IMG-LOGO
Ubudiyah

Tiga Ilmu yang Wajib Dipelajari Setiap Muslim

Kamis 27 September 2018 17:15 WIB
Share:
Tiga Ilmu yang Wajib Dipelajari Setiap Muslim
Ilustrasi (ok.ru)
Adalah pemandangan yang kaprah di masyarakat, ilmu dibedakan menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Pemahaman ini kemudian lebih dikuatkan dengan adanya pembagian sekolah yang disebut dengan sekolah umum dan sekolah agama atau yang lebih dikenal dengan madrasah.

Sesungguhnya para ulama tidak membagi ilmu dengan pembagian yang demikian. Bila membaca berbagai literatur akan didapati bahwa yang dibedakan oleh para ulama bukanlah jenis ilmunya, namun hukum mempelajarinya. Dalam kitab Ihya Ulûmid Dîn misalnya Imam Al-Ghazali membedakan ilmu menjadi ilmu yang fardlu ‘ain hukumnya untuk dipelajari dan ilmu yang fardlu kifayah hukumnya untuk dipelajari.

Ilmu yang fardlu kifayah hukum mempelajarinya berarti tidak setiap orang Islam wajib mempelajari ilmu tersebut. Bila ada satu di antara mereka yang telah mempelajarinya maka itu sudah cukup menggugurkan orang Islam lain untuk mempelajarinya. Termasuk dalam kategori ilmu ini adalah ilmu hadis, ilmu tafsir, ilmu kedokteran, ilmu biologi dan lain sebagainya. Bila ada satu orang Islam yang mempelajarinya maka gugurlah kewajiban orang Islam lainnya untuk memepelajarinya.

Sedangkan ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu ‘ain maka ilmu ini tidak bisa tidak harus dipelajari dan dipahami oleh setiap individu Muslim. Tak ada celah bagi seorang Muslim untuk tidak mempelajari ilmu pada kategori ini.

Lalu ilmu apa saja yang hukum mempelajarinya termasuk dalam kategori fardlu ‘ain?

Menurut Syekh Zainudin Al-Malibari di dalam kitab Mandhûmatu Hidâyatil Adzkiyâ’ ilâ Tharîqil Auliyâ’, di mana kitab ini diberi penjelasan oleh Sayid Bakri Al-Makki dalam kitab Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Awliyâ’, bahwa ada 3 (tiga) ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap orang Muslim dengan kewajiban fardlu ‘ain. Ketiga ilmu itu adalah ilmu yang menjadikan ibadah menjadi sah, ilmu yang mengesahkan aqidah, dan ilmu yang menjadikan hati bersih.

Dalam kitab itu Al-Malibari menuturkan:

وتعلمن علما يصحح طاعــة وعقيدة ومزكي القلب اصقلا
هذا الثلاثة فرض عين فاعرفن واعمل بها تحصل نجاة واعتلا

Pelajarilah ilmu yang mengesahkan ketaatan
mengesahkan aqidah serta mensucikan hati
Ketiganya ini fardlu ain hukumnya, ketahuilah
amalkanlah, maka terwujud keselamatan dan kehormatan

Inilah tiga ilmu yang setiap orang Islam wajib mempelajarinya.

Pertama, ilmu yang menjadikan sahnya ibadah kepada Allah adalah ilmu fiqih yang membahas tentang bagaimana semestinya seorang Muslim beribadah kepada Allah. Sebagai contoh, setiap Muslim wajib mempelajari ilmu tentang bagaimana caranya shalat yang benar dan baik. Juga ia wajib mempelajari berbagai ilmu yang berkaitan dengan keabsahan shalat, seperti caranya berwudlu, cara mensucikan berbagai macam najis, bertayamum, beristinja dan lain sebagainya.

Seorang Muslim juga wajib mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah-ibadah lain seperti puasa, zakat, haji dan lain sebagainya. Termasuk juga dalam kategori ini adalah ilmu muamalat, ilmu yang mengatur bagaimana semestinya seseorang melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti jual beli, sewa menyewa, penitipan, dan sebagainya.

