IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Mengapa di Al-Qur’an Ada Bacaan ‘Alaihu-Llah’, Bukan ‘Alaihi-Llah’?

Rabu 14 November 2018 18:30 WIB
Mengapa di Al-Qur’an Ada Bacaan ‘Alaihu-Llah’, Bukan ‘Alaihi-Llah’?
Pada dasarnya, dalam kaidah bahasa Arab yang baku, ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) apabila didahului oleh kasrah atau ya’ sukun, maka harus dibaca kasrah, karena untuk menyesuaikan harakat sebelumnya, seperti lafadz (بِهِ) atau (عَلَيْهِ). Namun dalam riwayat Imam Hafs, kaidah ini tidak berlaku, yakni pada Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) dan Surat al-Kahfi ayat 63 (وما أنسابيهُ). Pada kedua lafadz di atas, ha’ dhamirnya dibaca dhammah, padahal menurut kaidah bahasa seharusnya dibaca kasrah.

Dua ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS al-Fath: 10)

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Artinya: “Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali’.” (QS al-Kahfi:63)

Mengapa demikian? Padahal, untuk mengidentifikasi keotentikan sebuah qira’at Al-Qur’an harus memenuhi tiga syarat, yaitu (1) tersambungnya sanad secara mutawatir, (2) sesuai dengan rasm utsmaniy, dan (3) sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Apabila syarat di atas tidak terpenuhi, maka bacaan tersebut dihukumi syadz (nyeleneh) dan tidak shahih, walaupun bacaan itu bagian dari Qira’at Sab’ah. Dalam hal ini Imam Al-Jazariy bersenandung lewat bait syairnya, yaitu:

فكل ما وافق وجه النحو *** وكان للرسم احتمالا يحوي
وصح إسنادا هو القرأن *** فهذه الثلاثة الأركان
وحيثما يختل ركن أثبت *** شذوذه لو أنه في السبعة

Dalam bahasa Arab, asal mula ha’ dhamir mudzakkar (kata ganti tunggal yang maskulin) adalah “هو” (huwa; dhammah ha’-nya). Dalam dunia pesantren, lafadz ini kenal dengan sebutan “dhamir munfashil” (kata ganti tunggal maskulin yang terpisah dari lafadz lain). Apabila dhamir ini disambung dengan lafadz lain, maka dhamir itu dikenal dengan sebutan “dhamir muttashil”.

Dalam bacaan riwayat Imam Hafs, pada kedua lafadz di atas (عليهُ الله) (وما أنسابيهُ) dibaca dhammah, apabila ditinjau dari sisi kaidah bahasa Arab, sebenarnya tidak keluar dari pakem bahasa Arab, sebab asal mula harakat ha’ dhamir itu sendiri adalah dhammah. Artinya, dalam hal ini ha’ dhamir dibaca dhammah karena mengukuti sesuai asalnya, yaitu dhammah. Demikian ini merupakan dialek (lahjah) Qurasy.

Sementara itu, apabila dipandang dari sisi pemaknaan, pada kasus Surat al-Fath ayat 10 (عليهُ الله) ha’ dhamir yang bersambung dengan lafadz Allah, menurut Syekh Al-Sayyid Al-Tanthawiy dalam tafsirnya Al-Wasith menguraikan bahwa alasan dibaca dhammah ha’ dhamir pada lafadz itu karena bersambung dengan lafadz Allah. Untuk mengagungkan lafadz, seyogianya dibaca tebal (tafkhim). Selain itu, dalam ayat tersebut menceritakan tentang “Sulh Al-Hudaibiyah” di mana antara Nabi dan umat Islam melakukan perjanjian dengan kaum musyrik yang harus ditepati oleh kedua belah pihak. Karena dalam perjanjian ini adalah perjanjian yang sangat berat, maka sewajarnya ditekankan suara dengan membaca dhammah ha’ dhamir dengan menebalkan lafadz Allah agar sesuai dengan besarnya tanggung jawab perjanjian dan juga dalam rangka menyesuaikan antara lafadz dan makna yang terkandung di dalamnya.

Meskipun demikian, apabila dipandang dari sisi ilmu qira’at, bacaan ini (dhammah ha’ dhamir) merupakan bacaan yang sahih dan mutawatir, yang dihasilkan dari transmisi yang jelas dan penukilan yang sahih dari Nabi ﷺ., kepada para sahabat, dan dilanjutkan oleh para tabi’in hingga sampai kepada kita.

Secara silsilah sanad, bacaan ini diriwayatkan oleh Sayyidina Ali karramallâhu wajhah kepada muridnya, Abu Abdurrahman Al-Sullamiy, kemudian diriwayatkan oleh muridnya Imam Ashim, dan dilanjutkan oleh muridnya Imam Hafs, hingga sampai kepada kita secara mutawatir.

Perlu diketahui bahwa dalam periwayatan qira’at Al-Qur’an tidak ada istilah ijtihad bacaan atau mengekor pada kaidah bahasa Arab, justru sebaliknya bahasa Arab harus mengikuti periwayatan qira’at Al-Qur’an. Sementara penggalian pada sisi pemaknaan, bahasa dan lainnya sebagai bukti kebeneran dan otentifikasi qira’at Al-Qur’an. Wallahu a’lam.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Share: