IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?

Rabu 17 Oktober 2018 11:15 WIB
Share:
Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?
Ilustrasi (pixabay)
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam, mengimaninya adalah bagian dari rukun iman. Ia adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, melalui malaikat Jibril dengan versi dan variasi yang berbeda-beda. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Sesunguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah (Al-Qur’an) itu yang mudah darinya.” (Imam Bukhari, Shahih Bukhariy, Beirut: Idar Al-Tiba’at Al-Miniriyyah, tt, juz 6, h. 227)

Adanya variasi bacaan dalam Al-Qur’an ini merupakan karunia Allah yang diberikan secara khusus kepada umat Nabi Muhammad ﷺ, sebagai bentuk kasih sayang Allah terhadap mereka agar mudah melafalkan dan membacanya. Dalam kajian Islam, studi tentang variasi bacaan Al-Qur’an ini kemudian dikenal dengan disiplin Ilmu Qira’at Al-Qur’an.

Pada masa Nabi, para sahabat menerima bacaan Al-Qur’an secara langsung dari beliau dan secara serius dan antusias mereka mempelajarinya dengan versi bacaan qira’atnya. Pada masa ini lahirlah ahli qira’at (qurra’) dari kalangan sahabat Nabi, seperti: Ubay bin Ka’ab (w. 20 H), Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H), Abu Al-Darda’ (w. 32 H) Ustaman bin Affan (w. 35 H), Ali bin Abi Thalib (w. 40 H), Abu Musa Al-Asy’ariy (w. 44 H), dan Zaid bin Tsabit (w. 45 H). (Abdul Hadi Al-Fadhliy, Al-Qira’at Al-Qur’aniyat: Tarikh wa Ta’rif, Beirut: Dar Al-Qalam, 1985, h. 18) 

Para ahli qira’at dari kalangan para sahabat ini dalam mempelajari dan mendalami qira’at Al-Qur’an dari Nabi berbeda-beda; ada yang memiliki satu, dua versi bacaan, ada yang memiliki tiga versi bacaan dan bahkan ada yang lebih dari itu. (Abdul Adhzim Al-Zurqaniy, Manahil Al-Irfan fi Ulum Al-Qur’an, Mesir: Isa Al-Halabiy, tt, juz 1, h. 406)

Setelah sepeninggal Nabi, pada sahabat berpencar-pencar hijrah ke berbagai negara dunia Islam. Ada yang ke Syam, seperti Abu Al-Darda’, ada yang ke Kufah seperti Ibnu Mas’ud dan Sayyidina Ali. Oleh sebab itu, para ahli qurra’ dari kalangan sahabat mengajarkan bacaan Al-Qur’an dengan berbagai versi yang mereka terima dari Nabi kepada generasi para tabi’in. Dari para sahabat inilah kemudian para tabi’in memiliki dan menguasai versi qira’at yang berbeda-beda pula. 

Setelah masa sahabat berlalu, para ahli qira’at dari generasi tabi’in mengajarkan Al-Qur’an sesuai dengan versi dan variasi qira’at yang mereka kuasai dan mereka terima dari para sahabat. 

Namun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, muncul qira’at Al-Qur’an atau bacaan Al-Qur’an yang diragukan keberadaannya, dan diduga tidak bersumber dari Nabi. Hal ini disebabkan meluasnya daerah kekuasaan Islam dan semakin banyaknya penduduk Islam dari luar kalangan bangsa Arab. (Ibnu Al-Jazari, Al-Nasyr fi Al-Qira’at Al-Asyr, Mesir: Dar Al-Fikr, tt, h. 9)

Oleh karena itu, pertengahan kedua abad pertama hijriah dan pertengahan awal abad kedua hijriah, para ulama ahli qira’at terdorong untuk meneliti dan menyeleksi berbagai versi dan variasi qira’at Al-Qur’an yang berkembang waktu itu. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli qurra’ secara selektif dan akurat, maka dapat disimpulkan bahwa tujuh versi qira’at yang populer dan kemudian dilesrtarikan oleh para imam qira’at dinilai sebagai bacaan (qira’at) yang mutawatir, bersumber dari Nabi ﷺ Bacaan yang populer inilah kemudian dikenal dengan sebutan “qira’at sab’ah” atau tujuh qira’at. (Manna’ AL-Qatthan, Mabahits fi Ulum AL-Qur’an, Beirut: Mansyurat Al-Ashr Al-Hadits, 1973, h. 131)

Tujuh qira’at ini atau qira’at sab’ah ini kemudian dinisbahkan (disandarkan) kepada para Imam Qira’at yang berjumlah tujuh, yaitu: Pertama, Imam Nafi’ bin Abdurrahman (w. 169 H). Kedua, Imam Abdullah bin Katsir (w. 120 H). Ketiga, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala’ Al-Bashriy (w. 154 H). Keempat, Imam Abdullah Ibnu AmirAl-Syamiy (w. 118 H). Kelima, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy (w. 128 H). Keenam, Imam Hamzah bin Al-Zayyat (w. 156 H). Ketujuh, Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i (w. 189 H). 

Penisbahan qira’at Al-Qur’an kepada para Imam Qira’at sab’ah ini bukan berarti qira’at itu adalah hasil ijtihad mereka (hasil karya dan rekayasa mereka). Ungkapan seperti qira’at Nafi’, qira’at Ibnu Katsir, qira’at Ashim, dan yang lain, hanya menunjukkan bahwa qira’at yang dinisbahkan kepada mereka adalah hasil penelitian dan seleksi mereka terhadap berbagai qira’at yang ada. Kemudian mereka secara rutin dan secara berkesinambungan membaca, mengajarkan dan melestarikannya. 

Oleh karena itu, penisbahan qira’at ini kepada para imam qira’at sama halnya dengan penisbahan hadits Nabi kepada imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Al-Tirmidziy. Apabila disebutkan hadits Bukhari, Muslim, Al-Tirmidziy, maka sependek pengetahuan kita menyimpulkan bahwa hadits itu bukan hasil karya dan rekayasa Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Tirmidzy. Dalam hal ini para imam itu hanya menyeleksi dan meriwayatkannya. Demikian pula qira’at Al-Qur’an yang dinisbahkan kepada Imam Qira’at.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

Share:
Ahad 7 Oktober 2018 19:15 WIB
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Ilustrasi (Freepik)
Urutan surat dalam Al-Qur’an yang kita jumpai sekarang telah melewati proses penertiban yang tidak mudah. Dapat dimaklum bahwa Al-Qur’an adalah sumber nomor wahid bagi umat Islam dalam pengambilan hukum-hukum, dan lebih dari itu, ia adalah pedoman hidup kita semua.

Terkait pembahasan tentang penertiban surat-surat ini, kita akan menemukan istilah tawqifi dan ijtihadi. Tawqifi berarti berdasarkan tuntunan dari Nabi langsung, adapun ijtihadi berarti berdasarkan ijtihad dan usaha para sahabat Nabi dalam menentukan urutan-urutan ini.

Ada tiga pendapat mengenai penertiban surat-surat dalam Al-Qur’an. Pertama, berpendapat bahwa urutan surat-surat dalam Al-Qur’an semuanya bersifat ijtihadi. Kedua, semuanya bersifat tawqifi. Ketiga, sebagian tawqifi, sebagian ijtihadi. Kita akan membahas satu persatu pendapat tadi, serta dalil dan sanggahannya.

Semuanya Ijtihadi

Pertama, urutan surat-surat dalam Al-Qur’an bersifat ijtihadi dari para sahabat Nabi. Pendapat ini dinisbatkan kepada jumhur ulama (mayoritas ulama), di antaranya Imam Malik dan al-Qadhi Abu Bakar. Ibnu Faris mengatakan, terdapat dua proses dalam  penghimpunan Al-Qur’an. Pertama, urutan surat Al-Qur’an, ini diserahkan pada sahabat, Kedua, penghimpunan ayat dalam surat Al-Qur’an, ini ditentukan oleh Nabi ﷺ langsung.

Ada dua alasan yang mendasari pendapat yang pertama ini. Pertama, mushaf yang dimiliki para Sahabat berbeda-beda urutannya sebelum masa kekhalifahan Utsman radliyallahu ‘anh, meskipun mereka mengurutkan surat-surat di dalamnya berdasarkan apa yang mereka dapatkan dari Nabi. 

Beberapa mushaf yang berbeda itu di antaranya milik Ubay bin Ka’ab, yang mana didahului dengan surat al-Fatihah, kemudian al-Baqarah, kemudian an-Nisa`, kemudian Ali Imran, kemudian al-An’âm. Mushaf Ibnu Mas’ud yang diawali dengan surat al-baqarah, kemudian an-Nisa`, kemudian Ali Imran, dan seterusnya. Mushaf Ali yang urutannya sesuai dengan surat yang turun pada Nabi ﷺ, yaitu diawali dengan Iqra`, kemudian al-Mudattsir, kemudian Qâf, kemudian al-Muzammil, kemudian al-Lahhab, kemudian at-Takwir, dan seterusnya.

Dalil kedua, yaitu riwayat dari Ibnu Asytah dari jalur Ismail bin ‘Abbas, dari Hibban bin Yahya, dari Abu Muhammad al-Qurasyi:

أَمَرَهُمْ عُثْمَانُ أَنْ يُتَابِعُوا الطِّوَالَ فَجَعَلَ سُوْرَةَ الْأَنْفَالِ وَسُوْرَةَ التَّوْبَةِ فِي السَّبْعِ وَلَمْ يُفَصَّلْ بَيْنَهُمَا بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Utsman memerintahkan para sahabat untuk mengikuti surat Sab’u at-Thiwal (tujuh surat yang panjang), kemudian Utsman menjadikan surat al-Anfal dan at-Taubah pada urutan ketujuh dengan tanpa memisahkan keduanya dengan basmalah. Kemudian al-Qurasyi berkata:

قلت لعثمان ما حملكم على أن عمدتم إلى الأنفال وهي من المثاني وإلى براءة وهي من المئين فقرنتم بينهما ولم تكتبوا بينهما سطر {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ووضعتموها في السبع الطوال؟

“Aku mengatakan pada Utsman, apa yang membawamu untuk menyatukan surat al-Anfal yang mana ia tergolong surat al-Matsâni dengan surat al-Barâ`ah (at-Taubah) sedangkan ia dari golongan surat al-Mi`un, kemudian engkau meletakan keduanya dalam Sab’u ath-Thiwal.” 

Kemudian Utsman menjawab: “Pernah turun beberapa surat Al-Qur’an kepada Rasulullah, dan Beliau, apabila turun ayat kepadanya, memanggil sebagian sahabat yang menulis Al-Qur’an dan mengatakan, “Letakanlah ayat-ayat ini dalam surah yang disebutkan di dalamnya ayat ini dan itu.” 

“Dan surat al-Anfal termasuk dari surat-surat awal yang turun di Madinah, adapun at-Taubah termasuk yang terakhir turunnya. Kisah yang terdapat dalam surat al-Anfal mirip dengan yang ada di at-Taubah, maka aku mengira surat al-Anfal bagian dari at-Taubah. Hingga Rasulullah wafat, dan belum menerangkan pada kami hal tadi, karena itulah aku gabung keduanya, dan tidak aku tuliskan Basmalah di antara keduanya, serta aku letakan keduanya dalam Sab’u ath-Thiwal.”

Terdapat beberapa sanggahan terhadap pada pendapat ini. Di antaranya adalah, bahwa perbedaan yang terdapat dalam mushaf para sahabat, itu terjadi sebelum mereka mengetahui bahwa surat-surat dalam Al-Qur’an urutannya secara tawqif.

Semuanya Tauqifi

Kedua, urutan surat-surat dalam Al-Qur’an semuanya tawqifi dari Rasulullah ﷺ sebagaimana urutan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalil yang dipegang oleh ulama yang berpendapat demikian, yaitu para sahabat bersepakat atas mushaf pada masa Utsman, di mana ketika itu semua mushaf yang berbeda sudah dilenyapkan agar tak terjadi fitnah di kalangan Muslim.

Selain itu, mereka juga memiliki riwayat yang menguatkan pendapat mereka. Di antaranya: 

فقال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم: "طرأ علي حزب من القرآن فأردت ألا أخرج حتى أقضيه" فسألنا أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قلنا: كيف تحزبون القرآن؟ قالوا: نحزبه ثلاث سور وخمس سور وسبع سور وتسع سور وإحدى عشرة سورة وثلاث عشرة وحزب المفصل من ق حتى نختم. 

Rasulullah bersabda pada kami, “Telah turun kepadaku hizb (bagian) Al-Qur’an, sehingga aku tidak ingin keluar sampai selesai.” (Aus bin Hudzaifah) berkata, “Kami bertanya kepada para sahabat Rasulullah ﷺ, ‘Bagaimana kalian membagi pengelompokan Al-Qur’an?’ Mereka menjawab, ‘Kami membaginya menjadi tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb Al-Mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir’.” (HR Ahmad)

Riwayat ini menunjukan bahwa penertiban surat-surat dalam Al-Qur’an telah ada pada zaman Rasulullah ﷺ. Namun kendati demikian, pendapat ini pun memiliki beberapa sanggahan. Di antaranya, bahwa riwayat yang mereka gunakan terkait urutan surat tidak terjadi pada semua surat, namun hanya sebagiannya saja. Maka tak dapat disimpulkan juga bahwa urutan surat-surat dalam Al-Qur’an semuanya tawqifi.

Sebagian Ijtihadi Sebagian Tauqifi

Ketiga, urutan surat-surat dalam Al-Qur’an sebagian tawqifi, sebagian ijtihadi. Sebagaimana yang dituturkan al-Qadhi Abu Muhammad bin ‘Athiyyah, “Sesungguhnya kebanyakan surat-surat dalam Al-Qur’an sudah diketahui urutannya pada masa Nabi, seperti surat Sab’u ath-Thiwal, dan al-Mufasshal. Adapun selainnya, urutannya kemungkinan diserahkan kepada generasi selanjutnya.”

Pengarang kitab Manahil al-‘Irfan, az-Zarqâni berpendapat bahwa pendapat ketiga ini lebih utama, karena ia melihat kedua pendapat awal, yakni dalil yang mereka gunakan berindikasi sebagiannya ijtihadi, sebagiannya tawqifi. Hanya saja di sini terjadi perbedaan pendapat mengenai mana saja surat-surat yang tawqifi, dan mana saja yang ijtihadi. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)

Sabtu 15 September 2018 18:0 WIB
Bagaimana Cara Membaca Basmalah di Antara Dua Surat?
Bagaimana Cara Membaca Basmalah di Antara Dua Surat?
Ilustrasi (Freepik)
Membaca basmalah atau bismillah merupakan aktivitas yang dianjurkan, utamanya bagi seorang qari’ yang hendak membaca Al-Qur’an. Bahkan dalam salah satu riwayat hadits Nabi menegaskan bahwa bagi orang yang meninggalkan membaca basmalah dalam suatu aktivitas kebaikan, maka akan berkurang barokahnya.

Para ulama qira’at sepakat menetapkan membaca basmalah untuk mengawali bacaan Al-Qur’an pada awal surat kecuali Surat Al-Taubah. Penetapan membaca basmalah pada awal surat adalah karena mengikuti petunjuk penulisan mushaf dan bertabarruk dengan dengan asma Allah. Sayyidah Aisyah berkata: “bacalah Al-Qur’an sesuai yang tertera dalam mushaf.” (Makki bin Abi Thalib Al-Qisiy, Al-Kasyfu ‘an Wujuh Al-Qira’at Al-Sab’I wa Ilaliha wa Hujajiha, Beirut: Muassasah Al-Risalah, 1997. hlm 15. 

Adapun membaca basmalah di antara dua surat atau yang lebih populer dengan sebutan “al-jam’ baina al-suratain”, menyambung antara dua surat, para ulama qira’at bebeda pendapat. Perbedaan ini dapat diklasifikasi ke dalam tiga pendapat: (1) menetapkan bacaan basmalah, (2) meninggalkan bacaan basmalah, (3) menetapkan sekaligus meninggalkan bacaan basmalah. (Abdul Fattah Al-Qadhiy, Abdul Fattah, Al-Buduruzzahirah fi Al-Qira’at Al-Asyrah Al-Mutawatirah, Bairut: Dar Al-Kitab Al-Arabiy, tt. hlm 13) 

Pertama, Imam Qalun, Imam Ibnu Katsir, Imam Ashim, Imam Ali Al-Kisa’I, dan Imam Abi Ja’far menyambung antara dua surat dengan basmalah. Adapun cara menyambung basmalah di antara dua surat ini adalah sebagai berikut : 

1. Berhenti pada setiap ayat, atau tidak menyambung akhir surat, basmalah dan awal ayat surat. Metode ini dikenal dalam ilmu qira’at dengan “Qat’a Al-Jami’.” Berikut contohnya:
 

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ



2. Berhenti di akhir surat dan menyambung basmalah dengan awal surat. Metode ini dalam ilmu qira’a’t dikenal dengan “Qat’u Al-Awal wa Washl Al-Tsaniy.” Berikut contohnya:

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ



3. Menyambung akhir surat yang pertama dengan awal surat yang kedua tanpa berhenti, namun tetap membaca basmalah. Metode ini dalam ilmu qira’at dikenal dengan “Wash Al-jami’.” Berikut contohnya: 

 

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ



Ketiga metode di atas, berlaku dan dapat dioprasionalkan, baik pada surat yang berurutan, seperti surat Ali Imran dengan surat Al-Nisa’, atau pada surat yang tidak berurutan, seperti akhir surat Al-Fatihah dengan surat Al-Maidah. (Abdul Fattah ‘Ajamiy Al-Murshifiy, Hidayat Al-Qari’ Ila Tajwid Kalam Al-Bariy’, Al-Madinah Al-Munawwarah: Maktabah Thoyyibah, tth), hlm, 569.

Sementara menyambung antara akhir surat dan basmalah, dan memulai awal surat berikutnya tidak diperbolehkan, karena basmalah bukan akhir dari surat dan supaya terhindar dari persangkaan bahwa basmalah termasuk akhir surat.

Kedua, Imam Hamzah Al-Zayyat dan Imam Khalaf memilih menyambung antara dua surat dengan metode “washal” tanpa basmalah, yaitu menyambung akhir kata pada surat pertama dengan awal kata pada surat berikutnya tanpa basmalah. Menurutnya, seluruh Al-Qur’an adalah satu kesatuan. Jadi tidak perlu untuk membaca basmalah bila menyambung antara dua surat. Sebab penulisan basmalah dalam sebuah mushaf tidak lain hanyalah sebagai pertanda berakhirnya sebuah surat.

Ketiga, Imam Warsy, Abi Amr, Ibnu Amir dan  Ya’kub Al-Hadramiy menyambung antara dua surat dengan tiga varian; 1) menyambung antara dua surat dengan basmalah (dengan tiga metode pertama), 2) menyambung tanpa basmalah dengan metode “washal” (seperti bacaan Imam Hamzah dan Khalaf) , 3) menyambung dua surat dengan metode “sakt.” Yang dimaksud dengan “sakt” adalah berhenti sejenak di akhir surat tanpa menarik nafas kira-kira dua ketukan kemudian melanjutkan pada awal surat berikutnya tanpa basmalah. 

Tiga varian bacaan di atas, dapat dioprasionalkan pada surat yang berurutan seperti surat Al-Baqarah dengan surat Ali Imran, atau tidak berurutan, seperti surat Al-A’raf dengan surat Yusuf dengan catatan surat yang kedua merupakan surat selanjutnya pada surat pertama sesuai urutan mushaf. 

Apabila menyambung antara dua surat yang tidak beraturan sesuai urutan mushaf, seperti menyambung antara surat Al-Ra’d dengan awal surat Yunus, atau surat Al-Nas dengan surat Al-Fatihah, maka dalam hal ini harus disambung dengan bacaan basmalah. Tidak boleh menggunakan metode “washal” maupun “sakt.” Demikian pula, harus disambung dengan bacaan basmalah apabila seseorang membaca satu surat yang diulang-ulang, seperti mengulang-ulang bacaan surat Al-Ikhlas. 

Demikian itu merupakan tata cara menyambung antara dua surat menurut ulama qira’at. Bacaan dan tata cara ini merupakan bacaan yang sahih dan mutawatir, baik yang membaca basmalah atau meninggalkannya. 

Imam Ali Al-Dhabba’ menegaskan bahwa perbedaan bacaan antara membaca basmalah atau meninggalkannya merupakan bagian dari tujuh huruf. Sebab bacaan ini diturunkan berulang-ulang, kadang diturunkan dengan basmalah kadang tanpa basmalah. Kedua-duanya adalah bacaan yang sahih dan mutawatir. Barang siapa yang membaca dengan basmalah, maka bacaan itu adalah sahih dan mutawatir hingga sampai kepada kita, dan barang siapa yang tidak membaca basmalah, maka bacaan itu juga sahih dan mutawatir hingga sampai kepada kita. (Al-Dhabba’, Al-Idha’at fi Ushul Al-Qira’at, Mesir: Al-Maktabah Al-Azhariyah li Al-Turats,1999) hlm 9.

Oleh karena itu, dengan mengetahui dan memahami varian bacaan; antara membaca basmalah dan meninggalkannya, maka kita menjadi tahu betapa luas perbedaan bacaan dalam Al-Qur’an. Perbedaan itu mengajarkan kepada kita untuk toleran dan moderat dalam segala hal. 


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

Senin 6 Agustus 2018 21:0 WIB
Empat Metode Membaca Ta’awudz-Basmalah yang Disusul Ayat
Empat Metode Membaca Ta’awudz-Basmalah yang Disusul Ayat
Ilustrasi (Freepik)
Dalam mengawali bacaan Al-Qur’an, seorang qari’ dianjurkan memulai dengan membaca isti’adzah/ta'awudz dan basmalah, sebab keduanya (isti’adzah dan basmalah) memiliki hubungan yang sangat erat, ibarat dua sisi mata uang.

Hal ini disampaikan oleh Ibnu Jarir Al-Thabariy, sebagaimana dikutip oleh Al-Allusy, bahwa ayat pertama yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad disertai kalimat isti’adzah dan basmalah. Artinya, Jibril ketika menyampaikan risalah wahyu pertama kali kepada Nabi, ia memulainya dengan membaca isti’adzah dan basmalah. 

Kalimat pertama, isti’adzah, sebagai ungkapan permohonan untuk dihindarkan dari godaan dan gangguan setan, sedangkan yang kedua, basmalah, sebagai ungkapan pujian dan pengagungan Dzat Maha Kasih dan Penyayang. Selain sebagai anjuran dalam memulai bacaan Al-Qur’an, ia juga sebagai adab dalam berinteraksi dengan kalam ilahi.

Diceritakan dari Ibnu Abbas, bahwa Jibril berkata kepada Nabi Muhammad: “Wahai Muhammad, bacalah ta’awwudz!” Kemudian Nabi membaca “ أَسْتَعِيْذُ بِاللهِ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم ”. Jibril berkata kembali: “bacalah basmalah”. Nabi pun membaca basmalah “ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ”. Kemudian dilanjutkan membaca surat Al-Alaq 1-5 (lihat: Jalaluddin Al-Allusy, Dirasat fi Al-Tafsir wa Ulumihi, Tunisia, Muassasah bin Asyur, 2006, halaman 182).

Oleh karena itu, dalam riwayat di atas, ada tiga potongan kalimat; isti’adzah, basmalah, dan ayat Al-Qur’an. Dalam ilmu qira’at, untuk membaca ketiga potongan kalimat di atas, ada empat metode; metode ini juga dikenal dengan metode qiyasiy. Berikut contoh dan cara bacanya:

Pertama, berhenti di setiap potongan kalimat: isti’adzah, basmalah, dan ayat Al-Qur’an. Metode ini dalam ilmu qira’at dikenal dengan qat’ul jami’, misalnya:

  

اِقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Kedua, berhenti pada kalimat isti’adzah, kemudian menyambung basmalah dengan ayat Al-Qur’an. Metode ini dikenal dengan qat’ul ûlâ wa washluts tsânî, misalnya: 

  

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اِقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Ketiga, menyambungkan kalimat isti’adzah dengan basmalah dan berhenti pada kalimat basmalah, kemudian memulai awal ayat. Metode ini dikenal dengan washlul ûlâ wa qat’uts tsânî, misalnya:

   

اِقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

  

Keempat, menyambungkan semua komponen kalimat; isti’adzah, basmalah dan awal ayat. Metode ini dikenal dengan “ washl Al-Jami’”, misalnya:

    

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ


Keempat metode di atas dapat dioprasionalkan apabila seorang qari’ memulai bacaan Al-Qur’an di awal surat kecuali Surat Al-Taubah atau Al-Bara’ah.

Baca: Mengapa Surat at-Taubah Tak Dimulai dengan Basmalah?
Sedangkan apabila seorang qari’ memulai bacaan Al-Qur’an di tengah-tengah surat, seperti awal rubu’, atau awal kisah dalam Al-Qur’an, maka bagi seorang qari’ boleh membacanya dengan basmalah atau meninggalkannya (tak membaca basmalah). Apabila seorang qari’ memulai bacaan Al-Qur’an di tangah-tengah surat dengan membaca basmalah, maka ia boleh membacanya dengan menggunakan empat metode seperti di atas, tapi apabila tidak membaca basmalah, maka baginya hanya boleh dua metode saja, yaitu menyambung isti’adzah dengan ayat Al-Qur’an atau berhenti pada kalimat isti’adzah dan memulai pada awal ayat. Berikut contoh dan cara bacanya:

Contoh cara menyambung:

 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا اْلمــُرْسَلُوْنَ

 

Contoh cara berhenti:

  

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا اْلمــُرْسَلُوْنَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Sementara itu, apabila seorang qari’ memulai membaca Al-Qur’an dengan isti’adzah kemudian berhenti di tengah-tengah ayat karena percakapan atau menjawab salam, maka dianjurkan baginya untuk mengulang bacaan isti’adzah. Tapi apabila seorang qari’ berhenti (memutuskan bacaan) karena sesuatu yang terpaksa, seperti bersin, percakapan yang berhubungan dengan kemaslahatan bacaan, seperti ragu akan bacaannya (tepat atau tidak) kemudian ia bertanya kepada orang lain untuk memantapkan bacaannya atau belajar kepada orang lain, maka dalam hal ini seorang qari’ tidak perlu mengulang bacaan isti’adzahnya (lihat: Abdul Fattah Al-Qadhiy, Al-Budur Al-Zahirah fi Al-Qira’at Al-Asyr Al-Mutawatirah, Bairut, Dar al-Kitab al-Arabiy, tt., halaman 13).


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo