IMG-LOGO
Hikmah

Kewalian Gus Dur saat Membeli Durian

Jumat 5 Oktober 2018 13:30 WIB
Kewalian Gus Dur saat Membeli Durian
Suatu ketika Gus Dur (masih menjabat Presiden RI) berkunjung ke Kota Malang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba beliau memerintahkan supirnya untuk berhenti.

"Kita beli duren dulu!!" kata Gus Dur.

Akhirnya rombongan kepresidenan berhenti semua. Setelah membeli beberapa durian, Gus Dur berkata, "Yang di amplop itu berikan ke ibu ini!"

Sang Ajudan seperti tidak percaya dengan apa yang didengar. Sang Ajudan pun mendekati Gus Dur sambil berbisi, "Pak, uang yang di amplop sepuluh juta."

"Iya kasihkan semua!" kata Gus Dur.

Akhirnya Sang Ajudan pun memberikan amplop kepada si penjual durian. Subhanallah, seketika si penjual durian yang notabene adalah seorang ibu yang usianya tidak muda lagi langsung bersimpuh di depan Gus Dur.

"Alhamdulillah... Yaa Allah. Matur nuwun Pak Gus Dur. Niki wau anak kulo mboten pareng dibeto wangsul saking rumah sakit, menawi mboten saget mbayar sedoso juta. Anak kulo dirawat wonten rumah sakit ..." 

(Alhamdulillah... Yaa Allah, Terima kasih Pak Gus Dur. Baru saja anak saya tidak bisa dibawa pulang dari rumah sakit, jika tidak bisa membayar uang sepuluh juta. Anak saya dirawat di rumah sakit). (Awan Kurniawan)


Sumber kisah:
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur
Jumat 5 Oktober 2018 19:0 WIB
Penegasan Nabi Muhammad soal Kejujuran
Penegasan Nabi Muhammad soal Kejujuran
Dimensi sosial tidak terlepas dari ibadah yang diamalkan oleh seorang Muslim. Dengan kata lain, keshalehan individual akan menjadi bermakna jika bisa mewujudkan keshalehan sosial. Hal ini terlihat ketika ibadah puasa yang bersifat sangat pribadi ujung-ujungnya harus diakhiri dengan mengeluarkan zakat, yaitu ibadah yang memiliki dimensi sosial.

Sama halnya shalat yang merupakan ibadah individual, tetap diakhiri dengan salam lalu menengok ke kanan dan ke kiri sebagai simbol memperhatikan lingkungan sosial. Hal ini membuktikan bahwa ibadah vertikal harus diamalkan secara horisontal sehingga tercipta kehidupan yang baik.

Sama halnya seperti ibadah yang berangkat dari individu, sikap jujur dan kejujuran harus berangkat dari individu. Jujur ini sudah tentu berdampak pada kehidupan secara luas, karena ke mana pun melangkah, apapun yang terucap, dan bagaimana pun berperilaku, penting bagi manusia menjunjung tinggi kejujuran.

Dalam buku Khutbah-khutbah Imam Besar (2018), Pakar bidang Tafsir Prof KH Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Nabi Muhammad pernah menegaskan ‘ibda’ bi nafsik (mulailah dari diri sendiri). Dalam Al-Qur’an juga ada penegasan, kafa bi nafsik al-yauma hasiba (cukuplah dirimu sendiri sebagai penghisab, penentu terhadapmu).

Dari penegasan Nabi Muhammad dan wahyu Allah SWT tersebut menggambarkan bahwa pada akhirnya diri pribadi manusia yang lebih tahu, apakah sesungguhnya diri pribadi manusia menjadi faktor terjadinya sebuah konflik dikarenakan kebohongan yang kita sebarkan. Apalagi di era digital seperti sekarang di mana informasi mudah kita dapat, mudah kita buat, dan mudah kita sebarkan sendiri.

Oleh kaum Quraisy pra-Islam, Nabi Muhammad SAW mendapat julukan Al-Amin, orang yang dapat dipercaya, artinya manusia yang sangat jujur hingga mendapat predikat terhormat di antara kaumnya. Muhammad memulainya dari sendiri dan berdampak pada kebaikan untuk orang lain dan orang-orang di sekitarnya.

Muhammad muda (12 tahun) kerap mengikuti pamannya Abdul Muthalib untuk berdagang. Bahkan kadang-kadang ia ikut berdagang hingga ke negeri jauh seperti Syam (Suriah). Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah, tidak seperti pedagang pada umumnya, dalam berdagang Muhammad dikenal sangat jujur, tidak pernah menipu baik pembeli maupun majikannya.

Muhammad juga tidak pernah mengurangi timbangan atau pun takaran. Muhammad juga tidak pernah memberikan janji-janji yang berlebihan, apalagi bersumpah palsu. Semua transaksi dilakukan atas dasar sukarela, diiringi dengan ijab kabul. Muhammad pernah tidak  melakukan  sumpah untuk menyakinkan  apa yang dikatakannya, termasuk  menggunakan nama Tuhan.

Pernah suatu ketika Muhammad berselisih paham dengan salah seorang pembeli. Saat itu Muhammad menjual dagangan di Syam, ia bersitegang dengan salah satu pembelinya  terkait  kondisi  barang yang  dipilih oleh pembeli tersebut. Calon pembeli berkata kepada Muhammad, “Bersumpahlah demi Lata dan Uzza!” Muhammad menjawab, “Aku tidak pernah bersumpah atas  nama  Lata dan Uzza  sebelumnya.”

Kejujuran Muhammad kala itu cukup sebagai prinsip kuat yang dipegang secara mandiri tanpa melibatkan Tuhan sekali pun. Karena baginya, orang akan melihat dan merasakan sendiri terhadap kejujuran yang dipegangnya selama berdagang.

Prinsip Muhammad muda ini tentu saja bertolak belakang dengan fenomena keagamaan simbolik di zaman sekarang. Agama hanya dijadikan simbol, bukan diwujudkan dalam akhlak mulia sehari-hari. Memahami agama secara hitam dan putih dengan menawarkan murahnya surga. Bahkan, Allah SWT dibawa-bawa dalam aktivitas duniawi seperti politik praktis demi kepentingan kelompoknya. Wallahu’alam bisshowab. (Fathoni)
Jumat 5 Oktober 2018 17:45 WIB
Kisah Nabi Musa dan Pendosa yang Mulia di Mata Allah
Kisah Nabi Musa dan Pendosa yang Mulia di Mata Allah
Pada zaman Nabi Musa, pernah terjadi masyarakat ramai-ramai menolak memandikan dan menguburkan jenazah seorang laki-laki. Di mata orang-orang, lelaki ini tak lebih dari sampah masyarakat. Perilakunya fasiq. Gemar melakukan dosa besar ataupun dosa kecil secara terus-menerus. Tak hanya menolak mengurus jenazahnya, masyarakat bahkan menyeret kaki mayat lelaki tersebut lalu membuangnya di gundukan kotoran hewan.

Atas kejadian ini, Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa. 

“Hai Musa. Di kampung Fulan, ada seorang laki-laki meninggal dunia, sedang ia dibuang pada tumpukan kotoran hewan. Masyarakat tidak ada yang mau memandikan, mengafani dan menguburkannya. Padahal yang mati itu adalah satu di antara kekasih-Ku. Datangilah dia. Kamu mandikan, kafani, shalatkan, dan kebumikan orang itu.”

Usai mendapatkan perintah demikian, Nabi Musa menuju lokasi yang dikehendaki. Nabi Musa mencoba bertanya tentang siapa sebenarnya orang yang baru saja meninggal tersebut kepada warga sekitar. 

“Oh, itu dia sikapnya begini, begini. Dia adalah orang fasiq. Suka menampakkan perilaku dosa besarnya kepada masyarakat dengan terus terang,” jelas warga sekitar mengomentari si mayat yang dimaksud.

“Bisakah saya ditunjukkan di mana letak mayat itu berada? Allah menyuruhku datang ke sini semata-mata karena lelaki itu,” pinta Musa. 

Nabi Musa bersama orang-orang sekitar pun akhirnya sampai di lokasi keberadaan mayat. Beliau melihat ada janazah terbuang di atas kotoran hewan serta mendengar keterangan buruknya perilaku si mayat seolah-olah si mayat memang di masa hidupnya menjadi sampah masyarakat. Nabi Musa kemudian bermunajat kepada Allah. 

“Wahai Tuhanku. Engkau telah menyuruhku menshalati dan mengebumikan mayat lelaki ini. Namun masyarakat sekitar jelas-jelas menyaksikan bahwa mayat ini adalah orang buruk. Engkaulah yang paling tahu apakah janazah ini patut dipuji atau dicela.”

Mendapat aduan demikian, Allah menjawab, “Ya Musa, memang benar apa yang diceritakan masyarakat sekitar tentang perilaku buruk mayat tersebut semasa hidupnya. Namun, saat akan wafat, dia telah meminta pertolongan kepadaku  dengan tiga hal. Andai saja tiga hal ini semua orang yang berlumur dosa memimntanya kepadaku, pasti aku akan mengabulkannya. Bagaimana mungkin aku tidak mengasihi dia, sedang ia sudah meminta belas kasihan kepadaku, padahal Aku adalah Dzat yang Mahakasih dari semua yang bisa berbelas kasih.” 

Nabi Musa kembali bertanya kepada Allah. “Apa tiga hal tersebut, ya Allah?.”

Allah menjawab, pertama, saat mendekati waktu wafatnya, lelaki ini berkata, “Ya Tuhan, Engkau Mahatahu tentang kepribadianku. Aku adalah pelaku aneka macam maksiat. Meski begitu, hatiku begitu benci terhadap kemaksiatan. Aku melakukan maksiat karena tiga hal, yaitu dorongan hawa nafsuku yang membara. Aku tidak kuat mengendalikannya, sehingga aku terjerumus melakukan maksiat. Selain itu, teman-teman, komunitas, serta lingkunganku yang buruk, pengaruh godaan iblis, semuanya menjadikan aku jatuh ke lembah kemaksiatan. Sungguh, Engkau mengetahui tentang diriku ini atas apa yang telah aku adukan. Maka, ampunilah hamba-Mu ini.” 

Kedua, sebelum wafat, lelaki tersebut juga berkata, “Ya Tuhan, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku pelaku aneka macam kemaksiatan. Kedudukanku, derajatku, pasti setara dengan orang-orang fasiq. Namun, meski begitu, dalam hatiku, aku lebih suka berteman dengan orang-orang shalih. Aku suka cara-cara mereka menjauhkan hati dari gebyar gemerlap duniawi (zuhud). Sejatinya aku suka duduk bersama mereka. Hal tersebut lebih aku cintai daripada hidup bersama para pelaku dosa.”

Ketiga, dia juga berkata begini, “Ya Tuhan. Engkau pastinya tahu bahwa orang-orang shalih lebih aku cintai daripada orang-orang fasiq. Sehingga andai saja ada dua orang yang satu shalih dan yang satu buruk di depan mataku, pasti aku akan mendahulukan kebutuhan orang shalih daripada orang jelek.” 

Riwayat dari Wahb bin Munabbah mengatakan, lelaki itu juga berkata kepada Allah, “Ya Allah, jika Engkau mengampuni semua dosa-dosaku, para kekasih dan nabi-Mu pasti akan bangga. Mereka akan bergembira. Setan yang menjadi musuhku dan musuh-Mu pasti akan bersedih hati. Jika Engkau menyiksaku sebab aneka macam dosa yang aku perbuat, setan dan teman-temannya akan bergembira ria. Sedangkan para nabi dan wali-wali-Mu akan menjadi sedih. Padahal aku yakin, kebahagiaan kekasih-Mu lebih Engkau sukai daripada kebahagiaan setan-setan. Ampunilah dosaku, Tuhan. Engkau sangat tahu atas apa yang aku sampaikan. Berikan aku belaskasihan-Mu.” 

“Dengan demikian,” kata Allah, “Aku belas-kasihani dia. Aku ampuni dosa-dosanya, karena Aku Maha-pengasih dan penyayang terlebih kepada orang yang mengakui atas dosanya di hadapan-Ku. Nah, orang ini telah mengakui dosanya, aku ampuni dia. Hai Musa, lakukan apa yang aku perintahkan. Atas kehormatannya, Aku ampuni siapa pun yang menyalati janazahnya dan hadir pada pemakamannya.” (Muhammad bin Abu Bakar, al-Mawâ’idh al-Ushfûriyyah, halaman 3)

Pada cerita di atas, dapat kita ambil pelajaran, pertama, kita tidak boleh memvonis siapa pun sebagai ahli neraka. Karena urusan surga dan neraka merupakan urusan Allah. Kita hanya perlu menyikapi satu hal secara lahiriyahnya saja. 

Kedua, orang yang meninggal dalam keadaan Islam, walaupun semasa hidupnya bergelimang kemaksiatan, ia tetap harus dirawat sebagaimana janazah orang Muslim pada umumnya.

Ketiga, kita perlu waspada kepada siapa saja untuk tidak berprasangka buruk kepada mereka. Sehingga kita menjadi merasa lebih baik daripada mereka. Siapa tahu, orang yang buruk itu karena mereka pandai mengolah hati serta rasa, mereka lebih dicintai Allah daripada kita. 

Keempat, sikap kita, saat bertemu dengan orang yang nyata melakukan kemungkaran adalah bukan dengan cara mencaci makinya. Namun, ingkar di hati seraya mendoakan kepada Allah supaya diberikan hidayah-Nya. Andai saja ternyata dia lebih baik dari kita, kita berharap, doa tersebut menjadi pintu Allah mengampuni kita sebab kita mengasihi sesama  saudara kita. 

Kelima, berpikir, bermunajat, berbisik, berusaha berkomunikasi dengan Allah akan membukakan banyak jalan kita kepada Allah subhânahu wa ta’âlâ. (Ahmad Mundzir)

Selasa 2 Oktober 2018 15:30 WIB
Mendidik Anak ala KH Abdullah Salam Kajen
Mendidik Anak ala KH Abdullah Salam Kajen
KH Abdullah Salam Kajen (ist)
Anak adalah permata dunia yang tidak ternilai bagi orang tua, agama, dan bangsa. Mendidiknya menjadi permata adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Membiarkannya hanyut sebagai batu atau sampah adalah dosa yang dipertanggungjawabkan dunia-akhirat. 

Mbah Dullah Salam Kajen sukses mendidik anak-anaknya menjadi Sholeh-Sholehah. Berikut metode mendidik anak menurut KH Abdullah Salam atau Mbah Dullah Salam Kajen, Pati, Jawa Tengah. 

Pertama, ketika bersedekah diniati untuk anak. Sedekah dalam bentuk apapun dan dengan kadar berapapun jangan lupa pahalanya dihadiahkan untuk anak. Orang tau dan Kakek anak pasti dapat pahala karena bersedekah menunjukkan orang tua adalah anak shaleh yang orangtuanya orang tua (kakek-neneknya) mendapat transfer atau bagi hasil pahala sebagai salah amal yang pahalanya tidak terputus. 

Kedua, jangan memanjakan anak. Mbah Dullah sangat tegas, disiplin, dan masang target yang tinggi kepada anak-anak. Anak sejak kecil dibiasakan disiplin dalam shalat jamaah, membaca Al Qur'an, dan berperilaku yang baik supaya terbangun karakter kokoh yang tidak luntur oleh godaan apapun sepanjang hayat. 

Ketiga, jangan Suka Memuji Anak. Memuji anak bisa menjadikan mentalnya tidak bagus, seperti ada rasa sombong dan merasa lebih dibanding yang lain. Anak dilatih rendah hati dan merasa diri bodoh, sehingga semangat mencari pengetahuan terus bergelora di dada. 

Keempat, mendidik anak sepanjang hayat. Mendidik anak tidak hanya waktu kecil, tapi sepanjang orang tua masih bisa mendidik anak, meskipun anaknya sudah besar, sudah punya anak banyak, tetap dididik karena tanggungjawab mendidik anak adalah dunia akhirat yang tidak ada kata putus, lahir dan batin. 

Kelima, suruh anak fokus dalam satu bidang, sehingga anak mampu menjadi icon bidang tersebut. Dalam bahasa Inggris be professional one, every body will see you, jadilah orang yang profesional dalam satu bidang, maka semua orang akan melihatmu. 

Putra putri Mbah Dullah berhasil menjadi ikon bidang Al-Qur’an yang menjadi rujukan kader-kader muda bangsa. Semoga anak-anak kita menjadi generasi Sholeh-Sholehah dunia akhirat, Amiin Yaa Rabbal Alamiin. 

Jamal Ma'mur Asmani, Dosen Institut Pesantren Mathai’ul Falah (IPMAFA) Pati