kitab sejarah yang di antaranya adalah berikut:

وَوَقع الْبَحْث مَعَ بعض الْفُقَهَاء فَكتب عَلَيْهِ محْضر بِأَنَّهُ قَالَ أَنا أشعري ثمَّ وجد خطه بِمَا نَصه الَّذِي اعْتقد أَن الْقُرْآن معنى قَائِم بِذَات الله وَهُوَ صفة من صِفَات ذَاته الْقَدِيمَة وَهُوَ غير مَخْلُوق وَلَيْسَ بِحرف وَلَا صَوت وَأَن قَوْله {الرَّحْمَن على الْعَرْش اسْتَوَى} لَيْسَ على ظَاهره وَلَا أعلم كنه المُرَاد بِهِ بل لَا يُعلمهُ إِلَّا الله وَالْقَوْل فِي النُّزُول كالقول فِي الاسْتوَاء وَكتبه أَحْمد بن تَيْمِية ثمَّ أشهدوا عَلَيْهِ أَنه تَابَ مِمَّا يُنَافِي ذَلِك مُخْتَارًا

"Terjadi pembahasan beserta sebagian ahli fikih, maka seorang petugas menulis padanya [yang isinya] bahwa Ibnu Taimiyah berkata: ‘Aku adalah seorang Asy'ariy’, kemudian ditemukan tulisan tangannya yang berisi: ‘Saya meyakini bahwa al-Qur'an adalah makna yang menetap dalam dzat Allah. Kalamullah itu adalah salah satu dari sifat-sifat dzat yang tak berawal. Kalamullah bukanlah makhluk dan tidak berupa huruf atau suara. Dan, firman Allah ar-Rahman Istawa atas Arasy bukanlah atas makna lahiriyahnya dan saya tak mengetahui hakikat yang dikehendaki darinya bahkan tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Pendapat tentang nuzul (turunnya Allah) sama seperti pendapat soal istiwa'. Ahmad Ibnu Taimiyah menulis pengakuan ini secara sukarela, lalu saksikanlah bahwa dia bertaubat dari apa yang menafikan pengakuan ini’.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Durar al-Kâminah, juz I, halaman 172)
 
4. Menyatakan bahwa Mazhab Asy'ariyah dan Mazhab Imam Ahmad adalah sama. 

Kalau biasanya mereka yang anti Asy'ariyah membenturkan pernyataan Imam Ahmad dengan para tokoh Asy'ariyah, maka silakan dibaca pernyataan Ibnu Taimiyah berikut:

فَإِنَّ الْأَشْعَرِيَّ مَا كَانَ يَنْتَسِبُ إلَّا إلَى مَذْهَبِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَإِمَامُهُمْ عَنْهُ أَحْمَد بْنُ حَنْبَلٍ... وَ الْأَشْعَرِيَّةُ فِيمَا يُثْبِتُونَهُ مِنْ السُّنَّةِ فَرْعٌ عَلَى الْحَنْبَلِيَّةِ كَمَا أَنَّ مُتَكَلِّمَةَ الْحَنْبَلِيَّةِ - فِيمَا يَحْتَجُّونَ بِهِ مِنْ الْقِيَاسِ الْعَقْلِيِّ - فَرْعٌ عَلَيْهِمْ

"Maka sesungguhnya Al Asy'ari tidaklah berafiliasi kecuali pada mazhab Ahlul Hadis dan Imam mereka adalah Ahmad bin Hanbal.... Asy'ariyah dalam hal sunnah yang mereka tetapkan adalah cabang dari Hanbaliyah seperti halnya para ahli kalam Hanbaliyah dalam hal argumen rasional adalah cabang dari Asy'ariyah." (Majmu' al-Fatawa)
 
Itulah sisi lain dari Ibnu Taimiyah yang jarang diekspos sehingga khalayak hanya mengetahui pendapat-pendapatnya yang tajam mengkritik Asy’ariyah. Semua kutipan di atas terdapat dalam kitab induk yang dikarang oleh ulama bereputasi tinggi dan juga telah tercetak luas sehingga bisa dicek validitasnya. Segala usaha untuk mematahkan semua poin dalam tulisan ini hanyalah akan menampakkan bahwa Ibnu Taimiyah tidak konsisten dalam berbagai statemennya. Di sisi lain, Asy’ariyah adalah manhaj mayoritas ulama dari masa ke masa yang tak akan bertambah atau berkurang kemuliaannya dengan atau tanpa dukungan Ibnu Taimiyah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember

Rabu 26 September 2018 8:30 WIB
Aqidah Syekh Ibnu Kullab yang Sebenarnya
Aqidah Syekh Ibnu Kullab yang Sebenarnya
Beberapa orang berkata bahwa Asy'ariyah modern sejatinya mengikuti mazhab Ibnu Kullab, bukan mazhab Imam Asy’ari sendiri. Mereka menyebut fase Kullabiyah ini sebagai fase kedua dari perjalanan hidup Imam Abu Hasan al-Asy'ari sebelum akhirnya berpindah lagi ke aqidah salaf di fase ketiga. Saat ini penulis takkan membahas tentang tiga fase yang sebenarnya hoaks ini, tapi penulis akan membahas tentang aqidah Syekh Ibnu Kullab secara personal.
 
Dalam kajian-kajian yang tidak kredibel, aqidah Ibnu Kullab dikesankan sebagai aqidah Jahmiyah, menolak sifat-sifat Allah, Muatthilah, akal-akalan, terpengaruh filsafat dan seterusnya. Faktanya, aqidah beliau jauh dari itu semua. Imam Abu Hasan al-Asy'ari meriwayatkan tentang aqidah Ibnu Kullab itu dalam kitabnya yang berjudul Maqâlat al-Islamiyyin sebagai berikut:
 
قال عبد الله بن كلاب: لم يزل الله عالماً قادراً حياً سميعاً بصيراً عزيزاً عظيماً جليلاً متكبراً جباراً كريماً جواداً واحداً صمداً فرداً باقياً أولاً رباً إلهاً مريداً كارهاً راضياً عمن يعلم أنه يموت مؤمناً وإن كان أكثر عمره كافراً، ساخطاً على من يعلم أنه يموت كافراً وإن كان أكثر عمره مؤمناً، محباً مبغضاً موالياً معادياً قائلاً متكلماً رحماناً بعلم وقدرة وحياة وسمع وبصر وعزة وعظمة وجلال وكبرياء وجود وكرم وبقاء وإرادة وكراهة ورضىً وسخط وحب وبغض ومولاة ومعاداة وقول وكلام ورحمة وأنه قديم لم يزل بأسمائه وصفاته، وكان يقول أن أسماء الله وصفاته لذاته لا هي الله ولا هي غيره وأنها قائمة بالله ولا يجوز أن تقوم بالصفات صفات، وكان يقول أن وجه الله لا هو الله ولا هو غيره وهو صفة له وكذلك يداه وعينه وبصره صفات له لا هي هو ولا غيره وأن ذاته هي هو ونفسه هي هو وأنه موجود لا بوجود وشيء لا بمعنى له كان شيئاً، وكان يزعم أن صفات البارئ لا تتغاير وأن العلم لا هو القدرة ولا غيرها وكذلك كل صفة من صفات الذات لا هي الصفة الأخرى ولا غيرها

"Abdullah bin Kullab berkata: Allah senantiasa Maha-Mengetahui, Maha-Berkuasa, Maha-Hidup, Maha-Mendengar, Maha-Melihat, Maha-Mulia, Maha-Agung, Maha-Mulia, Maha-Sombong, Maha-Berkuasa Mutlak, Maha-Mulia, Maha-Pemurah, Maha-Esa, Maha-Sendiri, Maha-Kekal, tak berawal, Sebagai Pencipta/Perawat, Sebagai Tuhan yang disembah, Maha-Berkehendak, Tidak suka, Ridha/merelakan orang yang diketahuinya akan mati sebagai mukmin meskipun kebanyakan umurnya sebagai orang kafir. Marah terhadap orang yang diketahuinya akan mati kafir meskipun kebanyakan umurnya sebagai orang mukmin, Mencintai, Memarahi, Mengasihi, Memusuhi, Berfirman, Mempunyai Kalam. Maha-Rahman dengan sifat: Ilmu, Kekuasaan, Hidup, Mendengar, Melihat, Mulia, Agung, Mulia, Sombong, Pengasih, Terhormat, Kekal, Kehendak, Ketidaksukaan, Kerelaan, Kemarahan, Cinta, Kemarahan, Kasih, Permusuhan, Firman, Kalam dan Rahmat. 
 
Allah juga Maha-Qadim (ada tanpa awal mula) dengan semua nama dan sifat-Nya. Nama-nama dan sifat-sifat Allah itu milik Dzat-Nya, bukan Dzat itu sendiri dan juga tak terlepas dari Dzat itu. Sifat-sifat itu melekat pada Allah dan sifat-sifat itu tak boleh punya sifat-sifat lain. Wajah Allah bukanlah Allah itu sendiri tapi bukan pula selain Allah, melainkan sifat Allah. Demikian juga kedua Yad-nya (tangan), 'Ain-nya (mata) dan Bashar-nya (penglihatan) adalah sifat-sifat bagi Allah. Itu semua bukan Dzat tapi juga tak terpisah dari Dzat. Dan bahwasanya Dzat-Nya adalah Dia sendiri dan Dirinya adalah Dia sendiri.
 
Allah itu maujud (ada) tanpa berasal dari keberadaan yang lain. Dia adalah Syai'un (sesuatu) tanpa makna yang harus dimiliki sesuatu agar menjadi sesuatu. Sifat-sifat Allah itu tak ada yang berubah. Sifat Ilmu Allah bukanlah sifat Qudrah atau sifat lainnya. Begitu pula masing-masing sifat bagi Dzat-Nya bukanlah sifat-sifat lainnya (kesemuanya adalah sifat yang berbeda) dan bukan pula selain sifat.” (Abu Hasan al-Asy’ari, Maqâlat al-Islamiyyin, 169-170)
  
Begitulah aqidah Syekh Ibnu Kullab yang sebenarnya. Beliau menetapkan semua sifat Allah sebagaimana yang ada dalam al-Qur'an dan Sunnah. Sama sekali tak ada sifat yang dinafikan keberadaannya seperti yang dituduhkan selama ini. Ibnu Kullab adalah seorang Ahli Itsbât (orang yang menetapkan adanya sifat-sifat Allah), tak terkecuali sifat marah, ridha, yad (tangan), 'ain (mata) dan seterusnya. Dia sama sekali bukan Mu'atthilah yang mengingkari keberadaan semua sifat itu. 
 
Bahkan, Ibnu Kullab adalah tokoh yang diikuti oleh Imam Bukhari dalam bab aqidah seperti yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berikut:
 
أَنَّ الْبُخَارِيَّ فِي جَمِيعِ مَا يُورِدُهُ مِنْ تَفْسِيرِ الْغَرِيبِ إِنَّمَا يَنْقُلُهُ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْفَنِّ كَأَبِي عُبَيْدَةَ وَالنَّضْرِ بْنِ شُمَيْلٍ وَالْفَرَّاءِ وَغَيْرِهِمْ وَأَمَّا المباحث الفقهيه فغالبها مستمدة من الشَّافِعِي وَأبي عبيد وَأَمْثَالِهِمَا وَأَمَّا الْمَسَائِلُ الْكَلَامِيَّةُ فَأَكْثَرُهَا مِنَ الْكَرَابِيسِيِّ وبن كِلَابٍ وَنَحْوِهِمَا 

"Sesungguhnya Imam Bukhari dalam semua yang ia sampaikan berupa tafsir kata-kata yang asing, tak lain hanyalah ia nukil dari orang yang ahli dalam bidangnya seperti Abi Ubaidah dan Nadlr bin Syumail, al-Farra' dan lainnya. Adapun tentang pembahasan-pembahasan fiqhiyah maka sebagian besar bersandar dari Imam Syafi'i, Abu Ubaid dan semisal keduanya. Adapun dalam masalah ilmu kalam, maka kebanyakan berasal dari al-Karabisi, Ibnu Kullab dan yang seperti keduanya." (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, juz I, halaman 243).
 
Dalam kitab-kitab profil, kita dapati profil Ibnu Kullab sendiri memang terkenal sebagai pakar ilmu kalam dari kalangan Ahlussunnah wal Jama'ah. Kitab sejarah menerangkan profilnya sebagai berikut:
 
عبد الله بن سعيد أبو محمد المعروف بابن كلاب - بضم الكاف وتشديد اللام. كان من كبار المتكلمين ومن أهل السنة وبطريقته وطريقة الحارث المحاسبي اقتدى أبو الحسن الأشعري وقد صنف كتباً كثيرةً في التوحيد والصفات 

"Abdullah bin Said Abu Muhammad yang dikenal sebagai Ibnu kullab adalah tokoh besar para ahli kalam dan termasuk Ahlussunnah. Jalannya adalah jalan yang ditempuh oleh al-Haris al-Muhasibi. Abu Al Hasan Al Asy'ari juga mengikutinya.  Dia telah menulis banyak kitab dalam tauhid dan sifat.” (Ibnu Qadli Syuhbah, Thabaqât as-Syâfi’iyah, juz I, halaman 78).

Senada dengan itu, Imam ad-Dzahabi juga menulis profilnya sebagai berikut:

ابن كلاب رأس المتكلمين بالبصرة في زمانه ... وقال بعض من لا يعلم: إنه ابتدع ما ابتدعه ليدس دين النصارى في ملتنا، وإنه أرضى أخته بذلك، وهذا باطل، والرجل أقرب المتكلمين إلى السنة، بل هو في مناظريهم 

"Ibnu kullab adalah ketua dari para ahli kalam di Kota Basrah di masanya... Sebagian orang yang tidak tahu berkata bahwa dia sudah membuat buat bid'ah Nasrani untuk disusupkan dalam agama kita dan bahwasanya dia merelakan saudarinya untuk hal itu. Ini adalah kebohongan. Laki-laki itu adalah Ahli Kalam yang paling dekat kepada sunnah, bahkan dia termasuk ahli debat Ahlussunnah.” (ad-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, juz XI, halaman 174).
 
Dengan demikian, maka bila dikatakan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy'ari mengikuti jejak Ibnu Kullab, maka berarti beliau mengikuti orang yang benar. Demikian pula bila ada yang menisbatkan para ulama Asy'ariyah para Kullabiyah, berarti itu bentuk pujian sebab Kullabiyah berarti pengikut Imam Besar Ahlusunnah, yakni Ibnu Kullab. 
 
Kalau pun ada perbedaan antara Syekh Ibnu Kullab dengan tokoh lain seperti Imam Ahmad misalnya, maka itu dalam masalah furu’iyah-ijtihadiyah saja, bukan masalah pokok yang berkonsekuensi pada penyematan label sesat. Sama seperti perbedaan antara Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad soal bertambah tidaknya iman; antara Imam at-Thabary dengan Imam Ahmad soal kalamullah dan perbedaan antar imam lain dalam masalah yang beraneka ragam. Kita menghormati mereka semua sebagai mujtahid yang menemukan banyak kebenaran, tetapi bisa juga salah dalam beberapa poin sebab memang tak ada yang maksum selain Rasulullah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember
 

Selasa 25 September 2018 11:45 WIB
Mazhabnya Syafi'i tapi Aqidahnya Asy'ari?
Mazhabnya Syafi'i tapi Aqidahnya Asy'ari?
Banyak orang iseng bertanya kenapa mayoritas Muslimin yang mengaku bermazhab Syafi'iyah, seperti di Indonesia, namun aqidahnya justru Asy'ariyah? Kenapa tidak mengikuti aqidahnya Imam Syafi'i secara total?

Sebenarnya pertanyaan seperti itu timbul akibat salah paham terhadap manhaj aqidah Asy’ariyah. Pertanyaan itu dibangun dari asumsi bahwa aqidah Asy'ariyah berbeda dengan ajaran Imam Syafi'i, padahal faktanya tidak demikian sehingga pertanyaan itu sendiri yang seharusnya dipertanyakan. Namun berhubung banyak yang menanyakan pertanyaan salah tersebut, maka berikut ini jawabannya:

• Tak ada perbedaan prinsip antara aqidah Imam Syafi'i dan Imam Asy'ari. Kitab-kitab Asy'ariyah sendiri dan kitab Imam Syafi'i mengajarkan aqidah yang sama persis, kecuali dalam beberapa hal yang termasuk cabang (furû’).  Ulama Syafi'iyah menukil dari Imam Syafi'i bahwa Allah bukanlah jism, Allah tak boleh disifati duduk, sifat Allah harus diarahkan ke makna yang layak bagi-Nya. Ini adalah aqidah yang sama persis dengan ajaran Imam Asy'ari dan seluruh Asy’ariyah. Perbedaannya hanya terletak pada bab takwil di mana Imam Syafi'i dan kebanyakan ulama di masanya tergolong ahli tafwîdh (menyerahkan makna spesifiknya kepada Allah) sehingga biasanya menolak untuk mentakwil kebanyakan sifat. Dalam ajaran aqidah Asy’ariyah, baik tafwîdh maupun takwil dianggap sebagai pilihan yang benar. Keduanya adalah dua sikap yang valid dan punya dasar dari pernyataan para sahabat Nabi dan para ulama setelahnya.

• Fokus karangan Imam Syafi'i adalah bidang fiqih dan tak punya kitab khusus membahas aqidah secara komprehensif. Ini menyebabkan tak ada yang namanya mazhab aqidah Imam Syafi'i. Bila ada yang menggugat kenapa tidak mengikuti aqidah Imam Syafi'i, maka kitab beliau yang mana yang harus dijadikan pedoman utama? Ada kitab aqidah berjudul al-Fiqhul Akbar yang dinisbatkan pada Imam Syafi'i, isinya justru 100 persen Asy'ariyah. Tetapi sebab penganut Asy'ariyah dan Syafi'iyah cermat dan jujur secara ilmiah, maka kitab ini dinyatakan bukan karangan imam Syafi'i dan tak dipakai sebagai rujukan kecuali oleh sebagian kecil orang.

• Fokus karangan Imam Asy'ari adalah bidang aqidah dan tak mempunyai kitab fiqih yang komprehensif yang sampai pada kita. Ini menyebabkan tak ada mazhab fiqih Asy'ariyah. Berbeda kasusnya tentang tema aqidah; Imam Asy'ari menulis dan mengomentari semua sekte aqidah kaum muslimin yang ada pada saat itu, mulai dari Mujassimah yang menetapkan sifat fisik bagi Allah hingga Jahmiyah yang meniadakan seluruh sifat Allah agar tak bernuansa fisik; mulai Qadariyah yang mengatakan bahwa manusia bebas secara mutlak dalam bertindak, hingga Jabariyah yang mengatakan bahwa seluruh tindakan manusia itu atas “paksaan” kehendak Tuhan, semuanya tak luput dari koreksi imam besar ini. Dari sinilah kemudian para muridnya memunculkan istilah mazhab aqidah Asy'ariyah. Pada hakikatnya, ini bukanlah mazhab baru sebab kenyataannya justru mazhab ini muncul sebagai pembelaan terhadap aqidah para ulama salaf yang dikritik oleh sekte-sekte yang muncul belakangan di atas.

Baca juga: Sebenarnya Tak Ada Mazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah
• Pertanyaan ini sama kasusnya dengan ketika seseorang merujuk pada Imam Bukhari dan lainnya dalam bab hadits, bukan ke kitab Musnad as-Syafi'i sebab musnad beliau tersebut terbatas sekali. Dalam bab biodata periwayat hadits (Rijâl al-Hadîts) kita merujuk pada penilaian Imam Yahya bin Ma'in, ad-Dzahabi dan lain-lain, bukan pada Imam Syafi'i sebab sedikit sekali penilaian beliau atas Rijâl al-Hadîts yang sampai pada kita. Dalam bab Tafsir kita merujuk pada Imam at-Thabary, al-Qurthuby dan lain-lain sebab tak satu pun kita dapati Imam Syafi'i menulis tafsir. Semuanya ini tidak bisa diartikan sebuah penyelewengan dari mazhab Syafi’i atau diasumsikan bahwa Imam Syafi’i berbeda pendapat dari tokoh-tokoh tersebut.

Jadi, dengan memilih ulama rujukan yang berbeda dalam tiap spesifikasi ilmu yang berbeda pula bukan berarti seseorang tidak konsisten, tetapi itu justru menunjukkan adanya keahlian memilih para ahli di bidangnya masing-masing. Hal ini juga menjadi bukti bahwa bermazhab itu tidaklah kaku dalam arti hanya membatasi diri dengan satu tokoh saja dalam segala hal. Tak ada satu pun ulama mazhab yang mengajarkan sikap kaku dan membatasi diri seperti ini sehingga para pengikut mazhab fiqih tetap leluasa merujuk tokoh manapun yang ia anggap argumennya paling kuat di spesialisasi ilmunya masing-masing. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember