IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Ini Cerita Seputar Penamaan Nabi Muhammad SAW

Ahad 30 September 2018 10:0 WIB
Share:
Ini Cerita Seputar Penamaan Nabi Muhammad SAW
(Foto: twitter.com)
Rasulullah SAW memiliki sejumlah nama dan sebutan. Namanya Muhammad. Sejumlah nama dan sebutan lainnya adalah Thaha, Yasin, Musthafa, Ahmad, Al-Mahi, Al-Hasyir, Al-Aqib. Tetapi ia dikenal dengan nama Muhammad SAW.

“Muhammad” adalah nama terbaiknya. Ini juga namanya yang paling utama. Konon, nama ini adalah pemberian kakeknya, Abdul Muthallib, dengan harapan cucunya ini menjadi pribadi yang terpuji baik di langit maupun di bumi sebagai keterangan Syekh Nawawi Banten berikut ini.

هو أفضل أسمائه صلى الله عليه وسلم والمسمي له بذلك جده عبد المطلب في سابع ولادته لموت أبيه قبلها فقيل له لما سميته محمدا وليس من أسماء آبائك ولا قومك فقال رجوت أن يحمد في السماء والأرض وقد حقق الله رجاءه

Artinya, “’Muhammad’ adalah namanya yang paling utama dibanding namanya yang lain (seperti Thaha, Yasin, Ahmad, Musthafa, dan lainnya). Orang yang menamainya demikian adalah kakeknya, Abdul Muthallib di hari ketujuh kelahiran karena ayahnya telah wafat sebelum persalinan ibunya. Ketika ditanya kenapa bayi itu dinamai ‘Muhammad’, sebuah nama di luar tradisi orang tuan dan kaumnya, Abdul Muthallib menjawab, ‘Aku berharap ia dipuji di langit dan di bumi.’ Allah telah mewujudkan harapannya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Keterangan Syekh M Nawawi Banten ini tidak berlebihan. Sosok Nabi Muhammad SAW merupakan pribadi terpuji yang membuatnya segan di langit dan di bumi. Allah berfirman dalam Surat Al-Ahzab berikut ini.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya, “Sungguh, Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang yang beriman, bacalah shalawat dan salam untuknya dengan sebenar-benar salam,” (Al-Ahzab ayat 56).

Banyak ayat yang menunjukkan keutamaan pribadi Nabi Muhammad SAW. Pada ayat ini, Allah menyebutkan kehadiran murka-Nya untuk mereka yang menyakiti diri-Nya dan rasul-Nya itu.

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Artinya, “Sungguhm orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya akan dilaknat oleh Allah di dunia dan di akhirat. Allah juga menyediakan siksa yang hina untuk mereka,” (Al-Ahzab ayat 57).

Riwayat lain menyebutkan bahwa orang yang menamainya dengan kata “Muhammad” tidak lain adalah ibunya, Siti Aminah. Ketika sedang mengandung, sesosok malaikat mendatanginya. Kepada Siti Aminah malaikat itu berpesan, “Kau sedang mengandung penghulu manusia. Oleh karena itu, namailah ia ‘Muhammad’.”

Nabi Muhammad SAW adalah makhluk istimewa. Ia paling akhir diutus secara fisik oleh Allah. Tetapi hakikatnya ia tercipta lebih dahulu dan merupakan asal dari penciptaan alam semesta. Ia menjadi model paling sempurna dari segenap alam semesta ciptaan-Nya.

فلا نبي بعده صلى الله عليه وسلم فهو آخرهم في الوجود باعتبار جسمه في الخارج

Artinya, “(Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul) sehingga tidak ada nabi lagi sepeninggalnya. Dia datang terakhir di lihat dari raganya di alam dunia,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Meski kerap kali bertemu dengan orang yang “sempurna”, kita harus yakin bahwa tiada satu pun orang yang sempurna seutuhnya melebihi Rasulullah SAW karena semua kesempurnaan lahir dan batin yang tercecer di banyak manusia terdapat dalam seorang pribadi bernama Nabi Muhammad SAW.

Sebagian ulama mengatakan bahwa keimanan seseorang kepada Allah belum sempurna bila belum meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah model manusia sempurna ciptaan Allah tanpa tanding.

فائدة) قال الباجوري وقد ذكر بعضهم أن من تمام الإيمان أن يعتقد الإنسان  أنه لم يجتمع في أحد من المحاسن الظاهرة والباطنة مثل ما اجتمع فيه صلى الله عليه وسلم

Artinya, “(Informasi) Al-Baijuri mengatakan bahwa sebagian ulama menyebutkan bahwa salah satu kesempurnaan iman seseorang adalah keyakinan bahwa tiada satu pun manusia yang memiliki kesempurnaan lahir dan batin secara lengkap pada diri seseorang kecuali terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 5).

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita agar dapat meneladani akhlak terpuji Rasulullah SAW meski hanya sekian persennya. Kita juga berdoa semoga Allah memasukkan nama kita, keluarga, dan masyarakat kita ke dalam golongan penerima syafaat Nabi Muhammad SAW. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Ahad 30 September 2018 2:30 WIB
Ini Tujuan Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW
Ini Tujuan Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW
Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW adalah doa kita kepada Allah SWT. Shalawat nabi secara harfiah berarti doa kita agar Allah menambahkan belas kasih dan keagungan kepadanya. Sementara salam untuk nabi adalah doa kita agar Allah menambahkan kehormatan baginya untuk mendapatkan derajat yang sangat tinggi.

Pertanyaannya kemudian, untuk apa kita mendoakan Nabi Muhammad SAW lewat shalawat dan salam? Bukankah doa kita itu sia-sia karena Nabi Muhammad SAW telah mendapatkan limpahan rahmat Allah SWT?

Pertanyaan berikutnya, kalau mau berpikir sedikit konyol, untuk apa kita mendoakan Nabi Muhammad SAW? Padahal kita yang lebih membutuhkan doa dibandingkan Rasulullah SAW. Dengan logika perhitungan, untuk apa berdoa melalui shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW yang memberikan manfaat kepada dirinya?

Syekh Ismail Al-Hamidi mencoba menjawab sejumlah pertanyaan di atas sebagaimana dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten berikut ini:

فالجواب أن المقصود بصلاتنا عليه طلب رحمة لم تكن فإنه ما من وقت إلا وهناك رحمة لم تحصل له فلا يزال يترقى في الكمالات إلى ما لا نهاية له فهو ينتفع بصلاتنا عليه على الصحيح لكن لا ينبغي أن يقصد المصلي ذلك بل يقصد التوسل إلى ربه في نيل مقصوده

Artinya, “Jawabannya, tujuan shalawat (doa) kita untuk Nabi Muhammad SAW adalah permohonan rahmat baru yang belum ada karena tiada satu waktu yang berlalu kecuali di situ terdapat rahmat Allah yang belum didapat oleh Rasulullah. Dengan shalawat, derajat Nabi Muhammad SAW selalu naik dalam kesempurnaan tak terhingga. Jadi, Rasulullah SAW jelas menerima manfaat atas shalawat kita kepadanya, menurut pendapat ulama yang shahih. Tetapi orang yang bershalawat tidak seharusnya bermaksud demikian, tetapi bermaksud tawasul kepada Allah (melalui shalawat) dalam mewujudkan harapannya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Jadi, dapat dipahami bahwa shalawat dan salam adalah permohonan rahmat Allah yang datang silih berganti untuk Nabi Muhammad SAW. Shalawat dan salam harus diniatkan sebagai salah satu bentuk tawasul kita kepada Allah dalam meluluskan hajat kita.

Selain soal itu, shalawat dan salam merupakan bentuk syukur atau terima kasih kita sebagai ciptaan Allah terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai asal penciptaan alam semesta sebagaimana keterangan dalam hadits qudsi berikut ini.

عملا بالحديث القدسي وهو قوله تعالى عبدي لم تشكرني إذا لم تشكر من أجريت النعمة على يديه ولا شك أنه صلى الله عليه وسلم 
الواسطة العظمى لنا في كل نعمة بل هو أصل الإيجاد لكل مخلوق آدم وغيره

Artinya, “…Karena mengamalkan hadits qudsi, yaitu firman Allah SWT, ‘Hamba-Ku, kau belum bersyukur kepada-Ku bila kau belum berterima kasih kepada orang (Nabi Muhammad SAW) yang Kulimpahkan nikmat padanya.’ Tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah perantara agung bagi kita dalam segala nikmat Allah, bahkan Nabi Muhammad SAW adalah asal penciptaan segenap makhluk, Nabi Adam AS dan lainnya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW, niscaya Allah takkan menciptakan Nabi Adam AS. Kalau Nabi Adam AS tidak diciptakan oleh Allah, niscaya anak Adam atau bani Adam takkan diciptakan. Sedangkan nyatanya, Allah menciptakan Nabi Adam AS dan anak keturunannya. Allah juga menciptakan alam semesta ini hanya untuk keperluan manusia. Jadi, hanya karena Nabi Muhammad SAW Allah menciptakan alam semesta raya ini.

