IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Agenda di Balik Pembagian Tiga Macam Tauhid ala Ibnu Taimiyah

Ahad 7 Oktober 2018 16:0 WIB
Share:
Agenda di Balik Pembagian Tiga Macam Tauhid ala Ibnu Taimiyah
Pada abad ketujuh hijriah, Ibnu Taimiyah membuat sebuah konsep tauhid yang mempunyai beberapa konsekuensi sangat berat. Konsep yang ia karang dikenal dengan pembagian tauhid menjadi tiga macam, yakni rububiyah, uluhiyah dan al-asmâ’ was-shifât. Sebelum era Ibnu Taimiyah, ketiga istilah ini sudah dikenal dan beredar luas, tetapi hanya sebagai istilah lepas yang mandiri, bukan sebagai istilah yang terintegrasi dalam sebuah konsep berjenjang tentang tauhid yang mempunyai beberapa agenda serius sebagaimana disebutkan nanti.

Dalam perspektif Ibnu Taimiyah yang juga diamini sepenuhnya oleh para pengikutnya, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid adalah keyakinan bahwa pencipta dan pengatur alam semesta hanyalah Allah saja. Dalam hal ini, diklaim bahwa seluruh golongan manusia sudah bertauhid. Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

“Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

Lebih lanjut, Ibnu Abdil Izz mengklaim bahwa seluruh kaum musyrik non-Muslim tak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah dalam menciptakan alam semesta. Dia berkata:

وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

“Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

Sedangkan tauhid uluhiyah, sebagai jenjang kedua, menurut mereka adalah ajaran untuk menyembah Allah semata, berdoa kepada Allah semata, mencintai Allah semata dan seterusnya. Tauhid jenis ini yang dianggap sebagai misi utama Rasulullah, bukan tauhid rububiyah yang memang sudah diakui. Ibnu Taimiyah mengatakan:

وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا،  فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

Sedangkan tauhid al-asma’ was-shifat mereka definisikan sebagai:

توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة. 

“Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

Sepintas, tak ada yang bermasalah dari klasifikasi ini. Inti dari kesemuanya adalah ajakan untuk menyembah Allah saja tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun dan ajakan untuk mengimani seluruh nama dan sifat Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits shahih. Namun, kalau hanya ajakan seperti ini tentu bukan hal baru sebab seluruh kaum muslimin akan mengakuinya sebagai kebenaran. Yang menjadi objek sesungguhnya dari pembagian tauhid ini tak sesederhana itu, tetapi ada agenda tersembunyi di balik klasifikasi ini, yakni:

1. Mengklaim bahwa mayoritas manusia, bahkan seluruhnya, sudah mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan pengurus alam semesta (rabb).

2. Menuduh bahwa mayoritas ulama ahli kalam dan tasawuf—bahkan mayoritas kaum Muslimin—masih belum bertauhid dalam arti mereka masih belum menyerukan untuk menyembah Allah saja. Mereka dituduh masih dalam level yang sama dengan kaum musyrik di seluruh dunia sebab mengabaikan apa yang mereka sebut sebagai “tauhid uluhiyah” yang menjadi misi para Rasul.

3. Mempropagandakan bahwa lawan-lawan Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya belumlah mengimani seluruh nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits shahih.

Simak pernyataan Ibnu Taimiyah berikut ini yang menyebutkan para filsuf islam dan ahli kalam, di antaranya yang ia sebutkan adalah Imam al-Ghazali, Imam Fakhruddin ar-Razi, dan Imam al-Amidi, mengeluarkan ajakan untuk menyembah Allah semata—yang ia istilahkan sebagai tauhid uluhiyah—dari ranah tauhid. Ia juga menuduh bahwa para tokoh tersebut hanya tahu tauhid rububiyah saja dan mengabaikan hakikat nama-nama dan sifat Allah. Berikut pernyataanya:

