IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Kiai Syamsul Arifin Dilarang Bangun Masjid pada ‘Hari Sial’

Senin 29 Oktober 2018 12:30 WIB
Share:
Kisah Kiai Syamsul Arifin Dilarang Bangun Masjid pada ‘Hari Sial’
Suatu hari Almaghfurlah  KHR Syamsul Arifin, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, sebagaimana pernah diceritakan KH Muhyiddin Abdusshomad Jember, sedang mengawasi proses pembangunan masjid di pesantrennya. Tiba-tiba datanglah salah seorang tokoh masyarakat setempat kepada beliau.

"Mengapa Kiai membangun masjid pada hari ini, padahal menurut hitungan ‘nogo dini’ ini adalah hari jelek,” kata si tokoh tersebut bermaksud mengingatkan Kiai Syamsul.

"Ayo semuanya berhenti, karena sekarang adalah hari tidak baik,” perintah Kiai Syamsul kepada para pekerja begitu mendengarkan perkataan atau wejangan tokoh masyarakat tersebut.

Namun setelah sang tokoh masyarakat itu pulang, Kiai Syamsul memerintahkan pekerja agar kembali meneruskan pekerjaannya.

Begitulah etika dalam berhubungan sosial yang dicontohkan Kiai Syamsul Arifin Situbondo dalam menyikapi keyakinan seseorang yang masih memegang teguh tradisi dan adat yang masih berlaku di masyarakat setempat.

Tampaknya, meskipun beliau sendiri tidak memakai atau menggunakan adat sebagaimana yang dipercayai sang tokoh dan memiliki pendirian sendiri terkait soal ini, namun Kiai Syamsul Arifin memerintahkan para pekerja supaya berhenti sementara dengan maksud untuk tetap menghormati pendapat sang tokoh masyarakat itu. Seakan beliau berpesan bahwa perbedaan yang tidak prinsipil tidak sepatutnya diperdebatkan dengan sengit apalagi bukan pada forum yang dikhususkan untuk berdiskusi.

Sebaliknya hubungan pertemanan yang baik dan harmonis menjadi prioritas utama daripada berpolemik atau memilih perdebatan kontraproduktif yang kerap mengakibatkan rengganngnya hubungan persahabatan terutama bagi seseorang yang kepribadiannya belum siap menerapkan metode perdebatan dalam memecahkan sebuah problem. (M. Haromain)

Share:
Selasa 23 Oktober 2018 15:0 WIB
Ketika Habib Abu Bakar Mimpi Disentil Sayyidina Ali
Ketika Habib Abu Bakar Mimpi Disentil Sayyidina Ali
Jalan Karya Bakti di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, sesak orang berpakaian serbaputih saban Ahad sore. Pengajian memang digelar rutin di tempat ini. Pesertanya bisa mecapai ribuan. Ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, hingga anak-anak dari ragam penjuru Jabodetabek tumpah ruah di jalanan sekitar kediaman al-Habib Abu Bakar bin Hasan al-Atthas az-Zabidi.

Tapi itu dulu. Pemandangan jamaah pengajian duduk lesehan tiap Minggu bakda Ashar itu kini sudah tak ada. Habib Abu Bakar, sang pengasuh, pada 7 Oktober 2018 secara resmi mengumumkan penutupan majelis ta'limnya itu setelah sebelumnya menemui isyarat lewat mimpi yang tak biasa. Mimpi?

Ya. Habib Abu Bakar bercerita bahwa Amirul Mu'minin Sayyidina Ali bin Abi Thalib menemuinya di alam mimpi dan tiba-tiba menyentil bibirnya. Habib terkejut. Ia berkesimpulan, ini isyarat dari sahabat Nabi berjuluk "pintu ilmu" itu agar ia lebih banyak menutup mulut. Habib sudah mengonsultasikan ihwal ta'bir mimpinya ini kepada guru-gurunya, termasuk yang di Kota Zabid, Yaman. Salah satu perintahnya adalah menutup majelis ta'lim sebab ilmu yang disampaikan tak menyentuh kalbu murid. 

Dengan penuh rendah hati Habib menangkap mimpi itu sebagai bentuk kasih sayang kakek buyutnya, Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Ia bersyukur dengan teguran tersebut karena dirinya memang masih banyak kekurangan. Teman karib Gus Dur saat belajar di Mesir ini pun berjanji akan lebih banyak diam. Berbicara ke publik hanya bila ada hal yang sangat penting. Sampai tutup usia, Habib tidak akan membuka majelis ta'lim sebelum ada isyarat baru yang mengizinkannya.

Keputusan Habib Abu Bakar ini sungguh menohok hati. Nyaris tak ada alasan awam yang membenarkan ia mundur dari kegiatan majelis ta'lim. Habib Abu Bakar dikenal sebagai sosok kharismatik yang tidak punya musuh. Dakwahnya juga tak meledak-ledak, apalagi sampai mencaci dan menghujat. Sosok habib yang moderat, humoris, dan tak bosan-bosan mengimbau jamaahnya mencintai maulid Nabi. Satu-satunya "alasan rasional" untuk tak lagi berceramah ke khalayak adalah mimpi.

Sudah 38 tahun Habib Abu Bakar malang melintang di dunia dakwah, sepulang belajar dari Mesir, Yaman, Maroko, dan Makkah. Ribuan muridnya tersebar di berbagai daerah yang pernah ia singgahi, mulai dari Ternate, Ambon, Makassar, Banjarmasin, Flores, Deli Serdang, hingga sejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Papua. Saat ini, Habib Abu Bakar adalah Rais 'Aam Majlis Ifta wal Irsyad Jam'iyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyah (Jatman) Depok, organisasi tarekat di bawah naungan NU.

Sesuai pesan gurunya, Sayyid  Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib mengaku tak mau neko-neko dalam berdakwah. Yang pokok dalam dakwah adalah kemanfaatan ilmu, bukan kuantitas jamaah. Meskipun, dengan prinsip ini, Habib Abu Bakar sendiri akhirnya juga mendapat banyak murid di berbagai wilayah di Indonesia.

Mundurnya Habib Abu Bakar dari aktivitas dakwah tentu tak bermakna ia menghindari, apalagi mengabaikan dakwah. Ini pemaknaan kelewat harfiah. Sang habib hanya tidak ingin tampil menonjol, banyak bersuara, untuk hal-hal yang tidak terlalu krusial. Tapi, menurut saya, pesan yang paling penting di balik keputusan "aneh" ini sedikitnya dua poin.

Pertama, betapa ketatnya syarat seseorang menjadi pendakwah. Sikap Habib tersebut di satu sisi adalah simbol kerendahan hati, tapi di sisi lain penetapan standar yang tinggi dalam berdakwah. Menjadi juru dakwah bukan semata urusan pandai bicara, tapi juga soal kedalaman ilmu agama, akhlak, teladan, dan sampainya pesan ruhani ke hati khalayak. Bila Habib Abu Bakar yang berilmu luas dan "tidak neko-neko" saja mendapat sentil dari Sayyidina Ali, lalu bagaimana dengan kebanyakan dai?

Pesan kedua, sasaran utama dakwah sesungguhnya adalah diri sendiri, baru kemudian orang lain. Di sinilah relevansi memprioritaskan muhasabatun nafs (introspeksi) ketimbang gemar menghakimi perilaku orang lain. Pesan ini menemukan momentumnya seiring santer bermunculan di zaman sekarang orang-orang lebih gemar menjadi juru dakwah ketimbang juru dengar, lebih giat berceramah daripada belajar, lebih sering mengkhutbahi orang lain ketimbang diri sendiri. Beramar-makruf nahi-munkar ke orang lain sebelum benar-benar mampu beramar-makruf nahi-munkar dengan diri sendiri.

Pada tahap ini, Habib Abu Bakar sebenarnya tidak hanya sedang mengikhbarkan soal mimpi dan penutupan majelis ta'lim Ahad sore. Ada yang lebih dalam dari itu. Di tengah ketenaran yang makin meningkat, ia justru menjauh dari itu semua. Pilihan sikap semacam ini seolah hendak menyentil pula para juru dakwah yang kerap tergiur dengan popularitas, banyaknya jamaah, serta pundi-pundi keuntungan dari "profesi" mengisi pengajian. Wallahu a'lam.


(Mahbib Khoiron)

Jumat 19 Oktober 2018 20:0 WIB
Resep Jitu Sayyidina Ali saat Mengobati Sakit Perut
Resep Jitu Sayyidina Ali saat Mengobati Sakit Perut
Saat kita membaca kitab-kitab sirah, Sahabat Ali tidak dikenal sebagai dokter. Beliau tidak biasa mengobati pasien yang sakit. Beliau lebih dikenal sebagai sosok tangguh yang berpengetahuan luas, sang cendekia kelas kakap di zamannya, juga sang pemimpin yang tegas. Karena keluasan ilmunya, Nabi memberinya gelar “bab madinah al-Ilmi”, pintunya kota ilmu. “Aku adalah kotanya ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya,” demikian sabda Nabi yang populer itu.

Bukan Sahabat Ali kalau tidak dapat memecahkan masalah, termasuk di dunia medis. Suatu ketika Ali didatangi seorang laki-laki yang mengadukan sakit perut. Ia meminta Ali untuk mengobatinya. Laki-laki ini tidak berpikir bahwa Ali bukan dokter, yang ia tahu adalah Sahabat Ali adalah orang yang multi talenta, apa pun masalahnya dapat diatasi.

“Aku memohon petunjuk dari engkau untuk mengobati sakit perutku ini,” pinta laki-laki tadi. Tanpa pikir panjang, Ali bin Abi Thalib segera memberikan resepnya. Beliau mengatakan:

خُذْ مِنْ صِدَاقِ امْرَأَتِكَ دِرْهَمَيْنِ وَاشْتَرِ بِهِمَا عَسَلًا وَأَذِبْ الْعَسَلَ فِيْ مَاءِ مَطَرٍ نَازِلٍ لِسَاعَتِهِ أَيْ قَرِيْبِ عَهْدٍ بِاللهِ وَاشْرَبْهُ

“Ambilah dari mahar istrimu sebanyak dua dirham dan belilah madu. Campurlah madu itu dengan air hujan yang baru turun dari langit, lalu minumlah.” Laki-laki tadi penasaran, dari mana Ali mengetahui resep itu. Sebelum sempat menanyakan, Ali sudah menjawabnya dengan penjelasan selanjutnya. Sang mantu Nabi ini mengatakan: 

“Sesungguhnya aku mendengar firman Allah ﷻ tentang air hujan:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً

“Dan kami turunkan dari langit air yang memberkati.” (QS. Qaaf ayat 9).

Aku mendengar Allah berfirman tentang madu:

فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

“Di dalam madu terdapat obat bagi manusia.” (QS. Al-Nahl, ayat 69).

Dan aku mendengar Allah berfirman tentang mahar istri:

فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْساً فَكُلُوهُ هَنِيئاً مَرِيئاً

“Kemudian jika mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS.al-Nisa’, ayat 4).

Dalam riwayat lain, versi Syekh Abd bin Humaid dan lainnya disebutkan redaksi yang senada, bahwa Sayyidina Ali berkata:

إِذَا اشْتَكَى أَحَدُكُمْ فَلْيَسْأَلْ اِمْرَأَتَهُ ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ أَوْ نَحْوَهَا فَلْيَشْتَرِ بِهَا عَسَلاً وَلْيَأْخُذْ مِنْ مَاءِ السَّمَاءِ فَيَجْمَعُ هَنِيْأً مَرِيْئاً وَشِفَاءً وَمُبَارَكاً

“Bila kalian merasakan sakit, maka mintalah kepada istrimu tiga dirham atau lainnya, belikan darinya madu dan campurlah dengan air hujan, ia telah mengumpulkan antara sedap, baik akibatnya, obat dan keberkahan.”

Sayyidina Ali memadukan tiga unsur keberkahan untuk mengobati sakit perut pasiennya tadi. Air hujan, madu, dan mahar istri. Layaknya seorang dokter yang meracik obat dari beberapa unsur yang berbeda. Sayyidina Ali berhasil mengobati pasiennya. Beliau memadukan resep-resepnya dari ayat al-Qur’an dengan sangat piawai. Beliau mengumpulkan antara keberkahan (air hujan), obat (madu), sedap (hanî’) dan baik akibatnya (marî’a).

Mahar istri sebagaimana dijelaskan oleh para ulama memang mengandung banyak keberhakan. Meski mahar adalah hak istri, namun bila istri merelakannya untuk digunakan suami, maka dalam pandangan fiqih boleh digunakan. Sebagian ulama bahkan menyebutkan bahwa mahar istri baik sekali untuk digunakan modal usaha suami, tentu setelah melalui proses musyawarah dengan istri.

Demikianlah resep obat sakit perut menurut Sayyidina Ali radliyallahu ‘anh, sebelum dicoba, penulis sarankan untuk mengonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Wallahu a’lam.

(M. Mubasysyarum Bih)


Referensi: Syekh Mutawalli al-Sya’rawi, Qashshs al-Shabat wa al-Shalihin, hal. 49 dan Syekh Mahmud bin Abdillah al-Husaini al-Alusi, Tafsir al-Alusi, juz.3, hal. 424.
Jumat 19 Oktober 2018 9:0 WIB
Dua Kiai dengan Dua Solusi
Dua Kiai dengan Dua Solusi
Kejadiannya sekitar tahun 86. Suatu ketika saya terkena musibah; Kehilangan dompet dengan sejumlah uang di dalamnya. Saya cukup terpukul karena uang itu untuk kebutuhan sekolah, bayar imtihan dan lain-lain.

Di tengah kesedihan itu, seorang teman menawarkan solusi,

“Gimana kalau kita sowan ke Mbah Hasyim?” ajak si teman menawarkan solusi.

“Maksudmu?” Balik saya yg bertanya.

“Nanti saya yang matur soal kehilangan itu. Kita minta wirid dan doa agar bisa menemukan orang yang mengambil atau setidaknya uang temuan itu dikembalikan orang yang nemu.”

Saya terdiam. Agak lama saya menalar solusi teman saya yg rajin sowan mbah kiai minta berbagai ijazah doa itu.

Akhirnya saya menerima solusinya.

Kami berdua sowan. Setelah Mbah Hasyim mempersilakan duduk, si Fulan, teman saya itu langsung matur dengan mimik yg fasih menceritakan kronologi kejadiannya.

Seperti biasa, ekspresi Mbah Hasyim selalu meneduhkan dan memberi asa bagi siapapun yg berkeluh kesah. Dan seperti tahu apa yang kami minta, beliau mengambil secarik kertas dan menulis doa-doa, sebagaimana permintaan Fulan, teman saya.

Setelah dirasa cukup, kami pun pamitan. Tak lupa saya menciumi tangan lembut beliau, berharap berkah kemuliaannya.

Sesampai di asrama. Kami sepakat untuk berbagi tugas. Fulan, yang jago riyadhoh, bertanggung jawab menjalankan wirid sesuai petunjuk Mbah Hasyim. Saya sendiri memilih menjadi detektif, mencari tahu sebab musabab dan berbagai kemungkinan hilangnya si dompet.

Setelah seminggu berselang, saat imtihan sudah dekat, saya sudah mulai tak sabar. Harus ada plan B untuk bisa mengatasi keuangan yang cukup mendesak.

Saya pun diam-diam mencari solusi lain. Kali ini saya sowan sendirian. Bukan ke Mbah Hasyim, tapi Ke Mbah Kiai Habib.

Sesampai di Ndalem, saya utarakan segala hal yang berkaitan dengan problem saya. Selesai matur. Beliau masuk ke kamar. Agak lama saya menunggu dengan harap2 cemas, sampai akhirnya Mbah Habib keluar dengan amplop di tangan dan diberikannya kepada saya seraya berkata,

“Iki nggo mbayar imtihan (ini untuk membayar imtihan).”

Dengan tangan gemetaran saya menerima amplop itu. Sementara Mbah Habib tetap dengan senyum khasnya, seakan menampar kebodohan dan keteledoran saya. Saya cuma bisa mringis kecut, tapi diam-diam bahagia bisa keluar dari persoalan keuangan..

Saat ketemu Fulan, saya buru-buru memujinya.

“Wah, solusi kamu warbiyasah. Duit itu sudah kembali dengan jumlah sama persis dengan yang hilang.”

Dengan heran setengah tidak percaya, Fulan nampak ikut gembira. Belum sempat menanyakan sesuatu, saya langsung potong,

“Coba saya mau tahu, doa apa yang kamu wiridkan!”

Dia kemudian menyodorkan secarik kertas pemberian Mbah Hasyim. Setelah saya amati, doa itu sebenarnya lebih tepat untuk mengikhlaskan apa-apa yang hilang atau lepas dari kita.

“Gimana?” tanya Fulan.

“Sudah, nggak usah tanya apa pun. Tuhan punya banyak cara untuk mengabulkan permintaan hambanya,” jawab saya untuk melegakan Fulan.

Kami pun kemudian merayakan kegembiraan itu di sebuah warung kopi. Dalam hati, saya tak henti-hentinya mengagumi dua solusi cerdas itu. Meski berbeda arah, kedua solusi itu seperti memiliki benang merah yang menghubungkan antara ikhtiar dan tawakal yang kami lakukan. Lahumal Fatihah. (Ade Ahmad)