IMG-LOGO
Trending Now:
Syariah

Mengenal Bendera Islam (I): Nama-nama dan Fungsinya

Kamis 25 Oktober 2018 17:45 WIB
Share:
Mengenal Bendera Islam (I): Nama-nama dan Fungsinya
Ilustrasi (via n-num.com)
Akhir-akhir ini marak pembahasan tentang topik bendera Islam yang dianggap simbol umat Islam seluruhnya. Namun, tampaknya informasi yang sampai pada masyarakat hanya sepotong-sepotong sehingga beberapa orang meyakini bahwa “bendera Islam” itu mempunyai bentuk, warna dan motif tertentu dan dianggap baik untuk dibawa ketika melakukan aksi-aksi demonstrasi atau pada acara tertentu sebagai syiar Islam. Padahal bila kita membaca sejarah, tidak demikian ceritanya. Bagaimana sebenarnya bendera Islam ini? Dan bahkan pertanyaan intinya apakah benar agama Islam mempunyai bendera khusus? 

Untuk menjawab banyak pertanyaan seputar bendera ini, berikut penulis sajikan secara ringkas dalam beberapa poin pahasan yang terbagi dalam tiga artikel bersambung sebagaimana berikut:

Nama-nama Bendera Islam:

Ada beberapa nama yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai kata yang menunjukkan makna bendera, yakni al-Liwâ’, ar-Râyah, al-‘Alam dan al-Uqâb. Dalam keterangan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Liwâ’, ar-Râyah dan al-‘Alam adalah satu hal dengan sebutan berbeda. Beliau berkata:

اللِّوَاءُ بِكَسْرِ اللَّامِ وَالْمَدِّ هِيَ الرَّايَةُ وَيُسَمَّى أَيْضًا الْعَلَمُ

Al-Liwâ’ dengan huruf lam yang dibaca kasrah dan waw panjang adalah ar-Râyah (bendera) dan disebut juga dengan al-‘Alam.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, juz VI, halaman 126)

Indikasi kesamaan makna antara al-Liwâ’ dan ar-Râyah menurut Ibnu Hajar juga dapat diketahui dari redaksi pernyataan Rasul yang dalam satu redaksi mengatakan: “Aku akan memberikan ar-Râyah pada seorang lelaki yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”, tetapi dalam redaksi lainnya mengatakan: “Aku akan menyerahkan al-Liwâ’ pada seorang lelaki yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.” Menurutnya, hal ini mengindikasikan bahwa al-Liwâ’ dan ar-Râyah adalah sama. Selain ketiga nama di atas juga ada istilah al-Uqâb, yakni bendera persegi empat yang berwarna hitam. (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, juz VI, halaman 127)

Namun, beberapa ulama membedakan antara al-Liwâ’ dan ar-Râyah. Misalnya Abu Bakr Ibnu al-Arabi yang menyatakan:

أَبُو بَكْرِ بْنُ الْعَرَبِيِّ اللِّوَاءُ غَيْرُ الرَّايَةِ فَاللِّوَاءُ مَا يُعْقَدُ فِي طَرَفِ الرُّمْحِ وَيُلْوَى عَلَيْهِ وَالرَّايَةُ مَا يُعْقَدُ فِيهِ وَيُتْرَكُ حَتَّى تَصْفِقَهُ الرِّيَاحُ وَقِيلَ اللِّوَاءُ دُونَ الرَّايَةِ وَقِيلَ اللِّوَاءُ الْعَلَمُ الضَّخْمُ وَالْعَلَمُ عَلَامَةٌ لِمَحلِّ الْأَمِيرِ يَدُورُ مَعَهُ حَيْثُ دَارَ وَالرَّايَةُ يَتَوَلَّاهَا صَاحِبُ الْحَرْبِ

Al-Liwâ’ adalah bendera yang diikat di ujung tombak dan digerak-gerakkan sedangkan ar-Râyah adalah bendera yang diikat di ujung tombak lalu dibiarkan sehingga berkibar oleh angin. Katanya, al-Liwâ’ berbeda dengan ar-Râyah. Dikatakan juga, al-Liwâ’ adalah al-‘Alam (bendera) yang besar. Al-‘Alam adalah penanda lokasi Amir (Penguasa) yang berpindah ke mana pun Ia pergi. Sedangkan ar-Râyah dipegang oleh pemimpin perang.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, juz VI, halaman 126).

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa para ulama dan demikian pula para sahabat periwayat hadits berbeda pendapat dalam menjelaskan al-Liwâ’ dan ar-Râyah beserta fungsinya masing-masing. Yang jelas, kesemuanya adalah bendera yang dipakai oleh Rasulullah dan para sahabat.

Konteks Pemakaian Bendera Islam

Terlepas apa pun namanya, kapankah bendera digunakan? Apakah sewaktu dalam keadaan normal sehari-hari ataukah ketika ada momen tertentu di mana umat Islam berkumpul? Jawabannya tidak demikian. Sepanjang penelusuran penulis, Rasulullah atau para sahabat tidak memakai bendera dalam acara-acara yang menyedot konsentrasi massa, para ulama pun tidak menyarankan hal itu sehingga wajar apabila banyak umat Islam yang merasa asing dengan bendera ini. Bendera-bendera itu hanya digunakan dalam konteks ketika berada di medan perang saja, ada yang diikat di ujung tombak dan ada yang dipakai di atas kepala pemimpin perang saat itu dan ada pula yang dikibarkan di lokasi Amir (Pejabat negara) yang ikut serta memantau peperangan.

Syaikh Ibnu Batthal, salah satu pakar hadits penyarah Shahih Bukhari, mengatakan:

قال: (لأعطين الراية) فعرفها بالألف واللام يدل أنها كانت من سنته - (صلى الله عليه وسلم) - فى حروبه فينبغى أن يسار بسيرته فى ذلك

“Redaksi ‘Aku akan memberikan ar-Râyah menggunakan awalan alif dan lam menunjukkan bahwa memakai bendera termasuk tradisi Nabi dalam peperangan-peperangannya. Maka seyogianya jejak beliau diikuti dalam hal itu.” (Ibnu Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhâri, juz V, halaman 141)

Demikian juga Imam Ibnu Hajar menjelaskan:

وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ اسْتِحْبَاب اتِّخَاذ الألوية فِي الحروب وَأَنَّ اللِّوَاءَ يَكُونُ مَعَ الْأَمِيرِ أَوْ مَنْ يُقِيمُهُ لِذَلِكَ عِنْدَ الْحَرْبِ

“Dalam beberapa hadits ini ada kesunnahan memakai bendera dalam peperangan-peperangan dan bahwa al-Liwâ’ dipegang oleh Amir (pemimpin negara) atau orang yang dia posisikan untuk memimpin ketika perang.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, juz VI, halaman 127).

Dalam hal ini, kita bisa tahu bahwa tradisi membawa-bawa “bendera Islam” di luar konteks peperangan bukanlah hal yang diajarkan oleh Rasulullah ataupun dicontohkan para sahabat. Pemakaian bendera di luar konteks yang disunnahkan justru akan membuat bendera tersebut berubah fungsi menjadi simbol lain bagi kelompok pembawanya, tak sekadar sebagai “simbol Islam” semata sebagaimana asalnya. Apalagi bila bentuknya tidak merepresentasikan apa yang menjadi tradisi Rasulullah, sebagaimana nanti akan dibahas pada bagian selanjutnya.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Tim Ahli Aswaja NU Center Jawa Timur

Bersambung ....

Tags:
Share:
Kamis 25 Oktober 2018 21:0 WIB
Mengenal Bendera Islam (III): Warna dan Tulisan di Dalamnya
Mengenal Bendera Islam (III): Warna dan Tulisan di Dalamnya
Ilustrasi (via Wikipedia)
Warna atau Corak Bendera Islam

Publik saat ini banyak yang mengenal “bendera Islam” atau lebih tepatnya bendera perang kaum Muslimin di masa lalu sebagai bendera berwarna hitam yang mereka sebut ar-Râyah dan bendera berwarna putih yang disebut al-Liwâ’. Telah penulis bahas sebelumnya bahwa sebenarnya ar-Râyah dan al-Liwâ’, bahkan al-‘Alam atau al-Uqab menurut sebagian ulama adalah satu hal yang sama persis, sedangkan menurut sebagian ulama lainnya memang berbeda akan tetapi semuanya adalah bendera yang digunakan dalam konteks peperangan. 

Berbicara tentang warna ini, sebenarnya tidak ada warna khusus yang ditentukan oleh Rasulullah sebagai warna bendera kaum muslimin. Hanya saja, ada beberapa warna yang memang dipakai saat itu, yakni sebagai berikut:

Imam at-Turmudzi, Ibnu Majah dan lain-lain mencatat hadits Jabir yang menyatakan bahwa ketika peristiwa penaklukan kota Makkah Rasulullah memakai al-Liwâ’ berwarna putih dan ar-Râyah berwarna hitam yang berbentuk persegi empat. (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, juz VI, halaman 126). Inilah yang kemudian menjadi dasar bagi sebagian ulama untuk membedakan antara al-Liwâ’ dan ar-Râyah beserta warnanya. Ini juga yang dikenal oleh publik saat ini melalui serangkaian artikel yang ditulis oleh para aktivis HTI di masa lalu. Bagi ulama yang menganggap dua istilah itu sama, berarti saat itu Rasulullah membawa dua bendera sekaligus dengan dua warna berbeda.

Baca juga:
Mengenal Bendera Islam (I): Nama-nama dan Fungsinya
Mengenal Bendera Islam (II): Siapa yang Berhak Membawanya?
Akan tetapi, warna hitam dan putih dalam hadits Jabir itu hanya merekam kejadian yang terjadi di saat penaklukan kota Makkah saja. Kenyataannya, Rasulullah juga mempunyai bendera (al-Liwâ’) berwarna abu-abu, seperti diceritakan oleh Mujahid berikut:

وقال جابر: دخل رسول الله مكة ولواؤه أبيض. وقال مجاهد: كان لرسول الله - صلى الله عليه وسلم - لواء أغبر

“Jabir berkata: Rasulullah memasuki kota Makkah sedangkan liwâ’-nya berwarna putih. Mujahid berkata: Rasulullah mempunyai liwâ’ berwarna abu-abu.” (Ibnu al-Mulaqqin, at-Taudlîh Lisyarh al-Jâmi’ as-Shahîh, Juz XVIII, halaman 103)

Bila bendera yang diredaksikan dengan istilah al-Liwâ’ pernah tercatat ada yang berwarna putih dan ada yang abu-abu, demikian juga dengan bendera yang diredaksikan dengan ar-Râyah. Riwayat berikut ini menceritakan beberapa warna Rayah:

التوضيح لشرح الجامع الصحيح
وعن الحارث بن حسان: رأيت النبي - صلى الله عليه وسلم - وإذا رايات سود، فقلت: من هذا؟ قالوا: عمرو بن العاصي قدم من غزاة، وعقد لبني سليم راية حمراء وللأنصار صفراء

“Dari al-Harits bin Hassan yang berkata: Saya melihat Nabi ﷺ dan saat itu ada beberapa Rayah berwarna hitam. Lalu saya berkata: [milik] siapa ini? Para sahabat berkata: Amr Bin Ash telah tiba dari peperangan. Rasulullah membuat Rayah berwarna merah bagi Bani Sulaim dan berwarna kuning bagi kaum Anshar.” (Ibnu al-Mulaqqin, at-Taudlîh Lisyarh al-Jâmi’ as-Shahîh, Juz XVIII, halaman 103)

Ar-Râyah juga tidak hanya berwarna hitam saja, melainkan juga ada yang berwarna putih yang terdapat sedikit warna hitam di dalamnya. Ibnu Hajar menceritakan hal ini sebagai berikut:

وَقِيلَ كَانَتْ لَهُ رَايَةٌ تُسَمَّى الْعقَابَ سَوْدَاءُ مُرَبَّعَةٌ وَرَايَةٌ تُسَمَّى الرَّايَةَ الْبَيْضَاءَ وَرُبَّمَا جُعِلَ فِيهَا شَيْءٌ أَسْوَدُ

