IMG-LOGO
Trending Now:
Doa

Ini Lafal Pengakuan Dosa dan Kekhilafan

Kamis 11 Oktober 2018 2:0 WIB
Share:
Ini Lafal Pengakuan Dosa dan Kekhilafan
Dosa, kesalahan, kealpaan, dan kekhilafan merupakan sesuatu yang lazim bagi umat manusia. Sebagian nabi sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an memberikan keteladanan perihal sikap orang yang terlanjur berdosa dan terjerumus dalam jurang kesalahan.

Berikut ini adalah lafal tobat Nabi Adam AS dan Siti Hawa atau pengakuan kesalahan keduanya yang diabadikan dalam Surat Al-A‘raf berikut ini.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Rabbanā zhalamnā anfusanā. Wa illam taghfir lanā wa tarhamnā, lanakūnanna minal khāsirīna.

Artinya, “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri sendiri. Jika Kau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk hamba-Mu yang merugi,” Surat Al-A‘raf ayat 23.

Sementara berikut ini adalah lafal pertobatan Nabi Yunus AS di dalam tiga kegelapan, yaitu kegelapan malam, kegelapan di bawah permukaan laut, dan kegelapan di dalam perut ikan.

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Lā ilāha illā anta. Subhānaka innī kuntu minaz zhālimīna.

Artinya, “Tiada tuhan selain Allah. ,” Surat Al-Anbiya ayat 87.

Al-Qur’an menceritakan bahwa kalau saja Nabi Yunus AS bukan termasuk orang yang gemar bertasbih, niscaya ia akan tetap berada di dalam tiga kegelapan itu hingga hari kiamat tiba.

Sementara Rasulullah SAW sendiri juga mengajarkan lafal pengakuan dosa. Rasulullah SAW mengajarkan lafal atau doa tobat ini kepada Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq RA yang seharusnya dibaca di dalam shalat. Ulama kemudian menganjurkan kita membaca doa ini setelah membaca tasyahud akhir dan sebelum salam.

اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا, وَلَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ, فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ, وَارْحَمْنِي, إِنَّكَ أَنْتَ اَلْغَفُورُ اَلرَّحِيمُ

Allāhumma innī zhalamtu nafsī zhulman katsīran (tercatat “kabīran” pada sebagian riwayat), wa lā yaghfirud dzunūba illā anta, faghfir lī maghfiratan min ‘indika, warhamnī, innaka antal ghafūrur rahīmu.

Artinya, “Tuhanku, sungguh aku telah menganiaya diri sendiri dengan penganiayaan yang banyak (sebagian riwayat ‘yang besar’). Tiada yang dapat mengampuninya kecuali Engkau. Anugerahkanlah ampunan dari sisi-Mu. Rahmatilah aku. Sungguh, Kau maha pengampun, lagi maha penyayang,” HR Bukhari dan Muslim.

Pada riwayat lain, Nabi Muhammad SAW seperti diriwayatkan oleh sahabat Abu Musa Al-Asy‘ari membaca doa berikut ini.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيْئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي؛ وَخَطَئِي وَعَمْدِي؛ وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Allāhummaghfir lī khathī’atī wa jahlī, wa isrāfī fī amrī, wa mā anta a‘lamu bihī minnī. Allāhummaghfir lī jiddī wa hazlī, wa khatha’ī wa ‘amdī. Wa kullu dzālika ‘indī. Allāhummaghfir lī mā qadamtu wa mā akhkhartu, wa mā asrartu, wa mā a‘lantu, wa mā anta a‘lamu bihī minnī. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru, wa anta ‘alā kulli syai’in qadīrun.

Artinya, “Tuhanku, ampunilah kekeliruan dan kebodohanku, kelewatanbatasku dalam sebuah hal, dan dosaku yang mana Kau lebih tahu dariku. Tuhanku, ampunilah dosaku dalam serius dan gurauanku, kekeliruan dan kesengajaanku. Apa pun itu semua berasal dariku. Tuhanku, ampunilah dosaku yang terdahulu dan terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan kunyatakan, dan dosa yang mana Kau lebih tahu dariku. Kau maha terdahulu. Kau maha terkemudian. Kau maha kuasa ata segala sesuatu,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sayid Bakri bin M Sayid Syatho Dimyathi dalam karyanya I‘anatut Tholibin mengutip ucapan Syekh Abdul Wahhab Sya’roni.

عن سيدي عبد الوهاب الشعراني ـ نفعنا الله به ـ أن من واظب على قراءة هذين البيتين في كل يوم جمعة، توفاه الله على الإسلام من غير شك، وهما:

إِلَهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلًا   وَلَا أَقْوَى عَلَى نَارِ الجَحِيْمِ

فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِيْ   فَإِنَكَ غَافِرُ الذَنْبِ العَظِيْمِ

Artinya, “Dari Syekh Abdul Wahhab Sya’roni-semoga Allah memberikan maslahat kepada kita berkat Syekh Wahhab-bahwa siapa saja yang melazimkan dua bait ini setiap hari Jum’at, maka Allah akan ambil ruhnya dalam keadaan Islam tanpa ragu sedikitpun.”

Kedua bait syair itu berbunyi: Ilahi lastu lil Firdausi ahla # Wa la aqwa ala naril jahimi / Fa hab li taubatan waghfir dzunubi # Fainnaka ghafirudz dzanbil ‘azhimi.

(Tuhanku, aku bukanlah penghuni yang pantas surga-Mu. Aku pun tidak sanggup masuk neraka. Karena itu, bukalah pintu tobat-Mu. Ampunilah segenap dosaku. Karena sungguh Engkau ialah Zat yang maha pengampun).

Semua lafal ini baik diucapkan sesering mungkin sebagai lafal yang baik dalam hal pengakuan dosa dan pertobatan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Ahad 30 September 2018 16:0 WIB
Ini Lafal Doa untuk Para Sahabat, Tabi’in, Wali, dan Masyayikh
Ini Lafal Doa untuk Para Sahabat, Tabi’in, Wali, dan Masyayikh
Kita sering mendoakan orang-orang setelah nama mereka disebut. Kita berharap orang-orang yang didoakan itu mendapatkan limpahan kebaikan dari Allah SWT. Kita menyebut praktik ini dengan istilah du‘aiyyah.

Untuk para sahabat kita mendoakan dengan taradhdhi, yaitu lafal “radhiyallāhu anhu” atau “radhiyallāhu anhum”.

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

Radhiyallāhu anhu, radhiyallāhu anhā, radhiyallāhu anhumā, atau radhiyallāhu anhum.

Kita juga dapat menggunakan lafal taradhdhi untuk mendoakan tabi’in, wali, dan masyayikh sebagaimana keterangan Syekh M Nawawi Banten berikut ini.

وفي حق الصحابة والتابعين والأولياء والمشايخ بالترضي وفي حق غيرهم يكفي أي دعاء كان انتهى

Artinya, “(Tetapi lafal yang sesuai dan layak) untuk para sahabat, tabi’in, wali, dan masyayikh adalah lafal taradhdhi, dan untuk selain mereka sudah cukup, yaitu doa sebagai adanya. Selesai,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Sementara untuk selain mereka, kita dapat menggunakan lafal “rahimahullāh” atau “yarhamuhullāh”. Sedangkan khusus untuk para nabi dan rasul, kita memakai lafal shalawat dan salam. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Selasa 28 Agustus 2018 11:0 WIB
Doa Sambut Jamaah Haji Pulang ke Tanah Air
Doa Sambut Jamaah Haji Pulang ke Tanah Air
(Foto: tripulous.com)
Beberapa hari lagi jamaah haji asal Indonesia kembali ke tanah air. Kita dianjurkan menyambut kepulangan mereka dengan penuh gembira. Kita juga dianjurkan mendoakan jamaah haji sepulang mereka menunaikan ibadah di tanah suci.

يستحب لمن يسلم على القادم من الحج أن يقول قبل الله حجك، وغفر ذنبك، وأخلف نفقتك

Artinya, “Orang yang menyalami jamaah haji sepulang manasik dianjurkan mendoakannya, ‘Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka,’” (Lihat An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 247).

Kita menemukan dua lafal doa dalam menyambut jamaah pulang haji. Berikut ini merupakan doa yang pernah dibaca Rasulullah ketika mendoakan seorang jejaka sebelum berangkat dan sepulang dari ibadah haji.

Berikut ini merupakan doa menyambut jamaah haji pulang ke tanah air.

قَبَّلَ اللهُ حَجَّكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ

Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka.

Artinya, “Semoga Allah menerima ibadah hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti pengeluaranmu.”

Doa ini disebutkan secara lengkap oleh Imam An-Nawawi di Kitab Al-Azkar-nya sebagai berikut:

روينا في كتاب ابن السني عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: جاء غلام إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إني أريد الحج، فمشى معه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا غلام، زودك الله التقوى، ووجهك في الخير، وكفاك الهم"، فلما رجع الغلام سلم على النبي صلى الله عليه وسلم فقال "يا غلام قبل الله حجك، وغفر ذنبك، وأخلف نفقتك"

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di Kitab Ibnu Sunni dari Ibnu Umar RA, bahwa suatu hari seorang jejaka menemui Rasulullah, ‘Aku ingin berhaji wahai Rasul.’ Ia kemudian berjalan bersama Rasulullah. Rasul mendoakannya, ‘Zawwadakallâhut taqwa, wa wajjahaka fil khair, wa kafâkal hamma.’ Sepulang dari haji, ia menemui Rasulullah. Rasul mendoakan, ‘Wahai pemuda, Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka.’”

Sementara doa penyambutan jamaah sepulang dari haji adalah doa berikut ini.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الحَاجُّ

Allâhummaghfir lil hâjj, wa li man istaghfara lahul hâjj.

Artinya, “Ya Allah, ampunilah dosa jamaah haji ini dan dosa orang yang dimintakan ampun oleh jamaah haji ini.”

Doa ini dikutip dari hadits riwayat Abu Hurairah RA. Riwayat ini juga disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar yang dikutip dari Sunan Al-Baihaqi. Menurut Imam Al-Hakim, hadits ini shahih berdasarkan syarat hadits Muslim. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 28 Agustus 2018 6:30 WIB
Doa Jamaah Haji saat Pulang Berjumpa Keluarga
Doa Jamaah Haji saat Pulang Berjumpa Keluarga
(Foto: via iqraa.com)
Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Idhah fi Manasikil Hajj menganjurkan jamaah haji untuk membaca doa yang dilafalkan Rasulullah SAW sebelum memasuki rumahnya dan menemui keluarganya.

تَوْبًا تَوْبًا، لِرَبِّنَا أَوْبًا، لَا يُغَادِرُ حُوْبًا

Tauban, tauban, li rabbinâ awban, lâ yughâdiru hûban.

Artinya, “Kami sungguh memohon pertobatan. Kepada Tuhan kami, kami kembali, tobat yang tidak menyisakan dosa.”

Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Idhah fi Manasikil Hajj menguraikan doa pendek tersebut dalam keterangan sebagai berikut:

قلت توبا توبا سؤال التوبة، أي نسألك توبة كاملة ولا يغادر حوبا أي لا يترك إثما

Artinya, “Bagi saya, kata ‘tauban, tauban’ bermakna permohonan penerimaan tobat, yaitu ‘kami memohon kepada-Mu tobat yang sempurna.’ Kata ‘lâ yughâdiru hûban’ bermakna ‘tidak menyisakan dosa,’” (Lihat An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 247-248).

Doa pendek ini sebenarnya doa umum bagi mereka yang pulang setelah menempuh perjalanan untuk kepentingan apa saja selain perjalanan haji. Tetapi doa pendek ini juga baik diamalkan oleh mereka yang pulang menunaikan ibadah haji.

ويستحب أن يقول إذا دخل بيته ما رويناه في كتاب الأذكار عن ابن عباس رضي الله عنهما قال كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا رجع من سفره فدخل على أهله قال تَوْبًا تَوْبًا، لِرَبِّنَا أَوْبًا، لَا يُغَادِرُ حُوْبًا

Artinya, “Seseorang (jamaah haji) dianjurkan bila hendak memasuki rumahnya berdoa dengan lafal sebagaimana diriwayatkan di Kitab Al-Azkar dari Ibnu Abbas RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW ketika pulang dari perjalanan jauh, lalu menemui keluarganya, berdoa, ‘Tauban, tauban, li rabbinâ awban, lâ yughâdiru hûban,’” (Lihat An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 247).

Doa pendek ini sebenarnya doa umum atas perjalanan apa saja. Meski demikian, Imam An-Nawawi merekomendasikan jamaah haji untuk membaca doa pendek ini sebelum masuk ke rumah dan menemui semua anggota keluarga serta kerabatnya untuk melepas kerinduan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)