IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

5 Motif Mereka Menolak Dakwah Rasulullah

Kamis 1 November 2018 19:0 WIB
Share:
5 Motif Mereka Menolak Dakwah Rasulullah
Muhammad diangkat menjadi seorang nabi dan rasul pada saat usianya 40 tahun (610 M). Sejak saat itu Rasulullah mulai gencar mendakwahkan Islam. Mulanya dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi kemudian dengan terang-terangan. Awalnya ia hanya mengajak saudara-saudara untuk memeluk Islam, kemudian merambah ke masyarakat Makkah secara luas.  

Rasulullah mendakwahkan Islam di Makkah selama 13 tahun (610-622 M). Sementara di Madinah 10 tahun. Total sekitar 23 tahun Rasulullah mensyiarkan Islam ke seluruh jazirah Arab. Puncak dakwahnya adalah saat Fathu Makkah dimana Rasulullah dan kaum Muslim berhasil menaklukkan kota Makkah pada 11 Januari 630 M (10 Ramadhan 8 H). 

Namun siapa sangka meski dilengkapi dengan mukjizat, dalil, dan tanda-tanda yang terang dari Allah, masih banyak orang yang menolak dakwah Rasulullah. Bahkan menentangnya. Lalu sebetulnya apa yang menyebabkan mereka menolak dan menentang dakwah Islam Rasulullah?

Merujuk buku Para Penentang Muhammad saw., setidaknya ada lima motif mengapa mereka menentang dakwah Rasulullah. Pertama, pengaruh dan kekuasaan. Para kafir menolak dakwah Islam yang dibawa Rasulullah karena takut pengaruh dan kekuasaan yang mereka miliki akan hilang manakala menjadi pengikut Rasulullah. Diantara yang menolak Islam karena motif ini adalah Abu Lahab, Ummu Jamil, Al-Walid bin Al-Mughirah, Uthbah bin Rabi’ah, Al-Harits bin Qais al-Sahmi, dan Abdullah bin Ubay bin Salul.  

Kedua, ekonomi dan status sosial. Mereka menentang Rasulullah karena faktor ekonomi dan status sosial. Mereka khawatir jika memeluk agama Islam, maka ekonomi dan status ekonomi yang selama ini melekat pada mereka akan memudar. Umayyah bin Khalaf Al-Jumahi adalah satu dari mereka yang menentang dakwah Rasulullah karena motif ini. 

Ketiga, setia dengan agama nenek moyang. Para kafir tidak sudi dan tidak rela memeluk Islam. Mereka berkeyakinan bahwa agama yang benar dan lebih baik adalah agama nenek moyangnya, yakni menyembah berhala, bukan Islam. Mereka menilai Islam bertentangan dengan agama nenek moyangnya. Diantara yang memiliki motif seperti ini adalah Abu Jahal dan al-Ash bin Wail. 

Keempat, iri, dengki, dan angkuh. Ada juga yang iri dan dengki kalau Rasulullah yang diangkat menjadi seorang nabi dan rasul. Menurutnya, yang pantas dan berhak menerima risalah kenabian adalah dirinya, bukan Muhammad. Al-Walid bin Al-Mughirah dan Musailamah Al-Kadzdzab adalah orang menyatakan hal demikian. 

“Wahai Muhammad, jika kenabian (nubuwwah) itu benar, tentu orang yang berhak mendapatkannya adalah aku, bukan engkau. Sebab, aku lebih tua dan lebih kaya daripada dirimu,” kata Al-Walid bin Al-Mughirah.

Begitu halnya dengan Amr bin Abd Wudd. Ia merasa tidak layak menjadi pengikut seorang yang usianya jauh lebih muda darinya. Ditambah, Amr bin Abd Wudd  adalah mantan seorang kesatria pada jaman jahiliyah. Pada saat Muhammad diangkat menjadi nabi, Amr bin Abd Wudd berumur sekitar 100 tahun.   

Sementara, Salam bin Misykam, Ka’ab bin Asad, Huyay bin Akhthab, dan Ka’ab bin Al-Asyraf menolak dakwah Rasulullah karena dengki. Mereka dengki karena nabi yang diutus Allah dari bangsa Arab, bukan dari kalangan mereka, Yahudi. Adapun Sallam bin Abi Huqaiq memendam kebencian dan kedengkian karena Rasulullah berhasil menyatukan kabilah Aus, Khazraj, dan kabilah Arab lainnya. 

Kelima, tidak percaya ajaran Islam. Mereka menentang dakwah Rasulullah karena tidak percaya dengan ajaran-ajaran Islam. Misalnya Ubay bin Khalaf dan al-Ash bin Wail. Mereka tidak percaya dengan adanya hari kebangkitan. Mereka berkeyakinan bahwa kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang tidak logis dan menganggap hal itu khayalan belaka. Bagi mereka, kehidupan hanya ada di dunia ini saja. 

Begitu pun dengan Syaibah bin Rabiah, seorang Nasrani. Ia tidak percaya dengan kenabian dan kerasulan Muhammad. Bahkan, ia menuduh Muhammad sebagai seorang dukun. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Senin 22 Oktober 2018 6:0 WIB
Cara Rasulullah Mengelola Kekayaan Alam
Cara Rasulullah Mengelola Kekayaan Alam
Rasulullah adalah seorang pemimpin negara, selain sebagai pemimpin agama (Nabi dan Rasul Allah). Ia menjadi pucuk pimpinan ‘negara Madinah.’ Maka apapun yang menjadi urusan masyarakat Madinah, secara otomatis juga menjadi tanggung jawab Rasulullah. Termasuk dengan masalah ekonomi dan pengelolaan kekayaan alam ‘negara Madinah.’

Lalu, bagaimana cara Rasulullah mengelola kekayaan alam yang ada Madinah dan wilayah yang berada di bawah kekuasaannya. Pertama, bagi hasil. Dalam kitab Zaadul Ma’ad, sebagaimana dikutip kitab Syakhshiyah Ar-Rasul, diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah hendak mengusir kaum Yahudi dari Khaibar karena mereka mengkhianati perjanjian bersama, Piagam Madinah. 

Namun, kaum Yahudi meminta kepada Rasulullah agar mereka tetap diizinkan untuk tinggal di Khaibar. Alasannya, mereka akan mengolah dan memelihara tanah Khaibar. 

“Karena kami lebih mengetahui tentangnya (tanah Khaibar) daripada kalian,” kata kaum Yahudi meyakinkan Rasulullah. 

Karena tidak memiliki orang yang cukup dan keahlian –yang lebih baik dari kaum Yahudi- di bidang pengolahan tanah, akhirnya Rasulullah membiarkan kaum Yahudi untuk tinggal di Khaibar dan mengolah tanahnya. Namun Rasulullah memberikan syarat, yaitu setengah hasil kekayaan tanah Khaibar, baik buah atau pun sayuran, untuk kaum Muslim. Sedangkan setengah sisanya untuk kaum Yahudi.   

Kedua, dikelola orang lain sampai waktu tertentu. Dalam kasus kaum Yahudi di Khaibar di atas, Rasulullah tidak hanya memberikan syarat bagi hasil bagi kaum Yahudi tapi juga membatasinya dalam jangka waktu tertentu. 

Rasulullah sadar bahwa pada saat itu memang tidak ada kaum Muslim yang memiliki keahlian lebih baik dari kaum Yahudi dalam hal mengelola tanah Khaibar. Namun Rasulullah sadar bahwa suatu saat pasti ada kaum Muslim yang memiliki keahlian di bidang tersebut. Sehingga Rasulullah hanya mengizinkan kaum Yahudi untuk tinggal di Khaibar dan mengolah tanahnya dalam jangka waktu yang diinginkannya, tidak terus-terusan. 

Alasan Rasulullah membiarkan dan mengizinkan kaum Yahudi tinggal di Khaibar adalah untuk membangkitkan pemanfaatan tanah produktif sebaik-baiknya dan meningkatkan semangat aktivitas ekonomi pertanian masyarakat setempat, tidak lebih.

Ketiga, menghidupkan lahan yang mati. Rasulullah selalu menyerukan kepada para sahabatnya untuk menghidupkan tanah-tanah yang tidak dikelola. Rasulullah tidak membiarkan ada lahan sejengkal pun di wilayah kekuasaan umat Islam yang mati atau tidak dikelola.

“Barang siapa menghidupkan lahan yang mati, maka ia adalah miliknya,” kata Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Imam Malik dalam kitabnya Muwattha’.

Dalam hadits lain, Rasulullah juga mendorong agar para kaum Muslim menanam suatu tanaman atau menaburkan benih di atas lahan-lahan kosong. Mengapa? Karena siapapun yang memakan hasilnya itu –baik manusia atau pun hewan- maka yang menaman atau menabur akan mendapatkan pahala sedekah.

“Siapapun Muslim yang menanamkan suatu tanaman atau menabur suatu benih, kemudian hasilnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, melainkan ia menjadi sedekah baginya,” kata Rasulullah.

Demikian cara Rasulullah mengelola kekayaan alam di wilayah yang dikuasainya dan umat Islam. Memang, kekayaan alam pada zaman Rasulullah tidak lah se-kompleks seperti saat ini. Dulu kekayaan alam hanya yang tampak di atas permukaan tanah, saat ini kekayaan alam yang lebih melimpah ada di dalam bumi seperti emas, timah, batubara, gas, minyak, dan lainnya.  

Namun demikian, secara garis besar Rasulullah telah memberikan ‘panduan kebijakan’ tentang bagaimana cara mengelola kekayaan alam. Yakni kekayaan alam harus dikelola untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk perorangan atau kelompok. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 14 Oktober 2018 19:0 WIB
Sikap Rasulullah terhadap Anak-anak
Sikap Rasulullah terhadap Anak-anak
“Siapa yang mempunyai anak kecil hendaknya berperilaku seperti mereka.” Kata Rasulullah dalam sebuah hadits yang tertera dalam kitab Kanzul Ummal.

Rasulullah adalah suri teladan paripurna bagi umat manusia. Semua perilaku yang ditampilkannya mengandung akhlak yang mulia. Ia adalah suami terbaik bagi istrinya, kawan terbaik bagi sahabat-sahabatnya, dan panutan sempurna bagi umatnya. 

Rasulullah adalah orang sangat peduli terhadap umatnya, para sahabatnya. Ia senang kalau mereka gembira. Begitu pun sebaliknya. Rasulullah adalah tipe orang yang membaur. Pangkat dan jabatannya tidak menghalanginya untuk bertegur sapa dan berinteraksi langsung kepada para sahabatnya, meski jelata, dengan menampilkan akhlak yang mulia. Termasuk kepada anak-anak. 

Rasulullah memperlakukan anak-anak, baik anaknya sendiri atau pun anak sahabatnya, dengan cinta dan kasih sayang. Berikut sejumlah sikap dan perlakuan Rasulullah kepada anak-anak. Pertama, mendoakan. Bayi-bayi sahabat yang baru lahir biasanya dibawa ke Rasulullah untuk dimintakan doa. Merujuk buku Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah, suatu ketika Ummu Farqad al-Ajali membawa anaknya, Farqad, yang berjambul ke Rasulullah. Sambil mengusap jambulnya, Rasulullah mendoakan Farqad. 

“Awali anak-anak kalian dengan kalimat La ilaha illa Allah,” kata Rasulullah.

Kedua, memberi nama yang baik. Dalam beberapa hadits, Rasulullah selalu mengingatkan agar anak yang baru lahir diaqiqahi, dipotong rambutnya, dan diberi nama yang baik. Suatu ketika, Abu Usaid membawa anaknya yang baru lahir ke Rasulullah. Anak Abu Usaid ditimang-timang Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah bertanya kepada Abu Usaid tentang nama anaknya itu. Namanya si ‘fulan’, kata Abu Usaid. Karena alasan tertentu, akhirnya Rasulullah mengubah nama Abu Usaid tersebut dengan Mundzir.

Ketiga, mengajarkan kejujuran. Rasulullah selalu mengajarkan kejujuran kepada anak-anak. Tidak segan pula memberikan hukuman apabila mereka berdusta. Dikisahkan bahwa suatu saat Abdullah bin Busr disuruh ibunya untuk menghantarkan setandan anggur kepada Rasulullah. 

Di tengah perjalanan, Abdullah bin Busr memakan beberapa anggur tersebut sebelum diserahkan kepada Rasulullah. Ketika Abdullah bin Busr menghadap Rasulullah, Rasulullah menjewer telinganya dan menasihatinya agar tidak khianat lagi dengan apa yang dipesankan ibunya.    

Keempat, tidak membeda-bedakan. Rasulullah menyeru agar berbuat adil kepada anak-anak. Ketika memberikan sesuatu, orang tua mestinya tidak membedakan antara anak yang satu dengan yang lainnya. Jangan sampai ada kecemburuan sosial diantara anak-anak. 

“Jangan beda-bedakan soal pemberian untuk anak-anakmu,” kata Rasulullah.

Suatu ketika ayah Nu’man bin Basyir memberikan sebagian hartanya kepadanya. Karena ibunya tidak puas, kemudian ayah Nu’man bin Basyir mendatangi Rasulullah dan menceritakan apa yang diberikannya kepada Nu’man. Rasulullah bertanya kepadanya perihal anak-anak yang lainnya, apakah mendapatkan bagian harta juga. Tidak, kata ayah Nu’man. Rasulullah langsung menyuruh ayah Nu’man berbuat adil kepada semua anak-anaknya. Jika yang satu dapat, maka yang lainnya juga harus sama. Pun sebaliknya.

“Akhirnya ayah menarik kembali pemberian itu dariku,” kata Nu’man bin Basyir. 

Kelima, membimbing anak agar mematuhi ajaran agama. Rasulullah sangat perhatian kepada anak-anaknya. Ia tidak membiarkan mereka meninggalkan ajaran agama Islam, manakala mereka sudah ditaklif. Menurut Rasulullah, kewajiban orang tua adalah menyuruh anak-anaknya untuk melaksanakan shalat saat berusia tujuh tahun. Saat anak berumur 10 tahun namun tidak mengerjakan shalat, maka mereka harus dipukul. Tentu dengan pukulan yang dilandasi dengan kasih.

Bentuk lain kepedulian Rasulullah kepada anak-anak adalah dengan menjaganya dari perbuatan dosa dan keji. Dikisahkan, suatu waktu Rasulullah bersama dengan Fadhl bin Abbas naik unta. Tiba-tiba ada seorang cantik yang menghampiri Rasulullah dengan maksud hendak menanyakan suatu persoalan agama. Ketika Fadhl memandangi perempuan tersebut, Rasulullah langsung memerintahkannya untuk memalingkan wajahnya. Alasannya, Rasulullah tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena pada saat itu Fadhl bin Abbas baru saja menginjak usia baligh.

Keenam, mendidik anak dengan tiga hal. Rasulullah menekankan agar anak-anak dididik dengan tiga hal, yaitu mencintai Nabi, mencintai keluarga Nabi, dan membaca Al-Qur’an. Ketiganya harus diajarkan kepada anak agar mereka memiliki panutan dan pedoman yang jelas dalam mengarungi dunia ini. 

Kepada anak cucunya sendiri, Rasulullah adalah orang paling perhatian. Rasulullah selalu mengunjungi putranya, Ibrahim, meski dia sangat sibuk. Ia selalu mencium, memeluk, dan membelai Ibrahim dengan penuh kasih sayang. Maka ketika Ibrahim juga wafat –sebelumnya semua putra Rasulullah wafat di usia anak-anak, Rasulullah sangat sedih. Matanya penuh dengan linangan air mata.

Pun dengan cucu-cucunya. Rasulullah sangat sayang kepada mereka. Untuk menghibur cucu-cucunya, Rasulullah kerap kali membawa mereka di atas punggungnya. Rasulullah memosisikan diri seperti kuda, sementara cucu-cucunya naik di atas punggungnya. Hal ini tidak hanya dilakukan Rasulullah bersama Hasan dan Husain, tapi juga dengan Umama,cucu perempuannya. Sebagaimana yang tertera dalam buku Versi Terdalam: Kehidupan Rasulullah Muhammad saw. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 12 Oktober 2018 19:0 WIB
3 Orang yang Diperbolehkan Meminta-minta Menurut Rasulullah
3 Orang yang Diperbolehkan Meminta-minta Menurut Rasulullah
Meminta-minta atau mengemis adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan kepada umatnya agar bekerja secara halal dan baik ketika mereka ingin mendapatkan sesuatu. Beberapa ulama bahkan mengharamkan perbuatan meminta-minta atau mengemis. Alasannya, perbuatan mengemis merupakan salah satu bentuk pengaduan diri kepada orang lain. Padahal, bukankah seharusnya hanya kepada Allah semata kita mengadu.

Dalam sebuah hadits yang terekam dalam kitab al-Jâmi’us Shaghîr karya Imam Jalaludin As-Suyuthi, Rasulullah bersumpah atas tiga hal. Salah satunya adalah bahwa Allah akan membukakan pintu kefakiran kepada mereka yang meminta-minta, padahal mereka masih memiliki tenaga dan harta untuk mencukupi kebutuhannya. Disebutkan bahwa Allah akan membuat orang tersebut lebih merana dari yang ia tunjukkan kepada orang saat ia meminta-minta.

Ada juga sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa tangan di atas (memberi) lebih baik dari pada tangan di bawah (meminta-minta atau mengemis). Hadits ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menjauhi yang namanya meminta-minta. Sekaligus menjadi pendorong mereka untuk menjadi tangan di atas. Mengapa? Karena memberi lebih baik daripada meminta-minta.
Akan tetapi, meminta-meminta tidak dilarang secara mutlak. Bahkan, Rasulullah memperkenankan tiga orang apabila mereka hendak meminta-minta. Siapa saja tiga kelompok tersebut?

Dikutip dari buku Pesona Ibadah Nabi, suatu ketika Qabishah bin Mukhariq al-Hilali curhat kepada Rasulullah perihal kehidupannya yang berat. Mulanya, Rasulullah meminta Qabishah untuk bersabar dan menunggu sedekah yang akan datang kepadanya. Karena tanggungannya yang begitu berat, Qabishah bertanya kepada Rasulullah dengan malu-malu. 

“Wahai Rasulullah, sambil menunggu sedekah itu datang, bolehkah aku meminta-minta?” tanya Qabishah.

Rasulullah langsung menjawab bahwa meminta-meminta itu tidak diperkenankan dalam Islam. Namun demikian, ada tiga orang yang diperkenankan meminta-minta atau mengemis. Pertama, orang yang memikul beban berat di luar batas kemampuannya. Rasulullah menyebutkan bahwa kelompok pertama ini diperbolehkan meminta-minta sampai tercukupi sekadar kebutuhannya. Ketika sudah tercukupi kebuuhan sekedarnya, ia harus berhenti mengemis.

Kedua, orang yang terkena musibah dan hartanya hilang semua. Kelompok kedua ini juga diperbolehkan meminta-minta, namun apabila sekadar kebutuhannya sudah tercukupi maka ia harus berhenti. 

Ketiga, orang-orang yang sangat miskin. Bagaimana cara mengukur miskin yang seperti ini? Rasulullah memberikan standar bahwa apabila tiga orang tetangganya menilai orang tersebut miskin, maka orang orang tersebut benar-benar miskin. Orang seperti ini diperkenankan untuk meminta-minta sampai kebutuhan sekadarnya tercukupi.

“Di luar kelompok tersebut, wahai Qabishah, meminta-minta tidak diperkenankan. Dan jika ada orang di luar kelompok itu meminta-minta, harta haram telah dimakan,” kata Rasulullah dengan tegas. (A Muchlishon Rochmat)