IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Ini Lafal Niat Shalat Ghaib atas Jenazah Massal

Rabu 14 November 2018 4:0 WIB
Share:
Ini Lafal Niat Shalat Ghaib atas Jenazah Massal
(Foto: @pinterest)
Shalat ghaib tidak berbeda dengan tata cara shalat jenazah pada lazimnya. Perbedaan keduanya terletak pada kehadiran jenazah yang dishalatkan dan niat shalatnya. Shalat ghaib dilakukan untuk jenazah yang tidak hadir di depan orang yang shalat.

Dasar hukum shalat ghaib adalah hadits Rasulullah SAW riwayat Abu Hurairah RA.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

Artinya, “Rasulullah SAW mengabarkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian Rasul keluar menuju tempat shalat lalu membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali,” (HR Bukhari).

Berikut ini adalah lafal niat shalat ghaib untuk beberapa jenazah umat Islam secara umum yang wafat di daerah lain atau tidak hadir di hadapan orang yang shalat.

أُصَلِّيْ عَلَى مَنْ مَاتَ اليَوْمَ وَغُسِّلَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلهِ تَعَالَى

Ushalli ‘alā man mātal yauma wa ghussila minal muslimīna arba‘a takbīrātin fardha kifāyatin lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang para jenazah umat Islam yang wafat dan dimandikan hari ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 21).

Shalat ghaib merupakan ibadah yang memiliki keutamaan tertentu. Sebagian orang bahkan menjadikan shalat ghaib ini sebagai ibadah rutin di waktu senggangnya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Rabu 14 November 2018 12:30 WIB
Hukum Mengeraskan Bacaan pada Shalat Sendirian
Hukum Mengeraskan Bacaan pada Shalat Sendirian
Ilustrasi (Youtube)
Soal pelaksanaan shalat, umat Islam diperintahkan untuk meniru cara shalat yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Seperti yang dijelaskan dalam hadits:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari)

Berawal dari hadits tersebut, para ulama merumuskan dari beberapa hadits yang ada tentang pelaksanaan shalat yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, hingga akhirnya berhasil dirumuskan ketentuan-ketentuan yang ada dalam shalat, meliputi rukun-rukun shalat dan kesunnahan shalat. Salah satu dari beberapa hal yang diwajibkan dalam shalat yang sekaligus menjadi rukun shalat adalah membaca Surat al-Fatihah, dalam hal ini Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tiada Shalat bagi orang yang tidak membaca surat pembukanya Al-Qur’an (Al-Fatihah).” (HR. Bukhari Muslim)

Dilihat dari segi cara membaca bacaan Al-Qur’an dalam shalat, baik itu berupa Surat al-Fatihah ataupun surat-surat yang lain secara umum, shalat terbagi menjadi dua kategori, yaitu shalat sirriyah dan shalat jahriyyah. Shalat sirriyah adalah shalat yang bacaan Al-Qur’annya dianjurkan untuk dibaca pelan. Shalat zuhur dan asar masuk dalam kategori shalat sirriyah ini. Sedangkan shalat lainnya yaitu shalat subuh, maghrib dan isya’ tergolong sebagai shalat jahriyyah, yakni shalat yang dianjurkan mengeraskan bacaan Al-Qur’an yang ada dalam shalat tersebut. 

Anjuran mengeraskan atau melirihkan bacaan yang ada dalam shalat sirriyah dan jahriyyah ini bukanlah suatu kewajiban yang harus dilakukan, namun hanya sebatas sunnah. Sehingga tetap diperbolehkan bagi seseorang untuk tidak melaksanakan ketentuan ini, meski berarti ia dianggap melakukan kemakruhan dalam shalatnya sebab tidak melakukan kesunnahan ini. Hal ini sesuai yang ada dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

لو جهر في موضع الإسرار أو عكس لم تبطل صلاته ولا سجود سهو فيه ولكنه ارتكب مكروها

“Jika seseorang mengeraskan bacaan di tempat yang mestinya dibaca pelan, atau sebaliknya, maka shalatnya tidak batal dan ia tidak perlu sujud sahwi akan tetapi ia telah melakukan kemakruhan.” (Syekh Abu Zakaria Yahya an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 3, hal. 390)


Baca juga:
Apa yang Dilakukan Makmum saat Imam Baca Surat Pendek?
Hukum Makmum Baca Iftitah saat Imam Baca Fatihah
Beda Pendapat Ulama soal Baca al-Fatihah dalam Shalat
Dalam konteks shalat berjamaah, membaca dengan suara keras hanya disunnahkan bagi imam saja. Sedangkan bagi makmum tidak dianjurkan untuk ikut membaca keras dalam bacaan shalat jahriyyah ketika ia bersama dengan imam, sebab yang disunnahkan bagi makmum adalah mendengarkan bacaan al-Fatihah imam dengan seksama dan membaca pelan bacaan al-Fatihah-nya ketika imam sudah beranjak pada bacaan surat lainnya.

Ketentuan membaca pelan dan keras ini tidak hanya berlaku pada imam saja, namun juga berlaku bagi orang yang melakukan shalat dalam keadaan sendirian (munfarid). Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab yang sama: 

فالسنة الجهر في ركعتي الصبح والمغرب والعشاء وفى صلاة الجمعة والاسرار في الظهر والعصر وثالثة المغرب والثالة والرابعة من العشاء وهذا كله باجماع المسلمين مع الاحاديث الصحيحة المتظاهرة علي ذلك هذا حكم الامام وأما المنفرد فيسن له الجهر عندنا وعند الجمهور

“Disunnahkan membaca dengan suara keras pada dua rakaatnya shalat subuh, maghrib, isya’ dan shalat Jumat. Dan disunnahkan membaca pelan pada shalat zuhur dan ashar serta rakaat ketiga dan keempat pada shalat maghrib dan isya’. Semua ketentuan ini sesuai dengan kesepakatan para ulama seiring adanya hadits-hadits sahih yang menjelaskan tentang hal ini. Keseluruhan hukum di atas berlaku bagi imam. Adapun bagi orang yang melaksanakan shalat sendirian, tetap disunnahkan baginya mengeraskan bacaan menurut mazhab kita (Syafi’i) dan mayoritas ulama dalam mazhab lain” (Syekh Abu Zakaria Yahya an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 3, hal. 389). 

Meski tetap disunnahkan membaca keras, namun bijaknya dalam melaksanakan hal ini (membaca keras saat shalat sendirian) tetap menyesuaikan tempat dan situasi, sekiranya ia tidak dianggap sebagai orang yang menyalahi kebiasaan yang terlaku di tempat tersebut. Misalnya, ketika ia shalat di ruangan yang sepi, atau di tempat yang masyarakat sekitar sudah terbiasa dan mengerti bahwa membaca keras saat shalat sendirian adalah hal yang sunnah. Dengan begitu ia selain melakukan kesunnahan dalam bacaannya, ia juga telah melakukan sebuah perilaku yang baik (husnul khuluq), yaitu muwâfaqatunnas mâ lam yukhâlif as-syar’a (beradaptasi dengan masyarakat selama tidak pada hal yang menyalahi syara’). Wallahu a’lam.

(M. Ali Zainal Abidin)


Selasa 13 November 2018 18:0 WIB
Shalat Fardhu di Pesawat, Apakah Sah?
Shalat Fardhu di Pesawat, Apakah Sah?
Ilustrasi (Nomadic Matt)
Salah satu kewajiban dalam menjalankan shalat adalah dilakukan dalam keadaan menetap di tanah bumi (istiqrar), atau melalui perantara seseuatu yang menempel pada tanah bumi, seperti bangunan, perahu, dan lain-lain. Oleh sebab itu, jika seandainya ada seseorang yang memiliki kemampuan dapat mengangkat dirinya untuk tidak menempel pada tanah (terbang) lalu saat dalam keadaan demikian ia melakukan shalat, maka shalat yang ia lakukan dianggap tidak sah sehingga ia wajib mengulangi shalatnya kembali.

Namun khusus dalam pelaksanaan shalat fardhu, diwajibkan untuk menetap dalam satu tempat, meski tempat tersebut sejatinya dalam keadaan bergerak. Maka tetap sah shalatnya orang yang melaksanakan shalat di kereta ketika dilaksanakan dengan rukun yang sempurna dan dalam keadaan menghadap kiblat. Berbeda dengan shalat sunnah yang tetap bisa dilaksanakan dalam keadaan berjalan atau berkendara. 

Lalu, bagaimana dengan shalat di pesawat?

Para ulama berpandangan bahwa shalat di pesawat tidak memenuhi salah satu syarat yang wajib dipenuhi di atas, yaitu menetap di tanah bumi (istiqrar) atau perantara yang menghubungkan pada tanah bumi. Berdasarkan ketentuan ini, baiknya bagi orang yang memilih berkendara dengan jalur udara, sebaiknya melakukan shalat sebelum berangkat atau ketika telah sampai di tujuan, meskipun dengan menggunakan cara jama’ ta’khir.

Namun jika seandainya jarak tempuh sangat jauh hingga memakan waktu yang cukup panjang, seperti awal mula take off pesawat pada waktu sebelum masuknya waktu shalat, dan sampai di tempat tujuan ketika waktu shalat telah habis, maka dalam hal ini ia tetap wajib melaksanakan shalat di pesawat dengan ketentuan li hurmatil waqti (untuk memuliakan waktu shalat) dan wajib untuk di-qadha’ kembali shalat tersebut ketika telah sampai di tempat tujuan.

Baca juga: Tata Cara Shalat di Atas Kendaraan
Perincian hukum di atas seperti yang dijelaskan dalam kitab Taqrirat as-Sadidah:

ومثل ذلك الصلاة في الطائرة، فتجوز مع الصحة صلاة النفل، وأما صلاةالفرض إن تعينت عليه أثناء الرحلة وكانت الرحلة طويلة، بأن لم يستطع الصلاة قبل صعودها أو إنطلاقها أوبعد هبوطها في الوقت، ولو تقديما اوتأخيرا، ففي هذا الحالة يجب عليه ان يصلي لحرمة الوقت مع استقبال القبلة وفيها حالتان: 1. إن صلي بإتمام الركوع والسجود: ففي وجوب القضاء عليه خلاف، لعدم استقرار الطائرة في الأرض والمعتمد أن عليه القضاء 2 - وإن صلى بدون إتمام الركوع والسجود أو بدون استقبال القبلة مع الإتمام فيجب عليه القضاء بلا خلاف

“Seperti halnya shalat di kendaraan adalah shalat di pesawat, melaksanakannya diperbolehkan pada shalat sunnah. Sedangkan pada shalat fardhu, jika ia hanya bisa melakukan di tengah perjalanan karena perjalanan jauh dengan ketentuan ia tidak mampu melaksanakan shalat pada waktunya, baik sebelum take off pesawat atau setelah landing pesawat, meskipun dengan cara jama’ takdim ataupun jama’ ta’khir, maka dalam keadaan demikian wajib baginya untuk shalat li hurmatil waqti dengan tetap menghadap pada arah kiblat.”

Sedangkan status shalatnya diperinci dalam dua keadaan. (1) Jika dia dapat shalat dengan menyempurnakan gerakan ruku’ dan sujud, maka dalam hal wajib tidaknya mengulangi shalat terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. Perbedaan pendapat ini dilandasi tidak tetapnya pesawat pada tanah bumi. Pendapat yang kuat berpandangan, ia wajib mengulangi shalatnya. Namun (2) jika dia tidak dapat menyempurnakan gerakan ruku’ dan sujudnya atau ia shalat tidak menghadap arah kiblat maka ia wajib mengulangi shalatnya tanpa adanya perbedaan di antara ulama.” (Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim, Taqrirat as-Sadidah, hal. 201)

Ketentuan umum yang terdapat dalam shalat li hurmatil waqti adalah seseorang melakukan shalat sebatas kemampuan menjalankan syarat-syarat shalat yang dapat ia lakukan. Seandainya bisa wudhu’ dan melakukan gerakan shalat secara sempurna namun tidak bisa menghadap kiblat, maka wajib baginya melaksanakan wudhu dan gerakan itu. Jika ia tidak dapat melaksanakan wudhu namun bisa tayammum, maka wajib baginya melaksanakan tayammum, begitu juga dalam praktik-praktik yang lain. Sebab tujuan dari shalat li hurmatil waqti sendiri adalah memuliakan waktu shalat dengan sekiranya waktu tersebut tidak sepi dari pelaksanaan shalat.

Jadi kesimpulannya, shalat di pesawat tidak dapat mencukupi untuk menggugurkan kewajiban shalat, sebab shalat yang dilakukan hanya sebatas shalat li hurmatil waqti yang wajib untuk diulang kembali dengan pelaksanaan yang sempurna. Wallahu a’lam.

(M. Ali Zainal Abidin)

Selasa 13 November 2018 13:15 WIB
Ini Lafal Niat Shalat Ghaib atas Jenazah di Luar Kota atau Jenazah Hilang
Ini Lafal Niat Shalat Ghaib atas Jenazah di Luar Kota atau Jenazah Hilang
(Foto: @alray.ps)
Shalat ghaib dilakukan sama seperti tata cara shalat jenazah pada lazimnya. Perbedaan keduanya terletak pada kehadiran jenazah yang dishalatkan. Shalat ghaib dilakukan untuk jenazah yang tidak hadir. Shalat ghaib bisa ditujukan untuk jenazah Muslim secara umum, jenazah tertentu, atau jenazah massal di suatu tempat.

Shalat ghaib pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika Raja Najasyi wafat. Rasulullah SAW bersama para sahabatnya di Madinah melakukan shalat jenazah.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

Artinya, “Rasulullah SAW mengabarkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian Rasul keluar menuju tempat shalat lalu membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali,” (HR Bukhari).

Berikut ini adalah lafal niat shalat ghaib untuk jenazah umat Islam secara umum baik wafat di daerah lain atau wafat di masa jauh silam.

أُصَلِّيْ عَلَى المَيِّتِ الغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلهِ تَعَالَى

Ushalli ‘alāl mayyitil ghā’ibi arba‘a takbīrātin fardha kifāyatin lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang jenazah ghaib empat takbir fardhu kifayah karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 21).

Shalat ghaib merupakan ibadah yang memiliki keutamaan tertentu. Sebagian orang bahkan menjadikan shalat ghaib ini sebagai ibadah rutin di waktu senggangnya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)