Ilmu-ilmu ini fardlu ain hukumnya untuk dipelajari mengingat amalan seseorang yang tidak didasari dengan ilmu maka amalan yang dilakukannya itu menjadi batal, tak diterima. Sebagaimana dituturkan Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad:

وكل من بغير علم يعمل
أعماله مردودة لا تقبل

Setiap orang yang beramal tanpa ilmu
Maka amalnya tertolak, tak diterima

Kedua, ilmu yang menjadikan aqidah atau kepercayaan seseorang menjadi benar sesuai dengan aqidah yang dianut oleh para ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Dengan mempelajari dan memahami ilmu ini maka seseorang akan terjaga dari aqidah-aqidah yang rusak dan tidak benar seperti aqidah Mu’tazilah, Jabariyah, dan Mujassimiyah.

Orang yang tidak mempelajari ilmu ini maka dikhawatirkan ia akan salah dalam memahami dan meyakini perihal bagaimana Allah dan berbagai permasalahan keimanan lainnya.

Baca juga:
Perihal Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid
Wajibkah Orang Awam Belajar Argumentasi Ilmu Aqidah?
Ketiga, ilmu yang menjadikan hati bersih dari berbagai macam akhlak yang jelek seperti riya, sombong, dengki, hasud dan berbagai macam penyakit hati lainnya. Ilmu ini wajib pula dipelajari oleh setiap orang Muslim mengingat perilaku orang tidak hanya apa yang dilakukan oleh anggota badan secara lahir namun juga perilaku-perilaku hati secara batin.

Sayid Bakri Al-Makki memberikan penjelasan masalah ini di dalam kitabnya Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Ashfiyâ’. Beliau menuturkan bahwa tak ada kelonggaran bagi seorang pun untuk tidak mengetahui ketiga ilmu tersebut. Inilah ilmu syariat yang bermanfaat. Tak cukup dengan memepelajari dan mengetahuinya saja. Orang yang telah mempelajarinya juga mesti mengamalkannya. Karena siapapun yang telah mengetahui ketiga ilmu ini tidak akan bisa selamat kecuali dengan mengamalkannya.

Ya, untuk mendapatkan keselamatan di akherat kelak serta tingginya derajat di dunia dan akherat tak bisa lepas dari tiga hal: keyakinan atau aqidah yang benar, ibadah yang benar, dan hati yang bersih.

Hal ini semestinya menjadi perhatian bagi setiap orang Muslim. Lebih-lebih semestinya menjadi perhatian bagi para orang tua untuk lebih mengutamakan ketiga ilmu tersebut bagi para anaknya. Sudah semestinya ketika anak-anak masih belum akil baligh setiap orang tua lebih mementingkan ketiga ilmu tersebut dibanding ilmu-ilmu lainnya. Ini dikarenakan ketika sang anak sudah menginjak masa akil baligh, yang artinya dia telah mukallaf dan menanggung setiap akibat perbuatannya, maka ia sudah harus melakukan berbagai macam tuntutan syariat yang akan memberinya pahala bila melakukannya dan memberinya dosa bila meninggalkannya. Untuk melakukan tuntutan syariat ini mau tidak mau ia harus telah memiliki dan memahami ilmu-ilmunya yang semestinya telah dipelajari sejak dari kecil.

Bila sampai dengan akil baligh sang anak belum tahu bagaimana semestinya beraqidah dan beribadah kepada Allah sehingga ia melakukan kesalahan, maka orang tua akan ikut menanggung akibat dari kesalahan tersebut, karena keteledorannya yang tak memberikan ilmu agama yang cukup saat sang anak masih belum baligh.

Tidak salah memberikan berbagai macam ilmu ketika anak masih duduk di bangku sekolah dasar, sebelum anak akil baligh. Tetapi adalah kerugian yang besar bila orang tua tak memperhatikan dan tak memberikan ilmu yang cukup bagi anak untuk kelak ketika ia telah akil baligh berhubungan dengan Tuhan dan sesama makhluk dengan baik dan benar.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Tags:
Share:
Sabtu 15 September 2018 12:0 WIB
Ini Kekuatan Saling Mendoakan Sesama Muslim dari Jauh
Ini Kekuatan Saling Mendoakan Sesama Muslim dari Jauh
(Foto: mawdoo3com)
Hari semakin dekat dengan kiamat. Zaman sudah memasuki babak akhir sejak Rasulullah SAW dilahirkan ke muka bumi. Kita telah memasuki era perputaran harta haram mendominasi muka bumi. Transaksi bercampur riba mewabah di segala lini.

Hampir mustahil menghindari harta yang bersih total tanpa ada bau riba sedikit pun dalam kehidupan kita. Hal ini menjadikan doa orang tidak mudah diijabahi oleh Allah subhânahu wa ta’alâ.

Sebuah tips menarik dari seorang mufti Yaman, Habib Hasan Al-Hamid, supaya doa kita mudah terkabul di tengah banjir bandang harta yang tidak halal seratus persen yang kita makan dalam keseharian kita. Begitu pula pakaian yang kita kenakan, kendaraan yang kita tumpangi, dan sebagainya.

Tips doa mudah terkabul adalah dengan cara mendoakan orang lain. Dengan kita mendoakan orang lain, kita akan mendapatkan doa serupa dari malaikat. Sedangkan doa malaikat karena mereka tidak pernah melakukan dosa pasti akan dikabulkan oleh Allah. 

Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim berikut:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

Artinya, “Tidak ada seorang hamba Muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat ‘Kamu juga mendapat sama persis sebagaimana doa yang kamu ucapkan itu,” (HR Muslim: 4094).

Menurut Muhammad Abdul Baqi, yang dikehendaki oleh kata “zhahrul ghaib” dalam redaksi hadits di atas adalah tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Jadi, apabila kita mendoakan orang lain secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang yang kita doakan, selain doa tersebut bermanfaat bagi dia, juga bermanfaat bagi pribadi kita sendiri sebagaimana isi doa yang kita panjatkan untuk orang lain tersebut tanpa berkurang sama sekali.

Mengapa mendoakan perlu tanpa sepengetahuan orang yang didoakan? Rahasianya adalah bahwa orang yang mendoakan secara diam-diam tentu lebih ikhlas tanpa mengharap imbalan apa pun dari orang yang didoakan.

Oleh karena itu, semakin banyak kita mendoakan orang lain, malaikat semakin banyak pula mendoakan kita sebagaimana diriwayatkan dari hadits di atas. Wallâhu a’lam bis shawâb. (Ahmad Mundzir)
Jumat 14 September 2018 16:0 WIB
Keistimewaan Umat Nabi Muhammad Dibanding Umat Terdahulu
Keistimewaan Umat Nabi Muhammad Dibanding Umat Terdahulu
Dicintai dan dimuliakannya Rasulullah Muhammad ﷺ oleh Allah berdampak pada ikut dimuliakannya umat beliau. Dalam syariat Islam banyak ajaran yang menunjukkan betapa Allah begitu memuliakan umat ini dibanding dengan umat-umat sebelumnya, termasuk Bani Israil.

Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki di dalam kitabnya Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah menuturkan berbagai kemulian yang diberikan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad di mana kemuliaan-kemuliaan itu tidak diberikan kepada umat Bani Israil.

Di antara perlakuan Allah yang mengistimewakan umat akhir zaman ini adalah:

Pertama, bila pakaian seorang Bani Israil terkena najis maka satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mensucikan kembali pakaian tersebut adalah dengan memotong bagian yang terkena najis. Bahkan menurut sebagaian ulama bahwa bila anggota badan seorang Bani Israil terkena najis maka ia mesti memotong bagian anggota badan yang terkena najis tersebut untuk mensucikannya.

Imam Abu Dawud meriwayatkan:

كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَوْلُ قَطَعُوا مَا أَصَابَهُ الْبَوْلُ مِنْهُمْ

Artinya: “Adalah Bani Israil bila mereka terkena air kencing maka mereka memotong apa yang terkena air kencing itu.” (Abu Dawud As-Sijistani, Sunan Abi Dâwûd [Beirut: Muassasah Ar-Rayan], 1998, juz I, hal. 159)

Ini berbeda dari umat Nabi Muhammad di mana untuk mensucikan apa saja yang terkena najis Allah memerintahkan pensuciannya cukup dengan air dan dengan debu untuk najis tertentu.

Kedua, bila seorang perempuan Bani Israil sedang mengalami haid atau menstruasi maka ia akan ditinggal sendirian di rumah. Mereka tidak diperbolehkan berhubungan, tinggal, dan makan bersamanya

Berbeda dari umat Nabi Muhammad yang diperbolehkan bergaul, makan bersama, tinggal serumah, dan juga tidur sekasur dengan istri yang sedang haid. Hanya saja mereka tidak diperbolehkan berhubungan intim dengannya.

Ketiga, ketika seorang Bani Israil melakukan tindak pidana pembunuhan maka satu-satunya hukuman yang diterapkan baginya adalah hukuman mati, baik pembunuhan yang dilakukan itu berupa pembunuhan yang disengaja ataupun pembunuhan yang tidak disengaja. Di dalam hukum Bani Israil juga tidak diberlakukan diyat dalam kasus pembunuhan ataupun pencederaan terhadap anggota badan.

Berbeda dari umat Rasulullah Muhammad ﷺ di mana Allah memberikan keringanan bagi umat ini dalam hal pembunuhan. Dalam syari’at Islam diberlakukan diyat sebagai pengganti qishash apabila keluarga orang yang dibunuh memberika maaf bagi orang yang membunuh. 

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 178:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, dan perempuan dengan perempuan. Maka barang siapa yang mendapat suatu permaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat.”

Keempat, ketika Bani Israil melakukan kesalahan berupa penyembahan terhadap sapi maka satu-satunya jalan untuk bertaubat adalah dengan cara membunuh diri mereka sendiri. Orang yang menyembah sapi menyerahkan diri kepada orang yang tak menyembahnya untuk dibunuh. Dengan jalan seperti itu Bani Israil melakukan pertaubatan.

Tidak hanya itu. Ketika mereka melakukan sejumlah tindakan dosa tertentu pun cara taubatnya dengan memotong anggota badan yang melakukan kesalahan tersebut. Lidah harus dipotong ketika mengucapkan kebohongan, kemaluan mesti dipotong manakala melakukan perzinahan, dan biji mata dicukil ketika melihat perempuan yang bukan mahramnya.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad, di mana Allah memberikan jalan yang mudah bagi mereka untuk melakukan pertaubatan atas dosa-dosa yang dilakukan. Bahkan Allah mengabarkan bahwa Ia akan menerima taubat dan memaafkan setiap kesalahan.

Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 110:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Barang siapa yang melakukan kejelekan atau berbuat aniaya pada diri sendiri kemudian ia meminta ampun kepada Allah maka ia akan mendapati Allah sebagai Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kelima, bila salah seorang Bani Israil melakukan satu perbuatan dosa atau kemaksiatan maka di pagi hari akan ia temui di pintu rumahnya satu tulisan “Si Fulan telah melakukan perbuatan dosa ini dan itu. Sebagai tebusannya adalah ini dan itu.” Tulisan ini dapat dibaca oleh siapapun secara umum.

Sedangkan umat Nabi Muhammad selalu ditutup-tutupi oleh Allah manakala melakukan perbuatan dosa. Allah tidak membuka dan mengumbar kesalahan mereka kepada orang lain. Ia selalu menutup rapat kesalahan tersebut hingga terkadang justru pelakunya sendiri yang membuka aib dirinya.

Keenam, Allah tetap akan menyiksa Bani Israil yang melakukan perbuatan salah meskipun itu hanya merupakan kata hati mereka dan tidak dilakukan oleh anggota badannya. Dahulu mereka pernah mendatangi para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka. Kepada para nabi dan utusan itu mereka memprotes atas syari’at yang tetap akan menyiksa mereka atas apa yang dibatinkan oleh hati mereka meskipun tidak sampai dilakukan oleh anggota badan. Maka mereka mengkufuri syari’at tersebut dengan mengatakan sami’nâ wa ‘ashainâ (kami dengar namun kami membangkangnya).

Berbeda dari umat ini, ketika mereka mengetahui bahwa Allah akan menghisab setiap perilaku baik yang berupa perbuatan anggota badan maupun yang berupan bisikan hati, umat Nabi Muhammad mengucapkan kami mendengar, kami mematuhi, kami berserah diri dan percaya kepada Allah, malaikat, dan para rasul-Nya. Maka kemudian Allah mengkhabarkan bahwa Ia mengampuni (tidak akan menghisab) apa-apa yang dibatinkan di dalam hati. Allah hanya akan menghisab perbuatan yang secara nyata dilakukan oleh anggota badan.

Ketujuh, dosa yang dihasilkan oleh Bani Israil karena salah dalam berbuat atau karena lupa tetap beresiko dengan disegerakannya hukuman atas dosa tersebut. Sebagaimana Allah telah mengharamkan suatu makanan dan minuman atas mereka sebagai hukuman atas suatu dosa yang mereka lakukan.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad di mana Allah tidak menjatuhkan hukuman kepada mereka atas kesalahan, kelupaan, dan apa saja yang dilakukan karena terpaksa. Ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Artinya: “Sesunguhnya Allah memaafkan karena aku dari umatku kesalahan, lupa, dan apapun yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (HR. Ibnu Majah, Baihaki, dan lainnya).

