IMG-LOGO
Ubudiyah

Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (I)

Jumat 26 Oktober 2018 20:45 WIB
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (I)
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
Keberhasilan para ulama tidak bisa dilepaskan dari faktor etika kepada guru/kiainya. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa 70 persen keberhasilan santri dikarenakan adabnya, 30 persen karena kesungguhannya. Ilmu para ulama tidak hanya bermanfaat untuk dirinya namun juga untuk masyarakat luas, tidak pula berkaitan dengan urusan ubudiyyah mahdlah namun juga berhubungan dengan interaksi sosial keumatan. 

Bagaimana kiat dan langkah menjadi pelajar yang beretika kepada gurunya? Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adab al-Alim wa al-Muta’allim menyebutkan ada 12 adab seorang santri kepada gurunya.

Pertama, berpikir matang-matang sebelum memilih guru.

Seorang santri tidak boleh sembarangan memilih guru yang hendak ia timba ilmu dan adabnya. Sebelum memutuskan siapa gurunya, hendaknya terlebih dahulu beristikharah, meminta petunjuk kepada Allah agar diberi guru yang terbaik untuk dirinya. Bila memungkinkan, guru yang dipilih sebaiknya adalah pribadi yang betul-betul mumpuni ilmunya, dapat menjaga harga dirinya, memiliki kasih sayang, dan masyhur keterjagaannya (dari hal-hal tercela). Guru sebaiknya juga seseorang yang baik penyampaiannya. Karena begitu pentingnya memilih seorang guru, sebagian ulama mengatakan:

هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari mana kalian mengambilnya.”

Kedua, memilih guru yang kredibel

Guru yang dipilih hendaknya orang yang mengerti agama secara sempurna, sanad keilmuannya jelas, yaitu mereka yang diketahui mengambil ilmu dari para masyayikh yang cerdas, dari gurunya lagi, hingga Rasulullah Saw. Tidak cukup belajar agama dari seseorang yang hanya mengambil ilmu dari buku-buku tanpa digurukan. Menurut Hadratussyekh, belajar tanpa memiliki sanad keilmuan yang jelas atau hanya mencukupkan dari buku-buku, sangat mengkhawatirkan. Rentan sekali terdapat kekeliruan. Oleh karenanya, di samping rajin membaca dan mempelajari buku-buku, penting sekali untuk mencari guru yang mentashih atau membenarkan. Rais akbar Nahdlatul Ulama tersebut mengutip statemen Imam Syafi’i radliyallahu ‘anh:

من تفقه من بطون الكتب ضيع الاحكام

“Barangsiapa belajar fiqih dari buku-buku (tanpa digurukan), maka ia telah menyia-nyiakan hukum-hukum agama.”

Ketiga, mematuhi segala perintah guru

Murid hendaknya adalah pribadi yang mentaati arahan gurunya. Sam’an wa tha’atan, mendengar dan mematuhi apa pun yang diarahkan gurunya. Ibarat pasien yang sakit, ia harus senantiasa mematuhi petunjuk dokternya. Berapa kali ia harus meminum obat dalam sehari, pola makan yang harus dijaga dan hal-hal lain yang diperintahkan oleh sang dokter. Demikian pula pelajar, bila ia ingin sembuh dari penyakit kebodohannya, ia harus menuruti resep pengajaran dari gurunya. Pasien yang susah diatur, banyak menentang dokternya, sulit bagi dia untuk sembuh. 

Senada dengan pendapat KH Hasyim Asy’ari, dalam pandangan kaum shufi, posisi murid di hadapan gurunya, seperti jenazah di tangan orang yang memandikannya. Ia harus pasrah secara total, mau dimandikan dalam posisi bagaimanapun. Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

يتعين عليه الاستمساك بهديه والدخول تحت جميع أوامره ونواهيه ورسومه حتى يصير كالميِّت بين يدي الغاسل ، يقلبه كيف شاء

“Seharusnya murid berpegangan kepada petunjuk gurunya, tunduk patuh atas segala perintah, larangan dan garis-garisnya, sehingga seperti mayit di hadapan orang yang memandikan, ia berhak dibolak-balik sesuka hati.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, juz 1, hal. 56)

Keempat, memandang guru dengan pandangan memuliakan.

