IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Gaji Bekerja di Lembaga Perkreditan Konvensional

Rabu 3 Oktober 2018 14:30 WIB
Share:
Hukum Gaji Bekerja di Lembaga Perkreditan Konvensional
Assalamualaikum,
Mohon pencerahannya. Apa hukum bekerja di perkreditan/perbankan seperti Adira, Home Credit, dan lain-lain. Apakah gaji yang diterima halal? Terima kasih, semoga mendapatkan pencerahan dan agar hati lebih tenang. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. (Doni Hirmansyah)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara penanya yang budiman yang dirahmati oleh Allah SWT. Semoga kita senantiasa mendapatkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya dalam menjalankan rutinitas kita sehari-hari. Amiin. 

Penanya yang budiman. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menuliskan tentang beberapa hukum terkait dengan bunga bank. Juga pernah menuliskan pada kanal Ekonomi Syariah NU Online terkait dengan gaji yang didapatkan dari pihak yang bermuamalah di tempat haram.
Pada pokok pertanyaan kali ini, saudara penanya menanyakan hubungan gaji dengan tempat saudara penanya bekerja, yakni di perusahaan Homeredit dan Adira. Mungkin, maksud dari Adira ini adalah perusahaan PT Adira Auto Finance yang kurang lebih 70 persen sahamnya dimiliki oleh Bank Danamon. Adira ini bergerak dalam bidang perkreditan. Kurang lebih lahan geraknya sama degan Home Credit yang menangani bidang jasa perkreditan. Keduanya bergerak di bidang perkreditan jual beli kendaraan dan alat/perangkat elektronik. Jadi, nama lain dari kedua perusahaan ini adalah melayani sistem jual beli barang secara tempo.

Jasa jual beli tempo sebenarnya tidak masalah dalam Islam. Demikian juga dengan keberadaan jasa jual beli kredit. Yang sering dijadikan masalah adalah karena:

1. Barang atau jasa yang tertunda pencicilannya akan diambil oleh pihak perbankan. Dengan demikian, maka besaran cicilan yang sudah dibayarkan dihitung sebagai akad sewa. Namun, jika cicilan dibayar secara tepat waktu, maka cicilan dianggap sebagai jual beli. Keberadaan kejelasan akad sebagai akad sewa (ijarah) ataukah akad jual beli inilah yang mendasari jenis perkreditan ini pada lembaga ini dianggap sebagai akad murakkabah (akad ganda) yang dilarang, disebabkan ketidakjelasan transaksi.

2. Status denda keterlambatan membayar. Status denda ini sebenarnya juga menjadi bahan perdebatan di antara kalangan ahli fiqih kontemporer. Ada yang membolehkan dan ada yang tidak. Yang membolehkan, karena niatan li al-ta’dib, yaitu agar nasabah/konsumen pengguna jasa menghormati haknya pemberi kredit/pinjaman. Dengan catatan, bahwa uang hasil denda tersebut tidak diperuntukkan untuk konsumsi melainkan untuk kepentingan sosial, seperti membangun jalan, jembatan, dan lain sebagainya. 

Sampai di sini, maka sumber pemasukan lembaga perkreditan konvensional semacam Adira dan Home Credit yang diperoleh dari jasa perkreditan ada tiga kemungkinan, yaitu:

- Hasil jual beli murabahah secara kredit atau secara bertempo. Hukumnya adalah halal.

- Hasil dari ijarah yang sejatinya awalnya diniatkan untuk jual beli. Hukumnya syubhat (tidak jelas antara halal dan haram).

- Hasil dari denda keterlambatan membayar, dan hukumnya adalah syubhat juga. Ada juga ulama yang mengharamkan kecuali bila yang melakukan adalah imam atau lembaga yang berwenang. Titik pangkal persoalan adalah yang dimaksud sebagai lembaga berwenang ini, apakah boleh bila diubah maksudnya sebagai pihak lembaga perkreditan sendiri yang menerapkan. Jika boleh diubah maksudnya ke lembaga perkreditan itu sendiri, maka hukumnya menjadi jelas halal keberadaan denda itu. Namun, jika tidak boleh diubah ke maksud lembaga perkreditan, maka hukumnya disamakan dengan riba, yang murni diputus sebagai haram. Karena perselisihan inilah maka denda dihukum sebagai syubhat, yaitu tidak jelas antara halal dan haramnya. Status hukumnya sama dengan makruh, akan tetapi tidak sampai ke makruh tahrim disebabkan ada teks fiqih yang membolehkan bila dilakukan oleh lembaga yang berwenang.

Dari ketiga peluang ini, ada peluang satu untuk jelas sisi halalnya, yaitu jual beli secara kredit. Dua peluang lainnya hukumnya adalah syubhat, dan tidak sampai haram disebabkan karena statusnya ada ulama yang membolehkan. Dengan demikian, seluruh dana yang dihasilkan dari lembaga perkreditan, tidak mutlak dari yang haram. Keputusan akhirnya adalah gaji yang diterima juga menjadi tidak mutlak haram.

Apa yang disampaikan di atas, adalah menurut satu sisi cara pandang gaji melihat dari sumber gaji itu didapatkan, apakah termasuk ghalabal haram (mayoritas haram) ataukah minim haramnya? Ternyata setelah ditelusuri, tidak sampai ghalabal haram, sehingga kita tidak terkena pasal ayat ta’awanu ‘alal ma’shiyat (tolong-menolong dalam perbuatan maksiat). 

Cara pandang yang kedua adalah cara pandang dari sisi orang yang bekerja. Tidak setiap orang yang bekerja dan bermuamalah dengan orang yang berpenghasilan haram lantas bisa diputus sebagai haram. Sebagaimana ungkapan Syeikh Zainuddin al-Malaibary berikut ini:

فائدة لو أخذ من غيره بطريق جائز ما ظن حله وهو حرام باطنا فإن كان ظاهر المأخوذ منه الخير لم يطالب في الآخرة وإلا طولب قاله البغوي.

Artinya: "Sebuah faidah: Seandainya ada seseorang mengambil dari orang lain dengan jalan yang jaiz sesuatu yang diduga halalnya, padahal adalah haram secara bathin, maka bila dhahir barang tersebut adalah baik, maka ia tidak akan dituntut di akhirat. Namun, bila dhahir barang tersebut tidak baik, maka sebagaimana pernyataan al-Baghawy, maka ia kelak akan dituntut di akhirat." (Syekh Zainuddin al Malaibary, Fathul Muin bi Syarhi Qurrati al-'Ain, Surabaya: Al Hidayah, tt., 67)

Haknya orang yang bekerja adalah menerima gaji. Setiap gaji yang diperoleh dari hasil kerja yang dhahirnya halal, maka gaji yang diterima juga halal. Kecuali jika Anda bekerja membantu pencurian, maka diputus sebagai haram sebab pencuriannya. Jika pekerjaan yang dilakukan adalah halal, maka gajinya juga halal. Sebagai satpam, pekerjaan satpam adalah halal. Demikian juga gajinya, maka halal, meskipun tempat bekerjanya pemroduksi barang haram. Satpam bekerja karena mengikut perintah menjaga aset saja.

Gaji seorang pegawai bank, atau pegawai lembaga perkreditan, adalah halal, karena ia dikaji karena faktor jerih payahnya dalam bekerja mencatat transaksi, dan sejenisnya. Karena pekerjaannya halal, maka gajinya adalah halal pula. Pokok masalah sebagaimana disampaikan oleh Syekh Zainuddin al-Malaibary di atas, bila sang juragan sumber nafkahnya berasal dari perkara haram. Apakah gaji sang karyawan juga haram? Tentu tidak. Pada saat Sang Juragan memberikan uang yang secara dhahirnya adalah diduga halal diterima oleh pegawai, maka halal pula bagi pegawai itu menerimanya. Apabila sang pegawai meyakini bahwa mayoritas sumber keuangan Sang Juragan dari perkara haram, maka pada dasarnya gaji yang dibayarkan ke pegawai adalah bukan dari barang haram, tapi justru dari barang halal sang juragan. Status pemberiannya disebut hibah/hadiah. Sementara gaji karyawan itu sendiri pada hakikatnya belum dibayar oleh sang juragan. Jadi, sang juragan—pada hakikatnya—memiliki hutang kepada karyawannya disebabkan karena dia belum menggajinya. 

Kesimpulan dari jawaban saudara penanya, dalam masalah ini adalah:

1. Sumber pendapatan keuangan lembaga perkreditan yang saudara terima tidak sepenuhnya berasal dari jalan haram. Kemungkinan sumber pendapatan yang haram adalah diperoleh dari riba nasiah (riba kredit) yang berasal dari denda atau ketidakjelasan akad antara akad jual beli dan akad sewa. 

2. Karena sumber pendapatan keuangan lembaga tidak mutlak haram, maka status uang yang diberikan sebagai gaji juga tidak mutlak haram. 

3. Status gaji seorang pegawai—di mana saja ia bekerja kecuali memang asal tempatnya jelas haram—hukumnya adalah halal. Sifat kehalalan gaji ini adakalanya karena jelas halalnya, namun di sisi yang lain ada kemungkinan sharfu al-maqshud (pengalihan niat), yaitu bahwa gaji yang diberikan oleh lembaga dianggap sebagai hibah/hadiah dari lembaga. Sementara gaji hakikinya, lembaga tersebut sejatinya belum membayar sehingga ia punya tanggung jawab hutang kepada pegawai. 

Wallahu a’lam bish shawab


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jawa Timur.

Tags:
Share:
Rabu 3 Oktober 2018 19:0 WIB
Hukum Menabur Bunga di Kubur setelah Pemakaman
Hukum Menabur Bunga di Kubur setelah Pemakaman
(Foto: tribun jatim)
Hukum Menabur Bunga di Kubur setelah Pemakaman
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, masyarakat kita terbiasa menaburkan bunga atau kembang (biasanya mawar dan melati) di atas kubur setelah jenazah dimakamkan. Pertanyaan saya, apakah, apakah pandangan agama Islam perihal ini. Mohon penjelasan lebih lanjut soal ini. Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Siti Fajriah/Sukabumi Utara)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Penaburan bunga atau kembang di atas makam didasarkan pada riwayat shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW meletakkan dahan basah di atas makam untuk meringankan siksa ahli kubur.

والدليل ما ورد في الحديث الصحيح من وضعه عليه الصلاة والسلام الجريدة الخضراء، بعد شقها نصفين على القبرين اللذين يعذبان، وتعليله بالتخفيف عنهما ما لم ييبسا أي يخفف عنهما ببركة تسبيحهما؛ إذ هو أكمل من تسبيح اليابس، لما في الأخضر من نوع حياة

Artinya, “Dalilnya adalah riwayat dalam hadits shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW meletakkan dahan hijau yang segar setelah membelahnya menjadi dua bagian di atas dua makam yang ahli kuburnya sedang disiksa. Tujuan peletakan dahan basah ini adalah peringanan siksa keduanya selagi kedua dahan itu belum kering, yaitu diringankan keduanya dengan berkah tasbih kedua dahan tersebut. Pasalnya, tasbih dahan basah lebih sempurna daripada tasbih dahan kering karena hijau segar mengandung daya hidup,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan keempat, juz II, halaman 672).

Dari riwayat shahih dan terkenal itu, para ulama fikih kemudian menyatakan bahwa peletakan dahan basah atau bisa juga penaburan kembang atau bunga di atas kubur disunnahkan, terutama dahan segar atau kembang yang masih basah.

وَيُسَنُّ وَضْعُ الْجَرِيدِ الْأَخْضَرِ عَلَى الْقَبْرِ وَكَذَا الرَّيْحَانُ وَنَحْوُهُ مِنْ الشَّيْءِ الرَّطْبِ

Artinya, “Peletakan dahan pohon yang masih segar di atas kubur disunnahkan. Demikian pula benda-benda yang mengandung aroma yang sedap atau serupa dari zat yang basah-segar (aneka flora),” (Lihat As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Tuhfatul Habib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 570-571).

Para ulama juga menyatakan bahwa orang yang masih hidup tidak boleh memindahkan atau menyingkirkan dahan basah atau kembang segar yang sengaja diletakkan atau ditaburkan di atas kubur karena itu adalah hak ahli kubur. Ahli kubur menerima manfaat atas keberadaan dahan basah dan bunga segar di atas kuburnya karena semua itu memintakan ampunan dan mendatangkan rahmat Allah untuknya.

وَلَا يَجُوزُ لِلْغَيْرِ أَخْذُهُ مِنْ عَلَى الْقَبْرِ قَبْلَ يُبْسِهِ لِأَنَّ صَاحِبَهُ لَمْ يُعْرِضْ عَنْهُ إلَّا عِنْدَ يُبْسِهِ لِزَوَالِ نَفْعِهِ الَّذِي كَانَ فِيهِ وَقْتَ رُطُوبَتِهِ وَهُوَ الِاسْتِغْفَارُ

Artinya, “Orang lain tidak boleh mengambilnya (memindahkannya) dari atas kubur sebelum mengering karena ahli kubur hanya berpaling darinya ketika dahan itu mengering karena kehilangan unsur manfaatnya yang ada seketika masih hijau-segar, yaitu istighfar (untuk hali kubur tersebut),” (Lihat As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Tuhfatul Habib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 570-571).

Para ulama berbeda pendapat perihal sumber istighfar. Sebagian ulama mengatakan bahwa istighfar untuk ahli kubur itu berasal dari malaikat selama dahan atau kembang itu belum mongering. Sementara ulama lainnya menyebut sumber istighfar berasal dari dahan basah atau kembang segar itu sendiri.

وَهُوَ الِاسْتِغْفَارُ) أَيْ مِنْ الْمَلَائِكَةِ، وَأَمَّا هُوَ فَيُسَبِّحُ سَوَاءٌ كَانَ رَطْبًا أَوْ يَابِسًا؛ لَكِنَّ تَسْبِيحَ الرَّطْبِ أَكْثَرُ مِنْ الْيَابِسِ، وَيُصَرِّحُ بِهِ مَا وَرَدَ إنَّ الْمَلَائِكَةَ تَسْتَغْفِرُ لَهُ لَكِنَّ ظَاهِرَ كَلَامِ الشَّارِحِ أَنَّ الِاسْتِغْفَارَ مِنْ الْجَرِيدِ، فَيُحَرَّرُ

Artinya, “(Unsur manfaat itu adalah istighfar) dari malaikat. Malaikat sebenarnya bertasbih (untuk ahli kubur) ketika dahan itu basah maupun kering. Tetapi tasbih malaikat saat dahan basah lebih banyak daripada saat dahan mengering. Hal ini didukung secara lugas oleh riwayat hadits, ‘Sungguh malaikat memintakan ampun bagi ahli kubur.’ Tetapi teks penulis syarah (Al-Khatib) secara lahiriah dipahami bahwa permintaan ampun itu datang dari dahan basah tersebut. Hal ini dapat diuraikan,” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 571).

Dari sini, kita dapat menarik simpulan bahwa penaburan kembang dan bunga di atas makam memiliki dasar yang kuat di dalam agama Islam karena dilakukan oleh Rasulullah SAW. Kita mengharapkan penaburan kembang itu mendatangkan rahmat Allah SWT untuk ahli kubur.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Ahad 30 September 2018 8:20 WIB
Hukum Menyiram Air Kembang setelah Pemakaman
Hukum Menyiram Air Kembang setelah Pemakaman
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, kita sering menyediakan sejumlah botoh berisi air kembang (biasanya air mawar) yang disiram di atas kubur setelah pemakaman jenazah. Sebagian orang menyangkal karena praktik ini tidak memiliki dasar dalam agama. Mohon keterangan lebih lanjut. (Abdul Jamil/Jakarta Utara)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Praktik ini bukan tidak berdasar. Praktik menyiram makam dengan air ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika memakamkan anaknya, Ibrahim. Dari sini kemudian ulama menganjurkan masyarakat untuk menyiramkan air di atas kubur seusai pemakaman jenazah.

Yang menjadi soal penolakan praktik ini sesungguhnya bukan pada praktik penyiramannya, tetapi air apa yang digunakan. Kalau yang digunakan air mawar di mana perolehannya tidak bisa didapat begitu saja, tetapi ada biaya yang harus dikeluarkan, maka ini yang menjadi problem.

Karena melihat unsur biaya pada air mawar itu itu yang terbilang mubazir, maka ulama menyatakan kemakruhan atas penggunaan air mawar untuk penyiraman makam.

ويندب أن يرش القبر بماء لانه (ص) فعله بقبر ولده إبراهيم والاولى أن يكون طهورا باردا، وخرج بالماء ماء الورد فالرش به مكروه لانه إضاعة مال

Artinya, “(Kita) Dianjurkan menyiram kubur dengan air karena Rasulullah SAW melakukannya terhadap makam anaknya, Ibrahim. Yang utama, air itu suci dan sejuk. Di luar kategori air adalah air mawar. Menyiram makam dengan air mawar terbilang makruh karena menghambur-hamburkan harta,” (Lihat As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Tuhfatul Habib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 567-570).

Pada dasarnya, air murni sudah memadai untuk digunakan sebagai penyiram makam. Orang yang menyiram makam dengan air murni sudah terbilang mengamalkan sunnah Rasulullah SAW perihal ini.

Adapun penggunaan air mawar dengan membeli beberapa botol atau dituang langsung ke baskom dengan niat menghadirkan malaikat rahmat ke kubur jenazah yang baru saja dimakamkan, tidak menjadi masalah sebagaimana pandangan As-Subki berikut ini.

وقال السبكي: لا بأس باليسير منه إن قصد به حضور الملائكة فإنها تحب الرائحة الطيبة انتهى. ولعل هذا هو المانع من حرمة إضاعة المال

Artinya, “Imam As-Subki mengatakan, tidak masalah kalau menyiram sedikit air mawar dengan harapan mendatangkan malaikat (rahmat) karena mereka menyukai aroma harum. Dan bisa jadi faktor yang mengharamkan menyiram makam dengan air mawar itu adalah unsur penghamburan harta,” (Lihat As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Tuhfatul Habib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 570).

Argumentasi yang dibangun As-Subki tidak terletak pada air murni atau air mawar. Tetapi ia menyorot seberapa banyak air mawar yang digunakan. As-Subki setuju dengan konsep penghambur-hamburan harta atau mubazir dengan penggunaan air mawar.

Menurutnya, kalau air mawar yang digunakan terlalu banyak, tentu saja praktik ini terbilang makruh. Tetapi kalau hanya sedikit, maka sedikitnya itu terbilang jamak atau lazim yang tidak mencapai kadar makruh yang menghambur-hamburkan harta sebagaimana keterangan Sulaiman Al-Bujairimi berikut ini.

وقال السبكي لا بأس بيسير منه الخ) حاصله أنه إن قصد به حضور ملائكة الرحمة فلا كراهة مطلقاً. بل يستحب وإن لم يقصد ؛ فإن كان يسيراً كان مباحاً وإن كان كثيراً كره تنزيهاً م د

Artinya, “(Imam As-Subki mengatakan, tidak masalah kalau menyiram sedikit air mawar…), simpulannya, kalau penyiraman air mawar dimaksudkan untuk menghadirkan malaikat rahmat, maka tidak makruh secara mutlak, bahkan dianjurkan sekali pun tidak diniatkan untuk itu. Jika air mawar yang digunakan untuk menyiram makam itu sedikit, maka hukumnya mubah. Tetapi jika banyak, maka hal itu menjadi makruh tanzih (menyalahi yang utama),” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 570).

Penyiraman air mawar ala kadarnya di atas kubur ini juga dapat dilakukan ketika jenazah telah lama dimakamkan dengan niat mendatangkan malaikat rahmat yang diharapkan dapat menyenangkan ahli kubur.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Ahad 30 September 2018 1:15 WIB
Hukum Zikir dan Doa Berjamaah setelah Shalat Lima Waktu
Hukum Zikir dan Doa Berjamaah setelah Shalat Lima Waktu
(Foto: boston.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, kami terbiasa berzikir dan berdoa bersama setiap kali shalat lima waktu berjamaah di kampung. Hanya saja zikir setelah shalat maghrib dan subuh lebih panjang daripada zikir shalat lainnya. Tetapi di sejumlah perkantoran, kami mendadak salah ketika dipersoalkan oleh sebagian orang saat kami mengamalkannya. Mohon penjelasan. (Rudi/Surabaya)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Doa dan juga zikir sangat dianjurkan kapan dan di mana saja, terlebih lagi setelah shalat lima waktu. Zikir dan doa setelah shalat lima waktu lebih dekat pada ijabah atau pengabulan sebagaimana hadits riwayat At-Tirmidzi berikut ini.

وسئل النبي صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع أي أقرب إلى الإجابة قال جوف الليل ودبر الصلوات المكتوبات رواه الترمذي

Artinya, “Rasulullah SAW ketika ditanya perihal doa yang paling didengar, yaitu doa yang paling dekat dengan ijabah menjawab, ‘(doa) Di tengah malam dan setelah shalat lima waktu,’ HR At-Tirmidzi,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 65).

Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa doa dan zikir setelah shalat lima waktu sebaiknya tidak ditinggalkan karena itu merupakan salah satu waktu ijabah.

Adapun doa dan zikir berjamaah memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah SAW menyebut kehadiran malaikat, kedatangan rahmat, munculnya ketenteraman, dan pujian Allah SWT. Keutamaan ini dikemukakan dalam hadits riwayat Imam Muslim berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم

Artinya, “Dari Abi Hurairah RA dan Abi Said Al-Khudri RA bahwa keduanya telah menyaksikan Nabi SAW bersabda, ‘Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat menyelimuti mereka, dan ketenangan turun di hati mereka, dan Allah menyebut (memuji) mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya,” (HR Muslim).

Zikir dan doa berjamaah dapat dilakukan oleh imam shalat yang kemudian diikuti oleh makmum. Tetapi zikir dan doa berjamaah ini dapat juga dipimpin oleh salah seorang makmum yang kemudian diikuti oleh imam shalat dan makmum lainnya.

Zikir dan doa di waktu malam atau setelah shalat wajib lima waktu dibaca dengan suara perlahan (sirr) jika dilakukan sendiri. Tetapi zikir dan doa dibaca dengan suara lantang (jahar) jika dilakukan secara berjamaah sekadar terdengar oleh mereka sebagaimana keterangan Syekh M Nawawi Banten berikut ini.

ويكون كل منهما سرا لكن يجهر بهما إمام يريد تعليم مأمومين  فإن تعلموا  أسر قال ذلك شيخ الإسلام في فتح الوهاب

Artinya, “Doa dibaca perlahan (sirr) pada keduanya (tengah malam atau setelah shalat wajib), tetapi dibaca lantang (jahar) oleh imam yang ingin ‘mengajarkan’ para makmum. Kalau mereka ‘mempelajarinya’, maka doa dibaca perlahan (sirr). Demikian pandangan Syekhul Islam Abu Zakaria Al-Anshori dalam Fathul Wahhab,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 65).

Kami menyarankan zikir dan doa berjamaah dibaca lantang sekadar terdengar oleh jamaah. Jangan sampai zikir dan doa dibaca terlalu lantang sehingga mengganggu konsentrasi orang yang sedang shalat di dalam area tersebut.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)