وآدم أبو البشر وقد خلق الله لهم ما في الأرض  وسخر لهم الشمس والقمر والليل والنهار وغير ذلك كما هو نص القرآن قال تعالى خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وإذا كانت هذه الأمور إنما خلقت لأجل البشر وأبو البشر إنما خلق لأجله صلى الله عليه وسلم كانت الدنيا إنما خلقت لأجله فيكون صلى الله عليه وسلم هو السبب في وجود كل شيء

Artinya, “Nabi Adam AS memang bapak manusia. Allah menciptakan apa yang ada di bumi untuk anak manusia. Allah juga menundukkan matahari, bulan, malam, siang, dan lain sebagainya untuk anak manusia sebagaimana tercantum dalam Al-Quran, 'Dia menciptakan untukmu apa yang ada di bumi semuanya,’ (Surat Al-Baqarah ayat 29) dan ‘Dia menundukkan bagimu matahari dan bulan silih berganti dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang,’ (Surat Ibrahim ayat 33). Jadi, ketika semesta alam raya itu diciptakan untuk manusia, sementara Nabi Adam AS adalah bapak manusia yang diciptakan karena Nabi Muhammad SAW, maka dunia ini diciptakan karena Nabi Muhammad SAW. Jadi, Nabi Muhammad SAW adalah sebab bagi segala ujud,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 21-22).

Logika yang dibangun oleh Imam Al-Bushiri, Syekh Ibrahim Al-Baijuri, dan Syekh Khalid Al-Azhari merupakan refleksi dari Surat Al-Baqarah ayat 29, Surat Ibrahim ayat 33, dan hadits berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا سيد ولد آدم ولا فخر

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku penghulu anak Adam, dan tidak sombong,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Shalawat dan salam merupakan bentuk terima kasih atau syukur kita umat manusia terhadap Rasulullah SAW sebagai penghulu segenap manusia sebagaimana sabdanya yang mulia. Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 27 September 2018 16:0 WIB
Dua Makanan Hati Menurut Imam al-Ghazali
Dua Makanan Hati Menurut Imam al-Ghazali
Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَيُلْهِمْهُ رُشْدَهُ

“Orang yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan dipandaikan di dalam urusan agama dan ia akan diberi ilham petunjuk kebenaran oleh Allah” (HR. al-Bukhari)

Itulah sabda Baginda Nabi Muhammad ﷺ dalam menjelaskan betapa ilmu agama penting bagi kehidupan manusia. Dari hadits di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang diberi pemahaman tentang ilmu agama maka ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah, sebagai bentuk pembuktian akan kebenaran sabda Nabi tersebut.

Pengaruh ilmu agama dalam kehidupan manusia tak ubahnya seperti pengaruh makan dan minum bagi mereka. 

Imam al-Ghazali, di dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn menyampaikan betapa pentingnya ilmu bagi hati seorang manusia. Di sana, beliau menyitir dawuh dan pernyataan sebagian ulama. Beliau berkata:

قال فتح الموصلي رحمه الله : أليس المريض إذا منع الطعام والشراب والدواء يموت؟ قالوا بلى. قال كذلك القلب إذا منع عنه الحكمة والعلم ثلاثة أيام يموت

“(Di hadapan para muridnya) Fath al-Mushili rahimahullah berkata, ‘Bukankah akan mati jika ada orang sakit yang tidak mendapatkan makan, minum, dan obat ?’  Mereka pun menjawab, “Iya benar, akan mati.’ ‘Begitu juga hati, ketika tidak mendapatkan hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka hati akan mati,’ lanjut beliau.”

Imam al-Ghazali membenarkan apa yang dikatakan Fath al-Mushili. Karena sesungguhnya makanan hati adalah ilmu dan hikmah. Dengan keduanyalah hati bisa hidup. Sebagaimana badan akan hidup jika makan. Tidak mendapatkan ilmu menyebabkan hati seseorang dalam keadaan sakit dan pasti akan mati, meskipun ia tidak merasa.

Cinta dunia dan kesibukan duniawi bisa membuat orang tidak merasakan hal tersebut. Sebagaimana kondisi sangat ketakutan (atau mabuk, red) akan bisa “menghilangkan” sakitnya luka yang berat. Kemudian, ketika kematian telah melenyapkan urusan-urusan duniawi dari dirinya, maka baru dia merasakan bahwa dirinya dalam keadaan rusak dan baru dia sangat menyesal. Penyesalan pascakematian ini tentu tidak ada gunanya lagi. Sama seperti orang yang sudah aman dari ketakutannya atau orang yang sudah sadar dari mabuknya, ia baru merasakan luka-luka yang ia alami saat mabuk atau saat ketakutan.

Maka kita berlindung kepada Allah ﷻ dari hari terbukanya tirai semua amal. Karena sesungguhnya manusia masih dalam keadaan tertidur. Ketika  meninggal dunia, maka mereka baru terbangun dari tidurnya. (Imam Muhammad al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn, Beirut, Dar al-Fikr, juz I, halaman 8)

Terdapat berbagai pemahaman di kalangan para ulama terkait dengan maksud dari kata al-hikmah yang tercantum di dalam Al-Qur’an seperti firman Allah ﷻ:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ 

“Allah memberikan hikmah kepada orang yang Ia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, maka sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak menerima pengingat kecuali orang-orang yang memiliki akal sempurna.” (QS Al-Baqarah: 269)

Baginda Nabi Muhammad ﷺ juga pernah bersabda:

الْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ

“Hikmah adalah Yaman.” (HR. at-Tirmidzi)

Ada yang berpendapat maksud dari al-hikmah adalah amal. Ada juga yang berpendapat maksudnya adalah setiap sesuatu yang mencegah dari perbuatan bodoh dan perbuatan jelek. Dan masih banyak lagi pendapat ulama tentang maksud dari kata al-hikmah. (Muhammad ibn Qasim ibn Muhammad ibn Zakur al-Fasi, Zuhr al-Akam fi al-Amtsal, halaman 7) 

Terkait tentang maksud dari kata al-hikmah ini, al-Ghazali berkata di dalam kitab Ihyâ’-nya:

ونعني بالحكمة حالة للنفس بها يدرك الصواب من الخطأ في جميع الأفعال الاختيارية

“Yang saya kehendaki dengan kata al-hikmah adalah kondisi hati yang bisa menjadi sarana mengetahui yang benar dan yang salah dalam semua perbuatan yang kita pilih. (Imam Muhammad al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn, Beirut, Dar al-Fikr, juz III, halaman 3)

Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)

Jumat 21 September 2018 19:45 WIB
Ini Lima Jenis Tafakur menurut Ulama
Ini Lima Jenis Tafakur menurut Ulama
(Foto: ibnsabeel.com)

Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang menganjurkan dan menjelaskan keutamaan tafakur. Ali Imran ayat 190 menyebut keutamaan orang yang berzikir dan bertafakur dalam situasi apa pun, baik dalam duduk, berdiri, maupun berbaring.


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ


Artinya, “Mereka adalah orang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Mereka merenungkan penciptaan langit dan bumi,” (Ali Imran ayat 190).


Syekh M Nawawi Banten mengatakan bahwa para ulama mencoba memberikan penjelasan perihal jenis tafakur yang disinggung oleh ayat tersebut. Menurut para ulama, tafakur itu terdiri atas lima jenis.


قال جمهور العلماء التفكر على خمسة أوجه


Artinya, “Mayoritas ulama menyebut lima jenis tafakur,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 6).


Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memasukkan kata “tafakur” dengan makna renungan, perenungan, perihal merenung, memikirkan, menimbang dengan sungguh-sungguh, dan pengheningan cipta.


Adapun lima jenis tafakur yang dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten dari mayoritas ulama adalah sebagai berikut:


Pertama, tafakur dalam rangka merenungi ayat-ayat Allah. Dalam tafakur ini, seseorang harus bertawajuh dan meyakininya.


Kedua, tafakur dalam rangka merenungi nikmat-nikmat Allah. Tafakur ini dapat melahirkan mahabbah atau cinta pada diri seseorang kepada-Nya.


Ketiga, tafakur dalam rangka merenungi janji-janji Allah. Tafakur ini dapat menyalakan atau menambah semangat beramal saleh di hati seseorang.


Keempat, tafakur dalam rangka merenungi peringatan Allah. Tafakur ini dapat melahirkan rasa takut di hati seseorang kepada (siksa)-Nya.


Kelima, tafakur dalam rangka merenungi kelalaian diri dalam menjalankan perintah-Nya. Tafakur ini dapat menumbuhkan rasa malu di hati seseorang.


Menanggapi poin kelima, Syekh M Nawawi Banten mengutip satu hikmah Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam-nya ketika seseorang tidak lagi merasa malu atas kelalaiannya dalam menjalankan perintah Allah.


من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فاتك من الموافقات وترك الندم على ما فعلته من وجود الزلات


Artinya, “Salah satu tanda kematian batin adalah ketiadaan rasa sedih pada dirimu atas perbuatan taat yang luput dan ketiadaan rasa sesal atas kesalahan yang kaulakukan.”


Selain hikmah ini, Syekh M Nawawi Banten juga mengutip hikmah lain dari Al-Hikam yang terjemahannya, “Rasa sedih atau rasa sesal atas luputnya perintah Allah di saat ini atau di masa lalu tanpa disertai semangat perbaikan diri di masa mendatang adalah satu ciri keterpedayaan.”


Hikmah yang dimaksud oleh Syekh M Nawawi Banten adalah sebagai berikut:


الحزن على فقدان الطاعة مع عدم النهوض إليها من علامات الاغترار


Semua uraian ini merupakan upaya ulama dalam memahami tafakur dengan berbagai jenisnya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)