IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Empat Hal Ini yang Diambil Paksa dari Setiap Manusia

Rabu 10 Oktober 2018 16:0 WIB
Share:
Empat Hal Ini yang Diambil Paksa dari Setiap Manusia
Empat Hal Ini yang Diambil Paksa dari Setiap Manusia
Imam Ibnu Hajar di dalam Kitab Al-Isti’dâd li Yaumil Ma’âd yang kemudian disyarahi oleh Syekh Nawawi Banten di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd menuturkan bahwa manusia akan menghadapi empat kali rampasan dalam hidupnya mulai sejak ia hidup di dunia sampai dengan kelak ia dibangkitkan di hari kiamat.

Imam Ibnu Hajar menyebutkan:

يستقبل بني أدم اربع نهبات ينتهب ملك الموت روحه و ينتهب الورثة ماله و ينتهب الدود جسمه و ينتهب الخصماء عمله 

Artinya, “Anak keturunan Adam akan menghadapi empat kali rampasan. Malaikat maut akan mengambil dengan paksa rohnya, ahli waris akan mengambil hartanya, cacing akan mengambil jasadnya, dan para musuh akan mengambil pahala amalnya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nashâ'ihul ‘Ibâd, [Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2010 M).

Pertama, malaikat maut akan mengambil nyawa manusia secara paksa
Sebagaimana diketahui bahwa setiap orang telah ditentukan ajalnya. Berapa lama bentang waktu yang ia hidup di dalamnya telah ditentukan oleh Allah sejak ia berusia seratus dua puluh hari atau empat bulan dalam kandungan ibunya.

Ajal itulah batasan waktu berapa lama ia hidup di dunia. Maka ketika batas waktu itu telah terpenuhi habislah masa hidupnya di dunia. Tak bisa diajukan, tak bisa pula ditunda. Mau tidak mau ia harus berpindah ke alam berikutnya yakni alam barzakh.

Tidak ada yang bisa mengantar seorang manusia dari kehidupan alam dunia ke kehidupan alam akherat kecuali satu hal, kematian.

Ketika datang masa kematian seseorang inilah malaikat maut mendatanginya. Tak ada pemberitahuan sebelumnya. Ia datang tepat waktu dan melaksanakan tugasnya juga tepat waktu. Ia cabut roh setiap manusia secara paksa, tanpa kompromi.

Bila demikian adanya maka cukuplah bagi manusia untuk berhati-hati dalam bertindak dan berucap. Cukuplah hal ini sebagai rem yang mengendalikan setiap tindakan. Jangan sampai malaikat maut mencabut ruhnya dalam keadaan melakukan tindakan atau ucapan yang tidak dibenarkan oleh agama dan tidak diridloi oleh Allah ta’ala.

Kedua, Cacing akan Memakan Tubuhnya secara Paksa
Ketika seseorang telah meninggal dunia dan tubuhnya dikuburkan maka binatang-binatang melata semacam cacing dan lainnya akan memakan tubuh yang sudah tak bernyawa itu.

Memang tidak dipungkiri bahwa dalam kenyataan ada jenazah yang telah berpuluh tahun dikubur namun tubuhnya masih tetap utuh, tak dimakan cacing pun tak rusak oleh tanah. Namun tentunya hal ini hanya terjadi pada orang-orang tertentu saja sesuai kehendak dan kuasa Allah.

Sebagaimana diketahui bahwa pada diri manusia terdapat dua unsur yakni unsur daging dan unsur ruh. Masing-masing unsur ini semestinya mendapatkan porsi yang cukup sesuai dengan kebutuhannya.

Jasad atau tubuh manusia yang berupa daging perlu diperhatikan kebaikan dan kesehatannya; dengan makanan, minuman, dan berbagai perawatan. Demikian pula ruh juga mesti diperhatikan kebaikannya dan terjaga kesuciannya dengan ilmu yang bermanfaat yang mendekatkan kepada Allah.

Namun tidak dipungkiri bahwa sebagian besar manusia lebih banyak memperhatikan daging dari pada ruhnya. Untuk kepentingan daging ini tak jarang seseorang rela mengeluarkan berjuta hartanya.

Makanan dan minuman yang enak dan lezat sampai dengan program perawatan tubuh yang berkelas dengan biaya yang tinggi adalah hal-hal lumrah yang banyak dilakukan oleh manusia untuk kepentingan dagingnya. Padahal daging yang diperhatikan dengan penuh seksama dan berbiaya mahal itu pada akhirnya akan menjadi makanan cacing belaka.

Sedangkan terhadap ruh banyak orang yang enggan memberikan perhatian yang lebih untuk kebaikan dan kesuciannya. Makanan roh adalah ilmu agama yang bisa mendekatkannya kepada Allah.

Sayangnya, lebih banyak orang mencari ilmu dan mencarikan ilmu untuk anaknya dengan tujuan kebaikan kehidupan dunia, bukan ilmu yang mengantarkan pada kebaikan akheratnya. Padahal kelak ketika ia meninggal dunia ruh akan tetap abadi kembali menghadap Tuhannya.

Banyak orang yang lebih memperhatikan daging yang kelak menjadi makanan cacing. Sedikit orang yang memperhatikan ruh yang kelak akan kembali kepada Tuhannya. Relakah bila ketika ruh kita kembali kepada Allah dalam keadaan kotor penuh noda?

Ketiga, Ahli Waris akan Mengambil Harta secara Paksa
Ketika seseorang meninggal dunia maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, semua harta yang ditinggalkannya akan diambil dan dimiliki oleh ahli warisnya. Harta yang selama bertahun-tahun dicari dan dikumpulkan, juga yang selama ini disayangkan untuk digunakan, mau tidak mau harus diberikan kepada ahli warisnya. Ia tak dapat menolak dan melarang.

Yang menyedihkan adalah kelak di hari kiamat ia juga yang akan dihisab mempertanggungjawabkan semua harta itu. Ia yang lelah mencari dan mengumpulkan, namun orang lain yang menikmatinya. Sementara ia yang harus mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhannya.

Dari ini maka setiap orang mesti bijak dalam mencari dan menggunakan harta yang dimilikinya. Kiranya benar apa yang diajarkan oleh orang-orang bijak, bahwa harta yang kita makan telah habis.

Harta yang kita simpan belum tentu menjadi rejeki dan dinikmati kita. Sementara harta yang kita sedekahkan itulah sesungguhnya yang benar-benar menjadi milik kita. Karena setiap harta yang disedekahkan kelak di hari kiamat akan didapatkan kembali dalam jumlah yang berlipat-lipat sebagai tabungan yang mengantarkan pemiliknya kepada kebahagiaan abadi dan menyelamatkannya dari siksaan yang menghinakan.

Keempat, Musuh akan Mengambil Pahala Ibadah
Sebagaimana sering disampaikan oleh para ulama bahwa setiap perbuatan zalim yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain akan dimintai pertanggungjawabannya di hari kiamat.

Bentuk pertanggungjawaban itu berupa dibayarkannya pahala-pahala ibadah yang telah ia lakukan selama hidup di dunia kepada orang yang dizalimi. Bila pahala ibadah yang dimiliki tak cukup untuk membayar maka dosa orang yang dizalimi akan ditanggung oleh orang yang menzalimi.

Ya, setiap cacian, bullian, olok-olokan, cemoohan dan tindakan tak menyenangkan lainnya kelak akan dimintai pertanggungjawaban, selama yang dirugikan belum memaafkannya. Pahala amalan orang yang melakukan itu akan diambil oleh orang yang dirugikan.

Meski yang diperlakukan tidak baik dan yang dirugikan tanpa hak itu adalah orang yang dibencinya atau bahkan musuhnya, semua dapat menjadi penyebab bangkrutnya pahala amal sang pelaku.

Dalam konteks kehidupan berpolitik saat ini poin keempat ini barangkali perlu diperhatikan dan menjadi pegangan bagi setiap muslim dan mukmin di Indonesia. Jangan sampai pilihan politik menumbuhkan rasa benci kepada kelompok lainnya yang kemudian diikuti dengan berbagai tindakan tak pantas baik berupa ucapan ataupun perbuatan.

Perilaku tak menyenangkan terhadap lawan politik dan pihak-pihak yang tak sepemahaman justru akan merugikan dirinya sendiri, setidaknya kelak di akhirat.

Pahala dari amalan-amalan yang berpuluh tahun dihasilkan selama hidup di dunia mau tidak mau harus rela diberikan kepada lawan politiknya itu. Sungguh merugi, bila urusan dunia politik yang remeh itu menjadikan seorang muslim dan mukmin kehilangan kebahagiaan kelak di akherat. Na’ûdzu billâh. Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)
Tags:
Share:
Ahad 30 September 2018 10:0 WIB
Ini Cerita Seputar Penamaan Nabi Muhammad SAW
Ini Cerita Seputar Penamaan Nabi Muhammad SAW
(Foto: twitter.com)
Rasulullah SAW memiliki sejumlah nama dan sebutan. Namanya Muhammad. Sejumlah nama dan sebutan lainnya adalah Thaha, Yasin, Musthafa, Ahmad, Al-Mahi, Al-Hasyir, Al-Aqib. Tetapi ia dikenal dengan nama Muhammad SAW.

“Muhammad” adalah nama terbaiknya. Ini juga namanya yang paling utama. Konon, nama ini adalah pemberian kakeknya, Abdul Muthallib, dengan harapan cucunya ini menjadi pribadi yang terpuji baik di langit maupun di bumi sebagai keterangan Syekh Nawawi Banten berikut ini.

هو أفضل أسمائه صلى الله عليه وسلم والمسمي له بذلك جده عبد المطلب في سابع ولادته لموت أبيه قبلها فقيل له لما سميته محمدا وليس من أسماء آبائك ولا قومك فقال رجوت أن يحمد في السماء والأرض وقد حقق الله رجاءه

Artinya, “’Muhammad’ adalah namanya yang paling utama dibanding namanya yang lain (seperti Thaha, Yasin, Ahmad, Musthafa, dan lainnya). Orang yang menamainya demikian adalah kakeknya, Abdul Muthallib di hari ketujuh kelahiran karena ayahnya telah wafat sebelum persalinan ibunya. Ketika ditanya kenapa bayi itu dinamai ‘Muhammad’, sebuah nama di luar tradisi orang tuan dan kaumnya, Abdul Muthallib menjawab, ‘Aku berharap ia dipuji di langit dan di bumi.’ Allah telah mewujudkan harapannya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Keterangan Syekh M Nawawi Banten ini tidak berlebihan. Sosok Nabi Muhammad SAW merupakan pribadi terpuji yang membuatnya segan di langit dan di bumi. Allah berfirman dalam Surat Al-Ahzab berikut ini.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya, “Sungguh, Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang yang beriman, bacalah shalawat dan salam untuknya dengan sebenar-benar salam,” (Al-Ahzab ayat 56).

Banyak ayat yang menunjukkan keutamaan pribadi Nabi Muhammad SAW. Pada ayat ini, Allah menyebutkan kehadiran murka-Nya untuk mereka yang menyakiti diri-Nya dan rasul-Nya itu.

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

Artinya, “Sungguhm orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya akan dilaknat oleh Allah di dunia dan di akhirat. Allah juga menyediakan siksa yang hina untuk mereka,” (Al-Ahzab ayat 57).

Riwayat lain menyebutkan bahwa orang yang menamainya dengan kata “Muhammad” tidak lain adalah ibunya, Siti Aminah. Ketika sedang mengandung, sesosok malaikat mendatanginya. Kepada Siti Aminah malaikat itu berpesan, “Kau sedang mengandung penghulu manusia. Oleh karena itu, namailah ia ‘Muhammad’.”

Nabi Muhammad SAW adalah makhluk istimewa. Ia paling akhir diutus secara fisik oleh Allah. Tetapi hakikatnya ia tercipta lebih dahulu dan merupakan asal dari penciptaan alam semesta. Ia menjadi model paling sempurna dari segenap alam semesta ciptaan-Nya.

فلا نبي بعده صلى الله عليه وسلم فهو آخرهم في الوجود باعتبار جسمه في الخارج

Artinya, “(Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul) sehingga tidak ada nabi lagi sepeninggalnya. Dia datang terakhir di lihat dari raganya di alam dunia,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Meski kerap kali bertemu dengan orang yang “sempurna”, kita harus yakin bahwa tiada satu pun orang yang sempurna seutuhnya melebihi Rasulullah SAW karena semua kesempurnaan lahir dan batin yang tercecer di banyak manusia terdapat dalam seorang pribadi bernama Nabi Muhammad SAW.

Sebagian ulama mengatakan bahwa keimanan seseorang kepada Allah belum sempurna bila belum meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah model manusia sempurna ciptaan Allah tanpa tanding.

فائدة) قال الباجوري وقد ذكر بعضهم أن من تمام الإيمان أن يعتقد الإنسان  أنه لم يجتمع في أحد من المحاسن الظاهرة والباطنة مثل ما اجتمع فيه صلى الله عليه وسلم

Artinya, “(Informasi) Al-Baijuri mengatakan bahwa sebagian ulama menyebutkan bahwa salah satu kesempurnaan iman seseorang adalah keyakinan bahwa tiada satu pun manusia yang memiliki kesempurnaan lahir dan batin secara lengkap pada diri seseorang kecuali terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 5).

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita agar dapat meneladani akhlak terpuji Rasulullah SAW meski hanya sekian persennya. Kita juga berdoa semoga Allah memasukkan nama kita, keluarga, dan masyarakat kita ke dalam golongan penerima syafaat Nabi Muhammad SAW. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 30 September 2018 2:30 WIB
Ini Tujuan Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW
Ini Tujuan Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW
Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW adalah doa kita kepada Allah SWT. Shalawat nabi secara harfiah berarti doa kita agar Allah menambahkan belas kasih dan keagungan kepadanya. Sementara salam untuk nabi adalah doa kita agar Allah menambahkan kehormatan baginya untuk mendapatkan derajat yang sangat tinggi.

Pertanyaannya kemudian, untuk apa kita mendoakan Nabi Muhammad SAW lewat shalawat dan salam? Bukankah doa kita itu sia-sia karena Nabi Muhammad SAW telah mendapatkan limpahan rahmat Allah SWT?

Pertanyaan berikutnya, kalau mau berpikir sedikit konyol, untuk apa kita mendoakan Nabi Muhammad SAW? Padahal kita yang lebih membutuhkan doa dibandingkan Rasulullah SAW. Dengan logika perhitungan, untuk apa berdoa melalui shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW yang memberikan manfaat kepada dirinya?

Syekh Ismail Al-Hamidi mencoba menjawab sejumlah pertanyaan di atas sebagaimana dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten berikut ini:

فالجواب أن المقصود بصلاتنا عليه طلب رحمة لم تكن فإنه ما من وقت إلا وهناك رحمة لم تحصل له فلا يزال يترقى في الكمالات إلى ما لا نهاية له فهو ينتفع بصلاتنا عليه على الصحيح لكن لا ينبغي أن يقصد المصلي ذلك بل يقصد التوسل إلى ربه في نيل مقصوده

Artinya, “Jawabannya, tujuan shalawat (doa) kita untuk Nabi Muhammad SAW adalah permohonan rahmat baru yang belum ada karena tiada satu waktu yang berlalu kecuali di situ terdapat rahmat Allah yang belum didapat oleh Rasulullah. Dengan shalawat, derajat Nabi Muhammad SAW selalu naik dalam kesempurnaan tak terhingga. Jadi, Rasulullah SAW jelas menerima manfaat atas shalawat kita kepadanya, menurut pendapat ulama yang shahih. Tetapi orang yang bershalawat tidak seharusnya bermaksud demikian, tetapi bermaksud tawasul kepada Allah (melalui shalawat) dalam mewujudkan harapannya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Jadi, dapat dipahami bahwa shalawat dan salam adalah permohonan rahmat Allah yang datang silih berganti untuk Nabi Muhammad SAW. Shalawat dan salam harus diniatkan sebagai salah satu bentuk tawasul kita kepada Allah dalam meluluskan hajat kita.

Selain soal itu, shalawat dan salam merupakan bentuk syukur atau terima kasih kita sebagai ciptaan Allah terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai asal penciptaan alam semesta sebagaimana keterangan dalam hadits qudsi berikut ini.

عملا بالحديث القدسي وهو قوله تعالى عبدي لم تشكرني إذا لم تشكر من أجريت النعمة على يديه ولا شك أنه صلى الله عليه وسلم 
الواسطة العظمى لنا في كل نعمة بل هو أصل الإيجاد لكل مخلوق آدم وغيره

Artinya, “…Karena mengamalkan hadits qudsi, yaitu firman Allah SWT, ‘Hamba-Ku, kau belum bersyukur kepada-Ku bila kau belum berterima kasih kepada orang (Nabi Muhammad SAW) yang Kulimpahkan nikmat padanya.’ Tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah perantara agung bagi kita dalam segala nikmat Allah, bahkan Nabi Muhammad SAW adalah asal penciptaan segenap makhluk, Nabi Adam AS dan lainnya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW, niscaya Allah takkan menciptakan Nabi Adam AS. Kalau Nabi Adam AS tidak diciptakan oleh Allah, niscaya anak Adam atau bani Adam takkan diciptakan. Sedangkan nyatanya, Allah menciptakan Nabi Adam AS dan anak keturunannya. Allah juga menciptakan alam semesta ini hanya untuk keperluan manusia. Jadi, hanya karena Nabi Muhammad SAW Allah menciptakan alam semesta raya ini.

وآدم أبو البشر وقد خلق الله لهم ما في الأرض  وسخر لهم الشمس والقمر والليل والنهار وغير ذلك كما هو نص القرآن قال تعالى خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وإذا كانت هذه الأمور إنما خلقت لأجل البشر وأبو البشر إنما خلق لأجله صلى الله عليه وسلم كانت الدنيا إنما خلقت لأجله فيكون صلى الله عليه وسلم هو السبب في وجود كل شيء

Artinya, “Nabi Adam AS memang bapak manusia. Allah menciptakan apa yang ada di bumi untuk anak manusia. Allah juga menundukkan matahari, bulan, malam, siang, dan lain sebagainya untuk anak manusia sebagaimana tercantum dalam Al-Quran, 'Dia menciptakan untukmu apa yang ada di bumi semuanya,’ (Surat Al-Baqarah ayat 29) dan ‘Dia menundukkan bagimu matahari dan bulan silih berganti dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang,’ (Surat Ibrahim ayat 33). Jadi, ketika semesta alam raya itu diciptakan untuk manusia, sementara Nabi Adam AS adalah bapak manusia yang diciptakan karena Nabi Muhammad SAW, maka dunia ini diciptakan karena Nabi Muhammad SAW. Jadi, Nabi Muhammad SAW adalah sebab bagi segala ujud,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 21-22).

Logika yang dibangun oleh Imam Al-Bushiri, Syekh Ibrahim Al-Baijuri, dan Syekh Khalid Al-Azhari merupakan refleksi dari Surat Al-Baqarah ayat 29, Surat Ibrahim ayat 33, dan hadits berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا سيد ولد آدم ولا فخر

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku penghulu anak Adam, dan tidak sombong,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Shalawat dan salam merupakan bentuk terima kasih atau syukur kita umat manusia terhadap Rasulullah SAW sebagai penghulu segenap manusia sebagaimana sabdanya yang mulia. Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 27 September 2018 16:0 WIB
Dua Makanan Hati Menurut Imam al-Ghazali
Dua Makanan Hati Menurut Imam al-Ghazali
Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَيُلْهِمْهُ رُشْدَهُ

“Orang yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan dipandaikan di dalam urusan agama dan ia akan diberi ilham petunjuk kebenaran oleh Allah” (HR. al-Bukhari)

Itulah sabda Baginda Nabi Muhammad ﷺ dalam menjelaskan betapa ilmu agama penting bagi kehidupan manusia. Dari hadits di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang diberi pemahaman tentang ilmu agama maka ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah, sebagai bentuk pembuktian akan kebenaran sabda Nabi tersebut.

Pengaruh ilmu agama dalam kehidupan manusia tak ubahnya seperti pengaruh makan dan minum bagi mereka. 

Imam al-Ghazali, di dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn menyampaikan betapa pentingnya ilmu bagi hati seorang manusia. Di sana, beliau menyitir dawuh dan pernyataan sebagian ulama. Beliau berkata:

قال فتح الموصلي رحمه الله : أليس المريض إذا منع الطعام والشراب والدواء يموت؟ قالوا بلى. قال كذلك القلب إذا منع عنه الحكمة والعلم ثلاثة أيام يموت

“(Di hadapan para muridnya) Fath al-Mushili rahimahullah berkata, ‘Bukankah akan mati jika ada orang sakit yang tidak mendapatkan makan, minum, dan obat ?’  Mereka pun menjawab, “Iya benar, akan mati.’ ‘Begitu juga hati, ketika tidak mendapatkan hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka hati akan mati,’ lanjut beliau.”

Imam al-Ghazali membenarkan apa yang dikatakan Fath al-Mushili. Karena sesungguhnya makanan hati adalah ilmu dan hikmah. Dengan keduanyalah hati bisa hidup. Sebagaimana badan akan hidup jika makan. Tidak mendapatkan ilmu menyebabkan hati seseorang dalam keadaan sakit dan pasti akan mati, meskipun ia tidak merasa.

Cinta dunia dan kesibukan duniawi bisa membuat orang tidak merasakan hal tersebut. Sebagaimana kondisi sangat ketakutan (atau mabuk, red) akan bisa “menghilangkan” sakitnya luka yang berat. Kemudian, ketika kematian telah melenyapkan urusan-urusan duniawi dari dirinya, maka baru dia merasakan bahwa dirinya dalam keadaan rusak dan baru dia sangat menyesal. Penyesalan pascakematian ini tentu tidak ada gunanya lagi. Sama seperti orang yang sudah aman dari ketakutannya atau orang yang sudah sadar dari mabuknya, ia baru merasakan luka-luka yang ia alami saat mabuk atau saat ketakutan.

Maka kita berlindung kepada Allah ﷻ dari hari terbukanya tirai semua amal. Karena sesungguhnya manusia masih dalam keadaan tertidur. Ketika  meninggal dunia, maka mereka baru terbangun dari tidurnya. (Imam Muhammad al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn, Beirut, Dar al-Fikr, juz I, halaman 8)

Terdapat berbagai pemahaman di kalangan para ulama terkait dengan maksud dari kata al-hikmah yang tercantum di dalam Al-Qur’an seperti firman Allah ﷻ:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ 

“Allah memberikan hikmah kepada orang yang Ia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, maka sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak menerima pengingat kecuali orang-orang yang memiliki akal sempurna.” (QS Al-Baqarah: 269)

Baginda Nabi Muhammad ﷺ juga pernah bersabda:

الْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ

“Hikmah adalah Yaman.” (HR. at-Tirmidzi)

Ada yang berpendapat maksud dari al-hikmah adalah amal. Ada juga yang berpendapat maksudnya adalah setiap sesuatu yang mencegah dari perbuatan bodoh dan perbuatan jelek. Dan masih banyak lagi pendapat ulama tentang maksud dari kata al-hikmah. (Muhammad ibn Qasim ibn Muhammad ibn Zakur al-Fasi, Zuhr al-Akam fi al-Amtsal, halaman 7) 

Terkait tentang maksud dari kata al-hikmah ini, al-Ghazali berkata di dalam kitab Ihyâ’-nya:

ونعني بالحكمة حالة للنفس بها يدرك الصواب من الخطأ في جميع الأفعال الاختيارية

“Yang saya kehendaki dengan kata al-hikmah adalah kondisi hati yang bisa menjadi sarana mengetahui yang benar dan yang salah dalam semua perbuatan yang kita pilih. (Imam Muhammad al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn, Beirut, Dar al-Fikr, juz III, halaman 3)

Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)