IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Zikir dan Doa Berjamaah setelah Shalat Lima Waktu

Ahad 30 September 2018 1:15 WIB
Share:
Hukum Zikir dan Doa Berjamaah setelah Shalat Lima Waktu
(Foto: boston.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, kami terbiasa berzikir dan berdoa bersama setiap kali shalat lima waktu berjamaah di kampung. Hanya saja zikir setelah shalat maghrib dan subuh lebih panjang daripada zikir shalat lainnya. Tetapi di sejumlah perkantoran, kami mendadak salah ketika dipersoalkan oleh sebagian orang saat kami mengamalkannya. Mohon penjelasan. (Rudi/Surabaya)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Doa dan juga zikir sangat dianjurkan kapan dan di mana saja, terlebih lagi setelah shalat lima waktu. Zikir dan doa setelah shalat lima waktu lebih dekat pada ijabah atau pengabulan sebagaimana hadits riwayat At-Tirmidzi berikut ini.

وسئل النبي صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع أي أقرب إلى الإجابة قال جوف الليل ودبر الصلوات المكتوبات رواه الترمذي

Artinya, “Rasulullah SAW ketika ditanya perihal doa yang paling didengar, yaitu doa yang paling dekat dengan ijabah menjawab, ‘(doa) Di tengah malam dan setelah shalat lima waktu,’ HR At-Tirmidzi,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 65).

Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa doa dan zikir setelah shalat lima waktu sebaiknya tidak ditinggalkan karena itu merupakan salah satu waktu ijabah.

Adapun doa dan zikir berjamaah memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah SAW menyebut kehadiran malaikat, kedatangan rahmat, munculnya ketenteraman, dan pujian Allah SWT. Keutamaan ini dikemukakan dalam hadits riwayat Imam Muslim berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم

Artinya, “Dari Abi Hurairah RA dan Abi Said Al-Khudri RA bahwa keduanya telah menyaksikan Nabi SAW bersabda, ‘Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat menyelimuti mereka, dan ketenangan turun di hati mereka, dan Allah menyebut (memuji) mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya,” (HR Muslim).

Zikir dan doa berjamaah dapat dilakukan oleh imam shalat yang kemudian diikuti oleh makmum. Tetapi zikir dan doa berjamaah ini dapat juga dipimpin oleh salah seorang makmum yang kemudian diikuti oleh imam shalat dan makmum lainnya.

Zikir dan doa di waktu malam atau setelah shalat wajib lima waktu dibaca dengan suara perlahan (sirr) jika dilakukan sendiri. Tetapi zikir dan doa dibaca dengan suara lantang (jahar) jika dilakukan secara berjamaah sekadar terdengar oleh mereka sebagaimana keterangan Syekh M Nawawi Banten berikut ini.

ويكون كل منهما سرا لكن يجهر بهما إمام يريد تعليم مأمومين  فإن تعلموا  أسر قال ذلك شيخ الإسلام في فتح الوهاب

Artinya, “Doa dibaca perlahan (sirr) pada keduanya (tengah malam atau setelah shalat wajib), tetapi dibaca lantang (jahar) oleh imam yang ingin ‘mengajarkan’ para makmum. Kalau mereka ‘mempelajarinya’, maka doa dibaca perlahan (sirr). Demikian pandangan Syekhul Islam Abu Zakaria Al-Anshori dalam Fathul Wahhab,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 65).

Kami menyarankan zikir dan doa berjamaah dibaca lantang sekadar terdengar oleh jamaah. Jangan sampai zikir dan doa dibaca terlalu lantang sehingga mengganggu konsentrasi orang yang sedang shalat di dalam area tersebut.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Ahad 30 September 2018 8:20 WIB
Hukum Menyiram Air Kembang setelah Pemakaman
Hukum Menyiram Air Kembang setelah Pemakaman
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, kita sering menyediakan sejumlah botoh berisi air kembang (biasanya air mawar) yang disiram di atas kubur setelah pemakaman jenazah. Sebagian orang menyangkal karena praktik ini tidak memiliki dasar dalam agama. Mohon keterangan lebih lanjut. (Abdul Jamil/Jakarta Utara)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Praktik ini bukan tidak berdasar. Praktik menyiram makam dengan air ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika memakamkan anaknya, Ibrahim. Dari sini kemudian ulama menganjurkan masyarakat untuk menyiramkan air di atas kubur seusai pemakaman jenazah.

Yang menjadi soal penolakan praktik ini sesungguhnya bukan pada praktik penyiramannya, tetapi air apa yang digunakan. Kalau yang digunakan air mawar di mana perolehannya tidak bisa didapat begitu saja, tetapi ada biaya yang harus dikeluarkan, maka ini yang menjadi problem.

Karena melihat unsur biaya pada air mawar itu itu yang terbilang mubazir, maka ulama menyatakan kemakruhan atas penggunaan air mawar untuk penyiraman makam.

ويندب أن يرش القبر بماء لانه (ص) فعله بقبر ولده إبراهيم والاولى أن يكون طهورا باردا، وخرج بالماء ماء الورد فالرش به مكروه لانه إضاعة مال

Artinya, “(Kita) Dianjurkan menyiram kubur dengan air karena Rasulullah SAW melakukannya terhadap makam anaknya, Ibrahim. Yang utama, air itu suci dan sejuk. Di luar kategori air adalah air mawar. Menyiram makam dengan air mawar terbilang makruh karena menghambur-hamburkan harta,” (Lihat As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Tuhfatul Habib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 567-570).

Pada dasarnya, air murni sudah memadai untuk digunakan sebagai penyiram makam. Orang yang menyiram makam dengan air murni sudah terbilang mengamalkan sunnah Rasulullah SAW perihal ini.

Adapun penggunaan air mawar dengan membeli beberapa botol atau dituang langsung ke baskom dengan niat menghadirkan malaikat rahmat ke kubur jenazah yang baru saja dimakamkan, tidak menjadi masalah sebagaimana pandangan As-Subki berikut ini.

وقال السبكي: لا بأس باليسير منه إن قصد به حضور الملائكة فإنها تحب الرائحة الطيبة انتهى. ولعل هذا هو المانع من حرمة إضاعة المال

Artinya, “Imam As-Subki mengatakan, tidak masalah kalau menyiram sedikit air mawar dengan harapan mendatangkan malaikat (rahmat) karena mereka menyukai aroma harum. Dan bisa jadi faktor yang mengharamkan menyiram makam dengan air mawar itu adalah unsur penghamburan harta,” (Lihat As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Tuhfatul Habib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 570).

Argumentasi yang dibangun As-Subki tidak terletak pada air murni atau air mawar. Tetapi ia menyorot seberapa banyak air mawar yang digunakan. As-Subki setuju dengan konsep penghambur-hamburan harta atau mubazir dengan penggunaan air mawar.

Menurutnya, kalau air mawar yang digunakan terlalu banyak, tentu saja praktik ini terbilang makruh. Tetapi kalau hanya sedikit, maka sedikitnya itu terbilang jamak atau lazim yang tidak mencapai kadar makruh yang menghambur-hamburkan harta sebagaimana keterangan Sulaiman Al-Bujairimi berikut ini.

وقال السبكي لا بأس بيسير منه الخ) حاصله أنه إن قصد به حضور ملائكة الرحمة فلا كراهة مطلقاً. بل يستحب وإن لم يقصد ؛ فإن كان يسيراً كان مباحاً وإن كان كثيراً كره تنزيهاً م د

Artinya, “(Imam As-Subki mengatakan, tidak masalah kalau menyiram sedikit air mawar…), simpulannya, kalau penyiraman air mawar dimaksudkan untuk menghadirkan malaikat rahmat, maka tidak makruh secara mutlak, bahkan dianjurkan sekali pun tidak diniatkan untuk itu. Jika air mawar yang digunakan untuk menyiram makam itu sedikit, maka hukumnya mubah. Tetapi jika banyak, maka hal itu menjadi makruh tanzih (menyalahi yang utama),” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 570).

Penyiraman air mawar ala kadarnya di atas kubur ini juga dapat dilakukan ketika jenazah telah lama dimakamkan dengan niat mendatangkan malaikat rahmat yang diharapkan dapat menyenangkan ahli kubur.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Sabtu 29 September 2018 14:0 WIB
Hukum Membunuh Tikus dengan Siraman Air Panas
Hukum Membunuh Tikus dengan Siraman Air Panas
(Foto: ijubav.info)
Assalamu alaikum. Wr. Wb.
Redaksi Bahstul Masail NU Online. Izin bertanya. Di rumah saya sering banyak tikus. Ibu saya sering masang perangkap tikus. Kemudian bila tikus sudah ditangkap, ibu saya menyiramnya pakai air panas, padahal setahu saya membunuh hewan dengan api adalah haram. Lantas bagaimana cara ibu saya membunuh tikus? Terima kasih. (Hamba Allah).

Jawaban
Wa’alaikum salam wr.wb.
Saudara penanya, semoga diberikan pemahaman dan amaliah agama yang baik. Islam telah menggariskan pedoman tentang berbuat ihsan, yaitu berbuat baik kepada makhluk: manusia, hewan dan lingkungan. Berbuat baik ini tidak hanya dalam hal memperlakukan saat hidupnya tetapi mencakup pula cara kita memperlakukan saat matinya, termasuk pula dalam hal membunuh hewan. 

Sementara ada beberapa jenis hewan dalam kelompok al-fawâsiq al-khams (lima kelompok hewan yang dipandang berbuat keji), dianjurkan dibunuh karena aspek perbuatan buruk dan kejinya, membahayakan atau mengganggu manusia, misalnya ular dan tikus. Termasuk dalam kategori ini, nyamuk dan kutu di kepala.

Praktik pembasmian tikus, misalnya, harus dilakukan dengan cara yang terbaik, yaitu dengan cara yang tidak menyiksa, yakni dengan cara yang bisa lebih mempercepat matinya, tetapi yang paling sedikit aspek menyakitinya. Membunuh hewan dengan membakarnya atau menyiramnya dengan air panas adalah bentuk yang tidak baik, karena ada aspek penyiksaan sehingga harus dihindari sedapat mungkin. 

Ketentuan ini berdasarkan hadits dan penjelasannya: 

عَنْ رَسُوْلِ اللهِﷺ قَالَ: إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ(رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya, “Dari Rasulullah SAW, ia bersabda, ‘Sungguh Allah mewajibkan berbuat ihsan (berbuat baik) kepada apa pun. Maka jika kalian membunuh, maka lakukan dengan cara yang baik. Bila kalian menyembelih binatang, maka lakukan dengan cara yang baik. Hendaknya seorang dari kalian menajamkan alat sembelihnya sehingga bisa meringankan sembelihannya,” (HR Muslim).

Syekh Ali bin Shulthan Muhammad al-Qâri (w 1014) dalam menjelaskan hadits di atas mengatakan:

وَالْمُرَادُ مِنْهُ الْعُمُوْمُ الشَّامِلُ لِلْإِنْسَانِ وَالْحَيَوَانِ حَيًّا وَمَيِّتًا ، وَفِيْهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم رَحْمَةٌ لِلْعَالَمِيْنَ وَأَنَّهُ بُعِثَ لِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَنَّ لِأُمَّتِهِ نَصِيْبًا وَحَظًّا مِنْ هَذَا الْوَصْفِ بِمُتَابَعَتِهِ.وَالْإِحْسَانُ فِيْهَا : اِخْتِيَارُ أَسْهُلِ الطُّرُقِ وَأَقَلِّهَا إِيْلَامًا (مُرَاقَاةُ الْمَفَاتِيْحِ شَرْحُ مِشْكَاتِ الْمَصَابِيْحِ، لِشَيْخِ عَلِيِّ بْنِ سُلْطَانٍ مُحَمَّدٌ اَلْقَارِي

Artinya, “Maksud dari hadits agar berbuat baik tersebut adalah bersifat umum mencakup manusia dan hewan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Hadits ini memberikan isyarat bahwa Nabi SAW adalah pembawa rahmah bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin), beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak, dan bagi umatnya ada bagian dari sifat ini, yaitu mengikuti beliau... Berbuat ihsan: memilih cara yang paling mudah dan paling sedikit atau paling ringan menimbulkan rasa sakit,” (Lihat Syekh ‘Ali bin Shulthân Muhammad Al-Qârî, Murâqâtul Mafâtîh Syarhu Misykâtil Mashâbîh, [Beirut, Dârul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 2001], juz VIII, halaman 14).

Betul ada larangan membunuh hewan dengan api karena masuk dalam cakupan makna hadits:

وَإِنَّ النَّارَ لَا يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللهُ

Artinya, “Sungguh api tidak boleh dipakai untuk menyiksa kecuali oleh Allah,” (HR Al-Bukhari).

Ibnu Hajar Al-‘Asqalânî menjelaskan hadits ini:

وَفِيْهِ كَرَاهَةُ قَتْلِ مِثْلِ الْبُرْغُوْثِ بِالنَّارِ .

Artinya, “Dalam hadits ini terdapat hukum makruh membunuh hewan sejenis nyamuk dengan memakai api, (Lihat Ibnu Hajar Al-‘Asqalânî, Fathul Bârî bi Syarhi Shahîhil Bukhârî, [Riyadh, Dârut Thaibah: 2005], juz VII, halaman 269-271).

Untuk itu, seyogianya membunuh tikus tersebut sebisa mungkin dengan cara yang lebih cepat mematikannya, tetapi tidak menyiksanya. Misalnya dengan alat setrum dan alat yang cepat mematikannya.

Sungguh pun demikian, alat dan cara membunuhnya tidak baku, tetapi sifatnya kondisional, disesuaikan dengan lingkungan yang bersangkutan.

Demikian penjelasan ini, semoga dapat dipahami dengan baik. Kami terbuka menerima masukan dari pembaca yang budiman.

Wallâhul muwaffiq iIâ aqwamith tharîq
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Ahmad Ali MD)
Selasa 18 September 2018 5:0 WIB
Hukum Menjaga Penampilan di Muka Umum
Hukum Menjaga Penampilan di Muka Umum
(Foto: oulamadz.org)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, saya ingin bertanya. Belakangan ini ramai beredar di muka umum orang menyampaikan materi agama dengan penampilan ustadz dan tetapi tampak meragukan dari materi yang disampaikannya. Pertanyaannya kemudian, seharusnya penampilan orang yang menyampaikan materi agama seperti apa? Dan pengetahuan apa yang seharusnya diketahui? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Cahyawulan/Tangerang Selatan)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Di sini terdapat dua pertanyaan. Pertama, soal penampilan. Seorang yang menyeru kebaikan sebaiknya menjaga penampilan dan tampil rapi di depan umum karena Allah sendiri menyukai kerapian yang menjadi awal keindahan sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini.

إن الله جميل يحب الجمال

Artinya, “Allah itu indah. Dia mencintai keindahan.”

Tampil dengan pakaian rapi bukan lagi dairtikan sebagai kesombongan. Tampil rapi di zaman sekarang ini menjadi sebuah keharusan, terutama mereka yang harusnya memiliki charisma seperti istri terhadap suaminya dan sebaliknya, ulama, pemerintah, atasan-bawahan, dan lain sebagainya sebagaimana keterangan berikut ini.

فالتجمل بالملابس ونحوها ليس كبرا في الصلوات والجماعات وفي حق المرأة لزوجها وفي حق العلماء لتعظيم العلم في نفوس الناس ويكون واجبا في ولاة الأمور وغيرهم إذا توقف عليه تنفيذ الواجب

Artinya, “Tampil bagus dengan pakaian dan seterusnya bukan kesombongan, dalam shalat, dalam berjamaah, bagi perempuan terhadap suaminya, ulama terhadap umatnya demi menjaga wibawa ilmu di hati umat, dan menjadi wajib bagi penguasa dan yang lainnya bila eksekusi yang wajib itu bergantung pada dirinya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 123).

Penyeru agama dan siapa pun yang harusnya memiliki kharisma harus mengubah paradigm lama soal penampilan. Mereka tidak lagi bisa berpenampilan “sangat sederhana” seperti zaman salafus saleh terdahulu karena kecenderungan masyarakat dahulu dan masyarakat sekarang sama sekali berbeda sebagaimana keterangan Al-Baijuri berikut ini.

فإن الهيئة المزرية لا تصلح معها مصالح العامة في العصر المتأخرة لما طبعت عليه النفوس الآن من التعظيم بالصور عكس ما كان عليه السلف الصالح من التعظيم بالدين والتقوى

Artinya, “Karena sungguh keadaan yang berantakan tidak layak bagi kemaslahatan umum di zaman mutakhir ini karena tabiat manusia sekarang cenderung mengagungkan penampilan, berbeda dengan salafus saleh yang memuliakan agama dan ketakwaan (substansi),” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 123).

Dari sini dapat dipahami bahwa cara berpikir zaman dahulu perihal penampilan tidak bisa dipaksakan untuk situasi saat ini karena kecenderungan dan semangat zaman masyarakatnya berbeda. Zaman sekarang lebih memerhatikan bentuk, meski tidak sepenuhnya. Sementara zaman dulu atau salafus saleh lebih mementingkan substansi. Hal yang sama juga berlaku untuk profesi lainnya, seperti dokter, resepsionis, teller bank, dan lain sebagainya.

Sedangkan soal kedua, pengatahuan dasar yang perlu dimiliki penyeru agama itu adalah pendidikan dasar di madrasah dan pesantren seperti pengetahuan perihal tata bahasa Arab (nahwu), asbabun nuzul, asbabul wurud, fiqih dasar.

Adapun perihal fatwa, para dai sebaiknya menghindarinya karena proses produksi fatwa memerlukan syarat-syarat yang lebih banyak dan penguasaan pelbagai lintas disiplin pengetahuan sebagai diatur dalam adab fatwa, adab mufti, dan adab mustafti.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)