IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Mengapa di Al-Qur’an Ada Bacaan ‘Alaihu-Llah’, Bukan ‘Alaihi-Llah’?

Rabu 14 November 2018 18:30 WIB
Share:
Mengapa di Al-Qur’an Ada Bacaan ‘Alaihu-Llah’, Bukan ‘Alaihi-Llah’?
Pada dasarnya, dalam kaidah bahasa Arab yang baku, ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) apabila didahului oleh kasrah atau ya’ sukun, maka harus dibaca kasrah, karena untuk menyesuaikan harakat sebelumnya, seperti lafadz (بِهِ) atau (عَلَيْهِ). Namun dalam riwayat Imam Hafs, kaidah ini tidak berlaku, yakni pada Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) dan Surat al-Kahfi ayat 63 (وما أنسابيهُ). Pada kedua lafadz di atas, ha’ dhamirnya dibaca dhammah, padahal menurut kaidah bahasa seharusnya dibaca kasrah.

Dua ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS al-Fath: 10)

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Artinya: “Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali’.” (QS al-Kahfi:63)

Mengapa demikian? Padahal, untuk mengidentifikasi keotentikan sebuah qira’at Al-Qur’an harus memenuhi tiga syarat, yaitu (1) tersambungnya sanad secara mutawatir, (2) sesuai dengan rasm utsmaniy, dan (3) sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Apabila syarat di atas tidak terpenuhi, maka bacaan tersebut dihukumi syadz (nyeleneh) dan tidak shahih, walaupun bacaan itu bagian dari Qira’at Sab’ah. Dalam hal ini Imam Al-Jazariy bersenandung lewat bait syairnya, yaitu:

فكل ما وافق وجه النحو *** وكان للرسم احتمالا يحوي
وصح إسنادا هو القرأن *** فهذه الثلاثة الأركان
وحيثما يختل ركن أثبت *** شذوذه لو أنه في السبعة

Dalam bahasa Arab, asal mula ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) adalah “هو” (huwa; dhammah ha’-nya). Dalam dunia pesantren, lafadz ini kenal dengan sebutan “dhamir munfashil” (kata ganti tunggal maskulin yang terpisah dari lafadz lain). Apabila dhamir ini disambung dengan lafadz lain, maka dhamir itu dikenal dengan sebutan “dhamir muttashil”.

Dalam bacaan riwayat Imam Hafs, pada kedua lafadz di atas (عليهُ الله) (وما أنسابيهُ) dibaca dhammah, apabila ditinjau dari sisi kaidah bahasa Arab, sebenarnya tidak keluar dari pakem bahasa Arab, sebab asal mula harakat ha’ dhamir itu sendiri adalah dhammah. Artinya, dalam hal ini ha’ dhamir dibaca dhammah karena mengukuti sesuai asalnya, yaitu dhammah. Demikian ini merupakan dialek (lahjah) Qurasy.

Sementara itu, apabila dipandang dari sisi pemaknaan, pada kasus Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) ha’ dhamir yang bersambung dengan lafadz Allah, menurut Syekh Al-Sayyid Al-Tanthawiy dalam tafsirnya Al-Wasith menguraikan bahwa alasan dibaca dhammah ha’ dhamir pada lafadz itu karena bersambung dengan lafadz Allah. Untuk mengagungkan lafadz, seyogianya dibaca tebal (tafkhim). Selain itu, dalam ayat tersebut menceritakan tentang “Sulh Al-Hudaibiyah” di mana antara Nabi dan umat Islam melakukan perjanjian dengan kaum musyrik yang harus ditepati oleh kedua belah pihak. Karena dalam perjanjian ini adalah perjanjian yang sangat berat, maka sewajarnya ditekankan suara dengan membaca dhammah ha’ dhamir dengan menebalkan lafadz Allah agar sesuai dengan besarnya tanggung jawab perjanjian dan juga dalam rangka menyesuaikan antara lafadz dan makna yang terkandung di dalamnya.

Meskipun demikian, apabila dipandang dari sisi ilmu qira’at, bacaan ini (dhammah ha’ dhamir) merupakan bacaan yang sahih dan mutawatir, yang dihasilkan dari transmisi yang jelas dan penukilan yang sahih dari Nabi ﷺ., kepada para sahabat, dan dilanjutkan oleh para tabi’in hingga sampai kepada kita.

Secara silsilah sanad, bacaan ini diriwayatkan oleh Sayyidina Ali karramallâhu wajhah kepada muridnya, Abu Abdurrahman Al-Sullamiy, kemudian diriwayatkan oleh muridnya Imam Ashim, dan dilanjutkan oleh muridnya Imam Hafs, hingga sampai kepada kita secara mutawatir.

Perlu diketahui bahwa dalam periwayatan qira’at Al-Qur’an tidak ada istilah ijtihad bacaan atau mengekor pada kaidah bahasa Arab, justru sebaliknya bahasa Arab harus mengikuti periwayatan qira’at Al-Qur’an. Sementara penggalian pada sisi pemaknaan, bahasa dan lainnya sebagai bukti kebeneran dan otentifikasi qira’at Al-Qur’an. Wallahu a’lam.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Share:
Selasa 30 Oktober 2018 10:0 WIB
Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Ilustrasi (via Twitter)
Pada dasarnya, penulisan bahasa Arab harus sesuai antara apa yang tertulis dan apa yang diucapkan, tanpa harus ada penambahan dan pengurangan, sesuai kaidah yang berlaku pada penulisan bahasa Arab. Penulisan samacam ini dikenal dengan “rasm imla’î”. Sementara itu, dalam penulisan mushaf Al-Qur’an yang kita ketahui bersama terdapat beberapa penulisan yang berbeda dan tidak sesuai dengan pola penulisan bahasa Arab secara konvensional.

Hal itu lantaran teks Al-Qur’an yang sampai pada kita sekarang menggunakan standar rasm mushaf utsmanî. Secara definitif, rasm mushaf utsmanî adalah penulisan kalimat-kalimat atau huruf-huruf Al-Qur’an yang dilaksanakan dan disahkan oleh khalifah Utsman bin 'Affan radliyallahu ‘anh.

Penulisan mushaf memiliki beberapa kaidah (pola penulisan) baik dalam khat dan rasm-nya. Pola penulisan ini terbagi enam:

Pertama, kaidah hadf (pengurangan huruf). Dalam pola ini ada beberapa pengurangan; alif, ya’, wawu dan lam.

• Pengurangan huruf alif, seperti lafadz: (الرّحمن) (سبحن), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الرّحمان) (سبحان).

• Pengurangan huruf ya’ seperti, (غير باغ ), penulisan secara imla’I seharusnya (غير باغي ).

• Pengurangan huruf wawu seperti, (يدع) (يمح الله), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya: (يدعو) (يمحو الله)

• Pengurangan huruf lam, seperti (اليل) (الذي), penulisan bahasa Arab yang benar seharusnya, (الليل) (اللذي). 

Kedua, pola penambahan huruf, yakni alif, wawu dan ya’. 

• Penambahan huruf alif, seperti: (مائة), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (مئة).

• Penambahan huruf ya’ seperti, (بأييد), penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (بأيد).

• Penambahan huruf wawu seperti, (أولئك) (أولو),penulisan yang benar dalam bahasa Arab seharusnya (أولئك) (أولو). 

Ketiga, pola penulisan hamzah, secara ringkas bahwa hamzah sukun ditulis sesuai huruf harakat sebelumnya, seperti pada lafadz (البأساء) (آؤتمن) (آئذن). Sedangkan hamzah yang berharakat apabila di awal kalimat dan bersambung dengan huruf tambahan, maka ditulis dengan huruf alif, baik berharakat fathah maupun berharakat kasrah, seperti (أيوب) (إذا) (سأنزل). Adapun apabila hamzah berada di tengah-tengah kalimat, maka ia ditulis sesuai dengan jenis harakatnya, seperti (سأل) (سئل) (تقرؤه). Sementara hamzah yang berada di ujung kalimat, maka ditulis sesuai dengan harakat sebelumnya, seperti (سبأ) (شاطئ) (لؤلؤ). 

Keempat, pola pergantian huruf dengan huruf yang lain, seperti pergantian huruf alif dengan huruf wawu pada kalimat berikut ini (الصلوة) (الزكوة) (الحيوة), penulisan yang baku dalam bahasa Arab seharusnya (الصلاة) (الزكاة) (الحياة). 

Kelima, pola persambungan dan pemisahan huruf dengan huruf yang lain atau sebaliknya. 

• Pola persambungan seperti (ألن نجمع عظامه) yang lazimnya ditulis (أن لن نجمع عظامه).

• Pola pemisahan seperti (أنّ ما) yang lazimnya ditulis (أنّما).

Keenam, pola tulisan yang memiliki dua bacaan, yaitu seperti: (مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) (يُخَدِعُوْنَ). kedua contoh tersebut dalam mushaf tidak ditulis huruf alif sebagai tanda panjang namun ada riwayat yang membaca panjang. Seharusnya, secara penulisan imla’I ditulis sebagai berikut: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ) (يُخَادِعُوْنَ).

Demikian penjelasan yang disarikan dari kitab Manâhil ‘Irfân fî Ulûmil Qur’ân (Kairo: Maktabah Isa Al-Halabi, tt. h. 369). Perlu diketahui bahwa kaidah penulisan yang telah disebutkan di atas, tidak sepenuhnya berlaku pada penulisan Al-Qur’an, sebab ada banyak lafadz-lafadz dalam Al-Qur’an yang pada suatu ayat ditulis dengan pola tertentu, tetapi pada ayat yang lain—padahal lafadznya sama—ditulis dengan pola lain. Oleh karena itu, pola penulisan Al-Qur’an tidak bisa dijadikan pedoman yang baku, tidak bisa dijadikan qiyas atau standar (خط المصحف لا يقاس عليه).
 
Kaitannya dengan ini, maka tidak boleh seseorang membaca Al-Qur’an hanya berpedoman pada penulisan mushaf tanpa disertai talaqqi atau berguru kepada seorang guru yang mutqin (ahli). 


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Rabu 17 Oktober 2018 11:15 WIB
Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?
Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?
Ilustrasi (pixabay)
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam, mengimaninya adalah bagian dari rukun iman. Ia adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, melalui malaikat Jibril dengan versi dan variasi yang berbeda-beda. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Sesunguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah (Al-Qur’an) itu yang mudah darinya.” (Imam Bukhari, Shahih Bukhariy, Beirut: Idar Al-Tiba’at Al-Miniriyyah, tt, juz 6, h. 227)

Adanya variasi bacaan dalam Al-Qur’an ini merupakan karunia Allah yang diberikan secara khusus kepada umat Nabi Muhammad ﷺ, sebagai bentuk kasih sayang Allah terhadap mereka agar mudah melafalkan dan membacanya. Dalam kajian Islam, studi tentang variasi bacaan Al-Qur’an ini kemudian dikenal dengan disiplin Ilmu Qira’at Al-Qur’an.

Pada masa Nabi, para sahabat menerima bacaan Al-Qur’an secara langsung dari beliau dan secara serius dan antusias mereka mempelajarinya dengan versi bacaan qira’atnya. Pada masa ini lahirlah ahli qira’at (qurra’) dari kalangan sahabat Nabi, seperti: Ubay bin Ka’ab (w. 20 H), Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H), Abu Al-Darda’ (w. 32 H) Ustaman bin Affan (w. 35 H), Ali bin Abi Thalib (w. 40 H), Abu Musa Al-Asy’ariy (w. 44 H), dan Zaid bin Tsabit (w. 45 H). (Abdul Hadi Al-Fadhliy, Al-Qira’at Al-Qur’aniyat: Tarikh wa Ta’rif, Beirut: Dar Al-Qalam, 1985, h. 18) 

Para ahli qira’at dari kalangan para sahabat ini dalam mempelajari dan mendalami qira’at Al-Qur’an dari Nabi berbeda-beda; ada yang memiliki satu, dua versi bacaan, ada yang memiliki tiga versi bacaan dan bahkan ada yang lebih dari itu. (Abdul Adhzim Al-Zurqaniy, Manahil Al-Irfan fi Ulum Al-Qur’an, Mesir: Isa Al-Halabiy, tt, juz 1, h. 406)

Setelah sepeninggal Nabi, pada sahabat berpencar-pencar hijrah ke berbagai negara dunia Islam. Ada yang ke Syam, seperti Abu Al-Darda’, ada yang ke Kufah seperti Ibnu Mas’ud dan Sayyidina Ali. Oleh sebab itu, para ahli qurra’ dari kalangan sahabat mengajarkan bacaan Al-Qur’an dengan berbagai versi yang mereka terima dari Nabi kepada generasi para tabi’in. Dari para sahabat inilah kemudian para tabi’in memiliki dan menguasai versi qira’at yang berbeda-beda pula. 

Setelah masa sahabat berlalu, para ahli qira’at dari generasi tabi’in mengajarkan Al-Qur’an sesuai dengan versi dan variasi qira’at yang mereka kuasai dan mereka terima dari para sahabat. 

Namun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, muncul qira’at Al-Qur’an atau bacaan Al-Qur’an yang diragukan keberadaannya, dan diduga tidak bersumber dari Nabi. Hal ini disebabkan meluasnya daerah kekuasaan Islam dan semakin banyaknya penduduk Islam dari luar kalangan bangsa Arab. (Ibnu Al-Jazari, Al-Nasyr fi Al-Qira’at Al-Asyr, Mesir: Dar Al-Fikr, tt, h. 9)

Oleh karena itu, pertengahan kedua abad pertama hijriah dan pertengahan awal abad kedua hijriah, para ulama ahli qira’at terdorong untuk meneliti dan menyeleksi berbagai versi dan variasi qira’at Al-Qur’an yang berkembang waktu itu. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli qurra’ secara selektif dan akurat, maka dapat disimpulkan bahwa tujuh versi qira’at yang populer dan kemudian dilesrtarikan oleh para imam qira’at dinilai sebagai bacaan (qira’at) yang mutawatir, bersumber dari Nabi ﷺ Bacaan yang populer inilah kemudian dikenal dengan sebutan “qira’at sab’ah” atau tujuh qira’at. (Manna’ AL-Qatthan, Mabahits fi Ulum AL-Qur’an, Beirut: Mansyurat Al-Ashr Al-Hadits, 1973, h. 131)

Tujuh qira’at ini atau qira’at sab’ah ini kemudian dinisbahkan (disandarkan) kepada para Imam Qira’at yang berjumlah tujuh, yaitu: Pertama, Imam Nafi’ bin Abdurrahman (w. 169 H). Kedua, Imam Abdullah bin Katsir (w. 120 H). Ketiga, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala’ Al-Bashriy (w. 154 H). Keempat, Imam Abdullah Ibnu AmirAl-Syamiy (w. 118 H). Kelima, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy (w. 128 H). Keenam, Imam Hamzah bin Al-Zayyat (w. 156 H). Ketujuh, Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i (w. 189 H). 

Penisbahan qira’at Al-Qur’an kepada para Imam Qira’at sab’ah ini bukan berarti qira’at itu adalah hasil ijtihad mereka (hasil karya dan rekayasa mereka). Ungkapan seperti qira’at Nafi’, qira’at Ibnu Katsir, qira’at Ashim, dan yang lain, hanya menunjukkan bahwa qira’at yang dinisbahkan kepada mereka adalah hasil penelitian dan seleksi mereka terhadap berbagai qira’at yang ada. Kemudian mereka secara rutin dan secara berkesinambungan membaca, mengajarkan dan melestarikannya. 

Oleh karena itu, penisbahan qira’at ini kepada para imam qira’at sama halnya dengan penisbahan hadits Nabi kepada imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Al-Tirmidziy. Apabila disebutkan hadits Bukhari, Muslim, Al-Tirmidziy, maka sependek pengetahuan kita menyimpulkan bahwa hadits itu bukan hasil karya dan rekayasa Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Tirmidzy. Dalam hal ini para imam itu hanya menyeleksi dan meriwayatkannya. Demikian pula qira’at Al-Qur’an yang dinisbahkan kepada Imam Qira’at.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

Ahad 7 Oktober 2018 19:15 WIB
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Ilustrasi (Freepik)
Urutan surat dalam Al-Qur’an yang kita jumpai sekarang telah melewati proses penertiban yang tidak mudah. Dapat dimaklum bahwa Al-Qur’an adalah sumber nomor wahid bagi umat Islam dalam pengambilan hukum-hukum, dan lebih dari itu, ia adalah pedoman hidup kita semua.

Terkait pembahasan tentang penertiban surat-surat ini, kita akan menemukan istilah tawqifi dan ijtihadi. Tawqifi berarti berdasarkan tuntunan dari Nabi langsung, adapun ijtihadi berarti berdasarkan ijtihad dan usaha para sahabat Nabi dalam menentukan urutan-urutan ini.

Ada tiga pendapat mengenai penertiban surat-surat dalam Al-Qur’an. Pertama, berpendapat bahwa urutan surat-surat dalam Al-Qur’an semuanya bersifat ijtihadi. Kedua, semuanya bersifat tawqifi. Ketiga, sebagian tawqifi, sebagian ijtihadi. Kita akan membahas satu persatu pendapat tadi, serta dalil dan sanggahannya.

Semuanya Ijtihadi

Pertama, urutan surat-surat dalam Al-Qur’an bersifat ijtihadi dari para sahabat Nabi. Pendapat ini dinisbatkan kepada jumhur ulama (mayoritas ulama), di antaranya Imam Malik dan al-Qadhi Abu Bakar. Ibnu Faris mengatakan, terdapat dua proses dalam  penghimpunan Al-Qur’an. Pertama, urutan surat Al-Qur’an, ini diserahkan pada sahabat, Kedua, penghimpunan ayat dalam surat Al-Qur’an, ini ditentukan oleh Nabi ﷺ langsung.

Ada dua alasan yang mendasari pendapat yang pertama ini. Pertama, mushaf yang dimiliki para Sahabat berbeda-beda urutannya sebelum masa kekhalifahan Utsman radliyallahu ‘anh, meskipun mereka mengurutkan surat-surat di dalamnya berdasarkan apa yang mereka dapatkan dari Nabi. 

Beberapa mushaf yang berbeda itu di antaranya milik Ubay bin Ka’ab, yang mana didahului dengan surat al-Fatihah, kemudian al-Baqarah, kemudian an-Nisa`, kemudian Ali Imran, kemudian al-An’âm. Mushaf Ibnu Mas’ud yang diawali dengan surat al-baqarah, kemudian an-Nisa`, kemudian Ali Imran, dan seterusnya. Mushaf Ali yang urutannya sesuai dengan surat yang turun pada Nabi ﷺ, yaitu diawali dengan Iqra`, kemudian al-Mudattsir, kemudian Qâf, kemudian al-Muzammil, kemudian al-Lahhab, kemudian at-Takwir, dan seterusnya.

Dalil kedua, yaitu riwayat dari Ibnu Asytah dari jalur Ismail bin ‘Abbas, dari Hibban bin Yahya, dari Abu Muhammad al-Qurasyi:

أَمَرَهُمْ عُثْمَانُ أَنْ يُتَابِعُوا الطِّوَالَ فَجَعَلَ سُوْرَةَ الْأَنْفَالِ وَسُوْرَةَ التَّوْبَةِ فِي السَّبْعِ وَلَمْ يُفَصَّلْ بَيْنَهُمَا بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Utsman memerintahkan para sahabat untuk mengikuti surat Sab’u at-Thiwal (tujuh surat yang panjang), kemudian Utsman menjadikan surat al-Anfal dan at-Taubah pada urutan ketujuh dengan tanpa memisahkan keduanya dengan basmalah. Kemudian al-Qurasyi berkata:

قلت لعثمان ما حملكم على أن عمدتم إلى الأنفال وهي من المثاني وإلى براءة وهي من المئين فقرنتم بينهما ولم تكتبوا بينهما سطر {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ووضعتموها في السبع الطوال؟

“Aku mengatakan pada Utsman, apa yang membawamu untuk menyatukan surat al-Anfal yang mana ia tergolong surat al-Matsâni dengan surat al-Barâ`ah (at-Taubah) sedangkan ia dari golongan surat al-Mi`un, kemudian engkau meletakan keduanya dalam Sab’u ath-Thiwal.” 

Kemudian Utsman menjawab: “Pernah turun beberapa surat Al-Qur’an kepada Rasulullah, dan Beliau, apabila turun ayat kepadanya, memanggil sebagian sahabat yang menulis Al-Qur’an dan mengatakan, “Letakanlah ayat-ayat ini dalam surah yang disebutkan di dalamnya ayat ini dan itu.” 

“Dan surat al-Anfal termasuk dari surat-surat awal yang turun di Madinah, adapun at-Taubah termasuk yang terakhir turunnya. Kisah yang terdapat dalam surat al-Anfal mirip dengan yang ada di at-Taubah, maka aku mengira surat al-Anfal bagian dari at-Taubah. Hingga Rasulullah wafat, dan belum menerangkan pada kami hal tadi, karena itulah aku gabung keduanya, dan tidak aku tuliskan Basmalah di antara keduanya, serta aku letakan keduanya dalam Sab’u ath-Thiwal.”

Terdapat beberapa sanggahan terhadap pada pendapat ini. Di antaranya adalah, bahwa perbedaan yang terdapat dalam mushaf para sahabat, itu terjadi sebelum mereka mengetahui bahwa surat-surat dalam Al-Qur’an urutannya secara tawqif.

Semuanya Tauqifi

Kedua, urutan surat-surat dalam Al-Qur’an semuanya tawqifi dari Rasulullah ﷺ sebagaimana urutan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalil yang dipegang oleh ulama yang berpendapat demikian, yaitu para sahabat bersepakat atas mushaf pada masa Utsman, di mana ketika itu semua mushaf yang berbeda sudah dilenyapkan agar tak terjadi fitnah di kalangan Muslim.

Selain itu, mereka juga memiliki riwayat yang menguatkan pendapat mereka. Di antaranya: 

فقال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم: "طرأ علي حزب من القرآن فأردت ألا أخرج حتى أقضيه" فسألنا أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قلنا: كيف تحزبون القرآن؟ قالوا: نحزبه ثلاث سور وخمس سور وسبع سور وتسع سور وإحدى عشرة سورة وثلاث عشرة وحزب المفصل من ق حتى نختم. 

Rasulullah bersabda pada kami, “Telah turun kepadaku hizb (bagian) Al-Qur’an, sehingga aku tidak ingin keluar sampai selesai.” (Aus bin Hudzaifah) berkata, “Kami bertanya kepada para sahabat Rasulullah ﷺ, ‘Bagaimana kalian membagi pengelompokan Al-Qur’an?’ Mereka menjawab, ‘Kami membaginya menjadi tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb Al-Mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir’.” (HR Ahmad)

Riwayat ini menunjukan bahwa penertiban surat-surat dalam Al-Qur’an telah ada pada zaman Rasulullah ﷺ. Namun kendati demikian, pendapat ini pun memiliki beberapa sanggahan. Di antaranya, bahwa riwayat yang mereka gunakan terkait urutan surat tidak terjadi pada semua surat, namun hanya sebagiannya saja. Maka tak dapat disimpulkan juga bahwa urutan surat-surat dalam Al-Qur’an semuanya tawqifi.

Sebagian Ijtihadi Sebagian Tauqifi

Ketiga, urutan surat-surat dalam Al-Qur’an sebagian tawqifi, sebagian ijtihadi. Sebagaimana yang dituturkan al-Qadhi Abu Muhammad bin ‘Athiyyah, “Sesungguhnya kebanyakan surat-surat dalam Al-Qur’an sudah diketahui urutannya pada masa Nabi, seperti surat Sab’u ath-Thiwal, dan al-Mufasshal. Adapun selainnya, urutannya kemungkinan diserahkan kepada generasi selanjutnya.”

Pengarang kitab Manahil al-‘Irfan, az-Zarqâni berpendapat bahwa pendapat ketiga ini lebih utama, karena ia melihat kedua pendapat awal, yakni dalil yang mereka gunakan berindikasi sebagiannya ijtihadi, sebagiannya tawqifi. Hanya saja di sini terjadi perbedaan pendapat mengenai mana saja surat-surat yang tawqifi, dan mana saja yang ijtihadi. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)