IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Peristiwa Mi'raj Bukan Dalil Lokasi Allah Ada di Atas

Jumat 2 November 2018 21:0 WIB
Share:
Peristiwa Mi'raj Bukan Dalil Lokasi Allah Ada di Atas
Ilustrasi (islamveateizm)
Dalam berbagai kitab aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipelajari di pesantren, banyak sekali penjelasan bahwa peristiwa Mi’raj atau naiknya Nabi Muhammad ke langit untuk menerima wahyu shalat tak menunjukkan bahwa Dzat Allah bertempat di atas, atau di arah manapun. Namun seiring maraknya penulis-penulis konten keislaman yang tak paham khazanah pesantren, marak pula informasi yang tidak tepat perihal Mi’raj yang kemudian dianggap sebagai bukti bahwa Allah berada secara fisik di atas langit. Bertebaran pula meme-meme salah paham seperti itu. Bagaimana sebenarnya kita harus memahami kejadian Mi’raj?

Mi'raj adalah berangkatnya Nabi Muhammad ke atas sidratul muntaha. Beliau menerima perintah shalat di sana. Sepanjang penelurusan penulis, tak ada penyebutan Arasy dalam ayat atau hadits-hadits Mi’raj. Kejadian Mi’raj ini sebenarnya sama dengan peristiwa ketika Nabi Musa mendapat perintah langsung dari Allah di puncak gunung Tursina (QS. Thaha: 10-36). Semua kisah ini berbicara tentang tempat hamba Allah menerima wahyu, bukan tentang tempat Allah.

Dikisahkan bahwa Nabi bolak balik dari tempatnya di atas sidratul muntaha ke tempatnya Nabi Musa di langit ke tujuh lalu ke atas lagi untuk memohon keringanan. Dalam riwayat-riwayat sahih kita dapati bahwa yang naik turun adalah Nabi Muhammad. Beliau naik ke tempat ia menerima wahyu dan turun ke tempat Nabi Musa lalu naik lagi ke tempat menerima wahyu sebelumnya dan itu terjadi berulang-ulang. Tempat yang kita bicarakan ini adalah tempat Nabi sendiri, bukan tempat Allah. Kalau Allah mau, Dia bisa memberikan wahyunya secara langsung di manapun hambanya berada seperti yang terjadi pada JIbril yang menerima wahyu dari Allah di mana pun ia berada secara langsung.

Sama sekali tak ada bahasan tentang tempat Allah dalam riwayat-riwayat itu kecuali dalam persangkaan orang yang salah paham yang menyangka bahwa bagi Allah juga berlaku hukum alam sebagaimana yang kita kenal di dunia ini. Dalam benak mereka, tatkala kita berbicara dengan seorang manusia, maka pastilah orang itu berada di suatu tempat sebagaimana kita juga berada di suatu tempat. Maka ketika Allah berfirman pada hamba-Nya di langit kemudian disimpulkan bahwa Allah juga berada dalam suatu tempat, yang dalam hal ini adalah langit. Tak pernahkah mereka membaca sekian banyak riwayat yang berisi tentang tempat Malaikat Jibril menerima wahyu di mana saja? Lalu apa yang mereka pikirkan tentang itu? Tak ingatkah bahwa Nabi Musa "bertemu" dan berdialog dengan Allah di gunung Tursina? maka apa yang bisa disimpulkan dari itu? Apakah berarti Allah sering berpindah tempat dari langit ke bumi dan muat di dalamnya?

Padahal, kita sendiri juga sering bolak-balik pergi masjid hanya untuk menyampaikan untaian doa yang kita panjatkan ke Allah. Bahkan banyak dari kita menabung supaya bisa bolak-balik ke Masjidil Haram untuk melakukannya. Apakah dari sini lantas bisa disimpulkan bahwa kita meyakini Dzat Allah berada di dalam Masjid atau di dalam Ka'bah? Tentu tidak demikian.

Kita juga mengenal arti istilah "mendekatkan diri kepada Allah" atau taqarrub yang sama sekali tak bermakna mendekat secara fisik. Lalu kenapa dalam peristiwa Mi'raj kata mendekatkan diri lantas berubah menjadi mendekat secara fisik? Tentu hal ini tak beralasan.

Demikianlah para ulama Ahlussunnah seluruhnya memahami peristiwa Isra’-Mi’raj. Ketika mereka menceritakan kisah “tawar menawar” jumlah shalat sebagaimana riwayat Imam Bukhari berikut ini:

فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِبْرِيلَ كَأَنَّهُ يَسْتَشِيرُهُ فِي ذَلِكَ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ جِبْرِيلُ: أَنْ نَعَمْ إِنْ شِئْتَ، فَعَلاَ بِهِ إِلَى الجَبَّارِ، فَقَالَ وَهُوَ مَكَانَهُ: يَا رَبِّ خَفِّفْ عَنَّا فَإِنَّ أُمَّتِي لاَ تَسْتَطِيعُ هَذَا

“Kemudian Nabi menoleh ke arah Jibril seakan bermusyawarah tentang hal itu. Kemudian Jibril mengisyaratkan pada beliau: “Ya, bila Anda menghendaki [permohonan untuk dikurangi].” Lalu Nabi naik pada Tuhan sedangkan ia di tempatnya dan berkata: Ya Tuhan, ringankanlah dari kami. Sesungguhnya umatku tak mampu melakukan ini...” (HR. Bukhari)

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat “Wahuwa makânahu” dalam hadits di atas, bukan berarti bahwa Allah ada di tempat itu, tetapi Nabi-lah yang berada di tempatnya semula meneriwa wahyu shalat 50 kali sehari. Imam al-Hafidz Al-Qasthalani menjelaskan:

 فقال) عليه الصلاة والسلام (وهو مكانه) أي في مقامه الأوّل الذي قام فيه قبل هبوطه

“Dia berada di tempatnya, maksudnya Nabi Muhammad berada di tempatnya yang awalnya di tempati sebelum turunnya.” (al-Qasthalani, Irsyâd as-Sârî Lisyarh Shahîh al-Bukhârî, juz X, halaman 449)

Demikian juga Imam al-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan makna “tempat” di hadits Mi’raj itu dengan menukil pernyataan Imam al-Khattabi lalu menguatkannya sebagaimana berikut:

قَالَ الْخَطَّابِيُّ  ... وَالْمَكَانُ لَا يُضَافُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى إِنَّمَا هُوَ مَكَانُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِهِ الْأَوَّلِ الَّذِي قَامَ فِيهِ قَبْلَ هُبُوطِهِ انْتَهَى وَهَذَا الْأَخِيرُ مُتَعَيَّنٌ وَلَيْسَ فِي السِّيَاقِ تَصْرِيحٌ بِإِضَافَةِ الْمَكَانِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

“Al-Khattabi berkata: ... Tempat itu tak disandarkan pada Allah Ta’ala, sesungguhnya itu tak lain adalah tempat Nabi ﷺ di tempat berdirinya sebelumnya sebelum turun. Ini akhir nukilan al-Khattabi. Keterangan terakhir ini sudah pasti dan dalam konteks hadits sama sekali tak ada penjelasan penisbatan tempat itu pada Allah Ta’ala.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, juz XIII, halaman 484)

Lalu untuk apa Nabi dipanggil ke langit untuk Isra’-Mi’raj? Jawabannya dapat kita lihat dalam surat al-Isra’: 1, yaitu untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya (linuriyahu min âyâtinâ). Sedangkan saat Nabi telah naik ke langit, maka Allah juga memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah yang jauh lebih besar lagi (laqad ra'â min âyâti rabbihi al-kubrâ), QS. An-Najm: 18. Demikianlah penuturan al-Qur'an yang seharusnya kita terima bulat-bulat bahwa isra' dan mi'raj itu hanya soal memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan dalam rangka membawa Nabi ke “tempat Allah.” Selain itu, para ulama menunjukkan hikmah bahwa peristiwa ini untuk menunjukkan keagungan shalat sehingga perintahnya diberikan di langit sana, bukan di bumi seperti perintah lainnya.

Mereka yang memaksakan diri barkata bahwa Mi'raj adalah pembuktian keberadaan Allah secara fisik di langit akan mengalami kontradiksi dengan keyakinan mereka sendiri. Di antara kontradiksinya adalah:

1. Apabila dimaknai bahwa Nabi Muhammad menemui Allah di Arasy, maka bukankah itu berarti mengatakan bahwa ketinggian Allah bisa dicapai juga oleh makhluk? Lalu apa spesialnya sifat ‘uluw yang biasa mereka maknai sebagai ketinggian fisik untuk Allah kalau akhirnya bisa juga dicapai oleh seorang manusia? 

2. Mereka yang menganggap Allah bertempat di atas langit juga mengatakan bahwa lokasi Allah terpisah dari makhluknya (bâ'inun min khalqihi) dalam arti terpisah lokasinya dari makhluk, namun kenapa dalam kasus mi'raj mengatakan bahwa Allah berada dalam satu tempat dengan Nabi?

3. Sebagian orang yang menganggap Allah bertempat di atas langit juga mengatakan bahwa tempat Allah itu pada hakikatnya adalah tempat ketiadaan (al-makân al-'adami) yang tak ada batasnya, tapi kenapa dalam kasus Mi'raj justru menyatakan berada dalam satu tempat dengan Nabi? Apakah Nabi yang keberadaannya berbetuk fisik itu juga juga bisa berada di tempat ketiadaan itu?

4. Di sisi lain Allah dianggap turun setiap sepertiga malam terakhir ke langit dunia (langit pertama) secara hakikat, lalu kenapa saat itu Allah ada di atas sana padahal di bumi sedang ada lokasi yang mengalami sepertiga malam terakhir? Memangnya Allah ada berapa? Kenapa tak menemui Allah di langit dunia saja kalau demikian?

Itulah sederet inkonsistensi mereka yang memahami peristiwa mi'raj dengan cara sederhana dengan mengira bahwa hukum alam yang sejatinya khusus bagi manusia juga harus berlaku pada Allah. Semua inkonsistensi di atas akan terpecahkan ketika mengikuti pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah bahwa Allah tak bertempat, tak terbatas ruang, tak bergerak, dan kemahatinggiannya tidak boleh dipahami secara fisik. Berbagai dalil-dalil dan paparan ulama dalam hal ini telah dipaparkan dalam kajian-kajian sebelumnya di kanal Tauhid NU Online ini. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Share:
Kamis 1 November 2018 6:0 WIB
Keimanan Rasulullah SAW dan Tauhid Anti-Kekerasan
Keimanan Rasulullah SAW dan Tauhid Anti-Kekerasan
Keimanan, keyakinan, dan tauhid kerap ditunjukkan oleh sebagian umat Islam dengan wajah kekerasan. Hal ini membuat persepsi di muka publik bahwa tingkat keimanan atau ketauhidan seseorang diukur dari kekerasan yang ditunjukkan di muka umum.

Imam Al-Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad meriwayatkan hadits Rasulullah SAW yang mengajak umatnya untuk menghormati manusia meski hanya seorang budak.

عن أبى هريرة قال لا تقولن قبح الله وجهك ووجه من أشبه وجهك فإن الله عز و جل خلق آدم صلى الله عليه و سلم على صورته

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalian jangan berkata, ‘Semoga Allah membuat buruk wajahmu dan wajah orang yang mirip denganmu,’ karena Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai ‘bentuk-Nya,’’” (HR Bukhari).

Sementara pada riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW juga bersabda dengan ucapan serupa, yaitu menjauhi kekerasan terutama pada bagian wajah manusia.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - " إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَّقِ اَلْوَجْهَ" - مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika salah seorang kau memukul yang lain, hindari bagian wajah,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW secara lebih eksplisit untuk menjauhi kekerasan terutama pada bagian wajah manusia karena wajah bukan sekadar organ mulia karena akal pikiran di sana tetapi karena bentuk manusia meniru model “bentuk” Allah sebagaimana penjelasan Syekh Ibrahim Al-Baijuri berikut ini.

ومما يوهم الصورة ما رواه أحمد والشيخان أن رجلا ضرب عبده فنهاه النبي صلى الله عليه وسلم وقال إن الله تعالى خلق آدم على صورته فالسلف يقولون صورة لا نعلمها والخلف يقولون المراد بالصورة الصفة من سمع وبصر وعلم وحياة 

Artinya, “Salah satu jenis waham adalah bentuk Allah sebagaimana Ahmad dan Bukhari-Muslim bahwa seorang sahabat memukul budaknya. Rasulullah lalu melarangnya, ‘Sungguh Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai bentuk-Nya.’ Ulama salaf memahaminya sebagai bentuk yang kita tidak mungkin mengerti. Sementara ulama khalaf memahaminya sebagai sifat sejenis pendengaran, penglihatan, pengetahuan, dan sifat hidup,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauhartit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 55).

Menurut Al-Baijuri, pandangan ulama semacam itu tidak mengada-ada. Padangan mereka didasarkan riwayat hadits lain yang menyebut “Ar-Rahman” atau Allah secara eksplisit.

فهو على صفته في الجملة وإن كانت صفته تعالى قديمة وصفة الإنسان حادثة وهذا بناء على أن الضمير في صورته عائد على الله تعالى كما يقتضيه ما ورد في بعض الطرق فإن الله خلق آدم على صورة الرحمن

Artinya, “Sifat anak manusia secara umum sesuai dengan sifat Allah. Hanya saja sifat Allah qadim. Sifat manusia hadits/baru. Pandangan ini didasarkan pada kata ganti/dhamir pada lafal ‘shuratihī’ merujuk pada Allah SWT sebagaimana petunjuk melalui sebagian riwayat lain, ‘Sungguh Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai bentuk Zat maha rahman,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauhartit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 55).

Sementara sebagian ulama memahami hadits tersebut secara berbeda. Mereka beranggapan bahwa manusia harus menjauhi kekerasan terhadap saudaranya karena alasan kesamaan jenis sebagai manusia.

وبعضهم جعل الضمير عائدا على الأخ المصرح به في الطريق التي رواها مسلم بلفظ فإذا قاتل أحدكم أخاه فليجتنب الوجه فإن الله خلق آدم على صورته أي وإذا كان كذالك فينبغي احترامه باتقاء الوجه

Artinya, “Sebagian ulama memahami rujukan dhamir itu pada kata ‘saudara’ yang disebut secara lugas pada riwayat Muslim, ‘Jika salah seorang kalian memusuhi saudaranya, maka hindarilah wajah karena sungguh Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai bentuknya.’ Jika demikian, maka seyogianya manusia itu menghindari wajah,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauhartit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 55).

Dari sini dapat dipahami bahwa orang yang beriman kepada Allah atau dan mereka yang memegang tauhid sesungguhnya perlu menjauhkan kekerasan karena manusia merupakan makhluk Allah yang mulia di mana sifat mereka dan sifat Allah serupa meski tak sama pada banyak sisi.

Keimanan dan tauhid kepada Allah mengajarkan umat Islam untuk mencintai sesama manusia, bukan mengajak umat Islam untuk saling menghancurkan sesamanya, dan umat manusia secara umum karena mereka yang mengagungkan Allah sudah seharusnya mencintai manusia sebagai makhluk-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 30 Oktober 2018 22:15 WIB
Hal Paling Menyakitkan bagi Nabi Muhammad SAW
Hal Paling Menyakitkan bagi Nabi Muhammad SAW
(Foto: picssr.com)
Sebagian Muslim berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW termasuk penghuni neraka karena berpegang pada hadits riwayat Imam Muslim.

Muslim lainnya berbeda pendapat. Mereka menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW termasuk penghuni surga dengan berpegang pada sejumlah ayat Al-Quran seperti Al-Isra ayat 15 dan As-Syu’ara ayat 219, hadits, dan sejumlah dalil aqli.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan sejumlah dalil naqli yang menjelaskan dalam karyanya keimanan dan kesucian nenek moyang hingga kedua orang tua Nabi Muhammad SAW yang kami kutip sebagai berikut.

إذا علمت أن أهل الفترة ناجون على الراجح علمت أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان لكونهما من أهل الفترة بل جميع آبائه صلى الله عليه وسلم وأمهاته ناجون ومحكوم بإيمانهم لم يدخلهم كفر ولا رجس ولا عيب ولا شئ مما كان عليه الجاهلية بأدلة نقلية كقوله تعالى  وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ وقوله صلى الله عليه وسلم لم أزل أنتقل من الأصلاب الطاهرات إلى الأرحام الزكيات وغير ذالك من الأحاديث البالغة مبلغ التواتر

Artinya, “Kalau kau mengerti bahwa ahli fatrah itu selamat dari siksa neraka menurut pendapat rajih (yang kuat), maka tentu kamu mengerti bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari siksa neraka karena keduanya ahli fatrah. Bahkan semua bapak moyang Rasulullah SAW (hingga ke Nabi Adam AS) selamat dari siksa neraka. Kita memutuskan bahwa mereka adalah orang-orang beriman tanpa tercederai oleh kekufuran, perbuatan keji, perilaku aib, dan perilaku buruk apapun yang lazim di zaman Jahiliyah. Pendapat ini didasarkan pada dalil naqli seperti firman Allah SWT dalam Surat As-Syu‘ara ayat 219 yang berbunyi, ‘Dan ketika engkau bolak-balik dalam orang-orang yang sujud (sembahyang)’; dan sabda Rasulullah SAW ‘Aku senantiasa berpindah-pindah dari tulang-tulang sulbi yang murni ke rahim-rahim yang suci’, dan banyak hadits lain yang statusnya mutawatir,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabaiyah, tanpa tahun, halaman 19).

Sementara Ibnul Arabi, salah seorang ulama pemuka Mazhab Maliki, mengatakan bahwa umat Islam perlu hati-hati berkomentar perihal kedua orang tua Nabi Muhammad SAW ini. Salah-salah seseorang dapat terperosok dalam tindakan menyakiti Nabi Muhammad SAW yang cukup berisiko.

قال  بعضهم وقد سئل القاضي أبو بكر بن العربي أحد الأئمة المالكية عن رجل قال إن أبا النبي في النار فأجاب بأنه ملعون لأن الله تعالى قال إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا ولا أذى أعظم من أن يقال أن أباه في النار

Artinya, “Sebagian ulama menceritakan bahwa Abu Bakr Ibnul Arabi ditanya perihal seseorang yang mengatakan bahwa orang tua Nabi Muhammd SAW di neraka, lalu ia menjawab, orang yang mengatakan demikian mendapat laknat Allah karena Dia berfirman, ‘Sungguh orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya akan mendapat laknat dari Allah di dunia dan di akhirat dan Allah menyediakan bagi mereka siksa yang menghinakan,’ (Surat Al-Ahzab ayat 57). Tiada hal paling menyakitkan melebihi ucapan, ‘Orang tua Nabi Muhammd SAW di neraka,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 13).

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa umat Islam tidak perlu ikut terlibat dalam perbedaan pendapat di kalangan ulama. Umat Islam tidak perlu menjawab semua persoalan. Kelompok Ahlussunnah wal Jamaah sendiri berpendapat bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad termasuk ahli fatrah yang selamat dari siksa api neraka.

Umat Islam perlu hati-hati mengeluarkan pendapat perihal apa saja, terutama masalah ini. Semoga kita bersama keluarga dan sahabat kita semua termasuk orang yang mendapatkan syafaat Rasulullah SAW. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 29 Oktober 2018 19:30 WIB
Mengafirkan Sesama Muslim, Takfiri, Dulu dan Sekarang
Mengafirkan Sesama Muslim, Takfiri, Dulu dan Sekarang
Tauhid adalah alur pikiran yang menetapkan zat Allah dan menafikan selain-Nya. (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Iqtishad fil I‘tiqad, Beirut, Darul Fikr, 1997 M/1417 H, halaman 58-59). Hal ini tampaknya sederhana. Tetapi pada perkembangannya, para teolog Muslim (mutakallimin) terpecah ke dalam sejumlah aliran teologi seperti aliran besar yang kita kenal.

Masing-masing aliran membuat formula-formula teologis yang biasanya rumit dipahami perihal tauhid. Sering kali masing-masing dari mereka kemudian bertindak melewati batas dengan meninggalkan jauh Al-Qur’an dan hadits atau memhaminya secara tekstual dalam membuat formula tersebut.

Seiring perkembangan para mutakallimin ini kerap berdiskusi satu sama lain. Mereka mendiskusikan banyak hal yaitu eksistensi sifat tuhan, perbuatan tuhan, perbuatan dan ikhtiar manusia, kenabian, hingga kepemimpinan.

Mereka cukup produktif melahirkan banyak karya (sekali lagi, biasanya rumit yang dibaca dengan mengernyitkan dahi) yang berkaitan dengan teologi sehingga lahir apa yang kemudian disebut ilmu kalam. Sebagai kajian akademik, diskusi mereka perihal sifat dan perbuatan tuhan, sifat wujud tuhan, dan seterusnya yang cukup penting dan tidak masalah.

Masalah muncul ketika salah satu aliran atau kelompok teologis tertentu memandang kebenaran mutlak formulasi teologis kelompoknya dan mulai memandang cedera formula teologis di luar kelompoknya. Mereka menganggap kelompoknya paling benar dan kelompok lain salah.

Mereka memandang bahwa kelompok lain tidak lebih suci, lebih islam, dan lebih beriman daripada kelompoknya. Sikap snob seperti ini berimbas pada kehidupan sosial-politik di tengah masyarakat. Mereka memaksakan kebenaran kelompoknya, menekan kelompok lain dengan senjata maupun secara simbolis, dan sekali waktu melakukan upaya penggulingan terhadap kekuasaan yang sah meski ada yang berhasil dan juga gagal.

Konflik horizontal mulai meletup kecil-kecil. Tetapi sekali dua konflik struktural dapat terjadi. Kita dapat menyebut insiden penikaman terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan peristiwa mihnah sejenis kriminalisasi oleh rezim Muktazilah yang menimpa Imam Ahmad bin Hanbal yang pendukung sunni.

Sikap snob seperti ini bisa jadi menimpa kelompok teologi mana saja, termasuk di kalangan teolog sunni. Sebagian mutakklimin sunni yang mengambil sikap berlebihan itu menyebut pemahaman secara rinci atas lima puluh aqidah Ahlusunnah wal Jamaah sebagai syarat keimanan seseorang.

Jadi umat Islam yang memahami lima puluh aqidah secara garis besar, menurut sebagian mutakkalim sunni ini, dianggap tidak beriman sebagaimana catatan Al-Baijuri berikut ini.

فالدليل التفصيلي على هذا واجب على الإعيان وجوبا أصوليا بمعنى أنه إن لم يعرفه المكلف لم يكن مؤمنا وهذا فيه إفراط وحرج شديد كما قاله صلاح الدين العلائي ونقله عنه ابن حجر  

Artinya, “Dalil rinci atas demikian itu wajib atas setiap individu sebagai wajib ushuli, dalam arti jika seseorang (mukallaf) tidak mengetahui dalil rinci tersebut, maka dia bukan seorang mukmin. Syarat iman seperti ini berlebihan dan sangat menyulitkan sebagaimana pandangan Shalahuddin Al-Ala’i dan dikutip oleh Ibnu Hajar,” (Lihat Imam Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 15).

Pengetahuan rinci atau tafsil atas lima puluh aqidah itu salah satunya pengetahuan seseorang perihal keberadaan makhluk sebagai dalil atas wujud Allah dari segi kejaizan atau wujudnya setelah ketiadaan. (Lihat Syekh M Fudhali, Kifayatil Awam fi Ilmil Kalam pada Hamisy Tahqiqul Maqam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 15).

Adapun pengetahuan sederhana seseorang atas lima puluh aqidah itu salah satunya perihal keberadaan makhluk sebagai dalil atas wujud Allah. (Lihat Syekh M Fudhali, Kifayatil Awam fi Ilmil Kalam pada Hamisy Tahqiqul Maqam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 15-16).

Bahkan sebagian mutakallimin menyatakan secara ekstrem bahwa keimanan umat Islam yang beriman secara taklid tidak sah. Jadi masyarakat awam yang beriman secara taklid meskipun taklidnya shahih tetapi dianggap tidak beriman oleh sebagian mutakallimin ini. Padahal jumlah masyarakat awam yang beriman secara taklid lebih banyak daripada mereka yang beriman berdasarkan dalil.

Sikap seperti ini tentu melewati batas. Sementara banyak umat Islam yang beriman dengan cara taklid di masa Rasulullah hingga zaman sekarang ini. Sikap berlebihan sebagian teolog ini ditanggapi oleh Imam Al-Ghazali seperti kutipan Imam Al-Baijuri berikut ini.

وكما نص عليه الغزالي حيث قال أسرفت طائفة فكفروا عوام المسلمين وزعموا أن من لم يعرف العقائد بالأدلة التي حرروها فهو كافر فضيقوا رحمة الله الواسعة وجعلوا الجنة مختصة بطائفة يسيرة من المتكلمين

Artinya, “Sebagaimana disebutkan tertulis oleh Imam Al-Ghazali bahwa sekelompok umat Islam mengambil sikap berlebihan. Mereka mengafirkan umat Islam awam. Mereka memandang bahwa siapa saja yang  tidak memahami aqidah dengan dalil-dalil yang mereka uraikan adalah kafir. Mereka mempersempit rahmat Allah yang luas itu. Mereka menjadikan surga khusus untuk kelompok kecil teolog,” (Lihat Imam Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 15).

Dari uraian ini kita dapat melihat bagaimana sebagian mutakallimin itu merumuskan formula teologis yang rumit dan meliuk-liuk, lalu menilai keimanan orang lain dengan formula yang mereka buat. Jadi mereka sendiri yang membuat kategori tauhid dan kriteria keimanan, lalu mereka sendiri mengafirkan orang lain yang jelas-jelas orang beriman.

Celakanya, sebagian umat Islam sekarang mengikuti jejak sebagian teolog yang melewati batas itu. Tidak seperti sebagian mutakallimin dengan formula teologis, hanya bedanya sebagian mereka menilai kriteria keimanan dan kekufuran seseorang melalui sikap atas bendera bertulis lafal tauhid, sikap terhadap partai Islam, pilihan seseorang dalam pilgub dan pilpres, atau berdasarkan kriteria lain yang sama sekali bergeser dari tauhid yang disebutkan Imam Al-Ghazali di awal catatan ini.

Meski dinilai melewati batas, sikap berlebihan sebagian mutakallimin terbilang “maju” dalam mengafirkan sesama Muslim. Tetapi sikap melewati batas oleh sekelompok umat Islam belakangan ini dalam mengafirkan sesama Muslim hanya karena simbol Islami seperti bendera berlafal tauhid, perbedaan pandangan politik, perbedaan dukungan politik, terbilang sebuah kemunduran peradaban dari apa yang pernah dicapai oleh umat Islam terdahulu.

Semua uraian ini perlu dipahami tidak secara sempit sehingga mendorong kita untuk membuang jauh-jauh pelajaran tauhid atau ilmu kalam. Ilmu kalam tetap harus dipelajari sebagaimana ulama Ahlussunnah wal Jamaah tetap mendalaminya seperti Imam Al-Haramain, Imam Al-Ghazali, dan ahli kalam lainnya. Uraian ini menjadi catatan bagi para teolog dan juga umat Islam untuk bersikap secara wajar agar tidak melampaui batas. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)