IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Bolehkah Allah Disebut Berakal?

Kamis 15 November 2018 12:0 WIB
Bolehkah Allah Disebut Berakal?
Ilustrasi (Shutterstock)
Kita tahu bahwa Allah sangat luar biasa. Beragam sifatnya yang luar biasa dalam bahasa Indonesia dilambangkan dengan awalan imbuhan “Maha” ketika menyebutnya. Secara umum, kaum muslimin seluruhnya meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan Maha-Suci dari seluruh sifat kekurangan. Kehebatan Allah dengan seluruh sifat-sifat kesempurnaan-Nya dapat kita lihat di alam semesta dengan seluruh hukum alam yang begitu menakjubkan. 

Dari ciptaan yang sungguh luar biasa di alam semesta ini, akhirnya muncul istilah intelligent design atau penciptaan cerdas. Istilah ini berarti pengakuan bahwa di balik desain rumit alam semesta ini pastilah ada sosok cerdas yang menciptakannya sebab tak mungkin sesuatu yang begitu kompleks akan ada dengan sendirinya. Barangkali di titik ini semua orang beragama akan sepakat. Akan tetapi dalam perspektif teologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, bolehkah Allah disifati cerdas atau berakal?

Imam Syihabuddin ar-Ramli menjelaskan:

لَا يَجُوزُ وَصْفُ اللَّهِ بِالْعَقْلِ؛ لِأَنَّ الْعَقْلَ عِلْمٌ مَانِعٌ عَنْ الْإِقْدَامِ عَلَى مَا لَا يَنْبَغِي مَأْخُوذٌ مِنْ الْعِقَالِ ، وَهَذَا الْمَعْنَى إنَّمَا يُتَصَوَّرُ فِيمَنْ يَدْعُوهُ الدَّاعِي فِيمَا لَا يَنْبَغِي

“Tidak boleh menyifati Allah dengan akal/kecerdasan sebab sesungguhnya akal itu adalah ilmu yang mencegah dari perbuatan yang tidak layak. Kata akal diambil dari kata ‘iqâl (ikatan). Makna ini hanya dapat tergambar dalam sosok yang dapat diajak untuk melakukan hal yang tak layak.” (Syihabuddin ar-Ramli, Fatâwâ ar-Ramli, juz IV, halaman 219-220).

Senada dengan itu, Imam as-Suyuthi juga menjelaskan:

الباري تعالى يوصف بصفة العلم ، ولا يوصف بصفة العقل ، وما ساغ وصفه تعالى به : أفضل مما لم يسغ ، وإن كان العلم الذي يوصف به تعالى قديما ، ووصفنا حادث ، فإن الباري لا يوصف بصفة العقل أصلا ، ولا على جهة القدم 

“Allah Ta’ala disifati dengan sifat Ilmu (Maha-Mengetahui) dan tak disifati dengan sifat akal/cerdas. Sifat yang boleh dijadikan sifat Allah adalah lebih utama daripada sifat yang tak boleh dijadikan sifat Allah. Meskipun sifat Ilmu yang menjadi sifat Allah adalah qadîm (tak berawal mula) sedangkan sifat kita hadîts (punya awal mula), maka sesungguhnya Allah tidak bisa disifati dengan sifat akal sama sekali, tidak juga dari sisi ketidakberawalannya.” (Jalaluddin as-Suyuthi, al-Hâwi, juz II, halaman 166)

Kesimpulannya, meskipun sepintas sifat berakal atau cerdas layak disematkan pada Allah, tetapi para ulama melarang untuk menggunakan sifat ini sebagai sifat Allah. Alasannya, kata cerdas atau berakal digunakan khusus bagi mereka yang menghindar dari tindakan yang tak layak dilakukan. Sedangkan Allah memang tak mungkin sama sekali (mustahîl) melakukan tindakan yang tak layak bagi sifat ketuhanan-Nya sehingga kata ini sama sekali tak relevan bagi-Nya. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Share:
Kamis 15 November 2018 21:0 WIB
Nabi Isa Pun Seorang Muslim
Nabi Isa Pun Seorang Muslim
Beberapa kalangan beranggapan bahwa Nabi yang pertama kali membawa agama Islam adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan nabi-nabi terdahulu, menurut mereka, membawa agama yang berbeda-beda. Kata mereka, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beragama tauhid, tidak beragama Islam, dan Allah menurunkan kepada Nabi Musa dan Isa ‘alaihimassalam agama Yahudi dan Nashrani, bukan agama Islam. Anggapan seperti ini tentu tidak benar karena tidak sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan bahwa Islam adalah agama semua nabi dan rasul. 

Allah ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama yang diridlai oleh Allah hanyalah Islam.” (QS Ali ‘Imran: 19)

Dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ في الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

“Dan barangsiapa mencari selain agama Islam untuk ia peluk, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Ali ‘Imran: 85)

Sungguh tidak logis, apabila Allah ta’ala menurunkan banyak agama yang berbeda-beda kepada para nabi dan rasul, kemudian yang diterima hanya agama Islam.

Islam Agama Semua Nabi dan Rasul

Semua nabi, mulai Nabi Adam ‘alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama yang sama, yaitu Islam. Begitu juga seluruh pengikut para nabi, semuanya beragama Islam. 

Nabi Ibrahim, Sulaiman, Yusuf, Isa dan nabi-nabi yang lain, semuanya beragama Islam. Mereka semua menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Perhatikan dan cermati ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini.

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الُمشْرِكِينَ 

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang jauh dari syirik dan kufur dan dia seorang yang muslim. Dan sekali-kali dia bukanlah seorang yang musyrik.” (QS Ali ‘Imran: 67)

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، أَلَّا تَعْلُوْا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ 

“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya isinya: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, bahwa janganlah kalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang memeluk Islam.” (QS An-Naml: 30-31)

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ 

“(Yusuf berkata): Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkan aku bersama orang-orang yang saleh.” (QS Yusuf: 101)

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ 

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Isra’il), ia berkata: Siapakah yang akan menjadi pembela-pembelaku untuk menegakkan agama Allah? Para Hawwariyyun (sahabat-sahabat setia Nabi Isa) menjawab: Kamilah pembela-pembela-agama Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” (QS Ali ‘Imran: 52)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang kesemuanya menegaskan bahwa para nabi beserta pengikut-pengikut mereka beragama Islam. Dengan demikian, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mambawa selain Islam. Adapun perbedaan di antara para nabi adalah terletak dalam hukum-hukum syari’at yang Allah ta’ala turunkan kepada mereka, seperti dalam tata cara dan ketentuan bersuci, shalat, zakat, puasa dan lainnya. Tentang hal ini, Allah ta’ala berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Dan untuk tiap-tiap umat di antara kalian (umat Muhammad dan umat-umat sebelumnya), Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS Al-Ma’idah: 48)

Dalam hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الأَنْبِيَاءُ إخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ دِيْنُهُمْ وَاحِدٌ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (رواه البخاري ومسلم وأحمد وابن حبان) ـ

“Para nabi bagaikan saudara seayah, agama mereka satu yaitu agama Islam, dan ibu-ibu (syari’at-syari’at) mereka berbeda-beda.” (HR al-Bukhari).

Nabi Muhammad Bukan Muslim Pertama

Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ المُسْلِمِيْنَ

“(Muhammad berkata): tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah muslim yang pertama.” (QS Al-An’am: 163).

Di kitab-kitab tafsir dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah muslim pertama pada masanya, bukan muslim pertama secara mutlak. Imam ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan:

أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ

“Yang dimaksud bahwa Nabi Muhammad adalah muslim pertama di kalangan umat ini (umat beliau).”

Penafsiran yang sama dapat kita jumpai dalam kitab tafsir al-Qurthubi, al-Baghawi, al-Jalalain, an-Nasafi dan lainnya.

Mengapa Disebut Yahudi dan Nashrani?

Dari apa yang telah diuraikan di atas menjadi jelas bahwa seluruh nabi dan rasul beserta para pengikut mereka adalah orang-orang yang beragama Islam, termasuk Nabi Musa, Nabi Isa dan para pengikut keduanya. 

Mengapa para pengikut Nabi Musa dinamakan Yahudi dan para pengikut Nabi Isa disebut Nashara atau Nashrani, berikut penjelasan Imam al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (Penerbit Mu’assasah ar-Risalah, juz 2, hlm. 157-160).

نُسِبُوا إِلَى يَهُوذَا وَهُوَ أَكْبَرُ وَلَدِ يَعْقُوبَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَلَبَتِ الْعَرَبُ الذَّالَ دَالًا، لِأَنَّ الْأَعْجَمِيَّةَ إِذَا عُرِّبَتْ غُيِّرَتْ عَنْ لَفْظِهَا. وَقِيلَ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِتَوْبَتِهِمْ عَنْ عِبَادَةِ الْعِجْلِ. هَادَ: تَابَ. وَالْهَائِدُ: التَّائِبُ ... وفى التنزيل:" إِنَّا هُدْنا إِلَيْكَ" [الأعراف: 156] أَيْ تُبْنَا... (وَالنَّصارى) جَمْعٌ وَاحِدُهُ نَصْرَانِيٌّ. وَقِيلَ: نَصْرَانُ بِإِسْقَاطِ الْيَاءِ، وَهَذَا قَوْلُ سِيبَوَيْهِ. وَالْأُنْثَى نَصْرَانَةٌ، كَنَدْمَانَ وَنَدْمَانَةٍ...وَقَالَ الْخَلِيلُ: وَاحِدُ النَّصَارَى نَصْرِيٌّ، كَمَهْرِيٌّ وَمَهَارَى... ثُمَّ قِيلَ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِقَرْيَةٍ تُسَمَّى" نَاصِرَةَ" كَانَ يَنْزِلُهَا عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فَنُسِبَ إِلَيْهَا فَقِيلَ: عِيسَى النَّاصِرِيُّ، فَلَمَّا نُسِبَ أَصْحَابُهُ إِلَيْهِ قِيلَ النَّصَارَى، قَالَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَقَتَادَةُ...وَقِيلَ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِنُصْرَةِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا ...وَقِيلَ: سُمُّوا بِذَلِكَ لِقَوْلِهِ:" مَنْ أَنْصارِي إِلَى اللَّهِ قالَ الْحَوارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصارُ اللَّهِ"

“Para pengikut Musa disebut Yahudi karena dinisbatkan kepada Yahudza, putra pertama Nabi Ya’qub. Orang Arab mengganti huruf dzal menjadi dal karena kata non-Arab jika diserap ke dalam bahasa Arab, maka diubah pelafalannya. Menurut pendapat yang lain, mereka dinamakan Yahudi karena pertaubatan mereka dari menyembah anak sapi. Haada artinya taaba (telah bertaubat). Haa`id berarti taa`ib (orang yang bertaubat). Dalam Al-Qur’an (menceritakan perkataan para pengikut Nabi Musa): Innaa Hudnaa ilaiKa. Hudnaa dalam ayat ini artinya “kami telah bertaubat”. Sedangkan Nashara adalah bentuk plural dari Nashrani. Menurut pendapat lain, Nashara adalah bentuk plural dari Nashran, dengan menghilangkan huruf ya’. Ini adalah pendapat Sibawaih. Bentuk mu’annats-nya adalah Nashranah, seperti kata Nadman dan Nadmanah. Al-Khalil berkata, bentuk tunggal dari Nashara adalah Nashri, seperti kata Mahri dan Mahara. Kemudian dikatakan: mereka dinamakan demikian karena disandarkan pada sebuah desa yang bernama ‘Nashirah’. Isa pernah menetap sementara di sana. Maka dikatakan: Isa an-Nashiri (Isa yang pernah menetap di Nashirah). Ketika para pengikutnya dinisbatkan kepadanya, maka mereka dinamakan Nashara. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Qatadah. Pendapat lain menyatakan bahwa mereka dinamakan Nashara karena sebagian dari mereka menolong (nushrah) sebagian yang lain. Sebagian yang lain lagi berpendapat, mereka dinamakan Nashara karena perkataan Isa kepada mereka: ‘siapakah yang akan menjadi penolongku (Anshari) untuk menegakkan agama Allah?’, para sahabat setianya berkata: ‘kamilah para penolong (Anshar) agama Allah’.”

Jadi dapat disimpulkan bahwa para pengikut Nabi Musa dan Nabi Isa beragama Islam. Yahudi dan Nashara atau Nashrani adalah semacam gelar yang melekat pada diri mereka. Sedangkan orang-orang Yahudi dan Nashrani yang hidup pada masa sekarang, mereka semuanya adalah orang-orang kafir karena telah menyelewengkan makna tauhid dan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya serta tidak beriman terhadap kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi bersabda:

لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نصراني ثُمَّ لَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ 

“Tidaklah seorang pun dari umat ini, Yahudi atau pun Nashrani (atau yang lain) yang mengetahui tentang kerasulanku lalu ia tidak mau beriman kepada ajaran yang aku bawa, kecuali pasti ia menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)


Nur Rohmad, Tim Peneliti/Pemateri Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Sabtu 10 November 2018 7:0 WIB
Tiga Siasat Nabi Ibrahim AS dalam Bela Tauhid
Tiga Siasat Nabi Ibrahim AS dalam Bela Tauhid
Perjalanan dan perjuangan dakwah para nabi selalu menarik untuk disimak dan dijadikan pelajaran. Begitu pun dengan perjalanan dakwah Nabi Ibrahim AS. Setiap langkah perjuangannya selalu meninggalkan cerita unik dan pesan mendalam yang tak lekang dimakan zaman. Salah satunya adalah cerita tentang tiga siasat yang pernah dilakukannya demi membela agama Allah yang didakwahkannya.

Pertama, siasatnya saat hendak menghancurkan berhala kaumnya, sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Quran, “Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya,” (Surat Al-Anbiya ayat 57). Dalam menjalankan siasat itu, ia memilih berada di rumah dan mengaku sakit begitu diajak kaumnya keluar ke tempat peribadatan mereka yang penuh dengan berhala. Pengakuan itu pun diabadikan Al-Quran, “Kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sakit,’” (Surat As-Shaffat ayat 89).

Menurut Al-Qusthulani dalam Irsyâdus Sârî Syarh Shahîhil Bukhari ([Mesir, Al-Mathba‘ah Al-Kubra Al-Amiriyyah: 1324 H],  jilid V, halaman 347), yang dimaksud “Aku sakit” dalam pernyataan Nabi Ibrahim AS di atas bukan sakit secara fisik, melainkan sakit batin karena melihat kaumnya yang terus bercokol dalam kekufuran dan kesyirikan.

Mungkin pula pernyataannya itu memiliki makna waktu mendatang sehingga bisa dimaknai “Aku akan sakit” sesuai dengan bentuk ungkapan Arabnya, innî saqîm, yang menggunakan bentuk ism fail. Sama halnya dengan makna hadits, “Annaka mayyitun” maksudnya adalah, “Engkau akan mati.”

Berbeda dengan itu, Sufyan menafsirkan istilah saqim dengan ‘tha‘un’ sehingga mengetahui ada orang yang terkena tha‘un, mereka langsung pergi karena takut menular. Ulama lain menegaskan, kendati memang berbeda dengan situasi yang sebenarnya, namun sebagai sebuah siasat, pernyataan itu tetap dibenarkan, bahkan diperlukan untuk menolak fitnah yang besar.

Bagaimana tak menjadi fitnah? Jika keluar bersama mereka, bukan mustahil Nabi dianggap mendukung aktivitas penyembahan berhala. Namun yang jelas, Nabi Ibrahim AS sebelumnya telah memiliki rencana untuk menghabiskan berhala mereka. Hanya saja ia memerlukan waktu yang tepat untuk mengeksekusinya.

Kedua, siasatnya menjawab pertanyaan kaumnya yang menuding dirinya telah menghancurkan berhala. Alih-alih menjawab sesuai keinginan mereka, ia malah menuduh bahwa yang menghancurkan berhala-berhala itu adalah berhala paling besar.

Konon, berhala mereka saat itu berjumlah sebanyak 72 berhala. Sebagian ada yang terbuat dari emas, ada yang terbuat dari perak, ada pula yang terbuat dari besi, timah, batu, dan kayu. Semuanya dihancurkan oleh Nabi Ibrahim AS kecuali yang paling besar yang terbuat dari emas dicampur batu permata dan matanya terbuat dari batu yaqut.

Setelah menghancurkan berhala-berhala kecil, ia lantas meletakkan kapak di leher berhala paling besar tersebut. Harapannya, agar di saat kembali, mereka bertanya-tanya, “Siapa sebenarnya yang menghancurkan berhala-berhala ini. Mengapa engkau (berhala besar) tidak apa-apa dengan kapak bergantung di lehermu.”

Benar, begitu kembali ke tempat berhala mereka melihat semua berhala itu telah porak-poranda kecuali satu berhala besar. Akhirnya, mereka curiga bahwa Nabi Ibrahim itu yang menghancurkannya. Sebab, hanya Nabi Ibrahim satu-satunya orang yang membenci aktivitas mereka saat itu.

Perbincangan itu dicatat dalam Al-Quran, “Mereka bertanya, ‘Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara,’ (Surat Al-Anbiya ayat 62-63).

Kendati, apa yang dikatakan Nabi berbeda dengan yang diinginkan para penanya, tetapi sesungguhnya ia ingin menunjukkan kepada mereka bahwa berhala yang selama ini disembah tak bisa apa-apa. Buktinya, begitu berhala besar dituding sebagai penghancur berhala kecil di sekitarnya, mereka pun tak percaya. Di situlah Nabi Ibrahim ingin menunjukkan kebodohan mereka.

Al-Qusthulani menjelaskan, meski Nabi Ibrahim mengaku sebenarnya bahwa pada hakikatnya yang menghancurkan berhala itu adalah Allah, mereka juga tak mungkin percaya, sebab mereka adalah kaum yang kufur. Oleh karenanya, ketika tindak penghancuran itu disandarkan kepada berhala besar, bukanlah sebuah kebohongan, melainkan sebagai ejekan guna memperlihatkan kedangkalan dan kesesatan pikiran mereka. Di sini tampak kekuatan logika dan retorika Nabi Ibrahim AS.

Ketiga, siasatnya kepada utusan Raja Shaduq yang menginginkan istrinya yang cantik Sarah. Nabi Ibrahim AS mengaku, “Dia adalah saudara perempuanku.” Tujuannya agar dirinya selamat dari kekejaman sang raja.

Sebelumnya, Nabi Ibrahim menyampaikan kepada istrinya, “Wahai Sarah, tidak ada lagi yang beriman di muka bumi selain aku dan engkau. Ketika sang raja bertanya kepadaku tentangmu, ‘Siapakah wanita itu?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah saudara perempuanku. Aku berharap engkau pun tidak mendustaiku.’”

Walhasil, yang dimaksud saudara di sana adalah saudara seakidah atau saudara seagama karena memang tidak ada orang yang beriman di muka bumi saat itu kecuali mereka berdua.  

Meskipun Nabi Ibrahim memaknai ungkapan “Sarah adalah saudariku” sebagai saudara seiman, kemudian memaknai ungkapan “Aku sakit” sebagai sakit batin melihat kemusyrikan dan kekufuran kaumnya, serta memaknai ungkapan “Sebenarnya patung yang besar itu yang menghancurkannya,” sebagai siasat guna memperlihatkan kebodohan mereka. Tetapi pada hari Kiamat Nabi Ibrahim akan meminta maaf kepada umat manusia karena tidak bisa memberikan syafaat atau bantuan terhadap mereka untuk segera diadili di pengadilan Allah. Ia mengaku ketiganya sebagai siasat dalam bentuk retorika yang pernah diperbuatnya. (Lihat Umar Sulaiman, Shahîh al-Qashash al-Nabawi, [Darun Nafais: 2007], halaman 53).

Namun, perlu ditekankan bahwa pengakuan itu sama sekali tak memberikan pemahaman bahwa beliau berbohong. Sebab, sungguh mustahil seorang nabi berbohong. Apa yang dilakukannya semata strategi demi membela agama Allah, menegakkan agama tauhid, dan memperlihatkan kesesatan kaumnya.

Adapun pengakuannya pada hari Kiamat, “Aku telah berbuat tiga kebohongan,” semata lahir dari kerendahan hati, kepasrahan sebagai hamba, dan ketakutannya yang sangat besar terhadap murka Allah. Sebab, di mata syariat sendiri dan juga di mata Allah, ketiganya bukanlah sebagai kekeliruan. Hal itu telah ditegaskan sendiri oleh Rasulullah saw. dalam hadisnya.  

مَا مِنْهَا كَذِبَةٌ إِلاَّ مَا حَلَّ بِهَا عَنْ دِينِ اللَّهِ

Artinya, Tidak satu pun di antara kebohongan itu kecuali demi membela agama Allah,” (HR At-Tirmidzi, nomor 3148).

Demikianlah strategi menarik dan siasat unik yang dijalankan Nabi Ibrahim demi membela agama Allah, menunjukkan kesesatan kaumnya, dan membela keselamatan dirinya.

Adapun pelajaran penting yang dapat kita petik darinya adalah tatkala tiga siasat yang dibenarkan syariat saja diakui Nabi Ibrahim—dengan kerendahan dan ketakutannya—sebagai kebohongan, lantas bagaimana dengan kebohongan murni yang sengaja diproduksi dan disebarkan demi kepentingan pribadi dan golongan yang sama sekali tak dibenarkan oleh kaca mata apa pun? Wallahu a’lam. (M Tatam Wijaya)
Kamis 8 November 2018 15:30 WIB
Menjawab Trilemma Epicurus, Tiga Pertanyaan Dilematis dari Ateis
Menjawab Trilemma Epicurus, Tiga Pertanyaan Dilematis dari Ateis
Sejak dulu, para Ateis atau pengingkar keberadaan Tuhan selalu berusaha membuat kaum beragama kebingungan dan ragu akan keberadaan Tuhan. Mereka meminta bukti keberadaan Tuhan, meminta untuk memperlihatkan wujud Tuhan dan aneka permintaan lain yang memang dibuat supaya orang yang ditanya kesulitan menjawabnya sehingga dia ragu. Namun kebanyakan pertanyaan atau permintaan mereka mudah untuk dijawab. Bukti adanya Tuhan dapat dilihat dalam keberadaan alam semesta yang begitu luar biasa dan dalam sebuah sistem yang rumit. Tak mungkin hal seperti itu ada dengan sendirinya tanpa ada yang merancang. Demikian juga ketidakmampuan manusia melihat Tuhan bukan berarti dapat disimpulkan bahwa Tuhan itu tak ada sebab banyak hal yang secara pasti dapat disebut ada meskipun kita tak bisa melihatnya.

Di antara pertanyaan yang barangkali agak sulit dijawab oleh kebanyakan orang adalah rangkaian pertanyaan yang dikenal sebagai Trilemma Epicurus. Trilemma Epicurus adalah tiga gugatan yang dirancang sedemikian rupa untuk membuat orang yang ditanya merasa serba salah atau berada dalam dilema. Tiga pertanyaan itu adalah :
 
• Apakah Tuhan mau, tapi tidak mampu melenyapkan kejahatan (evil)? Kalau ya, berarti Dia tidak Maha-Kuasa. 
• Apakah Tuhan mampu, tapi tidak mau melenyapkan kejahatan? Kalau ya, berarti Dia tidak Maha-Pengasih.
• Jika Tuhan mampu dan mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih ada keja-hatan sampai sekarang? Dan, jika Tuhan tidak mampu dan tidak mau melenyap-kan kejahatan, kenapa masih disebut Tuhan?
 
Itulah tiga dilema yang menjadi argumen para ateis untuk menyerang orang yang beragama. Mereka mengajukan pertanyaan semacam itu sebab tak memahami sifat kesempurnaan Tuhan.  Bila kita memahami sifat Kemahakuasaan (Qudrah) dan Kehendak Bebas (Irâdah) Allah, maka pertanyaan mereka itu mudah sekali dijawab. Sifat Kemahakuasaan Tuhan meniscayakan kekuasaan yang tak terbatas bagi Tuhan. Bila sosok yang dipertuhankan masih mempunyai batasan bagi kekuasaan/kemampuannya atau perlu kompromi dengan pihak lain atau merasa berat untuk melakukan sesuatu, maka pasti sosok itu bukan Tuhan sejati. Demikian juga dengan sifat Kehendak Bebas yang meniscayakan adanya kehendak yang tak terbatas oleh apa pun jua sehingga tak perlu melakukan kompromi atau penyesuaian dengan pihak maupun.

Dengan memahami konsep ini, maka jawaban Trilemma Epicurus di atas akan mudah terpecahkan, yakni sebagai berikut:
 
• Apakah Tuhan mau, tapi tidak mampu melenyapkan kejahatan (evil)? Tuhan sangat mampu melakukan hal itu sebab kemampuan Tuhan memang tak terbatas. Hanya saja memang Tuhan membiarkan kejahatan tetap ada untuk tujuan tertentu. Bahkan bukan hanya membiarkan, kejahatan atau segala musibah adalah justru ciptaan Tuhan itu sendiri.

• Kalau mampu tapi tak mau melenyapkannya berarti Tuhan tidak Maha-Pengasih? Tuhan punya kehendak mutlak yang tak terbatas. Kehendak Tuhan tak bisa diatur-atur manusia. Terserah Tuhan mau mengasihi siapa dan mau mencelakakan siapa. Sifar Pengasih sendiri bukanlah sifat yang wajib bagi sosok Tuhan. Tuhan bebas sebebas-bebasnya untuk mengasihi siapa yang dikehendakinya dan menghukum siapa yang dikehendaki. Meski demikian, Dia tetaplah Tuhan. 

Bila Tuhan “wajib” untuk mengasihi semua orang, maka berarti kekuasaan dan kehendak-Nya tidaklah bebas sebab masih diatur-atur oleh pihak yang mewajibkan itu. Jadi, justru penanya yang berusaha mengesankan bahwa Tuhan wajib mengasihi seluruh manusia itulah yang mendegradasi kemuliaan Tuhan.

• Jika Tuhan mampu dan mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih ada keja-hatan sampai sekarang? Pertanyaan ini tidak relevan sebab mau tidaknya Tuhan melakukan hal itu adalah hak prerogatifnya sebagai Tuhan. Manusia tak bisa mengatur Tuhan harus melenyapkan kejahatan. Terserah Tuhan mau menciptakan Iblis, kejahatan, penyakit, kematian atau kecelakaan sebagai ujian bagi para hambanya. 

Keberadaan semua yang jahat dan tidak enak itu bukan karena Tuhan tak mampu menghilangkannya tetapi karena Dia menggunakan hak prerogatifnya untuk berbuat apa pun yang Ia mau. Pada akhirnya, yang sabar dan lulus ujian tetap akan mendapat balasan yang terbaik di Surga kelak. Kasih sayang Tuhan tak hanya bisa diukur di dunia tetapi juga nanti di akhirat. Boleh jadi Tuhan membuat seseorang sengsara di dunia, tetapi memuliakannya nanti di akhirat.

• Jika Tuhan tidak mampu dan tidak mau melenyapkan kejahatan, kenapa masih disebut Tuhan? Pertanyaan ini gugur dengan sendirinya sebab status ketuhanan tak bergantung pada adanya kejahatan. Tuhan bebas menciptakan kejahatan atau kebaikan dan meski begitu Ia tetap Tuhan. Demikian juga yang bukan Tuhan, tetap tak akan menjadi Tuhan hanya gara-gara dia melenyapkan kejahatan.

Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.