Kedelapan, Allah mengharamkan Bani Israil melakukan kegiatan-kegiatan duniawi di hari Sabtu sebagai hari raya mereka. Pada hari itu Bani Israil hanya diperbolehkan melakukan peribadatan kepada Allah saja. Maka ketika mereka melanggarnya dengan tetap berburu ikan di lautan Allah mengubah wujud menjadi seekor kera.

Sedangkan umat Nabi Muhammad tidak diperlakukan seperti itu oleh Allah. Mereka diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan apapun meskipun di hari Jum’at sebagai hari raya umat Islam. Baik sebelum maupun sesudah shalat Jum’at umat Nabi Muhammad diperkenankan melakukan aktifitas duniawi tanpa ada ancaman hukuman apapun dari Allah.

Kesembilan, bagi Bani Israil dan kaum yang lain penyakit thâ’ûn merupakan kotoran dan siksaan. Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad penyakit thâ’ûn dijadikan oleh Allah sebagai rahmat dan kesyahidan bagi mereka. 

Kesepuluh, ada beberapa makanan yang diharamkan oleh Allah bagi Bani Israil. Beberapa makan itu di antaranya adalah setiap binatang yang memiliki kuku dan lemak yang ada pada binatang, kedua haram bagi Bani Israil. Keduanya diharamkan oleh Allah sebagai hukuman bagi mereka karena perilaku mereka yang berbuat dzalim, menentang dan mempermainkan syariat Allah.

Hal ini direkam oleh Allah dalam firman-Nya pada surat An-Nisa ayat 160:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

Artinya: “Maka disebabkan perbuatan aniaya dari orang-orang yahudi Kami haramkan atas mereka beberapa makanan yang baik-baik yang sebelumnya dihalalkan bagi mereka, dan juga dikarenakan mereka serig menghalang-halangi jalan Allah.“

Adapun umat Nabi Muhammad Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik, tanpa kecuali, dan mengharamkan atas mereka setiap yang jelek. Ini ditegaskan-Nya dalam ayat 5 surat Al-Maidah:

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ

Artinya: “Pada hari ini telah Aku halalkan bagi kalian yang baik-baik.”

Kesebelas, ketika Bani Israil mendapatkan barang rampasan perang (ghanimah) mereka diharamkan untuk mengambil dan membagikannya. Yang diperintahkan kepada mereka adalah mengumpulkan barang rampasan itu, lalu akan turun api dari langit yang menyambar dan membakarnya sebagai tanda bahwa diterimanya peperangan yang mereka lakukan.

Sedangkan umat Nabi Muhammad diperbolehkan mengambil dan memanfaatkan barang rampasan perang, bahkan dijadikannya sebagai sesatu yang halal dan penuh berkah.

Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 69:

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا

Artinya: “maka makanlah dari apa yang kalian rampas sebagai sesuatu yang halal dan baik.”

Kedua belas, umat-umat terdahulu tidak diperbolehkan melakukan shalat kecuali di tempat-tempat yang telah ditentukan seperti gereja dan pagoda. Bila mereka tidak datang bersembahyang di tempat yang telah ditentukan itu maka mereka tidak bisa menggantinya di sembarang tempat. Mereka mesti datang ke tempat peribadatan yang ada untuk mengganti shalat yang ditinggalkannya itu.

Al-Bazar dalam satu hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abas mengatakan bahwa tak ada seorang nabi pun yang melakukan shalat hingga ia berada di mihrabnya.

Sementara umat Nabi Muhammad tidak demikian. Allah menjadikan setiap jengkal tanah di bumi ini sebagai tempat shalat mereka. Kapanpun dan di manapun mereka hendak melakukan shalat bisa dilakukan di tempat manapun asalkan bersih dan suci dari najis. Tak ada tempat yang dikhususkan untuk shalat bagi umat Baginda Muhammad ﷺ. 

Ketiga belas, dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad mereka hanya bisa bersuci dengan air saja. Tak ada aturan yang membolehkan mereka bersuci dengan menggunakan media selain air. Maka ketika mereka hendak shalat dan tidak menemukan air, mereka tidak bisa melakukannya sampai menemukan air untuk bersuci dan kemudian mengqadla shalat yang telah ditingalkannya.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad, ketika mereka hendak melakukan shalat dan tidak menemukan air maka mereka bisa bersuci dengan menggunakan debu yang suci.

Demikian Allah—melalui syari’at-Nya—memperlakukan umat Nabi Muhammad ﷺ secara istimewa bila dibandingkan dengan perlakukan Allah kepada umat-umat terdahulu. Ada kemudahan dan keringanan dalam syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Atas semua itu maka selayaknya bila umat Nabi Muhammad bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan ketakwaan yang semestinya dan berterima kasih kepada Rasulullah dengan mengikuti akhlak mulianya.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Senin 10 September 2018 22:15 WIB
Lima Kategori Bid’ah: Haram, Sunnah, Wajib, Makruh, dan Mubah
Lima Kategori Bid’ah: Haram, Sunnah, Wajib, Makruh, dan Mubah
Secara umum bid’ah adalah segala sesuatu yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Pengertian ini didasarkan pada hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dari Abdullah bin Masúd radliyallahu ‘anhu sebagai berikut: 

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Artinya: “Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (baru) dan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Kita tidak menolak bahwa bid’ah memang ada baik secara faktual maupun secara konsep sebagaimana pengertian yang disebutkan di atas. Bahkan sebagian bid’ah adalah dlalalah atau sesat kita mengakuinya. Hanya saja kita menolak pemahaman bahwa setiap bid’ah tanpa kecuali adalah dlalalah karena memang tidak setiap bid’ah adalah dlalalah. Ada bid’ah yang bisa dibenarkan meski Rasulullah ﷺ tidak pernah melakukannya.

Selain itu, frasa “setiap bid’ah” yang merupakan terjemahan dari كُلَّ بِدْعَةٍ  sebagaimana termaktub dalam hadits di atas tidak bisa dipahami secara denotatif bahwa setiap bid’ah tanpa kecuali adalah dlalalah sebab ungkapan dalam frasa itu menggunakan gaya bahasa yang disebut totum pro parte, yakni sebuah majas yang digunakan untuk mengungkapkan keseluruhan tetapi yang dimaksud adalah sebagian saja. 

Gaya bahasa seperti itu dalam ilmu balaghat disebut majâz mursal ‘alâqatuhu al-kulliyyat sebagaimana yang kita temukan dalam كُلَّ سَفِيْنَةٍ dalam surat Al-Kahfi, ayat 79 sebagai berikut:
 
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Artinya: “Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku ingin membuat perahu itu cacat karena di belakang mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu (yang tidak cacat).”

Frasa “setiap perahu” yang merupakan terjemahan dari كُلَّ سَفِيْنَةٍ dalam ayat di atas tidak bermakna seluruh perahu tanpa kecuali, tetapi seluruh perahu yang kondisinya baik saja sehingga dalam konteks ayat ini perahu yang dilubangi Nabi Khidzir milik orang-orang yang miskin tidak dirampas oleh raja karena kondisinya cacat. 

Oleh karena tidak setiap bid’ah adalah dlalalah, maka secara fiqih bid’ah dapat dikategorikan menjadi 5 (lima), yakni: wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Kategorisasi ini berdasarkan keterangan dari Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami, dalam kitab Al-Qawaídu Al-Kubra, Al-Mausum bi Qawaidil Ahkam fi Ishlahil Anam, Darul Qalam, Damaskus, Cetakan I, Tahun 2000, Juz II, Halaman 337, sebagai berikut:

الْبِدْعَةُ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إلَى: بِدْعَةٍ وَاجِبَةٍ، وَبِدْعَةٍ مُحَرَّمَةٍ، وَبِدْعَةٍ مَنْدُوبَةٍ، وَبِدْعَةٍ مَكْرُوهَةٍ، وَبِدْعَةٍ مُبَاحَةٍ

Artinya, “Bid‘ah adalah melakukan apa yang tidak dijumpai di masa Rasulullah ﷺ. Hukum Bid‘ah terbagi menjadi: wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah.” 

Berdasar pada kategorisasi bid’ah sebagaimana disebutkan dalam kitab tersebut, Mbah KH Abdullah Asy’ari, Pengasuh Pondok Pesantren Darus Sholihin Surakarta, dalam sebuah ceramah Ramadhan di Masjid Tegalsari Surakarta pada bulan Ramadhan 1439 H, memberikan contoh bid’ah yang hukumnya haram, yakni shalat Subuh 4 rakaat. 

Shalat Subuh 4 rakaat jelas bid’ah dlalalah karena tidak ada dasar dan contohnya. Shalat Shubuh 2 rakaat bersifat qath’i karena begitulah Rasulullah ﷺ telah menetapkannya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqiy, Ad-Daru Quthniy dan Ahmad sebagai berikut: 

صَلاَةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ

Artinya: “Shalat Shubuh itu (hanya) dua rakaat.” 

Adapun contoh bid’ah yang hukumnya sunnah, Mbah Kiai Abdullah Asyári memberikan contoh, yakni shalat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat. 

Memang ada hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat tarawih 11 rakaat. Tetapi di zaman Khalifah Umar bin Khattab, shalat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat. Hal ini memang bid’ah. Pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan Sayyidina Umar tersebut merupakan bid’ah dlalalah?

Tentu saja tidak sebab Rasulullah ﷺ sendiri pernah berwasiat agar umatnya mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Khulafaur Rasyidin sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang diriwayatakan Abu Dawud dan At-Tirmidzi sebagai berikut:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِالرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya: “Wajib kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin Mahdiyyin (para pemimpin yang menggantikan Rasulullah, yang berada di atas jalan yang lurus, dan mendapatkan petunjuk). Berpegang teguhlah kalian padanya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian. Serta jauhilah perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.“ 

Jadi sunnah Khulafur Rasyidin itu ada dan legal karena dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ sendiri. Oleh karena itu, shalat tarawih dengan 23 rakaat tidak termasuk bid’ah yang haram, tetapi sunnah sebab mengikuti sunnah Sayyidina Umar sebagai salah seorang dari Khulafaur Rasyidin.

Sedangkan bid’ah yang hukumnya wajib, Mbah Kiai Abdullah Asy’ari memberikan contoh, yakni membukukan ayat-ayat Al-Qur’an. Di zaman Rasulullah ﷺ ayat-ayat Al-Qur’an memang tidak dibukukan, tetapi ditulis di kulit binatang, batu yang tipis, pelepah kurma, tulang binatang dan sebagainya. 

Perkembangan zaman menuntut agar ayat-ayat Al-Qur’an dibukukan menjadi satu mushaf karena banyak para sahabat yang hafal Al-Qur’an telah meninggal dunia dan kondisi tulisan ayat-ayat Al-Quran dalam benda-benda tersebut semakin buruk karena faktor usia. Maka dilakukanlah pembukuan ayat-ayat Al-Quran yang berlangsung mulai zaman kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar bin Khattab hingga Sayyidina Utsman bin Affan. 

Andaikan ayat-ayat Al-Qur’an tidak pernah dibukukan menjadi mushaf, kita yang hidup di zaman sekarang tidak akan pernah menjumpainya. Umat Islam akan hidup tersesat karena tidak memiliki kitab suci sebagai pedoman hidup. Memang harus diakui bahwa upaya membukukan ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan Khulafaur Rasyidin adalah sesuatu yang baru alias bid’ah, tetapi tidak dlalalah – tidak haram - karena hukumnya malah wajib. 

Mengenai bid’ah yang hukumnya makruh Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami dalam kitab tersebut, halaman 338, memberikan contoh yakni menghiasai masjid. Tentu yang dimaksud dengan hiasan di sini adalah ornamen-ornamen yang tidak mengandung unsur dakwah. 

Sedangkan contoh bid’ah yang termasuk kategori mubah, Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami pada halaman 339 memberikan contoh yakni jabat tangan usai shalat Subuh dan Ashar. Sedangkan Mbah Kiai Abdullah Asyári memberikan contoh bid’ah mubah adalah pergi haji dengan menggunakan pesawat terbang. 

Kelima kategori bid’ah sebagaimana dirumuskan oleh Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami tersebut sangat penting dipahami dan dijadikan pegangan bagi kaum Muslimin secara umum dalam kehidupan beribadah mereka sehari-hari. Dengan cara ini mereka tidak akan terombang-ambing oleh pendapat-pendapat dari luar kalangan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah yang cenderung waton sulaya (asal berbeda). 


Muhamad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta