IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

8 Keistimewaan Rasulullah Saat di Akhirat

Jumat 5 Oktober 2018 21:0 WIB
8 Keistimewaan Rasulullah Saat di Akhirat
Rasulullah adalah orang yang istimewa. Ia nabi dan rasul terakhir Allah di muka bumi ini. Ajaran agama Islam yang dibawanya menjadi penyempurna atas ajaran Tauhid yang dibawa para nabi da rasul sebelumnya. Oleh sebab itu, Allah memberikan kekhususan atau keistimewaan kepada Rasulullah. Sesuatu yang hanya ada dan berlaku pada Rasulullah, tidak pada nabi, rasul atau pun manusia yang lainnya. 

Keistimewaan Rasulullah tidak hanya ketika beliau berada di dunia seperti menjadi rahmat bagi semesta alam, dihalalkan harta rampasan perang baginya dan pengikutnya, menjadi penutup para nabi, dan lainnya, namun juga saat di akhirat kelak. Merujuk kitab Syakhshiyatur Rasul, setidaknya ada delapan kekhususan atau keistimewaan yang diberikan Allah kepada Rasulullah di akhirat kelak.

Pertama, orang yang pertama dibangkitkan. Di dalam Islam, dunia adalah ladang amal. Sementara akhirat adalah ladang panen. Jadi, umat manusia yang meninggal pasti akan dibangkitkan kembali di akhirat kelak untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Siapa yang dibangkitkan paling awal ternyata tidak tergantung siapa yang dulu meninggal. Berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah adalah orang yang pertama dibangkitkan di akhirat nanti.

“Aku adalah penghulu dari seluruh anak adam di hari kiamat. Aku orang pertama yang dibelah kuburnya,” kata Rasulullah.

Kedua, pemberi syafaat. Di hari kiamat nanti, manusia berbondong-bondong mendatangi para nabi dan rasul untuk meminta syafaatnya. Namun, nabi dan rasul yang didatangi tidak bisa memberikan syafaat. Kemudian mereka mendatangi Rasulullah untuk meminta syafaatnya. Karena Rasulullah adalah satu-satunya orang diberi hak untuk memberikan syafaat, maka beliau memintakan ampun agar mereka terbebas dari siksa api neraka.

Ketiga, pembawa bendera Al-Hamdu. Dikisahkan bahwa pada saat hari kiamat nanti manusia ditempatkan di padang mahsyar. Mereka berkumpul di bawah bendera orang yang diikutinya dan dicintainya. Pada saat itu, Rasulullah membawa bendera Al-Hamdu (pujian). Sebuah bendera yang paling tinggi dan paling mulia. Pada nabi dan rasul pun berkumpul di bawah bendera Al-Hamdu ini.

Keempat, delegasi yang berbicara atas nama makhluk seluruhnya. Di akhirat, Rasulullah adalah pemimpin seluruh makhluk. Ia menjadi juru bicara seluruh makhluk di hadapan Allah swt. 

“Pada hari kiamat aku menjadi imam para nabi, khatib mereka dan pemilik syafaat mereka tanpa kesombongan,” ucap Rasulullah.

Kelima, orang pertama yang melewati jembatan neraka. Disebutkan bahwa nanti di akhirat ada jembatan (sirath) yang dibentangkan antara tepi neraka jahanam, Rasulullah adalah orang pertama yang berhasil melewati jembatan tersebut. Umatnya mengikutinya di belakangnya.

Keenam, orang yang pertama memasuki surga. Rasulullah adalah orang yang pertama kali mengetuk pintu surga dan yang pertama kali memasukinya. Bahkan, di dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa malaikat tidak akan membukakan pintu surga kecuali Rasulullah yang mengetuk dan memasukinya untuk pertama kali. 

Ketujuh, orang yang memiliki derajat paling tinggi di surga. Allah swt. memberikan  Rasulullah derajat yang paling tinggi di surga kelak. Apapun yang diminta Rasulullah, pasti akan dikabulkan Allah. 

“Barang siapa yang memohon kepadaku ‘Al-Wasilah’ maka pasti mendapatkan syafaat dariku,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Muslim.

Terakhir, pemilik telaga al-Kautsar. Rasulullah adalah satu-satunya orang yang diberikan telaga al-Kautsar oleh Allah. Bahkan nabi dan rasul lainnya pun tidak mendapatkannya. 

“Ketika aku berjalan di surga, tiba-tiba aku melihat sungai yang kedua sisinya bangunan dan permata lu’lu’ yang memiliki lubang. Aku (Rasulullah) bertanya: Wahai Jibril apa ini? Dia menjawab: Ini ada al-Kautsar yang dianugerahkan Tuhanmu kepadamu. Tanahnya atau wewangiannya dari minyak misk yang sangat wangi,” kata Rasulullah hadits riwayat Bukhari. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 4 Oktober 2018 21:0 WIB
Rasulullah Pun Memahami Bahasa Hewan
Rasulullah Pun Memahami Bahasa Hewan
Salah satu mukjizat Nabi Sulaiman as.adalah mampu berbicara dan memahami bahasa hewan. Dalam beberapa literatur Islam –utamanya Al-Qur’an Surat An-Naml, Nabi Sulaiman dikisahkan bisa berinteraksi dengan beberapa hewan seperti burung dan semut. Hewan-hewan tersebut paham apa yang disampaikan Nabi Sulaiman. Begitu pun sebaliknya. 

Tapi kemampuan memahami dan berinteraksi dengan hewan tidak hanya dimiliki Nabi Sulaiman saja. Nabi Muhammad saw. juga memiliki kemampuan yang sama. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud sebagaimana yang tertera dalam kitab Syakshiyatur Rasul, dikisahkan Rasulullah berinteraksi dengan seekor unta.

Diceritakan, suatu hari Rasulullah masuk ke dalam sebuah kebun kurma miliki seorang Anshar. Di kebun tersebut, didapati ada seekor unta yang tengah menangis mengeluarkan air mata ketika melihat Rasulullah. Penasaran dengan hal itu, Rasulullah kemudian mendekati unta tersebut. Setelah diusap pundaknya, unta tersebut menjadi diam. Pada kesempatan itu, si unta mengadu Rasulullah bahwa ia kelaparan dan kelelahan. 

Kemudian Rasulullah menanyakan siapa pemilik unta tersebut. Setelah diketahui bahwa pemilik unta tersebut adalah si fulan, Rasulullah memerintahkannya untuk merawat dan memeliharanya dengan baik. Jangan sampai membuat hewan peliharaan tidak terurus dengan baik.

Kisah Rasulullah berinteraksi dengan hewan juga tertera dalam sebuah hadits riwayat Ahmad. Dalam hadits tersebut, Rasulullah berhasil ‘menaklukkan’ seekor unta yang terkenal galak dan beringas. 

Dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah memasuki sebuah kebun miliki Bani Najjar yang didalamnya ada seekor unta galak. Dari cerita yang beredar, unta tersebut akan menyerang siapapun yang masuk ke dalam kebun. Akan tetapi hal itu tidak terjadi ketika Rasulullah memasuki kebun. Pada saat Rasulullah memanggilnya, unta tersebut nurut dan tidak menyerang. Bahkan, si unta menjulurkan lidahnya ke tanah hingga menderum di hadapan Rasulullah. Langsung saja Rasulullah memerintahkan kepada pemiliknya untuk mengikatnya. 

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun antara langit dan bumi melainkan pasti mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah Rasulullah, kecuali makhluk yang bermaksiat dari jin dan manusia,” kata Rasulullah usai berhasil menjinakkan unta galak tersebut.

Di samping itu, Rasulullah juga memiliki kemampuan luar biasa lainnya seperti membelah bulan, mengeluarkan air dari ujung jari-jari, menyembuhkan penyakit, ‘memperbanyak’ makanan, dan lainnya. Meski demikian, Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Rasulullah. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 3 Oktober 2018 6:0 WIB
Kisah Heraclius, Muawiyah, dan Sejumlah Pertanyaan Tersulit
Kisah Heraclius, Muawiyah, dan Sejumlah Pertanyaan Tersulit
Ilustrasi: Shutterstock
Nama lengkapnya Flavius Heraclius Augustus. Seorang putra dari pasangan Constan II dan Fausta. Ia menjadi penguasa tertinggi Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium pada sejak 5 Oktober 610 M hingga 11 Februari 641 M. Tercatat, beberapa kali Heraclius bersitegang dengan kaum Muslim. Salah satunya pada saat Perang Yarmuk, pertempuran yang terjadi empat tahun setelah Nabi Muhammad saw. wafat.

Setelah mengetahui Damaskus dan Emesa jatuh lepas dari kekuasaan Bizantium, Heraclius memimpin langsung puluhan hingga ratusan ribu pasukan melawan kaum Muslim. Hingga akhirnya terjadi lah Pertempuran Yarmuk yang terjadi di sekitar Sungai Yarmuk, Yordania. Meski menang dalam jumlah pasukannya, namun peperangan dimenangkan pihak kaum Muslim.

Dalam bukunya The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, Edward Gibbon menilai bahwa Heraclius adalah salah seorang pemimpin yang luar biasa. Namun sayangnya, ia tidak konsisten. Di akhir pemerintahannya, Heraclius menjadi kemalasan, takhayul, dan tidak berdaya melawan malapetaka.

Dikisahkan bahwa suatu ketika Heraclius mengajukan beberapa pertanyaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, Khalifah pertama Dinasti Umayyah. Entah apa maksud pengajuan pertanyaan tersebut. Apakah untuk mengujinya atau betul-betul ingin mendapatkan jawaban. Namun yang pasti, sederet pertanyaan tersebut sangat sulit hingga membuat Muawiyah mengernyitkan dahi. 

Berikut pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam surat Heraclius untuk Muawiyah sebagaimana yang tertera dalam buku Islamic Golden Stories: Para Pemimpin yang Menjaga Amanah:

Salam Sejahtera kami sampaikan kepada Anda. Mohon kiranya Anda memberitahukan kepada kami, ucapan apa yang paling disenangi Tuhan, kedua, ketiga, keempat, dan kelima? Siapa hamba yang paling mulia? Siapa perempuan yang paling mulia? Ada empat hal yang di dalamnya terdapat ruh, tetapi tidak bersemayam dalam rahim? Kubur apa yang berjalan membawa penghuninya?

Muawiyah bin Abu Sufyan langsung memanggil para ulama penasihatnya. Namun sayang, tak satu pun dari mereka yang bisa menjawab sederet pertanyaan dari Heraclius tersebut. Lalu satu dari mereka ada yang usul agar sang khalifah menanyakannya kepada Abdullah bin Abbas. Seseorang sahabat Nabi Muhammad yang sangat cerdas, alim, dan memiliki kekuatan hafalan yang kuat. Saudara sepupu Nabi Muhammad ini dikenal sebagai seorang ahli tafsir Al-Qur’an.

Muawiyah bin Abu Sufyan mengirimkan utusan ke Abdullah bin Abbas dengan membawa beberapa pertanyaan dari Heraclius tersebut. Abdullah bin Abbas kemudian membalas surat Muawiyah dengan menyertakan jawaban. Ucapan yang paling disukai Allah adalah La ilaha illa Allah (Tiada Tuhan selain Allah). Alasannya, kalimat tersebut menjadi dasar atas diterimanya semua amal perbuatan. Ucapan kedua adalah Subhanallah (Maha Suci Allah). Menurut Abdullah bin Abbas, semua makhluk di alam semesta ini shalat dengan cara mengucapkan lafal  Subhanallah.

Selanjutnya adalah Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah). Keempat adalah Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Dan terakhir La haula wala quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya selain dengan daya dan upaya Allah).

Abdullah bin Abbas menjawab, Adam as. adalah hamba yang paling mulia. Mengapa? Karena Nabi Adam as. diciptakan langsung Allah dan diajarkan beberapa nama. Sementara Maryam adalah perempuan yang paling mulia di dunia ini. 

Untuk pertanyaan Ada empat hal yang di dalamnya terdapat ruh, tetapi tidak bersemayam dalam rahim?, Abdullah bin Abbas menjawab Nabi Adam as., Hawa, tongkat Nabi Musa as., dan domba korban Nabi Ibrahim. Adapun pertanyaan terakhir; kubur yang membawa penghuninya adalah perut ikan paus yang menelan Nabi Yunus as.

Muawiyah bin Abi Sufyan merasa puas dengan jawaban-jawaban yang diperoleh dari Abdullah bin Abbas tersebut. Jawaban itu kemudian dikirim ke Heraclius yang berada di Konstantinopel. (Muchlishon)
Senin 1 Oktober 2018 19:0 WIB
Sikap Rasulullah kepada Tetangga
Sikap Rasulullah kepada Tetangga
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR Bukhari-Muslim).

Ada banyak hadits tentang tetangga yang telah disabdakan Rasulullah. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim di atas. Di situ, Rasulullah jelas dan tegas menyerukan kepada mereka yang mengaku beriman kepada Allah untuk berbuat baik kepada tetangga, bukan malah memusuhinya.

Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak bisa hidup sendirian, butuh orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Dan tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kehidupan kita. Bahkan -karena rumahnya yang dekat dengan rumah kita- tetangga lebih mengetahui segala tingkah polah kita, dibandingkan keluarga sendiri yang tinggal berjauhan.

Tetangga memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Mereka harus disayangi dan diperlakukan dengan baik. Dalam hadits Rasulullah yang lain disebutkan bahwa seorang dianggap Muslim manakala mereka berbuat baik kepada tetangganya. Akan tetapi, tidak semua orang orang memiliki hubungan yang harmonis dengan tetangganya. Tidak sedikit dari mereka yang musuh-musuhan dengan tetangganya karena suatu persoalan.

Dalam hal memuliakan dan berbuat kepada tetangga, Rasulullah telah memberikan teladan yang baik kepada kita. Dikisahkan, suatu ketika pada saat Abu Hurairah kelaparan Rasulullah lewat di depannya. Kemudian Rasulullah meminta Abu Hurairah untuk mengikutinya. Sesampai di suatu tempat, Abu Hurairah  mendapati ada susu setempayan. 

Rupanya harapan Abu Hurairah meleset. Rasulullah tidak langsung memintanya untuk meminum susu. Malah Rasulullah menyuruh Abu Hurairah untuk memanggil ahli shuffah, tetangga Rasulullah yang sangat miskin, lemah, dan tidak memiliki tempat tinggal. Mereka menjadi tetangga Rasulullah karena tinggal di emperan Masjid Nabawi. Sementara rumah Rasulullah menyatu dengan Masjid Nabawi.  

“Pergilah ke ahli shuffah, undang mereka ke sini,” perintah Rasulullah kepada Abu Hurairah, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad.

Pada saat ahli shuffah datang, Rasulullah langsung menyuruh mereka untuk meminum susu tersebut. Satu per satu ahli shuffah meminum susu tersebut sampai puas. Setelah semuanya kebagian, Rasulullah menyuruh Abu Hurairah untuk meminum sisa susunya hingga puas. Rasulullah sendiri juga meminum susu sisa ahli shuffah itu. 

Iya, Rasulullah adalah orang yang sangat perhatian dengan tetangganya. Apakah tetangganya sudah makan atau belum. Rasulullah tidak membiarkan dirinya kenyang sendiri sementara tetangganya dalam keadaan kelaparan. Perhatian Rasulullah dalam hal ini juga ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari: Bukanlah seorang Mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.

Apabila menerima hadiah, Rasulullah memberi sebagian untuk istrinya dan sebagian yang lain untuk tetangganya, ahli shuffah. Sementara jika menerima sedekah, Rasulullah langsung memberikan semua kepada tetangganya tanpa mengambilnya sedikitpun. Dikisahkan, suatu ketika Fatimah meminta bagian sedekah dari Rasulullah. Rasulullah menolaknya, meski Fatimah pada saat itu sangat membutuhkan. Rasulullah lalu memberikan semua harta sedekah itu kepada ahli shuffah.  

Rasulullah juga sangat menjaga ucapan dan perkataan agar tidak menyakiti tetangganya. Apalagi menggunjing dan membuka aib tetangga di depan khalayak umum. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Rasulullah menegaskan: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.

Lalu, apa yang harus dilakukan apabila tetangga berbuat jahat kepada kita? Dalam hal ini pun Rasulullah sudah memberikan rambu-rambu. Rasulullah menyarankan untuk tetap berbuat baik kepadanya dan bersabar. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah menuturkan bahwa salah satu orang yang dicintai Allah adalah mereka yang tetap bersabar meski tetangganya menyakitinya. (A Muchlishon Rochmat)