IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Sikap Rasulullah terhadap Anak-anak

Ahad 14 Oktober 2018 19:0 WIB
Share:
Sikap Rasulullah terhadap Anak-anak
“Siapa yang mempunyai anak kecil hendaknya berperilaku seperti mereka.” Kata Rasulullah dalam sebuah hadits yang tertera dalam kitab Kanzul Ummal.

Rasulullah adalah suri teladan paripurna bagi umat manusia. Semua perilaku yang ditampilkannya mengandung akhlak yang mulia. Ia adalah suami terbaik bagi istrinya, kawan terbaik bagi sahabat-sahabatnya, dan panutan sempurna bagi umatnya. 

Rasulullah adalah orang sangat peduli terhadap umatnya, para sahabatnya. Ia senang kalau mereka gembira. Begitu pun sebaliknya. Rasulullah adalah tipe orang yang membaur. Pangkat dan jabatannya tidak menghalanginya untuk bertegur sapa dan berinteraksi langsung kepada para sahabatnya, meski jelata, dengan menampilkan akhlak yang mulia. Termasuk kepada anak-anak. 

Rasulullah memperlakukan anak-anak, baik anaknya sendiri atau pun anak sahabatnya, dengan cinta dan kasih sayang. Berikut sejumlah sikap dan perlakuan Rasulullah kepada anak-anak. Pertama, mendoakan. Bayi-bayi sahabat yang baru lahir biasanya dibawa ke Rasulullah untuk dimintakan doa. Merujuk buku Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah, suatu ketika Ummu Farqad al-Ajali membawa anaknya, Farqad, yang berjambul ke Rasulullah. Sambil mengusap jambulnya, Rasulullah mendoakan Farqad. 

“Awali anak-anak kalian dengan kalimat La ilaha illa Allah,” kata Rasulullah.

Kedua, memberi nama yang baik. Dalam beberapa hadits, Rasulullah selalu mengingatkan agar anak yang baru lahir diaqiqahi, dipotong rambutnya, dan diberi nama yang baik. Suatu ketika, Abu Usaid membawa anaknya yang baru lahir ke Rasulullah. Anak Abu Usaid ditimang-timang Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah bertanya kepada Abu Usaid tentang nama anaknya itu. Namanya si ‘fulan’, kata Abu Usaid. Karena alasan tertentu, akhirnya Rasulullah mengubah nama Abu Usaid tersebut dengan Mundzir.

Ketiga, mengajarkan kejujuran. Rasulullah selalu mengajarkan kejujuran kepada anak-anak. Tidak segan pula memberikan hukuman apabila mereka berdusta. Dikisahkan bahwa suatu saat Abdullah bin Busr disuruh ibunya untuk menghantarkan setandan anggur kepada Rasulullah. 

Di tengah perjalanan, Abdullah bin Busr memakan beberapa anggur tersebut sebelum diserahkan kepada Rasulullah. Ketika Abdullah bin Busr menghadap Rasulullah, Rasulullah menjewer telinganya dan menasihatinya agar tidak khianat lagi dengan apa yang dipesankan ibunya.    

Keempat, tidak membeda-bedakan. Rasulullah menyeru agar berbuat adil kepada anak-anak. Ketika memberikan sesuatu, orang tua mestinya tidak membedakan antara anak yang satu dengan yang lainnya. Jangan sampai ada kecemburuan sosial diantara anak-anak. 

“Jangan beda-bedakan soal pemberian untuk anak-anakmu,” kata Rasulullah.

Suatu ketika ayah Nu’man bin Basyir memberikan sebagian hartanya kepadanya. Karena ibunya tidak puas, kemudian ayah Nu’man bin Basyir mendatangi Rasulullah dan menceritakan apa yang diberikannya kepada Nu’man. Rasulullah bertanya kepadanya perihal anak-anak yang lainnya, apakah mendapatkan bagian harta juga. Tidak, kata ayah Nu’man. Rasulullah langsung menyuruh ayah Nu’man berbuat adil kepada semua anak-anaknya. Jika yang satu dapat, maka yang lainnya juga harus sama. Pun sebaliknya.

“Akhirnya ayah menarik kembali pemberian itu dariku,” kata Nu’man bin Basyir. 

Kelima, membimbing anak agar mematuhi ajaran agama. Rasulullah sangat perhatian kepada anak-anaknya. Ia tidak membiarkan mereka meninggalkan ajaran agama Islam, manakala mereka sudah ditaklif. Menurut Rasulullah, kewajiban orang tua adalah menyuruh anak-anaknya untuk melaksanakan shalat saat berusia tujuh tahun. Saat anak berumur 10 tahun namun tidak mengerjakan shalat, maka mereka harus dipukul. Tentu dengan pukulan yang dilandasi dengan kasih.

Bentuk lain kepedulian Rasulullah kepada anak-anak adalah dengan menjaganya dari perbuatan dosa dan keji. Dikisahkan, suatu waktu Rasulullah bersama dengan Fadhl bin Abbas naik unta. Tiba-tiba ada seorang cantik yang menghampiri Rasulullah dengan maksud hendak menanyakan suatu persoalan agama. Ketika Fadhl memandangi perempuan tersebut, Rasulullah langsung memerintahkannya untuk memalingkan wajahnya. Alasannya, Rasulullah tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena pada saat itu Fadhl bin Abbas baru saja menginjak usia baligh.

Keenam, mendidik anak dengan tiga hal. Rasulullah menekankan agar anak-anak dididik dengan tiga hal, yaitu mencintai Nabi, mencintai keluarga Nabi, dan membaca Al-Qur’an. Ketiganya harus diajarkan kepada anak agar mereka memiliki panutan dan pedoman yang jelas dalam mengarungi dunia ini. 

Kepada anak cucunya sendiri, Rasulullah adalah orang paling perhatian. Rasulullah selalu mengunjungi putranya, Ibrahim, meski dia sangat sibuk. Ia selalu mencium, memeluk, dan membelai Ibrahim dengan penuh kasih sayang. Maka ketika Ibrahim juga wafat –sebelumnya semua putra Rasulullah wafat di usia anak-anak, Rasulullah sangat sedih. Matanya penuh dengan linangan air mata.

Pun dengan cucu-cucunya. Rasulullah sangat sayang kepada mereka. Untuk menghibur cucu-cucunya, Rasulullah kerap kali membawa mereka di atas punggungnya. Rasulullah memosisikan diri seperti kuda, sementara cucu-cucunya naik di atas punggungnya. Hal ini tidak hanya dilakukan Rasulullah bersama Hasan dan Husain, tapi juga dengan Umama,cucu perempuannya. Sebagaimana yang tertera dalam buku Versi Terdalam: Kehidupan Rasulullah Muhammad saw. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Jumat 12 Oktober 2018 19:0 WIB
3 Orang yang Diperbolehkan Meminta-minta Menurut Rasulullah
3 Orang yang Diperbolehkan Meminta-minta Menurut Rasulullah
Meminta-minta atau mengemis adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan kepada umatnya agar bekerja secara halal dan baik ketika mereka ingin mendapatkan sesuatu. Beberapa ulama bahkan mengharamkan perbuatan meminta-minta atau mengemis. Alasannya, perbuatan mengemis merupakan salah satu bentuk pengaduan diri kepada orang lain. Padahal, bukankah seharusnya hanya kepada Allah semata kita mengadu.

Dalam sebuah hadits yang terekam dalam kitab al-Jâmi’us Shaghîr karya Imam Jalaludin As-Suyuthi, Rasulullah bersumpah atas tiga hal. Salah satunya adalah bahwa Allah akan membukakan pintu kefakiran kepada mereka yang meminta-minta, padahal mereka masih memiliki tenaga dan harta untuk mencukupi kebutuhannya. Disebutkan bahwa Allah akan membuat orang tersebut lebih merana dari yang ia tunjukkan kepada orang saat ia meminta-minta.

Ada juga sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa tangan di atas (memberi) lebih baik dari pada tangan di bawah (meminta-minta atau mengemis). Hadits ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menjauhi yang namanya meminta-minta. Sekaligus menjadi pendorong mereka untuk menjadi tangan di atas. Mengapa? Karena memberi lebih baik daripada meminta-minta.
Akan tetapi, meminta-meminta tidak dilarang secara mutlak. Bahkan, Rasulullah memperkenankan tiga orang apabila mereka hendak meminta-minta. Siapa saja tiga kelompok tersebut?

Dikutip dari buku Pesona Ibadah Nabi, suatu ketika Qabishah bin Mukhariq al-Hilali curhat kepada Rasulullah perihal kehidupannya yang berat. Mulanya, Rasulullah meminta Qabishah untuk bersabar dan menunggu sedekah yang akan datang kepadanya. Karena tanggungannya yang begitu berat, Qabishah bertanya kepada Rasulullah dengan malu-malu. 

“Wahai Rasulullah, sambil menunggu sedekah itu datang, bolehkah aku meminta-minta?” tanya Qabishah.

Rasulullah langsung menjawab bahwa meminta-meminta itu tidak diperkenankan dalam Islam. Namun demikian, ada tiga orang yang diperkenankan meminta-minta atau mengemis. Pertama, orang yang memikul beban berat di luar batas kemampuannya. Rasulullah menyebutkan bahwa kelompok pertama ini diperbolehkan meminta-minta sampai tercukupi sekadar kebutuhannya. Ketika sudah tercukupi kebuuhan sekedarnya, ia harus berhenti mengemis.

Kedua, orang yang terkena musibah dan hartanya hilang semua. Kelompok kedua ini juga diperbolehkan meminta-minta, namun apabila sekadar kebutuhannya sudah tercukupi maka ia harus berhenti. 

Ketiga, orang-orang yang sangat miskin. Bagaimana cara mengukur miskin yang seperti ini? Rasulullah memberikan standar bahwa apabila tiga orang tetangganya menilai orang tersebut miskin, maka orang orang tersebut benar-benar miskin. Orang seperti ini diperkenankan untuk meminta-minta sampai kebutuhan sekadarnya tercukupi.

“Di luar kelompok tersebut, wahai Qabishah, meminta-minta tidak diperkenankan. Dan jika ada orang di luar kelompok itu meminta-minta, harta haram telah dimakan,” kata Rasulullah dengan tegas. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 5 Oktober 2018 21:0 WIB
8 Keistimewaan Rasulullah Saat di Akhirat
8 Keistimewaan Rasulullah Saat di Akhirat
Rasulullah adalah orang yang istimewa. Ia nabi dan rasul terakhir Allah di muka bumi ini. Ajaran agama Islam yang dibawanya menjadi penyempurna atas ajaran Tauhid yang dibawa para nabi da rasul sebelumnya. Oleh sebab itu, Allah memberikan kekhususan atau keistimewaan kepada Rasulullah. Sesuatu yang hanya ada dan berlaku pada Rasulullah, tidak pada nabi, rasul atau pun manusia yang lainnya. 

Keistimewaan Rasulullah tidak hanya ketika beliau berada di dunia seperti menjadi rahmat bagi semesta alam, dihalalkan harta rampasan perang baginya dan pengikutnya, menjadi penutup para nabi, dan lainnya, namun juga saat di akhirat kelak. Merujuk kitab Syakhshiyatur Rasul, setidaknya ada delapan kekhususan atau keistimewaan yang diberikan Allah kepada Rasulullah di akhirat kelak.

Pertama, orang yang pertama dibangkitkan. Di dalam Islam, dunia adalah ladang amal. Sementara akhirat adalah ladang panen. Jadi, umat manusia yang meninggal pasti akan dibangkitkan kembali di akhirat kelak untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Siapa yang dibangkitkan paling awal ternyata tidak tergantung siapa yang dulu meninggal. Berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah adalah orang yang pertama dibangkitkan di akhirat nanti.

“Aku adalah penghulu dari seluruh anak adam di hari kiamat. Aku orang pertama yang dibelah kuburnya,” kata Rasulullah.

Kedua, pemberi syafaat. Di hari kiamat nanti, manusia berbondong-bondong mendatangi para nabi dan rasul untuk meminta syafaatnya. Namun, nabi dan rasul yang didatangi tidak bisa memberikan syafaat. Kemudian mereka mendatangi Rasulullah untuk meminta syafaatnya. Karena Rasulullah adalah satu-satunya orang diberi hak untuk memberikan syafaat, maka beliau memintakan ampun agar mereka terbebas dari siksa api neraka.

Ketiga, pembawa bendera Al-Hamdu. Dikisahkan bahwa pada saat hari kiamat nanti manusia ditempatkan di padang mahsyar. Mereka berkumpul di bawah bendera orang yang diikutinya dan dicintainya. Pada saat itu, Rasulullah membawa bendera Al-Hamdu (pujian). Sebuah bendera yang paling tinggi dan paling mulia. Pada nabi dan rasul pun berkumpul di bawah bendera Al-Hamdu ini.

Keempat, delegasi yang berbicara atas nama makhluk seluruhnya. Di akhirat, Rasulullah adalah pemimpin seluruh makhluk. Ia menjadi juru bicara seluruh makhluk di hadapan Allah swt. 

“Pada hari kiamat aku menjadi imam para nabi, khatib mereka dan pemilik syafaat mereka tanpa kesombongan,” ucap Rasulullah.

Kelima, orang pertama yang melewati jembatan neraka. Disebutkan bahwa nanti di akhirat ada jembatan (sirath) yang dibentangkan antara tepi neraka jahanam, Rasulullah adalah orang pertama yang berhasil melewati jembatan tersebut. Umatnya mengikutinya di belakangnya.

Keenam, orang yang pertama memasuki surga. Rasulullah adalah orang yang pertama kali mengetuk pintu surga dan yang pertama kali memasukinya. Bahkan, di dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa malaikat tidak akan membukakan pintu surga kecuali Rasulullah yang mengetuk dan memasukinya untuk pertama kali. 

Ketujuh, orang yang memiliki derajat paling tinggi di surga. Allah swt. memberikan  Rasulullah derajat yang paling tinggi di surga kelak. Apapun yang diminta Rasulullah, pasti akan dikabulkan Allah. 

“Barang siapa yang memohon kepadaku ‘Al-Wasilah’ maka pasti mendapatkan syafaat dariku,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Muslim.

Terakhir, pemilik telaga al-Kautsar. Rasulullah adalah satu-satunya orang yang diberikan telaga al-Kautsar oleh Allah. Bahkan nabi dan rasul lainnya pun tidak mendapatkannya. 

“Ketika aku berjalan di surga, tiba-tiba aku melihat sungai yang kedua sisinya bangunan dan permata lu’lu’ yang memiliki lubang. Aku (Rasulullah) bertanya: Wahai Jibril apa ini? Dia menjawab: Ini ada al-Kautsar yang dianugerahkan Tuhanmu kepadamu. Tanahnya atau wewangiannya dari minyak misk yang sangat wangi,” kata Rasulullah hadits riwayat Bukhari. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 4 Oktober 2018 21:0 WIB
Rasulullah Pun Memahami Bahasa Hewan
Rasulullah Pun Memahami Bahasa Hewan
Salah satu mukjizat Nabi Sulaiman as.adalah mampu berbicara dan memahami bahasa hewan. Dalam beberapa literatur Islam –utamanya Al-Qur’an Surat An-Naml, Nabi Sulaiman dikisahkan bisa berinteraksi dengan beberapa hewan seperti burung dan semut. Hewan-hewan tersebut paham apa yang disampaikan Nabi Sulaiman. Begitu pun sebaliknya. 

Tapi kemampuan memahami dan berinteraksi dengan hewan tidak hanya dimiliki Nabi Sulaiman saja. Nabi Muhammad saw. juga memiliki kemampuan yang sama. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud sebagaimana yang tertera dalam kitab Syakshiyatur Rasul, dikisahkan Rasulullah berinteraksi dengan seekor unta.

Diceritakan, suatu hari Rasulullah masuk ke dalam sebuah kebun kurma miliki seorang Anshar. Di kebun tersebut, didapati ada seekor unta yang tengah menangis mengeluarkan air mata ketika melihat Rasulullah. Penasaran dengan hal itu, Rasulullah kemudian mendekati unta tersebut. Setelah diusap pundaknya, unta tersebut menjadi diam. Pada kesempatan itu, si unta mengadu Rasulullah bahwa ia kelaparan dan kelelahan. 

Kemudian Rasulullah menanyakan siapa pemilik unta tersebut. Setelah diketahui bahwa pemilik unta tersebut adalah si fulan, Rasulullah memerintahkannya untuk merawat dan memeliharanya dengan baik. Jangan sampai membuat hewan peliharaan tidak terurus dengan baik.

Kisah Rasulullah berinteraksi dengan hewan juga tertera dalam sebuah hadits riwayat Ahmad. Dalam hadits tersebut, Rasulullah berhasil ‘menaklukkan’ seekor unta yang terkenal galak dan beringas. 

Dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah memasuki sebuah kebun miliki Bani Najjar yang didalamnya ada seekor unta galak. Dari cerita yang beredar, unta tersebut akan menyerang siapapun yang masuk ke dalam kebun. Akan tetapi hal itu tidak terjadi ketika Rasulullah memasuki kebun. Pada saat Rasulullah memanggilnya, unta tersebut nurut dan tidak menyerang. Bahkan, si unta menjulurkan lidahnya ke tanah hingga menderum di hadapan Rasulullah. Langsung saja Rasulullah memerintahkan kepada pemiliknya untuk mengikatnya. 

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun antara langit dan bumi melainkan pasti mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah Rasulullah, kecuali makhluk yang bermaksiat dari jin dan manusia,” kata Rasulullah usai berhasil menjinakkan unta galak tersebut.

Di samping itu, Rasulullah juga memiliki kemampuan luar biasa lainnya seperti membelah bulan, mengeluarkan air dari ujung jari-jari, menyembuhkan penyakit, ‘memperbanyak’ makanan, dan lainnya. Meski demikian, Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Rasulullah. (A Muchlishon Rochmat)