“Dikatakan bahwa Rasulullah mempunyai Rayah yang disebut al-Uqâb, berwarna hitam persegi empat dan Rayah yang disebut Rayah Putih. Biasanya dalam warna putih itu dibuat sedikit warna hitam.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, juz VI, halaman 127)

Jadi, warna bendera yang pernah dipakai oleh Rasul, baik untuk dirinya sendiri atau bagi para sahabat yang beliau tugaskan dan baik itu disebut dengan istilah ar-Râyah atau al-Liwâ’, tidaklah mempunyai warna khusus yang konsisten. Ini menjadi bukti bahwa simbol bendera ini bukanlah sesuatu yang baku seperti bendera pada umumnya, namun sebatas pembeda teknis yang dipakai saat peperangan. Lain perang lain pula warnanya, lain kelompok juga lain warnanya, tergantung apa yang tersedia saat itu. 

Demikianlah juga yang dipahami oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Terbukti ketika terjadi perang Shiffin antara pihak Ali dan Mu’awiyah, saat itu Ali bin Abi Thalib membuat bendera baru (Rayah) yang berwarna merah bertuliskan “Muhammad Rasulullah” tanpa kalimat tauhid. Sepanjang penelusuran penulis, bentuk seperti ini belum pernah tercatat dalam sejarah di masa Rasul. Selain itu beliau juga membawa bendera berwarna hitam. (Ibnu al-Mulaqqin, at-Taudlîh Lisyarh al-Jâmi’ as-Shahîh, Juz XVIII, halaman 103) 

Andai betul ada bendera baku yang bisa disebut “bendera Islam” atau “bendera Rasul”, maka tentu tak akan ada banyak versi warna. Tidak mungkin Rasulullah kadang memakai warna hitam, putih, abu-abu, dan tak mungkin pula beliau memberikan warna merah dan kuning untuk kalangan sahabat. Tak mungkin pula Ali Bin Abi Thalib berkreasi memakai bendera warna merah bertuliskan “Muhammad Rasulullah.” Bila simbol semacam ini dianggap sebagai simbol Islam yang sakral, tentu hanya satu saja sebagai simbol persatuan kaum muslimin.

Tulisan di Bendera

Pembahasan terakhir, apakah bendera perang yang digunakan Rasulullah dan para sahabat punya ciri khas tulisan tertentu? Dalam hal ini ada sebuah riwayat tidak valid sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar berikut:

وَلِأَبِي الشَّيْخِ من حَدِيث بن عَبَّاسٍ كَانَ مَكْتُوبًا عَلَى رَايَتِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَسَنَدُهُ وَاهٍ

“Abu Syaikh mempunyai hadits dari Ibnu Abbas: Dalam bendera (Rayah) Rasulullah terdapat tulisan ‘La ilaha Ilallah Muhammad Rasulullah’. Adapun sanadnya amat lemah.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, juz VI, halaman 127).

Sebagaimana dijelaskan pakar hadits paling otoritatif tersebut, cerita bahwa dalam bendera Rasulullah bertuliskan kalimat tauhid tidaklah valid sehingga tidak bisa dipastikan kebenarannya. Dari berbagai uraian tentang bendera sejak awal artikel ini, yang valid hanya disebutkan tentang warna saja yang beraneka ragam. Dengan demikian, yang bisa dipastikan adalah bahwa bendera perang Rasulullah hanya merupakan kain kosong tanpa tulisan tertentu. Adapun bendera yang dipakai oleh Khalifah keempat, maka bertuliskan “Muhammad Rasulullah” saja, itu pun hampir bisa dipastikan memakai gaya tulisan (khath) Kufi sebagai gaya tulisan yang dikenal saat itu.

Selanjutnya, berbagai kekhalifahan tampaknya mempunyai bendera versi masing-masing sebagai simbol negara atau simbol komando dalam perang. Hal ini murni dikembalikan pada kesepakatan bersama, tak ada satu pun himbauan atau petunjuk dari Rasulullah sehingga bentuk ini bukanlah hal yang secara syar’i dianggap baku. Dari hal ini pula dapat diketahui bahwa bendera Negara Indonesia, Merah Putih, juga bendera yang dapat diakui sepenuhnya dalam ajaran Islam sebagai simbol yang sah dan tak bertentangan dengan sejarah Islam. 

Dengan berbagai ulasan ini, kita dapat mengenal secara tepat bagaimana sebenarnya yang disebut “bendera Islam” itu. Masyarakat juga dapat membedakan mana bendera yang betul-betul sunnah untuk dipakai serta dalam konteks apa memakainya dan mana bendera yang sejatinya menjadi simbol kelompok tertentu tetapi mendompleng pada nama Rasul. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Tim Ahli Aswaja NU Center Jawa Timur.

Kamis 25 Oktober 2018 19:30 WIB
Mengenal Bendera Islam (II): Siapa yang Berhak Membawanya?
Mengenal Bendera Islam (II): Siapa yang Berhak Membawanya?
Ilustrasi (via oke.ru)
Pada bagian sebelumnya telah disinggung bahwa konteks penggunaan bendera hanyalah ketika berada di medan perang saja, bukan di masa damai dalam keadaan normal. Pada bagian ini penulis ingin lebih menekankan bahwa bendera Islam yang dimaksud bukanlah “simbol Islam” tetapi lebih kepada simbol hirarki kepemimpinan perang. Artinya, ini bukanlah sesuatu yang bisa dibawa oleh siapa pun sesuai selera tetapi sesuatu yang melambangkan posisi komando dalam perang yang sedang terjadi.

Baca: Mengenal Bendera Islam (I): Nama-nama dan Fungsinya
Ibnu Batthal menjelaskan tentang ar-Râyah sebagai berikut:

وفى حديث على أيضًا أن الراية لا يجب أن يحملها إلا من ولاه الإمام إياها ولا تكون فيمن أخذها إلا بولاية

“Dalam hadits tersebut (hadits pemberian bendera oleh Rasul pada pemimpin perang), diketahui bahwa ar-Râyah tidak wajib dibawa kecuali oleh orang yang diberi kuasa oleh Imam (Pemimpin Negara) dan tak mempunyai otoritas apa pun bagi orang yang mengambilnya kecuali dengan adanya mandat kekuasaan.” (Ibnu Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhâri, juz V, halaman 141)

Demikian juga pakar hadits dan sejarawan terkemuka Islam, al-Hafidz Ibnu al-Atsir, menjelaskan otoritas pemegang al-Liwâ’ sebagaimana berikut:

ولا يمسك اللواء إلا صاحب الجيش

“Tidaklah boleh memegang al-Liwâ’ kecuali pemimpin pasukan.” (Ibnu al-Atsir, an-Nihâyah, juz IV, halaman 279).

Karena sejatinya itu adalah simbol komando dalam perang, maka simbol itu bukan hanya tak berhak dipegang oleh orang biasa tetapi juga tak boleh dipindahkan sesuka hati. Ada prosedur ketat soal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu al-Muhallib sebagaimana berikut:

قَالَ المهلب: وفي حديث الزبير أن الراية لا يركزها إلا بإذن الإمام؛ لأنها علامة على الإمام ومكانه، فلا ينبغي أن يتصرف فيها إلا بأمره 

“Ibnu al-Muhallib berkata: ‘Dalam hadits Zubair bahwasanya ar-Râyah tak boleh diposisikan kecuali dengan perintah Imam sebab itu adalah simbol bagi Imam dan posisinya. Maka tak boleh diapa-apakah kecuali dengan perintah Imam.” (Ibnu al-Mulaqqin, at-Taudlîh Lisyarh al-Jâmi’ as-Shahîh, Juz XVIII, halaman 103)

Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dikenal sebagai “bendera Islam”, disebut dengan istilah al-Liwâ’ atau ar-Râyah, sebenarnya tak lebih sebagai simbol komando dalam perang yang hanya boleh dipegang oleh pemimpin perang. Ini bukanlah simbol negara Islam atau bahkan simbol agama Islam sebagaimana dipahami sebagian orang sebab tak pernah tercatat bahwa simbol bendera ini dikibarkan di kediaman Rasulullah sebagai pemimpin tertinggi Islam ataupun di Masjid Nabawi yang saat itu berfungsi sebagai pusat ibadah, pengajaran dan musyawarah. Demikian juga para Khulafaur Rasyidin tidak menggunakan hal itu sebagai simbol negara di kediaman mereka yang juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan.

Menjadi absurd ketika simbol komando perang ini kemudian dibawa oleh banyak orang dalam acara kegiatan kelompok tertentu. Secara fiqih tentu tak haram membawa bendera ini, tetapi nilai sejarahnya akan rusak dan tak lagi bisa diklaim sebagai “simbol Islam” sebab telah berubah fungsi menjadi simbol yang identik bagi kelompok tersebut yang menggunakan bendera dimaksud sebagai lambang propaganda mereka. Di sisi lain, perlu dipertanyakan mengapa membawa simbol perang dalam keadaan damai?

Karena itu, ketika dulu HTI—yang telah dilarang di Indonesia—menggunakan simbol “bendera Islam” atau lebih tepatnya bendera perang yang digunakan umat Islam di masa lalu itu sebagai bagian dari kegiatan mereka yang mereka tunjukkan secara massif di kantor maupun di berbagai acara mereka, maka bendera tersebut dengan sangat meyakinkan dapat diartikan sebagai simbol propaganda bagi kelompok mereka. HTI dalam hal ini tak bisa berkelit dengan mengatakan bahwa bendera yang mereka pakai adalah bendera Rasul sebab Rasulullah tak tercatat memakainya untuk tujuan sedemikian. Rasulullah juga tak pernah memerintahkan agar kaum Muslimin membuat atau mengibarkan bendera khusus yang menjadi ciri khas Islam, tidak pernah sama sekali.

Meskipun para “mantan” HTI saat ini dengan kompak mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai bendera apa pun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa mereka menggunakan bendera tertentu dengan warna hitam dan putih yang bertuliskan kalimat tauhid yang sifatnya khas tanpa pernah ada modifikasi sedikitpun, baik dalam bentuknya yang empat persegi panjang ataupun model tulisan (khath) yang dipakai, yakni gaya kaligrafi Tsuluts yang sama sekali tak dikenal di masa Rasulullah. Secara de facto, itulah bendera gerakan mereka yang mereka sembunyikan di balik klaim sebagai “bendera Rasul.” 

Setelah kita tahu bagaimana nama, fungsi, konteks penggunaan dan otoritas yang berhak memegang “bendera islam” atau lebih tepatnya bendera perang itu, maka pada selanjutnya penulis akan menjelaskan tentang warna, corak dan isinya. Hal ini penting agar masyarakat tahu bagaimana sifat bendera perang ini sesungguhnya di masa yang menjadi rujukan Islam itu.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Tim Ahli Aswaja NU Center Jawa Timur

Bersambung ...

Rabu 24 Oktober 2018 17:45 WIB
Hukum Membakar Bendera HTI
Hukum Membakar Bendera HTI
Ilustrasi (AFP)
Akhir-akhir ini publik ramai memperbincangkan tindakan salah satu anggota organisasi yang membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid. Banyak pihak yang geram atas tindakan ini, sebab kalimat tauhid di mana pun penempatannya adalah kalimat yang harus dimuliakan oleh seluruh umat Islam. Sehingga membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid adalah bentuk penghinaan yang nyata pada kalimat tauhid itu sendiri.

Benarkah hujjah (argumentasi) dan alasan tersebut?

Sebelumnya patut dipahami bahwa dalam konteks ini telah terjadi penyimpangan fungsi kalimat tauhid yang awalnya merupakan simbol keesaan Allah ﷻ. Namun oleh oknum yang tidak bertanggungjawab justru kalimat tersebut dijadikan sebagai simbol kepentingan mereka dan dijadikan lambang identitas golongan mereka, golongan ini biasa dikenal dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), salah satu gerakan separatis yang secara tegas telah dilarang oleh pemerintah.

Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari menjelaskan:

اَنَّ اسْتِعْمَالَ مَا وُضِعَ لِلتَّعْظِيْمِ فِيْ غَيْرِ مَحَلِّ التَّعْظِيْمِ حَرَامٌ

“Sesungguhnya menggunakan sesuatu yang diciptakan untuk diagungkan, untuk difungsikan pada hal yang tidak diagungkan adalah hal yang haram.” (Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Tanbîhat al-Wâjibat, Jombang, Pustaka Teburireng, h. 30)

Berdasarkan referensi di atas, mengalihfungsikan kalimat tauhid untuk kepentingan organisasi yang terlarang adalah bentuk perbuatan yang secara tegas diharamkan oleh syariat. Sebab perbuatan ini saja sudah dipandang menghina terhadap kalimat tauhid itu sendiri. Sehingga mestinya secara arif kita dapat menilai bahwa bendera tauhid pada konteks ini hakikatnya bukan merupakan lambang yang mewakili umat Islam secara kesuluruhan, bahkan merupakan lambang yang dijadikan pemicu berbagai perpecahan bangsa, sebab telah difungsikan sebagai lambang golongan tertentu yang telah dilarang oleh pemerintah.

Peristiwa semacam ini sesungguhnya juga terjadi dalam ingatan sejarah kita, bagaimana Masjid Dhirar dihancurkan dan dibakar oleh Rasulullah ﷺ setelah beliau tahu bahwa ternyata masjid tersebut dibuat oleh kaum yang berupaya memecah belah umat Islam. Dalam menyikapi peristiwa ini, Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab al-Hâwî lil Fatâwi:

قَالَ عُلَمَاؤُنَا: وَإِذَا كَانَ الْمَسْجِدُ الَّذِيْ يُتَّخَذُ لِلْعِبَادَةِ وَحَضَّ الشَّرْعُ عَلَى بِنَائِهِ يُهْدَمُ وَيُنْزَعُ إِذَا كَانَ فِيْهِ ضَرَرٌ فَمَا ظَنُّكَ بِسِوَاهُ ؟ بَلْ هُوَ أَحْرَى أَنْ يُزَالَ وَيُهْدَمَ، هَذَا كُلُّهُ كَلَامُ الْقُرْطُبِيْ

“Para Ulama berkata: Jika masjid saja yang diciptakan untuk ibadah dan syariat menganjurkan untuk membangunnya berubah menjadi dihancurkan karena terdapat kemudlaratan, lantas bagaimana pendapatmu pada hal selain masjid? Jelas lebih pantas untuk dihilangkan dan dihancurkan. Perkataan tersebut adalah perkataan Imam Qurtuby.” (Imam Jalaluddin As-Suyuthi, al-Hâwî lil Fatâwi, juz 1, h. 144)

Selain peristiwa itu, pernah pula tercatat dalam sejarah Sayyidina Utsman radliyallahu ‘anh membakar mushaf Al-Qur’an untuk tujuan menjaga keotentikan Al-Qur’an. Sebab Mushaf yang Ia bakar merupakan mushaf-mushaf yang bercampur antara ayat yang mansukh (disalin) dan ayat yang tidak mansukh. Khawatirnya jika mushaf-mushaf itu dibiarkan, banyak orang akan berpendapat bahwa lafadz yang bukan merupakan bagian dari Al-Qur’an dianggap sebagai bagian dari Al-Qur’an. Hal ini jelas akan berpengaruh pada keotentikan Al-Qur’an itu sendiri. Berdasarkan peristiwa ini, Para Fukaha berpandangan bahwa membakar Al-Qur’an jika bertujuan untuk menjaga kehormatan Al-Qur’an itu sendiri adalah hal yang diperbolehkan.

Berdasarkan beberapa dalil-dalil di atas dapat kita simpulkan bahwa bendera tauhid hanyalah kedok dari gerakan terlarang di negeri ini. Kita harus melawannya secara tegas. Tindakan membakar hakikatnya bukan melecehkan kalimat tauhid, namun untuk menyelamatkannya dari kepentingan yang tercela.

Dengan demikian, hukum membakar bendera tauhid adalah hal yang diperbolehkan, bahkan merupakan cara yang paling utama bila hal tersebut lebih efektif untuk menghentikan provokasi dari gerakan terlarang di negeri ini. Wallahu A’lam.


Ustadz M Mubasysyarum Bih, Dewan Rais Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo