IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Kisah Heraclius, Muawiyah, dan Sejumlah Pertanyaan Tersulit

Rabu 3 Oktober 2018 6:0 WIB
Share:
Kisah Heraclius, Muawiyah, dan Sejumlah Pertanyaan Tersulit
Ilustrasi: Shutterstock
Nama lengkapnya Flavius Heraclius Augustus. Seorang putra dari pasangan Constan II dan Fausta. Ia menjadi penguasa tertinggi Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium pada sejak 5 Oktober 610 M hingga 11 Februari 641 M. Tercatat, beberapa kali Heraclius bersitegang dengan kaum Muslim. Salah satunya pada saat Perang Yarmuk, pertempuran yang terjadi empat tahun setelah Nabi Muhammad saw. wafat.

Setelah mengetahui Damaskus dan Emesa jatuh lepas dari kekuasaan Bizantium, Heraclius memimpin langsung puluhan hingga ratusan ribu pasukan melawan kaum Muslim. Hingga akhirnya terjadi lah Pertempuran Yarmuk yang terjadi di sekitar Sungai Yarmuk, Yordania. Meski menang dalam jumlah pasukannya, namun peperangan dimenangkan pihak kaum Muslim.

Dalam bukunya The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, Edward Gibbon menilai bahwa Heraclius adalah salah seorang pemimpin yang luar biasa. Namun sayangnya, ia tidak konsisten. Di akhir pemerintahannya, Heraclius menjadi kemalasan, takhayul, dan tidak berdaya melawan malapetaka.

Dikisahkan bahwa suatu ketika Heraclius mengajukan beberapa pertanyaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, Khalifah pertama Dinasti Umayyah. Entah apa maksud pengajuan pertanyaan tersebut. Apakah untuk mengujinya atau betul-betul ingin mendapatkan jawaban. Namun yang pasti, sederet pertanyaan tersebut sangat sulit hingga membuat Muawiyah mengernyitkan dahi. 

Berikut pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam surat Heraclius untuk Muawiyah sebagaimana yang tertera dalam buku Islamic Golden Stories: Para Pemimpin yang Menjaga Amanah:

Salam Sejahtera kami sampaikan kepada Anda. Mohon kiranya Anda memberitahukan kepada kami, ucapan apa yang paling disenangi Tuhan, kedua, ketiga, keempat, dan kelima? Siapa hamba yang paling mulia? Siapa perempuan yang paling mulia? Ada empat hal yang di dalamnya terdapat ruh, tetapi tidak bersemayam dalam rahim? Kubur apa yang berjalan membawa penghuninya?

Muawiyah bin Abu Sufyan langsung memanggil para ulama penasihatnya. Namun sayang, tak satu pun dari mereka yang bisa menjawab sederet pertanyaan dari Heraclius tersebut. Lalu satu dari mereka ada yang usul agar sang khalifah menanyakannya kepada Abdullah bin Abbas. Seseorang sahabat Nabi Muhammad yang sangat cerdas, alim, dan memiliki kekuatan hafalan yang kuat. Saudara sepupu Nabi Muhammad ini dikenal sebagai seorang ahli tafsir Al-Qur’an.

Muawiyah bin Abu Sufyan mengirimkan utusan ke Abdullah bin Abbas dengan membawa beberapa pertanyaan dari Heraclius tersebut. Abdullah bin Abbas kemudian membalas surat Muawiyah dengan menyertakan jawaban. Ucapan yang paling disukai Allah adalah La ilaha illa Allah (Tiada Tuhan selain Allah). Alasannya, kalimat tersebut menjadi dasar atas diterimanya semua amal perbuatan. Ucapan kedua adalah Subhanallah (Maha Suci Allah). Menurut Abdullah bin Abbas, semua makhluk di alam semesta ini shalat dengan cara mengucapkan lafal  Subhanallah.

Selanjutnya adalah Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah). Keempat adalah Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Dan terakhir La haula wala quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya selain dengan daya dan upaya Allah).

Abdullah bin Abbas menjawab, Adam as. adalah hamba yang paling mulia. Mengapa? Karena Nabi Adam as. diciptakan langsung Allah dan diajarkan beberapa nama. Sementara Maryam adalah perempuan yang paling mulia di dunia ini. 

Untuk pertanyaan Ada empat hal yang di dalamnya terdapat ruh, tetapi tidak bersemayam dalam rahim?, Abdullah bin Abbas menjawab Nabi Adam as., Hawa, tongkat Nabi Musa as., dan domba korban Nabi Ibrahim. Adapun pertanyaan terakhir; kubur yang membawa penghuninya adalah perut ikan paus yang menelan Nabi Yunus as.

Muawiyah bin Abi Sufyan merasa puas dengan jawaban-jawaban yang diperoleh dari Abdullah bin Abbas tersebut. Jawaban itu kemudian dikirim ke Heraclius yang berada di Konstantinopel. (Muchlishon)
Share:
Senin 1 Oktober 2018 19:0 WIB
Sikap Rasulullah kepada Tetangga
Sikap Rasulullah kepada Tetangga
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR Bukhari-Muslim).

Ada banyak hadits tentang tetangga yang telah disabdakan Rasulullah. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim di atas. Di situ, Rasulullah jelas dan tegas menyerukan kepada mereka yang mengaku beriman kepada Allah untuk berbuat baik kepada tetangga, bukan malah memusuhinya.

Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup sendirian, butuh orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Dan tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kehidupan kita. Bahkan -karena rumahnya yang dekat dengan rumah kita- tetangga lebih mengetahui segala tingkah polah kita, dibandingkan keluarga sendiri yang tinggal berjauhan.

Tetangga memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Mereka harus disayangi dan diperlakukan dengan baik. Dalam hadits Rasulullah yang lain disebutkan bahwa seorang dianggap Muslim manakala mereka berbuat baik kepada tetangganya. Akan tetapi, tidak semua orang orang memiliki hubungan yang harmonis dengan tetangganya. Tidak sedikit dari mereka yang musuh-musuhan dengan tetangganya karena suatu persoalan.

Dalam hal memuliakan dan berbuat kepada tetangga, Rasulullah telah memberikan teladan yang baik kepada kita. Dikisahkan, suatu ketika pada saat Abu Hurairah kelaparan Rasulullah lewat di depannya. Kemudian Rasulullah meminta Abu Hurairah untuk mengikutinya. Sesampai di suatu tempat, Abu Hurairah  mendapati ada susu setempayan. 

Rupanya harapan Abu Hurairah meleset. Rasulullah tidak langsung memintanya untuk meminum susu. Malah Rasulullah menyuruh Abu Hurairah untuk memanggil ahli shuffah, tetangga Rasulullah yang sangat miskin, lemah, dan tidak memiliki tempat tinggal. Mereka menjadi tetangga Rasulullah karena tinggal di emperan Masjid Nabawi. Sementara rumah Rasulullah menyatu dengan Masjid Nabawi.  

“Pergilah ke ahli shuffah, undang mereka ke sini,” perintah Rasulullah kepada Abu Hurairah, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad.

Pada saat ahli shuffah datang, Rasulullah langsung menyuruh mereka untuk meminum susu tersebut. Satu per satu ahli shuffah meminum susu tersebut sampai puas. Setelah semuanya kebagian, Rasulullah menyuruh Abu Hurairah untuk meminum sisa susunya hingga puas. Rasulullah sendiri juga meminum susu sisa ahli shuffah itu. 

Iya, Rasulullah adalah orang yang sangat perhatian dengan tetangganya. Apakah tetangganya sudah makan atau belum. Rasulullah tidak membiarkan dirinya kenyang sendiri sementara tetangganya dalam keadaan kelaparan. Perhatian Rasulullah dalam hal ini juga ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari: Bukanlah seorang Mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.

Apabila menerima hadiah, Rasulullah memberi sebagian untuk istrinya dan sebagian yang lain untuk tetangganya, ahli shuffah. Sementara jika menerima sedekah, Rasulullah langsung memberikan semua kepada tetangganya tanpa mengambilnya sedikitpun. Dikisahkan, suatu ketika Fatimah meminta bagian sedekah dari Rasulullah. Rasulullah menolaknya, meski Fatimah pada saat itu sangat membutuhkan. Rasulullah lalu memberikan semua harta sedekah itu kepada ahli shuffah.  

Rasulullah juga sangat menjaga ucapan dan perkataan agar tidak menyakiti tetangganya. Apalagi menggunjing dan membuka aib tetangga di depan khalayak umum. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Rasulullah menegaskan: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.

Lalu, apa yang harus dilakukan apabila tetangga berbuat jahat kepada kita? Dalam hal ini pun Rasulullah sudah memberikan rambu-rambu. Rasulullah menyarankan untuk tetap berbuat baik kepadanya dan bersabar. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah menuturkan bahwa salah satu orang yang dicintai Allah adalah mereka yang tetap bersabar meski tetangganya menyakitinya. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 27 September 2018 19:0 WIB
Kisah Nabi Muhammad Berutang kepada Seorang Yahudi
Kisah Nabi Muhammad Berutang kepada Seorang Yahudi
“Wahai Umar aku ini adalah Rasul Allah. Aku bukan seorang Kaisar dari Romawi dan bukan pula seorang Kisra dari Persia. Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi,” kata Nabi Muhammad saw. kepada Umar bin Khattab yang menangis saat melihat rumah Nabi yang begitu sederhana. 

Nabi Muhammad saw. adalah nabi sekaligus rasul terakhir. Ia menjadi pemimpin tertinggi –baik bidang politik pemerintahan maupun bidang agama- dan panutan utama umat Islam. Meski demikian, ia tidak seperti pemimpin-pemimpin dunia lainnya yang hidup mewah bergelimang harta. Nabi Muhammad saw lebih memilih hidup sederhana. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad saw. juga tidak segan-segan mengerjakan sendiri pekerjaan rumah seperti menambal baju, memerah susu kambing, dan lainnya.

Sangat bisa kalau seandainya Nabi Muhammad saw. hidup bermewah-mewahan. Tapi itu tidak dilakukan. Harta yang dimilikinya selalu digunakan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat. Misal harta rampasan perang (ghanimah) yang didapat umat Islam. Nabi Muhammad saw. selalu membagi rata ghanimah untuk para sahabatnya yang ikut perang. Tidak pernah mengambil dan menyimpannya untuk kebutuhan diri sendiri.

Keadaan yang begitu sederhana membuat Nabi Muhammad saw. kadang tidak makan seharian –bahkan berhari-hari. Untuk menahan rasa lapar, biasanya ia mengikat batu di perutnya. Apabila perutnya bunyi, Nabi Muhammad saw. mengencangkan tali ikatnya.  

Hingga tiba suatu waktu dimana Nabi Muhammad saw. terpaksa berutang kepada seorang Yahudi Madinah, Zaid bin Sa’nah, untuk sebuah keperluan. Zaid bin Sa’nah bersedia meminjamkan uang kepada Nabi Muhammad saw. Mereka berdua kemudian sepakat bahwa tanggal sekian utang harus dilunasi. Nahasnya, tiga hari sebelum jatuh tempo  Zaid bin Sa’nah sudah menagih pembayaran utang Nabi Muhammad saw dengan kata-kata kasar dan penuh serapah. 

“Hai Muhammad, mengapa engkau tidak membayar utangmu?” kata Zaid bin Sa’nah kepada Nabi Muhammad saw. dengan nada tinggi sebagaimana tertera dalam buku Muhammad: Nabi untuk Semua.

Saat Zaid bin Sa’nah melabrak Nabi Muhammad saw., ada Umar bin Khattab di sampingnya. Mendengar hal itu, Umar bin Khattab yang dikenal keras dan tegas memarahi kembali Zaid bin Sa’nah. Ketika Umar hendak memukul Zaid bin Sa’nah, Nabi Muhammad saw. melerainya. Nabi Muhammad saw. lalu meminta Umar untuk menasihatinya dan  Zaid bin Sa’nah.

“Katakan padaku (Nabi Muhammad saw.) untuk membayar utang dengan benar dan katakan kepadanya (Zaid bin Sa’nah) untuk menagih utang dengan cara yang lebih baik,” kata Nabi Muhammad saw.

Kemudian Nabi Muhammad saw. memerintahkan Umar untuk membayar Zaid bin Sa’nah –meski belum jatuh tempo. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad saw. juga menyuruh Umar agar memberi 20 sa’ash (sekitar 40 kilogram) kurma untuk Zaid bin Sa’nah karena telah membuatnya ketakutan. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 26 September 2018 6:0 WIB
Sya’ban, Sahabat yang Memilih Tinggal Berjauhan dengan Nabi
Sya’ban, Sahabat yang Memilih Tinggal Berjauhan dengan Nabi
Kedatangan Nabi Muhammad saw. di Madinah menjadi magnet bagi masyarakat Madinah. Mereka berkeinginan agar Nabi Muhammad saw. tinggal di rumahnya. Tidak lain, itu dilakukan agar mereka bisa dekat terus dengan Nabi Muhammad saw. Seorang nabi dan rasul terakhir.

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Nabi Muhammad saw. menemukan sebidang tanah milik dua orang anak yatim Sahl dan Suhail. Ia kemudian membelinya. Di atasnya dibangun rumah Nabi Muhammad dan istrinya. Di tanah yang sama, tepat di samping rumah Nabi Muhammad saw. dibangun Masjid Nabawi untuk tempat ibadah umat Islam.

Masjid Nabawi yang berdempetan dengan rumah Nabi Muhammad menjadi pusat kegiatan umat Islam pada saat itu. Mulai dari tempat Nabi Muhammad saw. mengajarkan ajaran Islam hingga tempat umat Islam menyusun rencana perang. Tempat yang begitu strategis ini menarik para sahabat untuk tinggal di sekitarnya. Mereka berbondong-bondong membangun rumah di sekitaran Masjid Nabawi dan rumah Nabi agar bisa terus mengikuti shalat lima waktu bersama Nabi Muhammad, bergabung dalam majelis ilmu dan hikmah yang diselenggarakan Nabi, dan lain sebagainya.

Namun ternyata, tidak semua sahabat memiliki keinginan untuk tinggal dekat dengan Nabi Muhammad saw. dan Masjid Nabawi. Ada satu sahabat yang lebih memilih tinggal berjauhan dengan Nabi Muhammad saw. 

Namanya Sya’ban. Rumahnya paling jauh dari rumah Nabi Muhammad saw. dan Masjid Nabawi jika dibandingkan dengan sahabat-sahabat lainnya. Disebutkan bahwa jarak rumah Sya’ban dengan Masjid Nabawi atau rumah Nabi adalah kira-kira tiga jam jalan kaki. Meski demikian, Sya’ban tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah bersama Nabi Muhammad saw. di Masjid Nabawi.

Sya’ban bahkan selalu datang paling awal dibandingkan sahabat yang lainnya. Ia selalu mengambil di posisi bagian pojok masjid ketika shalat dan i’tikaf. Alasannya, dengan duduk di bagian pojok masjid ia tidak ingin mengganggu sahabat yang datang kemudian. Oleh sebab itu, ia selalu datang pertama agar untuk tidak ketinggalan, walau satu rakaat saja, shalat berjamaah bersama Nabi Muhammad.

Rupanya, kabar Sya’ban –yang berjalan tiga jam dari rumahnya ke Masjid Nabawi- sampai ke telinga Ubay bin Ka’ab. Seorang mantan pendeta Yahudi yang memeluk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad saw. Karena kasian, Ubay bin Ka’ab menyarankan Sya’ban agar membeli seekor keledai agar perjalanannya lebih cepat dan kakinya tidak sakit.

“Demi Allah, aku tak senang kalau rumahku berdekatan dengan rumah Rasulullah. Aku lebih suka tinggal di sebuah rumah yang jauh dari rumah beliau,” kata Sya’ban kepada Ubay bin Ka’ab, sebagaimana dikutip dari buku Pesona Ibadah Nabi.

Ubay bin Ka’ab kaget dengan jawaban Sya’ban. Kemudian ia melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah. Tidak lama berselang, akhirnya Rasulullah mengonfirmasi kepada Sya’ban mengapa ia tidak suka tinggal dengannya. Sya’ban mengungkapkan, suatu ketika Nabi Muhammad saw. pernah bersabda bahwa setiap langkah seseorang yang menuju masjid maka satu dosanya akan diampuni  atau derajatnya dinaikkan satu peringkat. 

Itu lah yang membuat Sya’ban ingin rumahnya jauh dari rumah Nabi Muhammad yang bersebelahan dengan Masjid Nabawi. Tidak lain, ia ingin agar langkahnya ke Masjid Nabawi banyak. Sehingga dosa-dosanya diampuni dan derajatnya diangkat. 

Pada saat sakaratul maut, Sya’ban diperlihatkan oleh Allah pahala dan ganjaran atas perbuatannya itu –menempuh perjalanan yang jauh dari rumahnya ke Masjid Nabawi untuk shalat jamaah. Hijab Sya’ban dibuka Allah sehingga ia bisa melihat bentuk surga sebagai ganjarannya. Mengetahui pahalanya itu, Sya’ban malah menyesal. Ia mengatakan, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi dari Masjid Nabawi sehingga mendapatkan pahala lebih indah dan lebih baik. (A Muchlishon Rochmat)