IMG-LOGO
Shalat

Hukum Shalat di Atas Kasur Empuk

Ahad 11 November 2018 10:30 WIB
Share:
Hukum Shalat di Atas Kasur Empuk
Salah satu hal yang diwajibkan dalam melaksakan ibadah shalat adalah berdiam diri atau menetap (istiqrar) di tempat yang bertemu langsung dengan bumi atau lewat perantara yang nantinya jika dirunut ke bawah akan bertemu (muttashil) dengan bumi.  Hal tersebut merupakan ketentuan yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak melakukan shalat dalam seluruh komponen shalatnya.

Selain itu, ada juga syarat lain yang juga harus dipenuhi namun hanya pada permasalahan sujud saja, yaitu objek sujud harus bukan berupa sesuatu yang ia bawa. Karena itu boleh sujud pada ubin bangunan, sajadah, meja, atau sejenisnya sebab semua benda tersebut tidak dikategorikan sebagai benda yang dibawa oleh orang yang shalat. Berbeda halnya ketika seseorang sujud pada selendang yang ia kenakan di bahunya, lalu ketika sujud, selendangnya dijadikan objek dalam melaksanakan sujud. Maka dalam hal demikian, sujudnya danggap tidak cukup dan menyebabkan shalatnya menjadi tidak sah. Sebab selendang yang ia pakai tergolong sebagai benda yang dibawa oleh dirinya, maka ia telah lalai dalam melaksanakan kewajiban yang ada pada sujud ini.

Syarat yang ada dalam sujud ini , sama persis seperti yang dijelaskan dalam kitab Fathul Muin:

قال: (و) سابعها: (سجود مرتين) كل ركعة، (على غير محمول) له، (وإن تحرك بحركته) ولو نحو سرير يتحرك بحركته لانه ليس بمحمول له فلا يضر السجود عليه، كما إذا سجد على محمول لم يتحرك بحركته كطرف من ردائه الطويل.

“Rukun yang ketujuh adalah sujud dua kali setiap rakaat pada benda yang tidak (tergolong) dibawa olehnya, meskipun benda tersebut bergerak dikarenakan gerakannya. Seperti sujud di ranjang (kasur) yang ikut bergerak seiring dengan bergeraknya orang yang shalat, sebab ranjang bukan termasuk kategori benda yang dibawa oleh orang yang shalat, maka sujud pada ranjang tersebut tidak masalah, seperti halnya sujud pada benda yang dibawa oleh orang y ang shalat, namun tidak ikut bergerak seiring dengan gerakannya orang yang shalat. Seperti sujud pada ujung selendang yang sangat panjang” (Syekh Zinuddin Al-Maliabari, Fathul Muin, juz 1  hal. 190)

Berdasarkan referensi di atas, dapat diambil pemahaman bahwa shalat di atas kasur yang empuk, seperti halnya kasur-kasur yang kita temukan dalam kasur jenis spring bed adalah hal yang diperbolehkan dan tidak berpengaruh dalam keabsahan shalat, sebab tidak termasuk kategori benda yang dibawa dan juga jika dirunut kebawah nantinya bertemu langsung (muttasil) dengan bumi. Sehingga baik syarat yang pertama ataupun yang kedua sama-sama terpenuhi. 

Namun meski diperbolehkan melakukan shalat di kasur ini, orang yang shalat mesti berhati-hati dalam melaksanakan rukunnya, terlebih pada saat sujud, sebab dalam sujud diwajibkan menjaga tujuh anggota sujud agar tetap ditempelkan pada tempat shalat saat sujud sedang berlangsung. Tujuh anggota tersebut adalah dahi, dua tangan, dua lutut dan jari-jari dari dua kaki. Sebab umumnya kasur yang empuk dianggap lebih sulit dalam hal menjalankan agar tujuh anggota sujud ini menempel pada kasur secara sempurna, sehingga orang yang shalat di kasur mesti hati-hati saat melaksanakan sujudnya.

Demikian penjelasan tentang hukum shalat di kasur ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa shalat di atas kasur bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, sebab kasur sudah memenuhi kategori benda yang boleh untuk dijadikan sebagai tempat shalat. Namun  orang yang shalat di kasur ini perlu hati-hati dalam hal menjalankan rukunnya, khususnya saat sujud. Selain itu perlu juga untuk menjaga kekhusyu’an shalatnya, sebab kadang seringkali orang yang shalat di kasur lebih merasa nyaman dan terlena hingga penghayatan pada makna shalat menjadi terbengkalai. Wallahu a’lam

(M. Ali Zainal Abidin)


Tags:
Share:
Sabtu 10 November 2018 15:30 WIB
Jamak Ta’khir, Shalat Pertama atau Kedua yang Didahulukan?
Jamak Ta’khir, Shalat Pertama atau Kedua yang Didahulukan?
Ilustrasi (via alnas.fr)
Jamak memiliki arti kumpul, lalu dijadikan istilah untuk makna mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu, yang awalnya dilaksanakan di waktu yang berbeda. Menjamak shalat adalah salah satu bentuk keringanan (rukhsah) yang diberikan oleh syariat Islam kepada para pemeluknya dikarenakan wujudnya beberapa sebab yang melegalkan shalat untuk dapat di jamak. Sebab-sebab itu bermacam-macam seperti bepergian, hujan dan sakit, dengan berbagai ketentuan-ketentuan yang dijelaskan secara rinci dalam kitab fiqih. 

Baca juga:
Hukum Jamak Shalat pada Perjalanan Pendek, Kurang dari Dua Marhalah
Tata Cara dan Ketentuan Qashar Shalat
Dalil tentang bolehnya menjamak shalat salah satunya terdapat dalam hadits:

كان رسول - ﷺ - يجمع بين صلاة الظهر والعصر إذا كان على ظهر سير، ويجمع بين المغرب والعشاء

“Rasulullah ﷺ menjamak antara shalat zuhur dan asar ketika berada dalam perjalanan, ia juga menjamak antara shalat maghrib dan isya” (HR. Bukhari)

Jenis jamak sendiri terbagi menjadi dua, yaitu jamak taqdim dan jamak ta’khir. Jamak taqdim adalah melaksanakan dua shalat yang dijamak pada waktu shalat yang pertama, misalnya menjamak shalat zuhur dan ashar pada waktu zuhur. Sedangkan jamak ta’khir adalah melaksanakan dua shalat yang dijamak pada waktu shalat yang kedua, misalnya melaksanakan shalat zuhur dan asar pada waktu asar.

Syarat-syarat jamak taqdim ada tiga. Pertama, mendahulukan shalat yang pertama (melaksanakan shalat zuhur dahulu, setelah itu shalat asar), Kedua, menyebutkan niat jamak taqdim pada shalat yang pertama. Ketiga, muwalah (terus menerus) dalam artian antara shalat pertama dan kedua tidak terpisah oleh waktu yang lama.

Sedangkan syarat pelaksanaan jamak ta’khir hanya ada satu yaitu melakukan niat jamak ta’khir pada saat waktu shalat yang pertama. Misalnya, saat masuk waktu maghrib, seseorang harus berniat bahwa shalat maghribnya akan dilaksanakan di waktu isya’. Maka dalam jamak ta’khir ini tidak disyaratkan muwalah, mendahulukan shalat yang pertama ataupun kedua dan juga tidak disyaratkan niat jamak pada saat melaksanakan shalat. Penjelasan demikian tertera dalam kitab Fath al-Qarib:

وأما جمع التأخير، فيجب فيه أن يكون بنية الجمع، وتكون النية هذه في وقت الأولى، ويجوز تأخيرها إلى أن يبقى من وقت الأولى زمن لو ابتدئت فيه كانت أداء، ولا يجب في جمع التأخير ترتيب، ولا موالاة ولا نية جمع على الصحيح في الثلاثة.

“Adapun (Syarat) jamak ta’khir maka wajib untuk melaksanakan niat jamak di waktu shalat yang pertama. Boleh mengakhirkan niat jamak ini sampai masih tersisa zaman dari waktu shalat yang pertama yang mana jika shalat dimulai pada saat itu maka menjadi shalat ada’ (bukan qadha’). Tidak wajib dalam jamak ta’khir ini melakukan shalat secara tartib (berurutan), tidak wajib pula muwalah dan niat jamak menurut pendapat yang sahih dalam ketiganya.” (Ibnu Qasim Al-Ghazi, Fathul Qarib al-Mujib, hal. 44)

Berdasarkan referensi di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa dalam jamak ta’khir tidak ada kewajiban shalat mana yang harus didahulukan, sebab dalam jamak ta’khir tidak disyaratkan pelaksanaan shalat harus tartib sebagaimana yang disyaratkan dalam jamak taqdim, sehingga orang yang menjamak ta’khir shalatnya bebas memilih antara mendahulukan shalat yang awal atau pun mendahulukan shalat yang kedua. Wallahu a’lam.

(M. Ali Zainal Abidin)

Jumat 9 November 2018 20:15 WIB
Mimisan di Pertengahan Shalat, Batal atau Harus Lanjut?
Mimisan di Pertengahan Shalat, Batal atau Harus Lanjut?
Ilustrasi (via Pinterest)
Dalam menjalankan shalat disyaratkan suci dari najis pada badan, pakaian, tempat dan sesuatu yang dibawa oleh orang yang shalat. Syarat ini adalah syarat yang wajib dipenuhi oleh orang yang akan melakukan shalat sebelum ia melaksanakan ibadahnya. Yang termasuk dalam kategori najis di antaranya adalah darah, nanah, kencing, dan berbagai macam kotoran yang keluar dari alat kelamin hewan. Kewajiban terhindar dari najis sebelum melaksanakan shalat salah satunya berdasarkan hadits:

إِذَا أَصَابَ ثَوْبَ إِحْدَاكُنَّ الدَّمُ مِنْ الْحَيْضَةِ فَلْتَقْرُصْهُ ثُمَّ لِتَنْضَحْهُ بِمَاءٍ ثُمَّ لِتُصَلِّي فِيهِ

“Apabila pakaian salah satu dari kalian terkena darah haid, hendaknya ia menggosoknya kemudian membasuhnya dengan air, lalu ia boleh mengenakannya untuk shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Disamakan dengan darah haid dalam teks hadits di atas segala perkara yang dihukumi najis. Sehingga sebelum melakukan shalat, wajib bagi seseorang untuk menghilangkan dan menyucikan dirinya dari najis.

Permasalahan terjadi ketika orang yang hendak melakukan shalat telah berada dalam keadaan suci, namun saat pertengahan ia melakukan shalat ia terkena najis. Permasalahan demikian, seringkali terjadi dalam kasus orang yang mimisan (pendarahan yang keluar dari salah satu atau dua lubang hidung, red). Saat di pertengahan shalat tiba-tiba seseorang mengalami mimisan, bagaimana status shalat yang ia laksanakan? Apakah tetap dihukumi sah, atau justru menjadi batal?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas kiranya patut dipahami bahwa tidak semua najis dihukumi hal yang menyebabkan shalat tidak sah. Namun ada beberapa kategori najis yang dihukumi ma’fu (ditoleransi) dalam shalat dengan berbagai ketentuan dan perincian yang dijelaskan secara panjang lebar dalam kitab fiqih. 

Darah mimisan yang keluar saat sedang melakukan shalat adalah salah satu dari contoh najis yang ma’fu ini. Namun dengan ketentuan: darah mimisan tersebut tidak sampai mengenai anggota tubuh atau pakaian orang yang shalat dalam kapasitas yang banyak. Jika demikian maka ia wajib untuk memutus shalat yang ia lakukan, sebab darah mimisan dalam keadaan demikian sudah tidak dihukumi ma’fu lagi. 

Jika darah mimisan mengenai anggota tubuh atau pakaian orang yang shalat dalam kapasitas yang sedikit, meskipun darah mimisan yang keluar jumlahnya banyak hanya saja tidak mengenai anggota tubuh atau pakaian orang yang shalat, maka ia tidak diperkenankan untuk memutus shalatnya, sebab darah tersebut dihukumi ma’fu.

Penjelasan tentang ini ditegaskan secara gamblang dalam kita Tuhfah al-Muhtaj:

ولو رعف في الصلاة ولم يصبه منه إلا القليل لم يقطعها وإن كثر نزوله على منفصل عنه فإن كثر ما أصابه لزمه قطعها ولو جمعة خلافا لمن وهم فيه أو قبلها ودام فإن رجا انقطاعه والوقت متسع انتظره وإلا تحفظ كالسلس

“Jika seseorang mimisan saat shalat, dan darah yang mengenainya hanya sedikit, maka ia tidak diperbolehkan untuk memutus shalatnya, meskipun darah mimisan yang keluar dalam jumlah yang banyak dan mengenai perkara yang terpisah dari dirinya. Namun jika darah mimisan yang mengenai dirinya dalam jumlah yang banyak maka ia wajib untuk memutus shalatnya. Meskipun shalat tersebut adalah shalat jum’at. Meski ulama’ terjadi perbedaan pendapat dalam hal shalat Jumat ini. Dan jika darah mimisan itu keluar sebelum ia melakukan shalat dan darah itu keluar terus menerus, maka hal ini diperinci, jika darah tersebut dimungkinkan berhenti pada waktu yang sekiranya cukup untuk dibuat shalat maka ia harus menunggu berhentinya darah itu. Namun jika tidak dimungkinkan berhenti sebelum waktu yang cukup untuk melakukan shalat maka hidung itu disumpal sebagaimana orang yang beser.” (Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 6, hal.350)

Demikian penjelasan tentang materi ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa orang yang mimisan saat shalat wajib untuk melanjutkan shalatnya selama darah yang mengenai tubuhnya tidak dalam jumlah yang banyak. Sedangkan perhitungan banyak sedikitnya darah didasarkan pada pertimbangan umumnya manusia (urf) jika masyarakat setempat menganggap darah yang mengenai dirinya banyak maka darah tersebut dihukumi banyak dan jika masyarakat setempat menganggap darah itu sedikit maka dihukumi sedikit. Wallahu a’lam.

(M. Ali Zainal Abidin)

Jumat 9 November 2018 15:0 WIB
Kapan Makmum Shalat Dianggap Ketinggalan Rakaat Imam?
Kapan Makmum Shalat Dianggap Ketinggalan Rakaat Imam?
Ilustrasi (voanews.com)
Shalat jamaah adalah salah satu ibadah yang dihukumi fardlu kifayah untuk dijalankan, sehingga di setiap daerah harus ada ritual shalat jamaah ini agar seluruh penduduk yang mukim di daerah tersebut tidak terkena dosa. Dengan sebab hukum fardlu kifayah inilah, hampir di setiap tempat kita menemukan orang-orang yang giat melakukan ibadah ini. Namun demikian, masih banyak pula orang-orang yang tidak mengerti perihal tentang ketentuan-ketentuan yang ada dalam shalat jamaah, salah satunya perihal tentang “kapan makmum dianggap ketinggalan rakaat imam?”

Dalam menjawab pertanyaan ini, patut kita simak salah satu hadits Rasulullah ﷺ:

من أدرك الركوع أدرك الركعة

“Barangsiapa yang mendapatkan ruku’ (bersama imam) maka ia telah mendapatkan satu rakaat” (HR. Abu Daud)

Dari hadits tersebut para ulama mengambil kesimpulan bahwa makmum bisa dianggap mendapatkan rakaat ketika menemui imam saat sedang ruku’. Selain itu, karena dalam ruku’ juga disyaratkan thuma’ninah, yaitu diam sejenak sekiranya dapat melafalkan kata “Subhanallah”. Maka dalam hal ini juga disyaratkan makmum bisa mendapati keadaan thuma’ninah sebelum imam beranjak dari ruku’nya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Fathul Muin:

قال: (و) بإدراك (ركوع محسوب تام) بأن يطمئن قبل ارتفاع الإمام عن أقل الركوع وهو بلوغ راحتيه ركبتيه (يقينا) فلو لم يطمئن فيه قبل ارتفاع الإمام منه أو شك في حصول الطمأنينة فلا يدرك الركعة

“Dan (rakaat bisa di dapatkan) dengan menemukan ruku’ yang sempurna. Dengan gambaran makmum dapat thuma’ninah sebelum imam mengangkat tubuhnya pada batas minimal ruku’ yaitu sampainya kedua telapak tangannya pada dua lutut. Ruku’ dari makmum ini di lakukan olehnya dengan yakin. Jika makmum tidak thuma’ninah dalam ruku’nya sebelum imam mengangkat tubuhnya dari ruku’ atau makmum ragu atas thuma’ninah yang ia lakukan maka ia tidak mendapatkan rakaat” (Zainuddin Al-maliabari, Fathul Muin, hal. 16)

Hal lain yang juga perlu diketahui bahwa makmum ketika mendapati imam dalam keadaan ruku’ maka tidak perlu bagi makmum untuk membaca Fatihah, demi mengejar agar mendapati imam dalam keadaan ruku’. Hal yang harus ia lakukan adalah melakukan takbiratul ihram lalu langsung beranjak ruku’. Begitu juga makmum yang mendapati imam dalam keadaan berdiri, namun ia tidak dapat membaca Fatihah secara sempurna, maka ketika imam melakukan ruku’ ia tidak perlu meneruskan bacaan Fatihahnya sampai selesai, ia harus mengikuti gerakan ruku’ imam agar bisa mendapati raka’at yang ia lakukan.

Makmum dalam keadaan demikian dalam disiplin fiqih disebut dengan makmum masbuq. Tidak wajibnya membaca Fatihah pada kondisi makmum demikian dikarenakan bacaan Fatihahnya makmum sudah ditanggung oleh imam. Sehingga Surat al-Fatihah yang dibaca oleh imam sudah mewakili terhadap Fatihah dari makmum. Sesuai dengan hadits:

من كان له إمام فقراءة الإمام قراءة

“Orang yang memiliki imam, maka bacaan (Fatihah) imam adalah bacaan baginya” (HR. Ibnu Majah)

Dari penjelasan diatas dapat disampulkan bahwa makmumdianggap ketinggalan rakaat dari imam ketika ia mendapati imam dalam keadaan I’tidal dan rukun-rukun selanjutnya atau ketika ia mendapati imam dalam keadaan ruku’ namun ia tidak dapat ruku’ dengan kondisi thuma’ninah yang sempurna sebelum imam beranjak dari ruku’ yang dilakukannya. Wallahu A’lam. 


(M. Ali Zainal Abidin)