Inilah salah satu cara yang lebih mendekatkan untuk mendapat ilmu yang bermanfaat menurut pandangan KH. Hasyim Asy’ari. Pelajar wajib memandang gurunya dengan penuh takzim. Tidak diperbolehkan bagi pelajar memandang remeh gurunya, merasa ia lebih pandai dari pada gurunya. Santri hendaknya memilik itikad yang baik terhadap gurunya, menganggap bahwa gurunya berada pada derajat kemuliaan. Beliau mengutip statemen sebagian ulama salaf:

من لا يعتقد جلالة شيخه لايفلح

“Barangsiapa tidak meyakini keagungan gurunya, tidak akan bahagia.”

Tidak etis murid menyebut gurunya hanya dengan namanya, tanpa diberi gelar kehormatan. Atau memanggil gurunya dengan ‘kamu’, ‘anda’ atau panggilan-panggilan yang merendahkan. Setiap menyebut gurunya saat beliau tidak ada, sebutlah dengan sebutan yang layak dan baik. Jangan ragu untuk bilang “guruku” “kiaiku yang alim”, “ustadzku yang cerdas”, dan sebutan-sebutan yang sejenis. 

Kelima, tidak melupakan jasa-jasa guru.

Pelajar hendaknya mengenali hak gurunya, tidak melupakan jasanya, senantiasa mendoakannya, baik saat masih hidup atau setelah meninggal dunia. Juga perlu memuliakan kerabat, rekan dan orang-orang yang dicintai gurunya. Setelah gurunya wafat, sempatkan waktu untuk berziarah dan memintakan ampunan kepada Allah untuk sang guru di depan kuburnya. Dalam segala tingkah laku, metode pengajaran, amaliyyah dan hal-hal positif lainnya, hendaknya menirukan cara-cara yang ditempuh oleh gurunya. Demikianlah pelajar yang sesungguhnya menurut KH Hasyim Asy’ari, selalu memegang teguh prinsip gurunya.

Keenam, sabar menghadapi gurunya

Manusia tidak lepas dari luput dan salah, tidak terkecuali seorang guru. Sebagaimana manusia lainnya, tidak mungkin seorang guru bersih dari kesalahan. Terlebih saat banyak pikiran, terkadang emosi sulit dikendalikan. Maka dari itu, murid harus bisa memaklumi sikap gurunya yang terkadang membuat jengkel. Kendati gurunya melakukan kesalahan atau berlaku keras, hal tersebut tidak menghambat pelajar untuk terus ber-mulazamah (menimba ilmu) dan meyakini kemuliaan gurunya. 

Anjurannya saat perilaku guru secara lahir salah, murid sebisa mungkin mengarahkannya kepada maksud yang baik, membuka pintu ta’wil. Mungkin beliau lupa, mungkin beliau dalam kondisi terdesak dan lain sebagainya. Saat guru memarahi murid, hendaknya murid mengawali untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Sikap yang demikian diharapkan dapat menambah kecintaan guru kepadanya. Justru dengan sering dimarahi gurunya, murid sepantasnya berterima kasih karena hal tersebut merupakan wujud kepeduliaan dan kecintaan, bukan sebuah kebencian. 

Ketika murid dianggap melakukan kesalahan oleh sang guru, hendaknya tidak terlalu banyak beralibi, justru yang ditonjolkan adalah sikap terima kasih kepada guru atas kepeduliaannya. Bila betul-betul ada udzur dan memberitahukannya kepada guru dinilai lebih mashlahat, maka tidak masalah untuk dihaturkan kepada beliau, bahkan bila tidak mengklarifikasi menimbulkan mudlarat, murid harus menjelaskannya kepada guru.

(M. Mubasysyarum Bih)


Bersambung...
Ahad 21 Oktober 2018 14:30 WIB
Macam-macam Lafal Hamdalah Menurut Para Ulama
Macam-macam Lafal Hamdalah Menurut Para Ulama
Ilustrasi (portalb.mk)
Bacaan hamdalah atau alhamdulillah (pujian kepada Allah) biasa kita ucapkan dan kita dengar sehari-hari. Dalam artikel sebelumnya, telah dijelaskan beberapa hal yang disunnahkan untuk mebaca hamdalah. Selain itu, Imam an-Nawawi juga menjalaskan macam-macam lafal hamdalah menurut para ulama, selain lafal alhamdulillah yang biasa kita ucapkan.

Imam an-Nawawi dalam al-Adzkâr an-Nawâwî menyebutkan bahwa para ulama khurasan biasanya membaca hamdalah dengan kalimat majami’ alhmdu atau hamdalah yang agung, yaitu:

الْحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

Alhamdulillâhi hamdan yuwâfî ni’amahu wa yukâfiu mazîdah

Artinya: “Segala puji bagi Allah dengan Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan mencakup tambahannya.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.)

Para ulama lain, menurut an-Nawawi juga membaca lafal berikut:

لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Lâ uhsi tsanâ’an ‘alaika kamâ atsnaita ‘alâ nafsik.

Artinya: “Aku tidak bisa menghitung pujian kepadamu sebagaimana engkau memuji dirimu sendiri.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.)

Selain itu, beberapa ulama juga menambahkan kata “subhanaka” di awal dan kata “fa laka alhamdu ḥatta tardho” di akhir kalimat tersebut.

سُبْحَانَكَ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ اْلحَمْدُ حَتَّي تَرْضَى

Subhânaka Lâ uhsi tsanâ’an ‘alaika kamâ atsnaita ‘alâ nafsik fa laka-l-hamdu hattâ tardlâ.

Artinya, “Maha Suci Engkau yang aku tidak bisa menghitung pujian kepadamu sebagaimana engkau memuji dirimu sendiri, maka untukmu segala puji hingga engkau ridha.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.)

Dalam sebuah hadits, Nabi Adam pernah diberikan wirid khusus dari Allah ﷻ yang disebut sebagai majami’ alhamdu, yaitu pujian yang paling lengkap.

قال آدم صلى الله عليه وسلم : يا رب شغلتني بكسب يدي ، فعلمني شيئا فيه مجامع الحمد والتسبيح ، فأوحى الله تبارك وتعالى إليه : يا آدم إذا أصبحت فقل ثلاثا ، وإذا أمسيت فقل ثلاثا : الْحَمدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ ، فذلك مجامع الحمد والتسبيح

Artinya, “Adam alaihissalam berkata: “Ya Allah Engkau membuatku sibuk dengan usaha dari tanganku, maka ajarkanlah aku sesuatu yang di dalamnya terkumpul seluruh pujian dan tasbih. Maka kemudian Allah memberikan wahtu kepada Adam. “Ya Adam, jika tiba waktu pagi ucapkanlah sebanyak tiga kali, jika tiba waktu sore, ucapkanlah tiga kali lafal ini: Alhamdulillâhi rabbil 'âlamîn hamdan yuwâfî ni’amahu wa yukâfiu mazîdah (Segala puji bagi Allah dengan Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmatNya dan mencakup tambahannya). Itu adalah himpunan pujian dan tasbih. (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.) Wallahu a’lam.

(Muhammad Alvin Nur Choironi)

Sabtu 20 Oktober 2018 22:30 WIB
Disunnahkan Membaca Alhamdulillah dalam 11 Kondisi Ini
Disunnahkan Membaca Alhamdulillah dalam 11 Kondisi Ini
Alhamdulillah merupakan ungkapan syukur yang biasa kita dengar dan ucapkan. Saat mendapatkan rezeki, hadiah, kejutan dan lain-lain. Dalam beberapa literatur keislaman, kata alhamdulillah bahkan selalu berada di awal kata pengantar muallif (pengarang kitab). Hampir seluruh muallif mengawali karyanya dengan bacaan alhamdulillah.

Namun, ternyata alhamdulillah tidak hanya disunnahkan untuk dibaca setelah mendapat nikmat saja. Imam an-Nawawi dalam al-Adzkâr an-Nâwâwî menjelaskan beberapa hal yang disunnahkan untuk membaca hamdalah.

قال العلماء : فيستحب البداءة بالحمد لله لكل مصنف ، ودارس ، ومدرس ، وخطيب ، وخاطب ، وبين يدي سائر الأمور المهمة

Artinya: “Disunnahkan memulai dengan ‘alhamdulillah’ untuk setiap muallif, orang yang belajar, orang yang mengajar, orang yang diceramahi dan orang yang berceramah, serta dalam perkara-perkara penting yang lain.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâ, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M), j. 1, h. 172.)

Pertama, disunnahkan membaca alhamdulillah dalam setiap permulaan menulis karya.

Kedua, disunnahkan juga membaca alhamdulillah di permulaan belajar maupun mengajar. 

Ketiga, saat berceramah, baik untuk orang yang berceramah maupun orang yang mendengarkan ceramah. Hal ini disebutkan oleh Imam as-Syafii, bahwa ia sangat menganjurkan setiap orang yang melakukan hal-hal penting untuk membaca alhamdulillah, termasuk ceramah.

قال الشافعي رحمه الله : أحب أن يقدم المرء بين يدي خطبته وكل أمر طلبه : حمد الله تعالى ، والثناء عليه سبحانه وتعالى ، والصلاة على رسول الله ﷺ

Artinya: “Imam as-Syafii Rahimahullah berkata: Aku lebih suka orang yang mengawali setiap khutbahnya (ceramahnya) dan setiap hal yang dicari dengan: memuji kepada Allah SWT (membaca alhamdulillah) dan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. (lihat: Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâ, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M), j. 1, h. 172.)

Tidak hanya sunnah, dalam khutbah jumat, membaca alhamdulillah bahkan menjadi salah satu rukun khutbah jumat, jika tidak ditepati, maka khutbah tersebut tidak sah.

Keempat, setelah selesai makan dan minum.

يستحب بعد الفراغ من الطعام والشراب ، والعطاس ، وعند خطبة المرأة - وهو طلب زواجها - وكذا عند عقد النكاح ، وبعد الخروج من الخلاء ،

Artinya: “Disunnahkan (membaca alhamdulillah) setelah makan dan minum, setelah bersin dan ketika melamar seorang perempuan, yaitu meminta menjadi istrinya, begitu juga ketika akad nikah, dan setelah keluar dari toilet.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâ, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M), j. 1, h. 172.)

Baca juga: Alhamdulillah dan Hakikat Pujian kepada Manusia
Kelima, berdasarkan ibarah tersebut, disunnahkan juga mengucapkan alhamdulillah setelah bersin. Tentu hal ini sudah sangat maklum bagi kita.

Keenam, ketika melamar seorang perempuan.

Ketujuh, ketika akad nikah.

Kedelapan, setelah keluar dari toilet. 

Kesembilan, ketika mengawali dan mengakhiri doa. 

Kesepuluh, ketika mendapatkan nikmat atau terhindar dari bencana. Kondisi ini, biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesebelas, ketika salah satu keluarga ada yang meninggal dunia. Dalam kasus yang disebutkan dalam hadis, bahwa Allah menjanjikan surga bagi seorang hamba yang ditinggal mati oleh anaknya, kemudian ia membaca hamdalah dan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi rajiun).

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " إذا مات ولد العبد قال الله تعالى لملائكته : قبضتم ولد عبدي ؟ فيقولون : نعم ، فيقول : قبضتم ثمرة فؤاده ؟ فيقولون : نعم ؟ فيقول : فماذا قال عبدي ؟ فيقولون : حمدك واسترجع ، فيقول الله تعالى : ابنوا لعبدي بيتا في الجنة ، وسموه بيت الحمد " قال الترمذي : حديث حسن.

Artinya: “Dari Abu Musa al-Asyari RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang anak hamba Allah meninggal, Allah SWT akan berkata kepada para malaikatnya, “Kalian sudah mengambil ruh anak hamba-Ku?” para malaikat tersebut kemudian menjawab, “iya.” Allah SWT kemudian bertanya lagi, “Kalian sudah mengambil ruh buah hatinya?” Para malaikat pun menjawab, “iya.” Allah SWT kemudian bertanya lagi, “Apa yang diucapkan hamba-Ku?” Para malaikat menjawab, “Ia memujimu dan beristirja’” Maka Allah  SWT berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga, dan namailah dengan bait al-hamd.” Imam at-Tirmidzi berkata bahwa hadis ini adalah hadis hasan. (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 173). Wallahu A’lam.

(Muhammad Alvin Nur Choironi)

Ahad 14 Oktober 2018 16:30 WIB
Syair Syekh Ibnu Rajab tentang Bulan Safar
Syair Syekh Ibnu Rajab tentang Bulan Safar
Nama Ibnu Rajab al-Hanbali sudah tak asing lagi di kalangan pengaji kitab hadits maupun fiqih. Di antara karangan yang ditulisnya adalah Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi, Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘ala al-Khalaf, al-Qawâ’id al-Kubra, Lathâif al-Ma’ârif, dan masih banyak lagi. 

Ulama kelahiran Baghdad (736 H) ini lahir di keluarga yang saleh dan berilmu. Nama Rajab dinisbahkan kepada kakeknya, Abu Ahmad Rajab. Disebut Rajab sebab beliau lahir di bulan Rajab. Konon kakeknya adalah seorang yang ahli dalam bidang fiqih. Adapun ayahnya adalah Ahmad bin Rajab al-Hanbali, lahir di Baghdad dan tumbuh di sana.

Al-‘Alîmi menyebut Ibnu Rajab al-Hanbali sebagai seorang yang berilmu, mengamalkan ilmunya, zuhud, memiliki keteladanan, al-hafidh yang tsiqah (penghafal hadits yang terpercaya), penasihatnya kaum Muslimin, orang yang memberi faedah kepada para ahli hadits, orang yang karangannya sangat indah. (Ibnu Rajab al-Hanbali ad-Dimasqi, Lathâif al-Ma’ârif fîmâ li Mawâsim al-‘Am min al-Wadhâif, Dar Ibn Katsir, Damaskus, halaman 11)

Dalam kitabnya , Lathâif al-Ma’ârif, Ibnu Rajab dalam bab Wadhâif Syahri Shafar menyebutkan syair di bulan Safar:

وَغَيْرُ تَقِيٍّ يَأْمُرُ النَّاسَ بِالتُّقَى ... طَبِيْبٌ يُدَاوِي النَّاسَ وَهُوَ سَقِيْم

Orang yang tidak bertakwa memerintahkan orang-orang untuk bertakwa, (ia seperti) seorang dokter yang mengobati manusia sedangkan dirinya sedang sakit.

يَا أَيُّهَا الرَّجُلُ الْمُقَوِّمُ غَيْرَهُ. ... هَلَّا لِنَفْسِكَ كَانَ ذَا التَّقْوِيْم

Wahai seorang yang suka menilai orang lain, bukankah dirimu yang lebih berhak dievaluasi.

اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ فَأَنْهِهَا عَنْ غَيِّهَا ... فَإِذَا انْتَهَتْ عَنْهُ فَأَنْتَ حَكِيْم

Mulailah dari dirimu, kemudian cegahlah ia dari kesesatan. Apabila kesesatan telah sirna dari dirimu, maka engkau adalah orang yang bijaksana.

فَهُنَاكَ يَقْبَلُ مَا تَقُوْلُ وَيَقْتَدِى ... بِالْقَوْلِ مِنْكَ وَيَنْفَعُ التَّعْلِيْم

Maka nasihatmu akan diterima, ucapanmu akan dituruti, tutur katamu akan jadi pengajaran.

لَا تَنْهَ عَنْ خَلْقٍ وَتَأْتِي مِثْلَهُ ... عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا فَعَلْتَ عَظِيْم

Janganlah engkau melarang suatu tingkah laku sedangkan engkau melakukanya, sebuah aib besar jika engkau melakukannya

كَمْ ذَا التَّمَادِي فَهَا قَدْ جَاءَنَا صَفَرُ ... شَهْرٌ بِهِ الْفَوْزُ وَالتَّوْفِيْقُ وَالظَّفَرُ

Berapa banyak orang yang memiliki tuntutan, maka ini telah datang bulan Safar kepada kita. Bulan yang disertai dengan kemenangan, taufik, dan keberhasilan. 

فَابْدَأْ بِمَا شِئْتَ مِنْ فِعْلٍ تَسُرُّ بِهِ ... يَوْمَ الْمَعَادِ فَفِيْهِ الْخَيْرُ يَنْتَظِرُ

Maka mulailah berbuat sesuatu yang akan membuatmu senang di hari kembali (hari kiamat), maka di sana engkau akan melihat kebaikan.

تُوْبُوا إِلَى اللهِ فِيْهِ مِنْ ذُنُوْبِكُمْ ... مِنْ قَبْلُ يَبْلُغُ فِيْكُمْ حَدُّهُ الْعُمْرُ

Bertaubatlah kepada Allah di bulan Safar dari dosa-dosa, sebelum batas akhir usia menghampiri pada kalian.

(Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâif al-Ma’ârif fîmâ li Mawâsim al-‘Am min al-Wadhâif, Dar el-Ibn Hazm, juz 1 halaman 79)

Bait-bait di atas mengingatkan kita untuk senantiasa memerhatikan keadaan diri kita sendiri sebelum menasihati orang lain. Jika kita telah mengoreksi diri kita dan membenahinya, maka akan timbul teladan dalam diri, sehingga ucapan dan perilaku baik kita akan diikuti oleh orang lain.

Juga di bait-bait selanjutnya, Ibnu Rajab al-Hanbali mengingatkan kita bahwa bulan Safar telah datang, bulan yang mana di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Beliau mengimbau kita untuk bertobat, memperbarui hubungan vertikal antara kita dan Allah ﷻ sebelum ajal menjemput.

Semoga kita diberikan anugerah untuk selalu ingat kepada Allah SWT di sepanjang waktu dan sisa umur yang kita miliki. Terkhusus di bulan Safar ini. Âmîn..

(Amien Nurhakim)