IMG-LOGO
Ubudiyah

Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (III-Habis)

Senin 5 November 2018 11:30 WIB
Share:
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (III-Habis)
Ilustrasi (Tebuireng Online)
Sembilan adab yang dipaparkan sebelumnya telah berbicara banyak tentang sikap-sikap etis yang mesti dilakukan murid terhadap guru. Mulai dari selektif menentukan guru, menaati, memuliakan, sabar, hingga tindak-tanduk ketika berada dalam satu majelis bersama guru. Berikut ini akan dijelaskan tentang tiga adab lain yang menggenapi pembahasan tentang 12 adab seorang santri kepada gurunya sebagaimana dipaparkan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adab al-Alim wa al-Muta’allim.

Baca juga:
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (I)
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (II)
Kesepuluh, mendengarkan dengan seksama penjelasan guru.

Ketika guru menyampaikan presentasinya, hendaknya didengarkan dengan penuh khidmat, meski pelajar sudah hapal atau mendengar penjelasan gurunya. Sebaiknya mendengar layaknya orang yang baru mengetahui, dengan riang gembira dan penuh antusias. Tidak justru mengabaikan atau menganggap maklum. 

KH. Hasyim Asy’ari memberi contoh keteladanan pada diri Imam Atha’, salah satu pakar fiqih dan hadits di masanya. Imam Atha’ menanggalkan segala atribut kebesarannya setiap kali mendengarkan hadits dari siapapun, beliau senantiasa menyimaknya dengan sungguh-sungguh, seolah beliau baru pertama kali mengetahui, meski mendengar dari para pemula. Padahal beliau sudah hafal di luar kepala, bahkan mengetahui detail-detail sanad dan para perawinya. 

Imam Atha’ mengatakan:

إني لأسمع الحديث من الرجل وأنا أعلم به منه فأريه من نفسي أني لا أحسن منه شيأ

“Sungguh aku mendengar hadits dari seseorang yang aku lebih mengetahui dari pada dia, kemudian aku yakinkan pada diriku, bahwa aku sama sekali tidak mengetahui hadits tersebut.”

Diriwayatkan juga dari Imam Atha’ beliau mengatakan:

إن بعض الشبان ليتحدث بحديث فأستمع له كأني لم أسمعه ولقد سمعته قبل أن يولد

“Sesungguhnya sebagian pemuda berbicara tentang hadits lalu aku mendengarkannya seakan aku belum pernah mendengarnya, sesungguhnya aku telah mendengarnya sebelum mereka lahir.”

Pendapat KH. Hasyim Asy’ari ini senada dengan pemaparan Syekh al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Menurut al-Zarnuji, pelajar yang baik dan ahli ilmu adalah ia yang selalu antusias mendengarkan ilmu, meski berulang-ulang ia dengar. Al-Zarnuji menegaskan:

وينبغى لطالب العلم أن يستمع العلم والحكمة بالتعظيم والحرمة، وإن سمع مسألة واحدة أو حكمة واحدة ألف مرة. وقيل من لم يكن تعظيمه بعد ألف مرة كتعظيمه فى أول مرة فليس بأهل العلم

“Seyogyanga bagi pencari ilmu mendengarkan ilmu dan kalam hikmah dengan menaggungkan dan memuliakan, meski ia telah mendengar satu permasalahan sebanyak seribu kali. Diucapkan, orang yang mengagungkannya setelah yang ke seribu kali tidak seperti saat ia baru pertama mendengar, maka bukan ahli ilmu.” (al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, hal. 30).

Ketika gurunya bertanya apakah murid sudah pernah mendengar penjelasan yang hendak disampaikan guru, tidak pantas bagi pelajar untuk menjawab iya atau tidak. Tidak layak menjawab iya, karena mengesankan ketidakbutuhan kepada penjelasan guru. Pun demikian dengan jawaban tidak, kesalahannya karena ia telah berbohong. Jawaban yang tepat adalah dengan meminta gurunya tetap menjelaskan tanpa harus berbohong atau menyinggung perasaan gurunya, misalkan dengan berucap “aku sangat senang mendengarnya dari engkau.”

Kesebelas, tidak mendahului keterangan guru.

Saat berada dalam sebuah forum bersama guru, hendaknya murid tidak mendahului atau membarengi guru untuk menjelaskan permasalahan atau menjawab sebuah pertanyaan. Pelajar juga tidak boleh memotong pembicaraan guru dengan perkataan apapun, ia harus bersabar sampai guru menyelesaikan perkataannya. Saat guru memberikan arahan, tidak baik untuk berbicara sendiri. Konsentrasi murid harus tercurahkan dengan baik saat mendengarkan perintah, nasehat atau pertanyaan gurunya, jangan sampai gagal fokus, usahakan guru tak perlu lagi mengulangi perkataannya.

Keduabelas, menjaga etika saat menerima atau memberi sesuatu dari guru.

Ketika guru memberinya tugas, hendaknya menerima dengan tangan kanan. Bila berupa lembaran, maka dibaca dengan memegangnya, jika terdapat asma’-asma’ yang dimuliakan, hendaknya diangkat dengan penuh etika. Saat menghaturkannya kembali kepada guru, jangan dikembalikan dalam kondisi terlipat, harus rapih dan tertata, kecuali yakin atau menduga gurunya menghendaki demikian.

Saat menghaturkan buku atau kitab yang hendak dibacakan guru, hendaknya diserahkan dalam keadaan siap saji, sudah diberi batas baca sehingga guru tidak perlu mencari halaman yang hendak dibaca. Demikian pula saat sang guru bertanya batas pelajaran, hendaknya murid menunjukan dengan jelas, membuka kitabnya dengan menunjukan batas pelajaran yang dimaksud. Murid juga dianjurkan untuk tidak menghapus sedikitpun keterangan guru yang ia tulis di kertas atau kitabnya. Demikian pula saat memberikan alat tulis kepada guru, misalkan wadah mangsi, hendaknya tutupnya sudah dibuka dan dipersiapkan, guru tinggal menulis tanpa perlu membukanya.

Dalam memberikan sesuatu yang dibutuhkan guru, hendaknya tidak merepotkan beliau, misalkan menghaturkan buku, hendaknya murid berdiri mendekat gurunya, jangan sampai guru beranjak dari tempat duduknya. Demikian pula ketika menerima alat tulis dari guru, pelajar hendaknya mengulurkan tangannya terlebih dahulu sebelum guru memberikan alat tulis kepadanya.

Posisi duduk dengan guru sebaiknya tidak terlampau dekat sehingga menunjukan etika yang buruk. Saat menerima tugas, usahakan tangan, kaki atau anggota tubuh lainnya tidak melakukan kontak fisik dengan baju, bantal, sajadah atau alas lantainya guru.

Saat menghaturkan pisau, jangan mengarahkan bagian yang tajam, juga tidak dengan menghaturkan bagian rangka pisau dengan menggenggam bagian ujungnya. Etika yang baik adalah diberikan dengan cara memiringkan pisau, bagian tajam pisau mengarah kepada murid, memegangi ujung rangka (bagian tengah yang berdekatan dengan pisau) dan menjadikan rangka di sebelah kanan guru yang hendak menerima pisau tersebut.

Ketika menghaturkan sajadah untuk shalat, hendaknya dibentangkan terlebih dahulu, lalu mempersilahkan guru shalat di atasnya. Etika ini juga berlaku setiap kali murid mengetahui gurunya hendak melakukan shalat. Hendaknya tidak duduk di hadapan guru di atas sajadah atau shalat di atasnya kecuali karena faktor tempatnya tidak suci atau ada udzur yang menuntut mengenakan sajadah. Saat guru beranjak dari tempat shalat, sebaiknya murid bergegas mengambilkan sajadahnya dan memperisapkan sandalnya, yang demikian itu dilakukan untuk mecari ridlo Allah dan guru.

Menurut Hadlratus Syekh, ada empat hal yang diperhatikan orang mulia meski ia sudah menjadi raja. Pertama, berdiri dari tempat duduk untuk menghormati ayah. Kedua, melayani cendekia yang mengajarkannya. Ketiga, bertanya hal-hal yang tidak diketahui. Keempat, memuliakan tamu.

Prinsip Etika kepada Guru

Pada prinsipnya seorang pelajar ditekankan untuk menjaga etika dengan gurunya, baik dalam perilaku, ucapan dan perbuatan. Pelajar juga dituntut untuk khidmah kepada gurunya, memberikan kenyamanan dan pelayanan yang sempurna kepadanya. 

Saat berjalan bersama guru, hendaknya berada di depan saat malam hari dan berada di belakangnya di siang hari, kecuali bila situasi menuntut sebaliknya, misalkan karena berdesakan atau lainnya. Di tempat-tempat yang becek misalnya, pelajar harus menjadi yang terdepan untuk melindungi gurunya, jangan sampai percikan air mengotori baju sang guru. Saat berada dalam situasi berdesakan, hendaknya menjaga guru dengan tangannya, bisa dari arah belakang atau depan.

Saat berjalan di depan guru, sesekali memantau ke arah belakang untuk mengetahui keadaan dan kenyamanan beliau. Saat gurunya mengajak bicara di tengah perjalanan, sebaiknya berada di sebelah kanan guru, ada pula yang menganjurkan sebelah kiri, dengan posisi sedikit lebih maju dan menengok ke arah guru.

Tidak baik berjalan di samping guru kecuali ada hajat atau diperintahkan guru. Sebaiknya menghindari berdesakan dengan pundak guru atau kontak fisik dengan baju guru, usahakan agak jauh, menjaga jarak.

Saat cuaca panas, gurunya diberikan tempat yang rindang, saat cuaca dingin diberi tempat yang hangat, namun tidak sampai terkena sorotan sinar matahari yang mencolok sehingga mengganggu kenyamanan guru. Hendaknya tidak berjalan di antara guru dan orang yang sedang berbincang dengan beliau, yang baik adalah mengambil posisi mundur atau maju, tidak mendekat, tidak menengok serta tidak menguping pembicaraan mereka. Bila pelajar dipersilahkan masuk mengikuti perbincangan sebaiknya masuk dari arah yang berbeda.

Saat bertemu guru di jalan, mulailah berucap salam kepadanya bila jaraknya dekat. Bila jauh, maka tidak perlu berteriak atau memanggilnya, cukup bersiap diri untuk menyampaikan salam. Tidak baik mengucapkan salam dari tempat yang jauh atau dari balik tirai, yang tepat adalah mendekat kepada guru baru mengucapkan salam. 

Tidak layak mengambil rute perjalanan tanpa dimusyawarahkan atau meminta izin terlebih dahulu kepada guru. Saat pelajar sampai di kediaman guru, jangan berdiri di depan pintu, khawatir berpasasan dengan keluarga atau penghuni rumah yang tidak disukai guru dilihat oleh orang lain. Saat gurunya turun dari kendaraan, hendaknya pelajar mendahului, berjaga-jaga bila sang guru terpeleset, bisa berpijak di pundaknya. 

Murid boleh saja tidak sama dengan hasil pemikiran gurunya, bila menurut pelajar pendapat guru kurang tepat, hendaknya tidak menyalahkan atau merendahkan. Misal berucap “ini salah”, “ini bukan pendapat yang benar.” Namun sebaiknya dengan bahasa yang sopan dan santun, misalkan berucap “pendapat yang jelas adalah mashlahatnya menuntut demikian”, tidak baik menyampaikan dengan bahasa yang membanggakan pendapatnya sendiri, misalkan “menurutku yang benar demikian” atau ucapan-ucapan yang sejenis.

Demikianlah adab-adab pelajar kepada guru dalam pandangan KH. Hasyim Asy’ari, bila etika-etika tersebut dijalankan dengan baik, maka sangat besar peluang murid untuk mendapatkan keberkahan dan ilmu yang bermanfaat. Dengan adab-adab tersebut para ulama bisa sukses dalam belajar. Semoga kita sedikit-sedikit bisa meneladaninya. Amin. Wallahu a’lam. (M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Senin 5 November 2018 17:30 WIB
Rebo Wekasan, Hari Untung Bukan Buntung
Rebo Wekasan, Hari Untung Bukan Buntung
Ada keyakinan yang populer di sebagian kalangan kaum muslimin Indonesia bahwa hari Rabu terakhir bulan Shafar adalah hari yang teramat sial. Keyakinan ini didasarkan pada keterangan sebagian ulama tasawuf yang konon melihat turunnya ribuan bala’ (musibah) pada hari tersebut. Keterangan tersebut banyak diikuti dan diyakini sebagai sebuah kebenaran oleh sebagian kalangan sehingga untuk menepis bala’ tersebut kemudian dilakukan beberapa adat istiadat yang dianggap ampuh untuk menanggulanginya.

Dari sudut pandang aqidah, keyakinan seperti itu sebenarnya justru membuka pintu bala’ itu sendiri sebab Allah memang menyesuaikan rahmat atas seorang hamba sesuai dengan prasangka hamba itu sendiri. Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi sebagaimana berikut:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

"Aku sesuai persangkaan hambaku tentang diriku." (Muttafaq ‘Alaihi)

Berdasarkan hadits itu, daripada meyakini hari tersebut sebagai hari sial, kenapa kita tak meyakininya sebagai hari penuh berkah saja? Meyakini hari Rabu sebagai hari berkah justru punya landasan aqidah yang kuat. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa hari Rabu adalah hari di mana Allah menciptakan nur (cahaya) alam semesta. 

خَلَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ، ...، وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ

“Allah Yang Maha Agung menciptakan tanah di hari Sabtu, ...  dan menciptakan cahaya di hari Rabu...” (HR. Muslim)

Di hadits sahih lainnya, seperti diriwayatkan Imam Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, justru hari Rabu adalah hari di mana doa Nabi dikabulkan setelah sebelumnya berdoa mulai senin di masjid al-Fath. Akhirnya, Sahabat Jabir bin Abdullah apabila mempunyai perkara penting beliau berdoa di hari Rabu di antara shalat Dhuhur dan Ashar, yang dia buktikan itu sebagai waktu mustajabah. 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ: دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ، مَسْجِدِ الْفَتْحِ، يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الثُّلَاثَاءِ وَيَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ، فَاسْتُجِيبَ لَهُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ قَالَ جَابِرٌ: وَلَمْ يَنْزِلْ بِي أَمْرٌ مُهِمٌّ غائِظٌ إِلَّا تَوَخَّيْتُ تِلْكَ السَّاعَةَ، فَدَعَوْتُ اللَّهَ فِيهِ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ، إِلَّا عَرَفْتُ الْإِجَابَةَ

Dari Abdurrahman bin Ka’ab, dia berkata: “Aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata: “Rasulullah berdoa di masjid ini, masjid al-Fath, pada hari Senin, Selasa dan Rabu, kemudian dikabulkan di hari Rabu di antara waktu dua Shalat [Dhuhur dan Ashar]”. Jabir Berkata: “Tak pernah terjadi hal yang sangat penting bagiku yang aku sengaja menunggu waktu itu kemudian aku berdoa kepada Allah saat itu di antara dua shalat pada hari Rabu, kecuali setahuku pasti dikabulkan.” (al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, halaman 246)

Keistimewaan hari Rabu sebagaimana disebutkan di atas tak hanya berlaku pada tanggal tertentu tetapi berlaku sepanjang masa setiap minggunya, tak terkecuali hari Rabu terakhir bulan Shafar. Terkait dengan mukasyafah (penerawangan) sebagian tokoh Tasawuf bahwa hari Rebo Wekasan merupakan hari buntung, maka perlu diketahui bahwa tokoh Tasawuf tak seluruhnya meyakini demikian. Sebagian justru mengatakan bahwa hari Rabu secara umum adalah hari untung sebab penuh berkah. Imam al-Hafidz as-Sakhawi as-Syafi’i menceritakan tentang orang-orang shalih yang beliau temui. Ia bercerita tentang pengaduan hari Rabu pada Allah sebagai berikut:

وبلغني عن بعض الصالحين ممن لقيناه أنه قال: شكت الأربعاء إلى اللَّه سبحانه تشاؤم الناس بها فمنحها أنه ما ابتدئ بشيء فيها إلا تم
 
"Saya dengar dari sebagian ulama saleh yang kami temui, ia berkata: Hari rabu mengadu kepada Allah tentang anggapan sial orang-orang terhadapnya, maka Allah menganugerahkan bahwa apapun yang dimulai di hari Rabu, maka pasti akan sempurna". (as-Sakhawi, al-Maqâshid al-Hasanah, juz I, halaman 575).

Berdasarkan mukasyafah positif  di atas tentang hari Rabu yang ternyata membawa keberkahan, maka banyak kita dapati para kyai di pesantren memulai kegiatan belajar mengajar di hari Rabu. Sumber cerita Imam as-Sakhawi tersebut jelas bukan hadits sebab tak ada hadits yang berbunyi demikian sehingga pasti dari hasil mukasyafah beberapa waliyullah juga. Jadi, daripada memilih hasil mukasyafah yang hanya berpotensi membuat kita betul-betul sial sebab meyakini adanya kesialan, tentu lebih baik kita memilih mukasyafah yang berkata sebaliknya sehingga Allah akan mewujudkan anggapan positif kita itu menjadi kenyataan, sesuai hadits qudsi di atas. Kisah bahwa hari Rabu sebagai hari sial bisa dibilang “telah dicabut” dengan kisah ini.

Terlepas dari kisah-kisah para wali itu, memilih pesan yang berisi hal-hal positif adalah dianjurkan dalam syariat sebab Nabi kita tak menyukai tathayyur (mengikuti pertanda sial) dan tasya’um (meyakini sesuatu sebagai pembawa sial). Di masa Jahiliyah, banyak sekali tathayyur  dan tasya’um ini, dan beliau melawan itu semua. Beliau mengajarkan umat Islam untuk ber-tafa’ul, yakni memberi kata-kata positif yang diharapkan terwujud. Dalam hadits sahih dijelaskan:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لاَ طِيَرَةَ، وَخَيْرُهَا الفَأْلُ» قَالُوا: وَمَا الفَأْلُ؟ قَالَ: «الكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ. رَواه البخاري 

“Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada pertanda sial dan yang paling baik justru al-fa’l”. Mereka berkata: “Apakah al-fa’l itu?”. Rasul bersabda: “Kalimat yang baik yang kalian dengar”. (HR. Bukhari)

Inilah semangat yang dibawakan oleh Rasulullah untuk melawan dugaan-dugaan yang negatif menjadi optimisme dengan kata-kata yang baik (al-fa’l). Maka jadilah bagian dari perubahan dengan menyebarkan pesan positif ini. Rabu buntung itu dulu, sekarang waktunya diyakini bahwa Rabu itu hari untung. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Ahad 4 November 2018 14:0 WIB
Tidak Setiap Doa Pasti Dikabulkan oleh Allah
Tidak Setiap Doa Pasti Dikabulkan oleh Allah
Ilustrasi (via portalb.mk)
Tidak setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah subhanahu wataâla. Hal ini disebabkan sebuah doa akan dikabulkan oleh Allah jika memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu sebagaimana disinggung oleh Imam Ahmad bin Muhammad As-Shawi Al-Maliki dalam kitabnya berjudul Hasyiatus Shawi ala Tafsiril Jalalain (Beirut, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2017, Juz 3, hal. 392)  sebagai berikut: 

بان الدعاء له شروط، فإذا تخلف بعضها تخلف الإجاب

Artinya, “Sesungguhnya, ada syarat-syarat bagi terkabulnya doa. Maka ketika sebagian syarat tidak terpenuhi, doa tak akan diijabah.”

Persyaratan terkabulnya doa meliputi dua hal, yakni persyaratan yang melekat pada manusia dan persyaratan yang melekat pada Allah subhanahu wataâla. Persyaratan yang melekat pada manusia, berdasarkan beberapa nash di dalam Al-Qur’an dan hadits Rasululullah, antara lain adalah ikhlas, mengikuti petunjuk Rasulullah, mempercayai bahwa Allah akan mengabulkan, dan doa itu dipanjatkan dengan hati yang khusyu’ serta penuh harap kepada Allah.

Baca juga: 
Kenapa Doa itu Sangat Penting?
Pengertian Doa Pasti Terkabul dalam Kajian Aqidah
Sedangkan persyaratan yang melekat pada Allah adalah kehendak-Nya sendiri sebagai penguasa alam. Artinya suatu doa hanya bisa terkabul jika Allah berkenan mengabulkannya. Hal ini berdasarkan penjelasan Syekh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Asy-Syafií Al-Baijuri dalam menafsirkan ayat 41, surat Al-An’am:

 فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ 

“Maka Dia hilangkan bahaya yang kalian mohonkan kepada-Nya jika Dia menghendak.”
 
 على أن الإجابة مقيدة بالمشيئة كما يدل عليه قوله تعالى فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ فهو مقيد لإطلاق الآيتين السابقين فالمعنى ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إن شئت وأجيب دعوة الداعي إن شئت

Artinya:“Sesungguhnya ijabah atau pengabulan sebuah doa terikat dengan kehendak-Nya sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah yang berbunyi: ‘Maka Dia hilangkan bahaya yang kalian mohonkan kepada-Nya jika Dia menghendaki.’ Pengabulan doa ini terikat pada kemutlakan dua ayat sebelumnya. Oleh karena itu makna dari ‘Mintalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan’ itu jika Aku menghendakinya, dan aku kabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Ku, jika aku menghendakinya.” (Lihat Tuhfatul Murid, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cetakan ke-2, 2003, hal. 171). 

Jadi sebuah doa akan dikabulkan oleh Allah jika Ia menghendaki. Jika sebuah doa, sekalipun sudah memenuhi persyarat-persyaratan yang melekat pada manusia dan juga telah sesuai dengan adab berdoa, jika Allah tidak berkenan menghendakinya, maka doa itu tidak akan terkabul. Justru di sinilah Allah menunjukan salah satu bukti Qudrat dan Iradah-Nya. Bagaimanapun Allah adalah Penguasa Tunggal atas Seluruh Alam Raya yang tak satupun makhluk dapat memaksa-Nya. 

Contoh doa yang tidak dikabulkan oleh Allah adalah dua permohonan Rasulullah sebagaimana disampaikan oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais Syuriah PCNU Jombang, dalam kisah Hikmah berjudul “Dua Permohonan Nabi SAW yang Tidak Terkabul” (NU Online, 18 Februari 2016).

Kedua doa itu adalah, pertama, permohonan beliau agar umat beliau (kelak) tidak ber-hizb-hizb (berpartai-partai), ber-firqah-firqah (berkelompok-kelompok), dan berpecah belah. Kedua, agar umat beliau (kelak) satu dengan yang lainnya tidak saling membunuh. Kedua doa itu merupakan penjabaran dari satu doa Rasululah yang tak dikabulkan oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam penggalan hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah berikut ini:

إني صليت صلاة رغبة ورهبة ، سألت الله ، عز وجل ، ثلاثا فأعطاني اثنتين ، ومنعني واحدة . سألته ألا يهلك أمتي غرقا ، فأعطاني وسألته ألا يظهر عليهم عدوا ليس منهم ، فأعطانيها . وسألته ألا يجعل بأسهم بينهم ، فردها علي.

Artinya: ”Aku melakukan shalat raghbah (penuh harap) dan rahbah (takut kepada-Nya), dalam shalatku itu aku memohon kepada Allah tiga perkara. Dia mengabulkan dua perkara sedangkan satunya lagi tidak dikabulkan. Aku memohon agar umatku tidak binasa oleh bencana kelaparan, maka Dia mengabulkan permohonan ini. Aku memohon agar umatku tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka, Dia pun mengabulkannya. Namun ketika aku memohon agar umatku tidak merasakan kekejaman di antara sesamanya, Dia (Allah) tidak mengabulkannya.” 

Sejarah telah mencatat bahwa umat Islam sepeninggal Rasulullah mengalami perpecahan dan bahkan saling bunuh di antara kelompok-kelompok, terutama setelah meninggalnya Khalifah Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu. Menurut KH Abdul Nashir Fattah, aksi saling bunuh di antara umat Islam akan terjadi terus hingga akhir zaman. Hal ini terbukti, misalnya, dengan pecahnya konflik dan perang saudara di negara-negara Timur Tengah hingga saat ini. Di Indonesia aksi terorisme juga banyak merenggut jiwa orang-orang Islam yang tidak berdosa. 

Selain itu, ada satu lagi harapan Rasulullah yang tidak pernah terwujud. Beliau sangat berharap agar Abu Thalib, paman beliau, memeluk Islam dengan beriman kepada Allah. Namun harapan dan upaya beliau mendorong sang paman memeluk Islam tersebut mendapat jawaban dari Allah sebagaimana termaktub dalam Surat al-Qashash, ayat 56 sebagai berikut: 

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”.

Jika terhadap Rasulullah saja, Allah tidak mengabulkan setiap doa beliau, apalagi terhadap kita-kita manusia biasa yang penuh dengan dosa. Oleh karena itu, pemahaman bahwa setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah yang bersumber pada pemahan terhadap surat Al-Mu’min, ayat 60, di dalam Al-Quran, yang berbunyi ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ, perlu diperbaiki. Terjemahan ayat ini bermasalah jika berbunyi: “Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” 

Letak permasalahannya adalah pada penyertaan kata “niscaya”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (kbbi.kemdikbud.go.id), kata tersebut memiliki persamaan makna dengan kata “pasti”. Oleh karena secara faktual tidak setiap doa pasti dikabulkan oleh Allah, maka ayat tersebut cukup diterjemahkan: “Berdoalah kalian kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” 

Jadi kalimat dalam ayat tersebut harus dipahami sebagai kalimat bersyarat bahwa sesuatu akan terjadi jika persyaratan dipenuhi. Dalam hal ini Allah akan mengabulkan doa seorang hamba jika persyaratan yang melekat padanya dipenuhi, terlebih persyaratan yang melekat kepada Allah sendiri, yakni kehendak-Nya. Hal ini sejalan dengan penjelasan dari Syekh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Asy-Syafií Al-Baijuri sebagaimana telah diuraikan di atas. 

Namun demikian, kata “niscaya” tetap dapat diterima atau disertakan dalam terjemahan ayat ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ dengan catatan kata أَسۡتَجِبۡ tidak diterjemahkan “niscaya Aku kabulkan” tetapi “nisaya Aku jawab”. Kalimat “nicaya Aku kabulkan” mengandung makna bahwa suatu permintaan pasti dipenuhi seperti apa yang diinginkan seseorang. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. 

Sedangkan kalimat “nicaya Aku jawab” mengandung makna bahwa suatu doa atau permintaan pasti dijawab oleh Allah dengan berbagai bentuk kemungkinan seperti pengabulan sepenuhnya atau sebagaian saja, atau diganti dengan hal lain yang lebih bermanfaat, atau ditunda pemenuhannya hingga waktu yang tepat, atau malahan ditolak seperti apa yang dialami oleh Rasulullah ketika beliau memohon agar umatnya tidak merasakan kekejaman di antara sesamanya. 

Kesimpulannya, semua doa pasti dijawab oleh Allah tetapi tidak setiap doa pasti dikabulkan-Nya sebab ada kalanya Allah tidak berkenan mengabulkan sebuah doa. Oleh karena itu setiap doa hendaknya kita ikuti dengan sikap tawakal kita kepada Allah sebab Dia-lah yang mengatur seluruh alam dengan segala permasalahannya. Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Allah Maha Adil dan Bijaksana dengan semua rencana dan keputusan-Nya. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

Jumat 2 November 2018 16:15 WIB
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (II)
Adab-adab Pelajar kepada Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari (II)
Ilustrasi (KH Maimoen Zubair saat mengajar santri-santrinya)
Sebelumnya penulis sudah memaparkan enam adab pelajar kepada gurunya menurut Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Sy’ari, sebagaimana tercantum dalam kitab karya beliau, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim. Dalam tulisan ini, kami jelaskan adab berikutnya dalam pandangan pendiri Nahdlatul Ulama ini.

Ketujuh, meminta izin kepada guru saat memasuki majelisnya.

Hendaknya saat menghadiri majelisnya guru, pelajar terlebih dahulu permisi meminta izin, di mana pun berada, baik saat gurunya sendirian atau bersama orang lain. Kecuali dalam majelis umum yang disediakan untuk siapapun yang mau mengikuti, maka tidak perlu izin. Ketika guru mengetahui keberadaan murid dan tidak mengizinkannya untuk berada di sebuah majelis, maka sebaiknya murid langsung beranjak dan tidak perlu mengulangi untuk meminta izin.

Bila pelajar ragu apakah sang guru mengetahui keberadaannya atau tidak, maka boleh mengulangi untuk meminta izin, namun sebaiknya tidak lebih dari tiga kali. Saat mengetuk pintu kamar sang guru, sebaiknya dengan pelan, sopan, menggunakan kuku, tidak dengan suara keras yang dapat mengganggu kenyamanan beliau.

Saat guru mempersilakan masuk dan yang sowan adalah orang banyak, maka sebaiknya dipimpin oleh murid yang paling utama dan senior, selanjutnya satu persatu dari mereka mengucapkan salam.

Saat sowan menghadap guru, hendaknya dengan penampilan sebaik mungkin, suci dan bersih badan serta pakainnya, kukunya dipotong, wangi baunya. Terlebih saat berada di majelis ilmu, harus lebih perfect lagi penampilannya, sesungguhnya majelis ilmu adalah majelis dzikir dan ibadah.

Saat hendak menemui guru sementara beliau sedang bercakap-cakap dengan orang lain, atau tengah melakukan aktivitas seperti berdzikir, shalat dan lainnya, maka hendaknya murid diam, tidak boleh mengawali pembicaraan. Sebaiknya ucapkan salam dan segera keluar, kecuali gurunya memerintahkan untuk tetap berada di tempat. Saat diam menunggu guru, hendaknya tidak terlalu lama, kecuali bila ada perintah dari guru.

Saat tiba waktu belajar, sementara gurunya belum datang atau sedang istirahat, hendaknya sabar menanti sampai beliau datang, atau boleh juga pulang terlebih dahulu lalu kembali lagi, namun sebaiknya tetap bersabar menunggu guru di tempat mengaji. Pelajar tidak perlu mengetuk pintu guru atau membangunkannya dari istirahat.

Sebaiknya murid tidak membuat-buat waktu sendiri, waktu khusus untuk dirinya yang berbeda dengan teman pelajar lain. Sebab hal demikian termasuk bentuk kesombongan dan tindakan bodoh, berakibat tidak baik kepada guru dan teman pelajar yang lain. Namun, bila sang guru terlebih dahulu menawari memberi waktu khusus, misalkan karena ada udzur yang menghalanginya untuk belajar bersama teman-teman pada umumnya atau guru memiliki pertimbangan tertentu dalam menyendirikannya, maka hal tersebut tidak bermasalah.

Kedelapan, duduk bersama guru dengan penuh etika.

Saat menghadap gurunya, hendaknya dengan posisi yang sopan, semisal duduk berlutut di atas kedua lutut atau seperti duduk tasyahud (namun tidak perlu meletakan kedua tangannya di atas kedua paha), atau duduk bersila, dengan rendah diri, tenang dan khusyu’, tidak boleh menengok kanan kiri tanpa dlarurat, menghadap gurunya dengan keseluruhan tubuhnya, mendengar perkataan guru dengan seksama, memandangnya, mencermati arahannya sehingga guru tidak perlu mengulangi lagi penjelasannya. Tidak perlu menengok kanan-kiri atau arah atas tanpa ada hajat, terlebih saat guru membahas pelajar. Saat ada keramaian di tengah-tengah pelajaran, murid tak perlu belingsatan tak beraturan, dianjurkan tetap tenang.

Dianjurkan pula untuk tidak melipat lengan baju, tidak bermain-main dengan kedua tangan atau kakinya atau anggota tubuh yang lain, tidak membuka mulut, tidak menggerakan gigi, tidak memukul lantai atau benda lainnya, tidak menggenggam jari jemari, tidak bermain-main dengan sarung atau pakainnya, tidak bersandar di tembok atau bantal, tidak membelakangi gurunya, tidak menceritakan hal-hal yang menertawakan atau perbincangan yang tidak pantas.

Tidak banyak tertawa berlebihan di hadapan guru, bila terpaksa harus tertawa dianjurkan tersenyum tanpa bersuara. Sebisa mungkin tidak berdehem, saat terpaksa bersin, hendaknya mengecilkan volume suaranya sebisa mungkin serta menutupi wajahnya dengan sapu tangan. Ketika menguap, dianjurkan menutup mulut.

Di majelisnya guru, hendaknya menjaga adab beserta rekan-rekannya guru dan segenap hadirin. Selayaknya menghormati teman-teman sang guru atau para seniornya, sesungguhnya bersikap santun kepada mereka adalah bagian dari beradab kepada guru dan menghormati majelisnya. Dianjurkan pula untuk tidak maju atau mundur dari barisan dengan niat membuat halaqah sendiri, tidak berbicara menyimpang saat pelajaran berlangsung atau pembicaraan yang dapat memotong pembahasan.

Ketika sebagian siswa berlaku buruk kepada rekan yang lain, hendaknya tidak membentaknya, hanya gur yang berhak melakukannya, kecuali mendapat mandat dari guru. Ketika gurunya dicaci, wajib bagi segenap siswa secara kolektif untuk membela gurunya, memperingatkan pihak yang mencaci, bila perlu membentaknya. Dianjurkan pula tidak mendahului guru dalam menjelaskan sebuah permasalahan atau menjawab pertanyaan kecuali atas seizinnya. 

Termasuk memuliakan guru adalah tidak duduk di sampingnya, tempat salatnya atau selimutnya. Bila gurunya yang memerintahkan, maka sebaiknya menolak, kecuali ia betul-betul yakin gurunya merasakan keberatan atas penolakannya.

KH. Hasyim Asy’ari selanjutnya menyinggung perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai mana yang lebih utama antara mematuhi perintah guru atau menempuh jalan adab. Menurut pandangan Hadlratus Syekh, diperinci. Mematuhi perintah guru lebih utama jika sang guru betul-betul menekankan perintahnya tersebut. Namun bila tidak demikian, maka lebih baik menempuh jalan adab, meski dengan menolak perintah guru. Sebab, bisa jadi gurunya sebatas ingin menguji tatak rama muridnya dan sebatas mana kepedulian siswa terhadap sang guru. 

Kesembilan, berbicara yang baik kepada guru.

Sebisa mungkin murid menghindari perkataan “kenapa?”, “saya tidak setuju”, “dari mana keterangannya” dan ucapan protes lainnya di hadapan guru. Bila maksudnya adalah untuk meminta penjelasan dari guru, maka hendaknya dengan tutur kata yang sopan dan pelan-pelan. Lebih baik lagi disampaikan di kesempatan yang lain dengan niatan meminta penjelasan, bukan bermaksud menguji atau menentang gurunya.

Bila penjelasan guru berbeda dengan tokoh yang lain atau literatur yang dibaca murid, tidak sopan pelajar membandingkannya di hadapan guru, misalkan “yang saya dengar anda menjelaskan demikian, sedangkan menurut Syekh ini demikian, menurut kitab ini demiian” “apa yang anda jelaskan tidak benar” dan perkataan yang semisalnya.

Saat guru keliru menjelaskan, murid harus memaklumi. Hal yang demikian hendaknya tidak mengurangi sedikitpun ta’zhimnya kepada sang guru. Sesungguhnya kekeliruan adalah hal yang wajar pada diri manusia, keterjagaan hanya dimiliki oleh para nabi ‘alaihimus shalatu was salam.

(M. Mubasysyarum Bih)

Bersambung….