وَهَذِهِ الطَّرِيقَةُ هِيَ الْمَعْرُوفَةُ لَهُ وَلِمَنِ اتَّبَعَهُ كَالسُّهْرَوَرْدِيِّ الْمَقْتُولِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْفَلَاسِفَةِ، وَأَبِي حَامِدٍ وَالرَّازِيِّ وَالْآمِدِيِّ وَغَيْرِهِمْ مِنْ مُتَأَخِّرِي أَهْلِ الْكَلَامِ، الَّذِينَ خَلَطُوا الْفَلْسَفَةَ بِالْكَلَامِ....هَذَا مَعَ أَنَّ فِي الْمُتَكَلِّمِينَ مِنْ أَهْلِ الْمِلَلِ مِنَ الِاضْطِرَابِ وَالشَّكِّ فِي أَشْيَاءَ، وَالْخُرُوجِ عَنِ الْحَقِّ فِي مَوَاضِعَ، وَاتِّبَاعِ الْأَهْوَاءِ فِي مَوَاضِعَ، ... وَأَخْرَجُوا مِنَ التَّوْحِيدِ مَا هُوَ مِنْهُ كَتَوْحِيدِ الْإِلَهِيَّةِ، وَإِثْبَاتِ حَقَائِقِ أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ، وَلَمْ يَعْرِفُوا مِنَ التَّوْحِيدِ إِلَّا تَوْحِيدَ الرُّبُوبِيَّةِ، وَهُوَ الْإِقْرَارُ بِأَنَّ اللَّهَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَرَبُّهُ

“Metode ini yang diketahui oleh Ibnu Sina dan orang-orang yang mengikutinya seperti Suhrawardi dan filsuf lain sepertinya, Abu Hamid al-Ghazali, ar-Razi, al-Amidi dan lain-lain dari ahli kalam muta’akhirin yang mencampur aduk filsafat dan kalam. Hal ini terjadi meskipun sesungguhnya para ahli kalam dari berbagai aliran punya kerancuan dan keraguan dalam berbagai hal dan keluar dari kebenaran dalam berbagai tema, .... dan mereka masuk dalam sebagian kebathilan yang dibuat-buat, dan mereka mengeluarkan bagian tauhid yang sebenarnya menjadi bagiannya, seperti tauhid uluhiyah serta penetapan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan mereka tak kenal dari tauhid kecuali tauhid rububiyah saja, yakni pengakuan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu dan pemeliharanya.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 288-289)

Jadi, klasifikasi pembagian tauhid tak hanya berisi ajakan untuk menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan apa pun sebagaimana disangka beberapa orang, tapi ada agenda melempar klaim dan tuduhan pada orang-orang yang dianggap berlawanan dengan Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya. Tuduhan dan klaim ini kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri sekte Wahabiyah, beberapa abad setelah Ibnu Taimiyah wafat. Adapun para ulama sebelum Ibnu Taimiyah, mereka hanya menyebutkan istilah uluhiyah dan rububiyah dalam konteks ketuhanan secara umum tanpa menjadikan mereka sampai pada tuduhan dan klaim sebagaimana di atas.

Benarkah semua tuduhan dan klaim itu? Tentu saja tidak. Insyaallah penulis akan membahasnya dalam beberapa seri berikutnya. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Tags:
Share:
Rabu 3 Oktober 2018 15:45 WIB
Bolehkah Menghubungkan Gempa Bumi dengan Teguran Tuhan?
Bolehkah Menghubungkan Gempa Bumi dengan Teguran Tuhan?
Ilustrasi (mainichi.jp)
Maraknya gempa akhir-akhir ini membuat respons masyarakat terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang mengatakan bahwa gempa ini adalah fenomena alam biasa tanpa perlu disangkut pautkan dengan ajaran agama atau teguran dari Tuhan. Kedua, kelompok yang mengatakan bahwa gempa adalah tindakan Tuhan untuk menghukum manusia yang lalai dari ajarannya. Tampaknya sulit bagi kedua kelompok ini bertemu dalam satu titik sepakat sebab perbedaan paradigma yang saling bertolak belakang. Namun, sebenarnya hal ini dapat digabungkan menjadi suatu pemahaman yang komprehensif

Dari segi ilmiah, Indonesia adalah wilayah rawan gempa sebab beberapa faktor; Keberadaannya di wilayah Cincin Api Pasifik membuat negara ini menjadi ladang gempa bumi. Bukan hanya itu, Sabuk Alpide yang melewati Indonesia juga menyumbang potensi gempa. Tak ketinggalan, posisi Indonesia juga berada tepat di tengah tumbukan lempeng tiga benua, yaitu Pasifik di arah timur, Indo-Australia di arah selatan dan Eurasia di utara. Satu faktor saja sudah cukup untuk menjadikan suatu kawasan sebagai wilayah rawan gempa, dan kebetulan Indonesia memiliki tiga faktor sekaligus. Bila melihat fakta ilmiah ini, terlihat bahwa gempa bumi di Indonesia adalah hal wajar dan sama sekali tak berhubungan dengan kejadian apa pun yang dilakukan manusia. 

Namun kesimpulannya akan berbeda bila kita melihat dari sudut pandang teologis. Dari sudut pandang ini, peristiwa yang dialami manusia seluruhnya adalah bagian dari kehendak Allah yang sudah tercatat seluruhnya di Lauh Mahfudz. Allah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍۢ فِي ٱلْأَرْضِ وَلَا فِيْ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid: 22)

Dalam hal ini, gempa bumi tak mempunyai status khusus yang berbeda dengan seluruh kejadian lainnya. Tak ada bedanya antara gempa bumi dan tersandung, jatuh, pegal-pegal, tertusuk duri dan seterusnya. Semuanya terjadi atas izin Allah (qadar) dan sudah tercatat proses kejadiannya sejak sebelum alam semesta tercipta (qadla’). Ini adalah konteks teologis murni yang letaknya ada dalam hati sebagai bagian dari keimanan seorang Muslim.

Pertanyaan selanjutnya, apakah ada keterkaitan antara gempa bumi dengan ulah manusia (maksiat)? Dari sisi teologis, jawabannya bisa saja demikian sebab banyak sekali ayat atau hadits yang memberitakan bahwa kejadian-kejadian yang menimpa manusia bisa diakibatkan sebab ulah buruk manusia itu sendiri. Allah mengingatkan hambanya dengan banyak cara, salah satunya adalah gempa bumi ini. Lihat misalnya kisah kaum Nabi Luth yang membangkanghinggamendapat bencana alam hebat sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut:

فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةًۭ مِّن سِجِّيلٍۢمَّنضُودٍۢ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)

Di beberapa ayat lainnya, Allah juga memerintahkan kita untuk memperhatikan kaum-kaum terdahulu yang berakhir tragis sebab tidak mematuhi ajaran Tuhan. Lihat misalnya:

 قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌۭ فَسِيرُوا۟ فِي ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali Imran: 137)

Namun, apakah setiap bencana gempa bumi atau bencana alam lainnya bisa ditafsirkan sebagai teguran Tuhan? Jawabannya dengan tegas adalah tidak!, sama sekali tidak!. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dari aspek teologis tak ada kekhususan dalam hal bencana alam dari kejadian apapun. Bila bicara soal teguran Tuhan, maka teks-teks agama Islam menegaskan bahwa semua hal bisa menjadi bentuk teguran Tuhan. Sakit, rezeki yang sulit, gagal panen, kematian, dan segala ketidaknyamanan bisa menjadi bentuk teguran Tuhan agar seorang hamba kembali mengingat-Nya. Rasa berat dan enggan untuk beribadah juga bentuk teguran yang paling nyata. 

Selain itu, ada juga teguran yang tampak sebagai kenikmatan, misalnya: Kekayaan, kesuksesan dan umur panjang yang disertai meningkatnya jumlah maksiat. Ini semua adalah teguran paling parah yang diberikan Allah kepada hambanya yang sudah terkunci mata hatinya. Dalam istilah Islam, teguran semacam ini disebut sebagai istidrâj dan ini banyak disinggung dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan kesuksesan orang-orang kafir dan orang-orang dhalim di dunia dan bahwa hukuman bagi mereka ditangguhkan hingga mereka mati.

Jadi, jangan gegabah memvonis bahwa korban gempa bumi adalah orang-orang yang mendapat teguran (azab) dari Allah. Vonis semacam ini dilarang sebab hanya Allah yang tahu rahasia di balik setiap kejadian. Dulu kita bisa tahu bahwa suatu bencana merupakan teguran Tuhan terhadap suatu kaum sebab ada seorang Nabi yang menjelaskannya. Namun di era ketiadaan Nabi seperti sekarang, kita hanya bisa berprasangka (dhann) dan Al-Qur’an sudah menegaskan bahwa kebanyakan prasangka itu adalah dosa (QS. Al-Hujurat: 12). 

Justru dalam hadits dijelaskan bahwa orang yang tertimba reruntuhan dan tenggelam adalah orang yang mendapat pahala syahid. Nabi Muhammad ﷺBersabda:

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Para syahid itu ada lima, yaitu orang yang mati karena wabah pes (tha’un), orang yang mati karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sikap kita terhadap sebuah musibah harus dipilah menjadi dua; sikap terhadap diri sendiri dan sikap terhadap orang lain. Ketika diri kita sendiri mendapat musibah, apa pun itu mulai yang ringan hingga berat, maka seyogianya kita introspeksi jangan-jangan itu adalah teguran Tuhan kepada kita sehingga kita bisa berubah menjadi lebih baik dan bersemangat dalam beribadah. Namun ketika orang lain yang mendapatkan musibah, apa pun itu, maka kita harus melihatnya sebagai fenomena alami (sunnatullah) yang terjadi sebab faktor-faktor natural tanpa membumbuinya dengan aneka prasangka yang menyakitkan bagi korban atau keluarganya, apalagi bila yang terkena musibah bukanlah pelaku maksiat, seperti kebanyakan kasus gempa di Indonesia selama ini. 

Dalam hal gempa di Indonesia, kita harus melihat faktor alami penyebab gempa itu apa dan bagaimana cara meminialisasi risiko di masa depan dengan cara-cara yang ilmiah seperti membuat bangunan tahan gempa, penataan pemukiman dan lain sebagainya. Kita juga harus membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah dengan cara apa pun yang kita bisa, minimal mendoakan kebaikan. Jangan sampai ada yang gegabah menghubungkan suatu musibah sebagai azab, sebab bisa saja para korban itu mendapat pahala syahid dan justru penonton yang tak tertimpa musibah itulah yang terkena azab Allah berupa istidrâj yang harus dibayar mahal kelak di akhirat. Wallahua'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Ahad 30 September 2018 0:0 WIB
Ini Jawaban Singkat di Mana, Bagaimana, Kapan, dan Berapa Allah
Ini Jawaban Singkat di Mana, Bagaimana, Kapan, dan Berapa Allah
Orang yang beriman merindukan Allah. Bahkan sebagian tradisi tasawuf menyatakan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk beribadah hanya karena Allah tahu bahwa manusia merindukan-Nya. Tetapi di tengah kerinduan itu, manusia mungkin saja membayangkan Allah sesuai dengan imajinasinya.

Yang paling mungkin, manusia membayangkan Allah dengan sifat-sifat makhluk sebagai model yang dikenalnya. Ketika pikiran tentang Allah sudah mengembara kian kemari, maka sebaiknya kita membatasi diri dan meminta ampun karena telah menyifatkan Allah dengan sifat-sifat makhluk yang tidak layak bagi-Nya.

Syekh M Nawawi Banten menawarkan jawaban ringkas atas empat pertanyaan terkait Allah, yaitu pertanyaan tempat, kualitas, waktu, dan jumlah bagi Allah. Empat jawaban ringkas ini sudah memadai bagi mereka yang menghadapi pertanyaan ini.

فإن قال لك قائل أين الله فجوابه ليس في مكان ولا يمر عليه زمان وإن قال لك كيف الله فقل ليس كمثله شيء وإن قال لك متى الله فقل له أول بلا ابتداء وآخر بلا انتهاء وإن قال لك كم الله فقل له واحد لا من قلة قل هو الله أحد

Artinya, “Jika seseorang bertanya kepadamu, ‘Allah di mana?’ maka jawablah, ‘Ia tidak bertempat dan tidak mengalami waktu.’ Jika kau ditanya, ‘Bagaimana Allah?’, jawablah, ‘Allah tidak serupa dengan sesuatu apa pun itu.’ Jika kau ditanya, ‘Kapan Allah (ada)?’, jawablah, ‘Dia awal yang tidak memiliki permulaan dan (Dia) akhir yang tidak memiliki penghabisan.’ Jika kau ditanya, ‘Allah berapa?’ jawablah, ‘Allah esa, bukan karena sedikit (kekurangan). Katakanlah Allah itu esa,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).

Ini merupakan jawaban singkat yang perlu diyakini oleh umat Islam secara umum. Mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari ilmu tauhid, ilmu aqidah, atau ilmu kalam secara detil cukup berpegang pada empat jawaban ringkas ini dan tidak menambahkannya.

Adapun penjelasan rincinya dapat dipelajari di dalam ilmu, tauhid, ilmu aqidah atau ilmu kalam. Mereka yang masih menyimpan penasaran atau memiliki waktu luang untuk mempelajarinya dapat merujuk pada buku atau kitab ilmu tauhid, ilmu aqidah, atau ilmu kalam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah.

Adapun mereka yang tidak lagi mempersoalkan empat masalah ini adalah mereka yang mencapai kesempurnaan iman. Keimanan mereka ini sudah cukup mapan tanpa keterangan dalil aqli. Mereka bisa jadi adalah ahli makrifat atau orang yang telah mencapai derajat makrifatullah.

