IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Empat Wanita Mulia yang Menemani Proses Kelahiran Rasulullah

Senin 12 November 2018 6:0 WIB
Share:
Empat Wanita Mulia yang Menemani Proses Kelahiran Rasulullah
Mayoritas ulama sepakat bahwa Rasulullah lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah atau bertepatan dengan 22 April 575 M. Banyak kitab dan buku yang mengulas bagaimana mengangumkan dan menakjubkannya detik-detik kelahiran Muhammad, nabi dan rasul terakhir Allah. Banyak kejadian ajaib terjadi.

Pintu-pintu surga dibuka lebar. Sementara pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat. Ribuan malaikat turun ke bumi sehingga memenuhi seluruh gunung di Makkah. Bulan terbelah dan bintang bersinar begitu terang. Dan sejumlah ‘kejadian ajaib’ lainnya menyambut kelahiran Rasulullah. 

Namun di samping, ada satu kejadian yang tidak kalah menarik. Yakni perihal siapa yang menemani Aminah ketika melahirkan Rasulullah. Pada malam ke-12 bulan Rabi’ul Awwal, Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, tengah bermunajat Ka’bah. Sementara Aminah sendirian di rumah. Tidak ada satu pun orang yang menemaninya. Di dalam kesendiriannya, Aminah menangis karena tidak ada satu orang pun yang menemani dan membantunya –di saat-saat ia hendak melahirkan. 

Di tengah kegalauannya itu, tiba-tiba saja muncul empat orang perempuan di dalam rumah Aminah. Merujuk kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami  Asy-Syafii sebagaimana diuraikan buku Happy Birthday Rasulullah, Mereka begitu cantik, anggun, harum, dan diliputi dengan cahaya yang memancar kemilauan. Wanita pertama datang menghampiri Aminah. Ia kemudian berkata kepada Aminah: “Sungguh berbahagia lah engkau wahai Aminah!” 

Wanita pertama melanjutkan kalau Aminah adalah perempuan yang paling beruntung dan mulia di dunia ini karena telah mengandung Muhammad, pemimpin setiap insan. Wanita ini kemudian duduk di sebelah kanan Aminah. 

“Siapa engkau?” tanya Aminah kepada wanita pertama tersebut.

“Kenalkan, aku adalah Hawa istri Nabi Adam as., ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah untuk menemanimu,” jawab wanita pertama tersebut.

Wanita kedua juga mendekat kepada Aminah. Ia kurang lebih sama menyampaikan pujian kepada Aminah, sebagaimana wanita pertama. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan dari pada Aminah. Aminah mengandung Nabi Muhammad, seorang yang begitu istimewa, mulia, agung, cerdas, dermawan, dan sangat berwibawa.

Setelah ditanya Aminah, wanita kedua menjawab kalau dirinya adalah Sarah, istri Nabi Ibrahim. Ia juga diperintah Allah untuk menemani proses kelahiran Rasulullah Muhammad. Sarah kemudian duduk di sebelah kiri Aminah.

Giliran wanita ketiga yang menghampiri Aminah. Ia menyebut kalau Aminah begitu beruntung karena telah mengandung kekasih Allah. Setelah menyampaikan pujiannya, ia kemudian duduk di belakang Aminah. 

Lagi-lagi Aminah bertanya siapa gerangan wanita ketiga tersebut. Wanita tersebut kemudian menjawab kalau dirinya adalah Asiyah binti Muzahim. Ia juga diutus Allah untuk menemani Aminah.

Kini wanita terakhir yang maju mendekat Aminah. Sama seperti wanita-wanita sebelumnya, wanita keempat ini juga menyanjung Aminah sebagai wanita yang sangat beruntung karena telah mengandung Nabi Muhammad. Seseorang yang dianugerahi Allah banyak mukjizat. Seseorang yang menjadi junjungan seluruh penghuni bumi dan langit. 

Wanita keempat lalu duduk di depan Aminah. Aminah semakin kagum karena wanita keempat ini lebih anggun, berwibawa, dan cantik. Ia meminta agar Aminah untuk tersenyum, tidak lagi menangis. 

“Sesungguhnya aku adalah Maryam binti Imran, ibunda Nabi Isa as.,” kata wanita keempat tersebut menjawab pertanyaan dari Aminah. 

Aminah menjadi tenang dan damai setelah ditemani oleh wanita-wanita mulia tersebut. Pada saat tanda-tanda kelahiran sudah dirasakan, Aminah menyandarkan tubuhnya kepada empat wanita utama tersebut. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Selasa 6 November 2018 18:0 WIB
Saat Seorang Pemuda Meminta Izin Rasulullah untuk Berzina
Saat Seorang Pemuda Meminta Izin Rasulullah untuk Berzina
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra: 32)

Rasulullah merupakan rujukan utama umat Islam dalam menjalani kehidupan di dunia ini sebagai seorang hamba Allah. Semua yang dikatakan, menjadi pedoman. Apapun yang dilakukan, menjadi teladan. Begitu pun dengan semua ketetapannya, itu menjadi penuntun bagi umat Islam.    

Rasulullah juga menjadi tempat bertanya. Mengapa? Karena sumber pengetahuan Rasulullah adalah wahyu Allah, Tuhan alam raya. Siapapun, terutama sahabat, akan menanyakan hal-hal yang tidak diketahuinya kepada Rasulullah. Mulai dari bab akidah, keimanan, akhlak, hukum Islam,  kisah-kisah umat terdahulu, kehidupan akhirat, hingga hal-hal ghaib. 

Sebagai seorang nabi dan utusan Allah terakhir di dunia ini, Rasulullah memiliki legitimasi yang absolut. Apa-apa yang dibolehkannya menjadi mubah, mandzub, atau bahkan wajib. Begitu pun apapun yang dilarangnya menjadi sesuatu yang makruh dan bahkan haram. 

Kedudukan Rasulullah ini menyebabkan orang-orang pada masanya, terutama para sahabat, untuk bertanya atau pun sekedar meminta izin untuk melakukan sesuatu. Apakah boleh atau tidak. Singkatnya, Rasulullah juga menjadi tempat mengadu atau meminta izin untuk melakukan suatu hal.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ahmad dikisahkan bahwa suatu ketika ada seorang pemuda yang mendatangi Rasulullah. Tanpa tedeng aling-aling, pemuda tersebut meminta izin kepada Rasulullah untuk melakukan zina dengan seorang perempuan. Mendengar hal itu, para sahabat yang berada di samping Rasulullah murka. Bahkan, mereka hendak membunuh pemuda tersebut karena dianggap lancang, tidak sopan, dan tidak tahu tata krama.

Namun respons Rasulullah berbeda. Ia tidak marah sama sekali. Malah Rasulullah menasihati pemuda tersebut dengan tutur kata lembut dan bijak. Rasulullah kemudian melontarkan sebuah pertanyaan yang menohok sang pemuda. 

“Apakah kamu rela kalau ibumu dizinai orang lain?” tanya Rasulullah. Pemuda itu langsung menjawab “tidak rela.” 

“Wanita yang akan kamu zinai itu adalah ibu dari anak-anak orang lain, istri dari orang lain,” kata Rasulullah menasihati pemuda tersebut.

Tidak hanya memberikan nasehat, Rasulullah juga mendoakan pemuda tersebut agar dirahmati Allah swt., dosa-dosanya diampuni, hatinya disucikan, dan dijaga kemaluannya. Benar saja, sebagaimana keterangan dalam buku Agar di Surga Bersama Nabi, pemuda tersebut akhirnya menjadi orang yang paling membenci zina. 

Rasulullah merangkul pemuda ‘yang dianggap kurang ajar’ itu. Mengajaknya berpikir. Membimbingnya. Dan mengasihaninya. Rasulullah tidak memusuhinya. Memaki-maki dan menyalahkannya. 

Hal seperti ini lah yang seharusnya ditampilkan seorang Muslim manakala ia melihat ada saudara seagama dan seimannya yang salah dan melenceng seperti pemuda tersebut di atas. Bukan malah ramai-ramai menghakiminya. Mencemoohnya. Dan memukulnya. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 2 November 2018 20:0 WIB
Alasan Rasulullah Dinamakan Muhammad
Alasan Rasulullah Dinamakan Muhammad
Pada 2016 Badan Pusat Nasional Statistik Inggris (ONS) melaporkan bahwa nama Muhammad  masuk ke dalam daftar 10 nama anak laki-laki paling populer di Inggris dan Wales. Nama Muhammad menempati urutan ke-8 setelah Oliver, Harry, George, Jack, Jacob, Noah, dan Charlie. 

Data itu merupakan hasil survei yang dilakukan pada tahun tersebut, dimana ada sekitar 3.098 anak lelaki yang bernama Muhammad –dan variannya seperti Mohamed, Mohammed, Mohammad, dan lainnya- di Inggris. Jumlah ini setiap tahun pasti terus meningkat. Bahkan, kalau seandainya ruang lingkupnya diperluas, tidak hanya di Inggris, maka bisa dipastikan bahwa nama Muhammad dan segala variannya adalah nama yang paling populer di seluruh dunia dan sepanjang zaman. 

Namun apa yang menjadi sebab orang tua di Inggris dan negara lainnya menamai anak mereka dengan Muhammad? Tidak lain adalah karena orang Islam di Inggris dan negara lainnya ingin mempertahankan tradisi menamai anak mereka dengan Nabi Muhammad, sang nabi dan rasul terakhir. Selain itu, mereka juga menganggap pemberian nama Muhammad untuk anak-anak mereka akan menghadirkan keberkahan di dalam hidupnya.

Nama Muhammad (mungkin) tidak lah se-tua nama George, Jack, Jacob, dan Noah. Nama Muhammad baru digunakan pada 14 abad yang lalu. Dimana Abdul Muthalib, seorang pembesar Quraish, memberi cucunya dengan nama Muhammad pada tahun 570 M. Pada saat ini, nama Muhammad adalah nama yang sangat asing, utamanya bagi masyarakat Arab. Mereka biasa menamai anak mereka dengan nama-nama tuhan berhala seperti Abdul Uzza, Abdul Manat, Abdul Lat, Abd Syam, Harb, dan Shakr.

Lalu mengapa Abdul Muthalib menamai cucunya dengan nama yang dianggap asing oleh kaumnya itu? 

Dalam buku Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah, diceritakan bahwa suatu ketika Abdul Muthalib mengajak cucunya yang baru lahir masuk ke dalam Ka’bah dan bertawaf. Setelah selesai melaksanakan ritualnya di dalam Ka’bah, Abdul Muthalib keluar dan melewati kerumunan massa. 

Mereka bertanya kepada Abdul Muthalib perihal nama cucunya itu. Abdul Muthalib menjawab bahwa nama cucunya adalah Muhammad. Tidak puas sampai di situ, kerumunan massa tersebut kembali bertanya mengapa namanya Muhammad? Sebuah nama yang terdengar asing di telinga masyarakat Arab pada saat itu. 

“Aku ingin ia (Muhammad) dipuji semua orang,” jawab Abdul Muthalib.

Keterangan yang sama juga tertera dalam kitab Kasyifatus Saja. Dengan nama Muhammad, Abdul Muthalib berharap agar cucunya dipuji di langit dan di bumi. Begitu halnya dalam kitab An-Nahjah As-Sawiyyah fi Al-Asma’ An-Naba wiyyah, Abdul Muthalib menamai cucunya dengan Muhammad usai menggelar aqiqah. Harapannya adalah agar sang cucu dipuji Allah di langit dan disegani. Kemudian akhlak dan perilakunya diteladani umat manusia yang ada di bumi.

Kini apa yang menjadi harapan Abdul Muthalib atas cucunya terbukti. Muhammad menjadi orang yang paling dipuji di langit dan di bumi. Bahkan, Allah dan para malaikat-Nya juga memuji Muhammad dengan bershalawat untuknya, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 56. 

Tidak hanya itu, Muhammad juga adalah orang yang perilaku dan akhlaknya paling banyak diikuti umat manusia di dunia ini. Semua ucapan, perilaku, dan ketentuannya selalu diindahkan oleh umatnya. Merujuk buku 100 A Ranking of The Most Influential Person in History (100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia) karya Michael H. Hart, maka Muhammad saw. berada diurutan pertama sebagai orang yang paling berpengaruh sepanjang masa. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 1 November 2018 19:0 WIB
5 Motif Mereka Menolak Dakwah Rasulullah
5 Motif Mereka Menolak Dakwah Rasulullah
Muhammad diangkat menjadi seorang nabi dan rasul pada saat usianya 40 tahun (610 M). Sejak saat itu Rasulullah mulai gencar mendakwahkan Islam. Mulanya dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi kemudian dengan terang-terangan. Awalnya ia hanya mengajak saudara-saudara untuk memeluk Islam, kemudian merambah ke masyarakat Makkah secara luas.  

Rasulullah mendakwahkan Islam di Makkah selama 13 tahun (610-622 M). Sementara di Madinah 10 tahun. Total sekitar 23 tahun Rasulullah mensyiarkan Islam ke seluruh jazirah Arab. Puncak dakwahnya adalah saat Fathu Makkah dimana Rasulullah dan kaum Muslim berhasil menaklukkan kota Makkah pada 11 Januari 630 M (10 Ramadhan 8 H). 

Namun siapa sangka meski dilengkapi dengan mukjizat, dalil, dan tanda-tanda yang terang dari Allah, masih banyak orang yang menolak dakwah Rasulullah. Bahkan menentangnya. Lalu sebetulnya apa yang menyebabkan mereka menolak dan menentang dakwah Islam Rasulullah?

Merujuk buku Para Penentang Muhammad saw., setidaknya ada lima motif mengapa mereka menentang dakwah Rasulullah. Pertama, pengaruh dan kekuasaan. Para kafir menolak dakwah Islam yang dibawa Rasulullah karena takut pengaruh dan kekuasaan yang mereka miliki akan hilang manakala menjadi pengikut Rasulullah. Diantara yang menolak Islam karena motif ini adalah Abu Lahab, Ummu Jamil, Al-Walid bin Al-Mughirah, Uthbah bin Rabi’ah, Al-Harits bin Qais al-Sahmi, dan Abdullah bin Ubay bin Salul.  

Kedua, ekonomi dan status sosial. Mereka menentang Rasulullah karena faktor ekonomi dan status sosial. Mereka khawatir jika memeluk agama Islam, maka ekonomi dan status ekonomi yang selama ini melekat pada mereka akan memudar. Umayyah bin Khalaf Al-Jumahi adalah satu dari mereka yang menentang dakwah Rasulullah karena motif ini. 

Ketiga, setia dengan agama nenek moyang. Para kafir tidak sudi dan tidak rela memeluk Islam. Mereka berkeyakinan bahwa agama yang benar dan lebih baik adalah agama nenek moyangnya, yakni menyembah berhala, bukan Islam. Mereka menilai Islam bertentangan dengan agama nenek moyangnya. Diantara yang memiliki motif seperti ini adalah Abu Jahal dan al-Ash bin Wail. 

Keempat, iri, dengki, dan angkuh. Ada juga yang iri dan dengki kalau Rasulullah yang diangkat menjadi seorang nabi dan rasul. Menurutnya, yang pantas dan berhak menerima risalah kenabian adalah dirinya, bukan Muhammad. Al-Walid bin Al-Mughirah dan Musailamah Al-Kadzdzab adalah orang menyatakan hal demikian. 

“Wahai Muhammad, jika kenabian (nubuwwah) itu benar, tentu orang yang berhak mendapatkannya adalah aku, bukan engkau. Sebab, aku lebih tua dan lebih kaya daripada dirimu,” kata Al-Walid bin Al-Mughirah.

Begitu halnya dengan Amr bin Abd Wudd. Ia merasa tidak layak menjadi pengikut seorang yang usianya jauh lebih muda darinya. Ditambah, Amr bin Abd Wudd  adalah mantan seorang kesatria pada jaman jahiliyah. Pada saat Muhammad diangkat menjadi nabi, Amr bin Abd Wudd berumur sekitar 100 tahun.   

Sementara, Salam bin Misykam, Ka’ab bin Asad, Huyay bin Akhthab, dan Ka’ab bin Al-Asyraf menolak dakwah Rasulullah karena dengki. Mereka dengki karena nabi yang diutus Allah dari bangsa Arab, bukan dari kalangan mereka, Yahudi. Adapun Sallam bin Abi Huqaiq memendam kebencian dan kedengkian karena Rasulullah berhasil menyatukan kabilah Aus, Khazraj, dan kabilah Arab lainnya. 

Kelima, tidak percaya ajaran Islam. Mereka menentang dakwah Rasulullah karena tidak percaya dengan ajaran-ajaran Islam. Misalnya Ubay bin Khalaf dan al-Ash bin Wail. Mereka tidak percaya dengan adanya hari kebangkitan. Mereka berkeyakinan bahwa kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang tidak logis dan menganggap hal itu khayalan belaka. Bagi mereka, kehidupan hanya ada di dunia ini saja. 

Begitu pun dengan Syaibah bin Rabiah, seorang Nasrani. Ia tidak percaya dengan kenabian dan kerasulan Muhammad. Bahkan, ia menuduh Muhammad sebagai seorang dukun. (A Muchlishon Rochmat)