IMG-LOGO
Trending Now:
Khutbah

Khutbah Jumat: Pentingnya Beramal dengan Ikhlas

Rabu 17 Oktober 2018 23:25 WIB
Khutbah Jumat: Pentingnya Beramal dengan Ikhlas
Ilusrasi (pbs.org)
Khutbah I
 
اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِأَنْوَاعِ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ الَّذِيْ جَعَلَهُ اللهُ خَيْرَ خَلْقِهِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ  اَشْرَفِ عِبَادِهِ. أَما بعد: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 
 
Hadirin jama’ah Jumah hafidhakumullâh
 
Saya berpesan kepada pribadi saya sendiri, juga kepada para hadirin sekalian, marilah kita terus berusaha meningkatkan taqwa kita kepada Allah dengan mematuhi semua perintah dan menjauhi aneka macam larangan-larangan-Nya. 
 
Hadirin hafidhakumullâh,
 
Dalam rangka meningkatkan taqwa kita kepada Allah, kita perlu melakukan ibadah dengan ikhlas, setulus hati. Tujuan kita diciptakan oleh Allah subhânau wa ta’âlâ tiada lain kecuali untuk beribadah atau mempersembahkan semua gerak tubuh kita sepanjang hidup hanya karena Allah subhânau wa ta’âlâ. Allah berfirman:
 
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
 
Artinya: “Dan saya tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzâriyât: 56)
 
Bukan berarti selama 24 jam kita hanya boleh menghabiskan waktu untuk shalat dan membaca Al-Quran saja. Namun sekolah, belajar di pesantren, bekerja mencari nafkah, membantu orang tua, berbaik budi kepada teman, makan, minum dan sejenisnya bisa juga bernilai ibadah tergantung niat kita. Semua itu merupakan bagian dari ibadah, persisnya ibadah ghairu mahdlah
 
Ibadah baik mahdlah maupun ghairu mahdlah, masing-masing membutuhkan niat yang ikhlas, murni karena Allah. Jika tidak mampu ikhlas secara penuh, seseorang hanya akan diberi pahala dengan presentase sebesar mana ikhlasnya. 
 
Jika persentase ikhlas seseorang dalam hati hanya sebesar 40 persen, selebihnya dia berniat bukan karena Allah—untuk tujuan supaya mendapatkan materi, misalnya—niscaya ia hanya akan mendapatkan balasan dari 40 persen niatnya tersebut. Artinya kadar balasan keikhlasan seseorang bergantung pada persentase ikhlasnya dalam hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih Bukhari yang pertama kali disebut, riwayat dari Sayyidina Umar bin Khattab radliyallâhu anh
 
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
 
Artinya: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang tergantung atas apa yang ia niatkan.”
 
Abdurrahman bin Abdussalam ash-Shafûriy dalam kitabnya Nuzhatul Majâlis mengisahkan petuah Syekh Ma’ruf al-Karkhi sebagai berikut: 
 
وَقَالَ مَعْرُوفْ الْكَرْخِي مَنْ عَمِلَ لِلثَّوَابِ فَهُوَ مِنَ التُّجَّارِ 
 
Artinya: “Barangsiapa beramal supaya dapat pahala, maka ia bagaikan orang yang sedang berdagang.” (Maksudnya, ia beramal dengan angan-angan mendapatkan keuntungan itu seolah-olah seperti sedang tukar-menukar, yakni amal dengan pahala)
 
وَمَنْ عَمِلَ خَوْفاً مِنَ النَّارِ فَهُوَ مِنَ الْعَبِيْدِ 
 
“Barangsiapa melakukan sebuah tindakan karena takut neraka, ia termasuk hamba Allah.”
 
وَمَنْ عَمِلَ للهِ فَهُوَ مِنَ الْأَحْرَارِ
 
“Dan barangsiapa yang bertindak karena Allah semata, ia merupakan orang yang merdeka.” 
 
Orang yang ikhlas, diibaratkan dalam hadits qudsiy seperti tangan kanan memberikan sesuatu, namun tangan kirinya tidak sampai tahu. Maksudnya, amal-amal baik kita seharusnya kita sembunyikan serapat mungkin hingga kepada orang terdekat pun. 
 
Uwais al-Qarni, salah satu orang shalih yang hidup pada zaman Nabi walupun beliau tidak pernah bertemu secara fisik dengan Nabi mengatakan, “Orang yang mendoakan saudaranya atas tanpa sepengetahuan yang didoakan itu lebih baik daripada mengunjungi rumahnya, silaturahim, dan bertemu secara langsung. 
 
Bagaimana bisa demikian? 
 
Iya, karena orang yang bertemu secara langsung, mengunjungi secara langsung, terdapat kemungkinan unsur riya’ (pamer) menyelinap pada hati orang yang mendoakan. Namun jika mendoakan tanpa sepengetahuan saudara yang kita doakan, itu ibadah yang benar-benar ikhlas. Ada orang di tengah keheningan malam, dalam kamar sendirian, menyebut nama-nama saudaranya kemudian mendoakan mereka. Inilah di antara contoh ikhlas yang betul-betul ikhlas. 
 
Bahkan dalam hadits dikisahkan, orang yang mendoakan saudaranya seperti demikian, akan mendapatkan doa balik yang sama sebagaimana yang ia panjatkan, ia didoakan serupa dari malaikat. Malaikat mendoakan dengan kalimat وَلَكَ بِمِثْلٍ  (kamu juga akan mendapatkan sebagaimana yang kamu panjatkan) 
 
Hadirin, hafidhakumullâh
 
Ada sebuah kisah isrâîliyyat dalam kitab Ihya’ Ulumiddin. Imam al-Ghazali bercerita, terdapat satu kaum penyembah pohon. Salah seorang ahli ibadah yang mengetahui fenomena ini hendak menghancurkan tempat peribadatan penyembahan pohon tersebut. 
 
Pada hari pertama saat hamba tersebut datang, iblis menghadang. “Sudahlah, kamu jangan potong ini pohon. Andai saja kamu potong, penyembah-penyembahnya akan bisa mencari tuhan sejenis. Percuma kamu potong. Sudahlah, kamu beribadah sendiri saja sana!” goda iblis pada ahli ibadah. 
 
Mendapat penghadangan demikian, ahli ibadah ini marah. Ia kemudian menghantam tubuh iblis yang datang menjelma sebagai sosok orang tua. Iblis pingsan seketika. Iblis tak patah arang. Iblis mencoba melanjutkan godaannya bisikannya yang kedua. 
 
“Begini saja, Kamu ini hamba yang melarat. Kamu beribadah saja sana kepada Allah, setiap malam kamu akan aku kasih uang dua dinar. Kamu ini bukan rasul. Kamu bukan utusan Tuhan. Biarkan rasul saja yang bertugas memotong pohon ini!” rayu Iblis. 
 
Ahli ibadah terbujuk rayu. Ia terbuai dengan bujuk rayu setan. Ia membayangkan, bagaimana ini tidak solusi yang indah. Pohon aka nada yang motong. Ia tetap bisa beribadah kepada Allah, Sedangkan kemelaratannya akan segera berakhir. Ia tinggalkan lokasi. Ia beribadah di malam harinya. Pagi harinya, ia temukan dua dinar secara tiba-tiba.
 
Hadirin,
 
Pada hari ketiga, iblis ternyata tidak menunaikan janjinya. Sekarang, iblis tidak lagi mengirim uang dua dinar. Atas tipuan ini, karena merasa kesal atas perilaku iblis yang berbohong, hamba yang ahli ibadah menjadi naik pitam. Darahnya mendidih. Ia kembali tergerak untuk meruntuhkan pohon yang disembah masyarakat sekitar yang baru saja ia urungkan kemarin hari. 
 
Saat akan memotong, ia kembali dihalangi iblis. Kemarin lusa, pada hari pertama, saat terjadi duel, ia yang menang. Iblisnya jatuh pingsan. Kali ini, ia justru yang pingsan, iblis yang menang. Sebab apa? Ia keheranan. Setelah siuman dari pingsan, hamba ini bertanya kepada iblis. “Bagaimana saya yang kemarin menang, pada hari ini berubah menjadi kalah?” tanyanya. 
 
Iblis menjelaskan, “Iya, kalau kemarin kamu marah sebab niat hatimu murni, ikhlas karena Allah. Namun pada hari ini kamu marah bukan karena Allah. Hari ini kamu marah sebab tadi malam tidak aku kasih dua dinar. Marahmu bukan karena Allah. Oleh karena itu, aku bisa mengalahkanmu.” 
 
Hadirin, hafidhakumullâh
 
Dalam sebuah hadits dikisahkan, ada orang yang dikasih kekayaan oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ. Pada hari kiamat, ia ditanya oleh Allah, “Apa yang kamu lakukan atas semua kenikmatan yang telah aku berikan?” 
 
“Ya Tuhan, aku telah menyedekahkan harta-hartaku sepanjang siang-malam.” Jawab hamba ini. 
 
Kemudian Allah menjawab balik “kamu berbohong.”
 
Tidak hanya Allah saja yang menjawab, malaikatpun mengatakan demikian. “Kamu berbohong. Kamu melakukan hal demikian hanya supaya akan kebanjiran komentar masyarakat ‘oh, si Fulan ini orang yang tajir, murah hati, suka menolong’.” 
 
Akhirnya, amal Fulan tersebut menjadi hangus, tidak berbuah sama sekali. 
 
Hadirin, hafîdhakumullâh,
 
Kata ikhlas dalam Al-Qur’an di antaranya disebut untuk menggambarkan susu yang murni. Susu keluar dari perut hewan yang mana dalam perut hewan terdapat darah dan kotoran, namun susu sama sekali tidak tercampur kedua kotor tersebut. Susu keluar murni sebagai susu. 
 
Kita di dunia ini, atas kekotoran-kekotoran yang ada, kita perlu memurnikan segala perilaku kita, kita persembahkan kepada Allah subhânahu wa ta’âlâ
 
وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ 
 
Artinya: “Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” (QS Al An’am: 66)
 
Ahli hikmah mengatakan: 
 
اَلنَّاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى اِلاَّ الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى اِلاَّ الْعَامِلُوْنَ، وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى اِلَّا الْمُخْلِصُوْنَ، وَالْمُخْلِصُوْنَ فِىْ خَطَرٍ عَظِيْمٍ. 
 
Artinya: “Semua manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu. Semua orang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang yang ikhlas. Mereka yang ikhlas masih dalam kekhawatiran yang agung.”
 
Hadirin… 
 
Dengan demikian, perlu kita ketahui, ikhlas mempunyai definisi sebagai berikut:
 
اَلْإِخْلاَصُ هُوَ تَجْرِيْدُ قَصْدِ التَّقَرُّبِ اِلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ جَمِيْعِ الشَّوَاهِبِ
 
Artinya: Ikhlas adalah memurnikan tujuan taqarrub kepada Allah ta’âlâ dari segala hal yang mencampurinya. 
 
Oleh karena itu, ikhlas menduduki posisi kunci dalam semua kegiatan kita. Mari kita selalu berusaha dan berdoa kepada Allah, semoga kita dipermudah oleh Allah dalam beribadah dengan balutan ikhlas lillâhi ta’âlâ
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِماَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ 
 
Khutbah II
 
الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
 
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
 
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
 
 
(Ahmad Mundzir)
 
Tags:
Share:
Jumat 12 Oktober 2018 8:45 WIB
Khutbah Jumat: Yang Lebih Gawat ketimbang Teguran Berupa Bencana
Khutbah Jumat: Yang Lebih Gawat ketimbang Teguran Berupa Bencana
Ilustrasi (via Pinterest)
Khutbah I
 
 
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. 
 
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ:  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
 
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
 
Kita sering mendengar dari berbagai literatur sejarah bahwa peradaban Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ pertama kali lahir di tanah Makkah dalam konteks kebobrokan masyarakat Arab yang sangat parah. Fanatsime suku luar biasa kuat sehingga sering terjadi peperangan. Perempuan dilecehkan serendah-rendahnya, sampai sang ayah rela mengubur hidup-hidup bayi perempuannya. Prinsip-prinsip tauhid yang dibawa nabi-nabi terdahulu nyaris lenyap, berganti patung-patung yang diberhalakan.
 
Yang unik dari kondisi ini adalah: dalam kejahiliahan yang demikian akut, mengapa Allah tak langsung menurunkan azab-Nya, membinasakan manusia-manusia durhaka misalnya dengan sebuah bencana besar? Allah malah mengutus manusia agung bernama Muhammad untuk melakukan revolusi peradaban dengan jalan sangat bijak. Di sisi lain, kita menengok suatu daerah yang kelihatannya “islami” namun justru mendapatkan bencana alam: gempa bumi, tsunami, banjir, dan lain sebagainya. Melihat fakta yang terlihat ganjil ini, mungkin timbul pertanyaan, benarkah bencana alam itu adalah sebuah teguran, atau benarkah teguran hanya berupa bencana alam?
 
Hadirin,
 
Dari fakta-fakta inilah kita bisa merenung sejenak. Bukan kapasitas manusia yang daif ini mengobral tuduhan bahwa bencana alam yang terjadi di lokasi tertentu adalah teguran atau azab Allah. Jika setiap bencana alam pasti merupakan azab dari Allah maka Arab era jahiliah mungkin lebih berhak menerimanya, dan negeri-negeri Muslim yang kita dapati sekarang lebih nyaman terhadap bencana. Tapi fakta-fakta yang kita dapati sekarang justru sebaliknya.
 
Ada kenyataan ilmiah bahwa bencana alam merupakan sebuah gejala natural biasa. Ia bisa ditelusuri sebab-sebabnya secara konkret sehingga gempa bumi, tsunami, likuifaksi, atau lainnya terjadi. Namun, banyak pula ayat Al-Qur’an dan hadits yang menggambarkan bahwa bancana menjadi salah satu cara Allah memberikan teguran. Bagaimana kita seharusnya bersikap?
 
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
 
Seyogiannya kita menempatkan diri secara proporsional. Mana sikap yang harus diperuntukkan kepada orang lain dan mana yang harus diperuntukkan kepada diri sendiri. Kepada orang lain, tak ada wewenang kita untuk memvonis mereka yang menjadi korban bencana adalah orang-orang yang sedang kena azab dari Allah. Mengeluarkan vonis semacam ini bisa jadi merupakan keangkuhan karena tidak ada bukti apa pun yang bisa menjelaskan bahwa bencana di lokasi tertentu pasti adalah azab Allah.
 
Kita bisa mengetahui bencana yang menimpa kaum Nabi Luth adalah sebuah azab hanya karena ada nash yang menerangkan hal itu. Di zaman tak ada lagi rasul seperti sekarang ini, informasi rahasia seperti sekarang tidak bisa kita dapatkan. Bahkan dalam hadits ada pernyataan bahwa orang yang meninggal karena tenggelam dan tertimpa reruntuhan sebagai mati syahid. Dengan demikian semakin tidak jelas apakah sebuah bencana benar-benar azab atau bukan. Jangan-jangan sejumlah korban meninggal dunia akibat bencana alam itu wafat dalam kondisi lebih baik dan terhormat ketimbang diri kita nanti?
 
Dalam konteks seperti ini, yang paling tepat adalah mengembalikan status bencana kepada Allah ﷻ, sebagaimana bunyi ayat:
 
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
 
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn’ (sesungguhnya kita semua milik Allah dan kepada Allah pula kita semua kembali).” (QS al-Baqarah:156)
 
Memaknai bencana alam sebagai teguran hanya mungkin diperuntukkan kepada diri sendiri. Artinya, bencana alam dapat menjadi wasilah untuk bermuhasabah (introspeksi) terhadap seluruh praktik penghambaan kita kepada Allah. Bencana mengandung penderitaan, dan dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa penderitaan adalah di antara cara Allah menghapus dosa dan kesalahan hamba-Nya. Jangan-jangan bencana alam teguran bagi diri kita yang tengah diliputi kesombongan, hasud, tebar permusuhan, gemar menyakiti orang lain, atau semacamnya?
 
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
 
Dengan membedakan mana sikap kepada orang lain dan mana sikap kepada diri sendiri ini kita akan menjadi lebih bijak dalam merespons bencana alam. Kepada korban, kita lebih sibuk untuk berempati, berdoa, dan menolong semampu kita. Bukan mencaci-maki yang bisa menyinggung perasaan mereka yang kini sudah menderita. Kepada diri sendiri, kita bisa lebih banyak mencari kesalahan-kesalahan sendiri, beristighfar, dan berbenah untuk menjadi pribadi yang lebih baik sebagai hamba Allah sejati.
 
Hadirin,
 
Yang penting dicatat pula adalah bahwa teguran tidak hanya berupa bencana. Orang sering salah persepsi bahwa teguran hanya berupa peristiwa yang membuat orang menderita. Inilah salah satu pemicu kesombongan orang-orang yang sedang bergelimang nikmat merasa baik-baik saja. Padahal yang lebih gawat dari teguran bencana itu adalah teguran nikmat. Dalam Islam, teguran yang kedua ini dikenal dengan istilah istidrâj, yakni situasi yang dialami seseorang yang terlihat makin enak, makin nyaman, atau makin sejahtera. Meski tampil sebagai kenikmatan namun sejatinya sederet kondisi ini sebenarnya adalah jebakan. Istidraâ’ adalah perangkap Allah untuk hamba-Nya yang durhaka untuk kian terjerumus ke dalam kegelapan.
 
Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam al-Hikam pernah berkata:
 
خِفْ مِنْ وُجُوْدِ إِحْسَانِهِ إِلَيْكَ وَدَوَامِ إِسَاءَتِكَ مَعَهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ اسْتِدْرَاجاً سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
 
“Takutlah pada perlakuan baik Allah kepadamu di tengah durhakamu yang terus-menerus terhadap-Nya. Karena, itu bisa jadi sebuah istidrâj, seperti firman-Nya, ‘Kami meng-istidraj-kan mereka dari jalan yang mereka tak ketahui’.”
 
Alih-alih mengajak kita untuk menilai orang lain saat diri kita memperoleh rezeki atau nikmat, pengarang al-Hikam ini justru menganjurkan kita untuk mengoreksi diri sendiri. Kenikmatan, keamanan, keselamatan, atau kesejahteraan belum tentu sebuah anugerah. Bisa jadi itu adalah musibah (teguran). Jangan-jangan zona nyaman yang kita rasakan adalah siksa Allah kepada hamba-Nya agar tak dapat merasakan dengan baik kedurhakaan-kedurhakaan dirinya hingga kelak ia akan menerima azab yang lebih pedih. Nikmat duniawi disegerakan, dan di saat bersamaan azab atas dosa-dosanya ditangguhkan. Azab yang ditangguhkan berpotensi lebih berat karena manusia bisa jadi terus-menerus menumpuk dosa akibat terlena dengan gemerlap kelezatan duniawi yang ia alami. Na’ûdzubillâhi min dzâlik.
 
Betapa banyak orang yang lulus dari ujian berupa bencana karena insaf, tobat, dan berusaha memperbaiki diri. Tapi betapa banyak pula orang gagal menjadi hamba yang baik karena mendapat ujian berupa nikmat: terbuai, sombong, merasa tak punya kesalahan, menambah-nambah dosa tiap hari, lalu kian terjerumus dalam kesesatan dan kedurhakaan. Wallahu a’lam bish shawâb.
 
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
 
Khutbah II
 
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
 
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
 
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
 
 
(Alif Budi Luhur)
 
Kamis 11 Oktober 2018 7:30 WIB
Khutbah Jumat: Tahun Politik, Jangan Sebar Caci Maki!
Khutbah Jumat: Tahun Politik, Jangan Sebar Caci Maki!
null
Khutbah I
 
اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ بَعَثَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلّى الله عليه وسلم لِاُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْاَخْلَاق، وَنَهَانَا عَنِ الذَّمِّ وَالتَّجَسُّسِ إلَى جَمِيْعِ الْمَخْلُوْقَات، وَهُوَ الَّذِيْ يَحْذَرُنَا بِجَمِيْعِ الظُّنٌوْنَات، لِأَنَّهَا مِنْ بَعْضِ أَنْوَاعِ الْمَذْمُوْمَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِىْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 
 
Hadirin jama’ah Jumah hafidhakumullah
 
Saya berpesan kepada pribadi saya sendiri, juga kepada para hadirin sekalian, marilah kita terus berusaha meningkatkan takwa kita kepada Allah dengan mematuhi semua perintah dan menjauhi aneka macam larangan-larangan-Nya. 
 
Hadirin hafidhakumullah,
 
Kita sekarang ini sedang berada di tahun politik. Semua warga negara berhak menentukan pilihannya. Tidak ada yang boleh memaksa pilihan saudaranya sendiri. Kita berhak memilih siapa capres cawapres, anggota DPR, DPRD maupun DPD yang kita anggap bisa mengemban amanah paling baik di antara calon yang lain. Dalam memilih, marilah kita kembalikan kepada akal sehat kita masing-masing. Mari kita menengok dan bertanya bagaimana jawaban hati nurani kita itu! Dan setelah melalui perenungan yang mendalam, tanpa ada yang boleh menghalangi, setiap warga negara yang sudah cukup umur dipersilahkan menggunakan haknya untuk memilih calon yang dirasa baik di dalam bilik tanpa ada yang boleh mengintervensi sedikitpun. Hal ini dilindungi oleh negara. 
 
Karena negara telah memberikan kebebasan, jangan sampai kita menganggap diri sendiri paling sempurna, sehingga kita membelenggu orang lain untuk leluasa memilih calon sesuai dengan pandangannya. Jangan sampai karena kita memilih pasangan calon A, lalu kita melarang saudara kita memilih calon B, C dan lain sebagainya. 
 
Agama merupakan hal yang paling mendasar dan krusial dalam hidup ini. Meski begitu, Allah tetap tidak memperbolehkan kita memaksa orang lain yang tidak seakidah dengan kita untuk kemudian kita paksa supaya sama dengan kita. Apalaogi sekedar pilihan politik.
 
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
 
Artinya: “Tidak ada paksaan dalam beragama.” (QS Al Baqarah: 256) 
 
Atau dengan istilah lain ‘tidak ada agama dalam keterpaksaan’.
 
Dalam ayat lain, sebagaimana yang masyhur kita kenal, yaitu 
 
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
 
Artinya: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (QS Al-Kâfirûn: 6) 
 
Terhadap keesaan dalam bertuhan, Allah hanya mengakui Islam sebagai agama. Walaupun jelas dinyatakan salah, Allah tidak pernah mengajarkan kita untuk memaksa orang lain untuk memilih Islam sebagai agama. Sebab hidup itu pilihan. 
 
Adapun ada orang yang memilih untuk celaka, silahkan saja. Hidup memang pilihan. Nabi Muhammad sendiri pun dikasih wahyu oleh Allah, tidak akan bisa memberikan hidayah kepada orang yang beliau cintai. Hidayah merupakan hak preogatif Allah. 
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
 
Artinya: “Sesunggunya kamu (Muhammad) tidak akan pernah bisa memberikan hidayah kepada orang yang kamu cintai, tapi Allah lah yang memberikan petunjuk bagi siapa saja yang Ia kehendaki. Dia maha paling mengetahui terhadap orang yang diberikan petunjuk.” (QS Al-Qashah: 56) 
 
Apakah Allah tidak mampu membuat semua orang menjadi beriman? Jawabnya, “Allah pasti mampu.” Namun demikian memang keadaannya. Allah menciptakan semuanya berpasang-pasangan. Ada yang baik-buruk dan lain sebagainya. Begitu pula ada orang yang mendapat petunjuk dengan yang tidak. Terdapat orang yang beruntung-celaka dan seterusnya. Masing-masing merupakan ciptaan Allah. Seandainya semua makhluk beriman, pastinya Allah mampu membuat itu semua. Namun tidak demikian kehendak Allah subhânahu wa ta’âlâ
 
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ 
 
Artinya: “Jika Tuhanmu berkehendak, pasti akan beriman semua penduduk bumi. Apakah kamu akan memaksa manusia hingga mereka iman semua?.” (QS Yunus: 99) 
 
Hadirin jama’ah Jumah hafidhakumullah
 
Dengan demikian, dapat kita pahami bersama, Allah melarang kita untuk memaksa siapa pun untuk sependapat dengan apa yang ada dalam isi otak kita meskipun terhadap urusan agama yang begitu krusial. Apalagi hanya masalah kecenderungan pilihan politik, semulia apa pun tujuan kita, seagamis apa pun landasan kita, sehebat apa pun otak kita, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memilih sesuai selera kita. Kita hanya boleh menyampaikan nilai-nilai saja dengan sewajarnya, tanpa memaksa. 
 
Rasulullah Muhammad ﷺ diberi pesan oleh Allah subhânahû wa ta’âlâ hanya untuk menyampaikan nilai-nilai, tidak sampai memaksa: 
 
إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ 
 
Artinya: “Kewajibanmu tidak lain hanya menyampaikan (risalah).” (QS As-Syûra: 48) 
 
Hadirin jama’ah Jumah hafidhakumullah
 
Dalam berpolitik, jangan hanya karena beda pilihan politik menjadikan alasan bagi kita untuk memutus tali persaudaraan, memutus tali pertemanan, memutus hubungan keluarga, dan lain sebagainya. Kita sebagai anak bangsa tidaklah patut menjadikan perbedaan pandangan politik sampai memutus hubungan-hubungan tersebut.
 
Jika kita berpolitik karena Allah, lalu menjadikan kita putus hubungan saudara, teman dan lain sebagainya, maka perlu kita koreksi lagi niat kita dalam berpolitik, perlu kita telaah lagi keberagamaan kita. Sejatinya tidak ada yang perlu dibela mati-matian dalam berpolitik hingga kita rela memutus persaudaraan. 
 
Hadirin jama’ah Jumah hafidhakumullah
 
Selain tak boleh memaksa pilihan politik, kita juga dilarang menghujat, membully maupun menghina siapa pun yang berbeda pandangan dengan kita. Bahkan Baginda Nabi pernah berpesan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, sampai kepada setan yang nyata-nyata dilaknat oleh Allah, kita dilarang mencaci makinya. Padahal kita pasti semua sudah tahu, setan merupakan musuh kita bersama. Kita tetap tidak boleh mengumpat, mencaci maki dan lain sebagainya. Kepada setan, kita diperintahkan oleh Allah untuk meminta perlindungan darinya, tanpa harus mengutuk, menghina dan mencaci maki setan. Kata Rasul: 
 
لَا تَسُبُّوا الشَّيْطَانَ، وَتُعَوِّذُوْا بِاللهِ مِنْ شَرِّهِ
 
Artinya: Jangan kalian mencaci maki setan. Mintalah perlindungan Allah dari keburukannya.
 
Firman Allah dalam surat Al-An’am: 
 
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
 
Artinya: “Dan janganlah kalian memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah. Hal itu akan menjadikan mereka mengolok-olok Allah dengan memusuhi tanpa pengetahuan.” (QS Al-An’am: 108) 
 
Dari hadis dan ayat di atas ini, terdapat ajaran, kita dilarang mencaci maki, membully siapa pun orang ataupun benda apa pun walaupun terhadap hal-hal yang benar-benar keliru menurut ajaran agama. Apalagi hanya sekedar kepada orang yang mempunyai pandangan politik yang berbeda. Tentu dilarang. Apalagi sesama muslim atau sesama anak bangsa. Ini jelas dilarang.  
 
Hadirin,
 
Saat ini, mari kita ciptakan pemilu yang damai, tanpa menyindir, membully dan mencaci maki dengan tujuan mencari ridla Allah subhânahu wa ta’âlâ
 
Tidak elok jika kita sebagai anak bangsa, sesama muslim, saling curiga, mencari-cari celah kesalahan lawan pilihan politik, menggunjing politikus-politikus dan lain sebagainya. Allah mengingatkan:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ 
 
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat: 12) 
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِماَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ،  إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 
وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ 
 
Khutbah II
 
الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
 
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
 
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
 
(Ahmad Mundzir)
 
Selasa 9 Oktober 2018 20:0 WIB
Khutbah Jumat: Iblis, Suri Teladan Pertama Penyebar Hoaks
Khutbah Jumat: Iblis, Suri Teladan Pertama Penyebar Hoaks
Khutbah I

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ  أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Sejarah hoaks atau kabar palsu bisa dikatakan setua sejarah awal-awal diciptakan manusia. Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam 'alaihissalam diciptakan oleh Allah ﷻ sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis. Kemuliaan itu ditandai dengan perintah-Nya kepada para malaikat dan iblis untuk bersujud (hormat) kepada Nabi Adam. Ketika itu semua patuh bersujud, kecuali iblis yang sombong. Dari sinilah permusuhan iblis dan manusia dimulai, termasuk munculnya pertama kali hoaks dari iblis kepada manusia.

Setelah peristiwa itu Allah memerintahkan kepada Nabi Adam dan istrinya Hawa untuk tinggal di surga dengan bahagia. Mereka berdua dibebaskan mengambil makanan apa saja dan dari mana saja tanpa susah payah. Mereka hanya dilarang mendekati pohon tertentu, apalagi sampai memakan buahnya. Bila dilanggar, maka keduanya akan masuk golongan yang zalim dan durhaka. Kisah ini terekam dengan baik dalam Surat al-Baqarah.

Ulama berbeda pendapat tentang nama pohon dan buah yang dimaksud. Tapi beredar di kalangan kita saat ini nama populer “pohon atau buah khuldi”. Secara bahasa khuldi berarti keabadian. Kesimpulan ini mengacu pada kutipan di Surat Taha ayat 120 bahwa setan membisikkan rayuan jahat kepada Nabi Adam agar mendekati dan memakan buah dari “pohon keabadian” itu.

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?’.” (QS Taha: 120)

Setan menggoda Adam dan Hawa dengan sebuah pohon yang digambarkan akan memberikan efek hidup abadi, juga kekuasaan yang berlangsung langgeng. Dari ayat ini kita tahu bahwa nama “pohon khludi” bukan pemberian dari Allah, melainkan dari setan yang tengah dikuasai rasa iri dan dengki terhadap Nabi Adam. 

Dalam Surat al-A’raf ayat 20 juga dijelaskan bagaimana kata-kata setan dalam merayu mereka berdua: "Tuhan melarang kamu berdua mendekati pohon ini lantaran tidak ingin melihat kalian menjadi malaikat dan kekal, terus menerima nikmat yang tanpa terputus di dalam surga." Setan menggoda keduanya agar melanggar perintah Allah. Sehingga pakaian mereka terlepas dan auratnya terlihat.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Apa yang diembuskan oleh setan kepada Nabi Adam dan Hawa adalah hoaks. Informasi tersebut memang tampak manis dan menjanjikan tapi sesungguhnya dusta dan palsu. Kenapa dusta dan palsu? Karena pada kenyataannya setelah pohoh itu didekati dan buahnya dimakan, yang ada justru keduanya dikeluarkan dari surga. Setan melancarkan cara-cara licik ini untuk menjerumuskan manusia agar berbuat durhaka kepada Allah.

Ibnu ‘Asyur dalam kitab tafsirnya at-Tahrîr wat Tanwîr menjelaskan bahwa nama indah “pohon keabadian” sengaja diciptakan setan untuk mengundang daya tarik serta mengelabuhi manusia yang memang punya kecenderung untuk bisa hidup lama. Dengan bahasa lain, nama "pohon keabadian" itu merupakan bagian dari skenario hoaks yang didesain setan agar Nabi Adam terjerumus dalam tipuannya..

Inilah episode Adam dan Hawa kemudian keluar dari kenikmatan dan kemuliaan surga, lalu tinggal di bumi. Di bumi manusia berkembang biak dan sarat dengan pertikaian, serta kesenangan-kesenangan yang pasti fana.

Usai sadar bahwa dirinya tergelincir oleh hoaks yang diiming-imingkan setan, Nabi Adam segera bertobat.

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha-Penerima tobat lagi Maha-Penyayang." (QS al-Baqarah: 37)

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Demikianlah bahaya hoaks. Ia lebih dari sekadar mengelabuhi pengetahuan, melainkan juga menurunkan kemuliaan manusia. Beda hoaks dengan kabar keliru biasa (yang tak sengaja) terletak pada niatan buruk yang mendorongnya. Dan itulah yang dilakukan iblis kepada manusia pertama.

Iblis memang telah dikutuk karena membangkang dari perintah Allah untuk bersujud (hormat) kepada Nabi Adam. Namun, sebagaimana diungkapkan dalam Surat al-A’raf ayat 14-17, iblis telah meminta kesempatan Allah untuk diberi hidup sampai hari kebangkitan, dan Allah mengabulkan permintaannya. Selanjutnya iblis bersumpah akan menyesatkan keturunan Adam. Ia bertekad akan memalingkan manusia dari jalan kebenaran dengan menggunakan segala cara.

Tidak aneh bila perbuatan kotor iblis, seperti menyebar hoaks, masih kita temui hingga sekarang, bahkan mungkin sampai hari kiamat datang. Ini adalah buah kerja keras iblis dalam menggoda manusia agar menempuh jalan sesat. 
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Islam sangat peduli dengan kejujuran dan kebenaran. Agama luhur ini mengajarkan tiap orang yang menerima kabar dari sumber yang tidak jelas untuk melakukan tabayun atau klarifikasi. Pastikan berita yang diterima benar-benar akurat. Setelah diyakini akurat pun tidak serta merta boleh langsung menyebarkannya lagi sebelum benar-benar yakin akan berdampak maslahat, minimal tidak menimbulkan mudarat.

Di era media sosial yang sangat bebas ini peluang untuk berbuat salah pun semakin luas. Kebebasan yang tak terkendali bisa jadi tidak membawa berkah malah menjadi musibah bagi pemiliknya. Mari jaga hati, pikiran, lisan, dan tangan agar selamat dari langkah-langkah setan. Dalam Islam kita diajarkan bahwa tiap gerak kita tak luput dari pengawasan Allah ﷻ dan karena itu tidak akan luput dari pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Imam Syafi’i pernah berkata dalam kitab Ar-Risâlah:

أَنَّ الْكَذِبَ الَّذِيْ نَهَاهُمْ عَنْهُ هُوَ الْكَذِبُ الْخَفِيُّ، وَذَلِكَ الحَدِيْثُ عَمَّنْ لَا يُعْرَفُ صِدْقُهُ

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat (kadzib khafi), yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas apakah ia jujur atau tidak.”

Bila menyebar informasi yang masih samar-samar tingkat akurasinya saja kita sudah bisa divonis berbohong, apalagi bila kita dengan sengaja menyebarkan berita yang jelas-jelas hoaks. Kedengkian iblis kepada Nabi Adam jangan sampai menjadi teladan bagi umat sekarang, sehingga antarsesama saudara sebangsa pun harus saling memusuhi dan menjatuhkan. Wallahu a’lam bish shawab.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


Alif Budi Luhur