IMG-LOGO
Shalawat/Wirid

Makna ‘Keluarga Muhammad’ dalam Redaksi Shalawat

Rabu 14 November 2018 20:30 WIB
Share:
Makna ‘Keluarga Muhammad’ dalam Redaksi Shalawat
Ketika membaca shalawat, kita dianjurkan mendoakan keluarga Nabi. Karena makna shalawât (bentuk plural dari shalâh) di antaranya adalah doa. Seperti disebutkan oleh al-Qâdhi ‘Iyâdh dalam kitabnya, ash-Shalâtu ‘âla an-Nabi, Ma’ânîhâ Ahkâmuhâ Fadhâiluhâ:

والصلاة في لسان العرب الترحم والدعاء

“Kata shalâh dalam lisan orang arab bermakna memberi rahmat dan doa. (Al-Qâdhi ‘Iyâdh, ash-Shalâtu ‘âla an-Nabi, Ma’ânîhâ Ahkâmuhâ Fadhâiluhâ, al-Mukhtar al-Islami, Kairo, halaman 60)

Doa untuk keluarga Nabi lazimnya dilafalkan setelah doa (shalawat) untuk Nabi Muhammad. Tak jarang pula dirangkai dengan doa untuk seluruh sahabat beliau usai redaksi doa untuk Nabi dan keluarganya dipanjatkan. Misalnya dalam kalimat shalawat:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Baginda Nabi Muhammad dan kepada keluarga Baginda Nabi Muhammad.”

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا محمدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Baginda Nabi Muhammad, kepada keluarga, juga kepada para sahabat secara keseluruhan.”

Ada satu riwayat yang termaktub dalam kitab al-Qâdhi ‘Iyâdh di atas mengenai makna آلِ (keluarga) dalam redaksi shalawat:

وفي رواية أنس: سئل النبي ﷺ من آل محمّد؟ قال: كلُّ تقِيٍّ

“Terdapat dalam raiyat Anas, Nabi ﷺ ditanya mengenai siapakah keluarga Muhammad? Beliau menjawab: Semua orang yang bertakwa.” (HR ad-Dailami dan ath-Thabrani)

Jika berpatokan pada riwayat di atas, tentu makna keluarga tersebut seperti ikatan persaudaraan seluruh Muslim, padahal makna آلِ sendiri lebih akrab dengan keluarga. Dari sana kita perlu melihat pendapat para ulama mengenai hal ini.

Imam Syafi’i mengatakan bahwa makna dari keluarga Nabi adalah kerabat-kerabatnya yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib. Sedang menurut Imam an-Nawawi maknanya adalah seluruh orang Muslim. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ibnu Qâsim al-Ghazi dalam Syarah Dathul Qarîb:

وعلى (آله الطاهرين) هم كما قال الشافعي: أقاربه المؤمنون من بني هاشم وبني المطلب. وقيل - واختاره النووي: أنهم كل مسلم

“Kepada para keluarga Nabi yang suci—mereka adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam asy-Syafi’i yaitu kerabat-kerabat Nabi yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib. Dikatakan juga, dan Imam an-Nawawi memilih makna yaitu, yaitu mereka seluruh orang Muslim. (Syekh Muhammad bin Qasim, Fathul Qarîb al-Mujîb fî Syarh Alfâdhit Taqrîb, Beirut, Daar Ibn Hazm, 2005, halaman 21)

Demikian pemaparan terkait makna yang dipegang oleh ulama mengenai lafaz آلِ atau keluarga shalawat yang sering kita baca sehari-hari. Wallahu a’lam. 


(Amien Nurhakim)
Share:
Rabu 14 November 2018 15:0 WIB
Hukum Baca Shalawat kepada Selain Nabi Muhammad
Hukum Baca Shalawat kepada Selain Nabi Muhammad
Shalawat umumnya identik dengan Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun, shalawat juga tak jarang diucapkan kepada nabi-nabi lain. Semisal ketika tahiyyat dalam shalat, umat Islam tak hanya bershalawat kepada Nabi Muhammad tapi juga bershalawat kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dengan demikian, shalawat hampir selalu dikaitkan dengan doa kepada nabi-nabi. Lantas bagaimana pendapat ulama soal membaca shalawat kepada selain para nabi?

Al-Qâdhi ‘Iyâdh mengatakan dalam kitabnya, ash-Shalâtu ‘âla an-Nabi: Ma’ânîhâ Ahkâmuhâ Fadhâiluhâ:

عامّة أهل العلم متّفقون على جواز الصّلاة على غير النبي صلى الله عليه وسلّم

“Kebanyakan ulama sepakat membolehkan shalawat kepada selain Nabi ﷺ.”

Sementara itu, terkait hal ini, Ibnu ‘Abbas mengeluarkan dua riwayat; yang pertama menegaskan ketidakbolehan membaca shalawat kepada selain Nabi Muhammad ﷺ, dan riwayat kedua menegaskan tidak selayaknya shalawat itu kecuali untuk para nabi. 

Sedangkan Imam Sufyan berpendapat makruh shalawat kecuali pada Nabi. Begitupun dalam kitab al-Mabsûthah, Imam Malik berkata kepada Yahya bin Ishaq bahwa “makruh bershalawat kepada selain para nabi, dan tidak patut bagi kita untuk melampaui sesuatu yang diperintahkan bagi kami.”

Abdur Razzâq meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anh, Rasulullah ﷺ bersabda:

صلوا على أنبياء الله ورسله، فإنّ الله بعثهم كما بعثني 

“Bershalawatlah kalian kepada para nabi Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah mengutus mereka sebagaimana Allah mengutusku.”

Dari beberapa pendapat dan riwayat, kita dapat menyimpulkan bahwa ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang membolehkan bershalawat kepada selain nabi, ada menganggapnya makruh, dan ada pula yang melarangnya.

Perlu kita ketahui juga, bahwa kata shalawat dalam lisan orang Arab bermakna memberi rahmat dan doa, dan makna ini sudah mutlak sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat dalam Al-Qur`an, di antaranya ayat 43 dalam Surat al-Ahzâb:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

"Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS al-Ahzâb: 43)

Lantas, pendapat mana yang baiknya kita ambil. Al-Qâdhi Abu al-Fadhl mengatakan:

أنّه لا يصلَّى على غير الأنبياء عند ذكرهم، بل هو شيء يختصّ به الأنبياء توقيرا لهم وتعزيزا، كما يخصّ الله تعالى عند ذكره بالتنزيه والتقديس والتعظيم، ولا يشاركه فيه غيره، كذلك يجب تخصيص النبيّ صلّى الله عليه وسلّم وسائر الأنبياء بالصلاة والتسليم، ولا يشارك فيه سواهم، كما أمر الله به بقوله: (صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا). ويذكر من سواهم من الأئمّة وغيرهم بالغفران والرّضا

“Hendaknya tidak membaca shalawat kepada selain para nabi ketika menyebut nama mereka, karena ia khusus untuk para nabi sebagai penghormatan dan pengagungan bagi mereka. Sebagaimana kekhususan Allah ketika disebut, dengan penyucian dan pengagungan, dan tak ada yang mengikutinya dalam hal tersebut. Begitupun wajib mengkhususkan Nabi Muhammad ﷺ dan seluruh nabi dengan shalawat dan salam, dan tak ada yang mengikutinya selain para nabi dalam hal itu, sebagaimana Allah berfirman, ‘Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.’ Juga menyebut selain nabi, para imam (ulama dan orang-orang shalih) dengan (doa) pengampunan dan keridhaan.”

Baca juga:
Apa Makna Allah dan Malaikat Bershalawat kepada Nabi?
Jumlah Minimal dalam Memperbanyak Bacaan Shalawat
Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Ringkasnya, Allah memiliki penyebutan tersendiri yaitu subhânahu wa ta’âlâ, Nabi memiliki penyebutan tersendiri ketika nama mereka disebut yaitu dengan shalawat, dan begitupun selain para nabi seperti ulama, awliya (para wali), dan lainnya memiliki sebutan tersendiri yaitu radliyallâhu ‘anhu (semoga Allah meridhainya), rahimahullâh (semoga Allah merahmatinya), ghafarahullâh (semoga Allah mengampuninya), dan lain-lain.

Sekian penjelasan mengenai perbedaan ulama mengenai shalawat kepada selain nabi. Semoga kita dapat melanggengkan shalawat kita kepada para nabi dan juga melafalkan doa kepada para wali serta orang-orang shalih agar kita senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah. Amiin…

(Amien Nurhakim)

Disarikan dari (Al-Qâdhi ‘Iyâdh, ash-Shalâtu ‘âla an-Nabi, Ma’ânîhâ Ahkâmuhâ Fadhâiluhâ, al-Mukhtar al-Islami, Kairo, halaman 60-66)


Ahad 11 November 2018 20:0 WIB
Rumus ‘La ra la-Li ri li’ ala Mbah Kiai Nidzom agar Bacaan Shalawat Kita Benar
Rumus ‘La ra la-Li ri li’ ala Mbah Kiai Nidzom agar Bacaan Shalawat Kita Benar
Banyak orang sering membaca shalawat dalam kehidupan sehari-harinya. Tetapi tidak setiap orang mengerti gramatika bahasa Arab sehingga sebagian dari mereka terkadang bingung atau salah dalam mengucapkan shalawat. Letak kesalahannya adalah tidak konsisten dalam mengucapkan harakat atau bunyi di antara ketiga ‘ain fi’il pada fi’il-fi’il di dalam shalawat itu. Mbah Kiai Nidzom Abdul Mannan, memberikan petunjuk sederhana untuk mengatasi kebingungan atau kesalahan itu dengan rumus “la ra la-li ri li” sebagaimana uraian berikut.

Dalam bacaan shalawat terdapat tiga fi’il (kata kerja). Masing-masing ‘ain fi’il (suku kata kedua) pada ketiga fi’il itu harus dibaca sama atau sesuai dan konsisten dengan bentuk fi’il-nya, apakah madhi (past tense) ataukah amar (imperative). Shalawat yang menggunakan fi’il madhi, bacaannya adalah sebagai berikut:

صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ بَارَكَ وَ سَلَّمَ وَ

“Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa bâraka wa sallama.”

Dalam bacaan tersebut terdapat 3 fi’il madhi, yakni: صَلَّى (shalla), بَارَكَ (bâraka) dan سَلَّمَ (sallama). Jika dicermati terdapat kesamaan dan konsistensi antara bentuk-bentuk fi’il dan harakat pada ‘ain fi’il-nya pada ketiga kata kerja dalam bacaan tersebut, yakni jika bacaan shalawat menggunakan fi’il madhi صَلَّى (shalla), maka kedua fi’il berikutnya juga harus fi’il madhi, yakni بَارَكَ (bâraka) dan سَلَّمَ (sallama). 

Tetapi jika bacaan shalawat menggunakan fi’il amar صَلِّ (shalli), maka kedua fi’il berikutnya juga harus fi’il amar, yakni بَارِكْ (bârik) dan سَلِّمْ (sallim) sehingga bacaannya menjadi:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ بَارِكْ وَ سَلِّمْ

“Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa bârik wa sallim.”

Dalam kenyataan sehari-hari beberapa orang mengucapkan shalawat dengan menggunakan fi’il madhi صَلَّى (shalla), namun pada dua fi’il berikutnya mereka menggunakan fi’il amar بَارِكْ (bârik) dan سَلِّمْ (sallim) sehingga bacannya menjadi:

صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ بَارِكْ وَ سَلِّمْ وَ

“Wa shallâllhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa bârik wa sallim.”

Atau sebaliknya, mereka mengucapkan shalawat dengan menggunakan fi’il amar صَلِّ (shalli), namun pada dua fi’il berikutnya mereka menggunakan fi’il madhi بَارَكَ (bâraka) dan سَلَّمَ (sallama) sehingga bacannya menjadi:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَ سَلَّمَ

“Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa bâraka wa sallama.”

Tentu saja kedua bacaan terakhir tersebut secara gramatikal salah karena tidak sesuai dengan kaidah athaf dan ma’thuf yang menuntut kesamaan dan konsistensi bentuk-bentuk kata kerja (shighat) dalam bacaan shalawat. Mbah Kiai Nidzom Abdul Mannan memberikan petunjuk berupa rumus yang mudah dipahami dan diingat oleh orang-orang awam yang tidak memiliki latar belakang ilmu Nahwu dan Sharaf yang memadai. Rumus itu adalah “la ra la - li ri li”. 

Secara sederhana, “la ra la - li ri li” dapat dijelaskan bahwa jika bacaan shalawat menggunakan kata kerja صَلَّى (shalla) di mana suku kata kedua berbunyi “la”, maka suku kata kedua pada dua kata kerja berikutnya secara berturut-turut berbunyi “ra” dan “la”. Artinya semuanya menggunakan fathah atau vokal “a”. Dengan kata lain kata صَلَّى (shalla) berpasangan dengan kata بَارَكَ (bâraka) dan kata سَلَّمَ (sallama), sehingga bacaan shalawat yang benar adalah sebagai berikut: 

وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ بَارَكَ وَ سَلَّمَ 

“Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa bâraka wa sallama.”

Tetapi jika bacaan shalawat menggunakan kata صَلِّ (shalli) dimana suku kedua berbunyi “li”, maka dua kata kerja berikutnya secara berturut-turut memiliki suku kata kedua berbunyi “ri”dan “li”. Artinya semuanya menggunakan kasrah atau vokal ”i”. Dengan kata lain kata صَلِّ (shalli) berpasangan dengan kata بَارِكْ (bârik) dan kata سَلِّمْ (sallim), sehingga bacaan shalawat yang benar adalah sebagai berikut: 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ بَارِكْ وَ سَلِّمْ.

“Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa bârik wa sallim.”

Demikianlah Mbah Kiai Muhammad Nidzom bin Abdul Mannan, salah seorang pengasuh tahfidz Quran Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, memberikan petunjuk menanggapi kenyataan beberapa orang terkadang bingung atau salah dalam membaca shalawat. Mbah Kiai Nidzom Abdul Mannan wafat pada hari Selasa Wage, 12 Rabiul Awal 1416 H, bertepatan dengan tanggal 8 Agustus 1995. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu ’anhu waj’alil jannata matswahu. Amin.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Rabu 24 Oktober 2018 20:0 WIB
Lafal Shalawat Ibrahimiyah dan Keutamaannya
Lafal Shalawat Ibrahimiyah dan Keutamaannya
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وعلى آلِ إبْراهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما بَاركْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آل إبراهيم في العالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Di atas adalah bacaan sebuah shalawat yang dikenal dengan sebutan Shalawat Ibrahimiyah. Setiap Muslim pasti mengenal dan bahkan hafal shalawat tersebut. Karena shalawat ini selalu dibaca pada saat duduk tasyahud di dalam shalat.

Menurut Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani shalawat Ibrahimiyah adalah shalawat yang paling sempurna shighatnya dibanding shalawat-shalawat yang lain, baik yang ma’tsûrah (diriwayatkan dari Nabi) maupun yang tidak ma’tsûrah. Karena kesempurnaannya ini maka para ulama menentukannya sebagai shalawat yang dibaca ketika seorang Muslim melakukan shalat, di samping karena adanya kesepakatan perihal kesahihan haditsnya. (Yusuf bin Ismail An-Nabhani, Afdlalus Shalawât ‘alâ Sayyidis Sâdât, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah], 2004, hal. 57)

Ada banyak perawi hadits yang meriwayatkan shalawat Ibrahimiyah. Mereka di antaranya Imam Malik di dalam kitab Muwaththa’, Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab shahihnya, serta para imam lainnya seperti Abu Dawud, Nasai, dan Turmudzi. Imam Al-Iraqi dan Imam As-Sakhawi menuturkan bahwa haditsnya muttafaq ‘alaih.

Banyaknya periwayatan hadits tentang shalawat Ibrahimiyah ini juga menjadikan pula banyaknya redaksi shalawat ini yang berbeda-beda. Yang ditulis di atas—sebagaimana dituturkan An-Nabhani—adalah salah satu redaksi shalawat Ibrahimiyah yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi.

Imam Ahmad As-Shawi menyebutkan sebuah hadits riwayat Imam Bukhari di mana Rasulullah bersabda:

من قال هذه الصلاة شهدت له يوم القيامة بالشهادة وشفعت له

Artinya: “Barangsiapa yang membaca shalawat ini maka aku bersaksi baginya di hari kiamat dengan kesaksian dan aku memberi syafaat baginya.”

Sementara itu sebagian ulama mengatakan bahwa membaca shalawat Ibrahimiyah sebanyak seribu kali dapat menjadikan pembacanya melihat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Ada satu pertanyaan menarik perihal shalawat Ibrahimiyah ini. Bila di dalam haditsnya shalawat Ibrahimiyah tanpa menggunakan kata sayyidinâ (tuanku, baginda), mengapa dalam pengamalannya para guru mengajarkan untuk menggunakan kata tersebut?

Menjawab pertanyaan ini Imam Syamsudin Ar-Ramli di dalam kitab Nihâyatul Muhtâj Syarh Al-Minhâj mengatakan bahwa yang utama adalah membacanya dengan menggunakan kata sayyidinâ. Karena di dalam penggunaan kata ini ada pemenuhan terhadap perintah (di mana haditsnya tidak menggunakan kata tersebut, pen.) sekaligus juga tata krama terhadap pangkat beliau yang semestinya. Maka menggunakan kata sayyidinâ ketika membaca shalawat Ibrahimiyah lebih utama dari pada tidak menggunakannya. (Syamsudin Ar-Ramli, Nihâyatul Muhtâj ilâ Syarhil Minhâj, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2009], Jil. I, hal. 334)

Sementara Imam Ahmad bin Hajar menuturkan bahwa penambahan kata sayyidinâ sebelum kata Muhammad tidaklah mengapa. Bahkan ini merupakan tata krama terhadap hak Rasulullah meskipun diucapkan di dalam shalat fardlu.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)