IMG-LOGO
Jumat

Hukum Khutbah Jumat yang Provokatif

Kamis 11 Oktober 2018 15:0 WIB
Share:
Hukum Khutbah Jumat yang Provokatif
Bagian yang tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan shalat Jumat adalah dua khutbahnya. Hikmah pensyariatan khutbah Jumat di antaranya untuk mengajarkan kepada jamaah hal-hal yang urgen dalam urusan agama. Khutbah Jumat hendaknya dapat mencerahkan dan meneduhkan. Berbanding lurus dengan hikmah pensyariatan Jumat sendiri, yaitu untuk mempersatukan umat.

Ditegaskan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji:

لمشروعية صلاة الجمعة حكم وفوائد كثيرة، لا مجال لاستقصائها في هذا المكان، ومن أهمها تلاقي المسلمين على مستوى جميع أهل البلدة، في مكان واحد هو المسجد الجامع مرة كل أسبوع، يلتقون على نصيحة تجمع شملهم وتزيدهم وحدة وتضامناً، كما تزيدهم ألفة وتعارفاً وتعاوناً

“Shalat Jumat memiliki beberapa hikmah dan faidah yang banyak, tidak mungkin dijelaskan panjang lebar di sini. Di antara yang paling urgen adalah bertemunya umat Islam dalam satu tempat, yaitu masjid Jamik sekali dalam seminggu. Mereka menerima sebuah nasihat yang dapat menghimpun persatuan dan memperkuat solidaritas mereka, sebagaimana jumat dapat menambah kasih sayang, saling mengenal dan tolong menolong di antara mereka.” (Dr. Mushtafa al-Khin dkk, al-Fiqh al-Manhaji, juz1, hal. 200).

Beberapa mimbar dan podium sayangnya masih diisi dengan ajaran provokasi. Ujaran kebencian, menggunjing lawan politik, mengampanyekan ganti system pemerintahan, menyuarakan jihad ‘membasmi kafir’ dan lain sebagainya merupakan salah satu contoh khutbah yang provokatif. Khutbah Jumat yang sebenarnya berperan untuk menyejukan dan meneduhkan, justru menjadi sesuatu yang mengacaukan. 

Dalam pandangan fiqih Islam, khutbah yang demikian adalah haram, sebagaimana segala macam tindakan yang menimbulkan keresahan di masyarakat. Syekh Abu Said al-Khadimi menegaskan, termasuk perbuatan dosa adalah membuat kegaduhan dan provokasi di tengah masyarakat. Misalkan khutbah yang mengajak pemberontakan kepada pemerintah.

Dalam kitab Bariqah Mahmudiyyah, beliau mengatakan:

الثامن والأربعون الفتنة وهي إيقاع الناس في الاضطراب أو الاختلال والاختلاف والمحنة والبلاء بلا فائدة دينية) وهو حرام لأنه فساد في الأرض وإضرار بالمسلمين وزيغ وإلحاد في الدين

“Dosa yang ke empat puluh delapan adalah membuat fitnah, yaitu menjatuhkan manusia dalam kekacauan, kerusakan, pertikaian, cobaan tanpa ada faedah untuk agama. Hukumnya adalah haram, karena hal tersebut merupaka  perbuatan merusak di bumi, membuat mudlarat kepada kaum muslim dan penyimpangan dalam agama.”

كأن يغري) من الإغراء (الناس على البغي) من الباغي فقوله (والخروج على السلطان) عطف تفسير لأن الخروج عليه لا يجوز وكذا اعزلوه ولو ظالما لكونه فتنة أشد من القتل

“Contoh tindakan provokasi seperti meprovokasi manusia untuk memberontak dan keluar dari komando pemerintah, karena memberontak pemerintah adalah tidak boleh, demikian pula haram, seruan ‘copotlah dia (pemimpin)’, meski ia adalah orang yang zalim, sebab hal tersebut merupakan perbuatan fitnah yang lebih berat dari pada pembunuhan.” (Al Khadimi, Bariqah Mahmudiyyah, juz 3, hal. 123)

Larangan melakukan perbuatan provokasi termasuk di dalam khutbah berdasarkan ayat Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan Kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)

Demikian pula berdasarkan hadits Nabi:

الفتنة نائمة لعن الله من أيقظها

“Fitnah seperti macan tidur, Allah melaknat orang yang membangunkannya.” (HR. al-Rafi’I dan al-Dailami).

Kata fitnah ditafsiri oleh Imam al-Manawi sebagai berikut:

الفتنة المحنة وكل ما يشق على الإنسان وكل ما يبتلي الله به عباده فتنة

“Fitnah adalah cobaan, setiap hal yang berat bagi manusia dan cobaan Allah untuk hamba-hambaNya disebut dengan fitnah.” (Syekh al-Manawi, Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz4, hal. 606).

Demikianlah hukum khutbah yang provokatif. Meskipun secara hukum legal formal tetap sah sepanjang syarat-syarat dan rukun-rukun khutbah terpenuhi, namun hukumnya haram. Khutbah merupakan panggung para tokoh untuk menyampaikan pesan yang meneduhkan dan mencerahkan, bukan justru menjadi media untuk memecah belah umat. (M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Selasa 9 Oktober 2018 20:15 WIB
Hukum Shalat Jumat dengan Imam dan Khatib Lain Orang
Hukum Shalat Jumat dengan Imam dan Khatib Lain Orang
(Foto: alray.ps)
Seiring menyebarnya jargon “Kembali ke Al-Qur’an Hadits” yang marak beberapa tahun ini. Banyak sekali amalan-amalan masyarakat digugat seperti dibilang bid’ah, syirik dan diancam neraka. Alasannya adalah karena tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits menurut asumsi sebagian orang.

Di antara amalan yang dipermasalahkan adalah tentang teknis shalat Jumat di mana orang yang menjadi imam shalat Jumat bukan sekaligus yang bertindak sebagai khatibnya, sebagaimana praktik shalat Jumat di berbagai masjid di Indonesia. Anggapannya hal itu tidak sesuai dengan berbagai hadits yang menyatakan ‘wal imamu yakhtubu’ (dan Imam sedang berkhutbah). Lalu, sebenarnya bagaimana hukumnya?

Pemahaman Hadits
Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya dilihat dulu hadits yang disalahpersepsikan itu. Di antaranya sabda Rasulullah SAW:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ: أَنْصِتْ، يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامِ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ. متفق عليه

Artinya, “Ketika kamu berkata kepada temanmu, ‘Diamlah’ pada hari Jumat sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh telah mengucapkan ucapan yang tidak berguna,” (Muttafaq ‘Alaih), (Lihat An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, [Beirut, Daru Ihya’it Turats Al-‘Arabi, 1392 H], cetakan kedua, juz VI, halaman 138).

Namun demikian, para ulama pensyarah hadits tidak menjelaskan bahwa redaksi ‘wal imamu yakhtubu’ berarti menunjukkan bahwa yang menjadi imam harus sekaligus khatibnya. Tetapi maksudnya adalah kewajiban inshat atau diam saat Jumatan hanya berlaku saat khatib berkhutbah, sebagaimana mazhab Syafi’i, mazhab Maliki, dan jumhur ulama. (Lihat An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, [Beirut, Daru Ihya’it Turats Al-‘Arabi: 1392 H], cetakan kedua, juz VI, halaman 139).

Pendapat Empat Mazhab tentang Imam Shalat Jumat
Lalu bagaimana pendapat ulama tentang imam shalat Jumat yang bukan sekaligus khatibnya, sebagaimana dipraktikkan di berbagai masjid di Indonesia?

Dalam mazhab Syafi’i, tampaknya tidak ada keharusan yang menjadi imam shalat Jumat adalah sekaligus khatibnya. Hal ini tersirat dalam penjelasan Imam Syamsuddin Ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M) ketika menjelaskan kesunnahan khatib untuk segera menuju ke mihrab (tempat Imam) setelah selesai khutbah bersamaan dengan muazin mengumandangkan iqamah. Tokoh mazhab Syafi’i asal Mesir berjuluk As-Syafi’i As-Shaghir menjelaskan:

لَوْ كَانَ الْإِمَامُ غَيْرَ الْخَطِيبِ وَهُوَ بَعِيدٌ عَنِ الْمِحْرَابِ أَوْ بَطِيءَ النَّهْضَةِ سُنَّ لَهُ الْقِيَامُ بِقَدْرٍ يَبْلُغُ بِهِ الْمِحْرَابَ، وَإِنْ فَاتَتْهُ سُنَّةُ تَأَخُّرِ الْقِيَامِ إلَى فَرَاغِ الْإِقَامَةِ

Artinya, “Andaikan imamnya bukan orang yang berkhutbah sementara posisinya jauh dari mihrab, atau ia orang yang lambat bangunnya, maka disunnahkan berdiri dahulu dengan ukuran waktu yang dengannya ia mampu mencapai mihrab, meskipun kehilangan kesunnahan menunda berdiri sampai muazin selesai dari iqamahnya,” (Lihat Muhammad bin Abil Abbas Al-Manufi al-Mishri, Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 1424 H/2003 M], cetakan ketiga, juz II, halaman 327).

Selain itu, hal tersebut juga terkonfirmasi secara terang-terangan dalam kitab Rahmatul Ummah karya Muhammad bin Abdirrahman Ad-Dimasyqi. Di sana ia mengatakan:

وَاخْتَلَفُوا هَلْ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمُصَلِّي غَيْرَ الْخَاطِبِ؟ فَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يَجُوزُ لِعُذْرِ. وَقَالَ مَالِكُ: لَا يُصَلِّي إِلَّا مَنْ خَطَبَ. وَلِلشَّافِعِيِّ قَوْلَانِ، اَلصَّحِيحُ الْجَوَازُ. وَعَنْ أَحْمَدَ رِوَايَتَانِ

Artinya, “Imam mazhab empat berbeda pendapat, apakah boleh yang mengimami shalat Jumat adalah selain orang yang berkhutbah? Lalu Imam Abu Hanifah berpendapat boleh bila karena ada uzur. Imam Malik berpendapat tidak boleh mengimami shalat Jumat kecuali orang yang berkhutbah. Imam punya dua pendapat, dan pendapat yang shahih adalah boleh. Sementara dari Imam Ahmad terdapat dua riwayat (yang membolehkan dan tidak membolehkan),” (Lihat Muhammad bin Abdirrahman Ad-Dimasyqi As-Syafi’i, Rahmatul Ummah fi Ikhtilafil Aimmah, [Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah: tanpa keterangan tahun], juz halaman 50).

Dari uraian di atas diketahui bahwa masalah ‘siapa yang boleh menjadi imam shalat Jumat, apakah orang yang berkhutbah atau orang lain’ merupakan permasalahan khilafiyah imam mazhab empat. Bahkan Imam As-Syafi’i juga punya dua pendapat, sebagaimana dari Imam Ahmad diwariskan dua riwayat pendapatnya. Demikian titik terangnya. Wallahu a’lam. (Sekretaris LBM NU Jatim, Ahmad Muntaha AM)
Selasa 9 Oktober 2018 6:0 WIB
Anjuran Memperbanyak Doa di Hari Jumat
Anjuran Memperbanyak Doa di Hari Jumat
Jumat termasuk hari yang dimuliakan dalam Islam. Jumat tergolong mulia karena di dalamnya terdapat keutamaan dan kesunnahan. Bahkan, dalam beberapa hadits disebut Jumat sebagai hari raya umat Islam.

Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada hari Jumat adalah memperbanyak doa. Berdoa tentu bisa kapan pun dan di mana pun. Tapi kalau berdoa di waktu yang tepat tentu itu lebih baik. Karena Jumat salah satu hari terbaik untuk berdoa, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak doa pada hari tersebut.

Syekh Nawawi Banten menjelaskan dalam Nihayatuz Zain:

ودعاء أي إكثر دعاء في يومها وليلتها، أما في يومها فلرجاء أن يصادف ساعة الإجابة. والصحيح فيها ما ورد أنها ما بين أن يجلس الإمام للخطبة إلى أن تنقضي الصلاة، وليس المراد أنها مستغرقة لهذا الزمن بال المراد أنها لحظة لطيفة لا تخرج عن هذا الوقت، وأما ليلتها فلقول الشافعي رضى الله عنه: بلغني أن الدعاء يستجاب في ليلة الجمعة وللقياس على يومها، ويسن كثرة الصدقة وفعل الخير في يومها وليلتها
 
Artinya, “Disunnahkan berdoa, maksudnya memperbanyak doa pada siang hari dan malam hari Jumat. Adapun memperbanyak doa di siang hari harapannya agar sesuai dengan waktu ijabah. Pendapat yang shahih tentang waktu ijabah adalah antara duduknya khatib sampai selesai shalat. Maksudnya bukan seluruh waktu, tapi hanya sebentar dari rentang waktu tersebut. Adapun terkait doa malam hari, Imam As-Syafi’i berkata, ‘Telah sampai hadits kepadaku bahwa doa diijabah pada malam Jumat dan ini bisa diqiyaskan dengan siang harinya.’ Dianjurkan juga memperbanyak sedekah dan perbuatan baik pada malam dan siang hari Jumat.”

Memperbanyak doa sangat dianjurkan pada siang hari dan malam hari Jumat. Khusus pada siang hari, ada waktu yang paling baik untuk berdoa yaitu ketika antara khatib naik mimbar sampai shalat Jumat selesai. Memang tidak diketahui waktu pastinya, tapi ulama hanya menjelaskan rentang waktunya saja. Dikarenakan tidak ada yang tahu waktu pastinya, maka perbanyaklah berdoa.

Kemudian berdoa tidak hanya dianjurkan di siang hari, tapi juga malam hari. Hal ini sebagaimana dikatakan Imam As-Syafi’i, berdoa di malam hari bisa disamakan dengan doa di siang hari. Selain doa, kita pada hari Jumat juga dianjurkan memperbanyak sedekah dan amal saleh lainnya. Wallahu a'lam. (Hengki Ferdiansyah)
Selasa 25 September 2018 17:30 WIB
Inilah Sembilan Kesunnahan dalam Khutbah
Inilah Sembilan Kesunnahan dalam Khutbah
Khutbah Jumat merupakan salah satu bagian terpenting dalam pelaksanaan Jumat. Khutbah Jumat tidak sama dengan ceramah-ceramah biasa. Ada beberapa anjuran yang perlu diperhatikan. Berikut ini Sembilan hal yang disunnahkan dalam pelaksanaan khutbah Jumat.

Pertama, khutbah di atas mimbar.

Anjuran ini karena mengikuti sunnah Nabi sebagaimana hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim. Demikian pula disunnahkan posisi mimbar berada di sebelah kanan mihrab (pengimaman). Bila tidak ditemukan mimbar, maka cukup digantikan dengan tempat yang tinggi, tujuannya karena lebih sempurna dalam memperdengarkan khutbah kepada Jamaah.

Kedua, menghadap para jamaah.

