IMG-LOGO
Ubudiyah

Kenyang sebelum Makanan Habis, Apa yang Harus Dilakukan?

Rabu 7 November 2018 20:0 WIB
Share:
Kenyang sebelum Makanan Habis, Apa yang Harus Dilakukan?
Ilustrasi (via Pinterest)
Sebagian masyarakat seringkali merasa dilematis saat makanan mereka tidak habis dan kondisi perut sudah terasa kenyang. Pada saat keadaan seperti inilah mereka dihadapkan pada dua pilihan antara menghabiskan makanan atau justru menyudahi makanan seketika itu juga. Ada yang memilih untuk menghabiskan makanan dengan dalih bahwa tidak menghabiskan makanan dan membiarkannya tidak termakan adalah perbuatan mubazir atau menyia-nyiakan harta, perbuatan ini jelas dilarang oleh syariat. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا* إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanandan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat inkar kepada tuhannya” (QS. Al-Isra’, Ayat 26-27). 

Sedangkan yang memilih menyudahi meneruskan makan saat sudah kenyang juga memiliki landasan bahwa makan di atas rasa kenyang (akl fauqa as-syiba’) adalah perbuatan yang juga dilarang oeh syariat, karena tergolong sebagai perbuatan israf yaitu berlebih-lebihan. Larangan ini seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an:

وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah kalian dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf, Ayat 31)

Berdasarkan berbagai dalil dan ketentuan di atas, manakah yang di dahulukan antara keduanya?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut kiranya patut dipahami secara utuh apakah benar logika yang disampaikan bahwa tidak meneruskan atau tidak menghabiskan makanan termasuk bagian dari mubazir, seperti halnya yang sudah tertancap dalam persepsi umum masyarakat? Pada titik inilah perlu ditekankan pengertian dan ketentuan dari mubazir itu sendiri. Mubazir memiliki arti menggunakan sesuatu tidak pada tempat yang selayaknya, atau dalam istilah lain biasa dikenal dengan idlâ‘ah al-mâl (menyia-nyiakan harta) misalnya seperti makanan dilempar di jalan, minuman dibuang di tempat sampah, dan contoh-contoh lain yang sama. 

Pengertian ini persis seperti yang dijelaskan dalam kitab Faid al-Qadir:

والسرف صرف الشئ فيما ينبغي زائدا على ما ينبغي والتبذير صرفه فيما لا ينبغي.

“Arti israf adalah menggunakan sesuatu berlebihan dari ketentuan yang dianjurkan. Sedangkan arti mubazir adalah menggunakan sesuatu pada tempat yang tidak dianjurkan” (Abdurrouf al-Munawi, Faid al-Qadir, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1994, juz 5 Hal. 131)

Jika dipandang dari sudut pandang pengertian mubazir saja seolah-olah permasalahan ini (kenyang sebelum makanan habis) terhimpun dalam kategori mubazir. Yaitu ketika seseorang membiarkan makanannya tidak habis. Namun rupanya secara ketentuan dari haramnya mubazir atau menyia-nyiakan harta hanya terlaku dalam penggunaan yang muncul dari sebuah perbuatan seseorang (fi’lu) sehingga tidak mencakup terhadap membiarkan makanan untuk tidak dihabiskan, sebab hal ini tergolong bagian dari meninggalkan pekerjaan (tark) yang tidak sampai terkena hukum haram untuk dilakukan. Seperti yang tersirat dalam teks I’anah at-Thalibin:

ويكره أيضا ترك سقي الزرع والشجر عند الامكان لما فيه من إضاعة المال. فإن قيل: إضاعة المال تقتضي التحريم. أجيب: بأن محل الحرمة حيث كانت الاضاعة ناشئة عن فعل كإلقاء متاع في البحر بلا خوف ورمي الدراهم في الطريق، بخلاف ما إذا كانت ناشئة عن ترك عمل كما هنا فإنها لا تحرم، ولكنها تكره، كما علمت.

“Dimakruhkan pula membiarkan tanaman dan pepohonan tidak disirami air meski dalam keadaan bisa melakukannya. Sebab hal ini tergolong menyia-nyiakan harta. Jika dikritisi “menyia-nyiakan harta menuntut hukum haram (kenapa dalam permasalahan ini dihukumi makruh?)” maka Aku menjawabnya: “Haramnya menyia-nyiakan harta hanya ketika muncul dari sebuah perbuatan seperti membuang harta di laut tanpa adanya rasa khawatir (kapal tenggelam karena keberatan muatan), membuang uang di jalan. Berbeda ketika menyia-nyiakan harta muncul dari meninggalkan perbuatan (membiarkan harta) seperti dalam permasalahan ini. Maka hal ini tidak sampai dihukumi haram, tetapi hanya sebatas makruh, seperti halnya yang telah engkau ketahui” (Sayyid Abu Bakar Syatho’ Al-Dimyathi, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, Juz 4, Hal. 108)

Berdasarkan pemahaman referensi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi sebagian masyarakat mengenai mubazir dalam hal tidak menghabiskan makanan saat kenyang adalah hal yang keliru. Sehingga dalam keadaan demikian, sikap yang baik bagi seseorang adalah menyudahi makanannya saat sudah merasa kenyang, agar terhindar dari perbuatan israf (berlebih-lebihan) yang dilarang oleh syara’. 

Belum lagi ketika kita meninjau berbagai mudarat yang dihasilkan dari rasa kenyang bagi seseorang, seperti yang disinggung oleh Imam Syafi’i:

لأنّ الشبع يثقل البدن ويقسي القلب ويريل الفطنة ويجلب النوم ويضعف عن العبادة

"Karena kekenyangan akan memberatkan badan, mengeraskan (menghilangkan kepekaan) hati, menghilangkan kecerdasa, menarik rasa kantuk dan melemahkan (Seseorang) dalam ibadah" (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, Beirut, Muasssasah Ar-Risalah, 1993, juz 10, hal, 36)

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa tindakan yang baik untuk diambil dalam keadaan demikian adalah menyudahi makanannya dan membiarkan makanan itu tidak habis, sebab hal ini tidak termasuk bagian mubazir yang diharamkan oleh syariat. Terlebih jika makanan yang tidak kita habiskan tersebut masih bisa kita manfaatkan untuk hal lain yang mendatangkan nilai ibadah, seperti disedekahkan pada orang lain yang tidak mampu. Maka hal demikian justru akan mendatangkan pahala tersendiri. Wallahu a’lam. 

(M. Ali Zainal Abidin)

Share:
Selasa 6 November 2018 20:15 WIB
Rahasia Para Kiai Sering Memulai Pelajaran di Hari Rabu
Rahasia Para Kiai Sering Memulai Pelajaran di Hari Rabu
Ilustrasi: KH Said Aqil Siroj saat ngaji bersama KH Anwar Manshur di Lirboyo
Ada sebuah aturan tak tertulis yang berlaku di kebanyakan pesantren, di mana para Kiai biasanya memulai kegiatan pembelajaran di hari Rabu. Biasanya, pengajian kitab baru atau memulai lagi sebuah kajian setelah habis masa liburan pesantren dilakukan di hari Rabu atau malam Rabu. Hal ini ternyata bukan hanya kebetulan atau kebiasaan tak bermakna tetapi ada rahasia di balik itu.

Dalam sebuah hadits shahih tentang penciptaan alam semesta, dijelaskan bahwa Allah menciptakan cahaya di hari Rabu. Sebab ilmu juga dikenal sebagai cahaya bagi pemiliknya, maka dengan memulai kajian ilmu di hari Rabu diharapkan kajian tersebut bisa sempurna seperti sempurnanya cahaya yang diciptakan Allah untuk menyinari dunia. 

Tafâ’ul atau harapan berisi optimisme seperti ini dikenal sejak dahulu kala. Imam al-Ajluni (1676-1749 M), seorang pakar hadits dari Suriah dalam kitab Kasyf al-Khafâ’-nya menjelaskan:

وذكر برهان الإسلام عن صاحب الهداية أنه ما بدئ شيء يوم الأربعاء إلا وتم؛ فلذلك كان المشايخ يتحرون ابتداء الجلوس فيه للتدريس لأن العلم نور، فبدئ به يوم خلق النور

“Syekh Burhanuddin menyebutkan dari pengarang kitab al-Hidayah bahwasanya tidaklah sesuatu dimulai di hari Rabu kecuali menjadi sempurna. Maka karena itu, para guru berusaha memulai majelis di hari Rabu untuk mengajar sebab ilmu adalah cahaya, maka kajian ilmu dimulai di hari diciptakan cahaya.” (al-Ajluni, Kasy al-Khafâ’, juz I, halaman 19)

Itulah rahasia hari Rabu yang diyakini sebagai hari berkah sebab segala sesuatu yang dimulai di hari itu insyaallah akan berakhir sempurna. Keyakinan keberkahan hari Rabu ini bisa dilacak lebih jauh lagi ke masa Imam as-Sakhawi (1427-1497 M). Beliau menjelaskan:

وبلغني عن بعض الصالحين ممن لقيناه أنه قال: شكت الأربعاء إلى اللَّه سبحانه تشاؤم الناس بها فمنحها أنه ما ابتدئ بشيء فيها إلا تم. 

"Saya dengar dari sebagian ulama saleh yang kami temui, ia berkata: Hari rabu mengadu kepada Allah tentang anggapan sial orang-orang terhadapnya, maka Allah menganugerahkan bahwa apa pun yang dimulai di hari Rabu, maka pasti akan sempurna." (As-Sakhawi, al-Maqâshid al-Hasanah, juz I, halaman 575)

Wallahu a’lam


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember
Selasa 6 November 2018 19:15 WIB
Melanjutkan Berdzikir atau Menerima Tamu, Mana yang Didahulukan?
Melanjutkan Berdzikir atau Menerima Tamu, Mana yang Didahulukan?
Dzikir secara bahasa memiliki arti mengingat atau menyebut. Kata ini kemudian dijadikan istilah bagi setiap bacaan-bacaan dan doa-doa yang diulang-ulang. Cara berdzikir secara umum terbagi menjadi tiga. Pertama, dzikir dengan lisan dan hati. Kedua, dzikir dengan hati. Ketiga, dzikir dengan lisan.

Dipandang dari segi keutamaan, dzikir yang paling utama adalah dzikir yang diucapkan dengan perantara lisan sekaligus dihayati oleh hati. Dengan sama-sama menyinergikan antara lisan dan hati, seseorang akan lebih merasakan nikmatnya melantunkan dzikir yang ia bacakan, serta dzikir itu akan lebih membekas dalam hati, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

“Ingatlah, hanya dengan berdzikir pada Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Berdzikir bisa dilakukan kapan pun selama tidak dilakukan di tempat atau waktu yang tidak layak untuk dibuat dzikir, seperti saat berada di kamar mandi, saat sedang melakukan kemaksiatan dan dalam keadaan-keadaan lain yang terkesan merendahkan terhadap nilai dzikir. Namun ada juga dzikir-dzikir yang memang berasal dari ijazah atau wejangan khusus dari seorang kiai atau guru yang diberikan pada seseorang agar diamalkan pada waktu-waktu tertentu, seperti dzikir yang dibaca hanya pada waktu setelah selesai shalat maghrib, setelah terbitnya matahari, dan waktu-waktu lain yang telah ditentukan oleh seorang mujiz (orang yang mengijazahkan). Dzikir seperti ini harus diamalkan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, tidak diperkenankan baginya untuk mengamalkan dzikir tersebut pada waktu yang lain, sebab akan berpengaruh pada fadhilah (keutamaan) yang terkandung dalam dzikir tersebut.

Seiring dengan padatnya aktivitas yang dijalani seseorang, seringkali ia bersikukuh untuk istiqamah mengamalkan dzikir sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, namun terkadang ia terganggu dengan aktivitas yang bersifat mendadak yang menuntutnya untuk tidak melakukan dzikir pada waktu itu. Seperti saat tengah mengamalkan dzikir, tiba-tiba rumahnya dikunjungi oleh tamu yang mencarinya. Dalam keadaan seperti ini, manakah yang didahulukan? Melanjutkan dzikir yang ia baca sampai selesai, atau berhenti saat itu juga dan bergegas menemui tamu yang mencarinya?

Dalam permasalahan demikian, hendaknya yang dilakukan adalah menyudahi dzikir yang ia baca dan bergegas menemui tamu yang mencarinya dengan niat ia akan melanjutkan bacaan dzikirnya setelah tamu tersebut bergegas pulang. Hal ini dikarenakan bacaan-bacaan dzikir dapat di-qadha untuk dilakukan di waktu yang lain, sedangkan menemui tamu hanya terjadi pada momen-momen tertentu yang seringkali tidak bisa terulang. Sikap seperti ini merupakan sikap yang juga dilakukan oleh para ulama pada zaman dahulu, seperti yang dijelaskan dalam kitab Tadzkir an-Nas:

وقال سيدي رضي الله عنه لبعض زائريه من السادة العلويين إذا جاءني أحد ممّن أحبّه أترك أورادي وأجلس معه. وكان بعض السلف وهو السيد علوي بن عبد الله العيدروس صاحب ثبي يقول: الأوراد تقضى ومجالسة الإخوان لا تقضى

“Junjunganku berkata pada sebagian orang yang mengunjunginya dari golongan Alawiyyin: “ketika datang padaku salah satu dari orang yang aku cintai, maka aku tinggalkan wiridanku dan aku akan menemani duduk bersamanya”. Sebagian Salafus Shalih yaitu Sayyid Alawi bin Abdullah Al-‘Idrus berkata: “Wiridan (dzikir) dapat di-qadha, sedangkan duduk bercengkrama dengan teman-teman tidak dapat di-qadha.” (Sayyid Ahmad bin Hasan bin Abdullah Al-‘Attas, Tadzkir an-Nas, hal. 117)

Begitu juga bisa disamakan dengan permasalahan menemui tamu ini, setiap perbuatan yang faidah dan maslahatnya dipandang lebih besar jika dibandingkan dengan melanjutkan dzikir yang sedang dilakukan. Seperti melakukan amar makruf nahi munkar, menolong orang lain yang butuh pertolongan dan permasalahan lain yang sama. Maka dalam keadaan seperti ini, dianjurkan bagi orang yang dzikir untuk sejenak berhenti dari dzikir yang ia baca untuk melakukan aktivitas yang dipandang lebih besar manfaatnya (Muhammad bin ‘Alan, Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah, hal. 154-155).

Sisi kemaslahatan dan kemanfaatan yang ada pada menemui tamu, amar makruf nahi Munkar di atas dipandang lebih besar jika dibandingkan dengan melanjutkan dzikir dikarenakan dalam dzikir manfaatnya hanya terbatas pada pribadi orang yang berdzikir saja (al-qâshir) sedangkan dalam melakukan aktivitas-aktivitas seperti di atas kemanfaatannya tidak terbatas pada dirinya sendiri namun juga pada orang lain (al-muta’addi). Dalam kaidah fiqih, hal yang manfaatannya berkaitan dengan orang lain, secara umum lebih didahulukan daripada sesuatu yang manfaatnya hanya kembali pada dirinya sendiri (al-muta‘addî afdlalu minal qâshir). 

Demikian penjelasan menyikapi hal-hal yang meenuntut memutus dzikir, dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa nilai ibadah yang bersifat sosial tidak kalah penting dibandingkan ibadah yang bersifat ritual. Oleh sebab itu kadang kala hal kecil yang bermanfaat bagi orang lain lebih besar nilainya di sisi Allah ﷻ dibandingkan dengan ibadah yang bersifat individu. Wallahu a’lam.

(M. Ali Zainal Abidin)

Selasa 6 November 2018 18:15 WIB
Mempercayai Hari Sial Justru Bisa Bikin Sial
Mempercayai Hari Sial Justru Bisa Bikin Sial
Ilustrasi (via Pinterest)
Kepercayaan terhadap adanya hari sial bisa dilacak keberadaannya sejak masa jahiliyah. Hari-hari tertentu dianggap sebagai hari yang membawa petaka atau kesialan, misalnya hari Rabu terakhir setiap bulannya. Keyakinan ini juga tetap ada setelah Islam datang, bahkan hingga kini.

Dalam interaksi sosial, tak jarang kita mendengar bahwa kesialan-kesialan itu nyata dalam arti betul-betul terjadi sesuai tanda-tanda yang ada sehingga pelakunya menyarankan untuk menghindari kesialan tersebut. Berbagai testimoni tentang bahaya hari sial atau tanda-tanda sial itu makin membuat beberapa pihak yakin bahwa hari sial betul-betul ada. Di lain pihak, kita temui juga orang-orang yang sama sekali acuh dan kelihatan tak terpengaruh dengan hari sial atau aneka pertanda sial. 

Dari aspek aqidah, meyakini adanya hari sial cukup bermasalah sebab kesialan atau keberuntungan itu hanya bisa diberikan oleh Allah semata berdasarkan sifat irâdah atau sifat Maha Berkehendak Bebas. Ketentuan beruntung atau sialnya seseorang sudah ditulis di Lauh Mahfudz sejak alam belum tercipta. Sama sekali tak ada hubungannya dengan hari atau momen tertentu. 

Sebab itu, Syekh as-Suhaili, sebagaimana dinukil dalam Kasyf al-Khafâ’ menjelaskan:

وقال المناوي نقلًا عن السهيلي: نحوسته على من تشاءم وتطير، بأن كانت عادته التطير وترك الاقتداء بالنبي -صلى الله عليه وسلم- في تركه، وهذه صفة من قل توكله، فذلك الذي تضر نحوسته في تصرفه فيه ثم قال المناوي: والحاصل أن توقي يوم الأربعاء على وجه الطيرة وظن اعتقاد المنجمين حرام شديد التحريم؛ إذ الأيام كلها لله تعالى لا تضر ولا تنفع بذاتها وبدون ذلك لا ضير ولا محذور، ومن تطير حاقت به نحوسته، ومن أيقن بأنه لا يضر ولا ينفع إلا الله لم يؤثر فيه شيء من ذلك

“Imam al-Munawi berkata dengan menukil dari as-Suhaili: Kenahasan/kesialannya hanya bagi orang yang meyakini bahwa hal itu membawa sial (tasya’um) dan bagi orang yang meyakini tanda-tanda kesialan (tathayyur) berupa kebiasaannya untuk meyakini adanya kesialan melalui tanda-tanda dan meninggalkan ikut Nabi yang meninggalkan keyakinan seperti itu. Ini adalah sifat orang yang sedikit tawakalnya, maka orang itulah yang tertimpa kesialannya ketika melakukan sesuatu di hari itu. 

Kemudian Imam al-Munawi berkata: Kesimpulannya, bahwa orang yang menjaga diri di hari Rabu dengan alasan thiyarah (menjadikannya sebagai tanda kesialan) dan meyakini aqidah ahli nujum adalah tindakan yang sangat haram. Sebab, seluruh hari adalah milik Allah Ta'ala, tak bisa memberikan celaka atau manfaat secara independen dan tanpa hal itu maka tak ada kecelakaan atau pun larangan. Siapa yang meyakini adanya tanda-tanda sial (tathayyur), maka kesialan akan mengepungnya. Siapa yang meyakini bahwa tak ada yang dapat memberi kecelakaan atau manfaat kecuali Allah, maka semua hal itu tak berpengaruh baginya.” (al-Ajluni, Kasy al-Khafâ’, Juz I, halaman 19-20)

Jadi, menurut Imam pakar hadits terkemuka, al-Munawi, hari sial itu pada dasarnya tak ada. Adanya anggapan bahkan hari tertentu atau kejadian tertentu adalah tanda akan terjadinya kesialan justru akan membuat orang yang meyakininya tertimpa kesialan. Adapun orang yang yakin bahwa hal seperti itu sama sekali tak berpengaruh, maka tak ada sama sekali hari sial atau hal-hal pembawa sial baginya. Dengan kata lain, yang menerima efek kesialan hanya mereka yang percaya tathayyur saja. 

Ini menjelaskan kenapa masyarakat perkotaan yang kebanyakan tak mengenal konsep seperti ini menjalani hidupnya dengan normal tanpa terpengaruh hari sial, sedangkan di kalangan masyarakat pedesaan yang masih lekat dengan kepercayaan seperti ini justru banyak ditemukan testimoni kesialan akibat melakukan pantangan di hari sial.

Dari sudut pandang agama, hal ini berkaitan dengan firman Allah dalam hadis qudsi bahwa Allah mengikuti prasangka hamba-Nya tentang Dia. Bila seorang hamba meyakini bahwa Allah akan memberinya kecelakaan atau hal negatif, maka boleh jadi Allah akan menuruti pikiran pesimis itu. Sebaliknya bila seorang hamba yakin bahwa Allah akan memberinya kesuksesan dan keselamatan, maka besar kemungkinan Allah akan menuruti harapan positif itu. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember