IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (1)

Sabtu 29 September 2018 9:30 WIB
Share:
Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (1)
Seluruh umat Islam sepakat bahwa generasi terbaik dan ideal yang layak menjadi rujukan adalah generasi Salaf atau generasi tiga abad pertama.  Dalam hal aqidah dan fiqih, seluruh umat Islam sepakat untuk menjadikan pendapat dan tindakan ulama salaf sebagai rujukan. Namun dalam realitasnya, ada pemaknaan yang berbeda tentang kata salaf ini. Ketika seorang Muslim menyebut kata "Salaf" di era modern ini, maka artinya terbagi menjadi dua macam, yaitu: Salaf sebagai realitas dan salaf sebagai fiksi.
 
Salaf sebagai sebuah realitas
 
Salaf sebagai sebuah realitas artinya adalah tokoh yang nyata dalam realitas sejarah di tiga abad pertama. Dalam arti ini, ketika seseorang mengatakan bahwa dia mengikuti ulama salaf, maka dia dapat dengan mudah menyebutkan tokoh salaf mana yang dia ikuti, misalnya dalam bidang fiqih adalah salah satu dari keempat imam mazhab atau dalam bidang aqidah adalah Imam Abu Hasan al-Asy'ari atau Imam Abu Manshur al-Maturidi. Kesemua nama itu adalah ulama salaf yang nyata yang keilmuannya diakui seluruh dunia serta pendapat-pendapatnya terdokumentasikan dengan baik dalam mazhabnya masing-masing sehingga bisa diuji validitasnya.
 
Ketika ternyata didapati ada perbedaan pendapat antara ulama salaf yang satu dan yang lain, maka pengikut ulama salaf dalam arti riil ini akan mengakui bahwa ada ikhtilaf antara para imam salaf serta dapat dengan mudah menyebutkan perbedaannya. Akhirnya, pengikut salaf dalam makna ini akan mudah untuk saling mengerti landasan dari masing-masing kelompok dan akan jauh dari sikap fanatisme. Itulah mengapa, dalam tradisi penganut salaf dalam kategori pertama ini, kerap kali dimunculkan beberapa pendapat ulama sekaligus tentang satu hal yang sama sebagai penghargaan dan kejujuran bahwa para ulama salaf tak memahami masalah tersebut dalam satu versi pendapat saja, melainkan ada beberapa pendapat yang bertolak belakang.
 
NU sebagaimana digariskan oleh Hadratussyekh Hasyim Asy'ari mengakui empat mazhab fiqih salaf sekaligus, yakni Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah. Sebagai implementasinya, dalam tradisi Bahtsul Masa'il di kalangan NU biasa disebutkan pendapat dari berbagai mazhab terlebih dahulu sebelum suatu masalah dirumuskan jawabannya. Bahkan dalam rumusan akhir pun tak jarang diputuskan dengan dua atau tiga pendapat yang berbeda dari para ulama sehingga pembaca bisa memilih pendapat mana yang dia anggap paling baik.

Adapun dalam hal aqidah, NU juga merujuk pada imam salaf, yakni Abu Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi. Keduanya adalah tokoh Ahlussunnah wal Jama’ah yang memurnikan kembali ajaran aqidah ulama salaf setelah sebelumnya didistorsi oleh berbagai aliran seperti Jahmiyah, Mujassimah, Syi’ah, Muktazilah dan banyak lainnya. Meskipun ajaran kedua tokoh ulama salaf ini identik, namun kedua madrasah aqidah ini juga mempunyai beberapa perpedaan pendapat di level detail, seperti bagaimana seharusnya menyikapi sifat-sifat mutasyabihat apakah wajib ditafwidh ataukah ditakwil saja? Perbedaan semacam ini seluruhnya diakomodir sebagai bentuk penghargaan terhadap ulama salaf, tanpa perlu dipertentangkan secara diametral mana yang benar dan mana yang sesat, tetapi dipahami bahwa ini hanyalah antara siapa yang diperkirakan mendapat dua pahala karena pendapatnya tepat dan siapa yang mendapat satu pahala saja sebab tidak tepat.
 
Sebagai contoh, dalam masalah aqidah, ketika memahami ayat وجاء ربك (dan datanglah Tuhanmu) pada surat al-Fajr:22, Sahabat Ibnu Abbas menakwilnya sebagai kedatangan urusan dan putusan Allah (‘amruhu wa qadlâ’uhu), bukan kedatangan Allah sendiri. (Lihat: An-Nasafi, Tafsir an-Nasafi, juz III, halaman 641).

Demikian juga dalam memahami hadits turunnya Allah pada sepertiga malam terakhir, Imam Malik dan al-Auza’i justru menakwilnya. Dalam hal ini Imam Malik mengartikan turunnya Allah sebagai turunnya rahmat, urusan dan malikat Allah (rahmatuhu wa amruhu wa malaikatuhu). (Lihat: an-Nawawi, Syarh an-Nawawi 'ala Muslim, juz VI, halaman 37).

Namun sebagian ulama salaf lainnya memilih untuk tidak menakwil sifat-sifat khabariyah seperti itu tetapi memilih memasrahkan makna sejatinya kepada Allah dengan meyakini bahwa makna tersebut pastilah makna yang layak bagi keagungan-Nya, bukan makna jismiyah. Perbedaan pendapat seperti ini semuanya diakui benar dan dapat dipilih. Siapa yang paling benar di sisi Allah akan mendapat dua pahala dan siapa yang kurang benar akan mendapat satu pahala.
 
Dalam masalah fiqih, ketika membahas masalah qunut subuh misalnya, didapati kenyataan bahwa para Imam dari kalangan ulama salaf berbeda pendapat. Mazhab Malikiyah dan Syafi'iyah berpendapat bahwa qunut subuh adalah sunnah berdasarkan beberapa dalil yang disebutkan dalam mazhab mereka. Sedangkan Mazhab Hanafiyah dan Hanabilah menyatakan bahwa tidak ada qunut dalam salat subuh berdasarkan beberapa dalil yang disebutkan dalam mazhab mereka. Perbedaan semacam ini juga diakomodasi oleh para pengikut salaf dalam pengertian pertama ini, yang salah satunya adalah para Nahdliyyin, sehingga mereka terbiasa hidup rukun dalam perbedaan pendapat para ulama.

Para pengikut salaf dalam arti ini akan sadar betul bahwa ulama salaf seringkali berbeda pendapat dalam hampir semua hal, mulai dari detail-detail akidah hingga detail-detail masalah fiqhiyah. Konsistensi mereka pada mazhab salaf membuat mereka toleran dan tak mudah menjatuhkan vonis sesat atau bid’ah pada Muslim lainnya yang juga mengikuti imam dari kalangan salaf.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember


Bersambung pada bagian selanjutnya...

Tags:
Share:
Sabtu 29 September 2018 20:30 WIB
Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (2-Habis)
Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (2-Habis)
Ilustrasi (The Independent)
Salaf sebagai Sebuah Fiksi
 
Makna lain dari kata “salaf” adalah salaf yang tidak jelas siapa tokohnya dan bagaimana pendapatnya serta bagaimana bangunan argumennya secara utuh dalam berbagai hal. Dengan kata lain, salaf dalam arti kedua ini adalah tokoh fiksi. Hanya saja selalu diklaim bahwa “salaf” ini hidup di era yang mulia (tiga kurun pertama) hijriah. 
 
Salaf dalam arti kedua ini biasanya dianggap sebagai sebuah manhaj yang menjadi kesepakatan (ijmak) seluruh generasi terbaik umat Islam. Karenanya, salaf dalam pengertian ini selalu diklaim sebagai satu-satunya representasi kebenaran dan tidak mengandung perbedaan pendapat. Akibatnya, seluruh pendapat yang ternyata berbeda dari "salaf" ini akan otomatis dianggap menyimpang  dari kebenaran. Dalam praktiknya, salaf dalam makna kedua ini tidak punya tokoh rujukan definitif yang hidup di masa salaf sehingga tidak jelas bangunan pendapat yang dirujuk dari “salaf” tersebut. 

Para pengikut “salaf” yang fiksi ini biasanya bersikap eklektik, kadang mengikuti imam A dan menyerang pendapat imam B, tetapi kadang memilih imam B dan menyerang pendapat imam A. Di satu sisi mereka beralasan bahwa para imam salaf harus diikuti sebab mereka pasti benar, tapi di sisi lain mereka mengatakan bahwa semuanya harus kembali pada dalil sedangkan para Imam itu hanyalah sosok yang tak terjaga dari salah. Ini adalah sebuah kontradiksi yang nyata dari golongan ini.

Bila dilihat secara objektif, mereka sama sekali tak mengikuti ulama salaf mana pun, tetapi mengikuti hasil pendapatnya sendiri yang dipakainya untuk “menghakimi” pendapat ulama salaf. Hanya saja, pendapat ulama klasik yang cocok dengan mereka lantas dilabeli sebagai “pendapat salaf” sedangkan pendapat yang kebetulan tidak sesuai dengan penalaran mereka lantas dilabeli dengan “menyalahi dalil.” Dari ciri-cirinya, konsep pemikiran ini lebih tepat disebut sebagai sebuah mazhab baru daripada sebuah manhaj yang konsisten. Syekh Ibnu Taymiyah (661-728 H) dikenal sebagai salah satu konseptor "mazhab” salaf ini. 
 
Sebagai contoh, dalam hal akidah para pengikut salaf dalam arti kedua ini selalu mengklaim bahwa sifat khabariyah Allah haram ditakwil dan ini adalah kesepakatan seluruh ulama salaf. Mereka yang menakwil sifat khabariyah itu biasanya divonis sebagai ahli bid'ah sebab dianggap berbeda dengan manhaj salaf dalam memperlakukan sifat Allah. Untuk memperkuat argumennya, biasanya mereka menukil pendapat Imam Malik yang populer berikut:
 
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة

"Istiwa' itu sudah diketahui, kaifiyahnya tidak diketahui dan mengimaninya adalah wajib.  Sedangkan bertanya tentang itu adalah bid'ah.” 
 
Selain itu, mereka juga menukil pendapat beberapa tokoh salaf yang menolak bahkan mencela takwil. Meskipun benar bahwa para tokoh ulama yang dinukil itu menolak takwil, namun apakah seluruh tokoh salaf sepakat menolaknya? Tentu saja tidak demikian sebab sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ada juga ulama salaf yang menakwil sifat khabariyah yang salah satunya justru Imam Malik itu sendiri. Dari sini menjadi jelas bahwa mereka tak sepenuhnya mengikuti Imam Malik.

Contoh lainnya adalah dalam pembahasan makna istiwa'. Pendapat "mazhab salaf" ini adalah dilarang menakwil dan wajib dimaknai secara literal (dhâhir). Untuk mendukung pendapatnya, maka biasanya mereka menukil pernyataan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya yang mengatakan:

ولم ينكر أحد من السلف الصالح أنه استوى على عرشه حقيقة , وانما جهلوا كيفية الاستواء
 
"Tak ada satu pun dari Salafus Shalih yang mengingkari bahwa Allah istiwa di atas arahnya secara hakikat. Mereka hanya tidak mengetahui tata cara istiwa’-nya saja.” (al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubi, juz VII, halaman 219).
 
Tetapi di waktu yang sama, mereka mengingkari sebuah kaidah dari Imam al-Qurthubi sendiri yang beliau pakai ketika membahas ayat-ayat yang menyebutkan istiwa' atau "di langit" seperti berikut:
 
يستحيل على الله أن يكون في السماء أو في الأرض، إذ لو كان في شيء لكان محصورا أو محدودا ، ولو كان ذلك لكان محدثا ، وهذا مذهب أهل الحق والتحقيق

"Mustahil atas Allah untuk berada [secara fisik] di langit atau di bumi karena apabila ia berada dalam sesuatu maka berarti ia dikepung atau terbatasi. Apabila itu terjadi berarti Allah itu bersifat baru (dan ini mustahil).  Ini adalah mazhab orang-orang yang benar dan ahli tahqiq." (al-Qurthubi, at-Tadzkâr fî Afdlal al-Adzkâr, 18).
 
Pendapat Imam al-Qurthubi yang menyatakan ulama salaf tidak mengingkari makna istiwa' secara hakikat diambil secara literal sebab dianggap sesuai dengan mazhab mereka, namun kaidah beliau yang menafikan adanya tempat bagi Allah ditolak mentah-mentah sebab berlawanan dengan mazhab mereka. Padahal seharusnya semua pernyataan itu dikompromikan menjadi satu kesatuan utuh bila memang berniat mengikuti Imam al-Qurthubi. Bila pernyataan beliau dikompromikan maka akan diketahui bahwa maksud beliau tak lain adalah Allah istiwa' di atas arasy secara hakikat yang hanya diketahui Allah, namun bukan dalam makna bertempat secara fisik di atas Arasy. Ini adalah ungkapan lain dari tafwîdh yang menjadi pilihan mayoritas ulama salaf yang riil. 

Dalam masalah fikih, ketika pengikut salaf dalam kategori kedua ini membahas qunut subuh, maka banyak di antara mereka yang mengatakan bahwa qunut subuh itu bid'ah. Sepertinya sama sekali tak ada peluang kebenaran bagi siapapun yang mengatakan bahwa qunut subuh itu sunnah sebab seluruh dalilnya menurut mereka lemah. Para ulama salaf seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i yang menyunnahkannya dianggap tergelincir dalam kesalahan dan pendapatnya harus dilempar ke tembok sebab dianggap menyelisihi sunnah sebagaimana yang mereka pahami. Pernyataan seperti ini bertebaran di internet. 
 
Dari sini terlihat jelas adanya inkonsistensi dalam klaim mengikuti salaf dalam arti kedua ini. Dalam makna ini, kata “salaf” tidak lagi konkrit sebab pendapat para tokoh salaf itu sendiri dipilih sebagian yang dianggap cocok dengan pemikirannya lalu sisanya dibuang, bahkan tanpa ragu dianggap menyimpang dari kebenaran (baca: menyelisihi sunnah). 
 
Bila memang konsisten dengan klaimnya untuk mengikuti ulama salaf dalam arti para Sahabat Rasul, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in, maka tentu seluruh perbedaan pendapat di kalangan mereka akan diakomodir dan tidak dipertentangkan secara diametral sebagai benar (baca: mengikuti sunnah) dan sesat (baca: menyelisihi sunnah) sebab pada realitanya semua perbedaan pendapat itu muncul dari ijtihad dalam memahami sunnah Rasulullah. Inkonsistensi ini seringkali menyebabkan adanya satu ulama dirujuk dalam satu kasus secara berlebihan sebagai representasi salaf yang sejati namun di kasus yang berbeda ulama yang dimaksud malah ditolak dan dianggap menyelisihi sunnah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember
 

Jumat 28 September 2018 15:15 WIB
Melawan Inkonsistensi Pemahaman tentang Sifat Ketinggian Allah
Melawan Inkonsistensi Pemahaman tentang Sifat Ketinggian Allah
Ilustrasi (almanarpress.net)
Dahulu kala di masa salaf (masa tiga abad pertama), ada kalangan Jahmiyah-Muktazilah yang mempropagandakan keyakinan bahwa Allah ada di mana-mana. Semua ayat atau hadits yang mengindikasikan bahwa Allah ada di atas langit/Arasy mereka takwil, sedangkan semua dalil yang mengindikasikan bahwa Allah ada bersama manusia di mana pun berada, mereka artikan secara harfiah.

Keyakinan semacam ini ditolak dengan keras oleh banyak tokoh dengan mengatakan sebaliknya. Golongan kedua ini memahami seluruh dalil yang mengindikasikan bahwa Allah ada di atas langit dan mewajibkan untuk menakwil seluruh dalil yang mengindikasikan bahwa Allah bersama manusia. Perang dalil dan pencarian legitimasi dari kedua kelompok yang sama-sama hidup di era salaf ini sangat sengit karena masing-masing kelompok punya dalil yang sama kuat dari Al-Qur’an dan hadits. 

Sebenarnya bila mau objektif, kedua kelompok di atas tidak konsisten berpegang teguh pada dalil Al-Qur’an dan Hadits semata. Mereka hanya mengikuti tafsiran mereka sendiri yang mewajibkan takwil pada satu jenis dalil dan mewajibkan pemahaman harfiah pada jenis dalil lainnya. Aturan semacam ini sama sekali tak berdasar dan tidak ilmiah. Syekh Ibnu Abdil Barr adalah salah satu ulama yang objektif dalam melihat fenomena perebutan klaim di masa salaf ini. Sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, beliau mengomentari sebuah hadits sahih yang berisi larangan bagi orang yang sedang shalat untuk meludah ke arah depan sebab disabdakan oleh Nabi bahwa Allah ada di depan orang shalat tersebut, sehingga hendaknya meludah ke bawah kakinya. Dalam komentarnya terhadap hadits yang secara literal mengatakan bahwa Allah ada di depan orang shalat ini, Ibnu Hajar menukil:

وَقَالَ بن عَبْدِ الْبَرِّ هُوَ كَلَامٌ خَرَجَ عَلَى التَّعْظِيمِ لِشَأْنِ الْقِبْلَةِ وَقَدْ نَزَعَ بِهِ بَعْضُ الْمُعْتَزِلَةِ الْقَائِلِينَ بِأَنَّ اللَّهَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَهُوَ جَهْلٌ وَاضِحٌ لِأَنَّ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ يَبْزُقُ تَحْتَ قَدَمِهِ وَفِيهِ نَقْضُ مَا أَصَّلُوهُ وَفِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ بِذَاتِهِ وَمهما تُؤُوِّلَ بِهِ هَذَا جَازَ أَنْ يُتَأَوَّلَ بِهِ ذَاكَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"Ibnu Abdil Barr berkata: Hadits itu adalah pernyataan yang keluar sebagai penghormatan bagi kiblat. Sebagian Muktazilah yang meyakini bahwa Allah berada di mana-mana menolak hadits itu, dan itu adalah kebodohan yang nyata karena di hadits itu disebutkan bahwa ia harus meludah ke arah bawah kakinya. Di dalam hal ini ada penolakan terhadap kaidah mereka sendiri (sebab bawah kaki juga masuk dalam kategori di mana-mana). Dalam hadits itu juga ada penolakan terhadap orang yang menyangka bahwa Dzat Allah berada di atas Arasy (bertempat secara fisik di atas Arasy). Kalau hadits ini boleh ditakwil dengan dalil yang berbicara tentang posisi Allah di atas Arasy, maka hadits tentang posisi Allah di atas Arasy juga boleh ditakwil dengan hadits ini. Wallahu a'lam." (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, juz I, halaman 508).

Syekh Ibnu Abdil Barr, pengarang kitab at-Tamhîd, dan juga Imam Ibnu Hajar yang menukilnya tersebut sangat jeli melihat inkonsistensi para Jahmiyah-Muktazilah di satu sisi dan para tokoh yang berseberangan secara diametral dengan mereka di sisi lain. Bila dalil yang mengatakan Allah ada di atas lantas dipahami bahwa Dzat Allah bertempat di atas langit sedangkan seluruh dalil yang menyatakan Allah di bumi ditakwil agar sesuai dengan itu, maka hal sebaliknya juga boleh dilakukan. Dengan logika ini, maka kedua belah pihak sama-sama terlihat kelemahannya.

Inkonsistensi inilah yang dimanfaatkan oleh Syekh Ahmad al-Ghummari, seorang pakar hadits kontemporer, untuk membungkam tiga orang tokoh pendaku Salafi yang berdialog dengannya. Dalam kitab autobiografinya diceritakan bahwa beliau berkata pada ketiga orang tersebut:

فما الذي جعل ذلك القرآن أولى بالإعتقاد من هذا القرآن وكله من عند الله؟ قالوا إن الإمام أحمد قال ذلك. قلت وما لكم ولإحمد فهل أنتم تعملون بالدليل أو بقول أحمد؟ فسكتوا ولم ينطقوا بكلمة.

“Apa yang membuatmu menjadikan ayat Al-Qur’an yang ini (tentang Allah berada di atas) lebih utama dari ayat Al-Qur’an yang ini (tentang Allah berada di bawah) sedangkan semuanya berasal dari Allah?. Mereka berkata: Sesungguhnya Imam Ahmad mengatakan demikian. Aku berkata: Kenapa kalian mengikuti Imam Ahmad, apakah kalian memakai dalil atau memakai perkataan Imam Ahmad? Mereka dia dan tak berbicara sepatah kata pun.” (Ahmad bin Shiddiq al-Ghummari, Ju’nat al-‘Atthâr, juz 1, halaman 36-37).

Sebenarnya, Imam Ahmad dan banyak imam lainnya di kalangan salaf tidak bermaksud mengatakan bahwa Allah bertempat secara fisik di atas langit sebagaimana sering disalahpami para pendaku Salafi. Para Imam yang menjadi rujukan umat itu hanya ingin menegaskan sifat ‘uluw atau ketinggian Allah, tapi  bukan dalam makna ketinggian secara koordinat sebagaimana ketinggian satu jism atas jism lainnya.

Hal ini sudah penulis bahas berulangkali di bagian lain di kolom Tauhid NU Online ini sehingga tak perlu diulangi. Pendapat resmi mayoritas ulama salaf yang muktabar adalah seluruh ayat dan hadits tentang sifat Allah cukup dibaca ulang (imrâr) seperti redaksi asalnya dari Allah dan Rasulullah tanpa dibahas makna spesifik apa yang dimaksud. Ini adalah metode yang paling aman dan hati-hati. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember

Kamis 27 September 2018 15:0 WIB
Ulama Salaf Pantang Mengafirkan Muslim Lain
Ulama Salaf Pantang Mengafirkan Muslim Lain
Di antara musibah besar yang menimpa umat Islam adalah adanya orang-orang yang mudah mengafirkan Muslim lainnya. Hal ini membuat perpecahan serius di tubuh umat ini, apalagi bila ada yang mengarah pada penghalalan darah sesama Muslim. Alasan pengafiran ini beragam, namun  lumrahnya karena ketidaksepakatan dalam menyikapi suatu hal yang berhubungan dengan aqidah. Namun ada juga pihak yang begitu mudahnya menjatuhkan vonis kafir sebab perbedaan pandangan di tataran fiqih semata, ini adalah ekstremisme yang sangat berbahaya.

Tengok saja misalnya pola dakwah Muhammad bin Abdil Wahhab, penggagas paham Wahabiyah yang mengilhami beberapa kelompok “puritan” di era selanjutnya. Ia tak segan-segan mengafirkan orang yang berbeda pendapat dengannya sebab ia merasa sudah mempunyai dalil Al-Qur’an dan hadits sehingga dirinya merasa bahwa menyelisihinya berarti sama saja dengan menyelisihi Al-Qur’an dan hadits. Ketika membahas tentang orang-orang yang bertawassul dengan para Nabi dan orang salih yang telah meninggal di kubur mereka, ia mengatakan:

كلهم كفار مرتدون عن الإسلام؛ ومن جادل عنهم، أو أنكر على من كفرهم، أو زعم أن فعلهم هذا، لو كان باطلا فلا يخرجهم إلى الكفر، فأقل أحوال هذا المجادل، أنه فاسق لا يقبل خطه ولا شهادته، ولا يصلى خلفه. بل لا يصح دين الإسلام، إلا بالبراءة من هؤلاء وتكفيرهم

“Mereka semua kafir, murtad dari Islam. Siapa yang berdebat membela mereka atau mengingkari kekafiran mereka atau menyangka bahwa tindakan mereka ini meskipun batil tetapi tidak berakibat kekafiran, maka derajat minimal bagi pembela ini adalah ia fasiq, tidak diterima pernyataan dan persaksiannya, tidak boleh salat menjadi makmumnya. Bahkan tidak sah agama Islam kecuali dengan berlepas diri dari orang-orang itu dan mengafirkan mereka.” (Abdurrahman al-‘Ashimi, ed, al-Durar al-Saniyyah fi al-Ajwibah al-Najdiyah, juz X, halaman 53)

Dengan pola pikir sedemikian, ia telah menjadi seorang penganut monisme sejati yang memonopoli kebenaran dan merasa bahwa hanya penafsirannya terhadap Al-Qur’an dan hadits yang benar. Padahal sebenarnya tawassul hanyalah soal ragam redaksi dalam berdoa semata, intinya tetap saja para pelaku tawassul hanya berdoa kepada Allah saja tanpa bermaksud menyekutukan-Nya dengan apa pun.

Bandingkan dengan pernyataan Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Syekh Ibnu Taymiyah yang juga didukung sepenuhnya oleh Adz-Dhahabi, periwayatnya, berikut ini:

رَأَيْتُ لِلأَشعرِيّ كلمَة أَعجبتَنِي وَهِيَ ثَابِتَة رَوَاهَا البَيْهَقِيّ، سَمِعْتُ أَبَا حَازِم العَبْدَوِيَّ، سَمِعْتُ زَاهِر بن أَحْمَدَ السَّرَخْسِيّ يَقُوْلُ: لَمَّا قَرُبَ حُضُوْرُ أَجل أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِيِّ فِي دَارِي بِبَغْدَادَ، دعَانِي فَأَتَيْتُه، فَقَالَ: اشهدْ عليَّ أَنِّي لاَ أَكفِّر أَحَداً مِنْ أَهْلِ القِبْلَة، لأَنَّ الكلَّ يُشيَرَوْنَ إِلَى معبودٍ وَاحِد، وَإِنَّمَا هَذَا كُلُّه اخْتِلاَف العِبَارَات. قُلْتُ: وَبنحو هَذَا أَدين، وَكَذَا كَانَ شَيْخُنَا ابْنُ تيمِيَّة فِي أَوَاخِرِ أَيَّامه يَقُوْلُ: أَنَا لاَ أَكفر أَحَداً مِنَ الأُمَّة، وَيَقُوْلُ: قَالَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لاَ يُحَافِظُ عَلى الْوضُوء إِلاَّ مُؤْمِنٌ فَمَنْ لاَزَمَ الصَّلَوَاتِ بوضوءٍ فَهُوَ مُسْلِم.

“Saya melihat satu kalimat dari al-Asy’ari yang membuat saya kagum, yaitu kalimat yang valid diriwayatkan oleh al-Baihaqi: Aku mendengar dari Abu Hazim al-Abdawi, Aku mendengar Zahir bin Ahmad as-Sarakhsi berkata: Ketika sudah dekat datangnya ajal Abu Hasan al-Asy’ari di rumahku di Baghdad, dia memanggilku lalu berkata: “Saksikanlah aku bahwa aku tak mengafirkan seorang pun dari Ahli Kiblat sebab sesungguhnya semua merujuk pada satu sesembahan yang sama. Yang berbeda hanyalah ungkapan semata.” Aku (adz-Dzahabi) berpendapat bahwa dengan yang semacam inilah aku beragama. Demikian juga guru kami, Ibnu Taymiyah di akhir-akhir hayatnya berkata: “Aku tak mengafirkan seorang pun dari umat ini”. Dia berkata: “Nabi Muhammad ﷺ bersabda: Tidaklah menjaga wudhu kecuali seorang mukmin, maka barangsiapa yang selalu shalat disertai wudhu, maka dia adalah orang Islam.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, juz XV, halaman 88).

Demikianlah pernyataan terakhir dari Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Syekh Ibnu Taymiyah. Meskipun keduanya sering dikesankan berseberangan, namun di akhir hayatnya keduanya sepakat untuk berpantang dari menjatuhkan vonis kafir secara gegabah terhadap muslim lain. Perbedaan di antara kaum muslimin umumnya hanya semata perbedaan redaksi untuk menyembah Allah Yang Maha Esa. Itulah teologi damai yang diyakini mayoritas umat ini (Aswaja). Teologi damai inilah yang harus selalu dipromosikan serta dilestarikan dari waktu ke waktu. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.