IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Memahami Hadits ‘Menguap Berasal dari Setan’

Kamis 15 November 2018 16:30 WIB
Share:
Memahami Hadits ‘Menguap Berasal dari Setan’
Ilustrasi (karangkraf.com)
Beberapa kali kita sering membaca pesan siaran yang berisi kumpulan-kumpulan hadits beserta artinya. Hadits-hadits tersebut seenaknya dipahami berdasarkan artinya. Padahal, dalam memahami hadits, kita tidak boleh serta merta sekadar mengacu pada arti bahasannya. Diperlukan beberapa keilmuan untuk dapat memahami sebuah hadits secara holistik, mulai takhrij hadits, rijalul hadits, ilmu matan hadits yang meliputi fiqhul matan dan naqd matan.

Salah satu hadits yang pernah dijumpai di pesan siaran adalah terkait menguap adalah berasal dari setan.

التَّثَاؤُبُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ الشَّيْطَانُ

Artinya: “Menguap itu dari setan. Maka bila seorang dari kalian menguap hendaklah sedapat mungkin ditahannya karena bila seseorang dari kalian menguap dengan mengeluarkan suara haa, setan akan tertawa.” (Imam Bukhari, al-Jâmiʽ al-Saḥîḥ, [Beirut: Dâr Tûq an-Najah, 1422 H), j. 4, h. 125.)

Jika ditakhrij hadits tersebut memang diriwayatkan dari beberapa kitab hadits sahih, mulai Bukhari, Muslim, Ibn Huzaimah, Ibn Hibban, Musnad Ahmad dan beberapa kitab lain.

Dengan disebutkan dalam kitab-kitab sahih di atas, secara otentitas memang tidak diragukan lagi. Namun bukan berarti dengan seenaknya memahami hadits tersebut sesuai terjemahannya. Jika kita hanya mengacu pada terjemahan hadits tersebut, kita pasti akan mengira bahwa menguap adalah berasal dari setan.

Hal ini akan menjadikan hadits menjadi kurang sesuai dengan akal kita. Bagaimana mungkin makhluk bernama setan tersebut bisa melakukan apa pun terhadap diri kita, termasuk membuat kita menguap. 

Para sahabat sendiri, tidak serta merta memahami sebuah hadits berdasarkan zahirnya, terlebih jika hadits tersebut bertentangan dengan akal. Para sahabat selalu menggunakan akalnya ketika memahami hadits. Salah satu hadits yang dikritik para sahabat karena bertentangan dengan akal adalah hadits tentang “Wudhu setelah memegang jenazah.” (Lihat: Musfir Abdullah ad-Damini, Maqâyîs Naqd al-Mutûn, (Riyadh: Jamiah Saud al-Islamiyah, 1984 M), h. 111.)

Lalu bagaimana dengan hadits tentang menguap di atas?

Imam an-Nawawi, sebagaimana dikutip al-Mubarakfuri dalam Tuḥfatul Aḥwadzi-nya menyebutkan bahwa yang dimaksud menguap dari setan tersebut bukan berarti asal-muasal menguap adalah dari setan, atau setan yang membuat kita menjadi menguap.

Menurut Imam an-Nawawi, yang dimaksud menguap dari setan adalah hanya sebatas majaz, yakni pernyataan dalam hadits tersebut adalah peringatan Rasul untuk menjauhi hal-hal yang menyebabkan kita menguap, seperti makan terlalu banyak. Karena ketika kita makan terlalu banyak, maka tubuh akan terasa berat dan malas untuk berbuat sesuatu.

قال النووي أضيف التثاؤب إلى الشيطان لأنه يدعو إلى الشهوات إذ يكون عن ثقل البدن واسترخائه وامتلائه والمراد التحذير من السبب الذي يتولد منه وهو التوسع في المأكل وإكثار الأكل 

Artinya: “Imam an-Nawawi berpendapat bahwa kata ‘menguap’ disandarkan kepada setan karena menguap dapat menyebabkan seseorang mengikuti syahwatnya karena beratnya badan, lemasnya badan dan gemuknya badan. Dan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah peringatan Rasul SAW atas sebab-sebab yang dapat membuat kita menjadi menguap, yakni terlalu besar tempat makanan dan terlalu banyak makan.” (Abu al-ʽAla al-Mubarakfuri, Tuḥfatul Aḥwadzi, (Beirut: Dar Kutub, T.t), j. 8, h. 18.)

Dari pernyataan Imam an-Nawawi tersebut menunjukkan bahwa sebab yang dapat membuat kita menjadi menguap itulah yang merupakan ciri dari setan, bukan menguapnya yang berasal dari setan. 

Syekh Badruddin al-Aini berpendapat, jika ada suatu hadits yang menyebutkan suatu perkara yang disandarkan kepada setan, maka sesuatu tersebut sangat dibenci Rasul.

وإنما جعله من الشيطان كراهة له لأنه إنما يكون مع ثقل البدن وامتلائه وميله إلى الكسل والنوم، وأضافه إلى الشيطان لأنه هو الذي يدعو إلى إعطاء النفس شهواتها

Artinya, “Ketika hal tersebut (menguap) dijadikan bagian dari setan, maka itu adalah bentuk bencinya Rasul terhadap hal itu.  Karena menguap selalu bersamaan dengan beratnya badan dan penuhnya badan (penuhnya perut karena makanan) serta menjadikan tubuh malas dan tidur. Dan Rasul menyandarkan hal itu kepada setan karena dapat menjadikan tubuh bersyahwat (untuk tidur dan malas).” (Lihat: Badruddin al-Aini, Umdatul Qari, (Beirut: Dar Ihya at-Turats, T.t), j. 15, h. 178.)

Al-Aini juga menyebutkan hal senada dengan Imam an-Nawawi bahwa murad (maksud dan tujuan) hadits tersebut adalah untuk memperhatikan cara makan dan tidak terlalu banyak makan.

Lalu, apakah kita tidak boleh menguap?

Jelas boleh, jika kita tidak melaksanakan hal-hal yang penting, seperti ibadah dan belajar. Karena menguap adalah salah satu tanda kita bahwa perlu istirahat dan tidur. 

Konteks menguap dalam hadits di atas adalah ketika sedang shalat. Beberapa mukharrij memasukkan hadits tersebut dalam dua bab: pertama, bab tentang sifat iblis dan bala tentaranya; kedua, bab tentang larangan menguap ketika shalat. Hal ini bisa dicek dalam kitab Sahih Bukhari, Muslim, Ibn Hibban, Bulughul Maram, dan beberapa kitab lain. 

Wajar saja jika Rasul benci dengan orang yang menguap, karena hal itu dilakukan pada saat shalat dan ibadah-ibadah yang lain.

Oleh karena itu, membaca hadits tidak boleh serta merta hanya dengan membaca terjemahannya, karena hal itu menjadikan pesan-pesan yang ada di dalam hadits tidak bisa tersampaikan dengan penuh dan sebagaimana mestinya. Wallahu a’lam.

(Muhammad Alvin Nur Choironi)

Tags:
Share:
Senin 22 Oktober 2018 16:30 WIB
Siapa Imam atau Pemimpin yang Adil dalam Hadits Nabi?
Siapa Imam atau Pemimpin yang Adil dalam Hadits Nabi?
Nabi Muhammad SAW menyebut imam atau pemimpin yang adil sebagai satu dari tujuh kelompok yang mendapat naungan Allah di hari kiamat. Sebenarnya agama tidak hanya menuntut pemimpin untuk bersikap adil, tetapi juga umat manusia secara umum sebagaimana tercantum dalam Surat An-Nahl ayat 90.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya, “Sungguh Allah memerintahkan (kamu) untuk berbuat adil dan berbuat baik,” (Surat An-Nahl ayat 90).

Sementara pada surat lain, Allah juga memerintahkan manusia untuk bersikap adil. Pada Surat Al-Hujurat ayat 9 berikut ini, Allah menyatakan restu-Nya untuk mereka yang berbuat adil.

وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya, “Berbuat adillah, Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil,” (Surat Al-Hujurat ayat 9).

Adapun sebutan imam atau pemimpin yang adil dapat ditemukan dalam riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini. Imam atau pemimpin yang adil disebut pertama sebagai kelompok yang mendapat naungan Allah di hari kiamat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ متفق عليه

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang mengisi hari-harinya dengan ibadah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya bertemu dan berpisah karena Allah, seorang yang dibujuk berzina oleh lawan jenis yang berpangkat dan rupawan lalu menjawab, ‘Aku takut kepada Allah,’ seseorang yang bersedekah diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir di kesunyian dengan menitikkan air mata,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Penyebutan pertama imam atau pemimpin yang adil ini bukan tanpa makna. Penyebutan pertama imam atau pemimpin yang adil menunjukkan betapa pentingnya keadilan imam atau pemimpin.

Peyebutan pertama imam atau pemimpin yang adil menandai nilai kehadirannya di tengah masyarakat karena berurusan dengan kepentingan publik dan hajat hidup orang banyak, terutama sebagai pihak yang paling pertama memenuhi kelompok dhuafa dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan haknya.

وبدأ بالشخص العادل لأن حياته له وللناس فإن الحاكم العادل هو الكاسر لشوكة الظلمة والمجرمين وهو سند الضعفاء والمساكين وبه ينتظم أمر الناس فيأمنون على أرواحهم وأموالهم وأعراضهم

Artinya, “Allah mengawali tujuh kelompok dengan menyebut ‘orang yang adil’ terlebih dahulu karena kehidupannya itu menyangkut dirinya dan nasib orang banyak. Pemerintah yang adil ini adalah ia yang mematahkan ‘duri’ orang-orang zalim dan pelaku kriminal. Ia adalah sandaran kaum dhuafa dan orang-orang miskin. Dengan kehadiran pemerintah yang adil, urusan publik terselesaikan sehingga mereka merasa aman dan terjamin jiwa, harta, dan nama baiknya,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 256).

Tetapi imam atau pemimpin yang adil bukan lagi berbicara jenis kelamin atau terbatas pada aparat pemerintah belaka. Imam atau pemimpin memiliki pengertian yang luas. Kata imam atau pemimpin juga mencakup siapa yang mengemban amanah dalam bentuk apa pun yang dituntut untuk bersikap adil.

Imam atau pemimpin, kata Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, bisa diterjemahkan sebagai seorang suami, seorang istri, seorang ayah, seorang ibu, seorang anak, seorang guru, seorang murid, seorang kepala bagian, seorang komandan, dan lain sebagainya yang mengemban kewajiban tertentu.

الإمام العادل الحاكم العام التابع لأوامر الله تعالى فيضع كل شيء موضعه من غير إفراط ولا تفريط فدخل في ذلك الأمير ونوابه والرجل في أهله والمرأة في بيتها والمدرس في فصله

Artinya, “Imam atau pemimpin yang adil pemerintah secara umum yang mengikuti perintah Allah. Ia menempatkan segala sesuatu di tempatnya tanpa kelebihan dan tanpa kekurangan. Kata ‘pemerintah’ di sini mencakup presiden dan aparatnya sampai yang terbawah, seorang di tengah istri dan anak-anaknya, seorang istri di rumah, seorang guru di dalam kelas,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 256).

Dari keterangan itu, kita dapat menarik simpulan bahwa Allah mengapresiasi dan mencintai imam atau pemimpin yang adil. Imam atau pemimpin memiliki pengertian yang cukup luas, yaitu mencakup siapa yang mengemban kewajiban tertentu. Walllahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 9 Oktober 2018 23:0 WIB
Lima Alasan Seseorang Membuat Hoaks menurut Sayyid Alwi Al-Maliki
Lima Alasan Seseorang Membuat Hoaks menurut Sayyid Alwi Al-Maliki
Lima Alasan Seseorang Membuat Hoaks menurut Sayyid Alwi Al-Maliki
Di zaman yang serba internet ini, semua kejadian bisa dengan mudah tersebar dengan tempo yang cukup singkat dan dibaca oleh semua orang di penjuru dunia. Bahkan berita yang seharusnya hanya boleh dikonsumsi oleh lingkup kecil bisa dikonsumsi oleh semua orang. Masalah pribadi bisa menjadi masalah bersama jika sudah ditayangkan di internet.

Kemudahan tersebut tidak diimbangi dengan kesadaran para penggunanya. Akibatnya, tidak semua kejadian yang tersebar sesuai dengan fakta, ada yang ditayangkan setengah-setengah, ada yang disalahgunakan dengan pemberitaan yang berbeda, ada juga yang sengaja dibuat-buat.

Hal-hal semacam ini sebenarnya sejak zaman dahulu telah difikirkan oleh para ulama. Penyebaran berita bohong atau hoaks secara prinsip tidak jauh berbeda dengan penyebaran hadits palsu dalam kajian ilmu hadits.

Bedanya–mungkin–hanya sedikit atau bahkan hampir tidak ada. Jika dulu yang dibuat-buat atau dipalsukan adalah hal-hal yang berkaitan dengan Rasul SAW, yang meliputi perkataan, perbuatan, sifat maupun ketetapan, saat ini lebih global dan semua hal berpotensi bisa dipalsukan atau dibuat-buat.

Jika hal-hal yang berkaitan dengan Rasul Saw saja bisa dipalsukan, lalu bagaimana jika hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan Rasul? Tentu akan lebih sering, bukan? Bahkan lebih parahnya, saat ini ada yang sengaja menghubung-hubungkan kisah Rasul dengan kejadian yang menimpa para idolanya, walaupun terlalu dipaksakan.

Sebagaimana hadits palsu, penyebaran dan pembuatan berita bohong atau hoaks tentu memiliki latar belakang atau alasan tertentu. Para ulama hadits berhasil mengidentifikasi alasan-alasan tersebut dan merangkumnya menjadi beberapa hal. Tentu karena kajian penyebaran hadits palsu ini secara prinsip sesuai dengan prilaku pembuatan dan penyebaran berita bohong atau hoaks sekarang, maka hemat kami, tentu akan sesuai pula alasan-alasan penyebaran hadits palsu tersebut dengan konteks pembuatan dan penyebaran hoaks sekarang.

Salah satu ulama yang bisa dikatakan cukup berhasil dalam mengidentifikasi alasan dan latarbelakang pembuatan dan penyebaran hoaks tersebut adalah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam karyanya yang berjudul Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif. Sayyid Alawi Al-Maliki menjelaskan lima alasan dibuat dan disebarkannya hadits-hadits palsu (Lihat Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif, [Madinah, Maktabah Malik Fahd: 1421 H], halaman 148), atau dalam konteks sekarang bisa disebut hoaks:

Pertama, mempertahankan kepentingan pribadi atau golongan. Sayyid Muhammad bin Alawi menyebutnya dengan “al-Intishar lil Mazhab”. Zaman dahulu, kaum syiah yang Rafidhah sering membuat hadits palsu untuk mendukung gerakan-gerakan politik mereka. Dalam konteks sekarang, bisa jadi para simpatisan partai atau organisasi juga melakukan hal ini demi mengangkat elektabilitas partai atau hanya sekadar membela partai atau organisasinya dari serangan lawan.

Kedua, mendekatkan diri kepada pejabat tertentu (orang-orang yang berkepentingan), atau dalam bahasa Sayyid Muhammad disebut, “Thalabut Taqarrub ilal Muluk wal Umara’”. Dalam konteks hari ini, alasan kedua ini bisa saja terjadi pada simpatisan calon-calon presiden yang akan berkontestasi. Dengan adanya hoaks yang dibuat, harapannya sang pejabat semakin dekat dengan orang tersebut dan lebih peduli dengan orang tersebut. Tentu harapannya, agar orang tersebut dijadikan pejabat tertentu.

Ketiga, mencari rizki (Thalabul kasbi wal irtizāq bil wadh’ī). Dalam konteks sekarang, banyak juga institusi atau perorangan yang menyediakan jasa pembuatan hoaks dan penyebarannya, seperti Saracen dan MCA (Muslim Cyber Army).

Keempat, membela pendapat tertentu walaupun salah (al-Intiṣār ilāl futyā ʽIndal khaṭā’ fīhā). Hal ini tentu banyak kita temukan sekarang. Banyak orang berbondong-bondong membela orang salah, tapi yang digunakan untuk membela adalah hoaks.

Kelima, menarik simpati orang untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik (Ṭalabut targhībin nās fi afʽālil khair), termasuk mengajarkan anak-anak tentang agama tapi dengan kisah-kisah hoaks. Atau ajakan untuk membantu korban bencana alam, tapi foto-foto yang digunakan adalah foto-foto hoaks.

Diakui atau tidak, lima hal itu terjadi di masyarakat maya dan nyata kita. Tentu, dengan adanya indentifikasi dari Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, memiliki harapan ganda, di satu sisi menjadikan orang yang berpotensi membuat dan menyebarkan hoaks bisa sadar sebelum melakukannya.

Di sisi lain, bagi para korban, agar bisa berhati-hati dengan berita-berita yang berkaitan dengan lima hal di atas. Alangkah baiknya jika seluruh berita yang diterima dicek terlebih dahulu kebenarannya. Wallahu a’lam. (Muhammad Alvin Nur Choironi)
Kamis 27 September 2018 8:30 WIB
Allah Menyukai Nomor Ganjil? Mari Pahami Haditsnya
Allah Menyukai Nomor Ganjil? Mari Pahami Haditsnya
Perkembangan perkara nomor urut konon bisa begitu pelik dalam obrolan politik saat ini. Dalam konteks tertentu, angka-angka bisa begitu bermakna, dan obrolannya bisa menyerempet perkara klenik sampai agama.

Masyarakat kebanyakan diketahui memiliki pandangan tertentu soal angka. Semisal, orang Jawa menandai dalam beragam ritual, angka adalah simbol dengan makna-makna yang penuh abstraksi.

Lain halnya, bagaimana kalau persoalan angka dibincangkan ke dunia kontestasi politik? Terlepas dari berbagai dimensinya, politik sebagai bagian kehidupan masyarakat tentu kerap diwarnai dengan corak klenik dan sentimen agama yang hidup. Tak terkecuali soal nomor urut calon pemimpin, nomor urut partai, atau nomor lainnya.

Sayangnya soal nomor politik tidak seperti nomor undian jalan sehat, yang jadi penanda keberuntungan mendapat doorprize.  Politik, konon memiliki hitungannya sendiri tentang bagaimana mengarahkan persepsi bahkan suara masyarakat menuju para aktor politik.

Salah satu sentimen yang digunakan dulu, barangkali hingga saat ini, adalah kutipan hadits: 

إنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Allah itu witir (ganjil/tunggal), dan menyukai bilangan yang ganjil.”

Oleh sebagian kalangan, tak terkecuali kalangan ulama, menyebutkan angka ini menunjukkan bahwa angka ganjil, seakan-akan “lebih dicintai oleh Tuhan”.

Karena prasangka dan nalar semacam ini bisa bertebaran kapan saja, hal yang barangkali perlu dibincangkan kembali adalah pemahaman hadits “Allah itu ganjil, menyukai bilangan yang ganjil” tersebut.

Kutipan hadits di atas, merupakan bagian dari riwayat yang dinilai ulama sebagai hadits yang shahih. Hadits ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan jika ditelusuri lagi, banyak dimuat dalam kitab hadits lainnya – dengan berbagai variasi redaksi dan sanad.

Setidaknya berdasarkan judul bab, hadits ini banyak merujuk pada dua pembahasan: penjelasan seputar al-Asmaul Husna yang jumlahnya 99, dan anjuran untuk melakukan shalat witir. Semisal dalam hadits berikut yang dicatat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang al-Asmaul Husna:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ»

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: “Allah memiliki 99 nama, siapa yang menjaganya akan masuk surga. Allah itu ganjil (esa), dan menyukai bilangan yang ganjil.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ganjil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna dua hal: bisa (1) sesuatu yang aneh, atau (2) lawan dari genap. Maka yang dimaksud ganjil dalam hadits-hadits ini adalah makna yang kedua, yaitu ganjil adalah bilangan selain genap. Satu, tiga, lima itu bilangan ganjil; dua, empat, enam, dan seterusnya itu bilangan genap. Satu adalah bilangan ganjil bukan? Karena itulah, maksud Allah itu ganjil adalah Allah itu Dzat yang Satu, Maha-Esa.

Menurut sementara ulama, 99 nama Allah itu bukan batasan jumlah, sebagaimana dianut oleh Imam Ibnu Katsir dan Imam al Qurthubi. Diskusi soal angka asma Allah ini cukup panjang sejalan dengan beragam riwayat hadits yang ada. Hanya saja dengan rendah hati ulama menilai jumlah 99 dalam hadits populer tersebut, dinilai mengandung ‘ilmul ghâib dan keutamaan tersendiri – wallahu a’lam.

Kembali ke soal bilangan ganjil. Mengapa ia mesti lebih disukai Allah? Kiranya tidak ada hadits lain yang menjelaskan mengapa Allah mesti menyukai hal-hal dengan bilangan ganjil, selain dengan isyarat bahwa Allah banyak menciptakan sesuatu dengan bilangan berjumlah ganjil. 

Pendapat tentang ini seperti dicatat oleh Syekh Mahmud Al-Aini, dalam ‘Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari tentang indikasi Allah lebih mengutamakan bilangan ganjil:

يفضله فِي الْأَعْمَال وَكثير من الطَّاعَات وَلِهَذَا جعل الله الصَّلَوَات خمْسا وَالطّواف سبعا وَندب التَّثْلِيث فِي أَكثر الْأَعْمَال وَخلق السَّمَوَات سبعا وَالْأَرضين سبعا وَغير ذَلِك.

"...Allah mengunggulkan bilangan ganjil dalam pelbagai hal, serta banyak cara ibadah. Allah menjadikan shalat lima waktu, tawaf dengan tujuh putaran, dan anjuran untuk melakukan beragam kesunnahan dengan tiga kali (semisal wudhu). Juga Allah menciptakan langit bumi yang tujuh tingkat, dan lain sebagainya...” (‘Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 23 Hal. 29. Beirut - Dar Ihya Turats)

Demikianlah persoalan pemahaman al-witru sebagai bilangan ganjil, karena beragam ibadah disyariatkan dan dianjurkan dengan jumlah yang ganjil. Tapi rupanya hal itu tidak menunjukkan bahwa Allah menyukai bilangan ganjil di luar anjuran seputar ibadah yang telah disebutkan.

Dalam konteks lain, al-witru yang dimaksud dalam hadits adalah shalat witir yang dilakukan sebagai bagian dari shalat malam. Sebagaimana dalam riwayat Imam at-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi berikut:

قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: إِنَّ الْوِتْرَ لَيْسَ بِحَتْمٍ وَلَا كَصَلَاتِكُمُ الْمَكْتُوبَةِ، وَلَكِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْتَرَ ثُمَّ قَالَ: يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا؛ فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

Artinya: “Ali bin Abi Thalib berkata: Sesungguhnya sembahyang witir itu bukanlah kewajiban, sebagaimana shalat fardlu yang lain. Tetapi Rasul memang melakukan shalat witir, dan pernah bersabda, ‘Wahai Ahli Quran, shalat witirlah, karena Allah itu witir (ganjil), menyukai shalat witir (yang dilakukan dengan jumlah ganjil)’.”

Selain anjuran shalat witir, Anda bisa temui juga dalam Musannaf Abdur Razzaq, salah satu kitab hadits tertua, bahwa hadits tersebut menyertai perintah agar bertawaf dengan jumlah bilangan yang ganjil (tujuh kali). 

Berikut beberapa catatan dari penjelasan ulama tentang hadits “Allah menyukai bilangan ganjil” di atas. Pertama, hal yang dimaksud tentang Allah menyukai bilangan yang ganjil di atas, adalah sehubungan dengan ibadah yang telah disyariatkan. Kedua, hadits tersebut diriwayatkan sebagai bagian dari anjuran untuk melakukan ibadah shalat witir – yang jumlah bilangannya ganjil.

Sehingga perlu kita sadari bahwa, tiada isyarat bahwa nomor atau bilangan ganjil lebih mulia dari nomor genap, di luar urusan ibadah dan anjuran yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan dilakukan para ulama. Jadi, menyitir hadits bahwa Allah menyukai bilangan yang ganjil, semata kecocokan nomor urut, lah kepriye? (Muhammad Iqbal Syauqi)