IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Walk Out saat Khotbah Jumat karena Berisi Ujaran Kebencian

Jumat 9 November 2018 23:10 WIB
Share:
Hukum Walk Out saat Khotbah Jumat karena Berisi Ujaran Kebencian
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, pengaruh pilkada DKI Jakarta 2017 masuk jauh sampai forum khotbah Jumat. Tidak sedikit khotib di Jakarta terseret arus politik dan menjadikan mimbar khotbah sebagai orasi politik yang mengandung ujaran kebencian bahkan melemparkan tuduhan munafik dan kafir terhadap sesama Muslim.

Apakah saya berdosa ketika seorang khotib menyampaikan materi khotbah yang tidak etis dengan semangat kebencian dan permusuhan, lalu saya keluar dari masjid (walk out) untuk meninggalkan ibadah Jumat dan pulang ke rumah membawa kekecewaan? Saya tidak sendiri. Tetangga dan sebagian karyawan dari kantor di sekitar saya ikut juga walk out. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Beni/Kebayoran Lama)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Walk out atau praktik meninggalkan khotbah Jumat semacam ini pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Bahkan ketika itu, Rasulullah SAW sendiri yang menjadi khatibnya sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim berikut ini.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا

Artinya, “ Dari Jabir bin Abdillah RA bahwa Nabi Muhammad SAW berkhutbah dalam posisi berdiri pada hari Jumat, lalu datang rombongan saudagar berkendaraan unta dari Syam, lalu sebagian besar jamaah Jumat berpaling menyongsongnya hingga tidak ada yang tersisa kecuali dua belas jamaah laki-laki,” (HR Muslim).

Dari hadits ini, diskusi ulama tertuju pada jumlah jamaah shalat Jumat dan praktik walk out oleh sebagian jamaah saat khotbah Jumat berlangsung.

Kedua masalah ini kemudian menentukan keabsahan shalat Jumat sebagaimana keterangan Mazhab Syafi‘i yang memandang kehadiran jamaah dengan bilangan tertentu sebagai syarat berlakunya sebuah rangkaian ibadah Jumat.

وَلَوْ انْفَضَّ الْأَرْبَعُونَ أَوْ بَعْضُهُمْ فِي الْخُطْبَةِ لَمْ يُحْسَبْ الْمَفْعُولُ فِي غَيْبَتِهِمْ

Artinya, “Kalau 40 orang atau sebagiannya memisahkan diri saat khotbah, maka rukun yang sedang dilakukan tidak masuk hitungan saat mereka absen,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajut Thalibin pada Hamisy Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 423).

Syekh M Khotib As-Syarbini dari Mazhab Syafi’i merinci jumlah jamaah Jumat dan jumlah orang yang walk out dalam ibadah Jumat. Selagi jumlah minimal jamaah Jumat terpenuhi, yaitu 40 orang  (syarat dan ketentuan berlaku), maka berapa pun jumlah jamaah yang walk out tidak mempengaruhi keabsahan khotbah.

وقد قال تعالى إذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا [الأعراف]. قال أكثر المفسرين المراد به الخطبة، فلا بد أن يسمع أربعون جميع أركان الخطبتين …والمقصود من الخطبة إسماع الناس، فإذا انفض الأربعون بطل حكم الخطبة، وإذا انفض بعضهم بطل حكم العدد، والمراد بالأربعين العدد المعتبر، وهو تسعة وثلاثون على الأصح، فلو كان مع الإمام الكامل أربعون فانفض واحد منهم لم يضر

Artinya, “ Allah berfirman, ‘Jika dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah,’ (Surat Al-A‘raf ayat 204). Mayoritas ulama tafsir mengatakan, kata ‘Al-Qur’an’ yang dimaksud pada ayat ini adalah khotbah. Jadi tiada jalan lain, 40 jamaah ini harus mendengarkan semua rukun dua khotbah… Tujuan khotbah sendiri adalah memperdengarkannya kepada jamaah. Jika 40 jamaah ini memisahkan diri, maka batal hukum khotbah. Jika hanya sebagian dari 40 jamaah itu memisahkan diri, maka batal hukum jumlah minimal. Yang dimaksud dengan ‘40’ ini adalah bilangan muktabar, yaitu 39 orang menurut qaul yang paling shahih. Tetapi jika ada 40 jamaah dengan seorang imam, lalu seorang dari mereka memisahkan diri, maka tidak masalah,” (Lihat Syekh As-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 423).

Syekh Wahbah Az-Zuhayli menyebut jumlah 40 jamaah menjadi syarat sah Jumat dalam Mazhab Syafi’I sehingga kehadiran mereka untuk mendengarkan khotbah menjadi keharusan.

فلو انفض الأربعون أو بعضهم في الخطبة، لم تصح الجمعة؛ لأن سماع الأربعين جميع أركان الخطبة مطلوب، والمقصود من الخطبة إسماع الناس، فإن نقصوا عن الأربعين قبل إتمام الجمعة استأنفوا ظهراً ولم يتموها جمعة؛ لأن العدد شرط

Artinya, “Kalau 40 orang atau sebagiannya memisahkan diri saat khotbah, maka shalat Jumat tidak sah karena 40 jamaah ini wajib mendengarkan seluruh rukun khotbah. Tujuan khotbah sendiri adalah memperdengarkannya kepada jamaah. Jika jumlah jamaah kurang dari 40 orang sebelum ibadah Jumat kelar, maka mereka harus memulai shalat Zuhur dan tidak melanjutkan ibadah Jumatnya karena jumlah minimal itu menjadi syarat,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 276-277).

Hanya saja semangat walk out di zaman nabi berbeda dengan semangat walk out yang dideskripsikan dalam pertanyaan di atas. Semangat walk out di zaman nabi lebih dilatarbelakangi oleh semangat duniawi. Sebaliknya, praktik walk out yang dideskripsikan dalam pertanyaan di atas justru didorong oleh semangat moral keagamaan yang menghendaki sakralitas mimbar Jumat.

Lalu bagaimana menyelesaikan persoalan ini? Menurut hemat kami, masing-masing pihak baik khotib maupun jamaah yang walk out bersikap ekstrem atau melewati batas. Padahal, khotib dan jamaah Jumat adalah entitas penting yang menentukan keabsahan ibadah Jumat. Tidak akan ada Jumat tanpa jamaah. Sebaliknya, tidak ada Jumat tanpa khotib.

Seharusnya, jamaah yang walk out menahan diri untuk bertahan meskipun khotib memperkosa sakralitas mimbar khotbah Jumat karena ibadah Jumat merupakan kewajiban yang sangat istimewa. Sementara para khotib seharusnya menahan diri untuk membatasi diri pada tujuan mimbar khotbah untuk menyampaikan ketakwaan belaka atau riwayat yang menginspirasi dan tidak menyalahgunakannya untuk menyampaikan aspirasi politik pribadi atau kelompok tertentu.

Selain membatasi durasi khotbah, pihak pengurus atau takmir masjid perlu membuat sejumlah tata tertib untuk para khotib Jumat, tidak segan menegur khotib setelah shalat Jumat, dan memberikan sanksi "pemberhentian" bila perlu. Pilkada DKI Jakarta 2017 merupakan pengalaman penting bagi umat Islam untuk mengambil pelajaran, berbenah, dan mengevaluasi diri.

Pada prinsipnya hukum walk out dari khotbah Jumat dalam kondisi terpaksa boleh. Orang yang walk out dapat menggantinya dengan shalat Zuhur.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Rabu 7 November 2018 14:0 WIB
Hukum Nahi Munkar yang Lahirkan Kemungkaran Lebih Besar
Hukum Nahi Munkar yang Lahirkan Kemungkaran Lebih Besar
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sahabat saya kerap berhadapan dengan kemungkaran di depan matanya. Ia bercerita bahwa ia kerap memergoki sahabat kerjanya menyalahgunakan obat-obatan terlarang di sela istirahat kerja. Bukankah amar makruf dan nahi mungkar adalah wajib? Saya minta masukannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (M Fatih/Bandung)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Amar makruf dan nahi mungkar merupakan fardhu kifayah bagi mereka yang mampu. Tetapi amar makruf dan nahi mungkar menjadi fardhu ain bagi mereka yang menyaksikan langsung kemungkaran tersebut.

Sebagian ulama menyebutkan beberapa syarat amar makruf dan nahi mungkar. Menurut mereka, syarat pertama adalah penguasaan atas pengetahuan syariat perihal hukum yang diamarmakrufkan dan dinahimunkarkan, dalam hal ini hukum penyalahgunaan narkotika.

واعلم) أن لوجوب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر شروطا أحدهما أن يكون المتولي لذلك عالما بما يأمر به وينهى عنه فالجاهل بالحكم لا يحل له الأمر ولا النهي فليس للعوام أمر ولا نهي فيما يجهلونه وأما الذي استوى في معرفته العام والخاص ففيه للعالم وغيره الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر

Artinya, “(Ketahuilah) kewajiban amar makruf dan nahi munkar terdapat beberapa syarat. Salah satunya adalah bahwa orang yang menangani masalah ini memahami hukum yang diamarmakrufkan dan dinahimunkarkan. Orang awam tidak boleh melakukan amar makruf dan nahi munkar pada soal yang mereka tidak mengerti hukumnya. Sedangkan persoalan yang diketahui hukumnya oleh orang awam dan orang alim, maka orang alim dan orang awam boleh melakukan amar makruf dan nahi munkar,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 120).

Sedangkan syarat berikutnya adalah jaminan kepastian atas ketiadaan kemungkaran yang lebih besar bila praktik amar makruf dan nahi mungkar dijalankan. Ketika praktik nahi mungkar melahirkan kemungkaran yang lebih besar, maka praktik ini tidak memenuhi syarat untuk dilanjutkan.

وثانيها أن يأمن أن يؤدي إنكاره إلى منكر أكبر منه كان ينهى عن شرب الخمر فيؤدي نهيه عنه إلى قتل النفس أو نحوه

Artinya, “Kedua, praktik nahi mungkar aman dari lahirnya kemungkaran yang lebih besar karenanya. Misalnya, seseorang melakukan nahi mungkar atas praktik minum khamar, lalu nahi mungkar itu menyebabkan insiden pembunuhan atau insiden lainnya,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 120).

Sahabat saudara penanya dapat melakukan amar makruf dan nahi mungkar terhadap rekan kerjanya bila dalam pertimbangannya tidak terjadi perselisihan yang membawa pembunuhan. Ia dapat mengingatkannya baik-baik atas norma agama, peraturan perusahaan, dan peraturan pemerintah yang berlaku.

Untuk kondisi darurat yang mengancam dan tidak bisa ditunda, sahabat saudara dapat menghentikan kemungkaran itu atau melaporkannya kepada atasan dalam perusahaan tersebut dan pihak berwenang lainnya, terutama sekali bila profesi itu berkaitan dengan hajat hidup banyak orang seperti keselamatan jiwa, berkaitan dengan nasib seseorang, atau berkaitan dengan modal besar perusahaan seperti sopir, masinis, pilot, teknisi listrik, hakim, aparat keamanan, dan profesi lain yang berkaitan dengan publik.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Rabu 31 Oktober 2018 22:40 WIB
Ini Alasan Kenapa Nahdliyin Cinta Habib
Ini Alasan Kenapa Nahdliyin Cinta Habib
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, umat Islam di Indonesia terdiri atas pelbagai etnis. Hanya saja umat Islam di Indonesia tegasnya warga NU sangat mencintai dan menaruh hormat serta takzim lebih tinggi untuk para habib. Hal ini tampak bagaimana ramainya majelis zikir para habib. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Deni Setiawan/Surabaya)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Umat Islam di Indonesia sangat menaruh takzim dan hormat kepada habib atau habaib. Hal ini juga dilakukan oleh nahdliyin atau warga NU. Mereka sangat mencintai keluarga besar Rasulullah SAW. Mereka tidak jarang menjadikan para habib selain para kiai sebagai panutan.

Alasan mereka cukup sederhana. Mereka dalam shalawat dan salam kepada nabi menyertakan para sahabat dan ahlul baitnya. Mereka memahami ahlul bait Rasulullah SAW yang dimaksud adalah para habib.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat perihal siapa yang dimaksud keluarga Nabi Muhammad SAW. Mayoritas ulama berpendapat bahwa keluarga Nabi Muhammad SAW adalah Sayyidina Ali RA, Sayyidatina Fathimah RA, Hasan RA, dan Husein RA.

Menurut jumhur ulama, ahlul bait Rasulullah SAW adalah Sayyidina Ali, Sayyidatina Fathimah RA, Hasan RA, dan Husein RA. Tetapi ada ulama berpendapat bahwa ahlul bait Rasulullah SAW adalah siapa saja yang pernah bertemu pada satu rahim dengan Nabi Muhammad SAW. Ulama lain berpendapat berbeda dari dua pendapat sebelumnya, (Lihat Imam Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 70).

Alasan kaum nahdliyin cukup beralasan. Pandangan mereka sejalan dengan keterangan Syek Ibrahim Al-Baijuri perihal Surat As-Syura ayat 23 di mana Allah memerintahkan umat Islam untuk mencintai kerabat Rasulullah SAW.

عن ابن عباس أنه لما نزل قوله تعالى قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى قالوا يا رسول الله من هؤلاء الذين أمرنا الله بمودتهم قال علي وفاطمة وابناهما والعترة وهم العشيرة وقيل الذرية كذا يستفاد من شرح الفاسي على الدلائل

Artinya, “Dari Ibnu Abbas bahwa ketika  turun firman Allah SWT Surat As-Syura ayat 23, ‘Katakanlah hai Muhammad, ‘Aku tidak meminta upah kepada kalian kecuali rasa cinta pada kerabat.’’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka yang Allah perintahkan kami untuk mencintainya ya rasul?’ Rasulullah menjawab, ‘Ali, Fathimah, kedua anak mereka, dan keturunannya. Mereka adalah keluarga besar.’ Ada ulama yang mengatakan, mereka adalah cucu keturunan keduanya.’ Demikian penjelasan sebagai dikutip dari Syarhul Fasi alad Dala’il, (Lihat Imam Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 70).

Sikap kaum nahdliyin terhadap para habib hingga kini tidak bergeser. Mereka membanjiri majelis-majelis yang dibuka oleh para habib. Mereka bershalawat bersama para habib. Hal ini kiranya yang menjadi alasan masyarakat Islam di Indonesia secara umum mencintai keturunan Rasulullah SAW.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Selasa 30 Oktober 2018 5:30 WIB
Hukum Perempuan Mengantar Jenazah ke Pemakaman
Hukum Perempuan Mengantar Jenazah ke Pemakaman
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, perempuan ikut mengiringkan jenazah ke pemakaman adalah pemandangan tidak lazim pada masa saya kecil. Tetapi pada usia setengah baya ini, saya kerap menyaksikan kaum perempuan mengiringi jenazah di pemakaman baik di dunia maupun di sinetron. Mohon penjelasannya atas gejala tersebut. Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Said Salim/Martapura)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Pada masa dahulu masyarakat menganggap tabu ketika kaum perempuan mengiringkan jenazah hingga ke pemakaman. Bisa jadi mereka pernah mendengar sebagian ustadz atau ustadzah di pengajian bahwa agama melarang perempuan ikut ke pemakaman.

Sebenarnya para ustadz atau ustadzah itu tidak salah juga ketika mereka menyampaikan larangan bagi perempuan untuk mengantarkan jenazah ke pemakaman. Mereka mungkin saja mengetahui larangan tersebut secara lisan atau membaca sendiri hadits riwayat Ummi Athiyyah RA.

عن أم عطية رضي الله عنها قالت نهينا عن اتباع الجنائز ولم يعزم علينا

Artinya, “Dari Ummi Athiyyah RA, ia berkata, ‘Kami dilarang untuk mengiringi jenazah dan larangan itu tidak dikuatkan atas kami,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini mayoritas ulama memutuskan bahwa larangan pengiringan jenazah oleh kaum perempuan bersifat makruh tanzih, tidak sampai makruh tahrim.

نهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو الآمر الناهي والنهي للتنزيه عند جمهور أهل العلم وما تقدم من التحريم فهو عرضي. 

Artinya, “Rasulullah SAW yang bersifat amar makruf dan nahi mungkar melarang kami. Larangan ini bersifat tanzih (makruh yang menyalahi keutamaan) menurut mayoritas ulama. Putusan yang lalu berupa pengharaman bersifat aksiden” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 187).

Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki menambahkan bahwa larangan untuk mengiringi jenazah ke pemakaman tidak sekeras larangan atas perbuatan lainnya. Larangan ini bagi perempuan bersifat longgar.

ولم يعزم علينا أي لم يؤكد علينا في المنع كما أكد علينا في غيره من المنهيات فكأنها قالت كره لنا اتباع الجنائز من غير تحريم، والقول بالكراهة هو قول الجمهور وحملوا أحاديث التشديد على اختلاف حالات النساء 

Artinya, “Larangan itu tidak dikuatkan pada kami, yaitu tidak ditekankan atas kami dalam pelarangannya sebagaimana larangan lain yang ditekankan atas kami. Seolah Athiyyah RA mengatakan, kami dimakruh untuk mengiringi jenazah tanpa keharaman. Pernyataan makruh ini dipegang oleh mayoritas ulama. Mereka menafsirkan hadits yang menyulitkan itu pada kondisi perempuan yang berbeda,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 187).

Dari sini kita dapat memahami bahwa fenomena perempuan yang mengiringi jenazah ke pemakaman bukan larangan keras dalam agama, bahkan dapat dibilang partisipasi perempuan dalam mengiringi jenazah yang sudah sangat lazim di zaman sekarang ini dapat dibenarkan karena memang terdapat hajat.

Kami menyarankan siapa saja baik laki-laki maupun perempuan tetap menjaga adab di jalan, adab di makam, dan adab keluar rumah sepanjang upacara pemakaman jenazah berlangsung.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)