من ترك أربع كلمات كمل إيمانه أين وكيف ومتى وكم

Artinya, “Siapa saja yang meninggalkan empat kalimat ini, maka keimanannya kepada Allah telah sempurna, yaitu di mana, bagaimana, kapan, dan berapa Allah,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).

Yang perlu diingat adalah bahwa tingkat keimanan dan makrifat orang berbeda-beda. Oleh karenanya, kita tidak perlu tercengang dengan orang yang masih mengangkat empat pertanyaan tersebut dan mencoba memecahkannya. Tetapi ada juga orang yang tidak lagi memerlukan dalil aqli atau pembuktian apa pun perihal Allah.

Semoga Allah membimbing jalan pikiran kita dari penisbatan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 29 September 2018 20:30 WIB
Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (2-Habis)
Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (2-Habis)
Ilustrasi (The Independent)
Salaf sebagai Sebuah Fiksi
 
Makna lain dari kata “salaf” adalah salaf yang tidak jelas siapa tokohnya dan bagaimana pendapatnya serta bagaimana bangunan argumennya secara utuh dalam berbagai hal. Dengan kata lain, salaf dalam arti kedua ini adalah tokoh fiksi. Hanya saja selalu diklaim bahwa “salaf” ini hidup di era yang mulia (tiga kurun pertama) hijriah. 
 
Salaf dalam arti kedua ini biasanya dianggap sebagai sebuah manhaj yang menjadi kesepakatan (ijmak) seluruh generasi terbaik umat Islam. Karenanya, salaf dalam pengertian ini selalu diklaim sebagai satu-satunya representasi kebenaran dan tidak mengandung perbedaan pendapat. Akibatnya, seluruh pendapat yang ternyata berbeda dari "salaf" ini akan otomatis dianggap menyimpang  dari kebenaran. Dalam praktiknya, salaf dalam makna kedua ini tidak punya tokoh rujukan definitif yang hidup di masa salaf sehingga tidak jelas bangunan pendapat yang dirujuk dari “salaf” tersebut. 

Para pengikut “salaf” yang fiksi ini biasanya bersikap eklektik, kadang mengikuti imam A dan menyerang pendapat imam B, tetapi kadang memilih imam B dan menyerang pendapat imam A. Di satu sisi mereka beralasan bahwa para imam salaf harus diikuti sebab mereka pasti benar, tapi di sisi lain mereka mengatakan bahwa semuanya harus kembali pada dalil sedangkan para Imam itu hanyalah sosok yang tak terjaga dari salah. Ini adalah sebuah kontradiksi yang nyata dari golongan ini.

Bila dilihat secara objektif, mereka sama sekali tak mengikuti ulama salaf mana pun, tetapi mengikuti hasil pendapatnya sendiri yang dipakainya untuk “menghakimi” pendapat ulama salaf. Hanya saja, pendapat ulama klasik yang cocok dengan mereka lantas dilabeli sebagai “pendapat salaf” sedangkan pendapat yang kebetulan tidak sesuai dengan penalaran mereka lantas dilabeli dengan “menyalahi dalil.” Dari ciri-cirinya, konsep pemikiran ini lebih tepat disebut sebagai sebuah mazhab baru daripada sebuah manhaj yang konsisten. Syekh Ibnu Taymiyah (661-728 H) dikenal sebagai salah satu konseptor "mazhab” salaf ini. 
 
Sebagai contoh, dalam hal akidah para pengikut salaf dalam arti kedua ini selalu mengklaim bahwa sifat khabariyah Allah haram ditakwil dan ini adalah kesepakatan seluruh ulama salaf. Mereka yang menakwil sifat khabariyah itu biasanya divonis sebagai ahli bid'ah sebab dianggap berbeda dengan manhaj salaf dalam memperlakukan sifat Allah. Untuk memperkuat argumennya, biasanya mereka menukil pendapat Imam Malik yang populer berikut:
 
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة

"Istiwa' itu sudah diketahui, kaifiyahnya tidak diketahui dan mengimaninya adalah wajib.  Sedangkan bertanya tentang itu adalah bid'ah.” 
 
Selain itu, mereka juga menukil pendapat beberapa tokoh salaf yang menolak bahkan mencela takwil. Meskipun benar bahwa para tokoh ulama yang dinukil itu menolak takwil, namun apakah seluruh tokoh salaf sepakat menolaknya? Tentu saja tidak demikian sebab sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ada juga ulama salaf yang menakwil sifat khabariyah yang salah satunya justru Imam Malik itu sendiri. Dari sini menjadi jelas bahwa mereka tak sepenuhnya mengikuti Imam Malik.

Contoh lainnya adalah dalam pembahasan makna istiwa'. Pendapat "mazhab salaf" ini adalah dilarang menakwil dan wajib dimaknai secara literal (dhâhir). Untuk mendukung pendapatnya, maka biasanya mereka menukil pernyataan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya yang mengatakan:

ولم ينكر أحد من السلف الصالح أنه استوى على عرشه حقيقة , وانما جهلوا كيفية الاستواء
 
"Tak ada satu pun dari Salafus Shalih yang mengingkari bahwa Allah istiwa di atas arahnya secara hakikat. Mereka hanya tidak mengetahui tata cara istiwa’-nya saja.” (al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubi, juz VII, halaman 219).
 
Tetapi di waktu yang sama, mereka mengingkari sebuah kaidah dari Imam al-Qurthubi sendiri yang beliau pakai ketika membahas ayat-ayat yang menyebutkan istiwa' atau "di langit" seperti berikut:
 
يستحيل على الله أن يكون في السماء أو في الأرض، إذ لو كان في شيء لكان محصورا أو محدودا ، ولو كان ذلك لكان محدثا ، وهذا مذهب أهل الحق والتحقيق

"Mustahil atas Allah untuk berada [secara fisik] di langit atau di bumi karena apabila ia berada dalam sesuatu maka berarti ia dikepung atau terbatasi. Apabila itu terjadi berarti Allah itu bersifat baru (dan ini mustahil).  Ini adalah mazhab orang-orang yang benar dan ahli tahqiq." (al-Qurthubi, at-Tadzkâr fî Afdlal al-Adzkâr, 18).
 
Pendapat Imam al-Qurthubi yang menyatakan ulama salaf tidak mengingkari makna istiwa' secara hakikat diambil secara literal sebab dianggap sesuai dengan mazhab mereka, namun kaidah beliau yang menafikan adanya tempat bagi Allah ditolak mentah-mentah sebab berlawanan dengan mazhab mereka. Padahal seharusnya semua pernyataan itu dikompromikan menjadi satu kesatuan utuh bila memang berniat mengikuti Imam al-Qurthubi. Bila pernyataan beliau dikompromikan maka akan diketahui bahwa maksud beliau tak lain adalah Allah istiwa' di atas arasy secara hakikat yang hanya diketahui Allah, namun bukan dalam makna bertempat secara fisik di atas Arasy. Ini adalah ungkapan lain dari tafwîdh yang menjadi pilihan mayoritas ulama salaf yang riil. 

Dalam masalah fikih, ketika pengikut salaf dalam kategori kedua ini membahas qunut subuh, maka banyak di antara mereka yang mengatakan bahwa qunut subuh itu bid'ah. Sepertinya sama sekali tak ada peluang kebenaran bagi siapapun yang mengatakan bahwa qunut subuh itu sunnah sebab seluruh dalilnya menurut mereka lemah. Para ulama salaf seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i yang menyunnahkannya dianggap tergelincir dalam kesalahan dan pendapatnya harus dilempar ke tembok sebab dianggap menyelisihi sunnah sebagaimana yang mereka pahami. Pernyataan seperti ini bertebaran di internet. 
 
Dari sini terlihat jelas adanya inkonsistensi dalam klaim mengikuti salaf dalam arti kedua ini. Dalam makna ini, kata “salaf” tidak lagi konkrit sebab pendapat para tokoh salaf itu sendiri dipilih sebagian yang dianggap cocok dengan pemikirannya lalu sisanya dibuang, bahkan tanpa ragu dianggap menyimpang dari kebenaran (baca: menyelisihi sunnah). 
 
Bila memang konsisten dengan klaimnya untuk mengikuti ulama salaf dalam arti para Sahabat Rasul, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in, maka tentu seluruh perbedaan pendapat di kalangan mereka akan diakomodir dan tidak dipertentangkan secara diametral sebagai benar (baca: mengikuti sunnah) dan sesat (baca: menyelisihi sunnah) sebab pada realitanya semua perbedaan pendapat itu muncul dari ijtihad dalam memahami sunnah Rasulullah. Inkonsistensi ini seringkali menyebabkan adanya satu ulama dirujuk dalam satu kasus secara berlebihan sebagai representasi salaf yang sejati namun di kasus yang berbeda ulama yang dimaksud malah ditolak dan dianggap menyelisihi sunnah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember