IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Tidak Setiap Doa Pasti Dikabulkan oleh Allah

Ahad 4 November 2018 14:0 WIB
Share:
Tidak Setiap Doa Pasti Dikabulkan oleh Allah
Ilustrasi (via portalb.mk)
Tidak setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah subhanahu wataâla. Hal ini disebabkan sebuah doa akan dikabulkan oleh Allah jika memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu sebagaimana disinggung oleh Imam Ahmad bin Muhammad As-Shawi Al-Maliki dalam kitabnya berjudul Hasyiatus Shawi ala Tafsiril Jalalain (Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2017, Juz 3, hal. 392)  sebagai berikut: 

بان الدعاء له شروط، فإذا تخلف بعضها تخلف الإجاب

Artinya, “Sesungguhnya, ada syarat-syarat bagi terkabulnya doa. Maka ketika sebagian syarat tidak terpenuhi, doa tak akan diijabah.”

Persyaratan terkabulnya doa meliputi dua hal, yakni persyaratan yang melekat pada manusia dan persyaratan yang melekat pada Allah subhanahu wataâla. Persyaratan yang melekat pada manusia, berdasarkan beberapa nash di dalam Al-Qur’an dan hadits Rasululullah, antara lain adalah ikhlas, mengikuti petunjuk Rasulullah, mempercayai bahwa Allah akan mengabulkan, dan doa itu dipanjatkan dengan hati yang khusyu’ serta penuh harap kepada Allah.

Baca juga: 
Kenapa Doa itu Sangat Penting?
Pengertian Doa Pasti Terkabul dalam Kajian Aqidah
Sedangkan persyaratan yang melekat pada Allah adalah kehendak-Nya sendiri sebagai penguasa alam. Artinya suatu doa hanya bisa terkabul jika Allah berkenan mengabulkannya. Hal ini berdasarkan penjelasan Syekh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Asy-Syafií Al-Baijuri dalam menafsirkan ayat 41, surat Al-An’am:

 فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ 

“Maka Dia hilangkan bahaya yang kalian mohonkan kepada-Nya jika Dia menghendak.”
 
 على أن الإجابة مقيدة بالمشيئة كما يدل عليه قوله تعالى فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ فهو مقيد لإطلاق الآيتين السابقين فالمعنى ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إن شئت وأجيب دعوة الداعي إن شئت

Artinya:“Sesungguhnya ijabah atau pengabulan sebuah doa terikat dengan kehendak-Nya sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah yang berbunyi: ‘Maka Dia hilangkan bahaya yang kalian mohonkan kepada-Nya jika Dia menghendaki.’ Pengabulan doa ini terikat pada kemutlakan dua ayat sebelumnya. Oleh karena itu makna dari ‘Mintalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan’ itu jika Aku menghendakinya, dan aku kabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Ku, jika aku menghendakinya.” (Lihat Tuhfatul Murid, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cetakan ke-2, 2003, hal. 171). 

Jadi sebuah doa akan dikabulkan oleh Allah jika Ia menghendaki. Jika sebuah doa, sekalipun sudah memenuhi persyarat-persyaratan yang melekat pada manusia dan juga telah sesuai dengan adab berdoa, jika Allah tidak berkenan menghendakinya, maka doa itu tidak akan terkabul. Justru di sinilah Allah menunjukan salah satu bukti Qudrat dan Iradah-Nya. Bagaimanapun Allah adalah Penguasa Tunggal atas Seluruh Alam Raya yang tak satupun makhluk dapat memaksa-Nya. 

Contoh doa yang tidak dikabulkan oleh Allah adalah dua permohonan Rasulullah sebagaimana disampaikan oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais Syuriah PCNU Jombang, dalam kisah Hikmah berjudul “Dua Permohonan Nabi SAW yang Tidak Terkabul” (NU Online, 18 Februari 2016).

Kedua doa itu adalah, pertama, permohonan beliau agar umat beliau (kelak) tidak ber-hizb-hizb (berpartai-partai), ber-firqah-firqah (berkelompok-kelompok), dan berpecah belah. Kedua, agar umat beliau (kelak) satu dengan yang lainnya tidak saling membunuh. Kedua doa itu merupakan penjabaran dari satu doa Rasululah yang tak dikabulkan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam penggalan hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah berikut ini:

إني صليت صلاة رغبة ورهبة ، سألت الله ، عز وجل ، ثلاثا فأعطاني اثنتين ، ومنعني واحدة . سألته ألا يهلك أمتي غرقا ، فأعطاني وسألته ألا يظهر عليهم عدوا ليس منهم ، فأعطانيها . وسألته ألا يجعل بأسهم بينهم ، فردها علي.

Artinya: ”Aku melakukan shalat raghbah (penuh harap) dan rahbah (takut kepada-Nya), dalam shalatku itu aku memohon kepada Allah tiga perkara. Dia mengabulkan dua perkara sedangkan satunya lagi tidak dikabulkan. Aku memohon agar umatku tidak binasa oleh bencana kelaparan, maka Dia mengabulkan permohonan ini. Aku memohon agar umatku tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka, Dia pun mengabulkannya. Namun ketika aku memohon agar umatku tidak merasakan kekejaman di antara sesamanya, Dia (Allah) tidak mengabulkannya.” 

Sejarah telah mencatat bahwa umat Islam sepeninggal Rasulullah mengalami perpecahan dan bahkan saling bunuh di antara kelompok-kelompok, terutama setelah meninggalnya Khalifah Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu. Menurut KH Abdul Nashir Fattah, aksi saling bunuh di antara umat Islam akan terjadi terus hingga akhir zaman. Hal ini terbukti, misalnya, dengan pecahnya konflik dan perang saudara di negara-negara Timur Tengah hingga saat ini. Di Indonesia aksi terorisme juga banyak merenggut jiwa orang-orang Islam yang tidak berdosa. 

Selain itu, ada satu lagi harapan Rasulullah yang tidak pernah terwujud. Beliau sangat berharap agar Abu Thalib, paman beliau, memeluk Islam dengan beriman kepada Allah. Namun harapan dan upaya beliau mendorong sang paman memeluk Islam tersebut mendapat jawaban dari Allah sebagaimana termaktub dalam Surat al-Qashash, ayat 56 sebagai berikut: 

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”.

Jika terhadap Rasulullah saja, Allah tidak mengabulkan setiap doa beliau, apalagi terhadap kita-kita manusia biasa yang penuh dengan dosa. Oleh karena itu, pemahaman bahwa setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah yang bersumber pada pemahan terhadap surat Al-Mu’min, ayat 60, di dalam Al-Quran, yang berbunyi ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ, perlu diperbaiki. Terjemahan ayat ini bermasalah jika berbunyi: “Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” 

Letak permasalahannya adalah pada penyertaan kata “niscaya”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (kbbi.kemdikbud.go.id), kata tersebut memiliki persamaan makna dengan kata “pasti”. Oleh karena secara faktual tidak setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah, maka ayat tersebut cukup diterjemahkan: “Berdoalah kalian kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” 

Jadi kalimat dalam ayat tersebut harus dipahami sebagai kalimat bersyarat bahwa sesuatu akan terjadi jika persyaratan dipenuhi. Dalam hal ini Allah akan mengabulkan doa seorang hamba jika persyaratan yang melekat padanya dipenuhi, terlebih persyaratan yang melekat kepada Allah sendiri, yakni kehendak-Nya. Hal ini sejalan dengan penjelasan dari Syekh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Asy-Syafií Al-Baijuri sebagaimana telah diuraikan di atas. 

Namun demikian, kata “niscaya” tetap dapat diterima atau disertakan dalam terjemahan ayat ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ dengan catatan kata أَسۡتَجِبۡ tidak diterjemahkan “niscaya Aku kabulkan” tetapi “nisaya Aku jawab”. Kalimat “nicaya Aku kabulkan” mengandung makna bahwa suatu permintaan pasti dipenuhi seperti apa yang diinginkan seseorang. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. 

Sedangkan kalimat “nicaya Aku jawab” mengandung makna bahwa suatu doa atau permintaan pasti dijawab oleh Allah dengan berbagai bentuk kemungkinan seperti pengabulan sepenuhnya atau sebagaian saja, atau diganti dengan hal lain yang lebih bermanfaat, atau ditunda pemenuhannya hingga waktu yang tepat, atau malahan ditolak seperti apa yang dialami oleh Rasulullah ketika beliau memohon agar umatnya tidak merasakan kekejaman di antara sesamanya. 

Kesimpulannya, semua doa pasti dijawab oleh Allah tetapi tidak setiap doa pasti dikabulkan-Nya sebab ada kalanya Allah tidak berkenan mengabulkan sebuah doa. Oleh karena itu setiap doa hendaknya kita ikuti dengan sikap tawakal kita kepada Allah sebab Dia-lah yang mengatur seluruh alam dengan segala permasalahannya. Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Allah Maha Adil dan Bijaksana dengan semua rencana dan keputusan-Nya. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

Tags:
Share:
Jumat 2 November 2018 16:15 WIB
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (II)
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (II)
Ilustrasi (KH Maimoen Zubair saat mengajar santri-santrinya)
Sebelumnya penulis sudah memaparkan enam adab pelajar kepada gurunya menurut Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Sy’ari, sebagaimana tercantum dalam kitab karya beliau, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim. Dalam tulisan ini, kami jelaskan adab berikutnya dalam pandangan pendiri Nahdlatul Ulama ini.

Ketujuh, meminta izin kepada guru saat memasuki majelisnya.

Hendaknya saat menghadiri majelisnya guru, pelajar terlebih dahulu permisi meminta izin, di mana pun berada, baik saat gurunya sendirian atau bersama orang lain. Kecuali dalam majelis umum yang disediakan untuk siapapun yang mau mengikuti, maka tidak perlu izin. Ketika guru mengetahui keberadaan murid dan tidak mengizinkannya untuk berada di sebuah majelis, maka sebaiknya murid langsung beranjak dan tidak perlu mengulangi untuk meminta izin.

Bila pelajar ragu apakah sang guru mengetahui keberadaannya atau tidak, maka boleh mengulangi untuk meminta izin, namun sebaiknya tidak lebih dari tiga kali. Saat mengetuk pintu kamar sang guru, sebaiknya dengan pelan, sopan, menggunakan kuku, tidak dengan suara keras yang dapat mengganggu kenyamanan beliau.

Saat guru mempersilakan masuk dan yang sowan adalah orang banyak, maka sebaiknya dipimpin oleh murid yang paling utama dan senior, selanjutnya satu persatu dari mereka mengucapkan salam.

Saat sowan menghadap guru, hendaknya dengan penampilan sebaik mungkin, suci dan bersih badan serta pakainnya, kukunya dipotong, wangi baunya. Terlebih saat berada di majelis ilmu, harus lebih perfect lagi penampilannya, sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis dzikir dan ibadah.

Saat hendak menemui guru sementara beliau sedang bercakap-cakap dengan orang lain, atau tengah melakukan aktivitas seperti berdzikir, shalat dan lainnya, maka hendaknya murid diam, tidak boleh mengawali pembicaraan. Sebaiknya ucapkan salam dan segera keluar, kecuali gurunya memerintahkan untuk tetap berada di tempat. Saat diam menunggu guru, hendaknya tidak terlalu lama, kecuali bila ada perintah dari guru.

Saat tiba waktu belajar, sementara gurunya belum datang atau sedang istirahat, hendaknya sabar menanti sampai beliau datang, atau boleh juga pulang terlebih dahulu lalu kembali lagi, namun sebaiknya tetap bersabar menunggu guru di tempat mengaji. Pelajar tidak perlu mengetuk pintu guru atau membangunkannya dari istirahat.

Sebaiknya murid tidak membuat-buat waktu sendiri, waktu khusus untuk dirinya yang berbeda dengan teman pelajar lain. Sebab hal demikian termasuk bentuk kesombongan dan tindakan bodoh, berakibat tidak baik kepada guru dan teman pelajar yang lain. Namun, bila sang guru terlebih dahulu menawari memberi waktu khusus, misalkan karena ada udzur yang menghalanginya untuk belajar bersama teman-teman pada umumnya atau guru memiliki pertimbangan tertentu dalam menyendirikannya, maka hal tersebut tidak bermasalah.

Kedelapan, duduk bersama guru dengan penuh etika.

Saat menghadap gurunya, hendaknya dengan posisi yang sopan, semisal duduk berlutut di atas kedua lutut atau seperti duduk tasyahud (namun tidak perlu meletakan kedua tangannya di atas kedua paha), atau duduk bersila, dengan rendah diri, tenang dan khusyu’, tidak boleh menengok kanan kiri tanpa dlarurat, menghadap gurunya dengan keseluruhan tubuhnya, mendengar perkataan guru dengan seksama, memandangnya, mencermati arahannya sehingga guru tidak perlu mengulangi lagi penjelasannya. Tidak perlu menengok kanan-kiri atau arah atas tanpa ada hajat, terlebih saat guru membahas pelajar. Saat ada keramaian di tengah-tengah pelajaran, murid tak perlu belingsatan tak beraturan, dianjurkan tetap tenang.

Dianjurkan pula untuk tidak melipat lengan baju, tidak bermain-main dengan kedua tangan atau kakinya atau anggota tubuh yang lain, tidak membuka mulut, tidak menggerakan gigi, tidak memukul lantai atau benda lainnya, tidak menggenggam jari jemari, tidak bermain-main dengan sarung atau pakainnya, tidak bersandar di tembok atau bantal, tidak membelakangi gurunya, tidak menceritakan hal-hal yang menertawakan atau perbincangan yang tidak pantas.

Tidak banyak tertawa berlebihan di hadapan guru, bila terpaksa harus tertawa dianjurkan tersenyum tanpa bersuara. Sebisa mungkin tidak berdehem, saat terpaksa bersin, hendaknya mengecilkan volume suaranya sebisa mungkin serta menutupi wajahnya dengan sapu tangan. Ketika menguap, dianjurkan menutup mulut.

Di majelisnya guru, hendaknya menjaga adab beserta rekan-rekannya guru dan segenap hadirin. Selayaknya menghormati teman-teman sang guru atau para seniornya, sesungguhnya bersikap santun kepada mereka adalah bagian dari beradab kepada guru dan menghormati majelisnya. Dianjurkan pula untuk tidak maju atau mundur dari barisan dengan niat membuat halaqah sendiri, tidak berbicara menyimpang saat pelajaran berlangsung atau pembicaraan yang dapat memotong pembahasan.

Ketika sebagian siswa berlaku buruk kepada rekan yang lain, hendaknya tidak membentaknya, hanya gur yang berhak melakukannya, kecuali mendapat mandat dari guru. Ketika gurunya dicaci, wajib bagi segenap siswa secara kolektif untuk membela gurunya, memperingatkan pihak yang mencaci, bila perlu membentaknya. Dianjurkan pula tidak mendahului guru dalam menjelaskan sebuah permasalahan atau menjawab pertanyaan kecuali atas seizinnya. 

Termasuk memuliakan guru adalah tidak duduk di sampingnya, tempat salatnya atau selimutnya. Bila gurunya yang memerintahkan, maka sebaiknya menolak, kecuali ia betul-betul yakin gurunya merasakan keberatan atas penolakannya.

KH. Hasyim Asy’ari selanjutnya menyinggung perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai mana yang lebih utama antara mematuhi perintah guru atau menempuh jalan adab. Menurut pandangan Hadlratus Syekh, diperinci. Mematuhi perintah guru lebih utama jika sang guru betul-betul menekankan perintahnya tersebut. Namun bila tidak demikian, maka lebih baik menempuh jalan adab, meski dengan menolak perintah guru. Sebab, bisa jadi gurunya sebatas ingin menguji tatak rama muridnya dan sebatas mana kepedulian siswa terhadap sang guru. 

Kesembilan, berbicara yang baik kepada guru.

Sebisa mungkin murid menghindari perkataan “kenapa?”, “saya tidak setuju”, “dari mana keterangannya” dan ucapan protes lainnya di hadapan guru. Bila maksudnya adalah untuk meminta penjelasan dari guru, maka hendaknya dengan tutur kata yang sopan dan pelan-pelan. Lebih baik lagi disampaikan di kesempatan yang lain dengan niatan meminta penjelasan, bukan bermaksud menguji atau menentang gurunya.

Bila penjelasan guru berbeda dengan tokoh yang lain atau literatur yang dibaca murid, tidak sopan pelajar membandingkannya di hadapan guru, misalkan “yang saya dengar anda menjelaskan demikian, sedangkan menurut Syekh ini demikian, menurut kitab ini demiian” “apa yang anda jelaskan tidak benar” dan perkataan yang semisalnya.

Saat guru keliru menjelaskan, murid harus memaklumi. Hal yang demikian hendaknya tidak mengurangi sedikitpun ta’zhimnya kepada sang guru. Sesungguhnya kekeliruan adalah hal yang wajar pada diri manusia, keterjagaan hanya dimiliki oleh para nabi ‘alaihimus shalatu was salam.

(M. Mubasysyarum Bih)

Bersambung….

Jumat 26 Oktober 2018 20:45 WIB
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (I)
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (I)
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
Keberhasilan para ulama tidak bisa dilepaskan dari faktor etika kepada guru/kiainya. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa 70 persen keberhasilan santri dikarenakan adabnya, 30 persen karena kesungguhannya. Ilmu para ulama tidak hanya bermanfaat untuk dirinya namun juga untuk masyarakat luas, tidak pula berkaitan dengan urusan ubudiyyah mahdlah namun juga berhubungan dengan interaksi sosial keumatan. 

Bagaimana kiat dan langkah menjadi pelajar yang beretika kepada gurunya? Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adab al-Alim wa al-Muta’allim menyebutkan ada 12 adab seorang santri kepada gurunya.

Pertama, berpikir matang-matang sebelum memilih guru.

Seorang santri tidak boleh sembarangan memilih guru yang hendak ia timba ilmu dan adabnya. Sebelum memutuskan siapa gurunya, hendaknya terlebih dahulu beristikharah, meminta petunjuk kepada Allah agar diberi guru yang terbaik untuk dirinya. Bila memungkinkan, guru yang dipilih sebaiknya adalah pribadi yang betul-betul mumpuni ilmunya, dapat menjaga harga dirinya, memiliki kasih sayang, dan masyhur keterjagaannya (dari hal-hal tercela). Guru sebaiknya juga seseorang yang baik penyampaiannya. Karena begitu pentingnya memilih seorang guru, sebagian ulama mengatakan:

هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari mana kalian mengambilnya.”

Kedua, memilih guru yang kredibel

Guru yang dipilih hendaknya orang yang mengerti agama secara sempurna, sanad keilmuannya jelas, yaitu mereka yang diketahui mengambil ilmu dari para masyayikh yang cerdas, dari gurunya lagi, hingga Rasulullah Saw. Tidak cukup belajar agama dari seseorang yang hanya mengambil ilmu dari buku-buku tanpa digurukan. Menurut Hadratussyekh, belajar tanpa memiliki sanad keilmuan yang jelas atau hanya mencukupkan dari buku-buku, sangat mengkhawatirkan. Rentan sekali terdapat kekeliruan. Oleh karenanya, di samping rajin membaca dan mempelajari buku-buku, penting sekali untuk mencari guru yang mentashih atau membenarkan. Rais akbar Nahdlatul Ulama tersebut mengutip statemen Imam Syafi’i radliyallahu ‘anh:

من تفقه من بطون الكتب ضيع الاحكام

“Barangsiapa belajar fiqih dari buku-buku (tanpa digurukan), maka ia telah menyia-nyiakan hukum-hukum agama.”

Ketiga, mematuhi segala perintah guru

Murid hendaknya adalah pribadi yang mentaati arahan gurunya. Sam’an wa tha’atan, mendengar dan mematuhi apa pun yang diarahkan gurunya. Ibarat pasien yang sakit, ia harus senantiasa mematuhi petunjuk dokternya. Berapa kali ia harus meminum obat dalam sehari, pola makan yang harus dijaga dan hal-hal lain yang diperintahkan oleh sang dokter. Demikian pula pelajar, bila ia ingin sembuh dari penyakit kebodohannya, ia harus menuruti resep pengajaran dari gurunya. Pasien yang susah diatur, banyak menentang dokternya, sulit bagi dia untuk sembuh. 

Senada dengan pendapat KH Hasyim Asy’ari, dalam pandangan kaum shufi, posisi murid di hadapan gurunya, seperti jenazah di tangan orang yang memandikannya. Ia harus pasrah secara total, mau dimandikan dalam posisi bagaimanapun. Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

يتعين عليه الاستمساك بهديه والدخول تحت جميع أوامره ونواهيه ورسومه حتى يصير كالميِّت بين يدي الغاسل ، يقلبه كيف شاء

“Seharusnya murid berpegangan kepada petunjuk gurunya, tunduk patuh atas segala perintah, larangan dan garis-garisnya, sehingga seperti mayit di hadapan orang yang memandikan, ia berhak dibolak-balik sesuka hati.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, juz 1, hal. 56)

Keempat, memandang guru dengan pandangan memuliakan.

Inilah salah satu cara yang lebih mendekatkan untuk mendapat ilmu yang bermanfaat menurut pandangan KH. Hasyim Asy’ari. Pelajar wajib memandang gurunya dengan penuh takzim. Tidak diperbolehkan bagi pelajar memandang remeh gurunya, merasa ia lebih pandai dari pada gurunya. Santri hendaknya memilik itikad yang baik terhadap gurunya, menganggap bahwa gurunya berada pada derajat kemuliaan. Beliau mengutip statemen sebagian ulama salaf:

من لا يعتقد جلالة شيخه لايفلح

“Barangsiapa tidak meyakini keagungan gurunya, tidak akan bahagia.”

Tidak etis murid menyebut gurunya hanya dengan namanya, tanpa diberi gelar kehormatan. Atau memanggil gurunya dengan ‘kamu’, ‘anda’ atau panggilan-panggilan yang merendahkan. Setiap menyebut gurunya saat beliau tidak ada, sebutlah dengan sebutan yang layak dan baik. Jangan ragu untuk bilang “guruku” “kiaiku yang alim”, “ustadzku yang cerdas”, dan sebutan-sebutan yang sejenis. 

Kelima, tidak melupakan jasa-jasa guru.

Pelajar hendaknya mengenali hak gurunya, tidak melupakan jasanya, senantiasa mendoakannya, baik saat masih hidup atau setelah meninggal dunia. Juga perlu memuliakan kerabat, rekan dan orang-orang yang dicintai gurunya. Setelah gurunya wafat, sempatkan waktu untuk berziarah dan memintakan ampunan kepada Allah untuk sang guru di depan kuburnya. Dalam segala tingkah laku, metode pengajaran, amaliyyah dan hal-hal positif lainnya, hendaknya menirukan cara-cara yang ditempuh oleh gurunya. Demikianlah pelajar yang sesungguhnya menurut KH Hasyim Asy’ari, selalu memegang teguh prinsip gurunya.

Keenam, sabar menghadapi gurunya

Manusia tidak lepas dari luput dan salah, tidak terkecuali seorang guru. Sebagaimana manusia lainnya, tidak mungkin seorang guru bersih dari kesalahan. Terlebih saat banyak pikiran, terkadang emosi sulit dikendalikan. Maka dari itu, murid harus bisa memaklumi sikap gurunya yang terkadang membuat jengkel. Kendati gurunya melakukan kesalahan atau berlaku keras, hal tersebut tidak menghambat pelajar untuk terus ber-mulazamah (menimba ilmu) dan meyakini kemuliaan gurunya. 

Anjurannya saat perilaku guru secara lahir salah, murid sebisa mungkin mengarahkannya kepada maksud yang baik, membuka pintu ta’wil. Mungkin beliau lupa, mungkin beliau dalam kondisi terdesak dan lain sebagainya. Saat guru memarahi murid, hendaknya murid mengawali untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Sikap yang demikian diharapkan dapat menambah kecintaan guru kepadanya. Justru dengan sering dimarahi gurunya, murid sepantasnya berterima kasih karena hal tersebut merupakan wujud kepeduliaan dan kecintaan, bukan sebuah kebencian. 

Ketika murid dianggap melakukan kesalahan oleh sang guru, hendaknya tidak terlalu banyak beralibi, justru yang ditonjolkan adalah sikap terima kasih kepada guru atas kepeduliaannya. Bila betul-betul ada udzur dan memberitahukannya kepada guru dinilai lebih mashlahat, maka tidak masalah untuk dihaturkan kepada beliau, bahkan bila tidak mengklarifikasi menimbulkan mudlarat, murid harus menjelaskannya kepada guru.

(M. Mubasysyarum Bih)


Bersambung...
Ahad 21 Oktober 2018 14:30 WIB
Macam-macam Lafal Hamdalah Menurut Para Ulama
Macam-macam Lafal Hamdalah Menurut Para Ulama
Ilustrasi (portalb.mk)
Bacaan hamdalah atau alhamdulillah (pujian kepada Allah) biasa kita ucapkan dan kita dengar sehari-hari. Dalam artikel sebelumnya, telah dijelaskan beberapa hal yang disunnahkan untuk mebaca hamdalah. Selain itu, Imam an-Nawawi juga menjalaskan macam-macam lafal hamdalah menurut para ulama, selain lafal alhamdulillah yang biasa kita ucapkan.

Imam an-Nawawi dalam al-Adzkâr an-Nawâwî menyebutkan bahwa para ulama khurasan biasanya membaca hamdalah dengan kalimat majami’ alhmdu atau hamdalah yang agung, yaitu:

الْحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

Alhamdulillâhi hamdan yuwâfî ni’amahu wa yukâfiu mazîdah

Artinya: “Segala puji bagi Allah dengan Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan mencakup tambahannya.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.)

Para ulama lain, menurut an-Nawawi juga membaca lafal berikut:

لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Lâ uhsi tsanâ’an ‘alaika kamâ atsnaita ‘alâ nafsik.

Artinya: “Aku tidak bisa menghitung pujian kepadamu sebagaimana engkau memuji dirimu sendiri.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.)

Selain itu, beberapa ulama juga menambahkan kata “subhanaka” di awal dan kata “fa laka alhamdu ḥatta tardho” di akhir kalimat tersebut.

سُبْحَانَكَ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ اْلحَمْدُ حَتَّي تَرْضَى

Subhânaka Lâ uhsi tsanâ’an ‘alaika kamâ atsnaita ‘alâ nafsik fa laka-l-hamdu hattâ tardlâ.

Artinya, “Maha Suci Engkau yang aku tidak bisa menghitung pujian kepadamu sebagaimana engkau memuji dirimu sendiri, maka untukmu segala puji hingga engkau ridha.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.)

Dalam sebuah hadits, Nabi Adam pernah diberikan wirid khusus dari Allah ﷻ yang disebut sebagai majami’ alhamdu, yaitu pujian yang paling lengkap.

قال آدم صلى الله عليه وسلم : يا رب شغلتني بكسب يدي ، فعلمني شيئا فيه مجامع الحمد والتسبيح ، فأوحى الله تبارك وتعالى إليه : يا آدم إذا أصبحت فقل ثلاثا ، وإذا أمسيت فقل ثلاثا : الْحَمدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ ، فذلك مجامع الحمد والتسبيح

Artinya, “Adam alaihissalam berkata: “Ya Allah Engkau membuatku sibuk dengan usaha dari tanganku, maka ajarkanlah aku sesuatu yang di dalamnya terkumpul seluruh pujian dan tasbih. Maka kemudian Allah memberikan wahtu kepada Adam. “Ya Adam, jika tiba waktu pagi ucapkanlah sebanyak tiga kali, jika tiba waktu sore, ucapkanlah tiga kali lafal ini: Alhamdulillâhi rabbil 'âlamîn hamdan yuwâfî ni’amahu wa yukâfiu mazîdah (Segala puji bagi Allah dengan Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmatNya dan mencakup tambahannya). Itu adalah himpunan pujian dan tasbih. (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nâwâwî, [Beirut: Dâr Kutub Islamiyah, 2004 M], j. 1, h. 174.) Wallahu a’lam.

(Muhammad Alvin Nur Choironi)