IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Keimanan Rasulullah SAW dan Tauhid Anti-Kekerasan

Kamis 1 November 2018 6:0 WIB
Share:
Keimanan Rasulullah SAW dan Tauhid Anti-Kekerasan
Keimanan, keyakinan, dan tauhid kerap ditunjukkan oleh sebagian umat Islam dengan wajah kekerasan. Hal ini membuat persepsi di muka publik bahwa tingkat keimanan atau ketauhidan seseorang diukur dari kekerasan yang ditunjukkan di muka umum.

Imam Al-Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad meriwayatkan hadits Rasulullah SAW yang mengajak umatnya untuk menghormati manusia meski hanya seorang budak.

عن أبى هريرة قال لا تقولن قبح الله وجهك ووجه من أشبه وجهك فإن الله عز و جل خلق آدم صلى الله عليه و سلم على صورته

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalian jangan berkata, ‘Semoga Allah membuat buruk wajahmu dan wajah orang yang mirip denganmu,’ karena Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai ‘bentuk-Nya,’’” (HR Bukhari).

Sementara pada riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW juga bersabda dengan ucapan serupa, yaitu menjauhi kekerasan terutama pada bagian wajah manusia.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - " إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَّقِ اَلْوَجْهَ" - مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika salah seorang kau memukul yang lain, hindari bagian wajah,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW secara lebih eksplisit untuk menjauhi kekerasan terutama pada bagian wajah manusia karena wajah bukan sekadar organ mulia karena akal pikiran di sana tetapi karena bentuk manusia meniru model “bentuk” Allah sebagaimana penjelasan Syekh Ibrahim Al-Baijuri berikut ini.

ومما يوهم الصورة ما رواه أحمد والشيخان أن رجلا ضرب عبده فنهاه النبي صلى الله عليه وسلم وقال إن الله تعالى خلق آدم على صورته فالسلف يقولون صورة لا نعلمها والخلف يقولون المراد بالصورة الصفة من سمع وبصر وعلم وحياة 

Artinya, “Salah satu jenis waham adalah bentuk Allah sebagaimana Ahmad dan Bukhari-Muslim bahwa seorang sahabat memukul budaknya. Rasulullah lalu melarangnya, ‘Sungguh Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai bentuk-Nya.’ Ulama salaf memahaminya sebagai bentuk yang kita tidak mungkin mengerti. Sementara ulama khalaf memahaminya sebagai sifat sejenis pendengaran, penglihatan, pengetahuan, dan sifat hidup,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauhartit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 55).

Menurut Al-Baijuri, pandangan ulama semacam itu tidak mengada-ada. Padangan mereka didasarkan riwayat hadits lain yang menyebut “Ar-Rahman” atau Allah secara eksplisit.

فهو على صفته في الجملة وإن كانت صفته تعالى قديمة وصفة الإنسان حادثة وهذا بناء على أن الضمير في صورته عائد على الله تعالى كما يقتضيه ما ورد في بعض الطرق فإن الله خلق آدم على صورة الرحمن

Artinya, “Sifat anak manusia secara umum sesuai dengan sifat Allah. Hanya saja sifat Allah qadim. Sifat manusia hadits/baru. Pandangan ini didasarkan pada kata ganti/dhamir pada lafal ‘shuratihī’ merujuk pada Allah SWT sebagaimana petunjuk melalui sebagian riwayat lain, ‘Sungguh Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai bentuk Zat maha rahman,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauhartit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 55).

Sementara sebagian ulama memahami hadits tersebut secara berbeda. Mereka beranggapan bahwa manusia harus menjauhi kekerasan terhadap saudaranya karena alasan kesamaan jenis sebagai manusia.

وبعضهم جعل الضمير عائدا على الأخ المصرح به في الطريق التي رواها مسلم بلفظ فإذا قاتل أحدكم أخاه فليجتنب الوجه فإن الله خلق آدم على صورته أي وإذا كان كذالك فينبغي احترامه باتقاء الوجه

Artinya, “Sebagian ulama memahami rujukan dhamir itu pada kata ‘saudara’ yang disebut secara lugas pada riwayat Muslim, ‘Jika salah seorang kalian memusuhi saudaranya, maka hindarilah wajah karena sungguh Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai bentuknya.’ Jika demikian, maka seyogianya manusia itu menghindari wajah,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauhartit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 55).

Dari sini dapat dipahami bahwa orang yang beriman kepada Allah atau dan mereka yang memegang tauhid sesungguhnya perlu menjauhkan kekerasan karena manusia merupakan makhluk Allah yang mulia di mana sifat mereka dan sifat Allah serupa meski tak sama pada banyak sisi.

Keimanan dan tauhid kepada Allah mengajarkan umat Islam untuk mencintai sesama manusia, bukan mengajak umat Islam untuk saling menghancurkan sesamanya, dan umat manusia secara umum karena mereka yang mengagungkan Allah sudah seharusnya mencintai manusia sebagai makhluk-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Selasa 30 Oktober 2018 22:15 WIB
Hal Paling Menyakitkan bagi Nabi Muhammad SAW
Hal Paling Menyakitkan bagi Nabi Muhammad SAW
(Foto: picssr.com)
Sebagian Muslim berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW termasuk penghuni neraka karena berpegang pada hadits riwayat Imam Muslim.

Muslim lainnya berbeda pendapat. Mereka menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW termasuk penghuni surga dengan berpegang pada sejumlah ayat Al-Quran seperti Al-Isra ayat 15 dan As-Syu’ara ayat 219, hadits, dan sejumlah dalil aqli.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan sejumlah dalil naqli yang menjelaskan dalam karyanya keimanan dan kesucian nenek moyang hingga kedua orang tua Nabi Muhammad SAW yang kami kutip sebagai berikut.

إذا علمت أن أهل الفترة ناجون على الراجح علمت أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان لكونهما من أهل الفترة بل جميع آبائه صلى الله عليه وسلم وأمهاته ناجون ومحكوم بإيمانهم لم يدخلهم كفر ولا رجس ولا عيب ولا شئ مما كان عليه الجاهلية بأدلة نقلية كقوله تعالى  وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ وقوله صلى الله عليه وسلم لم أزل أنتقل من الأصلاب الطاهرات إلى الأرحام الزكيات وغير ذالك من الأحاديث البالغة مبلغ التواتر

Artinya, “Kalau kau mengerti bahwa ahli fatrah itu selamat dari siksa neraka menurut pendapat rajih (yang kuat), maka tentu kamu mengerti bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari siksa neraka karena keduanya ahli fatrah. Bahkan semua bapak moyang Rasulullah SAW (hingga ke Nabi Adam AS) selamat dari siksa neraka. Kita memutuskan bahwa mereka adalah orang-orang beriman tanpa tercederai oleh kekufuran, perbuatan keji, perilaku aib, dan perilaku buruk apapun yang lazim di zaman Jahiliyah. Pendapat ini didasarkan pada dalil naqli seperti firman Allah SWT dalam Surat As-Syu‘ara ayat 219 yang berbunyi, ‘Dan ketika engkau bolak-balik dalam orang-orang yang sujud (sembahyang)’; dan sabda Rasulullah SAW ‘Aku senantiasa berpindah-pindah dari tulang-tulang sulbi yang murni ke rahim-rahim yang suci’, dan banyak hadits lain yang statusnya mutawatir,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabaiyah, tanpa tahun, halaman 19).

Sementara Ibnul Arabi, salah seorang ulama pemuka Mazhab Maliki, mengatakan bahwa umat Islam perlu hati-hati berkomentar perihal kedua orang tua Nabi Muhammad SAW ini. Salah-salah seseorang dapat terperosok dalam tindakan menyakiti Nabi Muhammad SAW yang cukup berisiko.

قال  بعضهم وقد سئل القاضي أبو بكر بن العربي أحد الأئمة المالكية عن رجل قال إن أبا النبي في النار فأجاب بأنه ملعون لأن الله تعالى قال إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا ولا أذى أعظم من أن يقال أن أباه في النار

Artinya, “Sebagian ulama menceritakan bahwa Abu Bakr Ibnul Arabi ditanya perihal seseorang yang mengatakan bahwa orang tua Nabi Muhammd SAW di neraka, lalu ia menjawab, orang yang mengatakan demikian mendapat laknat Allah karena Dia berfirman, ‘Sungguh orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya akan mendapat laknat dari Allah di dunia dan di akhirat dan Allah menyediakan bagi mereka siksa yang menghinakan,’ (Surat Al-Ahzab ayat 57). Tiada hal paling menyakitkan melebihi ucapan, ‘Orang tua Nabi Muhammd SAW di neraka,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 13).

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa umat Islam tidak perlu ikut terlibat dalam perbedaan pendapat di kalangan ulama. Umat Islam tidak perlu menjawab semua persoalan. Kelompok Ahlussunnah wal Jamaah sendiri berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad termasuk ahli fatrah yang selamat dari siksa api neraka.

Umat Islam perlu hati-hati mengeluarkan pendapat perihal apa saja, terutama masalah ini. Semoga kita bersama keluarga dan sahabat kita semua termasuk orang yang mendapatkan syafaat Rasulullah SAW. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 29 Oktober 2018 19:30 WIB
Mengafirkan Sesama Muslim, Takfiri, Dulu dan Sekarang
Mengafirkan Sesama Muslim, Takfiri, Dulu dan Sekarang
Tauhid adalah alur pikiran yang menetapkan zat Allah dan menafikan selain-Nya. (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Iqtishad fil I‘tiqad, Beirut, Darul Fikr, 1997 M/1417 H, halaman 58-59). Hal ini tampaknya sederhana. Tetapi pada perkembangannya, para teolog Muslim (mutakallimin) terpecah ke dalam sejumlah aliran teologi seperti aliran besar yang kita kenal.

Masing-masing aliran membuat formula-formula teologis yang biasanya rumit dipahami perihal tauhid. Sering kali masing-masing dari mereka kemudian bertindak melewati batas dengan meninggalkan jauh Al-Qur’an dan hadits atau memhaminya secara tekstual dalam membuat formula tersebut.

Seiring perkembangan para mutakallimin ini kerap berdiskusi satu sama lain. Mereka mendiskusikan banyak hal yaitu eksistensi sifat tuhan, perbuatan tuhan, perbuatan dan ikhtiar manusia, kenabian, hingga kepemimpinan.

Mereka cukup produktif melahirkan banyak karya (sekali lagi, biasanya rumit yang dibaca dengan mengernyitkan dahi) yang berkaitan dengan teologi sehingga lahir apa yang kemudian disebut ilmu kalam. Sebagai kajian akademik, diskusi mereka perihal sifat dan perbuatan tuhan, sifat wujud tuhan, dan seterusnya yang cukup penting dan tidak masalah.

Masalah muncul ketika salah satu aliran atau kelompok teologis tertentu memandang kebenaran mutlak formulasi teologis kelompoknya dan mulai memandang cedera formula teologis di luar kelompoknya. Mereka menganggap kelompoknya paling benar dan kelompok lain salah.

Mereka memandang bahwa kelompok lain tidak lebih suci, lebih islam, dan lebih beriman daripada kelompoknya. Sikap snob seperti ini berimbas pada kehidupan sosial-politik di tengah masyarakat. Mereka memaksakan kebenaran kelompoknya, menekan kelompok lain dengan senjata maupun secara simbolis, dan sekali waktu melakukan upaya penggulingan terhadap kekuasaan yang sah meski ada yang berhasil dan juga gagal.

Konflik horizontal mulai meletup kecil-kecil. Tetapi sekali dua konflik struktural dapat terjadi. Kita dapat menyebut insiden penikaman terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan peristiwa mihnah sejenis kriminalisasi oleh rezim Muktazilah yang menimpa Imam Ahmad bin Hanbal yang pendukung sunni.

Sikap snob seperti ini bisa jadi menimpa kelompok teologi mana saja, termasuk di kalangan teolog sunni. Sebagian mutakklimin sunni yang mengambil sikap berlebihan itu menyebut pemahaman secara rinci atas lima puluh aqidah Ahlusunnah wal Jamaah sebagai syarat keimanan seseorang.

Jadi umat Islam yang memahami lima puluh aqidah secara garis besar, menurut sebagian mutakkalim sunni ini, dianggap tidak beriman sebagaimana catatan Al-Baijuri berikut ini.

فالدليل التفصيلي على هذا واجب على الإعيان وجوبا أصوليا بمعنى أنه إن لم يعرفه المكلف لم يكن مؤمنا وهذا فيه إفراط وحرج شديد كما قاله صلاح الدين العلائي ونقله عنه ابن حجر  

Artinya, “Dalil rinci atas demikian itu wajib atas setiap individu sebagai wajib ushuli, dalam arti jika seseorang (mukallaf) tidak mengetahui dalil rinci tersebut, maka dia bukan seorang mukmin. Syarat iman seperti ini berlebihan dan sangat menyulitkan sebagaimana pandangan Shalahuddin Al-Ala’i dan dikutip oleh Ibnu Hajar,” (Lihat Imam Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 15).

Pengetahuan rinci atau tafsil atas lima puluh aqidah itu salah satunya pengetahuan seseorang perihal keberadaan makhluk sebagai dalil atas wujud Allah dari segi kejaizan atau wujudnya setelah ketiadaan. (Lihat Syekh M Fudhali, Kifayatil Awam fi Ilmil Kalam pada Hamisy Tahqiqul Maqam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 15).

Adapun pengetahuan sederhana seseorang atas lima puluh aqidah itu salah satunya perihal keberadaan makhluk sebagai dalil atas wujud Allah. (Lihat Syekh M Fudhali, Kifayatil Awam fi Ilmil Kalam pada Hamisy Tahqiqul Maqam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 15-16).

Bahkan sebagian mutakallimin menyatakan secara ekstrem bahwa keimanan umat Islam yang beriman secara taklid tidak sah. Jadi masyarakat awam yang beriman secara taklid meskipun taklidnya shahih tetapi dianggap tidak beriman oleh sebagian mutakallimin ini. Padahal jumlah masyarakat awam yang beriman secara taklid lebih banyak daripada mereka yang beriman berdasarkan dalil.

Sikap seperti ini tentu melewati batas. Sementara banyak umat Islam yang beriman dengan cara taklid di masa Rasulullah hingga zaman sekarang ini. Sikap berlebihan sebagian teolog ini ditanggapi oleh Imam Al-Ghazali seperti kutipan Imam Al-Baijuri berikut ini.

وكما نص عليه الغزالي حيث قال أسرفت طائفة فكفروا عوام المسلمين وزعموا أن من لم يعرف العقائد بالأدلة التي حرروها فهو كافر فضيقوا رحمة الله الواسعة وجعلوا الجنة مختصة بطائفة يسيرة من المتكلمين

Artinya, “Sebagaimana disebutkan tertulis oleh Imam Al-Ghazali bahwa sekelompok umat Islam mengambil sikap berlebihan. Mereka mengafirkan umat Islam awam. Mereka memandang bahwa siapa saja yang  tidak memahami aqidah dengan dalil-dalil yang mereka uraikan adalah kafir. Mereka mempersempit rahmat Allah yang luas itu. Mereka menjadikan surga khusus untuk kelompok kecil teolog,” (Lihat Imam Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 15).

Dari uraian ini kita dapat melihat bagaimana sebagian mutakallimin itu merumuskan formula teologis yang rumit dan meliuk-liuk, lalu menilai keimanan orang lain dengan formula yang mereka buat. Jadi mereka sendiri yang membuat kategori tauhid dan kriteria keimanan, lalu mereka sendiri mengafirkan orang lain yang jelas-jelas orang beriman.

Celakanya, sebagian umat Islam sekarang mengikuti jejak sebagian teolog yang melewati batas itu. Tidak seperti sebagian mutakallimin dengan formula teologis, hanya bedanya sebagian mereka menilai kriteria keimanan dan kekufuran seseorang melalui sikap atas bendera bertulis lafal tauhid, sikap terhadap partai Islam, pilihan seseorang dalam pilgub dan pilpres, atau berdasarkan kriteria lain yang sama sekali bergeser dari tauhid yang disebutkan Imam Al-Ghazali di awal catatan ini.

Meski dinilai melewati batas, sikap berlebihan sebagian mutakallimin terbilang “maju” dalam mengafirkan sesama Muslim. Tetapi sikap melewati batas oleh sekelompok umat Islam belakangan ini dalam mengafirkan sesama Muslim hanya karena simbol Islami seperti bendera berlafal tauhid, perbedaan pandangan politik, perbedaan dukungan politik, terbilang sebuah kemunduran peradaban dari apa yang pernah dicapai oleh umat Islam terdahulu.

Semua uraian ini perlu dipahami tidak secara sempit sehingga mendorong kita untuk membuang jauh-jauh pelajaran tauhid atau ilmu kalam. Ilmu kalam tetap harus dipelajari sebagaimana ulama Ahlussunnah wal Jamaah tetap mendalaminya seperti Imam Al-Haramain, Imam Al-Ghazali, dan ahli kalam lainnya. Uraian ini menjadi catatan bagi para teolog dan juga umat Islam untuk bersikap secara wajar agar tidak melampaui batas. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 7 Oktober 2018 16:0 WIB
Agenda di Balik Pembagian Tiga Macam Tauhid ala Ibnu Taimiyah
Agenda di Balik Pembagian Tiga Macam Tauhid ala Ibnu Taimiyah
Pada abad ketujuh hijriah, Ibnu Taimiyah membuat sebuah konsep tauhid yang mempunyai beberapa konsekuensi sangat berat. Konsep yang ia karang dikenal dengan pembagian tauhid menjadi tiga macam, yakni rububiyah, uluhiyah dan al-asmâ’ was-shifât. Sebelum era Ibnu Taimiyah, ketiga istilah ini sudah dikenal dan beredar luas, tetapi hanya sebagai istilah lepas yang mandiri, bukan sebagai istilah yang terintegrasi dalam sebuah konsep berjenjang tentang tauhid yang mempunyai beberapa agenda serius sebagaimana disebutkan nanti.

Dalam perspektif Ibnu Taimiyah yang juga diamini sepenuhnya oleh para pengikutnya, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid adalah keyakinan bahwa pencipta dan pengatur alam semesta hanyalah Allah saja. Dalam hal ini, diklaim bahwa seluruh golongan manusia sudah bertauhid. Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

“Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

Lebih lanjut, Ibnu Abdil Izz mengklaim bahwa seluruh kaum musyrik non-Muslim tak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah dalam menciptakan alam semesta. Dia berkata:

وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

“Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

Sedangkan tauhid uluhiyah, sebagai jenjang kedua, menurut mereka adalah ajaran untuk menyembah Allah semata, berdoa kepada Allah semata, mencintai Allah semata dan seterusnya. Tauhid jenis ini yang dianggap sebagai misi utama Rasulullah, bukan tauhid rububiyah yang memang sudah diakui. Ibnu Taimiyah mengatakan:

وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا،  فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

Sedangkan tauhid al-asma’ was-shifat mereka definisikan sebagai:

توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة. 

“Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

Sepintas, tak ada yang bermasalah dari klasifikasi ini. Inti dari kesemuanya adalah ajakan untuk menyembah Allah saja tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun dan ajakan untuk mengimani seluruh nama dan sifat Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits shahih. Namun, kalau hanya ajakan seperti ini tentu bukan hal baru sebab seluruh kaum muslimin akan mengakuinya sebagai kebenaran. Yang menjadi objek sesungguhnya dari pembagian tauhid ini tak sesederhana itu, tetapi ada agenda tersembunyi di balik klasifikasi ini, yakni:

1. Mengklaim bahwa mayoritas manusia, bahkan seluruhnya, sudah mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan pengurus alam semesta (rabb).

2. Menuduh bahwa mayoritas ulama ahli kalam dan tasawuf—bahkan mayoritas kaum Muslimin—masih belum bertauhid dalam arti mereka masih belum menyerukan untuk menyembah Allah saja. Mereka dituduh masih dalam level yang sama dengan kaum musyrik di seluruh dunia sebab mengabaikan apa yang mereka sebut sebagai “tauhid uluhiyah” yang menjadi misi para Rasul.

3. Mempropagandakan bahwa lawan-lawan Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya belumlah mengimani seluruh nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits shahih.

Simak pernyataan Ibnu Taimiyah berikut ini yang menyebutkan para filsuf islam dan ahli kalam, di antaranya yang ia sebutkan adalah Imam al-Ghazali, Imam Fakhruddin ar-Razi, dan Imam al-Amidi, mengeluarkan ajakan untuk menyembah Allah semata—yang ia istilahkan sebagai tauhid uluhiyah—dari ranah tauhid. Ia juga menuduh bahwa para tokoh tersebut hanya tahu tauhid rububiyah saja dan mengabaikan hakikat nama-nama dan sifat Allah. Berikut pernyataanya:

وَهَذِهِ الطَّرِيقَةُ هِيَ الْمَعْرُوفَةُ لَهُ وَلِمَنِ اتَّبَعَهُ كَالسُّهْرَوَرْدِيِّ الْمَقْتُولِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْفَلَاسِفَةِ، وَأَبِي حَامِدٍ وَالرَّازِيِّ وَالْآمِدِيِّ وَغَيْرِهِمْ مِنْ مُتَأَخِّرِي أَهْلِ الْكَلَامِ، الَّذِينَ خَلَطُوا الْفَلْسَفَةَ بِالْكَلَامِ....هَذَا مَعَ أَنَّ فِي الْمُتَكَلِّمِينَ مِنْ أَهْلِ الْمِلَلِ مِنَ الِاضْطِرَابِ وَالشَّكِّ فِي أَشْيَاءَ، وَالْخُرُوجِ عَنِ الْحَقِّ فِي مَوَاضِعَ، وَاتِّبَاعِ الْأَهْوَاءِ فِي مَوَاضِعَ، ... وَأَخْرَجُوا مِنَ التَّوْحِيدِ مَا هُوَ مِنْهُ كَتَوْحِيدِ الْإِلَهِيَّةِ، وَإِثْبَاتِ حَقَائِقِ أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ، وَلَمْ يَعْرِفُوا مِنَ التَّوْحِيدِ إِلَّا تَوْحِيدَ الرُّبُوبِيَّةِ، وَهُوَ الْإِقْرَارُ بِأَنَّ اللَّهَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَرَبُّهُ

“Metode ini yang diketahui oleh Ibnu Sina dan orang-orang yang mengikutinya seperti Suhrawardi dan filsuf lain sepertinya, Abu Hamid al-Ghazali, ar-Razi, al-Amidi dan lain-lain dari ahli kalam muta’akhirin yang mencampur aduk filsafat dan kalam. Hal ini terjadi meskipun sesungguhnya para ahli kalam dari berbagai aliran punya kerancuan dan keraguan dalam berbagai hal dan keluar dari kebenaran dalam berbagai tema, .... dan mereka masuk dalam sebagian kebathilan yang dibuat-buat, dan mereka mengeluarkan bagian tauhid yang sebenarnya menjadi bagiannya, seperti tauhid uluhiyah serta penetapan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan mereka tak kenal dari tauhid kecuali tauhid rububiyah saja, yakni pengakuan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu dan pemeliharanya.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 288-289)

Jadi, klasifikasi pembagian tauhid tak hanya berisi ajakan untuk menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan apa pun sebagaimana disangka beberapa orang, tapi ada agenda melempar klaim dan tuduhan pada orang-orang yang dianggap berlawanan dengan Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya. Tuduhan dan klaim ini kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri sekte Wahabiyah, beberapa abad setelah Ibnu Taimiyah wafat. Adapun para ulama sebelum Ibnu Taimiyah, mereka hanya menyebutkan istilah uluhiyah dan rububiyah dalam konteks ketuhanan secara umum tanpa menjadikan mereka sampai pada tuduhan dan klaim sebagaimana di atas.

Benarkah semua tuduhan dan klaim itu? Tentu saja tidak. Insyaallah penulis akan membahasnya dalam beberapa seri berikutnya. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.