IMG-LOGO
Trending Now:
Shalawat/Wirid

Ini Keutamaan Shalawat Nabi lewat Sebuah Tulisan atau Lukisan Kaligrafi

Ahad 30 September 2018 4:15 WIB
Share:
Ini Keutamaan Shalawat Nabi lewat Sebuah Tulisan atau Lukisan Kaligrafi
(Foto: picssr.com)
Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW dapat dilakukan dengan pelbagai media. Sebagian orang melisankannya melalui pengeras suara sebelum atau setelah azan. Sebagian orang melisankannya di tengah aktivitas harian atau menemani anak usia balita tanpa pengeras suara.

Ada juga santri yang menulis lafal shalawat dan salam pada kulit kitab, dinding, sehelai kertas, atau buku tulis. Sebagian santri dan murid madrasah menggoreskan shalawat dan salam di atas kanvas dengan pesta warna dan dekorasi yang meriah saat belajar kaligrafi.

Salah satu mediumnya selain kertas dan cat air atau pulpen tinta adalah kanvas dengan cat minyak. Di sana mereka menulis ayat Al-Qur’an dan lafal shalawat serta mewarnai latarnya dengan dekor sesuai kehendak mereka.

Syekh M Nawawi Banten mengutip sebuah hadits ketika menjelaskan keutamaan shalawat nabi melalui medium tulisan. Dalam hadits itu dikatakan bahwa malaikat mendoakan orang yang menulis shalawat selama tulisan itu masih tampak sebagai tulisan.

وبقوله صلى الله عليه وسلم من صلى علي في كتاب لم تزل الملائكة تصلى عليه ما دام اسمي في ذلك الكتاب

Artinya, “… karena sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa yang bershalawat kepadaku pada sebuah buku, maka malaikat senantiasa berdoa untuknya selama namaku masih tercatat di buku tersebut,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Syekh M Nawawi Banten juga mengutip pandangan Syekh Abdul Mu’thi As-Samlawi dalam memahami hadits ini.

قال عبد المعطى السملاوي في منعى هذا الحديث أي من كتب الصلاة وصلى أو قرأ الصلاة المرسومة في تأليف حافل أو رسالة لم تزل الملائكة تدعو له بالبركة أو تستغفر له

Artinya, “Syekh Abdul Mu’thi As-Samlawi mengatakan perihal makna hadits tersebut, yaitu ‘Siapa saja yang mencatat shalawat, bershalawat, atau membaca shalawat yang tercatat pada karya yang tersusun atau pada sebuah surat, niscaya malaikat senantiasa mendoakan keberkahan dan memohonkan ampunan kepada Allah baginya,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Dengan keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa cara shalawat dan salam tidak melulu dilisankan. Shalawat dan salam dapat dituangkan dalam pelbagai medium, yaitu dituliskan atau dilisankan melalui sebuah tulisan seperti orang membaca Barzanji dan qashidah lainnya, atau dilisankan begitu saja tanpa teks.

Dengan maksud memuliakan Rasulullah SAW, kita dapat menuangkan shalawat dan salam nabi dalam pelbagai bentuk pengungkapan, lisan dan tulisan, termasuk goresan kaligrafi di atas kanvas. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Ahad 30 September 2018 5:0 WIB
Ini Lafal Shalawat dan Salam untuk Nabi dan Rasul
Ini Lafal Shalawat dan Salam untuk Nabi dan Rasul
Ulama mengajarkan kita untuk beradab kepada para nabi dan rasul. Untuk itu, mereka mengingatkan kita agar tidak sembarangan menggunakan lafal doa untuk para nabi dan rasul. Mereka membatasi shalawat dan salam sebagai lafal doa yang layak bagi para nabi dan rasul sebagai bentuk adab atau penghormatan untuk mereka.

Kita dapat menggunakan lafal shalawat dan salam dengan fi’il madhi atau fi’il amr. Dengan fi’il madhi, kita dapat membaca shalawat dan salam sebagai berikut:

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama

Dengan fi’il amr, kita dapat membaca shalawat dan salam sebagai berikut:

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ

Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī

Struktur ini memang tidak baku. Sebagian orang membaca shalawat, salam, dan juga lafal berkah. Sebagian orang tidak menggunakannya. Ada orang yang menempatkan kata salam di awal. Sementara sebagian orang meletakannya di akhir.

Lafal shalawat dan salam memang kemudian banyak diperkenalkan oleh para ulama. Tetapi yang jelas dalam berdoa, kita hanya boleh menggunakan shalawat dan salam dalam hal dua’iyyah bagi para nabi dan rasul. Kita tidak boleh menggunakan “rahimahullāh atau rahimahumullāh”, “radhiyallāh ‘anhu atau ‘anhum”, atau “karramallāhu wajhahū atau ‘anhum.” 

ولا يجوز الدعاء للنبي صلى الله عليه وسلم بغير الوارد كرحمه الله بل المناسب واللائق في حق الأنبياء الدعاء بالصلاة والسلام 

Artinya, “Tidak boleh mendoakan Nabi Muhammad SAW dengan lafal yang tidak warid seperti lafal ‘Rahimahullāhu’. Tetapi lafal yang sesuai dan layak untuk para nabi dan rasul adalah lafal shalawat dan salam,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Adapun warid adalah lafal atau wirid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Selasa 25 September 2018 9:30 WIB
Apa Makna Allah dan Malaikat Bershalawat kepada Nabi?
Apa Makna Allah dan Malaikat Bershalawat kepada Nabi?
Ilustrasi (Twitter)
Salah satu ibadah yang sangat sering dianjurkan oleh para guru untuk dilakukan oleh para muridnya adalah memperbanyak bacaan shalawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Ini perlu mengingat banyaknya keistimewaan shalawat yang tidak dimiliki oleh amalan-amalan selainnya.


Secara bahasa as-shalawât ( الصلوات ) merupakan bentuk jamak dari kata as-shalât ( الصلاة ) yang berarti berdoa. Karenanya maka bershalawat kepada Rasulullah berarti mendoakan kebaikan bagi beliau. Ini secara bahasa.

Namun demikian apakah perintah untuk bershalawat kepada Nabi memang ditujukan dan dimaksudkan agar umat ini mendoakan beliau? Ada banyak penjelasan ulama tentang hal ini.

Allah subhânahû wa ta’âlâ di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56 berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sungguh-sungguh.” 

Setidaknya ada dua poin besar yang bisa dipahami dari ayat di atas, yakni:

Pertama, Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Kedua, adanya perintah bagi orang-orang mukmin untuk bershalawat dan bersalam kepada beliau.

Dari kedua poin besar itu kemudian lahir beberapa pertanyaan di antaranya:

Apa makna shalawat yang berasal dari Allah, para malaikat dan orang-orang mukmin? Bila shalawat memiliki makna dasar berdoa sebagaimana dijelaskan di atas, maka apa maksud Allah bershalawat kepada Nabi, apakah Allah mendoakan beliau? Bila iya, lalu Allah berdoa kepada siapa?

Bila Allah telah bershalawat kepada Nabi, lalu apa faedah shalawatnya para malaikat dan faedahnya orang-orang mukmin juga diperintah untuk bershalawat? Tidakkah shalawat-Nya Allah sudah lebih dari cukup sehingga tak dibutuhkan lagi dari selain-Nya?

Imam Al-Qurtubi di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa shalawatnya Allah kepada Nabi Muhammad berarti rahmat dan keridloan-Nya kepada beliau. Sedangkan shalawatnya para malaikat berarti doa dan permohonan ampun (istighfar) mereka bagi Rasulullah. Adapun shalawatnya umat beliau merupakan doa dan pengagungan terhadap kedudukan Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam (Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, Kairo, Darul Hadis, 2010, jil. VII, hal. 523). Makna-makna ini tidak saja disampaikan oleh Al-Qurthubi tapi juga oleh para mufassir di dalam berbagai kitab mereka.

Dari sini bisa dipahami bahwa shalawat yang disampaikan oleh Allah, para malaikat, dan orang-orang mukmin memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Shalawatnya Allah kepada Nabi jelas tidak mungkin diartikan sebagai doa bagi beliau. Karena mendoakan kebaikan bagi seseorang berarti memohonkan suatu kemanfaatan bagi orang tersebut dari pihak ketiga. Bila shalawatnya Allah dimaknai demikian maka kepada siapakah Allah memintakan kebaikan bagi Nabi-Nya? Jelas ini mustahil.

Selanjutnya ada kesamaan makna antara shalawat yang disampaikan oleh para malaikat dan shalawat yang dibacakan oleh orang-orang mukmin, yakni sama-sama bermakna doa atau permohonan kebaikan bagi beliau. Dengan bershalawat para malaikat dan orang-orang mukmin memohon kepada Allah untuk selalu mencurahkan rahmat dan pengagugan-Nya kepada Baginda Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Hanya saja perlu digaris bawahi pula bahwa yang demikian itu bukan berarti Rasulullah membutuhkan doanya para malaikat dan umat untuk kebaikan diri beliau. Bila Rasulullah butuh terhadap doanya malaikat dan umatnya yang berupa shalawat maka kiranya shalawat Allah kepada beliau sudah lebih dari cukup, tak ada kebutuhan doa shalawat dari selain-Nya.

Berbeda-bedanya makna shalawat yang dilakukan oleh Allah dan para malaikat serta orang-orang mukmin semuanya sejatinya dimaksudkan untuk satu hal, yakni memperlihatkan pengagungan kepada beliau dan menghormati kedudukan beliau yang luhur sebagaimana mestinya. Hal ini sama dengan ketika Allah memerintahkan kita untuk selalu mengingat-Nya, bukan berarti Allah butuh diingat oleh hamba-Nya namun karena untuk menunjukkan kebesaran dan kedudukan-Nya.

Dalam hal ini Imam Fakhrudin Ar-Razi di dalam kitab tafsir Mafâtîhul Ghaib menjelaskan:

الصَّلَاةُ عَلَيْهِ لَيْسَ لِحَاجَتِهِ إِلَيْهَا وَإِلَّا فَلَا حَاجَةَ إِلَى صَلَاةِ الْمَلَائِكَةِ مَعَ صَلَاةِ اللَّهِ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا هُوَ لِإِظْهَارِ تَعْظِيمِهِ، كَمَا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَبَ عَلَيْنَا ذِكْرَ نَفْسِهِ وَلَا حَاجَةَ لَهُ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا هُوَ لِإِظْهَارِ تَعْظِيمِهِ مِنَّا شَفَقَةً عَلَيْنَا لِيُثِيبَنَا عَلَيْهِ

Artinya: “Bershalawat kepada Nabi bukanlah karena kebutuhan beliau kepadanya. Bila Nabi membutuhkan shalawat maka tak ada kebutuhan terhadap shalawatnya malaikat yang bersamaan dengan shalawatnya Allah kepada beliau. Shalawat itu hanya untuk menampakkan pengagungan terhadap beliau, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk mengingat Dzat-Nya sementara Allah tak memeiliki kebutuhan untuk diingat. Hal itu semata-mata karena untuk menampakkan sikap pengagungan terhadap beliau dari kita dan untuk Allah memberikan ganjaran bagi kita atas pengagungan tersebut.” (Fakhrudin Ar-Razi, Mafâtîhul Ghaib, 2000 [Beirut: Darul Fikr, 1981], Jil. XXV, hal. 229)

Imam Baidlowi dalam tafsirnya menyampaikan bahwa Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi artinya memberikan perhatian dalam menampakkan kemuliaan beliau dan mengagungkan kedudukannya. Sedangkan perintah kepada orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada beliau berarti perintah agar mereka ikut serta memperhatikan pengagungan tersebut karena mereka lebih selayaknya mengagungkan Baginda Rasulullah dengan membaca shalawat Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad. (Nashirudin Al-Baidlowi, Anwârut Tanzîl wa Asrârut Ta’wîl, 2000 [Damaskud: Darur Rosyid], Jil. III, hal. 94)

Lebih lanjut, diperintahkannya orang-orang mukmin bershalawat kepada Nabi selain untuk mengagungkan beliau juga dimaksudkan agar shalawat menjadi sarana bagi mereka untuk mendapatkan pahala dan anugerah dari Allah yang berlimpah ruah. Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Orang yang mendapat shalawat dari Allah berarti dia mendapatkan anugerah yang sangat besar dari-Nya. Hal ini bisa dipahami setidaknya dari ekspresi Rasulullah ketika diberitahu malaikat Jibril perihal orang yang bershalawat kepada Nabi akan mendapat sepuluh shalawat dari Allah. Saat itu Rasulullah seketika bersujud sangat lama sekali sebagai rasa syukur bahwa umatnya mendapat anugerah yang begitu besar dari Allah hanya dengan bershalawat sekali saja.

Dengan demikian sesungguhnya yang membutuhkan shalawat bukanlah diri Rasulullah, namun umat beliau. Sebab ketika seseorang bershalawat kepadanya maka ia akan mendapatkan limpahan anugerah dari shalawatnya itu.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Senin 24 September 2018 16:30 WIB
Kewajiban Membaca Shalawat Nabi bagi Tiap Mukmin
Kewajiban Membaca Shalawat Nabi bagi Tiap Mukmin
Di berbagai majelis-majelis ta’lim seringkali pembacaan shalawat Nabi menjadi salah satu bagian dari rangkaian acaranya. Tak sedikit pula para guru yang sangat menganjurkan kepada para murid dan santrinya untuk memperbanyak bacaan shalawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini tentunya mengundang bebagai pertanyaan, salah satunya tentang apa status hukum membaca shalawat kepada Nabi. Bila bershalawat merupakan salah satu kewajiban seorang mukmin, kapan kewajiban bershalawat itu mesti dilakukan?

Allah berfirman di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu membaca shalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sebenar-benarnya salam.”

Berangkat dari ayat ini para ulama sepakat bahwa hukum membaca shalawat kepada Nabi Muhammad adalah wajib bagi setiap orang mukmin. Pun demikian dengan hukum bersalam kepada beliau.

Ibnu Abdil Barr sebagaimana dikutip oleh Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani menuturkan:

أجمع العلماء على أن الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فرض على كل مؤمن بقوله تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Para ulama telah sepakat bahwa bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah wajib bagi setiap orang mukmin berdasarkan firman Allah: wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sebenar-benarnya salam.” (Yusuf bin Ismail An-Nabhani, Afdlalus Shalawât ‘alâ Sayyidis Sâdât, Jakarta, Darul Kutub Islamiyah, 2004, hal. 12)

Meski demikian para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu kewajiban membaca shalawat tersebut. Imam Qurtubi meyatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di dalam kewajiban membaca shalawat sekali seumur hidup. Membaca shalawat juga wajib dilakukan dalam setiap waktu dengan kewajiban layaknya sunnah muakkadah.

Ibnu Athiyah menyampaikan bahwa bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam setiap keadaan adalah suatu kewajiban sebagaimana wajibnya sunnah-sunnah muakkadah tidak meninggalkan dan melalaikannya kecuali orang-orang yang tak memiliki kebaikan.

Adapun bagi Imam Syafi’i membaca shalawat kepada Nabi adalah suatu kewajiban yang mesti dilakukan dalam setiap kali shalat, yakni pada waktu duduk tasyahud akhir. Dalam mazhabnya ini menjadi salah satu rukun qauli yang meningalkannya berakibat pada tidak sahnya shalat yang dilakukan.

Sebagian ulama mazhab Maliki sependapat dengan apa yang ditetapkan oleh Imam Syafi’i. Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa wajib memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi tanpa menentukan bilangannya.

Sementara Imam Thahawi menyebutkan bahwa membaca shalawat wajib dilakukan manakala seseorang mendengar nama Nabi Muhammad disebutkan oleh orang lain atau oleh dirinya sendiri.

Apa yang disampaikan Imam Thahawi ini barangkali berdasarkan satu hadis riwayat Abu Hurairah yang menuturkan:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Artinya: “Jelek sekali, orang yang namaku disebut di sisinya namun ia tidak membaca shalawat kepadaku.” (Muhammad Abdur Rauf Al-Munawi, Faidlul Qadîr, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012, jil. IV, hal. 45)

Terlepas dari berbeda-bedanya para ulama tentang kapan kewajiban membaca shalawat kepada Nabi sebagaimana di atas cukuplah bagi kita sebagai umat beliau bahwa bershalawat merupakan suatu kewajiban. Dan pembacaan shalawat yang kita lakukan semestinya bukan hanya menggugurkan kewajiban belaka, namun lebih dari itu sebagai penghormatan dan pengagungan kita kepada beliau. Itulah maksud yang sesungguhnya disyariatkannya bershalawat. Bila Allah dan para malaikat-Nya saja mengagungkan Baginda Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan bershalawat, maka tentu sebagai umatnya lebih seharusnya mengagungkan beliau dengan bershalawat: Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)