IMG-LOGO
Trending Now:
Jenazah

Hukum Mengubur Jenazah Korban Bencana Tanpa Menghadap Kiblat

Ahad 7 Oktober 2018 10:0 WIB
Share:
Hukum Mengubur Jenazah Korban Bencana Tanpa Menghadap Kiblat
Dalam tayangan live di salah satu stasiun TV swasta, penulis sempat membahas hal ihwal tentang Fiqih Bencana, mulai dari bagaimana seharusnya kita menyikapi suatu bencana alam yang terjadi, ayat dan hadits yang berkaitan dengannya.

Utamanya adalah bagaimana menjadikan bencana alam sebagai media yang dapat menyatukan kita sebagai anak bangsa untuk bersatu dalam satu frame kemanusiaan. Namun di luar itu ada pertanyaan menarik dari salah seorang pemirsa asal Nusa Tenggara Barat (NTB), H Lulu, berkaitan dengan pemakaman massal korban bencana alam yang dilakukan tidak sebagaimana umumnya, yaitu jenazah tidak menghadap kiblat, bagaimana hukumnya? 

Pendapat Mazhab Syafi’i
Menurut pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah hukum menghadapkan jenazah ke arah kiblat di dalam liang lahad adalah wajib. Bahkan ketika tidak diperlakukan seperti itu dan liang kubur terlanjur ditutup, maka wajib menggalinya untuk menghadapkannya ke arah kiblat selama jenazah tersebut belum berubah (mulai membusuk), sebagaimana dikatakan oleh pakar fiqih dan hadits asal Hauran Suriah Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi (631-676 H/1233-1277 M):

وَوَضْعُهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَاجِبٌ، كَذَا قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ. قَالُوا: فَلَوْ دُفِنَ مُسْتَدْبِرًا أَوْ مُسْتَلْقِيًا نُبِشَ وَوُجِّهَ إِلَى الْقِبْلَةِ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ. فَإِنْ تَغَيَّرَ لَمْ يُنْبَشُ.

Artinya, “Dan meletakkan mayit menghadap kiblat hukumnya wajib, demikian jumhur ulama memastikan hukumnya. Mereka berpendapat: “Andaikan mayit dikubur dengan membelakangi kiblat atau terlentang, maka harus digali dan dihadapkan ke arah kiblat selama belum berubah. Bila sudah berubah maka tidak boleh digali,” (Lihat An-Nawawi, Raudhat Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, [Beirut, Al-Maktab Al-Islami: 1405 H], juz II, halaman 134).

Namun demikian, dalam mazhab Syafi’i terdapat pula ulama yang berpendapat bahwa hukum menghadapkan jenazah ke arah kiblat di dalam liang lahad hanya sunnah. Adalah tokoh fiqih Syafi’i kenamaan pada masanya asal Thabaristan, Al-Qadhi Abu At-Thayyib Thahir bin Abdillah At-Thabari (348-450 H) dalam Kitab Al-Mujarrad sebagaimana disampaikan pula oleh Imam An-Nawawi:

اَلتَّوْجِيهُ إِلَى الْقِبْلَةِ سُنَّةٌ. فَلَوْ تُرِكَ اسْتُحِبَّ أَنْ يُنْبَشَ وَيُوَجَّهَ وَلَا يَجِبَ

Artinya, “Menghadapkan ke arah kiblat jenazah (di dalam liang kubur) hukumnya sunnah. Sebab itu, andaikan tidak dilakukan maka sunnah digali dan dihadapkan ke arah kiblat, dan hal itu tidak wajib,” (Lihat An-Nawawi, Raudhat Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, [Beirut, Al-Maktab Al-Islami: 1405 H], juz II, halaman 134).

Namun demikian, pendapat ini terkadang menjadi bermasalah bagi orang yang disiplin dalam bermazhab. Sebab pendapat Al-Qadhi oleh Imam An-Nawawi sendiri dikategorikan sebagai muqabilus shahih (yang berbandingan/berlawanan dengan pendapat yang shahih di dalam mazhab Syafi’i) sehingga tidak bisa diamalkan, (Lihat Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, [Beirut, Darul Fikr: tanpa keterangan tahun], juz V, halaman 293).

Lalu apakah pendapat tersebut benar-benar tidak boleh diamalkan? Berkaiatan dengan hal ini, menarik sekali kita simak penjelasan Syekh Al-Qulyubi (wafat 1069 H/1659 M) yang menyatakan bahwa pendapat muqabilus shahih tetap boleh diamalkan. Ia berkata:

قَوْلُهُ (مُشْعِرٌ) أَيْ مِنْ حَيْثُ اللَّفْظُ لَا أَنَّ مُقَابِلَهُ فَاسِدٌ مِنْ حَيْثُ الْحُكْمُ لِمَا مَرَّ مِنْ جَوَازِ الْعَمَلِ بِهِ

Artinya, “Ungkapan Al-Mahalli, ‘Mengisyaratkan fasidnya muqabilus shahih’, maksudnya dari tinjauan lafalnya. Bukan berarti muqabilus shahih rusak dari tinjauan hukumnya, karena alasan yang telah disebutkan di depan, yaitu boleh mengamalkannya,” (Lihat Ahmad bin Ahmad Al-Qulyubi, Hasyiyatul Qulyubi pada Hasyiyatu Qulyubi wa Umairah, [Beirut, Dar Ihya` Al-Kutub Al-‘Arabiyah: tanpa keterangan tahun], juz I, halaman 14).

Dengan demikian diketahui, bahwa terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab Syafi’i berkaitan dengan hukum menghadapkan jenazah ke arah kiblat di dalam liang lahad. Menurut mayoritas ulama, hokum menghadapkan jenazah ke arah kiblat adalah wajib. Tetapi menurut Al-Qadhi Abu Thayyib, itu hanya sunnah. Kedua pendapat ini pun boleh diamalkan.

Mazhab Selain Syafi’i
Menurut mazhab Maliki dan Hanafi, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhayli, hukum menghadapkan jenazah ke arah kiblat di dalam liang lahad adalah sunnah. Ini berbeda dengan mazhab Hanbali yang mewajibkannya sebagaimana umumnya ulama mazhab Syafi’i. Semua itu berdasarkan semangat sabda Rasulullah SAW:

قِبْلَتُكُمْ أَحيَاءً وأمواتًا. رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْحَاكِم وَقَالَ صَحِيح الْإِسْنَادِ

Artinya, ‘(Ka’bah adalah) kiblat kalian, kalian dalam kondisi hidup dan mati,’ HR Abu Dawud dan Al-Hakim yang mengatakan, “(Hadits ini) shahih sanadnya,’ (Lihat Ibnul Mulaqqin Umar bin Ali Al-Mishri, Tuhfatul Muhtaj ila Adillatil Minhaj, [Makkah, Daru Harra’: 1406 H], cetakan pertama, tahqiq: Abdullah bin Sa’af al-Lihyani], juz I, halaman 580).

Selain itu, praktik ini juga didasari oleh tradisi penguburan jenazah yang sudah berlangsung sejak generasi salaf hingga sekarang. Nabi Muhammad SAW sendiri pun dimakamkan dengan cara demikian, (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Damaskus, Darul Fikr: tanpa keterangan tahun], cetakan keempat, juz II, halaman 663).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, menurut mayoritas ulama mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali, hukum menghadapkan jenazah ke arah kiblat di dalam liang lahad adalah wajib. sementara menurut sebagian ulama mazhab Syafi’i (Al-Qadhi Abu Thayyib), Maliki dan Hanafi, hokum praktik ini adalah sunnah. Dengan demikian, pertanyaan ‘Bagaimana hukum pemakaman massal korban bencana alam di mana jenazah tidak menghadap kiblat’ sudah terjawab. Wallahu a‘lam. (Ahmad Muntaha AM, Sekretaris LBM NU Jatim)
Share:
Jumat 11 Mei 2018 9:30 WIB
Hukum Menjalankan Wasiat Dikuburkan di Dekat Orang Shalih
Hukum Menjalankan Wasiat Dikuburkan di Dekat Orang Shalih
Ilustrasi (NU Online)
Siapa yang tidak ingin bahagia di dunia dan akhirat? Semua orang pasti menginginkannya. Di antara yang menjadi wasilahnya adalah mencintai orang-orang shalih. Salah satu yang menjadi harapan seorang Muslim adalah agar dikumpulkan kelak di hari akhir beserta para ulama dan orang shalih, sebab hal tersebut adalah tanda bahwa ia mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah.

Beberapa usaha dilakukan agar seseorang dapat dekat dan dikumpulkan bersama orang-orang shalih. Di antaranya adalah dengan berwasiat kepada segenap keluarga agar dimakamkan di dekat maqbarah (pekuburan) seorang kiai atau ulama. Pertanyaannya kemudian, wajibkah bagi ahli waris menjalankan wasiat tersebut?

Baca juga: Empat Perlakuan kepada Orang yang Baru Saja Meninggal
Dekat dengan orang shalih sebagaimana bermanfaat saat masih hidup, juga bermanfaat saat sudah meninggal. Sebagaimana dekat dengan orang ahli maksiat akan menimbulkan efek buruk, baik saat hidup atau meninggal. Oleh sebab itu, ulama menegaskan sunnah mengebumikan mayit di dekat orang shalih, sekalipun sampai harus dipindah keluar daerah. Memindah lokasi pemakaman mayit sampai keluar daerah agar dimakamkan di dekat orang shalih setara dengan tiga tempat mulia, Makkah, Madinah dan Baitul Maqdis dalam hal ketiadaan hukum makruh atau haram, berbeda dengan tempat-tempat lainnya.

Syekh Muhammad al-Ramli mengatakan:

قال الزركشي وغيره أخذا من كلام المحب الطبري وغيره ولا ينبغي التخصيص بالثلاثة لو كان بقرب مقابر أهل الصلاح والخير فالحكم كذلك لأن الشخص يقصد الجار الحسن

“Al-Imam al-Zarkasyi dan yang lain mengatakan, dengan mengambil dari ucapan Syekh al-Muhib at-Thabari, tidak seyogianya menentukan pengecualian dengan ketiga tempat tersebut (Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis), seandainya lokasi pemakaman dipindah di dekat makam-makamnya orang shalih, maka hukumnya sama (sunnah), sebab seseorang menghendaki tetangga yang baik.” (Syekh Muhammad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz.3, hal.38)

Oleh karena mengebumikan di dekat orang shalih adalah hal yang sunnah, maka wajib bagi ahli waris menjalankan wasiat mayit apabila saat hidup ia berwasiat akan hal tersebut, karena jenis wasiat yang demikian tergolong haknya mayit.

Baca juga: Empat Alasan Kuburan Boleh Digali Lagi
Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengutip kitab al-Bughyah beliau mengatakan:

ولو أوصى ان يقبر في محل يكثر فيه الصالحون صحت قال في البغية  (مسألة ب) أوصى بأن يقبر داخل السور بقرب الشيخ الفلاني وجب قبره هناك لندب الوصية بذلك

“Apabila seseorang berwasiat dimakamkan di tempat yang banyak orang shalihnya, maka sah wasiatnya. Dalam kitab al-Bughyah dikatakan, jika seseorang berwasiat untuk dimakamkan di dalam batas desa di dekat makam Syekh tertentu, maka wajib memakamkan di tempat tersebut (sesuai wasiat mayit), karena sunnahnya berwasiat akan hal tersebut.” (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, halaman 570).

Bila wasiat dikebumikan di dekat orang shalih menuntut harus sampai keluar daerah, maka menurut Syekh al-Muhib at-Thabari sebagaimana dikutip Syekh al-Khathib al-Syarbini hukumnya wajib dilaksanakan dengan catatan lokasi pemakaman tidak terlampau jauh sehingga dapat mengakibatkan berubahnya kondisi mayit. Bila sampai mengakibatkan demikian, maka tidak wajib dilakukan bahkan haram, karena merusak kehormatan mayit adalah haram.

Baca juga: Hukum Menunda Penguburan Jenazah
Syekh al-Khathib al-Syarbini menegaskan:

وقال المحب الطبري لا يبعد أن تلحق القرية التي فيها صالحون بالأماكن الثلاثة وذكر أنه لو أوصى بنقله من بلد موته إلى الأماكن الثلاثة لزم تنفيذ وصيته أي عند القرب وأمن التغيير لا مطلقا كما قاله الأذرعي

“Al-Muhib al-Thabari mengatakan, tidak jauh (dari kebenaran) menyamakan desa yang terdapat beberapa orang shalih dengan ketiga tempat mulia tersebut (Mekah, Madinah dan Baitul Maqdis). Beliau juga menyebutkan, apabila berwasiat memindahkan lokasi pemakaman dari tempat kematiannya menuju tiga tempat tersebut, maka wajib melaksanakan wasiatnya, maksudnya ketika tempatnya dekat dan terjamin dari berubahnya mayit, tidak mutlak wajib, sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Adzra’i. (Syekh al-Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, halaman 366)

Demikian penjelasan tentang hukum melaksanakan wasiat mayit untuk dikebumikan di dekat orang shalih. Semoga kita senantiasa dekat dan dikumpulkan dengan orang-orang pilihan-Nya. (M Mubasysyarum Bih)

Senin 26 Februari 2018 18:0 WIB
Aturan Fiqih ketika Galian Kuburan Mengeluarkan Air
Aturan Fiqih ketika Galian Kuburan Mengeluarkan Air
Di antara kewajiban umat Islam terhadap jenazah saudaranya adalah menguburnya. Ini merupakan fardhu kifayah terakhir setelah memandikan, mengafani, dan menshalati. Mengabaikannya sama sekali berakibat dosa kepada umat Islam secara general. Tapi kewajiban tersebut otomatis gugur saat ada sebagaian dari mereka yang sudah menunaikannya.

Dalam prosesnya, kadang kita menemukan fakta tanah yang bakal menjadi tempat dikebumikannya jenazah memiliki kandungan air yang melimpah. Galian tanah mengeluarkan air sehingga dipastikan jenazah akan basah kuyup saat dimasukkan ke liang lahat. Dalam kondisi seperti ini bagaimana seharusnya kita bersikap?

Bila kita tetap dengan sengaja memakamkan jenazah ke dalam kuburan yang mengeluarkan air tersebut maka tindakan kita masuk kategori penghinaan terhadap orang mati, sebagaimana diputuskan dalam Muktamar Ke-4 Nahdlatul Ulama pada 19 September 1929.

Manusia adalah makhluk mulia dan dimuliakan dalam Islam, termasuk ketika ia meninggal dunia. Karena itu jenazah tidak boleh disakiti, termasuk sengaja menenggelamkannya di tanah lumpur penuh air. Sehingga, bila memungkinkan, kita dianjurkan untuk berpindah ke lahan lain yang lebih padat dan tak berair. 

Lalu, bagaimana bila memakamkannya dengan menggunakan peti untuk melindunginya dari air?

Pada dasarnya hukum mengebumikan mayat dengan peti adalah makruh, menurut mayoritas ulama. Namun, dalam kondisi seperti dijelaskan di atas status itu berubah menjadi boleh, bahkan dalam situasi tertentu meningkat menjadi wajib demi kemaslahatan jenazah.

Ibn Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtâj menjelaskan:

 (يُكْرَهُ دَفْنُهُ فِي التَّابُوْتِ) إِجْمَاعًا لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ (إِلاَّ لِعُذْرٍ) كَكَوْنِ الدَّفْنِ فِيْ أَرْضٍ نَدِيَةٍ بِتَخْفِيْفِ التَّحْتِيَّةِ أَوْ رَخْوَةٍ بِكَسْرِ أَوَّلِهِ أَوْ فَتْحِهِ أَوْ بِهَا سَبُعٌ تَحْفُرُ أَرْضَهَا وَاِنْ أُحْكِمَتْ أَوْ تَهَرَّى بِحَيْثُ لاَ يَضْبِطُهُ إِلاَّ التَّابُوْتُ أَوْ كَانَ اِمْرَأَةً لاَ مَحْرَمَ لَهَا فَلاَ يُكْرَهُ لِلْمَصْلَحَةِ بَلْ لاَ يَبْعُدُ وُجُوْبُهُ فِيْ مَسْأَلَةِ السِّبَاعِ اِنْ غَلَبَ وُجُوْدُهَا وَمَسْأَلَةِ التَّهَرِّيْ

Artinya: “Sesuai kesepakatan ulama, dimakruhkan mengubur jenazah dalam peti, karena termasuk bid’ah, kecuali kalau ada uzur, seperti di tanah yang lembab atau gembur berair atau adanya binatang buas yang akan menggalinya walaupun sudah padat yang sekiranya tidak akan bisa terlindungi kecuali dengan dimasukkan dalam peti, atau jenazah wanita yang tidak punya mahram. Dalam hal ini status hukum peti tidak lagi makruh karena alasan kemaslahatan, bahkan bila diperkirakan adanya binatang buas, maka hukumnya menjadi wajib.” (Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtâj, [Mesir: Musthafa Muhammad, t. th.], Jilid III, h. 194)

Keterangan yang mirip juga tertuang dalam kitab I‘ânah al-Thâlibîn:

وَكُرِهَ صُنْدُوْقٌ إِلاَّ لِنَحْوِ نَدَاوَةٍ فَيَجِبُهُ 

Artinya: “Dimakruhkan mempergunakan peti mati kecuali semisal berada di tanah yang lembab berair, maka hukumnya wajib.” (Al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathi, I’ânah al-Thâlibin, [Semarang: Thaha Putra, t.th.] Jilid II, h. 117)

Dari keterangan di atas, status hukum penggunaan peti untuk jenazah berubah-ubah berkaitan dengan situasi yang meliputi jenazah. Untuk menjamin kehormatan dan keselamatan jenazah, penggunaan peti justru dianjurkan hingga level wajib. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Selasa 6 Februari 2018 7:0 WIB
Empat Adab Orang Bertakziyah Menurut Imam Al-Ghazali
Empat Adab Orang Bertakziyah Menurut Imam Al-Ghazali
Takziyah atau melayat adalah mengunjungi orang yang sedang tertimpa musibah kematian salah seorang keluarga atau kerabat dekatnya. Orang laki-laki yang bertakziyah disebut mu’azziyin, sedangkan yang perempuan disebut mu’azziyat. Para ulama umumnya memiliki pendapat yang sama bahwa hukum bertakziyah adalah sunnah. Oleh karena itu setiap orang Islam sangat dianjurkan bertakziyah untuk menguatkan jiwa atau suasana batin orang yang sedang tertimpa musibah agar memiliki kesabasaran dan ketabahan menerima musibah tersebut.

Terkaiat dengan takziyah, Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 437), menyebutkan ada empat adab orang bertakziyah sebagai berikut: 

آداب المعزّي: خفض الجناح، وإظهار الحزن، وقلة الحديث، وترك التبسم فإنه يورث الحقد. 

Artinya: “Adab orang bertakziyah, yakni menghindari sebanyak mungkin hal-hal yang tidak pantas atau tabu, menampakkan rasa duka, tidak banyak berbicara, tidak mengumbar senyum sebab bisa menimbulkan rasa tidak suka.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan keempat adab orang bertakziyah sebagai berikut:

Pertama, menghindari sebanyak mungkin hal-hal yang tidak pantas atau tabu. Bertakziyah sudah pasti berbeda dengan menghadiri pesta perkawinan. Oleh karena itu cara kita berpakaian dalam bertakziyah tidak sebaiknya disamakan dengan cara kita menghadiri pesta perkawinan yang cenderung glamor. Demikian pula cara kita bersolek atau berdandan juga tidak sebaiknya terlalu menor atau memakai parfum yang terlalu kuat baunya. Suasana takziyah adalah suasana berkabung dan bukan suasana bersuka cita. Hendaknya cara kita berpakaian dan berdandan sewajarnya saja dengan tetap menjunjung tinggi asas kepatutan dan kesopanan. 

(Baca juga: Makruh Berbusana Hitam ketika Melayat)
Kedua, menampakkan rasa duka. Setiap kematian seseorang pasti menimbulkan perasaan duka yang mendalam terutama bagi keluarga atau kerabat dekat yang ditinggalkannya. Oleh karena itu orang yang bertakziyah dianjurkan untuk ikut merasakan rasa duka itu dengan menampakkan wajah duka sambil mengucapkan secara tulus rasa bela sungkawa. Sangat baik apabila ungkapan bela sungkawa itu diikuti dengan doa semoga tabah dan sabar menerima musibah yang memang sudah merupakan suratan takdir dari Allah SWT. 

(Baca juga: Doa Takziyah)
Ketiga, tidak banyak berbicara. Dalam suasana duka, orang yang sedang tertimpa musibah kematian, biasanya cenderung diam dan tidak ingin diajak berbicara lama-lama. Oleh karena itu orang yang bertakziyah jika ingin mengajak berbicara kepada pihak yang sedang berduka cukup seperlunya saja. Demikian pula di antara orang-orang-orang yang bertakziyah (muazziyin dan muazziyat) sebaiknya kalau berbicara satu sama lain cukup seperlunya dan pelan agar tidak menimbulkan suasana berisik. Apa lagi tertawa terbahak-bahak, sungguh hal ini tidak baik dan tidak etis dari sudut mana pun. 

Keempat, tidak mengumbar senyum sebab bisa menimbulkan rasa tidak suka. Poin keempat ini memiliki kaitan erat dengan poin-poin sebelumnya, yakni tidak mendukung ketiganya. Oleh karena itu meskipun dalam keadaan normal senyum termasuk sedekah, tetapi dalam konteks takziyah para muazziyin dan muazziyat sebaiknya bisa menahan diri untuk tidak mengumbar senyum. Tentu saja senyum dalam batas-batas yang wajar masih bisa ditolerir. Intinya adalah senyum memiliki makna kegembiaraan yang dalam konteks takziyah tidak baik khususnya jika ditujukan kepada pihak yang sedang berduka sebab hal ini sama saja tidak menghormati perasaannya. 

Keempat adab tersebut hendaknya menjadi pedoman bagi umat Islam dalam bertakziyah kepada orang lain, baik orang tersebut masih kerabat dekat, tetangga, atau sekedar teman. Hal yang harus selalu diingat adalah bahwa takziyah identik dengan ikut berduka. Oleh karena itu jika bermaksud membawa anak-anak yang masih kecil dan suka rewel atau sulit diatur seperti suka teriak-teriak, dan sebagainya, hendaknya dipetimbangkan terlebih dahulu masak-masak sebab hal itu bisa menimbulkan suasana lain yang tidak mendukung suasana duka tersebut. Dalam tradisi masyakarat Jawa anak-anak tidak sebaiknya diajak serta bertakziyah kecuali memang sangat terpaksa. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.