Khutbah dianjurkan dilakukan dalam posisi menghadap para jamaah, bukan membelakangi mereka. Bagi para jamaah disunnahkan pula menghadapkan wajahnya kepada khatib. Dalam titik ini, terdapat beberapa hadits Nabi yang menjelaskan hal tersebut. Di antaranya haditsnya ‘Adi bin Tsabit dari ayahnya bahwa beliau mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلَهُ أَصْحَابُهُ بِوُجُوهِهِمْ

“Nabi Saw saat berdiri di atas mimbar, para sahabatnya menghadapkan wajahnya kepada beliau.” (HR. Ibnu Majah)

Ketiga, azan sebelum khutbah.

Pada masa Rasulullah Saw, Abu Bakr dan Umar bin Khattab, azan sebelum khutbah hanya dilakukan sekali, yaitu saat khatib datang dan mengambil posisi duduk di atas mimbar. Baru di masa pemerintahan Utsman bin Affan ditambahkan satu azan lagi. Sahabat Utsman menganggap sangat perlu menambahkan satu azan untuk lebih mengumpulkan kaum muslim agar segera bersiap mendengarkan bacaan khutbah, melihat jumlah kuantitas umat islam yang bertambah banyak.

Dalam kitab al-Umm karya imam al-Syafi’i ditegaskan:

أخبرنا الرَّبِيعُ قال أخبرنا الشَّافِعِيُّ قال أخبرني الثِّقَةُ عن الزُّهْرِيِّ عن السَّائِبِ بن يَزِيدَ أَنَّ الْأَذَانَ كان أَوَّلُهُ لِلْجُمُعَةِ حين يَجْلِسُ الْإِمَامُ على الْمِنْبَرِ على عَهْدِ رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبى بَكْرٍ وَعُمَرَ فلما كانت خلافه عُثْمَانَ وَكَثُرَ الناس أَمَرَ عُثْمَانَ بِأَذَانٍ ثَانٍ فَأُذِّنَ بِهِ فَثَبَتَ الْأَمْرُ على ذلك

“Dari al-Rabi’, dari al-Syafi’i, dari seseorang yang terpercaya, dari al-Zuhri, dari al-Saib bin Yazid, bahwa mula-mula azan Jumat dikumandangkan saat imam duduk di atas mimbar di zaman Rasulullah, Abu Bakr dan Umar. Kemudian saat pemerintahan Utsman bin Affan dan semakin banyaknya umat islam, khalifah Utsman memerintahkan azan yang ke dua, kemudian dikumandangkan azan sesuai perintahnya. Kemudian azan jumat berlaku tetap seperti petunjuk shabat Utsman.” (al-Imam al-Syafi’i, al-Umm, juz 1, hal.195). 

Keempat, membaca khutbah dengan lantang.

Khutbah hendaknya dibaca dengan lantang dan keras. Hal ini agar dapat lebih menggugah antusiasme jamaah. Anjuran ini juga berdasarkan sunnah fi’liyyah (perilaku) Nabi saat beliau menyampaikan khutbah. Ditegaskan dalam hadits riwayat sahabat Jabir bin Abdillah:

كَانَ رَسُولُ الله - صلى الله عليه وسلم - إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

“Rasulullah Saw saat beliau berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang dan tampak sangat marah seakan-akan beliau memperingatkan tentara perang.” (HR. Muslim).

Kelima, mengucapkan salam sebelum berkhutbah.

Saat khatib maju ke depan dan telah sampai di depan mimbar, hendaknya ia menghadap para jamaah dan mengucapkan salam kepada mereka, setelah itu dianjurkan duduk sejenak sampai muazzin selesai mengumandangkan azan di hadapannya. Demikian itu sebagaimana dilakukan oleh para Nabi dan para sahabatnya.

Keenam, durasi khutbah tidak terlampau pendek dan panjang.

Khutbah hendaknya disampaikan dalam durasi yang standar, tidak terlampau pendek, tidak pula terlalu panjang. Dalam sebuah hadits ditegaskan:

كَانَتْ صَلَاةُ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

“Bahwa durasi shalat dan khutbahnya Nabi sesuai dengan standar umum.” (HR. Muslim)

Tidak ada batasan pasti berapa lama durasi waktu khutbah yang ideal menurut syari’at. Hanya saja, al-Imam al-Mawardi menggaris bawahi bahwa prinsipnya adalah tidak terlampau lama sehingga dapat membosankan dan tidak terlampau pendek sehingga pesan khutbah tidak dapat dicerna dengan baik oleh jamaah. Dalam titik ini, disesuaikan dengan kondisi kebiasaan masing-masing di setiap tempatnya.

Al-Imam al-Mawardi sebagaimana dikutip oleh Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli mengatakan:

وَحَسُنَ قَوْلُ الْمَاوَرْدِيِّ وَيَقْصِدُ إيرَادَ الْمَعْنَى الصَّحِيحِ وَاخْتِيَارَ اللَّفْظِ الْفَصِيحِ وَلَا يُطِيلُ إطَالَةً تُمِلُّ وَلَا يُقَصِّرُ تَقْصِيرًا يُخِلُّ

“Dan bagus statemen al-Mawardi, hendaknya khatib menyengaja makna yang benar dan memilih redaksi yang fasih, hendaknya ia tidak memanjangkan khutbah yang dapat membosankan dan tidak memendekan khutbah yang dapat merusak pesan khutbah.” (Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli, Hasyiyah ‘ala Asna al-Mathalib, juz 3, hal.484).

Yang sering disalahpahami, khutbah dengan durasi yang sangat panjang merupakan sebuah prestasi dan dianggap positif. Padahal, hal tersebut tidak sesuai dengan petunjuk Nabi. 

Sebagaimana ditegaskan dalam beberapa hadits, bahwa Nabi memendekan khutbah dan memanjangkan shalat Jumat. Bacaan khutbah yang terlampau panjang, di samping bertentangan dengan ajaran Nabi, juga dapat mengakibatkan jamaah resah, karena beberapa di antara mereka terdapat orang tua, anak kecil dan orang-orang yang segera melanjutkan aktivitas kerjanya. 

Ketujuh, memegang tongkat dengan tangan kirinya.

Saat ia berkhutbah, tangan kiri khatib dianjurkan memegang tongkat, pedang, busur panah atau benda-benda sejenis. Hal ini berdasarkan hadits Nabi:

أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي خُطْبَةِ الْجُمُعَةِ مُتَوَكِّئًا عَلَى قَوْسٍ أَوْ عَصًا

“Bahwa Nabi berdiri dalam khutbah Jumat seraya berpegangan atas busur tanah atau tongkat.” (HR. Abu Daud).

Kedelapan, mudah dipaham jamaah.

Sebaiknya materi khutbah berupa konten yang ringan, mudah dicerna oleh para jamaah. Tidak menyampaikan materi yang berat, sebab hal tersebut tidak dapat diambil manfaatnya. Contoh materi yang sederhana misalkan yang berkaitan dengan keutamaan berjamaah, keutamaan membaca al-quran, kemuliaan bulan-bulan tertentu, bahaya riba, efek negatif zina dan lain sebagainya. Sahabat Ali mengatakan:

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Bicaralah kepada manusia dengan perkara yang mereka ketahui. Apakah kalian suka Allah dan rasulNya didustakan?.” (HR. al-Bukhari).

Kesembilan, duduk di antara dua khutbah dalam durasi bacaan surat al-Ikhlash.

Lama durasi duduk di antara dua khutbah hendaknya sekira cukup membaca surat al-Ikhlash. Dalam posisi tersebut, khatib disunnahkan membaca satu dua ayat dari al-Qur’an sebagiamana hadits riwayat Ibnu Hibban. Sebagian ulama menganjurkan yang dibaca adalah surat al-Ikhlash.

Demikianlah Sembilan hal yang disunnahkan dalam khutbah. Semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)